Nanti
Main pair: Sasusaku
Naruto belongs Masashi Kishimoto
Rated: M
Summary: Ketika dia datang dengan kancing kedua, maka Sakura akan menjawab 'Nanti'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 9: Sang pemilik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bangun di pagi hari dengan suasana yang sangat dingin menyadarkanku bahwa ruangan ini sangat asing. Ketika memori muncul, barulah aku ingat dimana aku berada. Untungnya hari ini libur. Aku tak perlu repot-repot pulang ke rumah pagi-pagi. Tidurku sangat nyenyak, yeah…ini semua berkat ranjang super empuk milik keluarga Uchiha. Pagi yang menyenangkan dengan suasana yang menyenangkan. Sebagai tamu yang tidak mau merepotkan, aku membantu Mikoto-san menyiapkan sarapan walaupun Nyonya Uchiha itu sudah menyuruhku untuk diam di kamar saja. Sedangkan Izumi-san sedang menyiram tanaman di hothousenya.
"Kami mempunyai hothouse di belakang rumah. Ada tanaman wortel, beberapa bunga anggrek, dan tomat. Sasuke sangat suka dengan tomat, makanya jangan heran kalau ada banyak tomat disini."Ah! pantas saja dari kemarin hidangan di meja selalu diwarnai dengan buah itu. Tak habis pikir juga kalau CEO muda, dingin nan sangar itu candu dengan buah bulat lonjong berwarna merah merekah. Satu poin penting dari Sasuke.
"Bolehkah aku meminta bantuanmu?"
"Dengan senang hati, Mikoto-san."Jawabku kalem.
"Tolong jaga supnya ya, aku harus mengantar kopi ini ke kamar suamiku."Setelahnya aku mengangguk dan dia melenggang pergi. Bau sup langsung menguar ketika aku membuka tutup panci. Kuahnya meletup-letup dengan cairan berwarna merah. Sup tomat. Yap! Makanan khas keluarga Uchiha. Tanganku mengambil spatula lalu mengaduk pelan sup tersebut.
TEK!
"Jangan terlalu dimasak lama. Aku tak suka sup yang terlalu kental."Dan wangi mint maskulin langsung masuk ke dalam penciumanku. Tubuhku kaku dan tanganku sangat sulit untuk bergerak. Aku baru menyadari bahwa sumbu api kompor telah mati karena ulah manusia di belakangku ini.
"Sou—souka."Ucapku terbata. Huh! Pagi-pagi sudah dihadapi hal yang seperti ini. Dia melenggang pergi lalu duduk di kursi mini bar yang tak jauh dari dapur dan meneguk segelas air. Huh! Rasanya jantungku mau lepas.
"Akhirnya kau menginap juga disini."Ujarnya yang membuatku mendelik. Ini semua kan gara-gara dia!
"Yeah, dan kau harus menjelaskan semuanya pada ayahku."
"Hn."
Suasana makin canggung. Jadi yang bisa kulakukan hanya memotong sayuran dengan gelagapan.
"Sakura, bisakah kau membuatkanku teh?"Suara seraknya membuatku berjengit dan refleks mengiris jariku sendiri.
"Aw!"Sasuke langsung berdiri dari duduknya ketika aku mengerang. Digenggamnya jariku yang terluka dan tanpa pikir panjang dimasukkan ke dalam bibirnya yang basah. Sensasi basahnya membuat seluruh sarafku mati rasa. Oh no! tahan nafas Sakura!
Sekarang yang menjadi fokusku bukan lagi rasa sakit dari kulit yang teriris, melainkan betapa tipisnya bibir Sasuke itu yang menari-nari di sekitaran telunjukku. Uh! Melihat bibirnya saja sudah membuatku mengingat kejadian semalam. Dan tanpa sadar, jemariku yang bebas menyentuh permukaan bibirku.
"Apa yang kau pikirkan?"Tanyanya ketika dia mengeluarkan jariku. Apa tadi dia menelan darahku? Oh tuhan! Darahku sekarang telah bercampur dengan darahnya!
"Ti—tidak ada!"Sahutku cepat. Wajahnya sangat datar tapi elegan. Dia menatapku lembut dan menangkup pipiku dengan jemarinya yang kekar. Sementara tanganku yang bebas dituntunnya menuju dadanya yang terbalut baju hangat.
"Apa kau bisa merasakannya?"Tanyanya dengan suara yang lirih. Ya! ya! Aku merasakan debaran jantungnya yang berdentum cepat. Kukira ada drummer sedang konser disana.
"Kenapa?"
"Hn?"Geramnya rendah.
"Kenapa kau mencintaiku?"Hening sejenak. Tak ada respon yang pasti. Jemarinya yang bersarang di pipiku bergerak. Mengusap-ngusap dengan lembut dan menghantarkan kehangatan. Sangat nyaman sampai-sampai pipiku memerah.
"Aku tak memiliki alasan."Dan setelahnya jarak di antara kami semakin menipis. Mataku terpejam dengan refleks. Menunggu sesuatu yang lebih intim akan terjadi.
Dekat….
.
.
.
.
Lebih dekat….
.
.
.
Dekat….
Dekat…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sedikit lagi….
.
.
"Paman Sasuke, apa yang kau lakukan?"Dan suara Ito membuat kami jadi kelabakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak tahu kalau Uchiha Ito merupakan spesies Uchiha yang sangat cerewet dan ingin tahu. Bingung juga harus menjelaskan apa ketika dia bertanya perihal 'kejadian' di dapur tadi. Pertanyaannya malah membuat seluruh keluarga Uchiha terdiam dan melayangkan tatapan introgasi kepada bungsu Uchiha. Baik aku maupun Sasuke sama-sama bungkam. Walaupun sebenarnya Sasuke sudah menjelaskan apa yang terjadi, minus kejadian setelah dia mengulum jariku, nampaknya Ito belum puas dengan penjelasannya. Mikoto-san dan Izumi-san hanya bisa tersenyum setelahnya.
"Sakura-nee, ayo kita bermain salju!"Ito menarik tanganku ketika kegiatan sarapan selesai. Dengan semangat yang menggebu-gebu, dia menyeretku menuju taman belakang Uchiha. Tumpukan salju serta udara yang sangat dingin menyapa kami. Ito berlari dengan riang menuju tumpukan salju tersebut lalu tidur dan mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya seperti adegan Patrick di kartun Spongebob.
"Hey! Ayo kita buat boneka salju!"Ajakku dengan riang. Dia menyambut dengan antusias lalu bangkit.
"Apakah nanti akan jadi seperti Olaf?"Tanyanya dengan mata berbinar. Uh! Pipi gembilnya sungguh menggoda.
"Yap. Kurang lebih seperti itu."Jawabku mantap. Yah, berdoa saja agar hasilnya tak seburuk di masa lalu. Ito tertawa tanpa beban. Aku jadi iri dengannya, merasa bebas tanpa masalah. Kenangan di masa lalu kembali muncul ketika segumpal salju kugenggam. Bayangan akan kakak dan boneka saljunya yang rapih membuatku memiliki semangat untuk membuat boneka salju seperti milik kakak.
Salju yang bersih terus kubentuk menjadi bulatan yang besar. Sedangkan Ito membantu merapihkannya.
"Wah! Salju ini kotor!"Seru Ito ketika melihat beberapa salju yang kotor karena bercampur tanah.
"Kasihan sekali, padahal salju itu kan putih sekali. Tidak bisa dibersihkan lagi."Ujarnya lirih sambil terus membersihkan salju itu. Tetapi tindakannya itu membuat salju semakin kotor. Sesuatu yang kotor, sekalipun dibersihkan tak akan menghilangkan noda sepenuhnya. Setidaknya itu sangat cocok dengan keadaanku.
"Sakura-nee. Tolong ambilkan aku ranting pohon. Aku tak bisa menjangkaunya."Pintanya membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk setuju dan dia berlari menuju hothouse. Ranting pohon yang kudapatkan ditancap ke sisi kiri dan kanan boneka. Setelah itu, Ito datang dengan sebuah wortel yang sudah bersih lalu ditancapkan ke boneka salju sebagai hidungnya. Kami berdua sama-sama menatap hasil karya dadakan ini.
"Hhm…bulat sekali, seperti Doraemon."Ujar Ito dengan polos. Benar juga, daripada disebut Olaf, boneka ini malah lebih mirip Doraemon.
"Baiklah, kalau begitu kita sebut saja DoraOlafmon!"Ucapku sembarang. Ito menatapku sebentar.
"Hmm…tidak buruk. Kalau begitu, aku sayang DoraOlafmon!"Ujarnya girang sambil memeluk boneka itu. Senang sekali melihat karya seni dipuji orang lain. Tak lama kemudian Izumi-san dan Mikoto-san ikut bergabung dan kami saling bermain salju. Izumi mengabadikan momen ini lewat kameranya. Ito beberapa kali terjatuh karena tumpukan salju yang tebal. Kami saling tertawa dan membuat beberapa boneka salju yang lainnya.
"Bukankah suasana rumah jadi sedikit ramai?"Tanya Itachi ketika dirinya memergoki adiknya yang sedang menatap halaman belakang rumah mereka. Sasuke menoleh dan tersenyum kecil pada kakaknya.
"Sudah mencapai tahap apa kalian?"Itachi duduk di kursi sebelah Sasuke sambil terus menatap orang-orang disana.
"Naik satu tingkat. Teman dekat."Jawab Sasuke santai.
"Hanya segitu? Kukira setelah berdansa, aku akan segera mendapat adik ipar."
"Hn. Dia hanya mengucapkan terima kasih."Itachi ingin tertawa rasanya. Melihat adiknya yang sangat susah menaklukkan Sakura membuatnya geli sendiri. Terlebih ini adalah adiknya, adiknya yang tak pernah mau berurusan dengan hal yang merepotkan.
"Oh…jadi….kenapa wajahmu itu seperti itu?"Sasuke menoleh dan menatap kakaknya tak mengerti. Tak lama kemudian dia menghela nafas beratnya. Uap kecil keluar dari mulutnya ketika dia menghela nafas. Sasuke menatap kakaknya dengan serius.
"Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada Sakura?"Itachi mengernyit, tak mengerti dengan pendapat Sasuke. Sejauh yang ia lihat, gadis itu nampak baik-baik saja.
"Aku tak tahu. Kukira dia baik-baik saja."Setelahnya mereka terdiam. Itachi cukup tahu bahwa adiknya ini sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang ia kumpulkan di otaknya lalu ia olah dan simpan sendiri. Itachi tahu kalau adiknya sudah menginjak usia menuju dewasa. Tetapi, hidup bersama Sasuke selama 22 tahun membuat Itachi mengerti dengan semua sifat Sasuke. Sasuke tak pandai berbagi cerita, tapi Sasuke belum bisa mengatasi masalahnya sendiri. Namun, kali ini berbeda. Ini soal privasi. Jadi, Itachi hanya perlu mendukung dan memberikan Sasuke kebebasan.
"Itachi-kun, Sasuke-kun! Ayo bergabung!"Teriakan Izumi yang menggema membuat keduanya mau tak mau ikut bergabung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Matahari yang berada di atas kepala menyadarkanku bahwa hari sudah semakin siang. Kami sudah selesai bermain sejak sejam yang lalu. Mikoto-san dan Izumi-san menuntunku menuju hothouse. Ketika pintu terbuka, aku tak tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan. Yang jelas, melihat berbagai tanaman yang tumbuh subur dan daun-daunnya yang hijau sungguh membuat sejuk di mata. Disini suhunya hangat karena banyak lampu pijar yang sangat terang. Kaca ruangannya juga sangat aman dari suhu dingin dari luar, jadi tak perlu khawatir musim bisa merusak tanaman disini. Tomat-tomat merah segar berisi siap dipanen, sedangkan wortel-wortel telah menyembul dari tanah. Kami bertiga memanen sayuran-sayuran tersebut. Kebutuhan vitamin Uchiha memang sangat luar biasa.
"Ah, maaf mengganggu kesenangan kalian. Tapi kurasa Sakura harus pulang sekarang sebelum Kizashi-san membunuhku."Sasuke datang dari balik pintu hothouse. Jaket tebal menyelimuti tubuhnya lengkap dengan syal merah muda di lehernya. Ngomong-ngomong, mau sampai kapan syalku terus disitanya?
"Oh, Sasuke-kun. Tidak bisakah Sakura tetap disini sampai sore? Kau merusak daftar acara weekendku."Izumi-san berkacak pinggang di hadapan Sasuke, sedangkan Sasuke menatapnya bosan. Aku terkikik geli melihat Mikoto-san dan Izumi-san yang berusaha menyanderaku. Sasuke tentu saja menolak. Pada akhirnya, mertua dan menantu itu hanya bisa pasrah.
Ini bukanlah kali pertama aku berada di situasi hanya berdua saja dengan Sasuke. Tetapi nampaknya kegugupan tak bisa kututupi. Selalu saja ada getaran-getaran aneh setiap berada di samping pemuda ini. Terlebih lagi setelah pesta dansa dan tragedi di kamar tamu semalam. Demi tuhan! Sampai sekarang aku belum percaya bahwa aku bisa merasakan sensasi kelembutan dari bibir pemuda ini.
"Ada apa?"Tanyanya ketika mobil berhenti di traffic light. Aku tersentak, tak menyadari bahwa mata bodohku ini sempat mencuri-curi pandangnya.
"Tidak ada."
"Souka."Dan kemudian kami saling sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku dengan kegugupanku, dan dia dengan stir mobilnya. Sampai sekarang aku tak mengerti tentang perasaanku terhadap Sasuke. Dia datang ketika kami masih SMA. Memberiku kancing kedua almamaternya lalu menghilang ditelan masa yang panjang. Kemudian kami dipertemukan kembali di satu kesempatan. Aku tak tahu harus bagaimana. Bahkan aku belum terlalu mengenalnya. Tetapi aku bisa merasakan sebuah perasaan yang terus menyerangku. Perasaan yang aku tak tahu harus mengatakannya apa. Sebuah perasaan yang selalu membuatku terkejut dan berdetak tak karuan. Lalu, mungkinkah ini yang mereka sebut-sebut sebagai cinta? Aku ragu, sangat ragu. Aku butuh penjelasan. Penjelasan yang lebih spesifik tentang semua yang kurasa.
"Sakura."
"Ah, iya?"Lagi-lagi aku tersentak. Tersadar, ternyata tujuan kami telah sampai. Aku melepas seat belt, begitupun dia. Setelahnya aku terdiam. Tak berniat untuk membuka pintu mobil dan keluar dari sini. Ada banyak hal yang harus kutanyakan langsung padanya.
"Katakan saja."
"Eh?"Sontak saja aku menoleh dan tak mengerti maksudnya. Sasuke, pemuda yang identik dengan wajah tenangnya menatapku. Netra sekelam malam itu menusuk kedua emeraldku.
"Katakan semua yang kau ingin katakan."Dan dia adalah pemuda paling peka yang pernah kutemui. Aku meremas sweater pemberian Izumi-san. Terlalu takut dan ragu untuk mengatakan isi hatiku yang berkecamuk. Kami masih terdiam di dalam mobil. Dan pada akhirnya, aku memantapkan hati.
"Kenapa kau mencintaiku?"
"Kau sudah tahu jawabannya."Jawabnya tegas. Aku ingin marah. Bagaimana bisa dia mencintaiku tanpa alasan? Segala sesuatu di dunia ini muncul dengan alasan masing-masing, begitu pula perasaan.
"Kau….bagaimana bisa? Semua materi pasti mempunyai alasan."Sahutku geram. Setelahnya dia terdiam. Tangannya merayap, menggenggam tanganku yang sedingin angin musim dingin. Lalu tatapannya meredup, berusaha membawaku menuju sebuah ketenangan.
"Kau hanya tak mengerti. Perasaan ini datang dengan sendirinya."Tuturnya tenang, setenang air yang mengalir.
"Aku bukan menyukaimu, tetapi aku….yah kurasa kau mengerti apa maksudku."Tambahnya lagi. Kata-katanya puitis, manis, tapi tidak hiperbolis. Aku bersumpah bahwa mataku masih sangat sehat dan tidak terjangkit penyakit apapun, tapi kali ini pandanganku kabur.
"Carilah perempuan lain. Perempuan yang benar-benar mencintaimu. Lupakan aku. Kau bahkan belum mengenalku sepenuhnya."Sahutku. Sasuke meresponnya melalui genggaman. Dieratkannya genggaman tangan kami. Kemudian dia meraih daguku. Berusaha menatap mataku yang semakin kabur. Ah! Ada sekumpulan air yang menutup pandanganku.
"Kalau saja aku bisa. Tapi sayangnya tak bisa."Dan setelahnya dia meraihku. Meraihku menuju kenyamanan di dadanya. Bersamaan dengan itu, kumpulan air di mata tumpah begitu saja. Mengiringi setiap isak yang terus keluar dari bibirku. Tangan besar Sasuke mengusap punggungku sambil terus menerus mengucap kalimat penenang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelahnya aku hanya berharap jika perasaan yang menghantuiku ini bisa menemukan jawabannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entah mengapa matahari sangat cepat beristirahat. Aku keluar dari kamar mandi. Kepulan asap menguar ketika pintu kamar mandi dibuka. Sangat menyenangkan bila berendam air panas di saat musim dingin seperti ini. Bulu kudukku meremang kala merasakan udara yang sangat dingin. Ketika kumenyadari, jendela kamar belum kututup. Aku melangkah, menutup jendela itu sekaligus menutup kordennya. Bersamaan dengan itu, ponselku berdering nyaring. Dan emeraldku memandang nama yang tertera di layar ponsel.
Gaara S
Besok mau kujemput?
.
Aku tersentak, tentu saja. Ponselku berdering lagi ketika aku hendak membalas pesannya.
Uchiha Sasuke
Besok pagi, kujemput.
.
Dan niatanku untuk membalas pesan Gaara kuurungkan. Hah…bagaimana bisa kedua orang itu memiliki niatan yang sama? Ponselku masih menampilkan isi pesan Sasuke. Terlalu bingung untuk menjawab apa. Jika kupilih Sasuke, sudah cukup waktu itu menolak ajakan Gaara saat di pesta dansa. Jika kupilih Gaara, hatiku terlalu tak rela menolak ajakan Sasuke. Jika kutolak dua-duanya, lantas alasan apa yang paling pantas?
DRRRTTT
Ino Yamanaka
Jidat, sepulang kerja aku makan malam di rumahmu ya.
.
Dan seringaiku muncul. Berterimakasihlah pada Ino yang memberiku sebuah ide.
Sakura Haruno
Boleh saja. Tapi, kau harus menjemputku besok pagi. Tak ada alasan jika kau ingin menikmati masakan ibuku besok!
Ino Yamanaka
Heh? Tumben sekali. Besok pagi, jangan telat.
.
Jika aku memiliki alasan, maka tak apa kan?
Sakura Haruno
Sasuke-kun, aku sudah ada janji dengan Ino.
Sakura Haruno
Maaf sekali, aku sudah ada janji dengan Ino. Lain kali saja ya Gaara-san.
SEND!
SEND!
Beres! Dengan ini, aku tak perlu memikirkan mereka berdua. Saatnya makan malam, lalu tidur untuk menyambut hari esok.
.
.
.
.
.
.
.
Jalanan kota Tokyo diselimuti material putih. Putih bersih, halus, dan dingin. Pepohonan tak lagi memiliki daun atau bunga. Yang ada hanyalah ranting pohon dan dahan-dahannya yang masih kokoh. Burung-burung tetap beterbangan di langit biru, seakan tak perduli dengan suhu yang semakin menurun. Sebuah rumah mengeluarkan asap dari cerobongnya, menandakan sebuah kehangatan yang tengah berlangsung di dalamnya. Harum masakan khas roti bakar dengan sapuan lelehan mentega serta poach egg yang bertengger di atasnya menggugah selera. Disinilah aku berada. Duduk di hadapan meja dengan sarapan yang tersedia.
"Mau ayah antar ke kantor?"Tanya ayah ketika sodoran segelas susu hendak kuminum.
"Hari ini aku bersama Ino, ayah. Ah iya. Bu, nanti malam Ino menumpang makan disini."Teriakku karena ibu berada di dapur. Ibu menjawab 'iya' dengan teriakan juga. Sarapan yang hangat di suhu ruangan yang hangat. Kayu bakar yang menyala di perapian menemani nuansa sarapan kami di musim dingin ini. Kami memulai sarapan ketika ibu bergabung di meja makan. Satu suapan, dua suapan, hingga suapan terakhir. Aku berjalan menuju pintu utama, bersiap menyambut sahabat cerewetku.
"Sakura"
"Ohayou, Sakura."
Dan yang terpampang di depan mata tak sesuai dengan harapan. Mereka, dua orang yang semalam baru saja kutolak ajakannya. Sungguh keras kepala karena mereka masih saja bersikeras mengajakku ke kantor bersama. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Mataku masih menatap mereka tak percaya dan….oh tuhan! Wajahku pasti sangatlah bodoh.
"Kenapa kau belum berangkat?"Ayah baru saja muncul dari balik pintu. Ketika matanya menatap ke depan, seringainya muncul. Di belakangnya ada ibu yang membawa tas kantoran ayah. Dan ekspresi yang ditunjukkan kurang lebih seperti orang yang baru saja melihat nilai matematikanya di bawah standar.
"Hhmm….jadi, Ino itu Sasuke atau Gaara?"Bisik ayah di telingaku. Alhasil aku menyikutnya dan dihadiahi sebuah pekikan dari ayah. Sasuke dan Gaara yang semula bersender di samping mobilnya berjalan mendekat dan membungkuk bersamaan memberi salam. Ayah dan Ibu membalas sekenanya.
"Maaf paman, tapi kurasa Sakura harus pergi denganku sekarang karena jam kantor akan segera dimulai."Ujar Gaara dengan sopan.
"Maaf, tapi Sakura akan ikut bersamaku."Bantah Sasuke di detik berikutnya. Syalku masih saja melilit indah di lehernya. Itu membuatku gagal fokus! Ayah dan Ibu menatapku bersamaan.
"Aku—akuu sudah ada janji dengan Ino. Kalian bahkan sudah tahu itu jika kalian sudah membaca isi pesanku semalam."Jawabku pelan dan gugup. Demi tuhan! Diperebutkan oleh dua pangeran tampan bukan kehendakku! Cobalah kau berada di posisiku dan rasakan sensasinya!
Mereka tak menjawab, tatapan tajam Sasuke dan seringaian manis Gaara membuatku ingin mengubur diri di tumpukan salju. Detik berikutnya, sebuah mobil dengan gaya girly berhenti di depan rumahku. Syukurlah! Penyelamatku telah tiba!
"Selamat pagi, paman, bibi, hehehehe."Sapanya ceria ketika dia turun dari mobil dan menghampiri kami dengan kikuk ketika melihat Sasuke dan Gaara. Lantas kuseret lengannya menuju mobil. Dia menahanku dan berbisik pelan.
"Ada apa dengan aura ini?"
"Sejujurnya aku tak menginginkan ini, Ino."Balasku dengan ekspresi yang memelas. Aku menarik tangannya menuju mobil dan sebisa mungkin agar segera keluar dari ruang lingkup ini. Sasuke dan Gaara terpaku di tempat. Kemudian mereka tersadar akan suara ibuku yang menyuruh mereka segera berangkat. Namun setelahnya, suara ayah menghentikan langkah kami.
"Oi kalian berdua!"Si empu yang merasa tersindir lantas menyahut.
"Liburan Natal ini tak ada acara kan?"Sasuke dan Gaara menggeleng.
"Kalau begitu, ikutlah kami berlibur ke daerah Hokkaido."Dan ajakan ayah tanpa sadar membuatku harus terjebak lagi di antara mereka berdua. Sasuke dan Gaara tentu saja mau! Satu panah menusuk badanku.
"Ah ya, ajak juga keluargamu ya, Sasuke."Dua panah menancap tubuhku.
"Paman! Aku ikut ya?"Pinta Ino.
"Tentu saja. Ajak juga Sai."Beribu-ribu panah langsung menancap tubuhku. Poor Sakura!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jingle bell jingle bell jingle all the way.
Iringan musik khas Natal menggema di seluruh kantor. Pernak-pernik khas Natal tersampir menghiasi pohon-pohon Sakura. Di ujung pohon Sakura yang besar, terdapat bintang kecil. Jika orang lain memiliki pohon Natal dengan pohon cemaranya, maka UCHIHA CORP memiliki pohon Natal Sakura, yeah…begitu yang disebut oleh pegawai-pegawai disana.
Ini kali pertama aku merayakan Natal sebagai karyawati disini. Cukup terkejut dengan perpaduan antara budaya Jepang dengan budaya Barat yang menghiasi area kantor. Kali ini ide siapa? Mikoto-san atau Sasuke?
"Selamat pagi! Selamat memulai aktivitas bahagia kalian di kantor ini. Di luar sedang dingin, sudahkah kalian mendapatkan kehangatan? Hayate siap memberikan kehangatan lewat obrolan ceria! Masih ada waktu lima menit lagi sebelum jam kantor dimulai, so…nikmati langkahmu!"Setelahnya lagu-lagu khas Natal terdengar.
"Apa seorang penyiar harus over talking seperti itu ya?"Tanya Ino ketika kami melewati meja resepsionis.
"Kau sangat cocok disana. Cerewetmu itu bisa menghasilkan uang."Jawabku dengan kekehan. Ino membalasnya lewat delikan.
"Apa yang kau—"
"Ino! Sakura-chan!"Teriak seseorang di belakang kami. Dari suaranya kami tahu bahwa pelakunya Naruto. Di sampingnya ada Hinata. Kami menghentikan langkah dan menunggu mereka mendekat.
"Merry Christmas!"Ujar Naruto semangat. Hinata tersenyum malu-malu.
"Natal masih seminggu lagi!"Sahut Ino setelahnya. Naruto menggaruk kepalanya sembari menunjukkan cengiran yang menciri khas. Naruto terlalu heboh dan cheerfull, ibaratnya Naruto itu pembawa suasana ceria di setiap masa. Kami berjalan menuju lift diiringi dengan aksi perdebatan antara Ino dan Naruto. Aku melirik Hinata yang masih saja kalem dengan tingkah laku pasangannya ini. Aku menekan tombol up pada dinding lift, bersender pada dinding sambil menunggu pintu lift terbuka. Ino dan Naruto belum kunjung juga berhenti berdebat. Kali ini Hinata tengah melerai mereka, aku memutar bola mata dengan kesal.
"Kau ini kenapa bodoh sekali? Mana ada mitos seperti itu?"
"Apa kau bilang? Buktikan saja kalau tak percaya!"
"Su—sudahlah kalian berdua."
TING!
Kami masuk ke lift, tapi perdebatan mereka tak ada habis-habisnya. Mataku menatap ke depan, sambil menekan tombol close. Para pegawai terus berdatangan dari arah pintu utama. Dua detik berikutnya, sosok yang sangat mencolok terlihat di bayangan mata. Tepat sebelum lift tertutup sempurna, mata kami saling bertemu.
.
.
.
.
.
Kejadian itu…seperti de javu.
.
.
.
.
.
.
.
Monitor komputer berkedip-kedip. Tanganku dengan lincah menggerakkan mouse. Layarnya menampilkan windows explorer.
"Mm…"Gumamku ketika tak kunjung menemukan dokumen yang dicari. Mataku dengan lihai mencari dokumen itu. Lama kelamaan tanganku mulai bergetar, hatiku mulai gelisah. Sebentar lagi Jiraiya-san akan datang dan dokumen yang akan kucetak tidak ada.
"Ada apa, Sakura?"Tanya Kiba ketika melihatku yang gelisah. Aku menceritakan semuanya. Seingatku, dokumen itu sudah benar-benar kusimpan sebelum weekend kemarin.
"Kau tidak mengcopynya? Hayate sudah bilang kalau semua komputer akan di refresh. Jadi, wajar saja kalau dokumennya hilang kan?"
"Hah! Yang benar saja!"Karyawan-karyawan lain yang tengah bekerja mendekat ke mejaku, penasaran dengan gerutuanku yang nyaris teriak itu. Kalau saja aku mau, sudah kubenturkan kepalaku ini di meja. Bagaimana bisa aku melupakan informasi sepenting itu? Dan lagi, aku lupa mengcopynya. Aku merutuki sikapku yang tidak profesionalis. Ino dan Obito mengutak-atik komputerku. Entah apa yang mereka lakukan, aku hanya bisa memijat kepala. Kalau saja aku menemukan…
"Hm, kasihan juga Sakura-san. Dia bisa saja mendapat hukuman istimewa lagi."
"Aku tidak mengerti dengan sistem komputer."
"Mau bagaimana lagi? Kita ini divisi accounting bukan IT."
…jalan keluar.
EH?
Ah! Begitu! Aku ataupun teman-teman yang lain memang tidak bisa bahkan tidak tahu menahu akan ilmu teknologi secara mendalam, tapi jika divisi IT…..mereka ahlinya. Dan lagi, Gaara leadernya. Dia pasti mau membantu.
"Sakura, mau kemana?"Ujar Ino ketika melihatku bangkit. Aku menoleh dengan senyum yang lebar.
"Mencari leader IT."Dan melangkah dengan riang menuju ruangan IT.
Nyatanya, aku tidak tahu kalau ucapanku itu membuat kesalahpahaman di benak seluruh karyawan.
.
.
.
.
.
.
.
IT ROOM
Nama itu tercetak dengan jelas di atas pintu. Terlihat sangat jelas tanpa memerlukan teropong. Aku menghembuskan nafas dengan pelan. Riang saat berangkat, namun ragu saat sudah sampai. Pintu tergeser ketika kubuka. Seorang pemuda dengan rambut putih menatapku dengan mata violetnya yang terbelalak. Selanjutnya, dia menyeringai.
"Oh hai! ada yang bisa kubantu nona manis?"Giginya yang tajam keluar ketika dia tersenyum lebar. Kakiku mundur dua langkah dan membenahi name tag di dada.
"Bisakah aku bertemu dengan Gaara-san?"Tanyaku dengan sopan. Pemuda ini, yang kuketahui bernama Suigetsu dari name tagnya, menuntunku. Meja-meja karyawan kami lewati. Jumlahnya hanya 10 orang dan seluruhnya laki-laki.
"Hoi, kalian semua diamlah! Aku sedang membawa tamu kehormatan untuk leader kita."Teriak Suigetsu ketika kami melewati meja-meja itu. Seringai-seringai menggoda serta siulan-siulan manja dilontarkan. Alisku mengerut, sambutan yang sangat mengejutkan.
"Nah, masuk saja. Jangan sungkan, dan selamat bersenang-senang."Kemudian Suigetsu meninggalkanku di depan pintu yang bertulisakan leader office. Aku mengetuk pintu dan terdengar suara maskulin Gaara dari dalam. Ketika pintu kubuka, Gaara tak dapat menyembunyikan ekspresi surprisednya.
"Aku tidak tahu kalau kau sangat rindu padaku sampai-sampai menyusul kemari."Ucapnya dengan ekspresi yang menggelikan.
"Aku tak punya waktu Gaara-san. Aku sangat membutuhkan bantuanmu sebelum Jiraiya-san menghukumku."Seruku dengan panik. Gaara mempersilahkan duduk, tapi tak kuhiraukan.
"Kau membuat masalah apa? Kudengar hukuman Jiraiya-san cukup menakutkan. Bisa kacau kalau kau sampai kena hukumannya."
"Yes! Sangat sangat menakutkan. Aku pernah sekali kena hukumannya dan demi tuhan aku tak ingin lagi. Sekarang aku mohon tolong bantu aku. Bisakah kau mencari dokumenku yang hilang karena perbaikan komputer kemarin? Kau ahlinya, pasti bisa membantu."Ujarku panjang lebar. Gaara mengusap dagu dengan dahi yang mengerut. Setelahnya, dia menatapku lalu tersenyum misterius.
"Boleh saja, asal pulang dari kantor kau harus ikut denganku."Aku menatap setengah tak percaya pada orang dihadapanku ini. Dokumenku sangat penting, tetapi jika harus pulang dengannya maka sama saja aku meloncat ke jurang yang lain.
"Fine."Dan setelah persetujuan tersebut, Gaara berkutat pada komputernya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan tetapi….
"Done! Baiklah, nanti tunggu aku di bawah pohoh Sakura."
….sangat cepat. Aku melongo hingga Gaara memberiku flashdisk. Dia menjetikkan jari dan membuatku tersadar dari lamunan singkat.
"Bagaimana bisa?"
"Aku ahlinya, jika kau lupa. Sekarang lekas kembali ke ruanganmu."Aku tahu, hanya berterima kasih saja tidak akan bisa membalas kebaikan Gaara. Dia sudah menyelamatkanku dari masalah ini.
"Ingatkan aku tentang kencan kita yang kedua."
"Aku hanya menepati janjiku, jika kau lupa."Gaara terkekeh mendengar responku yang nyolot. Dia menepuk kepalaku dan membuka pintu. Ketika pintu terbuka, Suigetsu dan beberapa karyawan yang lainnya langsung terkesiap dan buru-buru menghambur ke meja mereka masing-masing. Satu hal yang aku sadari, mereka mencoba mengintip. Aku tak ambil pusing dan segera melangkah keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kiba Inuzuka
Setelah kemarin bersama Sasuke, sekarang kau bersama Gaara? Sakura mantap!
Kiba Inuzuka send a picture
Tenten
Pilih salah satu Saki, jangan serakah.
Hinata Hyuuga
Hahaha..
Sakura Haruno
Urusai!
Ino terkekeh geli membaca percakapan di grup chatnya. Sakura terlalu lucu untuk dijadikan bahan ejekan. Ino gagal mengisi jatah makan malamnya di kediaman Haruno gara-gara Gaara yang menyeret Sakura untuk pergi kencan. Ino tidak rela, tapi biarlah. Jadilah sekarang dia menumpang makan di kediaman Shimura.
"Hhmm…?"Ino menatap heran seseorang yang sedang terdiam di depan sana. Wajah cantiknya menyeringai, lalu mendekati orang itu.
"Hey, jangan melamun. Apa yang kau pikirkan?"Orang itu terdiam, menghiraukan pertanyaan Ino dan semakin mengeratkan jaket tebalnya.
"Kau... Jaket itu, yang ada di Sakura milikmu kan?" Untuk pertama kalinya orang itu merespon. Dia hanya menatap Ino dengan wajah penuh tanya.
"Apa yang kau bicarakan?" Kali ini Ino terkekeh.
"Baiklah, kau begitu malu rupanya. aku sangat tahu bahwa itu milikmu. Pasti kau yang punya."
"Jangan mengada-ngada. Urus saja kekasih menyebalkanmu itu!"
"Hey, hey...kekasih menyebalkanku itu sepupumu loh...jangan lupakan itu Sasuke." Sasuke diam saja ketika Ino tertawa lagi.
"Hah...terserah."
.
.
.
.
.
.
Aku baru saja pulang. Badanku terasa pegal. Aku ingin mandi, tetapi suhu terlalu dingin pada malam hari. Aku melepas syal, melemparnya ke atas meja lalu menggantungkan jaketku ke tempatnya. Mataku langsung terarah pada sebuah benda yang asing. Begitu aku mengingatnya, ternyata ini jaket yang waktu itu aku temui di Kyoto. Coraknya sangat maskulin dan hangat. Tapi...
"Siapa pemiliknya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
Huh, jadi akhirnya. Maaf ya, kemarin terlalu sibuk :v
Thanks buat Saa'dah337 yg udah PM :v
Denpasar,
11 Mei 2017.
