Cast : Shim ChangMin dan Cho KyuHyun
(ChangKyu)
Rating : M (aman untuk chapter ini)
Warning : OOC, GAJE, ABAL, TYPO(S), MPREG, ngebosenin dan…YAOI! So, yang gak suka harap jauh – jauh! Satu lagi, Alur cukup lambat^^
Bagi yang tidak suka YAOI a.k.a Boy x Boy harap menjauh dari fic ini. Tidak melayani genderswitch!
Dan yang tidak suka jika Changmin dan Kyuhyun berpasangan atau jadi couple harap segera angkat kaki. Silahkan pergi jauh-jauh! Tidak melayani bash atau protes merugikan.
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 10
.
.
Kyuhyun masih terisak pelan, meskipun air matanya sudah berhenti mengalir di pipi-nya yang kelihatan lebih pucat. Namja manis itu masih memeluk erat tubuh Changmin. Seperti takut jika namja tampan yang dia cintai itu tiba-tiba hilang meninggalkannya. Memikirkan kemungkinan seperti itu, membuatnya sungguh ketakutan. Dia tidak akan bisa kuat jika menghadapi masalah ini sendiri.
Sedangkan Changmin mulai khawatir melihat wajah putih Kyuhyun yang menjadi agak pucat. Tubuh namja manis itu agak menggigil. Itu wajar, karena mereka ada di tempat terbuka dan hari mulai menjelang malam. Namja manis dalam pelukannya harus segera pulang, jika tidak ingin sakit. Tetapi, merasakan gesture tubuh Kyuhyun yang memeluknya sangat erat, seolah tidak ingin melepaskannya, membuatnya perasaannya semakin khawatir.
Changmin pun mengulurkan tangannya untuk mengambil tas sekolahnya. Untunglah ada di dekatnya, sehingga dia bisa mengambilnya tanpa melepas pelukannya pada Kyuhyun. Namja tampan itu segera membuka tasnya dan mengeluarkan jaketnya yang selalu tersimpan rapi di sana. Melihat jaket itu, dia jadi ingat tentang pertemuan mereka. Namja tampan itu tersenyum kecil.
Kyuhyun mendongak melihat Changmin yang melakukan pergerakan tadi. Dia melihat Changmin memakaikan sebuah jaket padanya.
Setelah selesai memakaikan jaketnya, Changmin mengusap pipi chubby Kyuhyun. Dia melihat mata caramel Kyuhyun yang masih berkaca-kaca dan sekarang agak bengkak karena terlalu banyak menangis. Hatinya seolah terasa diremas sedemikian keras melihat wajah namja manis itu tak bercahaya dengan mata yang redup.
"Aku minta maaf karena tidak menghubungimu ataupun memberi kabar padamu dalam waktu cukup lama,"
Changmin menarik nafas sejenak.
"Aku mempunyai banyak urusan belakangan ini dan aku ingin segera menyelesaikannya. Kau tahu? Aku ingin mempunyai waktu lebih banyak bersamamu, maka dari itu aku ingin cepat menyelesaikannya. Sehingga tak akan ada yang menganggu waktuku saat bersamamu,"
Kyuhyun menunduk, merasa hatinya agak menghangat dengan pernyataan Changmin. Dia menarik tipis garis senyum di bibirnya. Tersenyum lepas menjadi sangat sulit sekarang.
Melihat mendung masih menggelayuti wajah namja manis di pelukannya, Changmin segera memegang ke dua belah pipi Kyuhyun, agar namja manis itu mau melihatnya.
"Apa yang telah terjadi selama aku tidak bersamamu, Kyuhyunie?" tanya Changmin dengan ekpresi serius. Dia tak tahan jika harus melihat wajah kesakitan Kyuhyun.
Changmin melihat sudut-sudut mata Kyuhyun mulai kembali berkaca-kaca.
"Aku mohon jangan menangis lagi. Aku tidak bisa melihatmu dengan air mata kesakitan seperti itu, Kyu,"
Namja tampan itu segera memeluk Kyuhyun kembali. Namja manis itu hanya diam. Dia berusaha menghirup nafas banyak-banyak untuk bisa memberitahu apa yang terjadi.
"Hyung," panggil Kyuhyun pelan. Suaranya terdengar parau dan kering karena terlalu banyak menangis.
Changmin mengangguk mendengar panggilan Kyuhyun.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya lalu memejamkan matanya sejenak. Dia mendongak untuk melihat Changmin yang juga melihatnya. Dia harus bisa mengatakannya.
"Hyung, aku-aku…"
"Katakanlah, Kyu, ada apa? Aku mohon," kata Changmin terdengar mengiba.
Namja manis itu menarik nafas sejenak, dia menatap sebentar mata Changmin.
"A-aku hamil, hyung," bisik Kyuhyun. Dia tak yakin kata-katanya bisa di dengar Changmin. Dia tak berharap banyak. Kyuhyun kembali menunduk dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
Tetapi Changmin mendengarnya meskipun suara Kyuhyun terdengar seperti bisikan. Matanya melebar syok dengan kalimat itu. Dengan tangan yang gemetar, namja tampan itu berusaha memegang dagu Kyuhyun untuk melihat wajah namja manis itu.
"Kyu,"
"Maafkan aku, hyung! Aku tidak tahu kenapa begini jadinya. Aku tidak tahu. Maafkan aku!" pekik Kyuhyun memegang erat-erat bagian depan blazer sekolah Changmin.
Changmin memejamkan matanya sejenak, lalu segera mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun. Pikirannya melayang pada memori malam itu. Dia tidak memprediksikannya sama sekali. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya, menjadikan Kyuhyun miliknya dan selalu bersamanya. Tubuh dan perasaan. Tetapi, jika mereka melakukannya dan berakhir seperti ini, itu adalah resikonya.
Namun, bukan Kyuhyun yang harusnya meminta maaf. Ini semua adalah salahnya. Sisi egoisnya yang membuat Kyuhyun harus menanggung akibat perbuatan mereka malam itu. Changmin merasa sangat bersalah.
"Maaf, maafkan aku, hyung. Maafkan aku," gumam Kyuhyun berulang-ulang. Suaranya terdengar sangat putus asa dan makin parau.
"Shh, aku mohon jangan meminta maaf, Kyu. Ini adalah salahku bukan salahmu," balas Changmin. Dia segera menciumi rambut almond namja manis itu dan mengusap-usap punggung Kyuhyun untuk menenangkannya.
Kyuhyun hanya membalas perkataan Changmin dengan semakin mendekap erat tubuh Changmin. Pikirannya sangat kalut. Dia tak tahu harus bagaimana. Yang dia inginkan sekarang hanya memeluk Changmin.
Changmin diam beberapa saat. Sebenarnya pikirannya sama kalutnya saat ini, tetapi dia harus bisa berpikir lebih baik, lebih jernih. Dia memikirkan baik-baik tindakan apa yang harus dilakukannya. Meskipun dengan hamilnya Kyuhyun itu di luar prediksinya, tetapi melakukannya dengan namja manis itu, adalah salah satu keinginannya. Jadi dia harus mempertanggung-jawabkannya. Bukankah dengan adanya bayi di antara mereka itu akan semakin mengikat mereka berdua?
Changmin kembali memejamkan matanya. Dia ingat dengan usia mereka, sekolahnya, statusnya, terutama orang tua mereka. Ini benar-benar tidak akan mudah. Tapi, tidak! Dia tidak akan mundur. Dia akan menghadapinya. Sekarang dia hanya perlu memastikan beberapa hal pada Kyuhyun. Mereka harus saling menopang jika ingin bisa menghadapi ini bersama-sama.
"Kyu, aku mohon lihat aku," kata Changmin lalu tangannya menyentuh pipi Kyuhyun yang basah. Namja tampan itu mengusap perlahan air mata itu lalu menciumnya.
Kyuhyun agak tersentak dengan kecupan Changmin di pipinya. Mata bulatnya segera melihat Changmin yang telah menatapnya dengan sorot mata penuh keyakinan dan tekad. Namja manis itu merasa dirinya terasa aman seketika saat melihat sorot mata itu. Dia mengeratkan genggamannya.
"Aku ingin mengetahui, bagaimana sekarang kondisi di sekitarmu. Apa orang tuamu sudah tahu?" tanya Changmin memulai pembicaraan serius mereka.
Kyuhyun menunduk sedikit lalu melihat Changmin lagi. Dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab
"Lalu apa reaksi mereka?" lanjut Changmin.
"Mereka, Appa dan Umma sangat terkejut. Appa sangat marah, aku hanya melihatnya dari ekspresi wajah Appa. Tetapi Appa sama sekali tidak memarahiku. Umma, dia hanya memelukku dengan wajah yang sangat sedih. Umma berusaha untuk tidak menangis. Aku-aku, merasa sangat bersalah dengan sikap mereka yang sama sekali tidak memarahiku habis-habisan atau membentakku. Sikap mereka terlalu baik jika dibandingkan hal yang telah aku lalukan. Mereka pasti sangat kecewa, tapi…"
Kyuhyun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat.
"Shh, tidak apa-apa. Mereka sangat menyayangimu. Kau pasti tahu itu," kata Changmin kembali mengusap surai Kyuhyun. Namja manis itu mengangguk membenarkan.
"Lalu apa yang menyebabkan kau menangis sangat lama seharian ini? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Changmin lagi. Namja tampan itu bersiap untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Hari ini-" Kyuhyun mencoba menghirup nafas dalam-dalam. Ingatan yang terjadi tadi pagi di kelasnya membuatnya kembali sakit. "Kepala sekolah dan dokter sekolah telah mengetahui kehamilanku. Tetapi, mereka sangat baik. Kepala sekolah memberikanku kesempatan untuk tetap sekolah sampai ujian negara selesai. Dokter sekolah juga telah berjanji akan menjagaku. Tapi-" Kyuhyun kembali menghirup nafas, "Aku tak tahu, bagaimana bisa, terjadi, hyung. Pagi ini, teman-teman di kelasku mengetahuinya. Mereka tidak bisa menerimanya. Aku-aku tak bisa menghadapinya,"
Namja manis itu memejamkan matanya erat-erat untuk mengurangi sesak di dadanya.
Changmin menegang mendengar semua penuturan namja manis itu. Tidak bisa dipungkiri, dia sangat terkejut dan tidak menyangka kondisi di sekeliling namja manis itu sudah sedemikian buruk. Dia segera memegang kedua belah pipi Kyuhyun.
"Kyu, kau percaya padaku?" tanya Changmin.
Kyuhyun membuka matanya melihat sorot mata Changmin masih sama. Penuh keyakinan dan tekad. Dia hanya diam tetapi menganggukkan kepalanya. Changmin tersenyum dengan jawaban itu.
"Aku ingin kita menghadapi ini bersama, Kyuhyunie. Kau mau berjuang bersamaku?" tanya Changmin lagi.
Kyuhyun melebarkan matanya. Apakah yang didengarnya dari mulut Changmin itu sungguhan?
"Kau mau, kan?" ulang Changmin.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Dia tak yakin mengingat kondisi mereka. Usia mereka, orang tua mereka, anggapan orang-orang, semua itu tiba-tiba membuatnya sakit kepala.
"Hyung, apa kau yakin? Bagaimana dengan orang tua kita, anggapan orang-orang di sekitar kita, lalu-"
"Aku tidak peduli dengan semua itu, Kyu! Asal kau yakin bisa menghadapinya. Kita pasti bisa menghadapinya. Itu yang harus kau yakini. Aku-aku hanya ingin selalu bersamamu. Aku tidak peduli dengan semua orang, jika aku bisa bersamamu," balas Changmin dengan serius. Namja tampan itu lalu tersenyum dan mengusap pipi Kyuhyun.
Namja manis itu tersentak dengan kalimat Changmin. Apakah dia tidak salah dengar, saat Changmin bilang dia ingin selalu bersama dengannya? Kyuhyun tak tahu dari mana asalnya, tetapi mendengar kalimat itu, perasaanya dibanjiri dengan kehangatan dan kebahagian. Beban yang menindih pundaknya terasa diangkat pelan-pelan.
"Aku ulangi sekali lagi, Kyu-ie. Kau mau berjuang bersamaku, kan?"
Dan sekarang, keraguannya menghilang. Kyuhyun mengangguk yakin.
"Aku mau, hyung," jawabnya.
Changmin tidak bisa menutupi kelegaannya. Dia segera memeluk Kyuhyun erat-erat. Namja tampan itu lalu mencium dahi Kyuhyun cukup lama untuk menyalurkan perasaan kasih sayangnya. Changmin menunduk untuk melihat perut Kyuhyun yang masih rata. Dia tersenyum kecil, mengetahui sekarang ada bayi yang akan mengikat mereka berdua. Tangan kirinya bergerak mengusap perut namja manis itu.
Kyuhyun memejamkan matanya menikmatinya. Usapan Changmin diperutnya membuatnya sangat nyaman. Namja manis itu merasa perasaannya lebih ringan sekarang. Dia merasa tempat paling nyaman memang berada dalam pelukan Changmin.
"Kyu, mulai hari ini kita telah berjanji untuk menghadapinya bersama-sama,"
Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Changmin.
"Aku ingin menemui orang tuamu malam ini," lanjut Changmin.
Kyuhyun menegakkan tubuhnya terkejut dengan kalimat Changmin.
"Hyung, kau-apa kau, serius?"
"Aku serius. Aku tak tahu besok akan bagaimana situasinya. Bisa saja lebih buruk. Maka dari itu, aku harus meyakinkan mereka, aku serius denganmu. Setelah tahu reaksi orang tuamu, aku akan menghadapi orang tuaku,"
Kyuhyun merasa lidahnya kelu. Dia diam tak tahu harus menanggapi bagaimana. Tapi, memang benar kata Changmin, cepat atau lambat, mereka harus menghadapinya.
Changmin lalu menggenggam tangan Kyuhyun erat-erat untuk saling menguatkan.
.
.
ChangKyu
.
.
Kangin membuka pintu rumahnya dengan wajah cemas. Gurat-gurat kelelahan dan kekhawatiran jelas tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Pihak sekolah baru saja memanggilnya dan memberitahu insiden yang terjadi di kelas Kyuhyun pagi ini. Belum ada keputusan mengenai nasib anak bungsunya ke depan. Hal itu tentu saja membuatnya sakit kepala.
Hal tersebut diperparah dengan menghilangnya Kyuhyun sejak tadi pagi. Pihak sekolah hanya mengatakan setelah insiden yang terjadi di kelasnya, Kyuhyun pergi dari sekolah. Itu juga alasan rasa lelah mendera Kangin. Sejak siang hingga sore hari dia mencari anak bungsunya ke berbagai tempat. Tapi hasilnya juga nihil. Dia merasa berada di titik di mana dia tak tahu harus melakukan apa.
Kangin melangkah gontai ke dalam rumah. Leeteuk yang melihatnya, segera menghambur memeluknya. Dia hanya dapat mengusap-usap bahu istrinya untuk meredakan isakan Leeteuk. Dia juga melihat anak sulungnya hanya berdiri diam di dekat sofa ruang keluarga. Wajah anak sulungnya pun tidak berbeda ekspresi dengan ibunya. Semuanya sangat cemas dan khawatir.
"Kangin-ie bagaimana? Kenapa kau pulang sendirian? Di mana Kyuhyun?" tanya Leeteuk terdengar parau. Tangannya memegang bahu suaminya untuk meminta kepastian. Tetapi, Leeteuk tahu dari wajah Kangin yang terlihat sama putus asanya, dia tahu jawabannya.
Leeteuk menundukkan kepalanya dengan lemas. Dia terisak pelan di bahu suaminya.
"Maaf, aku belum menemukan Kyuhyun," jawab Kangin lirih.
Leeteuk kembali mendongak menatap mata suaminya, "Kalau begitu, sekarang kita lapor polisi! Aku-aku sangat cemas. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, Kangin-ie!"
"Iya, aku tahu. Bersabaralah sebentar lagi. Kita tunggu sampai tengah malam. Jika tidak ada kabar apapun, kita segera lapor polisi,"
"Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu!"
"Tenanglah, Teuk-ie. Tidak hanya kau yang cemas-"
Ting! Tong!
Kangin dan Leeteuk refleks mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu rumah. Mereka segera membuka pintu dengan perasaan was-was.
Setelah pintu terbuka, Kangin hanya diam melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang pemuda sekolahan dan anak bungsunya?
"Kyu," panggil Leeteuk terdengar lega dan segera bergegas ingin memeluk anak bungsunya. Tetapi, pergerakannya dihentikan oleh genggaman tangan Kangin pada tangannya. Leeteuk menatap suaminya tak mengerti. Kangin hanya diam masih dengan pandangan tak lepas dari kedua anak di depannya. Leeteuk dapat merasakan suaminya sedang mencoba membaca situasi yang terjadi. Akhirnya tanpa banyak bertanya dia menuruti isyarat suaminya untuk diam.
Mata Kangin bergerak mengamati kedua anak di depannya. Pemuda yang tepat berada di depannya menundukkan badannya sedikit memberikan salam padanya. Dia melihat tangan Kyuhyun yang bertautan erat dengan tangan pemuda itu. Kangin mengerutkan dahinya melihat interaksi tersebut. Matanya sekarang melihat Kyuhyun yang agak menundukkan wajahnya. Wajah anak bungsunya terlihat agak pucat dengan mata bengkak. Tanpa bertanya, dia dapat menebak apa yang telah terjadi.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Cho. Mohon maaf mengganggu. Saya, Shim Changmin,"
Kyuhyun refleks meremas kuat genggaman tangannya pada Changmin. Namja tampan itu membalas remasan Kyuhyun untuk menenangkan namja manis itu.
Kangin masih diam belum berniat membalas sapaan Changmin. Dia masih menunggu.
Changmin menyadari hal tersebut. Dia menghirup nafas pelan, lalu menegakkan tubuhnya agar tidak terlihat seperti seorang pengecut. Jujur, ini tidaklah mudah. Dia merasa sangat tegang, khawatir, takut, cemas, dan perasaan-perasaan negatif seolah mencengkeram erat tubuhnya. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tercekat. Namja tampan itu tahu ini tidak mudah. Sangat tidak mudah. Tetapi, dia tidak ingin kalah dengan perasaan negatif itu. Demi Kyuhyun yang telah tanpa sadar dia sakiti. Dia harus lebih kuat. Dia ingin menghadapi ini dengan kepala tegak dan penuh keyakinan.
"Tuan Cho, ada hal yang ingin saya sampaikan,"
"Katakan," balas Kangin cepat. Firasatnya sebagai seorang ayah menerka dengan cepat maksud Changmin. Tetapi dia menahan emosinya untuk mendengar sendiri dari pemuda di depannya.
Changmin mengangguk pelan lalu memandang lurus ke Kangin.
"Saya yang telah menghamili Kyuhyun-"
Plak!
Kyuhyun merasa degup jantungnya berhenti seketika mendengar suara tamparan itu. Dia melihatnya. Bagaimana ayahnya menampar Changmin dengan keras. Tubuh Changmin agak terhuyung ke belakang, tetapi namja tampan itu semakin menguatkan genggaman tangannya pada Kyuhyun.
"Hyung," panggilnya saat melihat tangan Changmin yang bebas mengusap bekas tamparan Kangin.
Namja manis itu refleks memeluk lengan Changmin erat dan tangannya ikut bergerak mengusap sudut bibir Changmin yang terluka karena tamparan Kangin. Kyuhyun memandang mata kelam Changmin dengan khawatir. Namja tampan itu hanya menatapnya dengan senyuman seolah mengatakan dia baik-baik saja.
"Kangin-ie…" gumam Leeteuk. Tetapi Kangin masih melihat lurus ke arah Changmin.
Leeteuk tak bisa berbuat apapun saat ini. Mata beningnya memandang khawatir pada Changmin. Tapi ada sisi lain yang juga merasa sangat marah dan kecewa terhadap pemuda itu. Karena pemuda itu, Kyuhyun harus mengalami masalah yang sangat pelik.
Changmin kembali menegakkan tubuhnya lalu kembali berhadapan dengan Kangin. Sorot mata Kangin masih sama. Emosi yang menyala-nyala.
"Saya tahu, saya telah melakukan kesalahan sangat besar. Menyakiti Kyuhyun hingga seperti ini. Membuatnya berada dalam masalah yang seharusnya tidak dia alami-" Changmin menghirup nafas pelan.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. Baginya ini bukan hanya salah Changmin. Tidak sama sekali. Dia juga salah. Seandainya dia bisa menahan perasaannya…
Changmin menghembuskan nafas pelan, "Tetapi, saya melakukannya karena Kyuhyun sangat berharga untuk saya. Saya mohon maaf atas kekhilafan besar yang telah saya lakukannya padanya. Saya akan bertanggung jawab dengan seluruh hidup saya,"
Kyuhyun tersentak untuk kesekian kalinya. Matanya yang berkaca-kaca memandang Changmin yang masih menegakkan kepalanya. Namja manis itu dapat melihat sorot mata Changmin yang tajam penuh keseriusan. Tidak ada keraguan apalagi ketakutan. Kenapa Changmin bisa seperti itu? Kenapa dia bisa sekuat itu menghadapi masalah ini? Dan apakah benar jika dirinya sangat berharga untuk namja tampan yang sedang menggenggam erat tangannya itu?
"Teeuk-ie, bawa Kyuhyun masuk!" ucap Kangin dengan pandangan masih lurus ke depan.
Kyuhyun mengalihkan pandangan ke arah ayahnya. Kenapa tiba-tiba ayahnya memerintahkannya untuk masuk ke dalam rumah? Sedangkan Leeteuk melihat suaminya untuk memastikan apa yang didengarnya benar.
"Cepat!"
Leeteuk agak tersentak, lalu dengan segera berjalan dengan mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. Namja manis itu diam melihat uluran tangan Umma-nya. Dia merasakan tak ingin melepaskan genggaman tangan Changmin. Tidak, jika dalam kondisi seperti ini, di mana mereka harus saling menguatkan.
"Ayo, Kyu," ajak Leeteuk yang telah memegang lengan Kyuhyun.
"Tapi, Umma-"
"Masuk, Kyuhyun!" perintah Kangin tegas.
Kyuhyun segera memandang Changmin meminta bantuan untuk tetap menggenggamnya. Namja tampan itu balas memandangnya masih tersenyum.
"Masuklah, Kyu. Kau percaya padaku, kan?" ucap Changmin dengan lembut untuk meyakinkan Kyuhyun.
Namja manis itu masih memandang Changmin dengan ekspresi khawatir. Tetapi, jika Changmin percaya dengan dirinya sendiri, bukankah dia juga harusnya bisa mempercayai namja tampan itu? Kyuhyun dapat merasakannya. Merasakan bahwa hati kecilnya memintanya mempercayai Changmin. Akhirnya dia mengangguk untuk membalas pertanyaan Changmin.
Namja tampan itu melepaskan genggaman tangan mereka. Dia mengulurkan tangan Kyuhyun pada Leeteuk yang langsung memegang tangan Kyuhyun.
Orbs kelam Changmin mengikuti pergerakan Kyuhyun yang berjalan mengikuti ibunya. Dia melihat Kyuhyun menghentikan langkah tepat di belakang ayahnya. Namja manis itu menoleh untuk melihatnya. Changmin menganggukkan kepalanya sekali lagi untuk menyakinnya. Kyuhyun tersenyum lalu kembali berjalan mengikuti ibunya.
Sekarang Changmin kembali melihat Kangin yang tidak mengubah ekspresi kerasnya sama sekali.
"Tuan Cho, saya bersungguh-sungguh dengan kata-kata saya tadi. Saya mohon Anda dapat memberikan kesempatan. Saya sangat tahu saya tidak dapat mengembalikan keadaan seperti semula. Tetapi, saya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang saya lakukan,"
Changmin segera membungkuk dalam setelah mengucapkan kalimat-kalimatnya tadi. Dia mengepalkan tangannya erat merasa sangat tegang menunggu jawaban Kangin.
"Aku membesarkannya tidak untuk kau hancurkan. Lalu sekarang setelah apa yang kau lakukan, dengan mudahnya kau bilang ingin meminta kesempatan?" balas Kangin tajam. Matanya berkilat penuh emosi tetapi dia berusaha mengendalikan amarahnya. Dia masih ingat untuk tidak mengedapankan ego atas pikiran rasionalnya. Seperti apa yang pernah Leeteuk sampaikan padanya, jangan sampai ego itu akan membuatnya menyesal kelak. Dia ingin melihat sejauh apa pemuda di depannya ini berusaha.
"Karena saya yang telah berbuat, memang saya yang harus memperbaikinya. Itu adalah janji saya," ucap Changmin serius masih dengan menundukkan tubuhnya.
"Tegakkan badanmu!" kata Kangin.
Changmin segera menegakkan kembali tubuhnya dan masih disambut dengan sorot tajam Kangin. Tetapi, Changmin dapat melihat sorot mata Kangin sekilas melunak. Itu tidak bisa langsung membuatnya yakin bahwa Kangin telah menerima permohonannya.
"Aku tidak butuh kau yang banyak bicara, anak muda. Buktikan saja apa yang bisa kau lakukan untuk memenuhi janjimu. Aku akan melihat sejauh mana usahamu hingga aku yakin, kau pantas menerima kesempatan dariku," jawab Kangin atas permintaan Changmin.
Namja tampan itu tertegun sesaat. Otaknya berusaha mencerna baik-baik tiap kata yang Kangin ucapkan. Bukankah itu adalah kesempatan secara tersirat yang diberikan Kangin padanya? Changmin menarik tipis bibirnya merasa sedikit lega. Dia berpikir memang benar apa yang Kangin ucapkan, yang terpenting adalah usahanya untuk membuktikan kata-katanya.
Changmin menundukkan tubuhnya sekali lagi.
"Terima kasih, Tuan Cho. Saya akan berusaha dengan sebaik mungkin,"
.
.
ChangKyu
.
.
Kepala Sekolah Kim memandang ayah dan anak di depannya dengan pandangan simpati. Anak didiknya yang merupakan murid paling berprestasi di sekolahnya harus berakhir di sekolah ini dengan cara seperti ini, tentu bukanlah akhir yang bagus. Tetapi, bukankah manusia pun tidak bisa memprediksi secara tepat bagaimana takdir itu bertindak?
Kepala Sekolah Kim menghembuskan nafas perlahan untuk mengurangi ketegangan tubuhnya.
"Tadi pagi, saya bersama dewan guru dan beberapa perwakilan yayasan sekolah telah mengadakan rapat khusus untuk membahas sikap apa yang harus kami putuskan, Tuan Cho. Saya mohon maaf jika hasilnya tidak bagus. Tetapi, itu sudah merupakan keputusan kami. Saya harap, Anda dan Kyuhyun-ssi dapat menerimanya dengan baik,"
Kepala Sekolah Kim menyerahkan surat pada Kangin yang melihatnya dengan pandangan pasrah tapi tetap tegar. Kangin menganggukkan kepalanya pelan lalu menerima surat itu. Tanpa membuka isinya, pun Kangin telah mengetahui dengan tepat apa isi surat tersebut. Dia tak bisa melakukan apapun lagi sekarang untuk membuat anak bungsunya sekolah di sini.
Kyuhyun yang menundukkan kepalanya sedari tadi, melirik dari ekor matanya surat yang diterima ayahnya. Namja manis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan sesak di dadanya. Apakah memang harus seperti ini akhir sekolahnya di sini? Apakah ini nyata? Bukan mimpi? Berkali-kali berpikir pun, yang dia hadapi adalah kenyataan. Setiap pagi saat dia bangun dan memeriksa semua kondisi yang berputar di sekelilingnya, keadaan masih sama. Ini bukan mimpi dan dia harus bisa menerima kenyataan itu sekarang. Dia memang harus mau berkompromi dengan keadaan. Itu yang terpenting untuk dilakukan sekarang. Dia ingat, dia masih harus berjuang dengan Changmin.
Menyadari keheningan di sekelilingnya, Kepala Sekolah Kim berdehem sekilas.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda untuk menyerahkan pendidikan Kyuhyun-ssi kepada kami. Saya mengucapkan terima kasih atas segala prestasi yang telah diberikan Kyuhyun-ssi kepada sekolah. Saya mohon maaf, tidak bisa mengakhiri proses belajar Kyuhyun-ssi secara baik. Saya dan segenap dewan guru akan selalu mendoakan kebaikan menyertai Kyuhyun-ssi,"
Kangin menganggukkan kepalanya sekali lagi lalu segera menjabat tangan Kepala Sekolah Kim.
"Saya yang harusnya meminta maaf atas peristiwa yang telah terjadi. Terima kasih atas bantuannya selama ini. Saya mohon undur diri,"
Kyuhyun berusaha tersenyum pada kepala sekolah lalu mengucapkan terima kasih mengikuti ayahnya. Dia sangat tahu bahwa kata-kata ayahnya menegaskan padanya bahwa masa remajanya di sekolah ini memang telah berakhir.
.
.
TBC
Mohon maaf kalau banyak typo. Sudah males ngecek lagi.
Oh, ya jika mungkin ada yang membaca dari awal lagi, mungkin akan menemukan beberapa perubahan di chapter awal-awal. Saya hanya membenarkan penulisan dan mengedit typo yang berserakan. Selebihnya sama saja.
Oh, ya emm, saya cuma mau memberitahu sedikit. Meskipun ini story line saya ambil dari dorama 14 Say no Haha, karakter para cast tidak akan sama persis seperti doramanya. Saya membuat Changmin lebih 'gentle' daripada Kiri. Juga untuk Kyuhyun tidak sedewasa Miki. Semoga tetap bisa dinikmati ceritanya...
Thanks so much for all of you who read, rev, fav, and foll my fic/deepbow/
