Sorry
Naruto belong Masashi Kishimoto.
Warning!
DLDR, OOC, AU, TYPO, dst.
.
.
D
L
D
R
.
.
.
.
Hinata datang ke kamar Naruto, dan Naruto masih di pojokan sambil meringkuk. Menarik nafasnya dan menahan air mata yang ingin keluar. Sungguh cengeng dirinya ini
"Naruto!" panggil Hinata menghampiri Naruto yang masih meringkuk membelaknginya "LIHAT AKU!" perintah Hinata yang biasanya di gunakan Hinata saat Naruto berbuat masalah.
Naruto menegang mendengar itu, seakan sudah tersetting dengan pantuhnya Naruto membalikan tubuhnya walau masih menunduk
Grep!
"A-Aku mencintaimu Naruto! aku menyayangimu hiks—" Hinata langsung memeluk erat Naruto dan melepaskan keinginannya selama ini, egois memang tapi Hinata juga manusia yang berhak mendapatkan kesempatan kedua bukan?
Naruto yang di peluk mendadak oleh Hinata seperti itu menjadi kaku dan berkedip kedip dengan cepat. Jantungnya berdebar debar dan menghangat? Entahlah Naruto tidak tahu rasa apa ini namun perlahan perasaan takut dan gelisah itu mulai berangsur menghilang lalu rasa kantuk menyelimutinya.
Beberapa menit mereka berpelukan, Hinata terus mengucapkan kata maaf dan penyesalannya pada Naruto.
Tiba tiba mendengar dengkuran halus, Hinata menaikan alisnya bingung dan melepaskan pelukannya "Naruto?" sang empunya sudah tertidur pulas, Hinata yang melihat itu berkedip kedip lalu tertawa pelan melupakan kesedihan yang beberapa menit berlalu, bisa bisanya Naruto tertidur dalam keadaan seperti ini?
Di angkat tubuh Naruto yang 2 kali lebih besar darinya itu dengan susah payah ke kasur lalu mengambil kotak obat untuk mengobati luka yang tidak bisa dibilang kecil itu pada tubuh Naruto dengan teliti dan focus. Kadang dalam tidurnya Naruto meringis kesakitan karena Hinata mengobatinya
.
.
Naruto membuka matanya pelan saat mentari menusuk kelopak matanya, badannya menjadi berat seperti ada yang menimpanya. Kemarin dia merasa semuanya berputar putar dan mengantuk-
Srek
Naruto membeku seketika saat melihat Hinata tidur sambil memeluknya seakan dirinya adalah guling, gugup dan canggung itulah yang terjadi pada Naruto, sehingga otomatis Naruto mengkakukan tubuhnya untuk tidak bergerak sama sekali, walaupun tangannya yang menjadi bantalan Hinata kesemutan, Naruto tidak bergerak barang sedikitpun karena tidak ingin menganggu tidur gadis itu.
Naruto hanya mengakukan badannya dan melihat satu arah yaitu keatap kamarnya selama 15 menit dan mengedipkan matanya cepat karena posisinya sekarang ini—tidur bareng Hinata, tapi karena penasaran dengan wajah tidur Hinata dengan ragu ragu Naruto ingin menatap wajah Hinata.
Senyum yang pernah Hilang kini tercetak kembali di wajah tan Naruto, namun sedetik kemudian dia menaikan alisnya sebelah melihat wajah Hinata yang terluka?
Tangannya yang bebas mencoba menyentuh memar biru yang tercetak di pipi Hinata.
"Ugh—" Hinata meringis sakit saat Naruto menyentuh lukanya dan membuka matanya pelan, melihat Naruto yang sudah bangun membuatnya tersenyum manis "Ohayou Naruto-kun"
Naruto langsung menyembunyikan tangannya gugup "O-ohayou Hi-hinata-chan"
Hinata bangkit dan mengucek matanya, dan diikuti oleh Naruto lalu mereka sama sama diam—cangung
'Apa yang harus kulakukkan sekarang? Ugh aku bingung harus dari mana aku memulainya lagi' batin Hinata gelisah
Naruto sedari tadi melihat Hinata yang masih terdiam, Naruto bangun dari ranjang dan pergi ke luar kamar meninggalkan Hinata.
Hinata yang di tinggal sendirian begitu saja membuat hatinya mencelos, sakit. Saking muaknya kah Naruto hingga sekedar bersamanya pun tidak mau. Tiba tiba air mata itu kembali turun dari mata Amethystnya semakin deras dan merutuki dirinya sendiri dengan sumpah serapah.
Clek!
Naruto datang kembali sambil membawa kotak obat dan Hinata yang duduk membelakangi Naruto sehingga tidak menyadari kedatangan pemuda pirang itu
Naruto dengan cepat menghadap Hinata yang masih menunduk menangis?
"Hinata jangan menangis lagi, Naruto sedih" ucapan Naruto membuat Hinata mengangkat kepalanya dan melihat Naruto yang datang.
Diapun kembali menangis dengan histeris dan sesegukan "Naruto! jangan tinggalkan aku—aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku selama ini hiks—kumohon maafkan aku" Hinata langsung berlutut pada Naruto.
Naruto yang diperlakukan seperti itu membuatnya gelagapan dan otomatis berlutut juga seperti Hinata "Hinata-chan jangan menangis, Naruto sudah memaafkan Hinata-chan dan Naruto juga—mencintai Hinata" Naruto memelankan suaranya karena malu
Hinata kembali memeluk Naruto dengan sesegukan sedangkan Naruto hanya mengusap kepala indigio Hinata dengan kaku karena menurut yang dia tahu, kalau wanita menangis harus di tenangkan "Cup cup cup Hinata-chan jangan sedih lagi ya" ucap Naruto polos.
Dan mendengar ucapan perhatian dari Naruto –orang yang selalu di abaikannya—begitu memperhatikannya membuatnya tidak bisa menghentikan air mata penyesalannya.
"Hinata harus di obati, duduk disini Naruto akan mengobati Hinata" Naruto melepas pelukannya dan menepuk pinggir ranjang untuk memberi arah pada Hinata.
"Pasti Hinata-chan yang mengobati lukaku ini, jadi aku akan mengobati luka Hinata-chan juga"
Dengan cekatan dan sedikit kaku Naruto mengobati luka Hinata. Naruto terus meminta maaf karena Hinata meringis kesakitan dan Hinata berkali kali bilang tidak apa pada Naruto dan terkekeh dengan tingkah lucu Naruto yang mengobatinya.
"Selesai"dengan senyuman Naruto mengakhirinya namun seakan teringat kembali akan 'sesuatu' kenangan buruk membuatnya kembali menunduk sedih dan membelakangi Hinata
Hinata yang mendapatkan perubahan yang cepat dari Naruto menjadi bingung "Naruto kenapa?"
Naruto hanya diam tidak menjawab "Apa aku melukai Naruto tadi? a-aku minta maaf"
Naruto masih diam.
Hinata menjadi semakin bingung dan gelisah.
"Maafkan ak—"
"Hinata-chan lebih baik segera pulang—"
Ucapan Naruto membuatnya membelalakan matanya kaget, Naruto mengusirnya? tapi kenapa?
"Kenapa?" ucap lirih Hinta "Apa Naruto begitu membenciku dan tidak ingin melihat Hinata lagi?"
Naruto mengeleng cepat tanpa membalikan posisinya.
"Lalu kenapa?" Hati Hinata bagaikan tersilet silet—begitu menyakitkan—
"Naruto senang Hinata datang, tapi Naruto tidak ingin merasakan sakit lagi—sangat menyakitkan" Naruto meremas dadanya. "Naruto tidak apa kalau Hinata bersama pria lain—asal Hinata senang Naruto juga—"
"TIDAK! Hinata tidak bisa kalau bukan bersama Naruto— A-aku minta maaf karena telah menyakiti Naruto selama ini, Aku tahu aku memang tidak pantas di maafkan tapi kumohon jangan benci aku"
Tidak ada jawaban dari Naruto dan keheningan menyelimuti mereka hingga 20 menit. Hinata sudah bisa menebak apa yang Naruto inginkan.
Memang sudah tidak ada tempat lagi atau kesempatan kedua untuk orang sepertinya, sialnya kenapa air mata ini tidak bisa berhenti sebentar saja!
Kau harus tahu diri Hinata, kenyataan gak se indah Dorama picisan yang begitu mudahnya menjadi Happy Ending.
Hinata berdiri dari posisinya "Aku pergi—" Hinata menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir itu "Tapi kumohon Naruto jangan bersikap seperti itu lagi ya" Hinata pahit pada Naruto yang tentu tidak melihatnya.
Setelah mengatakan itu Hinata langsung keluar dari kamar Naruto dengan perasaan yang tidak rela, meninggalkan Naruto yang hanya diam.
'Semoga kau selalu bahagia Naruto, selalu' batin Hinata di belakang pintu kamar Naruto
.
.
.
.
.
.
.
.
4 tahun kemudian.
Sudah 4 tahun berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Naruto, kesempatan terakhirnya yang dia pinta pada keluarga Naruto.
Sehari berikutnya pertunangan mereka resmi batal dan lusanya keluarga Naruto pindah ke luar Negeri.
Pertunangan yang batal dan pindahnya keluarga Naruto merupakan impian besar Hinata agar hidupnya tenang namun itu dulu—faktanya setelah kepergian Naruto bukannya kehidupannya menjadi tenang malah menjadi abstruk
"Kenapa aku tidak bisa melupakakan mu Naruto? atau memang aku tidak akan pernah bisa melupakanmu" gumam Hinata sambil menatap langit biru "—bawelnya kamu, senyumnya kamu, sifatn kamu yang aneh dan bodoh, perhatian kamu dan semuanya—" Hinata menghela nafas
"Aku sangat bodoh—" Hinata kembali ingat tentang pengorbanan Naruto untuk dirinya "Aku bodoh telah menyakiti orang sebaik dirimu—"
Penyesalan selalu datang belakangan.
"Hinata!"
Hinata menoleh "Ino, bukannya hari ini kosong?"
"Iya, tapi aku ingin melihatmu sekalian mendiskusikan tawaran baru untukmu"
"Kau bisa mengaturnya sendiri Ino, aku akan menerima apapun itu" balas Hinata dengan malas dan menatap ke luar jendela teras
Ino menghela nafas "Ada 3 sekrips judul Film, apa kau benar benar tidak ingin memilihnya? Atau sekedar melihatnya?"
Hinata mengangguk "Aku ikut saja dengan pilihanmu"
Baiklah Ino menyerah, biasanya mah artis bakalan pilih pilih tawaan film sesuai dengan seleranya tapi Hinata mala sebaliknya, 'Semua ada di tanganmu Ino dan itu juga pasti terbaik untukku' itulah yang di katakan Hinata pada Ino
Padahal seharusnya keputusan ada di tangannya! Batin Ino kesal.
2 tahun yang lalu Hinata terjun ke dunia acting, dan ternyata Hinata cukup bagus dengan skill acting miliknya hingga sudah beberapa tawaran bermain Film yang di terimanya 2 tahun belakangan.
Setelah kabar tidak benar yang mencoreng nama baiknya, tepatnya insiden pahit dalam hidupnya yang sempat membuat Hinata down 1 tahun lamanya, Ino dengan segenap hati menyemangati Hinata dalam keadaan suka atau duka.
'Kamu masih memiliki masa depan yang menantimu, semuanya belum berakhir walaupun kamu terjatuh ke dalam jurang.'
Seiring waktu berlalu hingga sekarang jadilah Hinata new born, sosok yang lebih peduli terhadap sesama dan lebih mementingkan urusan orang lain diatas dirinya sendiri.
"Ino, aku ingin main ke Panti" ucap Hinata tiba tiba pada Ino yang sedang duduk santai di sofa
"Baiklah, sekarang?"
Hinata mengangguk dan mereka segera berangkat dengan keadaan seadaanya. Ohiya walaupun Hinata seorang artis tapi dia lebih suka keluar dengan natural dan pakaian seadanya, jarang menggunakan make up dan pakaian yang 'wah', kaos polos, celana jeans dan sendalpun jadi untuk fashionnya.
Sehingga di juluki Pure babyface oleh public.
"Ada ka Hinata!" teriak anak anak dipanti asuhan, sehingga di susul dengan yang lainnya. menyambut Hinata dengan antusius
"Kakak bawa apa?"
"Ayo kita main"
"Kakak!"
anak anak sedang ribut untuk mengunjungi Hinata yang sudah berkunjung ke panti mereka, Hinata hanya menggunakan menyunggingkan senyumnya pada anak anak yang begitu antusius menyambutnya, ini lah yang dia sukai kalau berkunjung ke sini. Hari harinya menjadi ramai tidak ada sandiwara atapun pemanfaatan di sekitarnya.
"Hei kalian, Kakak Hinatanya baru sampai, nanti saja ajak mainnya ya" ucap Kabuto. Pengurus panti
Dengan lesu anak anak menuruti perkataan Kabuto
"Hinata, silahkan masuk "Kabuto tersenyum ramah
Hinata meletakan beberapa belanjaannya di bawah lantai dan Ino memberi beberapa kantong plastic makanan kepada Kabuto.
Mereka masuk ke dalam ruang tengah panti
"Hinata, maafkan aku tidak bisa menemanimu, kabari aku kalau kau sudah pulang atau kau ingin aku menjemputmu" Ino langsung merapihkan tasnya
Hinata mendongak melihat Ino yang berdiri, "Iya aku akan mengabarkanmu nanti—tapi sepertinya aku akan naik taksi saja dan terima kasih telah mengantarkanku"
"Apa yang kau bicarakan? Itu memang sudah tugasku sayang!, Baiklah aku pergi ya" Ino mencium pipi kanan dan kiri Hinata "—paman Kabuto aku akan pergi, titip Hinata ya"
"Kau tidak ingin minum dulu?" Kabuto baru datang membawa minuman
Langsung saja Ino menyabet Jus Jeruk yang di bawakan Kabuto dan meminumnya hingga habis "Terima kasih Paman, ahh rasanya segar sekali—aku pergi!"
Hinata hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah Ino, sedangkan Kabuto hanya tersenyum geli pada Ino. Bagi Kabuto Hinata dan Ino bukanlah sekedar tamu yang membantu kebutuhan panti ini tapi meraka sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. Karena mereka sangat sering membantunya mengurus panti di tengah kesibukannya.
Hinata meminum jus jeruk yang di sediakan lalu menatap Kabuto "Paman sepertinya aku akan menginap di sini"
"Baiklah, apa kah kau sedang ada masalah? Kau terlihat lebih diam dari biasanya"
Hinata mengerutkan alisnya, bingung darimana Kabuto tahu? "darimana paman tahu?, apa benar paman tidak bisa membaca pikiran orang?" Hinata menatap curiga Kabuto yang sudah berkali kali menebak pikirannya tiap kali bertemu dengannya
Kabuto tertawa "Apa aku terlihat bohong?"
"Tidak. Tapi kenapa paman selalu tahu aku sedang ada masalah atau tidak" Hinata mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya kesal
"Karena kau adalah anakku, aku bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dengan kalian. Ceritakan saja jangan kau tahan, aku tidak ingin anakku menjadi tertekan dan murung di hari harinya"
"Paman~" rengek Hinata terharu mendengar perhatian Kabuto yang sudah seperti ayahnya sendiri, atau mungkin lebih perhatian. Semenjak kejadian 'itu' Hinata akui hubungannya dengan keluarganya agak renggang entah karena Hinata yang menjadi lebih tertutup pada keluarganya atau keluarga malu memiliki anak sepertinya.
Hinata menyayangi keluarganya karena itu lebih baik Hinata agak menjauh agar nama baik keluarganya tidak kembali tercoreng.
Hinata tersenyum kecut, dia anak yang tidak bisa di andalkan dan di banggakan. Selalu hidup di dunia mewah membuatnya menjadi egois, selalu berfoya foya menghabiskan uang dengan gampangnya, tidak memikirkan orang orang yang mati matian mencari uang hanya untuk makan, selalu mengeluh akan nikmat yang di dapat, dan kesepian.
Hinata membuka matanya, dia selalu kesepian karena sikap egoisnya sendiri, yang selalu mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain, keras kepala dengan sesuatu yang di anggapnya sepele yang faktanya itu sangat fatal akibatnya sehingga membuat orang lain menderita karena dirinya. Sungguh dia orang jahat.
Kembali memikirkan itu membuat Hinata merasa orang yang menjijikan.
"Hinata!" panggil Kabuto "Kau baik baik saja?"
Hinata tersadar dari lamunannya dan tersenyum kikuk "I-iya paman, aku sedikit lelah makannya kurang focus" dustanya
"Jangan menyalakan dirimu karena semua masalah. Kau tidak salah, kau hanya belum mengerti dan sekarang kau sudah belajar untuk menjadi lebih baik… manusia tidak ada yang sempurnya pasti mereka pernah membuat kesalahan di kehidupannya" Kabuto mengelus kepala Hinata "Kau adalah Hinata kami yang begitu baik hati dan kuat. Kau tidak akan kesepian sekarang karena kami selalu ada untukmu"
Hinata menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jujur Hinata cukup tertekan selama 4 tahun terakhir ini tapi semua itu dia tutupi dengan sempurna tapi kalau di hadapan kabuto benteng itu selalu gampang untuk di tembus "Aku orang yang jahat paman—hiks" Hinata menangis sesegukan
"Tidak tidak, kau itu anak baik—sudah jangan kau pikirkan, kita hidup untuk melangkah maju bukan melangkah mundur Hinata" Kabuto menenagkan Hinata yang menangis di pundaknya.
Hinata, walaupun dia terlihat kuat di luar tapi hatinya sangat rapuh bahkan angin saja dapat mengancurkannya. Dia selalu tertekan akan semua kesalahan yang pernah di buatnya dulu. Walaupun terlihat dewasa sebenarnya dia adalah gadis yang begitu polos dan sentimental pikir Kabuto
"A-aku terlalu jahat dengan semua orang paman—hiks a-aku menyakiti semuanya! Ayah—Ibu—paman bibi –Naruto dan semua orang yang pernah ku sakiti" ucap Hinata terbata bata. Dirinya sudah tidak sanggup menahan ini semua. Ingin mati rasanya setiap kali mengingat kelakuaknnya pada orang orang. "A-aku selalu menyembunyikan perasaan ini pada semuanya, berkali kali aku berusaha melupakannya tapi semakin aku ingin melupakannya rasa itu semakin menjeratku dan mengurungku dalam keputus asaan! Aku lelah paman" ucapnya semakin memelan dan menangis histeris tanpa suara."A-aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan—aku ingin memperbaiki semuanya aku—aku ingin minta maaf pada mereka"
Kabuto menenangkan Hinata dan memberinya waktu sebentar sebelum berbicara , sehingga Hinata sudah lebih tenang dan duduk normal tapi air matanya terus mengalir dalam diam serta pandangannya yang kosong.
"Hinata" Kabuto memaksa Hinata untuk melihatnya. Hinata hanya menatapnya "Jangan kau siksa dirimu dengan kenangan masa lalu, kau tidak perlu melupakannya karena itu tidak akan pernah bisa, kau hanya perlu mengenangnya dan mengevaluasi dirimu sendiri. Kau sudah melangkah sedikit demi sedikit dari dirimu yang dulu"
Kabuto menepuk pundak Hinata "Kalau kau ingin memperbaiki semuanya, lakukanlah! Minta maaf pada mereka dan bukitikan kalau kau bukanlah Hinata yang dulu lagi—kau sudah berubah Hinata"
"Paman" Hinata merasakan tiap tiap kata Kabuto mengalir kedarahnya
"Bagaimanapun kondisimu dan keadaanmu, kami akan selalu bersamamu—di sampingmu untuk mendukungmu" Kabuto menunjuk anak anak yang bermain di ruangan belajar mereka yang tidak jauh dari posisi mereka"Kami tahu kau siapa Hinata" Kabuto tersenyum tulus
Hinata menatap anak anak panti asuhan itu, mereka tertawa bahagia seolah tidak ada beban yang di pikulnya sama sekali, hanya kebahagian dan keceriaan yang menyelimuti mereka seolah menghusir rasa sedih mereka dulu padahal di antara mereka ada yang pernah menjadi pengamen jalanan, dipaksa bekerja keras, dibuang karena orang tuanya tidak menginginkannya dan disiksaan oleh orang tuanya hingga masuk rumah sakit dan masih banyak lagi. Banyak luka fisik ataupun batin yang sudah mereka rasakan di usianya yang masih kecil sedangkan Hinata yang hanya terluka secara batin sudah ingin menyerah?
Mereka masih kecil tapi kehidupannya lebih berat di banding Hinata.
Mereka tegar menghadapi semuanya dengan senyuman sedangkan Hinata terus terusan menyalahkan diri sendiri dengan kesandiwaraan.
Mereka menerima takdir yang mereka miliki sekarang sedangkan Hinata justru menjauh dari keluarganya.
Mereka yatim piyatu bahkan tidak sempat mendapatkan kasih sayang dari keluarganya sedangkan Hinata mala memarahi keluarga karena tidak membelikannya apa yang dia mau
'Aku yang kulakukan selama ini?!' batin Hinata bangkit, hinata segera menelpon Ino "Ino, kosongkan semua jadwalku seminggu ini—kumohon—terimakasih Ino!"
Pip
"Paman terima kasih!" Hinata memeluk Kabuto "Terima kasih karena mau menerimaku disini, aku sangat beruntung " Hinata melepaskan pelukannya
Kabuto mengangguk "Pintu kami selalu terbuka untukmu Hinata"
"Aku ingin pergi dulu, nanti aku akan kembali"
.
.
.
.
Disinilah hinata menginjakkan kakinya kembali, sudah berapa lama dia tidak kesini ataupun sekedar lewat? 2 tahun? 3 tahun? Atau 4 tahun? Hinata seperti kacang yang lupa dengan kulitnya.
Dia ingin berubah, dia bukanlah Hinata yang manja dan egois seperti dulu.
"Nona Hinata!" ucap kaget Yugao pembantu setia Hyuuga, bukan hanya Yugao tapi pelayan, tukang kebun dan satpam di rumah itu juga kaget melihat kedatangan Nonanya
"Tadaima"
Terlihat Yugao menangis melihat kedatangan Nona "Okaeri Nona"
Hinata memeluk Yugao, sosok yang sudah menjadi Ibu keduanya selama dia tinggal di Mension ini "Apakah ayah ada di ruangannya?"
"Tuan sedang di perpustakaannya Non, aku akan mengabarinya—"
"Jangan! Biar aku saja yang langsung menemuinya" potong Hinata dan Yugao hanya mengangguk
.
"Anata, kau ingin ku buatkan kueh kering dan teh?" ucap Haruka pada Hiashi
"Boleh" Hiashi menghantikan bacaannya dan melihat Istrinya
"Tunggulah"
Haruka ingin keluar sebelum pintu di depannya itu terbuka dan menampakan sosok yang selama ini begitu di rindukannya "Anakku" Haruka menangis haru melihat siapa yang datang
Hinata yang melihat Ibunya membuatnya kembali cengeng "Ibu!"
Grep!
"Ibu sangat menghawatirkanmu sayang, ibu bersyukur kau baik baik saja" Haruka memeluk penuh sayang Hinata
Hinata menggeratkan pelukannya pada ibunya "Maafkan aku ibu! Maafkan aku! A-aku anak yang tidak berguna yang hanya biasa menyusahkan kalian saja"
"Tidak nak tidak, jangan berpikir seperti itu" Haruka menatap Hinata "Sebaiknya kau temui ayahmu"
"A-aku takut" Hinata menunduk, walaupun sudah menyiapkan mentalnya namun tetap saja dia takut saat berhadapan dengan Ayahnya
Haruka menakup wajah Hinata dan menatapnya lembut "Percayalah dia juga merindukanmu melebihi ibu merindukanmu"
.
Saat sedang focus membaca Hiashi merasa terganggu akan sesosok orang di hadapannya, kalau Istrinya kenapa harus berdiam diri di depannya seperti itu?
Hiashi melihat siapa itu dan matanya langsung terbelalak kaget "Kau!" nadanya agak meninggi
Hinata langsung kuncup saat mendengar suara ayahnya yang agak berteriak padanya?. Hiashi berdiri dari posisinya dan menghampiri Hinata yang beberapa meter di hadapannya dengan pandangan siap membunuh.
Hinata memejamkan matanya kuat kuat dan menyiapkan dirinya, pasti dirinya akan di tampar atau tidak di pukul karena semua perbuatanya selama ini.
Grep!
Hianta membelalak, bukan tamparan namun pelukan sang ayah padanya yang di dapatnya "A-ayah"
"Anak kurang ajar, apa kau sudah lupa jalan pulang huh?" Hiashi memeluk anaknnya sayang, dia sangat meridukan anaknnya ini.
Hinata langsung memeluk erat ayahnya "A-ayah maafkan Hinata—hiks, maafkan aku hiks! –a-aku sudah memalukan nama baik keluarga a-aku tidak punya muka untuk bertemu dengan ayah lagi hiks aku takut—huwaaaa ayah maafkan aku!" Hinata menangis histeris dan mengeluarkan semua perasaannya
"Kau selalu nakal Hinata, selalu membuat onar dan merepotkan ayahmu, saat kau kecil pun kau sangat bandel hingga membuat anak orang masuk rumah sakit tapi itulah Hinata kami. Hinata anakku yang bandel dan selalu manja pada ayahnya"
Hinata semakin menangis histeris dan mengelap ingusnya pada kemeja ayahnya "dan jorok" lanjut Hiashi yang merasakan Hinata mengelap ingusnya padanya
"Huaa! A-ayah me-menyebalkan" Hinata terbata bata
"Tidak ada ayah di dunia ini yang membanci anaknnya sendiri" Hiashi menagkup wajah Hinata dan menatap mata Anaknya "Ayah selalu menyayangimu Hime, kembali lah kalau kau ingin kembali. Rumah ini juga rumahmu" Hiashi mencium kening Hinata sayang
.
.
.
.
Bandara Narita, Jepang penuh hari ini, banyak orang orang berlalu lalang untuk mengejar jadwalnya. Termaksud pemuda pirang yang berpakaian kaos putih di padu dengan celana jeans boyfriend dan sneakers berwarna hitam legam wajahnya setengah tertutup dengan topi hitam Simbol ADIDAS di atas kepalanya.
Namun di samping keindahan fashion yang di milikinya terdapat anak balita sekitar berumur 3 tahun di gendongan tangan kirinya, balita yang memakai baju kodok dengan inner putih dan sepatu Boots hitam membuatnya terlihat begitu imut.
Balita itu memegang erat leher pemuda pirang yang menggendongnya dan membawa koper Pink besar di tangan kanannya.
"Papa"
Mata Safir terang itu menatap mata Amber bulat yang setengah sadar "Selamat siang, Nina"
.
.
.
.
Tbc.
Semoga ini sudah aga panjang dari sebelumnya, special buat para penyuka FF ini *lopelope*
Untuk update kilatnya, ane tidak bisa berjanji akan up kilat? mohon pemakluman para reader karena urusan di dunia nyata.
final, Happy Nice Day! Ganbatte!
sign, 16jul16
