Dark Side

.

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Cast: Kim Jongin, Xi Luhan, Oh Sehun, etc.

Genre: Crime, Romance

Rate: M

Warn: Yaoi, Boys Love.

.

Typo betebaran dimana mana, ga sesuai EYD.

.

Ps: Fanfic ini terinspirasi dari Black Organization dalam manga Jepang Detective Conan, hanya mengambil dari beberapa karakter dalam manga tersebut. Untuk alur dan cerita akan sedikir berbeda.

.

.

.

.

Chapter 10: Hati Yang Bimbang.

.

.

.

.

Seorang lelaki tengah berdiri di depan sebuah cermin pada kamar besar milik Chanyeol. Ia mengenakan jas putih yang kebesaran khas seorang ilmuwan pada umumnya, memandangi pantulan wajah yang sangat cantik untuk seukuran lelaki. Tubuh mungilnya tak bergerak, tatapan matanya kosong seolah seluruh jiwanya sedang berkelana entah kemana. Lama Baekhyun terdiam pada posisi yang sama, hingga seseorang memasuki kamar itu.

Chanyeol yang di ketahui sudah masuk ke kamarnya pun diam menghentikan langkah kakinya. Pria itu melihat Baekhyun yang sedang berdiri di depan cermin dengan pandangan yang kosong, dan ini sudah terjadi sebanyak tiga kali dalam tiga hari ini. Membuat Chanyeol merasa khawatir karna sejak Baekhyun kembali ia tak pernah ingin bicara dengannya. Tidur pun seperti itu, Baekhyun lebih memilih tidur di sofa besar daripada di ranjang milik Chanyeol, sehingga Chanyeol harus memindahkan tubuh mungil itu dalam ranjangnya saat Baekhyun telah tertidur pulas, sedangkan dirinya tidur di atas sofa yang sebelumnya Baekhyun tiduri.

"Baekhyun?" Suara sangar dari kerongkongan Chanyeol seolah memecah imajinasi si kecil.

Baekhyun menoleh ke arah suara berat itu, mendapati sesosok pria yang membuat hatinya tak karuan. Ciuman itu, pembunuhan itu seolah berlomba-lomba memasuki aliran syarafnya. Baekhyun masih terdiam dengan dada yang bergemuruh, antara benci dan ingin memiliki, entahlah mana yang lebih besar ia tak tahu. Ia hanya ingin menghindari Chanyeol, menghindari perasaan yang tak harusnya ada itu semakin membesar, dan ia pun tak boleh melupakan rencananya bersama Sehun untuk membuat Chanyeol sadar akan kesalahannya sejak dulu.

Baekhyun yang masih terdiam itu perlahan melangkahkan kaki menuju Chanyeol dengan tatapan yang datar; berusaha di buat sedatar mungkin lebih tepatnya. Kaki mungil itu semakin lama semakin mendekati pria yang menantinya sejak dulu di dekat pintu kamar megah miliknya. Chanyeol dengan antusiasme yang tinggi dan jantung yang bergerak tak beraturan pun begitu senang saat Baekhyun menghampirinya, ternyata Baekhyun sudah tak mendiaminya lagi seperti kemarin batin Chanyeol. Namun apa daya, Baekhyun terus berjalan melewati Chanyeol tanpa sepatah katapun, membuat hati si pria tinggi itu seperti terpecah menjadi dua. Dan sesaat sebelum Baekhyun hendak meraih gagang pintu di sebelah Chanyeol, tangan mungil itu langsung di cegah dengan gerakan yang tiba-tiba, membuat Baekhyun mau tak mau menoleh lagi ke arah Chanyeol tapi enggan untuk menatap mata elang itu.

"Baekhyun, jangan seperti ini terus"

"Lepaskan aku" Baekhyun menjawab dengan suara yang datar.

"Baek, kau tau? Aku sudah lama mencarimu sejak pertemuan pertama kita di pemakaman itu, aku mencarimu selama lima tahun Baek, lima tahun!"

"Ku bilang lepaskan aku, kau tuli?"

"Baekhyun, jangan seperti ini. Setidaknya katakan apa salahku jangan mendiamiku terus!"

Oh Tuhan, apa Chanyeol itu bodoh atau bagaimana? Dia bilang seenaknya untuk memberi tau apa kesalahannya, sedangkan ia hampir membuang waktunya dengan kesalahan yang sama; membunuh orang, membakar apapun yang menghalanginya dan menembak orang tak bersalah sesukanya, lalu sekarang ia meminta Baekhyun untuk mengatakan apa kesalahannya? Baekhyun tidak habis pikir, kemana larinya otak pria tinggi ini.

"KU BILANG LEPASKAN AKU!" Baekhyun berteriak frustasi, ia tak ingin dekat-dekat dengan Chanyeol dulu.

Chanyeol yang di bentak pun tak gentar dengan suara lengkingan milik Baekhyun. Ia tau Baekhyun marah, tetapi Chanyeol masih belum sadar jika Baekhyun sudah mengetahui siapa pembunuh Yoona yang sebenarnya. Dengan sebelah tangan yang masih menganggur itu, Chanyeol nekad menarik pinggul ramping milik si kecil yang ia gilai, hingga kini mereka berpelukan dengan perasaan Baekhyun yang campur aduk.

Direngkuh seperti itu Baekhyun begitu terkejut dan kemudian memilih untuk diam dalam dekapan Chanyeol. Ia sebetulnya ingin sekali berontak dan mendorok tubuh tinggi yang sedang memeluknya itu, tapi entah mengapa persendian di dalam tubuhnya seperti kaku dan mulai melemas. Bahkan ini hanya sekedar pelukan ringan Byun Baekhyun! Tidakkah kau ingin mendorong tubuh yang telah membunuh kakak kandungmu dan meludahi wajah tampan nya? Ku harap kau mempunyai keberanian sedikit untuk saat ini.

"Jangan biarkan aku mencari lagi hal yang sudah ku cari selama lima tahun Baek, itu sangat menyiksa ku" Chanyeol berkata tepat pada perpotongan leher Baekhyun. Hingga deru nafasnya menyisir bulu kuduk Baekhyun yang meremang.

Cukup! Baekhyun tak ingin merasa goyah lagi dengan ucapan lembut Chanyeol. Baekhyun tak ingin dengar lagi alasan apapun dari Chanyeol hingga membuat pertahanan bernama dendam itu runtuh begitu saja. Semua yang telah Chanyeol lakukan terhadap Yoona harus ia rasakan kembali sekarang, meskipun harus kehilangan Baekhyun, cintanya.

Baekhyun tanpa di komando langsung mendorong tubuh Chanyeol hingga pria tinggi itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, entah kekuatan dari mana Baekhyun dapat mendorong Chanyeol segitu kuatnya. Setelah dirinya bebas dari rengkuhan Chanyeol, ia langkahkan lagi kaki mungilnya menuju laboratorium. Meninggalkan Chanyeol dengan ke terkejutannya tanpa sepatah kata pun.

Dalam diam Baekhyun menepuk-nepuk dadanya sendiri di selingi dengan bunyi sepatu pada lantai marmer yang menjadi pijakannya melangkah. Ia terus menepuk hingga tepukan itu seperti sebuah pukulan untuk dada ratanya. Entahlah, rasanya begitu sesak di bagian sana. Padahal yang ia lakukan untuk Yoona, untuk ketidak adilan yang Yoona rasakan. Tetapi kenapa harus ia yang ikutan sesak seperti ini? Sungguh tidak masuk akal.

Tanpa di sadari ternyata langkah kakinya sudah memasuki laboratorium tempatnya menghabiskan waktu selama tiga hari belakangan ini, meracik obat yang katanya dapat membuat orang kehilangan nyawa dalam sekejab. Lalu apa bedanya Baekhyun dengan Chanyeol? Menginginkan orang yang tak salah mati begitu saja.

Tangan mungil milik Baekhyun dengan lincahnya bergerak kesana kemari, berpindah dari tabung reaksi satu ke tabung reaksi yang lainnya. Ia memang merasakan kenyamanan tersendiri saat berada di laboratorium, rasanya semua kegundahan hatinya menguar begitu saja saat ia tengah sibuk dengan beberapa zat kimia. Mungkin orang awam bilang Baekhyun adalah manusia sinting yang menganggap bahwa hal-hal menyulitkan ini menyenangkan, tapi inilah yang menjadi pelampiasan Baekhyun selama ini. Ia melampiaskan semua masalah dalam hidupnya dengan belajar dan belajar, hingga ia merasa bahwa kesulitan dalam hidupnya tak lebih dari beberapa angka urakan dan zat-zat kimia. Ia tak perlu mengenal pembunuhan dan penembakan saat belajar. Setidaknya seperti itu.

Cklek...

Daun pintu berwarna putih bersih itu terbuka dan nampaklah seseorang disana, dia Jongin yang berkunjung ke laboratorium milik Baekhyun. Tumben sekali.

"Baek apa kau sibuk?" Jongin bertanya dan langsung di jawab gelengan dari Baekhyun.

"Boleh aku masuk?"

"Tentu saja, ada apa Jongin?"

"Bagaimana progress Aptx4869? Apa sudah ada perkembangan?"

"Kau kemari hanya untuk menanyakan itu? Tumben sekali. Ya, seperti yang kau tau, obat ini sulit. Butuh beberapa kali lagi percobaan" Tukas Baekhyun yang berbicara sembari mencatat sesuatu yang menurut Jongin adalah rumus-rumus yang menyusahkan.

"Memangnya sudah berapa kali percobaan? Dan tunggu dulu,kau ini mencoba pada hewan?"

"Tentu saja, mana ada manusia yang sukarela menyerahkan nyawanya hanya untuk percobaan obat bodoh ini?"

"Kita butuh manusia untuk mencoba obat ini, kalau pakai hewan terus mana bisa tau obatnya berkembang atau tidak? Kau ini ilmuwan atau bukan sih?"

Rasanya ingin sekali Baekhyun melempar tabung kaca yang berada di depannya ke kepala Jongin. Anak ini maunya apa sih? Sudah datang tak di undang, berbicara semaunya, dan sekarang malah membuat Baekhyun tambah kesal. Belum lagi masalahnya dengan Chanyeol yang belum selesai membuat ia makin pusing.

"Sudah bertanya nya? Sekarang pergilah, aku sibuk" Usir Baekhyun.

"Kau ini kenapa? Ku perhatikan sejak kau sekamar dengan Chanyeol hyung wajahmu semakin kusut. Apa Chanyeol kurang membuatmu puas?"

Mendengar itu Baekhyun memelototi Jongin hingga mata sipitnya berkali-kali lebih besar. Dan menurut Jongin itu sangat menyeramkan.

"Tenang lah aku hanya bercanda, tak perlu se serius itu. Aku tau Chanyeol hyung memang ahlinya diranjang hahaha" Jongin tertawa puas saat melihat reaksi Baekhyun yang mengkerut dengan warna merah mendominasi wajah mulusnya.

Di sela-sela Jongin tertawa, Baekhyun hanya menunduk sembari melanjutkan tulisan yang tadi sempat terhenti karna celotehan Jongin yang tak berguna itu. Entah kenapa jantungnya malah berdetak tak karuan saat Jongin menyinggung soal keperkasaan Chanyeol di atas ranjang. Hey, kau mulai mesum saat ini Baek?

"Bagaimana? Chanyeol hyung memang perkasa kan? Wajahmu saja sampai merah padam begitu. Ah... ia tak pernah memberi tahu rahasianya padaku" Jongin masih gencar menggoda Baekhyun yang makin memberenggut malu. Jongin apa-apaan sih? Baekhyun kan belum pernah merasakan keperkasaan Chanyeol kkkkkkk~

"Perlu aku tekankan ya Jongin, aku tak pernah melakukan apapun dengan Chanyeol walaupun kami satu kamar!" Ucap Baekhyun penuh penekanan.

"Hey, kalau memang belum pernah kenapa kau harus kesal? Santai saja Baek toh aku cuma bercanda hahaha"

"Panggil aku hyung! Setidaknya aku lebih tua dari mu"

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti tak setuju dengan pernyataan Baekhyun.

"Tidak tidak. Kau lebih pantas ku panggil noona hahaha uuuuuu~ Baekhyun noona cantik sekali kalau manyun seperti itu" Bukannya berhenti Jongin malah terus-terusan menggoda calon kakak iparnya, membuat Baekhyun ingin meremas bibir tebal itu dan memelintirnya karna tak berhenti-berhenti menggodanya.

"Terserah kau saja!" Baekhyun nyerah, tak ada habisnya kalau ia meladeni bocah tengik ini.

Sadar akan kekesalan lawan bicaranya kini Jongin merubah eksperisnya menjadi se serius mungkin. Tujuan ia ke laboratorium ini bukanlah untuk menggoda Baekhyun, tetapi ia ingin membicarakan sesuatu mengenai Chanyeol. Jongin merasa setelah mereka tidur dalam satu kamar, hyung nya itu selalu kehilangan fokus. Bahkan saat pembagian tugas untuk transaki atau eksekusi pun Chanyeol seperti orang yang kehilangan kesadarannya. Chanyeol lebih banyak diam, tidak fokus, dan Jongin beberapa kali memergoki Chanyeol sedang melamun dengan tatapan mata yang kosong. Ini semua tidak seperti Chanyeol yang biasanya, maka dari itu Jongin menemui Baekhyun, mungkin Baekhyun tau apa yang menyebabkan Chanyeol seperti itu.

"Baekhyun"

"Apa?!" Jawabnya ketus.

"Hei... maafkan aku, aku hanya bercanda tadi. Sebenarnya maksudku kesini, aku ingin menanyakan sesuatu"

Mata sipit Baekhyun beralih ke wajah sempurna milik Jongin, menatap wajah lelaki itu dengan satu alis di naikkan. Dalam hati Baekhyun menerka-nerka apa yang akan Jongin tanyakan padanya. Apa ini menyangkut tentang hubungannya dengan Sehun dan kompotan kepolisian? Semoga tidak.

"Ini soal Chanyeol hyung, apa kau tau apa yang sedang terjadi padanya? Um, semenjak kalian tidur satu kamar, ia selalu terlihat tidak fokus, bahkan tak sekali aku memergokinya sedang melamun"

Jongin yang tadinya masih berada di depan pintu laboratorium kini berjalan mendekat ke arah meja yang Baekhyun duduki. Jika tadi ia berkata dengan suara yang keras dan tawa yang menggelegar, kini ia berbicara dengan intonasi yang terjaga, menandakan bahwa ia memang serius untuk menanyakan ini.

"Aku tidak tahu"

"Baekhyun aku serius, bagaimana mungkin kau tidak tahu apa-apa sedangkan kalian satu kamar Baek, satu kamar!" Jongin menekan kata satu kamar, membuat Baekhyun menatap Jongin sengit.

"Aku tau kau marah pada Chanyeol hyung karna ia telah membunuh Yoona noona, tapi itu semua bukan kemauan Chanyeol hyung! Perlu kau tau ia juga terpaksa melakukan itu. Ini semua atas perintah ayah dulu, Chanyeol hyung tak tau apa-apa" Jongin berkata dengan tatapan meyakinkan pada Baekhyun "Maafkan Chanyeol hyung, ia cukup tersiksa karna dulu ayah selalu menekannya, Ayah selalu bersikap keras pada Chanyeol hyung. Bagi ayah, organisasi ini adalah segalanya melebihi dari anak mereka sendiri"

"Lalu apa dengan memusnahkan keluargaku membuat ayahmu senang dan bangga terhadap Chanyeol yang telah membunuh Yoona noona? Apa itu yang membuat keluargamu senang?"

Baekhyun membalas ucapan Jongin dengan kepala tertunduk, suaranya amat lirih karna ia sedang berusaha menahan emosinya agar tak meledak. Jemari rampingnya mencengkram kuat-kuat jas putih yang ia kenakan, membuat beberapa sisi tampak lecek karna terus di remas. Sejujurnya Baekhyun ingin menangis kala teringat akan kematian kakaknya. Bagaimana Yoona tergeletak begitu saja karna Chanyeol, karna pria tinggi itu yang membunuhnya.

"Apa dengan menghancurkan keluargaku kalian merasa senang?" Tanya Baekhyun lagi dengan suara sendu.

Jongin diam, ia tak tahu harus menjawab apa. Baekhyun terlihat kacau, matanya memerah menahan tangis. Tubuhnya pun bergetar di balik jas putih kebesaran itu, apa yang harus Jongin lakukan? Ia hanya ingin menjelaskan kepada Baekhyun agar pria itu tak terus-terusan menyalahkan Chanyeol. Toh memang semua ini karna ayahnya, bukan karna Chanyeol.

"Ini bukan sepenuhnya salah Chanyeol hyung"

"LALU INI SALAH SIAPA HAH? SI KEPARAT ITU YANG MEMBUAT YOONA MATI!" Baekhyun meledak, ia muak dengan Jongin yang membela Chanyeol terus-terusan.

Setelah berteriak cukup keras pada Jongin, kini keduanya terdiam dengan sebuah meja yang memisakan dua tubuh itu. Baekhyun terlihat frustasi dengan nafas yang terengah-engah, ia menangis karna hatinya terluka lagi. Ia menangis karna dadanya begitu sesak seakan terhimpit benda berat tak kasat mata. Setiap hal yang berhubungan dengan kematian Yoona selalu membuat emosinya naik turun. Baekhyun sangat terpukul saat mengetahui bahwa Chanyeol lah yang membunuh Yoona, dan di saat itu pula Baekhyun merasa sudah mempunyai perasaan yang lebih pada Chanyeol. Sehingga ini menjadi begitu rumit sekarang, sebelah hatinya ingin terus membenci Chanyeol, tapi sebelahnya lagi tidak.

"Pada malam dimana Chanyeol hyung mendapat tugas dari appa untuk membunuh Yoona noona, awalnya Chanyeol hyung menolak dengan alasan mereka telah berteman baik, dan Yoona noona merupakan kekasih dari Sehun hyung-" Jongin mulai bercerita dengan kaki yang melangkah mengitari meja, menuju Baekhyun.

Baekhyun yang mendengar Jongin terus bercerita mulai menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Ia tak ingin mendengar pembelaan apapun dari Jongin, karna ini akan membuat dirinya kembali bimbang. Baekhyun tak boleh mendengarkan cerita Jongin, ia harus menuntaskan dendamnya terlebih dahulu, ia tak ingin pertahanannya runtuh begitu saja. Lagipula kalau memang Chanyeol merasa bersalah, harusnya lelaki itu sendiri yang menjelaskannya pada Baekhyun. Bukan malah Jongin yang harus mati-matian membela Chanyeol.

"Tapi appa adalah orang yang keras, dan Chanyeol hyung merupakan ketua organisasi di Korea Selatan. Appa membuatkan pilihan untuk Chanyeol hyung antara membunuh Yoona noona atau appa akan mengirim anak buahnya dari Jepang untuk menghabisi orang-orang di sekitar Yoona noona. Appa pun mengancam akan membunuh Chanyeol hyung dan membunuhku jika Chanyeol hyung tak mau melakukannya. Itu semua pilihan yang sulit" Lanjut Jongin.

"Chanyeol hyung pun mau tak mau mengambil tugas itu karna ia tak ingin aku dan orang-orang di sekitarnya menjadi sasaran kemarahan appa, dan akhirnya Yoona noona harus meninggal di tangan Chanyeol hyung. Setelah meninggalnya Yoona noona, appa tak lepas mengawasi kami. Ia mengirimkan anak buahnya untuk mencari keluarga kalian, bermaksud untuk menghabisi semuanya hingga akar, tapi entah apa yang Yoona noona atau Chanyeol hyung lakukan padamu hingga bawahan appa tak menemukan jejakmu dalam silsilah keluarga Byun"

Jongin terus berbicara dengan tangan yang menggenggam jemari Baekhyun, bermaksud untuk menahan kedua tangan itu agar ceritanya mampu terdengar di telinga Baekhyun.

"Hampir setiap minggu setelah kematian Yoona noona, Chanyeol hyung terus mengunjungi pemakamannya. Membawa sebukcet bunga, bermaksud untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan. Chanyeol hyung memang belum mengenalmu saat Yoona meninggal, tetapi tepat pada setahun kepergian Yoona noona, ia melihat kau tengah menangis di atas nisan Yoona. Chanyeol hyung jatuh cinta padamu saat itu, dan menyelidikimu saat ia sudah sampai di markas utama. Namun lagi-lagi identiasmu tak di ketahui oleh kami hingga menyulitkan kami untuk menemukanmu. Selama lima tahun Chanyeol hyung terus menerus mencari hingga appa meninggal dan organisasi Korea Selatan di pindah ke Jepang dengan Chanyeol hyung yang menjadi pemimpinnya"

Baekhyun serasa mati rasa, menangis lagi mendengar cerita yang Jongin ceritakan. Pertahanannya seolah sedang berusaha di runtuhkan oleh cerita-cerita yang keluar dari bibir tebal itu. Dirinya masih terus menangis, hatinya berdenyut nyeri. Ia lelah dengan perasaan bimbang ini.

"Dan awal pertemuan tak sengaja kita di cafe itu membuat Chanyeol hyung bertemu lagi dengan cinta pertamanya yaitu kau Baekhyun"

Baekhyun langsung mendongak saat Jongin mengakhiri cerita panjangnya. Jadi dirinya adalah cinta pertama seorang Park Chanyeol? Entah ada kandungan apa dari kata-kata terakhir Jongin, hingga membuat beban yang tadinya bergumul di relung hati Baekhyun kini seakan terangkat sebagian. Seolah sebelah hati yang di penuhi rasa sayang kepada Chanyeol bergerak melebarkan sayapnya, menghimpit sisi hatinya yang di penuhi kebencian terhadap Chanyeol.

.

.

.

.

.

Chanyeol kini sudah berada di dalam ruang kerjanya, ia seharusnya mengawasi jalannya transaksi yang sedang di kerjakan oleh Yesung dan komplotannya. Tetapi bukannya mengawasi Yesung, monitor yang berada di depannya malah sedang memutar rekaman cctv di ruangan yang penuh dengan zat kimia. Ya, ruangan yang hanya di huni oleh Baekhyun, cinta pertamanya.

Hazel hitam itu terus mengikuti kemana tubuh Baekhyun pergi mondar-mandir dari satu meja ke meja lainnya. Walau tak begitu jelas wajah malaikatnya, namun Chanyeol tetap memusatkan segala perhatiannya ke monitor itu. Seakan ia takut bahwa Baekhyun akan menyelinap pergi meninggalkannya, sehingga ia harus mencari Baekhyun lagi dengan susah payah.

Sebelumnya Chanyeol memang sempat melihat Jongin mendatangi Baekhyun dan terlibat pembicaraan, walau tak terdengar apapun dari tayangan cctv itu tapi Chanyeol yakin pembicaraan mereka cukup serius sebab Jongin sampai berani-beraninya menyentuh Baekhyun dan menggenggam jemarinya. Ia sempat ingin memanggil Jongin mengahadapnya namun lelaki brengsek itu keburu pergi meninggalkan markas besarnya. Entah kemana perginya lelaki itu, Chanyeol tak begitu perduli. Yang penting saat ia pulang nanti, Chanyeol akan memenggal kepalanya, lihat saja nanti.

Lama Chanyeol duduk terdiam memandangi layar datar itu, akhirnya ia bosan sendiri dan berniat untuk menghampiri Baekhyun. Meminta penjelasan lagi mengapa sampai saat ini pria itu tak mau berbicara dengannya. Walau terus mendapat penolakan mentah-mentah dari Baekhyun tapi itu tak menyurutkan perasaan Chanyeol. Ia hanya ingin memeluk tubuh Baekhyun dan bercerita tentang cinta padanya. Sudah sangat lama hingga saat ini tiba, dan Chanyeol tak ingin kehilangan kesempatan yang telah datang padanya. Ia akan mengejar cinta Baekhyun meski Baekhyun membencinya.

Perlahan kaki jenjangnya keluar dari ruang kerja miliknya. Mengabaikan panggilan telpon yang terus berdengin meminta untuk di perhatikan. Langkahnya cenderung lamban, semua kejadian tiga hari terakhir ini lagi-lagi merusak otaknya. Bagaimana sikap dingin Baekhyun padanya, bagaimana Baekhyun merasa jijik jika bersentuhan dengan Chanyeol. Mungkin jika Chanyeol boleh memilih antara di tembak dengan lima peluru atau di benci oleh Baekhyun maka ia akan memilih agar di tubuhnya hujami lima peluru. Setidaknya rasa sakit itu terasa nyata dan dapat di sembuhkan. Tidak seperti ini, rasanya sangat sakit di bagian dada dan begitu menyesakkan, tetapi tak ada darah yang keluar. Kepalanya terasa berputar saat ia tau ia telah di campakkan oleh Baekhyun, lelaki yang amat di cintainya.

Tak terasa ternyata ia telah sampai di depan pintu putih bergaris merah, dengan pasti tangan besarnya membuka kenop pintu itu dan mendorongnya, hingga sosok yang tadi ia lihat melalu layar datar kini menjelma menjadi menusia sungguhan dengan jas putih kebesaran yang sangat cocok pada tubuh mungil Baekhyun.

Baekhyun yang mengetahui seseorang datangpun memiringkan badannya, berusaha melihat siapa orang yang mengunjunginya kali ini. Dan mata sipit itu membesar beberapa mili saat mengetahui bahwa Chanyeol lah yang berkunjung, orang yang Baekhyun hindari saat ini.

"Baekhyun?"

Baekhyun bergeming, ia benci situasi seperti ini. Dimana kebimbangan melanda hatinya lagi. Dalam diam ia terus berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan bahwa ia harus membenci Chanyeol, karna Chanyeol lah yang membunuh Yoona. Persetan dengan alasan yang di utarakan Jongin tadi, karna pada dasarnya Yoona terbunuh karna Chanyeol. Ya, karna Chanyeol.

GREP...

Baekhyun kaget bukan main saat tangan besar Chanyeol memeluknya dari belakang, mengapa lelaki ini selalu membuat semuanya menjadi tiba-tiba? Mulai dari perekrutan yang tiba-tiba, pemberian tugas yang tiba-tiba, lalu ciuman yang tiba-tiba, dan sekarang pun pelukan yang tiba-tiba.

"Jika kau memang membenciku, katakanlah alasanmu membenciku, jangan seperti ini. Kau tau ini membuatku frustasi" Chanyeol berkata lembut tepat pada telinga Baekhyun.

"Kau pembunuh, kau membunuh Yoona noona" Jawab Baekhyun lirih, tetapi ia berusaha untuk tak menangis.

Bisa Baekhyun rasakan tubuh Chanyeol menegang beberapa detik setelah ia mengatakan itu. Dengan keyakinan yang ia yakinkan, perlahan jemari Baekhyun mendekat pada jari kekar Chanyeol. Bermaksud untuk melepas secara paksa pelukan Chanyeol pada tubuhnya.

"Aku tau cepat atau lambat kau akan mengetahuinya, dan aku mempunyai alas-"

"Kau pembunuh. Kau seorang pembunuh" Ucap Baekhyun lagi.

Entah kenapa hati Chanyeol serasa tertusuk beribu mata pisau saat Baekhyun menyebutnya seorang pembunuh. Chanyeol akui ia memang sudah membunuh banyak orang dengan tangannya, tetapi rasanya sangat menyakitkan saat orang yang kau cintailah yang mengatakan bahwa kau seorang pembunuh.

"Dengar kan aku Baek, ini semua terjadi karna keterpaksaan. Aku memang tak tau siapa kau saat itu, tapi aku bermaksud melindungi semua orang terdekat Yoona termasuk kau! Melindungi Sehun dan Jongin dari amukan ayahku, melindungi Kyungsoo dan keluarganya yang akan menjadi pelampiasan mereka saat mereka tak menemukan seorangpun keluarga dari Yoona! Bisa kah kau berfikir kearah sana? Entah apa yang di perbuat Yoona dan orang tuamu hingga mereka bisa menyembunyikanmu tanpa terendus oleh organisasi. Bahkan dirikupun harus mencari selama lima tahun hingga bisa bertemu denganmu. Bisakah kau memilih saat pilihan bahkan tidak ada sama sekali. Bisakah kau memilih saat kenyataan bahkan telah berdiri dengan sombongnya. Bisakah?" Chanyeol berkata dengan tulus, karna kejadian itu memanglah murni desakkan dari sang ayah.

Baekhyun membalikkan badannya hingga kedua pasang mata itu bertemu. Mata Baekhyun yang telah di genangi beberapa butir air matapun menatap Chanyeol dengan sengit. Seolah mata sipit itu berkata bahwa ia akan membuh Chanyeol saat itu juga. Emosi kembali merambah hingga ubun-ubun Baekhyun, membuat wajahnya yang tadi putih berseri kini memerah menahan gejolak kebencian yang mendominasi relung hatinya.

"Aku melakukan itu karn-"

"KAU TETAPLAH SEORANG PEMBUNUH! KAU MEMBUNUH YOONA! KAU YANG MEMBUNUHNYA!"

Baekhyun berteriak-teriak seperti orang kesetanan, emosi telah menelan kesadarannya bulat-bulat.

"KAU MEMBUNUHNYA! KAU MEMBUATNYA MATI! KAU YANG MEMBUNUHNYA!"

Cukup! Chanyeol tak tahan dengan kata 'kau yang membunuhnya' yang keluar dari bibir tipis milik Baekhyun. Rasanya sangat menyakitkan hingga pria yang tadinya keras kepala itu kini hanya diam terpaku melihat Baekhyun yang terus berteriak dengan kalimat yang hampir sama.

Chanyeol yang tak tahan dengan Baekhyun pun memeluk tubuh mungil itu. Menenggelamkan nya dalam dada bidang Chanyeol. Baekhyun masih meronta-ronta sambil bergumam kalimat 'kau yang membunuhnya' membuat hati Chanyeol teriris lagi. Tapi keputusan Chanyeol saat itu memanglah yang terbaik untuk semuanya, karna jika Chanyeol tak membunuh Yoona, maka semua akan hancur di tangan ayahnya, termasuk Baekhyun.

"Baekhyun dengarkan aku, aku memang membunuh Yoona, aku menyesal telah melakukannya. Aku minta maaf padamu karna telah mengambil Yoona seenaknya, tetapi aku tak punya pilihan lain selain itu. Maaf kan aku Baek, maaf kan aku"

"Kau telah membunuh nya hiks... kau membunuh noona ku. Aku tak punya siapa-siapa lagi hiks... noonaku... dia satu-satunya yang ku miliki"

Baekhyun melemah dalam pelukan Chanyeol, ia lelah dengan hatinya. Ia benci ketidakberdayaan nya saat ini. Semuanya terlalu membingungkan untuk Baekhyun. Haruskah ia menyerah saja pada dendam yang masih bersarang di dadanya dan memaafkan Chanyeol?

"Maafkan aku Baek, kau tidak sendirian sekarang. Kau mempunyaiku sekarang, aku akan melindungimu seperti Yoona dulu melindungimu"

"Aku membencimu hiks..."

Baekhyun masih menangis sambil menepuk-nepuk dada Chanyeol sebagai pelampiasan. Energinya seakan terkuras habis seharian ini akibat emosi yang meluap-luap sedari tadi. Ia lelah dengan semua ini, dan mata sipitnya seperti memberat dengan kedua kaki yang sangat lemas. Tanpa sadar Baekhyun tertidur dalam posisi berdiri dengan tumpuan pada pelukan Chanyeol. Beruntung lelaki itu mengerti keadaan Baekhyun dan menyadari bahwa Baekhyun tertidur karna lelah dengan emosinya sendiri.

Setelah Baekhyun tenang dari ocehan pilunya, Chanyeol pun menggendong tubuh mungil Baekhyun untuk di bawa ke kamar besarnya, kamar miliknya bersama Baekhyun.

Entah setelah ia mengungkapkan semua permasalahan tentang kejadian enam tahun lalu, membuatnya kini merasa sedikit lega. Ia berharap setelah bangun nanti Baekhyun mampu memaafkan kesalahannya di masa lalu, dan tentu bersedia membalas cintanya yang tertahan cukup lama itu.

.

.

.

.

.

"Baekhyun?"

Telinga seseorang di sana menangkap sebuah suara yang sedang memanggil- manggil namanya. Perlahan ia buka kedua mata sipit itu sehingga cahaya mentari memasuki retina matanya. Pria mungil bernama Baekhyun kini sedang tidur di sebuah ranjang besar yang berada di tengah padang rumput dengan taburan bunga yang tumbuh berdampingan. 'Ini sangat indah' batinnya.

"Aku sedang berada di mana?" Ucap Baekhyun keheranan setelah ia berhasil mendudukkan tubuhnya pada ranjang yang berada di sana. Dan hanya ranjang inilah yang mencuat diantara bunga-bunga yang bermekaran.

"Baekhyun?"

Suara itu datang lagi, tetapi Baekhyun tak melihat siapapun yang berada di sana kecuali dirinya sendiri. Perlahan kaki kecilnya menuruni ranjang itu hingga kini kulitnya bersentuhan dengan para bunga dan rumput yang bermekaran di bawah. Ini seperti surga batinnya.

"Baekhyun?"

Suara itu lagi-lagi bergema. Baekhyun yang penasaran kini berjalan menuju hutan kecil yang berada dekat dengan ranjangnya.

"Baekhyun?"

Baekhyun terus mengikuti kemana suara itu berasal, dan ia sekarang sudah berada di dalam hutan kecil yang di tumbuhi beberapa pohon yang rindang dan terawat. Namun setelah ia melewati pohon kelima dari urutan depan, di balik pohon itu ia melihat seorang wanita bergaun putih yang sedang tersenyum kearahnya. Wanita itu sangat cantik dengan rambut coklat sebahu dan memiliki struktur wajah yang mirip dengannya.

Baekhyun yang melihat wanita itupun langsung kaget tak percaya, ia kemudian berlari dengan kencang, melupakan bahwa kakinya tak memakai alas apapun. Masa bodo, yang jelas ia sangat ingin memeluk wanita itu saat ini.

"Noona..." Ucap Baekhyun setelah berhasil meraih pinggang wanita yang tadi memanggil-manggil namanya.

"Baekhyunnie" Jawab Yoona, wanita yang tengah di peluk dengan erat oleh Baekhyun.

"Noona... Aku sangat merindukanmu hiks..."

"Aigoooo... kenapa menangis? Maafkan noona baru mengunjungimu sekarang. Bagaimana kabarmu sayang?"

Baekhyun masih saja terus menangis di dekapan sang kakak. Ia sangat merindukannya hingga tak tau harus berkata apa. Siapapun tolong Baekhyun untuk menghentikan waktu sekarang juga, ia tak ingin ini semua berakhir dengan cepat.

"A-aku... aku baik-baik saja noona"

"Jangan berbohong padaku, ada apa hm?"

"Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya terlalu merindukanmu"

"Ey... kau sudah pintar berbohong ya? Ada apa? Ceritakan pada noona" Yoona masih memeluk Baekhyun namun kakinya perlahan melangkah meninggalkan hutan itu, menuju ranjang yang tadi sempat Baekhyun tiduri.

"Jangan membenci Park Chanyeol" Ucap Yoona tiba-tiba setelah sampai pada ranjang itu.

"Tapi dia yang membunuh noona hingga noona meninggalkanku sendirian"

"Itu bukan kesalahannya sayang, ia hanya dipaksa untuk memilih. Perlu kau tahu, ia sangat mencintaimu"

"Tapi... noona..."

"Sayang, jika kau terus mendendam benci padanya bisa saja sewaktu-waktu rasa benci itu menuntunmu hingga kau membunuhnya. Lalu jika sudah seperti itu apa bedanya kau dengan dirinya dulu hm? Sudahlah, noona sudah bahagia disini, melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang cerdas dan menggemaskan seperti ini"

"Tapi aku..."

"Noona mengerti kau juga mencintainya, jangan membohongi perasaan mu sendiri. Apa kau ingin kehilangan orang yang kau cintai dua kali?"

"Tidak noona"

"Nah! Itu baru adikku" Yoona menjawab dengan ceria sembari mengusak surai Baekhyun dengan sayang.

"Noona, lalu bagaimana dengan obat itu? Aku akan menjadi pembunuh jika terus mengerjakannya"

"Bicarakan dengan Chanyeol, aku rasa ia sebenarnya ingin menghentikan proyek obat ini. Tetapi ia menunggumu untuk bicara langsung dengannya"

Mendengar itu Baekhyun tersenyum, ia merasa perasaannya jauh lebih baik sekarang. Dan tanpa Baekhyun sadari, ternyata rasa benci yang berada di sebelah sisi hatinya kini telah menguar entah kemana. Digantikan dengan rasa cinta yang akan terus berkembang untuk Chanyeol, cinta pertamanya.

"Nah... sekarang waktunya noona harus pergi" Ucap Yoona sembari melepaskan pelukannya terhadap Baekhyun.

"Tapi noona... kita baru bertemu sebentar"

"Noona akan mengunjungimu lagi lain waktu, annyeong Baekhyunnie"

Dddrrrrrrtttt~ Drrrrttttt~

Gentaran ponsel pintar yang berada di atas nakas pun mengganggu mimpi indah Baekhyun, membuatnya meraba-raba nakas dengan mata yang masih tertutup guna mengambil benda datar berbentuk persegi panjang yang masih heboh bergentar.

Setelah berhasil meraih ponselnya, Baekhyun pun dengan asal menggeser tombol virual itu, tanpa melihat siapa penelpon di sebrang sana.

"Yeobboseo? Baekhyun-ah? Ini aku Sehun"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Haiii~

Maafin ya karna telat update (lagi) Aaaaa ini molor semingguuuuuu...

Maaf banget yang udah nunggu Ds update chapter tapi sekalinya update malah gaje beginiiiii...

Ai disini hanya ingin memberitahu ke readers bagaimana kegalauan Baekhyun soal cinta dan benci yang kurasa(?) Dah malah nyanyi wkwkwk...

Ya, terus Ai juga mau ngelurusin yang belum lurus soal kematian Yoona, dan sekarang semua syudah jelas... Tinggal chap depan bikin Chanbaek *uhuk lovey dovey *uhuk...

Ah iya, Ai kan bilang di chap kemarin mau bikin ff baru yang genrenya crime btw udh Ai posting judulnya INSIDE, monggo di bacaaaaa.

Jangan lupa tinggalin review di sana ya biar cepet update wkwk, sebenernya itu lebih condong ke horor sih, secara Baekhyunnya gitu yha nongolnya ga nentu, sampe kudu ada dua korban dulu baru dia mau nongol hem...

Eh, kok jadi ngelantur ngomongnya wkwkwk mari kita balik lagi ke Ds oke?

Jadi, Ds ini Ai bikin ya... cuma sampai chapter 15an mungkin.

Hm, enaknya gimana?

Terus Ai juga mau tanya apa sih kira-kira yang masih kurang di ff Ds ini? Kecuali Nc loh ya? Karna itu ntar ada waktunya wkwkwk

Jawab pertanyaan Ai di kolom review ya? Sekalian tinggalin jejak juga untuk yang udh baca chap ini.

Mungkin lebih dari 200 akan Ai update cepet wkwkwk makanya review donggg /maksa woy! Hahaha maapkeun...

Yaudah, pokonya untuk yang sudah baca dan nunggu Ds update Ai berterima kasiiihhhhh banget sama kalian. Saranghaeeeee:3:3:3

Sampai ketemu di chap depan!

Papai ''