Bagian 10

Keputusan Hinata

Hinata menuruni mobil porche putih yang membawanya. Di iringi oleh keluarga besar Klan Hyuuga. Ia benar-benar cantik. Mendekati pendeta dan Lee yang telah berdiri di atas panggung pernikahan.

Naruto, melihatnya dengan perih. Semua sahabatnya bisa merasakan hal itu. Begitu perih dan sakit.

" Demi Hinata, bertahanlah!" kata Ino.

Naruto mengangguk pelan. Terdengar upacara pernikahan mulai di laksanakan. Semuanya pun senyap.

" Rock Lee, bersediakah engkau menerima Hyuuga Hinata sebagai istrimu?" tanya pendeta memulai.

" Aku menerimanya." kata Lee dengan senyumnya yang lebar.

" Hyuuga Hinata, bersediakah engkau menerima Rock Lee sebagai suamimu?" tanya pendeta pada Hinata.

Hinata gamang.

" Aku-a-aku..." Hinata tergagap.

Hinata menghela nafas.

" Aku menolaknya." kata Hinata.

Pernyataan Hinata membuat seluruh aula menjadi ribut bak ribuan tawon. Semuanya tampak terpukul.

" Hiashi, apa-apaan dia?" tanya Guy pada Hiashi.

" Ia putriku, ia pasti bisa melangkah kemana yang terbaik." kata Hiashi.

" Mengapa Hinata? Kenapa kau menolaknya?" kata Lee.

" Maafkan aku Lee. Aku tidak mencintaimu." kata Hinata.

" Tapi mengapa?" kata Lee.

" Maafkan aku, cinta itu pengorbanan. Aku sekarang sadar bahwa hanya pada satu orang ku bisa menjadi pendampingnya." kata Hinata.

" Lalu, kenapa kau terima tawaranku?" kata Lee.

" Karena saat itu aku ingin lari dari takdir. Maafkan aku." kata Hinata.

Semua orang di aula tampak terkejut.

" Apa yang ia pikirkan?" kata Tenten.

" Tidak, aku tidak bisa menerimanya." kata Lee berang.

Hinata mundur beberapa langkah.

" Kalau kau tidak mau, aku akan memaksamu, Hyuuga." kata Lee.

Seketika Lee menarik Hinata dan menodongkan pisau ke leher Hinata, membuat semua orang seakan tak berdaya.

" Apa yang kau lakukan, Lee?" kata Hiashi.

" Pergi! Atau kau akan melihat gadis ini mati, Hiashi!" kata Lee.

" Hentikan, Lee! Kau gila!" teriak Ino.

" Jangan macam-macam, Yamanaka! Kau ingin melihat sahabat kalian ini mati disini, di hadapan kalian?" kata Lee.

Semua orang, bahkan keluarga Hyuuga merasa terpojok. Kalau mereka maju selangkah saja, nyawa Hinata taruhannya.

Lambat laun, Lee berjalan sambil tetap menodongkan pisau ke leher Hinata, sembari membawanya ke dalam mobil. Melesat dengan arah yang begitu pesat.

" Kita harus menyelamatkannya!" kata Kiba.

" Kau benar, cepat!" kata Ino.

" Tunggu!" kata Naruto.

Semua orang menatapnya.

" Kenapa, nyawa Hinata dalam bahaya!" kata Tenten.

" Kita tak bisa gegabah, kita mesti menyusun rencana dulu." kata Naruto.

" Tapi, kita akan kehilangan jejak mereka." kata Ino.

Naruto tersenyum kecut.

" Tenang saja, aku ada rencana." kata Naruto.

" Lepaskan aku, Lee!" kata Hinata.

" Kau tidak akan ke mana-mana Hinata." kata Lee.

Hinata memejamkan matanya. Pasrah pada takdir yang mencekal.