Disclaimer: Naruto punya….,,, *jeng jeng jeng* AKU! *kicked* hm iyah punyanya Masashi Kishimoto TwT.

Warning: AU, OOC, typo(S), de le le, alur rada cepat soalnya author kehabisan idea~

Summary:

A/N: Maaf sebelumnya! Mungkin adegan DeiHina gak ada author gak ada ideee + sibuk banget sama pelajaran-pelajaran yang adaa. Di sini author agak mempercepat alur cerita karena itu maaf kalo pembaca kecewa Namaku juga diganti dari Akasuna no NiraDEI Uchiha menjadi Haruno Kira!

Maaf juga kalo updatenya lama huhu, dan arti dari Indigo in Black and Red itu Hinata yang ada di akatsuki :D.

Indigo in Black and Red

By: Haruno Kira

Pagi yang cerah, Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beradaptasi dengan sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarnya, ia masih setengah sadar ketika orang berambut hitam panjang masuk tanpa permisi ke kamarnya.

"Hinata!" seru orang itu, Hinata tidak menjawab, tetapi beberapa detik kemudian ia tersadar.

"Itachi-kun! Kamu sedang apa dikamarku?" seru Hinata, ia hendak melemparkan jam weker terdekat ketika tangan Itachi menahannya.

"Hari ini kan giliranku untuk mengajakmu pergi," muka Itachi dekat sekali dengan muka Hinata, sontak saja, Hinata segera menjauhkan muka Itachi dengan tangan kanannya.

"Baiklah, tapi hari ini aku sedang tidak mood untuk jalan-jalan, bagaimana jika kita latihan bersama saja?" tanya Hinata, Itachi sebenarnya hendak memprotes, tetapi karena Hinata sedang tersenyum maka protesan Itachi ditelannya bulat-bulat.

"Baiklah, kutunggu di ruang makan, tapi apa tidak apa-apa karena ini sudah mulai memasuki musim dingin?"

"Tidak apa-apa, Itachi-kun, tenang saja, lagipula matahari masih bersinar walaupun tidak terlalu terik," kata Hinata tersenyum kepada Itachi, lalu dengan langkah gontai, Itachi menapak keluar dari kamar Hinata.

~IIBAR~IIBAR~

"Itachi-kun!" panggil Hinata mengagetkan Itachi yang sedang melamun di ruang makan.

"Hi-Hinata! Kamu mengagetkanku saja!" seru Itachi, sementara Hinata hanya tersenyum-senyum.

"Iih bukan salahku kok, lagipula ngapain Itachi-kun ngelamun gitu? Ngelamunin aku ya?" goda Hinata dengan muka manis kepada Itachi, sementara Hinata tidak sadar bahwa guratan-guratan merah di pipi Itachi kian menebal.

"Kalau iya memang kenapa?" tanya Itachi membalas godaan Hinata, Hinata menelan ludahnya dan menyembunyikan tampangnya yang merah itu.

"Wah mukamu merah, jangan-jangan kamu suka aku? Wah aku berhasil!" seru Itachi senang, sementara Hinata hanya menarik kerah Itachi dan mendorongnya keluar markas.

"Sudahlah Itachi-kun bagaimana kalau kita latihan sekarang?" Itachi hanya menghela nafasnya dan mengikuti Hinata.

"Hei Hina-chan! Itachi, kalian mau latihan?" tanya Kisame yang sedang memegang samehadanya di tempat latihan mereka.

"Iya Kisame-san, mau ikut?" tanya Hinata tersenyum, Itachi memelototi Kisame yang berkeringat dingin.

"Ti-tidak Hina-chan, aku mau ke markas saja, bye Itachi, Hina-chan," kata Kisame dengan segera berlari dari mereka.

"Itachi-kun, Kisame-san kenapa sih?" tanya Hinata pada Itachi yang sedari tadi di belakangnya.

"Entah, ayo segera kita mulai latihannya, Hinata-chan," kata Itachi merangkul pundak Hinata dan mengecup pipi Hinata.

"Itachi-kun, jangan gini ah," Hinata melepaskan rangkulan Itachi, lalu ia memakai ikat kepala dengan lambang Konoha yang tercoret dan mulai melakukan segel jurus.

"Hinata, jurus apa itu?" tanya Itachi saat chakra yang ada di kedua tangan Hinata berwarna biru dan tampak tidak rata.

"Ini? Pisau chakra yang dapat memotong organ-organ dan pembuluh darah tanpa luka di luar, Itachi-kun mau coba? Tetapi jurusnya masih belum sempurna," kata Hinata lesu.

"Uhm, kalau itu membantumu tak apa sih," kata Itachi menyingsingkan lengan jubahnya, Hinata tampak tertegun.

"Benarkah Itachi-kun?" tanya Hinata, Itachi mengangguk kecil dan tersenyum.

"Iya, lagipula kan nanti juga akan kau sembuhkan," kata Itachi, Hinata memeluk Itachi sejenak.

"Terima kasih, Itachi-kun," kata Hinata lalu ia melepaskan pelukannya dan membentuk kembali chakra tersebut.

"DEG" raut muka Itachi tampak kesakitan ketika Hinata menaruh tangannya di lengan Itachi.

'I-ini, rasanya pembuluh darahku seperti terpotong,' batin Itachi, lalu Hinata memegang perut Itachi.

'Sekarang ususku serasa terbelah.'

"Bagaimana rasanya Itachi-kun?" tanya Hinata was-was ketika Itachi tak mengeluarkan suaranya sama sekali.

"Sakit Hinata-chan, sepertinya jurus ini sudah sempurna," kata Itachi.

"Masa? Terakhir kali aku hanya bisa menusuk organ dan belum bisa memotongnya," kata Hinata, Itachi mengangguk dan mengaduh kesakitan.

"Ma-maaf Itachi-kun! Segera kusembuhkan!" seru Hinata, lalu ia meletakkan tangannya di perut Itachi dan mengeluarkan chakra berwarna hijau.

Raut muka Itachi yang menahan sakit semakin lama kian pulih, ia merasakan rasa hangat dan rasa sakit yang muncul lenyap tak berbekas.

~IIBAR~IIBAR~IIBAR~

"Hinata, lebih baik istirahat dulu, kamu sudah lelah," kata Itachi yang sejak tiga jam yang lalu duduk di bawah pohon melihat Hinata latihan dengan tekunnya, sepertinya ia melatih taijutsunya.

"Se-sebentar I-Itachi-kun," pandangan mata Hinata mulai kabur, peluh meluncur dari keningnya hingga dagunya dan seketika semuanya gelap.

"Hinata!" seru Itachi, dia menggendong Hinata di depan dadanya dan menidurkannya di bawah pohon yang rindang.

"Uhh uhh uhh," Hinata tampak kesulitan untuk bernafas, Itachi mulai panik.

"Sebaiknya aku bawa dia ke markas!" seru Itachi dan menggendong Hinata ke markas.

~IIBAR~IIBAR~IIBAR~

"Hinata kenapa, Itachi?" seru Konan saat melihat Itachi yang baru saja masuk dengan menggendong Hinata.

"Aku tidak tahu! Sepertinya ia terlalu lelah," kata Itachi, Konan segera memerintahkan Itachi menggendong Hinata ke kamarnya.

"Aku bawakan kompres!" seru Konan dan menaruh kompres di dahi Hinata, lalu ia mengukur detak jantung Hinata.

"Detak jantungnya terlalu cepat, Itachi jaga dia, aku harus pergi misi bersama Pein," kata Konan meninggalkan Itachi dan Hinata sendiri.

"Hinata, kamu kenapa?" tanya Itachi khawatir dan menggenggam erat tangan Hinata.

"Kenapa waktu kita berdua hanya sedikit sih? Kemarin kamu dan Sasori meluangkan banyak waktu, sementara aku sedikit sekali," gumam Itachi kepada Hinata yang masih kesulitan bernafas.

~IIBAR~IIBAR~IIBAR~

"Danna," kata Deidara yang sedang membuat lempung-lempung ledakannya memanggil Sasori yang ada di sebelahnya.

"Hm?" tanya Sasori melihat hasil kugutsu yang baru berbentuk kepala yang berada di depannya.

"Tadi sepertinya Konan berteriak tentang Hinata deh," Sasori segera membelalakkan mata coklatnya dan menjatuhkan obeng yang dibawanya.

"Ah masa?" Sasori bangkit dari duduknya dan berlari keluar kamar yang diikuti oleh Deidara.

"Hinata!" seru Sasori membuka kamar Hinata dan terlihat Itachi yang sedang menggandeng tangan Hinata.

"Itachi, apa yang terjadi pada Hinata?" tanya Sasori, Itachi hanya menjawab.

"Ia terlalu lelah," jawab Itachi singkat.

"Tak usah menjawab singkat gitu dong, Chi," protes Deidara.

"Aku khawatir, Dei," kata Itachi yang memang menampakkan sorot mata khawatir di iris obsidiannya.

"Mana, aku periksa," kata Sasori yang memang sedikit berkecimpung di dunia kesehatan, meskipun hanya membuat racun dan membuat penawarnya.

"Menurutku ia hanya kelelahan, Danna," kata Deidara mendekat kepada Hinata.

"Jangan menyepelekan ini, energy kehidupannya hanya setengah, Dei, ingat itu," kata Sasori memegang lengan Hinata yang panas dan mendengar hembusan nafasnya.

'Sasori begitu perhatian kepada Hinata, tidak seperti aku yang hanya bisa menyumbangkan tenaga untuk menggendongnya, aku yakin jika Sasori yang ada di posisiku tadi dia akan menghentikan Hinata dengan cara apapun,' batin Itachi merasa minder dengan dirinya sendiri.

"Bagaimana, Danna?"tanya Deidara mendekat kepada Sasori.

"Aku tak tahu, mungkin aku harus membuat obat untuknya," Sasori segera keluar dari kamar Hinata menuju laboratoriumnya.

"Aku merasa segan pada Sasori," kata Deidara kepada Itachi yang merasa kata-kata Dei tadi menampar wajahnya.

"Kenapa?" tanya Itachi.

"Ia dapat melakukan sesuatu untuk orang yang ia sukai, sedangkan aku hanya berdiam diri saja dan malah itu salahku karena tenaganya cepat terkuras," kata Deidara memegang bagian perutnya.

"Tidak apa, Dei, itu kan keinginan Hinata sendiri," senyum Itachi.

"Benar juga, bagaimana kalau aku membuatkan Itachi kopi?" kata Deidara, Itachi mengangguk, sementara Deidara segera berlari ke dapur.

~IIBAR~IIBAR~IIBAR~

Sasori segera mengambil tanaman-tanaman yang sudah dijemur yang ia perlukan untuk pengobatan Hinata dalam beberapa botol, lalu ia mengambil pinset dan meletakkan satu tanaman dalam mortir dan menggerusnya sehingga berbentuk serbuk, begitu terus ia lakukan hingga beberapa tanaman itu telah tergerus dan menjadi homogen, lalu ia memasukkannya dalam gelas dan memberi air hangat dan mengaduknya sehingga berbentuk cairan.

"Ini pasti cukup," kata Sasori tersenyum pada dirinya sendiri, lalu ia segera masuk kembali ke dalam kamar Hinata.

"Aku telah membawakan obatnya," kata Sasori kepada Deidara dan Itachi yang sedang meminum secangkir kopi di samping tubuh Hinata yang sedang terlihat susah bernafas, lalu ia menuju tubuh Hinata dan mendudukkan tubuh Hinata dan meminumkan obatnya.

Lama kelamaan keadaan Hinata beragusr-angsur membaik, ia tak kesulitan untuk bernafas lagi dan ia membuka matanya.

"Sasori-kun, apa yang terjadi padaku?" tanya Hinata pada Sasori yang mengenakan kacamata dan jas laboratorium itu.

"Kamu tadi pingsan dan aku mengobatimu, Hinata," kata Sasori lega setelah obatnya manjur.

"Terima kasih, dan kamu keren sekali dengan kaca mata itu," kata Hinata tersenyum lembut, Deidara dan Itachi termangu melihat keadaan mereka yang menurut mereka sedang bermesraan itu.

"Aku menyerah," kata Itachi tiba-tiba, Sasori menoleh padanya.

"Menyerah tentang apa Itachi?" tanya Deidara, Itachi menunjuk Hinata dan Sasori.

"Hinata menyukai Sasori, aku tahu itu dari sorot matanya yang lembut saat berbicara kepada Sasori, apa kau tak melihatnya, Dei?" tanya Itachi, Deidara mengangguk.

"Iya sih, tapi kenapa kamu menyerah sih? Aku kan belum mendapat kesempatan dekat dengan Hinata," keluh Deidara, Sasori menarik salah satu sudut bibirnya menyeringai.

"Kamu mau berusaha seperti apapun percuma, Dei, hati Hinata hanya untuk Sasori," muka Hinata tampak memerah.

"Baiklah, aku juga menyerah kalau begitu," keluh Deidara.

"Keputusan yang bagus, Chi, Dei, Hinata hanya menyukai aku seorang," kata Sasori memeluk Hinata.

"Sasori-kun, aku kan belum sembuh benar," kata Hinata kepada Sasori yang memeluknya, ia tidak protes walau begitu.

"Hinata-chan, apa kamu menyukaiku?" tanya Sasori berbisik di telinga Hinata yang membuat mukanya tambah merah.

"A-aku…," Hinata tampak berpikir sebelumnya akhirnya ia berkata…

"Aku tidak tahu Sasori-kun," gumam Hinata dengan muka memerah, iris mata dengan warna coklat eboni itu menampakkan rasa kecewa.

"Jangan membohongi hatimu sendiri, Hinata," kata Deidara tersenyum simpul kepada Hinata.

"Iya, kami lebih baik meninggalkan kalian berdua untuk mengobrol," kata Itachi menarik Deidara bersamanya.

"Oh ya, tapi Danna, aku tidak jadi menyerah deh! sebelum janur kuning melengkung, masih banyak kesempatan untukku!" seru Deidara semangat membuat Hinata tersenyum lembut kepadanya.

"Jangan mengira aku juga akan membiarkanmu dekat dengan Hinata, Dei," Sasori mengancam Deidara dengan kilatan mata saat bertatapan dengan iris mata sewarna biru langit tersebut.

"Sudah sudah, ayo keluar, Dei, tapi aku juga tidak jadi menyerah, Sasori, ingat itu," mereka bertiga bertarung secara sportif untuk memperebutkan hati Hinata, tetapi tidak akan ada rasa permusuhan di dalamnya.

"Huh, kalian ini, plin-plan! Sana keluar!" Sasori melingkarkan tangannya di pinggang Hinata dan mengecup puncak kepalanya sebagai tanda dia tidak ingin diganggu.

Setelah Itachi maupun Deidara menapak keluar dari Kamar Hinata dan menutup pintunya, Sasori segera duduk disamping Hinata dan mengisi sela-sela jemari Hinata dengan jemarinya sendiri yang lebih besar dari jemari Hinata.

"Kau baik-baik saja, Hinata-chan?" tanya Sasori khawatir, Hinata tersenyum dan berusaha duduk tegak di atas tempat tidurnya, tetapi apa daya, tubuhnya masih lemah.

"Jangan paksakan dirimu, Hinata-chan, kamu masih lemah," Sasori merangkul pinggang Hinata untuk membantunya duduk tegak, lalu ia menuntun kepala Hinata untuk menjadikan dada bidang Sasori sebagai tempat mengistirahatkan kepalanya.

"Iya, Sasori-kun, terima kasih," iris mata lavender itu kini tak menampakkan kilauannya karena kelopak mata itu menutup dengan sempurna, Hinata menghirup aroma yang menguar dari tubuh Sasori.

"Aku akan tunggu jawabanmu," bisik Sasori pada telinga Hinata.

"Kamu sudah tahu jawabannya, Sasori-kun," iris mata lavender itu terbuka, kepala Hinata yang semula berada pada dada bidang Sasori kini tak lagi berada di sana.

Hinata menatap Sasori dalam dan lembut, begitu pula dengan Sasori, ia menatap Hinata dengan lembut, matanya penuh dengan cinta dan kekhawatiran akan tubuh Hinata yang semakin lama semakin rapuh.

"Aku juga menyukaimu, Sasori-kun," senyum terpatri pada bibir Hinata. Perasaan membuncah terasa menjalar hangat pada dada Sasori, ia terasa sangat bahagia karena cintanya pada Hinata diterima. Ia tidak dapat menahan senyum yang kini merekah, dan seketika itu ia memeluk Hinata sangat erat.

"Aku tidak hanya menyukaimu, Hinata-chan, aku mencintaimu dengan segenap raga dan jiwaku, untuk sekarang dan selamanya hanya kamu yang bertahta di hatiku, Hinata-chan."

"Kamu gombal, Sasori-kun," kata Hinata terkikik geli.

"Gombal-gombal gini juga kamu suka, iya kan, Hinata-chan?" Sasori mengecup pipi Hinata yang memerah.

"Iya deh, aku kalah," Hinata menyenderkan kepalanya kembali di dada Sasori, tersenyum senang, tanpa terasa darah segar mengalir dari hidung Hinata.

"Hi-Hinata-chan, hidungmu," Sasori hendak menyentuh hidung Hinata, tetapi Hinata memegangnya duluan dan terkejut karena ada darah di sana.

"A-aku tak apa, Sasori-kun! Sebentar ya," Hinata segera melompat dari tempat tidurnya masih memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah yang semakin banyak, tak mempedulikan Itachi dan Deidara yang terkejut melihat Hinata.

"Hinata-chan!" Sasori segera menyusul Hinata yang berlarian menuju toilet yang berada di luar kamarnya itu.

'BLAM' pintu kamar mandi tertutup tepat di depan batang hidung Sasori, Sasori yang khawatir segera mengetuk pintu perlahan.

"Hinata-chan, kamu tidak apa-apa? Aku masuk ya?" tanya Sasori, Hinata tidak menjawab, ia sibuk mengeluarkan darah dari hidungnya agar tak tertumpuk di dalam hidungnya.

"Aduh," rintih Hinata, ia merasa sakit pada hidungnya, mungkin saja itu pendarahan, Ia segera mengumpulkan chakranya dan memusatkannya di tangan, membentuk sebuah bulatan berwarna hijau yang diketahui adalah chakra penyembuh, dengan sesegera mungkin ia menaikkan tangannya di hidung dan menyembuhkannya perlahan-lahan, tak menyadari seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi karena khawatir akan keadaannya.

"Hinata-chan," Sasori memeluk Hinata dari belakang.

"Aku tidak apa-apa, Sasori-kun, tenang saja, ini darahnya juga sudah berhenti," kata Hinata menunjuk hidungnya yang suda tidak berdarah lagi.

"Kamu membuatku khawatir, Hinata-chan," Sasori tersenyum lembut pada cinta pertamanya ini, ya, Hinata adalah cinta pertama bagi Sasori.

"Ayo, kita kembali ke kamar," kata Sasori, menggendong Hinata, Hinata merasa aman ketika ia berada dalam kedua lengan Sasori yang kekar.

"Terima kasih," gumam Hinata sebelum ia kembali tertidur dan menjelajahi mimpinya yang ia yakini, pasti indah.

"Hinata kenapa?" tanya Itachi ketika Sasori menggendong Hinata keluar.

"Ia mimisan tadi, Itachi, sekarang ia sudah tidur," kata Sasori tersenyum kepada sosok imut yang sedang ia gendong ini dan membawanya kembali ke kamarnya.

~I to the I to the B to the A to the R~

"Uhh," Hinata mengerjap-kerjapkan matanya dan menaruh tangannya di atas dahinya.

"Sebaiknya aku mandi dulu," gumamnya, lalu saat ia hendak bangun, ada tangan yang berada di samping perutnya, saat Hinata menolehkan kepalanya, ia mendapati sesosok laki-laki berambut merah sedang tertidur tepat di sampingnya, di atas tempat tidur, muka Hinata memerah pekat, ia sebisa mungkin bangun dari tempat tidurnya dengan tidak menimbulkan suara apapun, ia segera mengambil pakaiannya dan melesat ke kamar mandi secepatnya, sepertinya ia lupa mengunci pintu kamar mandi yang nantinya akan menimbulkan kehebohan karena kecerobohannya itu.

~INDIGO~

"Ungg, Unnn," desah Deidara, ia membuka kelopak matanya dan mendapati ranjang Sasori yang kosong tidak ada penghuninya itu.

"Danna pasti tidur di kamar Hinata deh, aku iri, un," Deidara agak kecewa, tetapi ia segera bangkit dari tempat tidurnya yang berwarna kuning dan mengambil pakaian-pakaiannya dan ia pergi ke kamar mandi.

"Markas ini sepi sekali ya," gumam Deidara, memang sekarang semua sedang ada misi, sehingga hanya ia, Itachi, Sasori, dan Deidara saja yang ada di markas ini, ia membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, biasanya kalau tidak terkunci berarti tidak ada yang memakai, dia juga masih setengah mengantuk, tetapi saat ia masuk, ia mendapati sesosok perempuan dengan rambut berwarna indigo dan iris mata lavender terbelalak padanya, lalu Deidara langsung sadar sepenuhnya karena melihat sosok itu tidak memakai busana dan ternyata sosok perempuan yang asli lebih indah dari seni, tetapi Deidara hanya melihat sekilas karena ia mengalihkan pandangannya karena sosok itu berteriak memecah keheningan pagi.

"KYAAA! MESUM!" pintu yang terbuat dari kayu itu langsung ia tutup.

~IN~

Iris mata coklat eboni langsung terbuka ketika ia mendengar teriakan yang sangat ia kenal, dan mendapati sosok yang berteriak itu tidak ada disampingnya, tetapi kenapa ia berteriak? Sasori langsung sadar sepenuhnya dan mencarinya di markas ketika ia melihat Deidara duduk di depan kamar mandi yang tertutup pintunya.

"Dei? Kamu tahu Hinata-chan kenapa berteriak? Ia dimana?" tanya Sasori runtut dan khawatir, pintu kayu coklat itu terbuka dan menampakkan sosok yang Sasori cari hanya berbalutkan handuk.

"Deidara-kun mesum!" seru sosok itu dan menampar Deidara.

"Apa yang kamu lakukan, Deidara?" Deidara yang masih terpatung di depan pintu itu bergidik ngeri karena Itachi yang baru sampai dan Sasori melontarkan pertanyaan itu dan menatapnya ngeri.

"Aku benci!" seru Hinata sebelum ia berbalik meninggalkan Deidara, Sasori, dan Itachi dan segera menutup pintu kamarnya dengan keras.

"Aku… tidak sengaja melihatnya saat mandi," kata Deidara penuh dengan rasa bersalah dan takut, Sasori merasa amarah meluap-luap dari dalam tubuhnya dan seketika itu ia menggenggam kunai dan mengarahkannya pada Deidara, begitu pula dengan Itachi yang mengaktifkan sharingannya.

"Coba ulangi sekali lagi? Kamu mengintipnya?" Deidara mengangguk ketakutan dan seketika itu pula kunai beracun yang digenggam Sasori menancap di lengan Deidara.

"Aku akan menyusul Hinata, Itachi, kamu beri Deidara pelajaran!" seru Sasori.

~BLACK~

"Hinata-chan, kamu tak apa?" tanya Sasori masuk ke dalam kamar Hinata, Hinata sudah berpakaian lengkap dan duduk di atas kasur.

"Deidara tadi masuk saat aku mandi, Sasori-kun," kata Hinata dengan muka cemberut karena ia malu tubuhnya terekspos oleh Deidara, pacarnya saja tidak pernah melihatnya telanjang! Uhm, bukan berarti dia mau dilihat, tapi ia sebal karena kelancangan Deidara, kenapa ia tidak mengetuk dulu? Dan bukannya terdengar suara guyuran air di dalam kamar mandi?

"Berarti dia melihatmu… telanjang?" tanya Sasori tidak yakin dengan pertanyaannya, sedetik kemudian, Hinata mengangguk.

"Akan kubunuh Deidara secepatnya," satu kalimat itu yang membuat Hinata merinding, ia tahu Deidara tidak sengaja dan lagipula ini juga kesalahannya karena dia tidak mengunci pintu kamar mandinya, padahal ia berada di markas hanya dengan tiga orang lelaki.

"Jangan Sasori-kun, Deidara-kun tidak sengaja kok, aku mengerti, itu juga kesalahanku," kata Hinata menahan Sasori untuk keluar, sesaat kemudian amarah Sasori berangsur-angsur menghilang.

"Tapi ia melihat tubuhmu, Hinata-chan," Hinata menggeleng dan tersenyum kepada Sasori.

"Aku yang salah, Sasori-kun, akan kulihat keadannya, aku takut ia diapa-apakan oleh Itachi, aku tidak mau memberikan seluruh energi kehidupanku padanya."

"Benar juga katamu, baiklah," Sasori menurut kepada Hinata, Hinata menapakkan kakinya dan menuju Itachi dan Deidara, sepertinya Deidara tampak kewalahan, keringat dingin mengucur dari tubuhnya, badannya juga gemetar, itu pasti karena ulah Sasori dan Itachi.

"Kalian ini! Apa yang telah kalian lakukan pada Deidara-kun?" tanya Hinata, ia segera menjulurkan tangannya dan memeriksa keadaan Deidara.

"Deidara-kun, buka bajumu," suruh Hinata, Sasori dan Itachi membelalakkan mata mereka.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sasori-kun, Itachi-kun, aku hanya mau memeriksanya," omel Hinata karena ia tahu benar sifat Sasori dan Itachi.

"Sasori-kun, Itachi-kun, tolong angkat Deidara ke kamarnya, aku akan memeriksanya," suruh Hinata, Sasori dan Itachi mengangguk.

"Jangan kira karena aku mendapat perhatian dari Hinata, kau bisa keenakan, Deidara," geram Sasori, Deidara hanya menyeringai.

Setelah memasuki kamar Deidara dan Sasori tersebut, Sasori dan Itachi segera merebahkan tubuh Deidara di atas ranjang kuning Deidara, Deidara mencopot bajunya dibantu dengan Sasori dan Itachi.

"Aku akan memeriksamu, Deidara-kun," Hinata mengikat rambutnya menjadi kuncir satu dan meletakkan tangan di atas dada Deidara yang merintih kesakitan, perlahan-lahan cahaya hijau menyelubungi tubuh Deidara, itu adalah perkembangan jurus dari medic-nin.

"Sasori-kun, kamu melukai Deidara-kun dengan racunmu ya?" tanya Hinata tegas, Sasori mengangguk.

"Lekas buat penawarnya," suruh Hinata.

"Baiklah, tapi malam ini aku tidur denganmu ya?" tanya Sasori membuat muka Hinata memerah dan ia menatap Sasori.

"Sasori-kun, kamu itu senang menggodaku ya?" tanya Hinata dengan muka memerah, Sasori yang berada di samping Hinata itu mengecup pipi Hinata.

"Iya, pasti dong, ya sudah aku anggap itu sebagai jawaban iya, aku akan membuat penawarnya secepat mungkin," kata Sasori.

"Lalu aku membantu apa, Hinata?" tanya Itachi, Hinata tersenyum lembut.

"Bantu Sasori-kun di laboratoriumnya saja, Itachi-kun, aku tahu pasti dia butuh bantuan," tanpa sepatah katapun, Itachi segera melangkah ke laboratorium milik Sasori itu.

"Sebentar ya, Deidara-kun," Hinata meletakkan kedua tangannya di atas perut Deidara dan perlahan-lahan mengambil racun dari dalam tubuh Deidara.

"Sa-sakit, Hinata-chan," keluh Deidara merintih kesakitan.

"Sebentar ya, Deidara-kun, ditahan dulu ya," Hinata tersenyum kepada Deidara, dan akhirnya Deidara mulai tenang.

"Hinata-chan," panggil Deidara, Hinata yang sedang duduk di samping ranjang Deidara menoleh.

"Ada apa, Deidara-kun?" tanya Hinata tak lupa menyunggingkan senyum manisnya.

"Mendekatlah, aku ingin memberitahumu sesuatu," kata Deidara, Hinata mendekatkan wajahnya atau lebih tepatnya telinganya ke wajah Deidara.

"Aku tidak akan melepaskanmu, Hinata-chan, ingat itu," kemudian Deidara mengecup pelan bibir Hinata, dan di saat yang tidak tepat pula, Sasori dan Itachi datang.

"Deidara-kun?" Hinata segera menarik wajahnya menjauhi wajah Deidara, guratan-guratan halus berwarna merah timbul di wajahnya yang imut, sedangkan persimpangan tampak jelas di wajah Sasori, ia mengepalkan tangannya, berjalan cepat dan menarik rambut Deidara sehingga kepalanya berada di sisi Sasori.

"Kau? Apa yang kau lakukan?" nada sarkastik, pertanyaan retoris, padahal jelas sekali Sasori melihat Deidara mengecup bibir pacar barunya ini.

"Menciumnya."

"Lalu kau anggap aku ini apa? Aku pacar resminya, Dei," Deidara menarik salah satu sudut bibirnya.

"Bukankah sudah kukatakan, bahwa sebelum kamu menikah dengan Hinata-chan, masih banyak kesempatanku untuk mendapatkannya," kata Deidara, wajah Sasori benar-benar kesal sekarang.

"Jangan bercanda? Kalau kamu seperti ini lagi pada Hinata, walau kamu adalah temanku, pada saat itu juga aku akan menghabisimu, DEI!" pada saat terakhir itu, Sasori memukul dada Deidara dan membuatnya terjatuh.

"Hinata-chan, ayo keluar," suruh Sasori dan ia mennggeret Hinata bersamanya.

"Ta-tapi Sasori-kun, penawar racunnya belum diminumkan pada Deidara-kun," kata Hinata, Sasori tetap bersikukuh menggeretnya.

"Ia dapat minum sendiri dengan bantuan Itachi tentunya, benar kan, Itachi?" Sasori menatap Itachi yang berada di samping Deidara, Itachi hanya mengangguk.

~AND~

'BRAKK' Sasori menutup pintu kamar Hinata dengan kerasnya, masih saja menggeret gadis ini yang sebenarnya tampak kesusahan karena genggaman tangan Sasori terhadapnya amat kuat dan erat.

"Sasori-kun! Apa yang terjadi dengan-," perkataan Hinata terhenti oleh bibir Sasori yang menempel pada bibirnya, Hinata baru sadar bahwa kini ia telah terperangkap oleh kedua lengan Sasori dan dinding yang berada di belakang punggungnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa.

"Aku benci setiap orang yang dekat denganmu, Hinata-chan, aku tidak suka dengan perlakuan mereka yang seakan-akan selalu siap merebutmu dariku kapan saja, aku tidak ingin kamu hilang dariku Hinata-chan, aku mencintaimu," Hinata tersenyum, kata-kata Sasori penuh dengan penghayatan yang menandakan Sasori tulus berkata seperti itu pada Hinata, Hinata mengecup pipi Sasori.

"Tenang saja, Sasori-kun, tidak ada yang dapat merebutmu dariku, aku selalu di sini bersamamu, aku milikmu sepenuhnya, dan aku berjanji tidak akan berpaling darimu, Sasori-kun," Sasori tampak lebih tenang, ia tersenyum pada Hinata, ia sudah tak menjebak Hinata dalam dua lengannya dan dinding, tetapi kini ia memeluk Hinata penuh dengan kehangatan.

"Aku berjanji akan menjagamu, Hinata-chan, kalau sampai ada yang melukaimu aku akan menyalahkan diriku sendiri karena tak dapat menjagamu," bisik Sasori.

Hinata terdiam, ia tidak dapat berkata apa-apa, ia merasakan semua perasaan Sasori kepadanya, Sasori tidak main-main pada cintanya kepada Hinata, Hinata hanya dapat tersenyum dan memeluknya kembali.

"Kamu mau berjanji?" tanya Hinata, ia sangat senang karena ia mendapat perlakuan yang sangat baik dari Sasori. Perhatian, kasih sayang, perlindungan, semua ada di dalam diri Sasori. Dan Hinata sangat bersyukur ia memilih Sasori sebagai orang yang selalu ada di sampingnya.

"Aku berjanji."

~RED~

~To Be Continued~

A/N: SUMPAHHH LEMOT BANGETT UPDATENYAA wkwk! *evil laugh* apa masih ada yang ingat dengan cerita ini? Karena aku udah lama banget ga update, kalo bisa review cerita baruku juga ya! Judulnya Our Promise dengan pairing MinaKushi, maaf kalau kalian menunggu

Balasan review(anonymous review)

Dalita Hilafita : maaf, kecewa ya? Aku lama banget updatenya? Maaff gomenn! Makasih udah review

Dewi chan : Panggil saja aku Kira! Iya, memang sama Sasori kok aku juga lebih suka SasoHina dari awal wkwk, makasih reviewnnyaa

Hinata shy angel : Maaf ya, aku lama banget updatenya, semoga masih berkenan untuk mereview lagi, terima kasih pujiannya dan juga reviewnya! :D

Akane kanagaki : iyap! Disini Sasori jadian sama Hinata, sesuai dengan saran banyakkk orangg hhi makasih reviewnya :3

Chai Mol ga login : Iyapp, terima kasih reviewnya, maaf kalo menunggu lama

Chika : Iya! Ini sudah bikin chapter lagi, makasih reviewnya!

Uchiha Hibari : maaf ya kalau menunggu ceritaku *ngarep* hehe aku lagi sibukk *sok sibuk* makasih reviewnya

R'bowU : Disini permohonan Anda terkabul! Hohoh makasih reviewnyaa! Review lagi ya! **

Azuchan : Wahh disini udah super duper banyakk :D makasih reviewnya!

Sinta` : makasihh aku jadi maluu / makasih juga reviewnya!

Kurosaki Yume-chan : ini udah update tapi lama sangattt wkwk *ditimpuk* makasih reviewnyaa

Uzumaki deihina-chan : Hina sama Saso dongg tentunya! Hiihi makasih reviewnya :D

ZaHrA InDiGo LoVeRs : sayangg,, Itachi ga sempet kencan sama Hinataa *evil laugh* makasih reviewnyaa

Hyuuga Mitha Etha-chan : Impianmuu terkabul! Wkwk iyaa makasihh ya

mangablogger-san : masa sih? Aku ini masih author pemulaa itu hanya perasaanmu sajaa *evil laugh* tapi makasih pujian dan reviewnya

nazsai-chan : Sainya emang ga dapet jatah giliran muncull, maaf ya makasih reviewnya

Akahana-Chan : Makasih reviewnya, gapapa kok loh kenapa jangan dibuat? Makasih reviewnyaa :D

Nmpang aj : Iyaa ini SasoHina, makasihh banyakk reviewnya ;D

kyuubiper g' suka hinata masuk akatsuki : Iya, memang Hinata kubuat untuk pairing dengan Sasori, habis suka sih, mau gimana lagi? makasih reviewnyaa :3

LovelyGreen : kamu mau nganter akuu? Makasihh bangett :D kebetulan motorku rusak wkwk makasih reviewnyaa

SasuHina ga bisa Login : iyaa sama Sasori kok tenang ajaa makasih reviewnya! Maaf Cuma bales singkat karena author kehabisan kata-kata hihi

Hinata-Himekka : lama ya? Maaf bangett aku lagi sibukk sekalii, makasih reviewnyaa :3