CHAPTER 9

Setelah memakai kembali pakaiannya, Leo dan N mengikuti Ken yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar kamar.

"Biar aku saja yang membuatkan minuman," Ken mencegah N yang akan berbelok menuju ke dapur.

"Ne, jangan lama-lama."

N pun melanjutkan perjalanannya(?) menuju ke ruang tamu, menemui kedua orang namja yang telah menunggunya.

"Jadi kau yang bernama Cha Hakyeon?" tanya salah seorang dari kedua namja tersebut begitu melihat N.

"Ne, benar saya Cha Hakyeon. Ada perlu apa ya?"

"Ehm, bolehkah kami meminta satu hal darimu?" tanya namja itu lagi, sementara satu orang namja lainnya hanya diam saja sejak tadi.

N mengangguk ragu.

"Kami hanya minta satu hal darimu…"

"Yeobo…" namja yang sedari tadi diam itu mencoba menghentikan suaminya.

"Diam, Youngjae!" bentaknya, membuat namja bernama Youngjae itu kembali terdiam.

"Kami minta satu hal saja darimu, tolong jauhi Leo. Berhenti menghubungi dan menemuinya mulai saat ini," ucapnya tegas.

Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari lawan bicaranya namja itu menarik lengan Youngjae – istrinya – dan pergi begitu saja.

"Mereka siapa? Kenapa mereka menyuruhku menjauhi Leo? Apa salahku?" tanya N dalam hati.

PRANG!

Suara gelas pecah menyadarkan N dari lamunannya, ia menoleh ke arah sumber suara.

Ken sedang membawa tiga gelas berisi teh hangat untuk eomma dan kedua orang tamunya ketika mendengar apa yang diucapkan suami Youngjae pada eommanya.

"Eomma, siapa kedua orang itu?" tanya Ken dengan wajah datarnya, sepertinya ia juga masih shock.

N hanya menggeleng lemah.

Diam-diam Leo mendengar semuanya dari balik tembok. Sementara RaBin masih sibuk dengan aktivitas mereka di kamar.

.

.

.

Di teras sebuah rumah yang tergolong mewah terlihat seorang namja sedang menelpon seseorang.

"Yak! Taekwoon, appa peringatkan sekali lagi untuk tidak mendekati ahjumma itu lagi. Kalau kau tidak mengindahkan peringatan appa kau pasti menyesal, Taekwoonnie," ancamnya kepada seserang di seberang.

"Appa, sudahlah, biarkan Taekwoon hyung memilih jalan hidupnya sendiri," seorang namja bertubuh atletis keluar dari dalam rumah dan menenangkan appanya, disusul dengan seorang namja dengan tinggi badan diatas-rata di belakangnya.

"Ah! Kalian anak kecil tau apa eoh?!"bentaknya.

"Kasihan Taekwoon hyung, appa," ucap namja bertubuh tinggi itu.

"Lebih kasihan lagi kalau Taekwoon tetap menikah dengannya," balasnya.

.

.

.

"Jadi kedua orang namja tadi adalah orang tuamu, hyung?" tanya Hongbin pada Leo yang kini duduk di hadapan Hongbin dan Ravi.

Leo mengangguk.

"Mereka tidak merestui hubunganmu dengan eomma?" tebak Ravi.

Leo kembali mengangguk.

"Waeyo?"

Kini Leo menggelengkan kepalanya. "Molla."

"Lalu apa yang akan hyung lakukan?" tanya Ravi. "Hyung akan menuruti perintah mereka untuk meninggalkan eomma?"

Tok… Tok… Tok….

Suara ketukan pintu menginterupsi pembicaraan – atau lebih tepatnya acara tanya jawab – mereka.

Dengan berat hati Hongbin bangkit dari tempat duduknya, hendak membukakan pintu.

"Hyung, cepat masuk," perintah Ravi.

Leo segera menuruti perintah 'calon menantu'nya untuk bersembunyi di dalam rumah, berjaga-jaga kalau yang datang adalah orang tua Leo.

CEKLEK!

Hongbin membuka pintu, menampilkan sesosok namja yang ditemuinya bersama Ravi beberapa hari yang lalu. Bi.

"Wah, kalian lagi… Kebetulan sekali eoh, btw sedang apa kalian disini?" Bi terlihat senang bertemu kembali dengan RaBin.

"Ini rumahku." / "Ini rumah kekasihku."

"Oooo…."

"Hyung sendiri ada keperluan apa kesini?" tanya Hongbin sedikit was-was, karena Bi adalah hyung Leo jadi tidak salah kan kalau mereka cemas, bisa jadi Bi datang untuk membawa Leo pulang.

"Aku kesini untuk mencari Leo, kudengar dia ada disini."

DEG!

Hongbin dan Ravi berpadangan sesaat, seolah saling bertanya "ottokaji?"

"Tenang saja, aku kesini bukan untuk memisahkan Leo dari Hakyeon, justru aku akan membantu mereka," seolah dapat membaca isi pikiran kedua orang namja di hadapannya Bi segera memberi tau maksud kedatangannya, "eomma dan appa memintaku membawa pulang Leo dan menjauhkannya dari Hakyeon. Tapi tentu saja aku tidak mau, jadi aku kesini untuk membawa, ehm mungkin lebih tepatnya mengamankan Leo dan Hakyeon."

"Mengamankan?" tanya Hongbin meyakinkan pendengarannya tidak salah.

"Hu-um, bisakah aku masuk?"

Hongbin sedikit tersentak dengan pertanyaan terakhir Bi, baru sadar kalau sedari tadi ia belum mempersilakan tamunya untuk masuk. "Ne, silakan masuk."

Bi masuk dan duduk di sebuah sofa yang berada di samping kanan pintu, sedangkan RaBin duduk di sofa yang menghadap ke pintu utama yang masih sedikit terbuka.

"Jadi bagaimana rencanamu?" tanya Ravi.

"Aku akan membawa Hakyeon dan Leo tinggal di apartemenku yang kubeli tanpa sepengetahuan appa dan eomma. Kemudian aku akan bilang pada mereka kalau aku sudah mencari kesini tapi tidak bertemu dengan Leo dan atau Hakyeon. Kita pikirkan selebihnya nanti."

"Apa kami bisa mempercaiyaimu?" Hongbin masih tidak terlalu percaya pada Bi.

"Apa aku terlihat seperti orang jahat, eoh?"

RaBin menggeleng bersamaan.

"Kalau begitu, percayalah padaku."

.

.

.

Bi, Hongbin, dan Ravi telah sepakat untuk mengamankan Neo dari DaeJae – kedua orang tua Leo – dengan membawa mereka tinggal di apartemen Bi, Leo juga telah menyetujui ide hyung-nya tersebut. Jadi rencananya sore ini juga mereka akan mengemasi barang-barang yang akan dibawa dan pergi di malam hari, tentu saja mereka memilih malam hari agar tidak ada tetangga yang tau.

"Leo, bagaimana dengan barang-barangmu yang masih tertinggal di apartement?" N mengingatkan Leo yang sedari tadi sibuk membantunya dan melupakan barang-barangnya sendiri.

"Tenang saja, aku sudah membawanya, semua barang-barang yang sering Leo gunakan sudah ada di mobilku," ujar Bi yang ternyata sudah menyiapkan segalanya dengan baik.

"Ah, kau pintar hyung," puji Hongbin.

"Hehehe…" Bi hanya terkekeh mendengar pujian Hongbin.

.

.

.

Ravi dan Hongbin ikut Bi mengantar Neo mengungsi (?) ke apartemen Bi, sedangkan Ken mendapatkan tugas jaga rumah.

Baru saja Ken akan menyentuh kenop pintu kamarnya, hendak tidur, suara ketukan pintu memaksanya kembali turun.

"Ck… Siapa sih yang bertamu tengah malam seperti ini," gerutunya sambil berjalan cepat menuruni tangga.

Tok… Tok… Tok…

"Ne, tunggu sebentar."

CEKLEK!

Pintu terbuka.

"Nuguya?" tanya Ken yang merasa tidak kenal dengan kedua orang namja di hadapannya.

"Saya Minhyuk, dan ini suami saya – Eunkwang," jawabnya memperkenalkan diri. "Bisakah saya bertemu dengan Ken?"

"Ken?"

"Ne, Ken, atau Lee Jaehwan."

"Saya sendiri."

"Oh, kebetulan sekali."

"Ada perlu apa ya?"

"Begini, saya eomma-nya Hyunsik."

Ken hanya mengangguk, masih tidak mengerti apa maksud kedatangan orang tua dari teman sekelasnya tersebut.

"Kami baru pulang dari luar kota dan kebetulan tadi Hyunsik menelpon, kami diminta untuk meminjam tugas seni rupa darimu," jelas Minhyuk.

"Oh, jadi ahjumma diminta Hyunsik untuk meminjam tugas seni rupa saya?"

"Ne, benar, Ken."

"Mianhae, bukannya saya tidak mau meminjamkannya, tapi saya sendiri bahkan lupa kalau ada tugas seni rupa, hehehe…." Ken menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Aigoo… Malang sekali nasib uri Hyunsik, lalu bagaimana ini yeobo?" Minhyuk tiba-tiba berubah menjadi melankolis.

"Apa kau tau ada teman kalian yang sudah mengerjakannya?" tanya Eunkwang yang sedari tadi hanya terdiam.

Ken terlihat berpikir sejenak. "Ehm… Siapa ya? Saya juga gak yakin ada yang mengerjakannya, tapi mungkin kalian bisa pinjam Kim Hyuna."

"Kim Hyuna? Kau tau dimana rumahnya?" Eunkwang terlihat sedikit antusias.

Ken menggeleng dengan lugunya. "Sayangnya saya tidak tau alamat pastinya, tapi saya dengar di daerah Gangnam."

"Aduh! Sama saja dong." Eunkwang menepuk jidatnya sendiri. "Ya sudahlah, terima kasih banyak, Ken."

"Ne, terima kasih atas bantuannya, kami permisi dulu ne…," pamit Minhyuk.

Ken hanya mengangguk sopan kemudian kembali menutup pintu dan tak lupa menguncinya juga.

"Untung saja Hyunsik berniat meminjam tugas seni rupaku, kalau tidak aku pasti tidak ingat ada tugas itu, hehehe…" Ken bersyukur atas kedatangan KwangMin karena jika tidak Senin besok ia pasti dihukum berdiri satu kaki di depan tiang bendera karena melupakan tugas seni rupanya.

.

.

.

"Aigoo…. Susah sekali…. Ottokaji?"

Ken menjambak-jambak rambutnya frustasi. Sudah sembilan puluh menit ia mencoba mengerjakan tugas karya seninya – menggambar denah sekolah – tapi belum juga ada satu ruanganpun yang berhasil ia gambar. (Emangnya menggambar denah sekolah masuk ke dalam pelajaran seni rupa ya? Anggap saja iya. Saya sudah lupa soalnya, mohon dimaafkan #bow)

Tiba-tiba sebuah nama muncul di kepalanya.

"HONGBIN!"

Dengan cepat Ken meraih smartphonenya dan mengetik sebuah nomor yang sudah dihafalnya diluar kepala.

"Yeoboseyo, Binnie…"

"….."

"Kapan kau pulang?"

"….."

"Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas seni rupa."

"…"

"Menggambar denah sekolah."

"….."

"Yaaaahhh…" Ken terlihat kecewa setelah mendengar jawaban terakhir dongsaengnya, ia hampir memutuskan sambungan telepon ketika Hongbin kembali memanggilnya.

"Hyung… Hyung….," panggil Hongbin dari seberang sana.

Ken kembali menempelkan smartphonenya ke telinga. "Hmmm?"

"….."

"Shireo!"

"….."

"Tetap tidak mau!"

"….."

Ken terlihat berpikir sejenak dan kembali menjawab, "ya sudahlah, tapi Binnie harus menemani hyung."

"….."

"Ne, gomawo…."

Kini Ken benar-benar memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia menutup buku gambar A3 di hadapannya, mematikan lampu, kemudian membaringkan dirinya di atas ranjang, bersiap untuk tidur.

TBC