I'M 28
An EXO fanfiction
HunKai
Rating: T-M
Pairing: Sehun X Kai, Choi Minho X Kai
Warning: BL, YAOI, M-preg
Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Krystal Jung, Lee Sungmin
Halo ini chapter sepuluh selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan terutama typo. Happy reading all…
Previous
"Apa keluargamu memberi izin?"
"Mereka pasti memberi izin."
"Kenapa kau percaya diri sekali?"
"Kita lihat saja nanti Jongin hyung." Sehun tersenyum tipis. Ia mencondongkan tubuhnya ke kiri dan mengecup pipi kanan Jongin singkat. Jongin terperanjat. "Aku mencintaimu Jongin hyung."
"Apa yang kau lakukan?" Jongin akhirnya menggerutu sambil mengusap pipi kanannya. Ia mendengar tawa pelan Sehun kemudian sentuhan tangan Sehun di atas perutnya. Jongin yang terkejut dengan tindakan Sehun langsung menoleh ke kanan dan saat itulah Sehun mencium bibir penuhnya.
"Sampai jumpa Jongin hyung." Sehun tersenyum sambil melangkah keluar dan Jongin, baiklah dia benar-benar lumpuh sekarang. Semua ini salah bayi di dalam perutnya yang bereaksi terlalu berlebihan terhadap Sehun.
BAB SEPULUH
"Wah kau bersemangat sekali Sehun!" pekik Taemin, keduanya duduk bersandar pada dinding berlapis kaca setelah menyelesaikan tiga sesi latihan.
"Aku selalu hebat." Balas Sehun dengan nada menyebalkan sebelum meminum air segar dari botol minumnya.
"Aku semakin optimis jika kita akan menang."
"Kita pasti menang." Ucap Sehun penuh keyakinan. "Wow sudah pukul tiga sore, aku harus pergi."
"Ada pemotretan?"
"Tidak, rencananya aku akan melihat kontrak iklan."
"Wah kau bekerja terus tapi mana katalog yang ada gambarmu?"
"Akhir musim dingin nanti Taemin, ah yang terdekat saat libur Natal."
"Katalognya?"
"Kau lihat saja."
"Jika terkenal jangan lupakan sahabat-sahabatmu."
"Mana mungkin aku melupakan sahabat-sahabatku."
"Sering-sering traktir kami." Sehun menjulurkan lidahnya mendengar kalimat Taemin.
"Aku serius!" Taemin memekik kesal. Sehun tertawa pelan ia mengambil handuk kecil dari ranselnya untuk mengelap keringat.
"Ayo pergi aku ada urusan."
"Pergilah, aku ingin berlatih sebentar lagi."
"Kau yakin?"
"Hmmm."
"Jaga staminamu."
"Terimakasih atas perhatianmu tuan Sehun." Goda Taemin, Sehun hanya mendengus dan keluar dari ruang menari.
"Sehun kau masih di sekolah?"
Sehun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. "Ah halo Krystal. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku berlatih menari di ruang latihan menari untuk anak perempuan."
"Hmmm."
"Kau baru saja berlatih?"
"Ya." Sehun membalas singkat ia tidak ingin mengobrol dengan Krystal, entah karena apa, Sehun hanya merasa tidak nyaman dan canggung berada di dekat Krystal. Bukan rasa canggung saat kau menyukai seseorang tapi sebaliknya.
"Sehun akan pulang sekarang?"
"Itu rencanaku."
"Bagaimana jika kita berjalan bersama sampai gerbang depan?"
"Ya." Sehun melangkah mendahului Krystal namun gadis itu mengikutinya dengan cepat.
"Kudengar Sehun menjadi model sekarang?"
"Ya."
Krystal melirik Sehun, ia tahu anak laki-laki yang telah mencuri hatinya itu merasa tidak nyaman namun ia tidak ingin obrolan ini cepat berakhir. "Aku juga bergabung dengan agensi model sejak kelas enam SD tapi sampai sekarang belum jelas aku akan debut kapan."
"Jangan menyerah, aku yakin kau bisa debut."
"Terimakasih." Krystal menundukkan kepalanya, wajahnya terasa memanas sekarang dan jantungnya berdebar kencang. "Sehun sejak kapan bergabung dengan agensi?"
"Kelas dua SD."
"Ah, lebih lama dariku. Tapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya?"
"Aku sengaja melakukannya, aku tidak suka diperhatikan."
"Apa Sehun membentuk tubuh? Maksudku postur tubuhmu sangat bagus."
Sehun menggeleng cepat. "Tidak, kurasa ini karena gen saja. Aku tidak melakukan hal yang khusus pada tubuhku."
Krystal menatap kecewa gerbang sekolah yang terlihat jelas sekarang, berarti acara berjalan dan mengobrol bersama dengan Sehun akan segera berakhir. "Sehun akan pulang dengan apa?"
"Aku dijemput mobil agensi."
"Ah seperti itu."
"Rupanya sudah datang, aku pergi dulu Krystal." Ucap Sehun ia tersenyum singkat kepada Krystal sebelum berlari cepat meninggalkan halaman SOPA. Krystal hanya menatap sendu punggung Sehun yang menjauh.
"Kau benar-benar tidak menyadarinya ya Sehun?" Krystal bergumam pelan.
.
.
.
"Bisakah Anda mengantar saya pulang terlebih dahulu?"
"Tentu Sehun."
"Terimakasih Paman."
"Tapi kau hanya punya waktu setengah jam untuk mandi dan berganti pakaian."
"Tak masalah, aku bisa melakukannya lebih cepat." Sehun meraih ponselnya di dalam ransel, mencoba melihat pesan yang mungkin dikirim oleh Jongin. Ia mendesah kecewa kala layar ponselnya tak menampakkan notifikasi apa-apa. "Aku benar-benar dilupakan, apa kau benar-benar memberiku kesempatan?" Sehun bergumam pelan, sangat pelan hingga tak ada seorangpun yang mendengar kecuali dirinya sendiri.
Sehun melompat turun dari mobil sesampainya mobil agensi di depan pagar rumahnya. Ia menoleh cepat ke arah rumah Jongin, mobil Jongin masih terparkir di halaman depan rumahnya, ia lega Jongin tidak pergi tanpa pemberitahuan. Sehun berlari cepat mendorong pagar dan melintasi halaman. Ia tidak akan membuat sopirnya menunggu.
Sehun benar-benar menepati janjinya untuk melakukan semua hal kurang dari setengah jam, dua puluh menit adalah waktu yang dibutuhkan Sehun untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Ia bergeges keluar, saat tatapannya tertuju pada mobil boks putih yang berhenti di depan pagar rumah Jongin. "Sebentar Paman." Ucap Sehun sambil berlari menyeberangi jalanan lengang perumahan, menuju tempat tinggal Jongin.
"Sehun." Ucap Jongin yang kebetulan berdiri di halaman rumahnya.
"Pindah sekarang?"
"Tidak, barang-barangnya saja yang dipindahkan."
"Ah, kapan pindahnya?"
"Mungkin besok, aku akan memberitahumu jangan cemas."
"Janji?"
"Ya."
"Jangan mengangkat barang apapun."
"Aku tahu."
"Ya sudah aku pergi dulu, sampai nanti."
"Sampai nanti."
Sehun tersenyum simpul kemudian memutar tubuhnya dan berniat untuk berlari menuju mobil saat sesuatu terlintas di benaknya. "Jongin hyung." Sehun berucap pelan, Jongin menatap Sehun lekat-lekat menunjukkan seluruh perhatiannya. "Tidak lupa dengan janjimu kan? Untuk mengatakan semuanya padaku?"
Kedua mata Jongin yang membola adalah pertanda jika laki-laki manis itu melupakan janjinya. "Aku—lupa."
"Aku masih menunggu janji Jongin hyung."
"Nanti malam saja."
"Baiklah, apa kau sudah membicarakan semuanya dengan keluargamu?"
"Sudah, tapi belum dengan Kris hyung. Kurasa Kris hyung akan mengetahui hal itu dari ayah atau ibuku."
"Sebaiknya kau mengatakan langsung kalian tinggal bersama, dia kakak kandungmu."
"Aku akan melakukan saran dari Jongin hyung."
"Pergilah, kali ini apa?"
"Hanya memeriksa kontrak iklan."
"Wow, kau sudah sangat sibuk rupanya."
"Aku harus bekerja keras." Jongin mengangguk pelan mendengar kalimat Sehun, Sehun memeluk tubuh Jongin singkat sebelum pergi. Ia tidak mungkin memberi Jongin ciuman di depan banyak orang seperti sekarang, saat semua orang tak mengetahui hubungan mereka.
"Sepertinya Anda sangat dekat dengan tetangga Anda?" tanya sang sopir, Hwanhee.
"Dia seperti kakak kandung saya sendiri." Dusta Sehun kemudian melangkah memasuki mobil. Sehun memasang sabuk pengaman kemudian menurunkan kaca jendela mobil, melambaikan tangannya kepada Jongin.
Saat Jongin membalas lambaian tangannya Sehun merasa jantungnya berdetak sangat kencang dan cepat. Hanya Jongin yang bisa membuatnya merasakan hal seperti ini, dan hanya Jongin yang membuatnya merasa harus memiliki pemuda berkulit kecoklatan itu untuk dirinya sendiri.
.
.
.
"Sayangku!" Hyura menyambut kedatangan Sehun dengan bahagia dan memeluk tubuh Sehun dengan erat.
"Lepaskan, Ibu terlihat sangat konyol."
"Kau sangat tampan Sayangku, dan jangan panggil aku Ibu! Aku terlalu muda untuk kau panggil Ibu."
"Kau ibuku."
"Panggil dengan Noona." Sehun mendengus. "Hei aku lebih pantas dengan panggilan itu." Sehun sekali lagi mendengus. Hyura bergegas menutup pintu ruangan kantornya. "Bagaimana keadaan Jongin?"
"Baik."
"Bayinya?"
"Baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu." Hyura mendudukkan tubuh langsingnya ke atas kursi kulit berkualitas terbaik. "Kau tahu Sayang, saat aku menemani Kris belanja mereka pikir Kris adalah kekasihku, astaga memang susah memiliki wajah yang awet muda sepertiku."
"Ibu, sadar umur."
"Aku masih empat puluh lima! Dan aku sangat menawan, akui saja jika ibumu ini menawan, ayahmu saja yang tidak tahu untung, berselingkuh."
"Ayah dan ibu tidak pernah menikah, jadi itu bukan selingkuh."
"Ah kau benar juga. Jadi Sayangku ada kontrak iklan untukmu, iklan parfum kau mau menerimanya? Dengan Krystal Jung."
"Krystal Jung? Ibu memutuskan untuk mendebutkan dia?"
Hyura menepuk pelan dahinya. "Maaf aku salah, maksudku adalah dengan Luhan. Luhan kau kenal Luhan kan? Dia satu sekolah denganmu dan dia model yang cukup diperhitungkan."
"Aku tidak tahu banyak tentang Luhan."
"Ya, karena kau terlalu sibuk dengan Jongin hyungmu."
"Aku mencintai Jongin hyung."
"Sudah, sudah, masalah itu aku tidak ragu lagi. Baca kontraknya dan jika kau setuju tanda tangan."
Sehun menggigit bibir bawahnya pelan. "Sepertinya harus beradegan mesra."
"Tentu saja, itu iklan parfum untuk pasangan, harus menggoda. Setuju atau tidak?"
"Aku butuh uangnya."
"Wah kau rupanya sudah dewasa Sayangku."
"Tanda tangan." Hyura menyerahkan bolpoin tinta kepada putranya. Sehun membubuhkan tandatangan dengan cepat. "Senang bekerjasama denganmu Sayang."
"Ibu, apa debutku tidak terlalu tergesa-gesa maksudku nanti jika ada berita miring karena aku anak Ibu."
"Siapa yang berani mengatakan hal itu? Biar aku yang turun tangan, kau sudah dilatih sejak kelas 2 SD tidak akan ada yang meragukanmu Sayang. Kapan kau akan pindah dengan Jongin?"
"Besok atau lusa."
"Hmmm, jaga dia baik-baik jadilah anak yang membuatku bangga."
"Ibu, kenapa Ibu membuat semua urusan menjadi mudah? Padahal yang aku lakukan bukanlah persoalan kecil, menghamili orang lain di usia sangat muda, membuat orang itu diusir dari keluarganya."
"Aku tidak suka berpikir rumit. Maksudku tidak ada gunanya memarahimu atau semacamnya, toh semua sudah terjadi. Ah aku akan memarahimu jika kau tidak bertanggungjawab dengan baik." Hyura mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanannya pada permukaan bibir tipisnya yang bersepuh lipstik merah darah. "Aku tidak sabar menjadi seorang Nenek, aku yakin putra atau putri kalian pasti sempurna melihat siapa orangtuanya."
"Kenapa tiba-tiba antusias menjadi Nenek, sementara dipanggil Ibu saja kau segan."
"Sayang, apa kau tidak tahu jika seorang nenek mencintai cucunya melebihi anak kandungnya sendiri."
"Aku tidak pernah mendengar hal itu, ini pasti akal-akalan Ibu saja."
"Noona." Hyura mengingatkan sang putra dengan tegas.
"Ya, terserah saja, aku panggil Hyura langsung bagaimana?"
"Tidak masalah, aku tidak terlalu peduli dengan panggilan Noona, Ahjuma, atau semacamnya."
"Kau adalah ibu dengan pola asuh terunik yang pernah aku temui."
"Aku ini ibu modern jangan samakan dengan ibu teman-temanmu, Sayangku."
"Huh!" Sehun mendengus sambil mengerucutkan bibirnya karena sebal.
"Calon ayah tidak boleh merengek seperti bayi." Goda Hyura.
"Datanglah di kompetisi menariku hari Minggu."
"Besok?"
"Bukan, minggu depan."
"Ah tentu akan aku usahakan."
"Ya sudah aku pulang dulu ya Hyura."
"Hati-hati di jalan Sayangku." Sehun mengangguk pelan ia berjalan mendekati ibunya memberi beliau pelukan serta kecupan singkat pada pipi kanan sang ibu.
"Malam ini aku mungkin akan menginap di rumah Jongin hyung."
"Kabari Kris jangan membuatnya cemas."
"Ya. Hyura." Sehun melambaikan tangannya sebelum membuka pintu ruangan sang ibu dan melangkah keluar.
Hyura bersiap untuk menekuni katalog pakaian musim dingin yang akan segera dikeluarkan saat pintu kantornya kembali terbuka. "Ada apa Sayang?"
"Hyura."
Kening perempuan cantik berusia hampir empat puluh enam tahun itu seketika berkerut. Itu bukan suara putra bungsunya. "Siwon."
"Ya, ini aku."
"Ada apa?"
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Tentang Sehun?" Hyura menanggapi keseriusan Siwon dengan santai. Siwon mengangguk cepat. "Ah duduklah, bicaralah yang cepat aku mohon. Aku sedang sibuk."
"Kau sudah tahu tentang rencana Sehun?"
"Hmm."
"Kau setuju?"
"Tentu saja."
"Hyura apa kau tahu pola didikmu sudah menghancurkan masa depan putra bungsumu?" Siwon menatap perempuan yang pernah hidup bersamanya selama dua puluh tahun itu dengan serius.
"Kau terlalu serius Siwon, tidak baik untuk kesehatanmu terutama jantung dan tekanan darah. Santai saja."
"Hyura kau ibu yang tidak becus!"
"Pergilah Siwon, dan cukup tutup mulutmu. Masa depan Sehun tidak hancur lihat dan tunggulah, aku tahu siapa Sehun. Aku ibunya."
"Aku ayahnya."
Hyura pura-pura menguap untuk menunjukkan rasa bosannya. "Percakapan ini tidak berguna, Sehun berusia tujuh belas tahun dia sudah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar."
"Jika dia bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, dia tidak akan melakukan kesalahan besar!" Siwon berteriak marah.
"Sederhana saja Siwon, semua orang tahu jika teriris pisau itu menyakitkan, tapi setiap koki di dunia ini tetap saja teriris pisau."
"Apa maksudmu?"
Hyura memutar kedua bola matanya jengah. "Maksudku meski kau sudah tahu salah-benar tetap saja kesalahan dilakukan. Nikmati saja Siwon, hidup itu naik- turun, berliku, terjatuh, pilihannya hanya menikmati atau berteriak ketakutan."
"Baiklah, kita lihat saja siapa yang menghancurkan kehidupan Sehun kau atau aku."
"Pulanglah dan urusi saja keluarga barumu."
"Astaga Hyura! Kris dan Sehun adalah putraku."
"Pergilah aku sangat sibuk sekarang dan kedatanganmu menambah beban mentalku. Astaga ada banyak hal yang harus aku periksa dalam satu hari."
"Kau masih sama Hyura."
"Tentu saja, memang aku akan berubah seperti apa? Ya, aku akui usiaku bertambah setiap tahun tapi bukankah setiap manusia di dunia ini mengalami hal itu juga?"
"Aku tidak tahu harus bicara seperti apa agar kau mengerti?!"
"Diam dan pergilah jika kau tidak tahu harus bicara seperti apa padaku." Hyura menatap Siwon tajam. Siwon keluar dengan membanting pintu kantor.
"Beruntung dia tidak bertemu dengan Sehun tadi." Hyura menggumam pelan kemudian mulai membuka majalah di hadapannya. Dengan spidol warna ia mulai menandai bagian-bagian yang tidak sesuai dan harus diperbaiki.
.
.
.
Ponsel Sehun bergetar di dalam ranselnya, ia langsung menyambar ponsel itu dan melihat siapa yang mengirim pesan. Senyum lebar langsung terbentuk, membaca nama Jongin yang tertera pada layar.
From: Baby Bear
Datanglah ke rumah jika kau ada waktu, kau ingin mendengar semua tentang apa yang terjadi padaku dan keluargaku bukan?
"Tentu saja." Ucap Sehun mengucapkan jawabannya sembari mengetik pada layar. Setelah ini ia akan pulang meminta ijin kepada Kris dan langsung pergi mengunjungi Jongin.
"Kita sampai Tuan."
"Terimakasih paman Hwanhee." Sehun berucap sopan ia mendorong pintu penumpang belakang dan melangkah keluar.
"Kupikir kau akan lama?" Kris menyambut kedatangan Sehun dengan pertanyaan.
"Hanya menandatangani kontrak saja jadi tidak lama."
"Kapan dimulainya?"
"Pekerjaanku?" Sehun melirik Kris sembari melempar ranselnya asal ke atas sofa.
"Ya." Kris menjawab singkat.
"Lusa."
"Hmmm."
"Kris hyung aku akan pindah dengan Jongin hyung."
"Huh?!" Kris yang tadi sedang tekun di depan laptop langsung menghentikan kegiatannya dan melihat Sehun. "Kau akan tinggal dengan Jongin hyung?"
"Ya, aku harus bertanggungjawab Kris hyung."
"Apa Ayah dan Ibu sudah tahu tentang rencanamu?"
"Sudah."
"Tanggapan mereka?"
"Ibu setuju, Ayah sedikit enggan. Ayah menamparku saat aku mengatakan sudah menghamili Jongin hyung."
"Aku sendiri hanya bisa berharap yang terbaik untukmu."
"Terimakasih Kris hyung. Aku ganti baju dulu dan membawa beberapa pakaian. Malam ini aku akan menginap di rumah Jongin hyung." Kris mengangguk pelan. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi mengarahkan adiknya, dan sekarang yang bisa dilakukan hanya berharap Sehun tidak membuat kesalahan lagi dan bertanggungjawab penuh atas kesalahan yang diperbuatnya terhadap Jongin.
Sehun berlari cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia membuka pintu lemari mengambil celana kain hitam dan kaos putih. Ia aka menggunakannya untuk tidur. Sehun tidak pernah suka memakai piyama untuk tidur itu kebiasaannya sejak kecil. Dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil peralatan mandi.
"Kris hyung aku pergi dulu."
"Kau tidak makan dulu?"
"Aku akan memesan dari rumah Jongin hyung."
"Hmmm." Kris hanya menggumam kemudian membalas lambaian tangan Sehun kepada dirinya.
Sehun tidak perlu menekan bel dia memiliki kunci pagar dan kunci pintu kediaman Jongin. Keadaan rumah Jongin hampir tidak ada yang berubah, itu membuat Sehun bingung barang-barang apa yang sudah Jongin pindahkan. "Halo Jongin hyung."
"Ah halo Sehun."
"Kenapa Jongin hyung mengangkat barang?!" Sehun berteriak kesal, ia jatuhkan ranselnya ke atas lantai dan bergegas menghampiri Jongin merebut kardus di tangan Jongin.
"Itu sangat ringan." Balas Jongin. Sehun tidak membalas ia memperhatikan isi di dalam kardus. Kertas-kertas dengan gambar-gambar setengah jadi.
"Apa ini Jongin hyung?"
"Ah hanya coretan-coretan saat aku mencoba menciptakan karakter baru atau cerita baru."
"Jongin hyung ingin menyimpannya?"
Jongin mengangguk pelan. "Letakkan di dekat pintu agar besok tidak terlewat."
"Baiklah." Sehun memutar tubuhnya berjalan menuju pintu masuk bermaksud meletakkan kardus milik Jongin di sana.
"Kau sudah makan malam? Aku tidak menyangka kau datang secepat ini, seharusnya kau memberi kabar dulu setidaknya aku sudah memesan makanan."
"Aku lupa." Balas Sehun. "Biar aku yang memesan makanan untuk kita." Jongin mengangguk pelan. Sehun menyusul Jongin duduk di sofa putih ruang keluarga Jongin. "Sambil menunggu pesanan kita datang, bisakah Jongin hyung mulai menceritakan semuanya padaku?"
"Aku diusir dari keluargaku karena hamil di luar nikah, kau tidak menuntutku untuk bercerita lengkap kan? Mengulang semua kata-kata tidak mengenakan itu?"
"Tidak, aku tidak akan memaksa. Jika Jongin tidak merasa nyaman?"
"Ya, aku tidak merasa nyaman. Dan jangan memanggil namaku seenakmu sendiri."
Sehun tersenyum menyebalkan mendengar kalimat Jongin. "Kalau begitu tidak usah diceritakan. Aku sudah mengerti intinya."
"Hmmm." Jongin menggumam pelan.
Sehun merubah posisi duduknya menghadap Jongin, perlahan ia genggam kedua tangan Jongin dengan lembut membuat laki-laki berkulit kecoklatan itu menatapnya bingung. "Mulai sekarang ingatlah, kita keluarga jangan merasa sendiri lagi. Aku keluargamu dan aku tempat Jongin hyung untuk pulang begitupun sebaliknya."
Jongin terpaku untuk beberapa saat. "Apa kepalamu terbentur?"
Sehun kembali menunjukkan tatapan datarnya. "Anggap saja seperti itu." ucapnya sambil melepaskan genggaman tangannya dari Jongin.
"Terimakasih." Bisik Jongin.
Sehun menoleh cepat dengan ekspresi bingung. "Apa Jongin hyung mengatakan sesuatu?!"
Jongin menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa selain pertanyaan apa kepalamu terbentur tadi."
"Benarkah?!"
"Ya."
"Sepertinya aku mendengar sesuatu."
"Kau yang salah dengar, sudah pesan saja makanan aku lapar." Sehun berdiri dari sofa dan melangkah cepat meninggalkan Sehun.
"Kemana?!" pekik Sehun.
"Mengambil biskuit cokelat, kau mau?!"
"Tidak! Makan saja di ruang makan jangan membawanya ke sini!" Sehun berteriak kencang karena apapun yang berbau cokelat membuatnya mual. Sehun menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. "Semoga anakku yang lahir nanti adalah anak yang manis dan menyayangiku, ya ampun, aku tidak bisa makan dengan bebas sekarang. Sehun jangan mengeluh, kau menginginkan ini." Sehun memperingatkan dirinya sendiri seperti orang linglung.
TBC
Terimakasih atas kesediaan waktu para pembaca sekalian yang sudah bersedia membaca cerita saya. Terimakasih kepada Bellasafir48ExoL, kaerinkartika, whitechrysan, laxyvords, youngimongi, NishiMala, elferani, ariska, cherry, cute, mimi, LulluBee, kimkai88, RHLH17, WyfZooey, saya sayya, Athiyyah417, ParkJitta, vipbigbang74, ucinaze, ade park, Baegy0408, KimRyeona19, typo's hickeys, Tikha Semuel RyeoLhyun, yuvikimm97, tobanga garry, NisrinaHunkai99, MooN48, Grey378, YongHee0104, Devia494, Mizukami SakuraChan, htyoung, ohkim9488, Kim Jongin Kai, vivikim406, ulfahcuittybeams, jjong86, chanzhr, exoldkspcybxcs1, milkylove0000170000, fitrysukma39, cokelat, saniathbbbv, novisaputri09, sayakanoicinoe, geash, SparkyuELF137, atas review kalian sampai jumpa di chapter selanjutnya.
