LAST

Sehun mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia resah. Siang tadi, seperti biasa, ia mengunjungi Jongin sambil membawakan makan saiang, tapi didapatinya rumah itu kosong. Jongin tidak ada. Padahal, sebelum berangkat kerja, Sehun masih menemui Jongin di rumahnya. Pemuda itu tampak biasa saja. Sudah berulang kali Sehun mencoba menelepon Jongin, tapi tidak aktif. Semua pesan yang dikirimnya pun pending. Sehun menghampiri jendela dan memandang keluar. Hujan deras disertai angin kencang membuat perasaanya bertambah kacau. Kepanikannya semakin meningkat.

Kemana Jongin? Mengapa ia tidak mengaktifkan ponselnya? Apakah Jongin kembali menghindarinya? Tapi kenapa?

Sehun mendengus kesal. Ia tidak suka jika Jongin bersikap seperti itu. Ia benci merasa khawatir pada pemuda itu, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Apakah Jongin tidak memercayai ucapannya kemarin, bahwa ia benar-benar peduli padanya? Sehun menoleh saat mendengar ruang kerjanya diketuk dan terbuka. Kepala manager kantornya melongok dari balik pintu.

"Ssajangnim, Tuan Jung Yunho sudah datang," katanya.

Sehun mengangguk dan memberi kode untuk membawa tamunya masuk. Sehun segera mengenyahkan bayangan Jongin dari benaknya dan bersiap menerima tamu.

.

.

.

Jongin keluar dari ruang interview dengan langkah ringan. Interview-nya berjalan dengan baik. Secercah harapan mulai muncul di hatinya. Setibanya di lobi, ia melihat hujan turun teramat deras. Angin bertiup kencang membuat dahan pepohonan di pekarangan hotel meliuk hebat. Jongin mendengus kesal. Ia kemudian memilih duduk di salah satu sofa.

Jongin ingin segera pulang. Namun, ia tahu, payungnya tidak akan sanggup melindunginya dari hujan deras, apalagi disertai angin kencang segala. Kondisi tubuhnya pun belum pulih sempurna. Ia tidak mau harus mendekam di rumah karena sakit lagi. Banyak hal yang harus ia lakukan. Besok ia ada panggilan interview lagi. Ia tidak mau bergantung pada interview hari ini. Ia harus punya cadangan.

Jongin baru menyadari betapa laparnya ia, saat mendengar perutnya berteriak minta diisi. Panggilan interview yang diterimanya terlalu mendadak, hingga terpaksa ia melewatkan makan siangnya. Tiba-tiba, ia teringat pada Sehun. Karena terlalu terburu-buru, ia bahkan lupa memberi tahu lelaki itu agar tidak perlu datang ke rumahnya untuk mengantar makan siang.

Jongin membuka tasnya, mengeluarkan ponselnya, dan mengaktifkannya. Sebuah pesan masuk tak lama kemudian. Ternyata dari Sehun. Lelaki itu menanyakan keberadaanya. Setelah membalas pesan Sehun, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak lama kemudian, ringtone ponsel Jongin menjerit. Jongin kembali mengambil ponselnya. Pasti Sehun!

"Kenapa kau mematikan ponselmu?" suara Sehun terdengar gusar.

"Aku kan sudah bilang, aku lagi interview," jawab Jongin tak kalah gusar.

Sehun terdiam. "Tapi, aku sangat mengkhawatirkanmu," katanya akhirnya, dengan suara lebih lunak.

Jongin tertegun. Kenyataan bahwa Sehun sangat mengkhawatirkannya, begitu mengejutkan. Ia bergerak-gerak gelisah di kursinya.

"Please, Jongin… jangan pernah mematikan ponselmu lagi. Kalau kau memang terpaksa melakukannya, please, beri tahu aku sebelumnya."

Jongin terdiam.

"Sekarang, kau masih disana?"

"Mm-hmm."

"Kau tunggu di sana. Jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu."

"Tidak per−" Jongin mendengus kesal. Sehun sudah menutup teleponnya.

Jongin sudah hampir bosan menunggu, ketika dirasakan seseorang menepuk bahunya. Jongin mendongak dan melihat Sehun berdiri di sisinya, menatapnya dengan mata kelabunya yang indah. Jantung Jongin berdegub cepat saat melihat senyum Sehun. Ia tidak mengerti, mengapa dirinya tidak pernah terbiasa melihat senyum lelaki itu. Keberadaan Sehun di sisinya saja sudah mampu membuatnya resah, apa lagi jika lelaki itu tersenyum seperti ini.

"Bagaimana interview-mu?"

"Baik," jawab Jongin gugup.

Sehun menatapnya dengan alis terangkat.

"Ada apa?" Jongin resah, karena ditatap sedemikian lekat oleh lelaki itu.

"Kau tidak mau pulang?"

Jongin tersenyum salah tingkah menyadari kebodohannya. Ia segera beranjak dari sofa.

"Tapi, kita makan dulu, ya? Kau pasti lapar, kan?"

"Kok, tau?" tanya Jongin bingung.

Sehun tersenyum geli. "Bukankah kau sudah pergi sebelum aku datang membawakanmu makan siang?" katanya kalem.

Jongin mengutuki kebodohannya dalam hati sambil melangakh canggung di sisi Sehun. Mengikuti lelaki itu manuju restoran hotel.

Sehun memilih meja di sisi jendela, dan segera memesan makanan. Seperti biasa, Sehun tidak menanyakan dulu pendapat Jongin karena ia tahu bahwa Jongin adalah pemakan segala.

Mata Jongin menyapu sekeliling restoran dan berhenti pada sepasang suami istri muda bersama anak mereka−yang mungkin−baru berusia beberapa tahun. Jongin terpaku melihat bocah perempuan itu duduk di kursi khusus bayi. Bocah itu tampak sehat dan menggemaskan. Tiba-tiba saja hati Jongin terasa nyeri. Rasa hampa menekan dan menghimpit dadanya. Paru-parunya berhenti bekerja seketika.

Seandainya ia tidak keguguran… Seandainya anaknya memiliki kesempatan untuk lahir, ia pasti tak kalah menggemaskan dari bocah itu. Pandangan Jongin mulai memburam, terhalang oleh air mata.

"Jongin…?"

Sentuhan lembut Sehun di punggung tangannya, mengembalikan kesadaran Jongin. Ia segera mengusap matanya, mencegah air matanya jatuh.

"Kau kenapa?" tanya Sehun lembut. Kekhawatiran terdengar jelas di suaranya.

Jongin menggeleng pelan, tapi matanya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bocah itu.

Kening Sehun berkerut, heran melihat sikap Jongin. Ia menoleh ke arah mata Jongin memandang, mencari tahu apa yang sedang diperhatikan pemuda itu hingga membuat wajahnya tampak begitu muram. Matanya menangkap bocah perempuan kecil yang sedang menolak makanan yang disodorkan ibunya. Kini ia mengerti apa yang sedang berkecamuk di pikiran Jongin. Ia memahami rasa kehilangan dan kerinduan Jongin, karena ia sendiri merasakannya. Sehun menghela napas panjang, dan kembali menatap Jongin. Ia menggenggam tangan Jongin lembut.

"Jongin…" panggilnya pelan.

Perlahan, Jongin mengalihkan pandangannya pada Sehun.

"Kau mau, kan, pindah ke rumahku…? Tinggal bersamaku…"

.

.

.

.

.

END

Shtpnk memo:

Ini beneran end yah. Penasaran akan kelanjutannya? Silahkan beli novelnya ya hihi udah susah di cari sih, soalnya aku baca novelnya aja udah tahun 2010 hihi masih bingung mau buat sequelnya (lanjutan ceritanya) apa engga. Mohon di voting ya para readers. Minta pendapat juga, akhirannya mau bagaimana. Shtpnk mengucapkan terima kasih karena kalian udah mau baca ff ini. Shtpnk juga lagi mau bikin project remake dari novel-novel lain yang semoga aja lebih hawt. See you guys!