Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.


Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 10: Remain (Tetap)


POV: Normal

Sakura masih duduk terdiam. Tidak ada kata-kata yang dapat dikeluarkan dari mulutnya saat ini. Apa yang akan kau lakukan jika kau baru saja tahu bahwa ibu kandungmu ternyata seorang wanita 'penghibur' saat dirimu berusia 21 tahun?

Ya, ibu kandung Sakura, Uzumaki Ayame, adalah seorang wanita penghibur. Seorang wanita yang menjual tubuhnya demi sesuap nasi. Bahkan ia telah menggeluti pekerjaan itu sejak ia berusia 17 tahun. Begitulah perkataan yang Sakura dengar dari mulut Kakashi. Cerita Kakashi terpotong begitu saja setelah melihat ekspresi Sakura yang mendadak berubah.

Sakura terkejut, sekaligus sangat kecewa. Perasaan Sakura bagai batu karang yang baru saja dihantam oleh ombak besar. Ia masih bertahan seperti si batu karang, tapi lama kelamaan batu karang akan terkikis sedikit demi sedikit karena terus menerus dihantam oleh ombak besar bukan? Sekuat apapun Sakura, apa saja yang baru ia dengar terasa begitu sulit diterima. Mengapa ibunya bukan pembunuh saja? Seperti Sasuke? Mungkin hal itu akan lebih mudah. Meski sama-sama melanggar aturan, pembunuh tidaklah menjual tubuhnya sendiri untuk mendapatkan uang. Tidak, Sakura masih tidak dapat menerima kenyataan ini. Kenyataan yang tidak pernah terpikirkan oleh Sakura. Apakah ini yang dinamakan takdir?

"Sakura," panggil Kakashi. Sakura masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan yang terlihat kosong. Jujur saja, ini kenyataan paling menyakitkan yang harus seorang Kakashi katakan pada seorang wanita cantik seperti Sakura. Dia memang termasuk pria yang mesum tapi bukan berarti ia sanggup melukai hati seorang wanita dengan mudah. Bahkan hampir seluruh wanita yang pernah ia tiduri, ia biayai sampai satu tahun, bahkan ada beberapa yang dia biayai hingga saat ini. Kesimpulannya, Kakashi pria mesum yang mempunyai hati yang lembut. Hal ini lah yang membuat ia tidak bisa bercerita langsung pada Sakura mengenai ibu kandungnya.

Sasuke masih menatap Sakura dengan tatapan khawatir. Sepertinya baru kali ini dokter Uchiha yang dingin itu benar-benar mengkhawatirkan seseorang.

"Tou-san, kurasa lebih baik aku bawa Sakura pulang." ucap Sasuke.

"Hm, kurasa juga begitu. Bawalah dia pulang terlebih dulu, Sasuke." balas Kakashi.

Sasuke menarik salah satu pergelangan tangan Sakura, mengajaknya untuk berdiri.

"Tu-tunggu!" teriak Sakura. Ia menarik kembali pergelangan tangannya. Sasuke sedikit tersentak dengan perlakuan Sakura.

Sakura menatap wanita yang duduk tepat didepannya. Pakaiannya terlihat terlalu tertutup untuk seorang wanita penghibur.

"A-apa pekerjaanmu saat ini?" Sakura memberanikan dirinya bertanya pada wanita di depannya itu. Sakura ingin tahu apakah ibu kandungnya masih bekerja sebagai wanita penghibur atau tidak.

"Saat ini aku salah satu karyawan swasta di sebuah perusahaan." jawab Ayame.

"Be-benarkah? Kalau begitu, mengapa dulu kau menggeluti pekerjaan itu?" tanya Sakura penasaran.

"Karena keadaan, keadaan memaksaku. Hingga pada akhirnya, aku bertemu Kakashi." Ayame melirik Kakashi sesaat. Kakashi yang tidak ingin dilibatkan dalam pembicaraan, memalingkan muka ke samping.

"Dia menyelamatkanku, saat seorang pria berlaku sangat kasar padaku malam itu. Pria itu bahkan hampir membunuhku dengan perlakuannya. Aku.. aku berhutang nyawa pada Kakashi.." sambung Ayame. Terlihat wajahnya memerah saat membicarakan hal itu. Apakah ada sesuatu antara ia dan Kakashi?

Sasuke kembali duduk di samping Sakura. Ia mempunyai firasat pembicaraan ini akan semakin lama. Sakura hanya terdiam, kepalanya kembali tertunduk. 'Oh, ternyata karena terpaksa, bukan kemauan sendiri', batin Sakura. Sakura bukan seseorang yang tidak mengerti keadaan. Keadaan memaksa manusia untuk melakukan hal yang ia tidak inginkan, keadaan memaksa manusia untuk berusaha lebih kuat lagi, keadaan memaksa manusia untuk bertahan hidup dengan cara apapun.

"Maaf, Sakura. Aku tidak bermaksud memberikanmu pada orang lain. Tapi saat aku melahirkanmu, kebetulan aku bertemu dengan Kizashi dan Mebuki. Mebuki baru saja kehilangan anaknya karena kecelakaan. Anak mereka meninggal sebelum sempat dilahirkan. Dan aku ingin kau hidup lebih baik daripadaku." sambung Ayame sambil tersenyum lemah pada Sakura, menunjukkan kesedihannya. Kemudian Ayame mulai bercerita mengenai pertemuannya dengan kedua orang tua angkat Sakura, Mebuki dan Kizashi.

Flashback

"Kizashi! Kizashi, mana anak kita? Mana anak kita? Katakan padaku, Kizashi! Katakan!" Mebuki mencengkram baju suaminya. Kizashi tidak dapat berucap, tidak dapat berkata-kata. Perasaannya juga hancur, hancur berkeping-keping.

"Hik, sudahlah Mebuki. A-anak kita.. sudah tiada." Kizashi hanya dapat memalingkan wajahnya saat mengucapkan kata 'tiada'.

"Apa? Apa katamu? TIADA? Maksudmu MATI? Tidak, ini tidak mungkin. TIDAAAAK!" Mebuki histeris mendengar kenyataan yang diucapkan suaminya.

Beberapa perawat yang berada di ruangan itu terkejut dengan teriakan dari Mebuki. Mereka sesegera mungkin menahan Mebuki untuk turun dari ranjang karena Mebuki baru saja mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan keguguran.

"Tuan, kami mohon Anda keluar sejenak. Kami juga sudah memanggil dokter." ucap seorang perawat pada Kizashi.

"AAAA-!" teriakan Mebuki masih terdengar.

Kizashi hanya dapat keluar dari ruang pasien itu dengan wajah yang sangat sedih tanpa berucap sepatah kata pun. Di kepalanya saat ini terlintas kembali kejadian tadi siang. Mebuki terjatuh dari tangga yang cukup tinggi saat berbelanja di salah satu pusat belanjaan. Kizashi yang sedang berada di kantor tidak mengetahui hal itu. Pertolongan datang sedikit terlambat, pendarahan hebat sudah terjadi pada Mebuki yang sedang hamil 7 bulan itu. Kizashi merasa gagal dalam hidupnya, menjaga istri yang sedang hamil saja tidak bisa, apalagi menjadi seorang ayah yang baik bagi anaknya nanti? Mungkin memang lebih baik anaknya itu meninggal saja. Kizashi semakin terlarut dalam kesedihan, air matanya terus berjatuhan. Tidak lama kemudian, ia mengambil tempat duduk tepat di depan ruang pasien tersebut.

"Permisi, tuan." suara seorang wanita berambut merah menyapa Kizashi.

"Ah, iya? Ada apa, nona?" Kizashi melirik bayi yang digendong oleh Ayame. "Eh, nyonya?"

"Ma-maaf. Tadi aku mendengar pembicaraan nyonya dan tuan. Apakah benar kalian baru saja kehilangan bayi kalian?" tanya Ayame dengan sopan.

"I-itu benar. A-aku merasa gagal, hiks. Aku bukan suami yang baik! Dan aku tidak akan menjadi seorang ayah yang baik! Aaaa, hiks.." ucap Kizashi sambil menangis dan menjambak rambutnya. Kizashi benar-benar frustasi saat ini.

Ayame tersentak melihat ekspresi Kizashi. Ia tidak menyangka, begitu sakitnya kehilangan seorang anak. Meski begitu, ia sudah menetapkan hatinya. Ia sudah membuat keputusan yang tidak akan ia ubah lagi. Ia mungkin akan sedih setelah ini, tapi ia tidak akan pernah menyesal. Tekad Ayame sudah bulat.

"Tuan, ambil bayiku." ucap Ayame serius.

"Apa? Kau serius?" Kizashi tidak percaya, matanya terbelalak, apakah ini sebuah keajaiban?

"Ya, jagalah dia seperti anak kandungmu sendiri. Aku tidak dapat mewaratnya dengan baik." Ayame mengambil tempat duduk di samping Kizashi dan memperlihatkan wajah bayi yang digendongnya. Ya, itu adalah Sakura. Sakura yang baru saja ia lahirkan dua hari yang lalu.

"Aku sudah beri dia nama Sakura. Ah, kau bebas memberinya nama setelah kau mengangkatnya."

"Tidak, tidak. Sakura nama yang indah. Sama seperti warna rambutnya." senyum terukir di wajah Kizashi.

Ayame melepas gendongan bayi Sakura dari dirinya dan memberikan Sakura pada Kizashi. Kizashi tersenyum dan terlihat sangat gembira dengan bayi tersebut.

"Tuan, aku berikan anakku padamu. Jagalah ia seperti anak kandungmu dan jangan pernah sakiti dia. Aku permisi." Ayame berjalan pergi tanpa menunggu balasan apapun dari Kizashi. Meski langkahnya tegas, air mata yang mengalir tidak dapat membohongi kesedihannya.

Yang ada pada pikiran Ayame saat itu, hanya mencari orang tua angkat bagi Sakura. Tentu saja hal ini demi masa depan Sakura. Ia tidak ingin anaknya sama dengannya. Yatim piatu, bekerja menjadi wanita penghibur hanya demi menyambung hidup, menahan sakit yang tidak seharusnya ia rasakan setiap malam. Sakura tidak boleh merasakan apa yang ia rasakan. Sakura harus mendapat hidup yang lebih baik. Sakura HARUS mendapat hidup yang lebih baik.

Kebetulan sekali, Ayame melihat Kizashi dan Mebuki yang kehilangan anak mereka. Ayame rasa, mereka pasti akan sangat menyayangi Sakura karena telah merasakan rasanya kehilangan seorang anak. Meski sakit, meski perih, meski sulit, harus ia lakukan. Ayame memberikan Sakura pada Kizashi dan Mebuki. Semua agar masa depan Sakura lebih cerah, semua agar Sakura menjadi seseroang yang baik di masa depan, semua agar Sakura mendapat hidup yang layak.

Flashback End

"Begitulah, Sakura. Aku harap, kau tidak menyalahkanku. Semua ini aku lakukan demi masa depanmu." ucap Ayame sambil menghapus air matanya.

Sasuke mengelus punggung Sakura dengan lembut. Sakura daritadi sudah terisak saat mendengar cerita dari Ayame. Ternyata ibu kandungnya yang merupakan seorang wanita penghibur masih memikirkan masa depannya. 'Bahkan ia tidak ingin aku menjadi sepertinya', batin Sakura. Sakura sedikit menyesal sempat ingin membenci Ayame karena pekerjaan yang pernah ia jalani, seorang wanita penghibur.

Kakashi hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak menangis. Kakashi sangat mengenal Ayame, mulai dari malam itu. Malam itu, malam dimana ia menyelamatkan Ayame. Kakashi terlarut dalam lamunannya.

Flashback

"Kyaaa-!" terdengar suara wanita dari salah satu kamar di salah satu hotel mewah berbintang 5.

"Kau berani melawanku? Dasar wanita jalang! Aku menyewamu untuk bersenang-senang! Dan kau harus menurutiku!" teriak suara pria.

Plak! -plak! -plak!

Terdengar suara pukulan dari dalam kamar tersebut.

Kakashi yang kebetulan melewati kamar tersebut mendengar seluruh teriakan dan suara tamparan. Sebenarnya ia dapat menerka apa yang sedang wanita dan pria itu lakukan di dalam kamar hotel tersebut. Kakashi bukanlah orang yang suka ikut campur, tapi kali ini hatinya berkata lain. Kakashi segera membuka pintu kamar itu, yang ternyata tidak dikunci.

Terlihat seorang pria gemuk dan wanita cantik berambut merah yang tidak berbusana. Si pria sedang mengangkat tangannya terhenti dan menatap Kakashi yang masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan si wanita sudah terlihat babak belur di atas tempat tidur. Bahkan terlihat bercak darah pada ranjang tersebut.

"Siapa kau?" tanya pria itu dengan lantang.

"Kau memperlakukannya seperti itu?" tanya Kakashi tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Memangnya apa urusanmu? Siapa kau? Pergi!" teriak pria itu.

"Heh, tidak penting ak ini siapa! Kau tak pantas jadi seorang pria!"

Buagh! -bak! -buagh!

Kakashi meninju kedua belah wajah pria itu, diakhiri dengan tonjokan keras pada bagian perut. Pria itu kemudian tergeletak di lantai, tak berdaya.

Kakashi membungkus tubuh wanita berambut merah itu dengan selimut, kemudian membawanya dengan bridal style ke kamar hotel yang ia sewa.

"Te-terima ka-kasih.. tu-tuan." ucap wanita berambut merah itu dengan lemah. Yang tak lain dan tak bukan adalah Uzumaki Ayame.

"Hm, tidak perlu berterima kasih. Aku hanya menolong sesama manusia." jawab Kakashi.

"Ta-tapi,"

"Baiklah, baiklah, sama-sama."

Sesampai mereka di kamar tersebut, Kakashi segera membaringkan wanita itu di atas tempat tidur. Kakashi masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannnya. Setelah keluar dari kamar mandi, ia mendapati wanita itu masih berada pada posisi duduk, wanita itu menangis. Menangis tersedu-sedu.

"Siapa namamu?" tanya Kakashi.

"A-ayame, tuan. U-Uzumaki Ayame."

"Hm, aku Hatake Kakashi. Salam kenal." Kakashi menjulurkan tangannya pada Ayame.

"A-ah, sa-salam kenal." Ayame menjabat tangan Kakashi dengan penuh keraguan.

"Kau bisa membersihkan dirimu?" Kakashi masih prihatin dengan lebam dan luka yang tercipta akibat pria tadi.

Ayame mencoba menggerakkan tubuhnya, mencoba berdiri.

"A-auh!" Ayame memegang bagian pinggangnya dan pundaknya bergantian. Ada lebam besar pada kedua tempat tersebut. Ia kembali terduduk di ranjang tersebut.

"Hm, sudah kuduga. Baiklah, kurasa.. kau tidak akan keberatan 'kan jika aku membantumu?"

"A-apa? Tidak, tuan. Jangan. Aku tidak pantas." Ayame merangkul dirinya erat.

"Huh? Apanya yang tidak pantas? Kau itu masih manusia." Tanpa berbasa-basi, Kakashi membuka selimut Ayame dan mengangkatnya ke kamar mandi.

Kakashi meletakkan Ayame di bak mandi yang ternyata telah diisi air hangat olehnya. Dengan perlahan, ia membasuh tubuh Ayame. Ia tampak sangat berhati-hati pada bagian lebam dan luka lecet. Beberapa kali Ayame meringis jika tangan Kakashi menyentuh bagian tubuhnya yang penuh lebam dan luka lecet.

Miris rasanya, melihat tubuh indah Ayame yang terluka akibat perlakuan pria tadi. Ini memang bukan pertama kalinya Kakashi melihat seorang wanita terluka karena perlakuan pria. Tapi entah mengapa hatinya terasa begitu sakit saat melihat Ayame terluka seperti ini.

Setelah selesai, Kakashi segera mengambil handuk tebal dan memakaikannya pada Ayame. Mereka segera keluar dari kamar mandi.

Kakashi mendudukkan Ayame di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Ayame hanya terdiam, ia tidak berani memulai percakapan.

Srak, -sruk, -srak.

Kakashi membongkar kopernya, mungkin mencari bajunya yang cocok untuk Ayame. Ayame dapat melihat banyak tumpukan dokumen dalam koper besar tersebut. Tidak terlalu lama mencari, Kakashi mengambil dan membuka sebuah plastik berisi pakaian yang sudah divakum erat.

"Hm, pakailah." ucap Kakashi sambil memberikan sebuah kemeja hitam dan celana tidur miliknya.

"Te-terima kasih, tuan." Ayame menerima barang tersebut.

"Hm, kau sudah mengucapkannya tadi."

"A-aku rasa te-terima kasih saja... tidak akan cu-cukup, tuan."

"Aku ikhlas. Jangan berbicara seperti itu."

"Maaf, tuan. Aku hanya ingin membalas perbuatan baik tuan. Bahkan aku merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini."

"Kita ini manusia. Wajar saja bila merasa bersalah. Tapi aku tidak akan membiarkanmu merendahkan dirimu sendiri, ingat itu."

Ayame tidak menjawab lagi. Ia berdiri dan memeluk Kakashi, seerat-eratnya. Dalam hidup Ayame, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh lekaki mana pun. Bahkan Ayame rela menukar nyawanya untuk merasakan kehangatan ini sekali lagi. Kakashi membalas pelukan Ayame dengan lembut. Entah mengapa hati Kakashi luluh.

Setelah kejadian itu, Ayame menjadi partner Kakashi. Ia selalu menemani Kakashi dimana pun Kakashi berada. Kakashi dan Ayame hampir seumuran, saat itu Kakashi berumur 23 tahun dan Ayame 19 tahun. Meski masih bisa terbilang muda, namun Kakashi sudah tampak sangat dewasa dan mandiri. Demikian juga dengan Ayame, ia seperti terlihat seperti seorang istri yang menemani suaminya bepergian. Kakashi dan Ayame bersama selama hampir satu setengah tahun.

Pada suatu titik, Kakashi memutuskan untuk memberi kebebasan pada Ayame, maka ia mengatur rencana untuk mencarikan Ayame pekerjaan. Ayame sangat senang, ia tidak sadar semua itu adalah ide Kakashi. Sebenarnya ia juga tidak ingin lepas dari Kakashi, namun Kakashi bersikeras menyuruhnya untuk menjadi pribadi yang baru dengan mulai bekerja dan hidup di jalan yang ia inginkan. Mereka berdua kemudian berpisah dan tidak saling berhubungan lagi.

Flashback End

"..ou-san.. Tou-san, hei!" Sasuke menepuk pundak Kakashi.

"Eh? Ada apa?" Kakashi tersentak, menggelengkan kepalanya.

"Hn, mengapa kau melamun?" Sasuke yang sebenarnya bingung, mempertahankan wajah datarnya.

"Ha? Aku? Ah, tidak tidak. Tidak apa-apa. Hehee." Kakashi hanya tertawa untuk menampik.

"Anata, bukankah lebih baik memberitahu mereka yang sebenarnya? Kau tahu? Kau masih tetap dihatiku selama ini." ucap Ayame sambil menatap dalam Kakashi, tatapan penuh arti yang bahkan tidak bisa diartikan oleh orang lain selain mereka berdua.

Kakashi tidak menjawab, tapi ia tersenyum lembut pada Ayame.

"A-apa? Ana-Anata?" Sasuke tidak percaya apa yang ia dengar. Ia melihat Kakashi dan Ayame bergantian.

Sakura menyeka air matanya, seketika ia menjadi bingung. Jangan-jangan..mereka..

"Haih, baiklah. Sebagai seorang pria yang baik, akan aku ceritakan. Dengarkan dengan baik, aku tidak mau mengulang." jawab Kakashi.

Setelah itu, Kakashi menceritakan kisah bagaimana awalnya ia bertemu dengan Ayame. Kakashi juga bercerita mengenai hal-hal yang mereka sukai dan lakukan bersama. Dan soal mengapa mereka berpisah, Kakashi membongkar kenyataan bahwa ia yang mengatur seluruhnya untuk Ayame. Kakashi tidak ingin Ayame menjadi pengikutnya dalam dunia kegelapan. Bahkan jika Ayame benar menjadi istri sah Kakashi, wanita itu akan terus berada di dunia kegelapan. Hal ini tidak diinginkan Kakashi, ia menyelamatkan Ayame agar Ayame bebas, bukan terikut ke dunia kegelapan miliknya.

Sasuke dan Sakura mendengarkan dengan seksama sambil sekali-kali tertawa.

Ayame terlihat tidak senang dengan kebenaran bahwa Kakashi mengaturnya untuk bekerja diluar dan hidup sendiri. Sama saja dengan mengusirnya bukan?

"Kakashi, aku tidak percaya denganmu lagi." Ayame melipat tangannya di dada dan memunggungi Kakashi.

"A-apa? Ayame? Kenapa?" Mata Kakashi bertambah sayu.

"Kau pria paling jahat yang pernah ku kenal." Ayame semakin menjauhi Kakashi.

Sasuke dan Sakura hanya diam dan terkejut melihat sikap wanita bernama Ayame yang merupakan ibu kandung Sakura. Sikapnya yang tenang tadi berubah drastis.

"Ji-jika aku bersalah, ma-maafkan aku, Ayame." Dan sekarang giliran Kakashi yang berubah. Sasuke dan Sakura benar-benar terkejut. Terutama Sasuke, seumur hidupnya bersama ayah angkatnya, ia tidak pernah melihat Kakashi meminta maaf sampai menundukkan kepala dan berwajah bersalah seperti itu.

"YA! Kau memang salah! Jika kau tidak menginginkanku lagi mengapa tidak langsung memberitahuku? Perlu kah kau mengusirku dengan cara menyuruhku untuk bekerja dan hidup sendirian dengan alasan memberiku kehidupan yang baru? Kau menyiksaku, Kakashi!" teriak Ayame dengan penuh kekecewaan. Air mata bahkan mengalir dari matanya.

"A-ayame, a-aku.."

Sasuke dan Sakura saling memandang. Benarkah hubungan mereka sampai sedekat itu? Mereka masih tidak percaya.

"A-ano, apakah sebaiknya kami pulang dulu saja?" tanya Sakura dengan sopan sambil memandang Kakashi dan Ayame bergantian. Sungguh tidak nyaman berada di situasi ini.

"Ah, Sakura, Sasuke, maaf. Jangan pulang dulu. Tunggu sebentar." balas Kakashi, wajahnya masih terlihat sedih meski berusaha tersenyum.

Kakashi kemudian mengambil tempat duduk tepat di samping Ayame.

"Ayame, maafkan aku. Aku tidak dapat membiarkanmu terlalu lama disisiku karena aku tidak ingin kau hidup dalam kegelapan sepertiku. Sudah cukup aku saja, aku tidak ingin kau juga terikut. Aku adalah penerus dari ayahku, sehingga kegelapan ini memang sudah takdirku. Tapi, kau tidak, kau berhak bebas. Percayalah, aku selalu mengawasimu. Hanya saja aku tidak tahu siapa lelaki yang menghamilimu, meski aku tahu aku tidak berhak mengatur hidupmu, tapi aku ingin menemukan ayah dari Sakura. Terkadang saat malam tiba, aku bekerja dan tidak dapat mengawasimu secara langsung. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengusirmu dari hidupku. Maaf. Selama ini aku selalu memikirkanmu dan kau tetap berada pada urutan nomor satu di hatiku, Ayame." ucap Kakashi sambil menundukkan kepalanya.

Ayame berbalik melihat Kakashi, kemudian menaruh kepala Kakashi di dadanya dan mengusap kepalanya.

"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku memaafkanmu, Anata. Aku juga tetap mencintaimu." ucap Ayame dengan lembut.

"Terima kasih, Ayame. Kau memang wanita tercantik di dunia. Aku sangat mencintaimu." Kakashi menggerakan kepalanya yang masih berada di dada Ayame.

"Dasar mesum. Jangan berharap lebih, Kakashi." Ayame melepas pelukannya, semburat merah tampak di wajahnya.

"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Kakashi menaikkan kepala menatap Ayame.

Sasuke dan Sakura hanya dapat menelan ludah mereka. Apa apaan orang tua ini? Melakukan adegan seperti ini di depan anak? Yang benar saja?

"Ah, mengenai pria.. yang menghamiliku.. Sebenarnya aku tidak terlalu pasti, tapi.. aku tidak berhubungan dengan siapapun selain dirimu setelah bertemu denganmu, Kakashi."

"Ah? Benarkah? Aku senang. Kalau begitu, berarti.."

Suasana hening sesaat.

"Apa mungkin? Sakura anak kandungku? Apakah Sakura anak kita, Ayame?" Kakashi memberanikan diri bertanya. Jika benar maka ia akan sangat bahagia memiliki keluarga. Sesuatu yang sangat Kakashi idamkan, karena dulu ia tidak mengenal siapa ibunya. Kakashi tidak pernah mempunyai keluarga yang sempurna, maka dari itu ia ingin mempunyai keluarganya sendiri. Dan wanita yang dapat mendampinginya, hanya Ayame.

"So-soal itu, mungkin saja, Kakashi." jawab Ayame.

"Benarkah? Aku akan tes DNA. Kau setuju, Sakura?" Kakashi membuat keputusan.

Sakura terdiam, menatap dalam Sasuke. Sasuke hanya tersenyum manis padanya.

"Baiklah, aku setuju." jawab Sakura dengan yakin.

"Jika kau benar anakku, maka aku tidak akan melepas kalian lagi, Sakura. Tidak akan pernah." Kakashi menatap dalam Sakura.

"Suami dan ayah macam apa kau jika berani meninggalkan kami? Aku pastikan kau akan berada di penjara jika kau berani pergi!" ucap Ayame.

"Ayame, bukankah kau sudah memaafkan aku?" tanya Kakashi lagi.

"Jika Sakura anakmu, maka aku akan marah lagi padamu karena meninggalkan benihmu padaku dan tidak merawatku selama aku hamil dan melahirkan. Kau bahkan membuatku terpaksa memberikannya pada orang lain."

"Maaf, Ayame. Maaf. Aku sedikit tidak sadar. Bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kita melakukannya. Oh ya, aku ingat dulu kau pernah menerima suntik kontrasepsi agar tidak hamil?"

"Aku sudah tidak melakukan itu sejak sebulan terakhir kita bersama, Kakashi."

"Oh, mungkin aku juga lupa memakai pengaman saat itu."

"Benarkah? Kau bisa ceroboh juga ya ternyata. Aku akan membunuhmu bila ternyata kau punya anak dengan orang lain selain denganku."

"Apa? Tidak tidak. Itu tidak akan terjadi, Ayame."

Sakura dan Sasuke menyerngitkan dahi. Apakah kedua orang tua ini melupakan kehadiran mereka?

"Tou-san, kami permisi yah."

"Eh? Sasuke? Masih disini? Oh iya, baiklah. Nanti aku telepon lagi jika sudah waktunya tes DNA ya, Sakura."

"Baik, tou-san."

Sakura menatap Ayame sejenak. Ingin rasanya memanggil.

"Aku pulang dulu, ka-kaa-san."

"Oh, Sakura. Maafkan aku." Ayame berdiri dan memeluk Sakura dengan erat, seerat mungkin.

Sasuke dan Kakashi hanya tersenyum menatap kedua ibu dan anak yang terpisah itu kini bersatu kembali. Dan hebatnya, mereka dapat menerima satu sama lain.

"Dan si tampan ini calon menantuku 'kan? Aku sudah dengar dari Kakashi sebelum kalian datang. Awas kau berani menyakiti Sakuraku, aku akan mengulitimu!" ucap Ayame pada Sasuke dengan tatapan tajam.

Sasuke sedikit tersentak, tapi ia tetap tenang.

"Tidak akan, kaa-san." ucap Sasuke sambil tersenyum pada Ayame.

"Ah, kau manis sekaliii.." Ayame memperhatikan Sasuke yang tersenyum "Aku peluk yah? Hihi.." Ayame memeluk Sasuke tanpa sungkan. Sasuke terkejut hingga akan terjatuh ke belakang, beruntung saja keseimbangannya sudah terlatih.

"EHEM!" Kakashi berdeham.

Ayame melepas pelukannya. "Apa? Kenapa? Tidak suka aku memeluk pria tampan ini?"

Kakashi tidak berbicara, ia hanya melirik Ayame dari ujung matanya. Ayame tidak memperdulikannya. Ayame menyatukan tangan Sasuke dan Sakura, menandakan restu darinya. "Kalian sangat serasi." ucap Ayame tulus. Sasuke dan Sakura saling menatap dan tersenyum.

"Kau hanya milikku, Ayame." Kakashi merangkul Ayame dari belakang meletakkan kepalanya pada tengkuk Ayame. Tentu saja semua orang terkejut, terutama Ayame.

"Kau merindukanku, tuan?" Ayame membalikkan badannya dan menggoda Kakashi.

"Tentu, sangat merindukanmu." Kakashi memeluk Ayame dengan erat.

"Baiklah, maaf pria tampan. Tapi aku lebih tertarik dengan tou-san mu yang lebih matang ini, hahaha." Ayame masih saja menggoda Sasuke.

Sakura menatap tajam Ayame. Tentu saja Ayame mengerti Sakura cemburu.

"Maaf, Sakura. Ibu hanya bercanda. Kalian pulanglah dan bersenang-senang. Daaah~" Ayame melambaikan tangannya.

"Kami pulang dulu, tou-san, kaa-san." Sakura berusaha tersenyum pada kedua orang tua yang sudah saling memeluk itu. Sasuke hanya menganggukan kepalanya, ia sudah malas melihat romansa antara kedua orang tua itu. 'Daripada menonton, lebih baik melakukannya saja dengan Sakura', batin Sasuke. Eh, sudah berani ya, Sasuke?

Sasuke dan Sakura berjalan keluar dari tempat tersebut menuju lorong jalan masuk tadi tanpa berbicara sepatah kata pun.

"Jaga Sakura ya, Sasuke. Jangan berani kau menyakiti anakku!" terdengar teriakan Kakashi dari jauh.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Sakura tersenyum kecil.


POV: Normal

Mentari pagi bersinar terang memasuki jendela sebuah kamar. Tampak dua insan manusia yang masih berada di bawah selimut, saling mendekap, menikmati kehangatan masing-masing. Sakura yang menyadari hari sudah pagi membuka matanya secara perlahan. Mengingat hari ini adalah hari Senin, hari untuk bekerja.

"Um, bangun, Sasuke." ucap Sakura sambil mendudukkan dirinya.

"Sebentar lagi." jawab Sasuke

"Hari ini aku diangkat sebagai sekretarismu, aku tidak boleh terlambat, kau tahu?"

"Lalu? Aku atasanmu, terserahku mau menyuruhmu untuk melakukan apa 'kan?"

"Bangun, Sasuke!" kali ini Sakura menarik selimut yang menutup Sasuke.

"Aaah, berisik!" Sasuke menarik kembali selimut tersebut.

Saat ini Sakura dan Sasuke sudah tinggal bersama. Rumah sewa Sakura juga sudah dikembalikan ke pemiliknya. Bisa dikatakan bahwa kehidupan Sakura saat ini jauh lebih indah. Meski ia harus berhadapan dengan Sasuke yang terkadang menjengkelkan. Tiba-tiba pikiran Sakura terlintas pada Mebuki dan Kizashi.

"Kau tahu Sasuke, aku masih heran mengapa ayah dan ibu angkatku tidak mencariku."

"Hn, mungkin mereka memang tidak menginginkanmu, Sakura."

"Apa? Berani sekali kau berbicara seperti itu?"

"Katamu kau memiliki adik 'kan? Seorang adik laki-laki?"

"Hm, ya. Itulah anak kandung mereka. Ibu hamil ketika aku berusia 7 tahun. Sikapnya padaku mulai berubah sejak itu."

"Berarti tebakanku benar, Sakura."

"Ta-tapi, apakah semudah itu? Membesarkan seorang anak lalu membuangnya?"

"Entah-"

Drrtt.. Drrttt -telepon genggam Sasuke yang berada di atas nakas bergetar.

Usuratonkachi is calling...

Sasuke mengangkat teleponnya dengan malas.

"Hn."

Terdengar suara dari seberang.

"Teme, kau dimana? Cepat kesini! Penting! Sekarang juga!"

"Hn? Ada apa?"

"Sudah cepat kesini, tentang percobaan! Ini tentang Sai!"

"Hn? Baiklah."

"Ada apa Sasuke?" tanya Sakura.

"Urus izinku, aku tidak akan ada di rumah sakit hari ini. Kau sebaiknya tetap masuk." ucap Sasuke sambil berjalan menuju kamar mandi.

"Apa? Tadi itu siapa? Ada apa?" Sakura mulai khawatir, Sasuke tidak akan seperti ini jika tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa.

"Lakukan saja apa yang aku katakan. Aku akan bercerita nanti, saat pulang." Sasuke masuk dalam kamar mandi.

"Ba-baiklah." Sakura mengiyakan, berusaha mengerti sifat Sasuke.


POV: Sakura

Hidupku sudah berubah, jauh berubah. Aku senang, aku bahagia, aku tertawa setiap hari. Sepertinya impianku menjadi kenyataan, aku seperti seorang gadis desa yang bertemu dengan pangeran. Hm, seperti cerita di serial princess yang sering ak tonton waktu kecil, hahaha. Meski si pangeran itu terkadang menyebalkan, tapi aku tahu ia mencintaiku, sangat mencintaiku.

Disinilah aku saat ini, kantin rumah sakit. Mencari sesuatu yang dapat dimakan. Betul kata Sasuke, tidak ada yang dapat ditelan. Makanannya tidak pernah ada yang menggugah selera. Lebih baik aku makan diluar saja. Hari ini aku sendiri, karena Sasuke menerima telepon penting tadi pagi. Entah masalah apa, Sasuke memang selalu begitu. Menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum bercerita. Sifatnya yang itu juga menjengkelkan, tapi aku hanya berusaha mengerti dirinya.

Aku berjalan keluar dari rumah sakit, mendekati mobil sedan silver yang baru saja dibeli Sasuke beberapa waktu yang lalu. Sejujurnya mobil ini terlalu canggih dan terlalu mahal untuk seorang sekretaris dokter sepertiku, dan juga aku masih mahasiswa magang. Tapi mau bagaimana lagi? Dasar calon suami protektif, mobilnya sampai dipasang GPS segala.

POV: Normal

"Hei kau, ikut denganku!" seorang pria mencengkram tangan Sakura.

"A-apa? Ka-kau!"

"Masih ingat padaku 'kan Sakura?"

"Tidak! PERGI! PERGI!" Sakura berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak berhasil.

Pria berambut merah itu membungkam mulut Sakura dengan kain yang sudah dilumuri dengan obat bius. Sakura tidak sadarkan diri, kemudian pria itu mengangkat Sakura ke dalam mobil van hitam miliknya.

"Kita lihat, siapa yang lebih hebat, Uchiha Sasuke. HAHAHA."


To be Continue


Seperti yang sudah Shady katakan pada fanfic Shady yang satunya lagi, A Little Secret, Shady akan mulai membalas review para pembaca mulai chapter yang di update sekarang dan seterusnya :D

Balasan review

Sa: Iya, terima kasih banyak dukungannya yah. Ini sudah dilanjut, maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

Guest: Yosh, ini sudah dilanjut. Maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

Asuka Kazumi: Ya, ini dilanjutkan. Maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

Maurice: Wah, lemon yah.. Hm.. Shady pertimbangkan dulu yah, masih ingin fokus di cerita. Terima kasih sudah read dan review :D

Hoshi Riri: Yes, bayangin Ayame red hair seperti Kushina hahaha, sepertinya tidak buruk juga ya? Atau malah buruk? Terima kasih sudah read dan review :D

hanazono yuri: Iya ini lanjutannya. Maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

sarahachi: Iyaaa, ini dilanjut, hehehe. Maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

puma178: Iya ini lanjutannya. Maaf lama. Terima kasih sudah read dan review :D

sqchn: Hubungan dengan Naruto? Hm, nantikan chapter depan yah. Nikmati dulu chapter ini, haha, stay tuned! Terima kasih sudah read dan review :D

LORDmarionettespieler: hai hai, Shady disini, salam kenal yah! Terima kasih sudah read dan review :D

Bagaimana chapter ini? Atau ada saran untuk chapter selanjutnya? Langsung saja komentar di review ya, thanks all :D

Thanks too all readers, reviewers, and silent readers. Shady akan terus up fanfic ini. No matter what happen, hahaha.

Sincerely,

Shady