My Secret Girl
by
Umie Solihati
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
WARNING: AU, OOC, TYPO, DLL.
Happy reading :)
.
"Itachi!" Sasuke memanggil nama lelaki itu dengan penuh penekanan. Mata kelamnya masih menatap tajam pada kedua sejoli yang sedang duduk sambil berpelukan- sepihak, itu. Ditatap dengan intens seperti itu, Hinata semakin gugup dan mungkin takut. Dengan tubuh yang sedikit gemetar, ia mulai berbicara untuk menjelaskan keadaannya sekarang. Walau dia sendiri tidak tahu kenapa ia harus melakukan hal ini.
"Sa-sasuke, i-ini ..." ucapnya terbata sambil mencoba melepaskan pelukan dari lelaki yang dipanggil Itachi itu. Namun respon sebaliknya lah yang didapat Hinata. Lelaki berambut hitam panjang itu malah semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya. Membuat gadis itu semakin susah terbebas.
"Hai," sapanya santai. Ia melanjutkan lagi, "Aku tidak tahu kalau calon tunanganmu ehem-maksudnya mantan calon tunanganmu secantik ini. Dia juga hangat," ucapnya sambil memberikan senyuman yang terlihat sangat menjengkelkan di mata Sasuke. Gerah dengan pemandangan itu, dengan cepat Sasuke melangkahkan kakinya menghampiri mereka.
"Lepaskan!" pinta Sasuke dingin.
"Tidak mau," tolak Itachi.
"Baka ainiki!" ancamnya penuh penekanan yang tak dihiraukan sama sekali oleh Itachi.
Sementara disisi Hinata, ia sedikit kaget dengan panggilan Sasuke barusan. Ia menatap Itachi dalam-dalam. Lalu memperhatikan Sasuke dengan teliti. Setelah beberapa saat ia dapat menyimpulkan kejadian dan keadaan ini. Pantas saja mirip, mereka sodara, batinnya. Walaupun Sasuke terlihat lebih putih sih.
"Hey dia 'kan sudah jadi mantan tunanganmu, ku rasa tidak jadi masalah jika sekarang aku yang menjadi calon tunangannya, iya kan Hinata-chan?" Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu Hinata semakin membelalakkan mata tak percaya. Bagaimana bisa laki-laki didepannya ini bicara seperti barusan. Apa keluarga Uchiha itu memang seperti ini. Seenaknya bicara tanpa memikirkan hal dan keadaan sekitar.
"I-itu, aku kan bukan piala bergilir," jawab Hinata yang membuat kedua lelaki itu terdiam. Hinata sendiri tak menyangka jawabannya bisa melerai mereka berdua hingga membuat suasana menjadi hening dan canggung. Cukup lama dengan situasi ini, akhirnya lelaki bernama Itachi itu melakukan sebuah gerakan. Ia melepaskan pelukannya dari Hinata, lalu ia berjalan menuju Sasuke serta berdiri didepannya.
"Hinata benar, dia bukan sebuah piala. Jadi kau harus melakukan sesuatu agar dia tidak menjadi seperti piala," ujarnya serius. Sasuke mendelik,
"Aku tahu, untuk itu aku kemari. Tapi aku tidak menyangka kau akan pulang secepat ini dan menemui Hinata. Shikamaru, benar 'kan?" Itachi tersenyum tipis mendengar pernyataan dari pemuda yang menjadi adiknya itu.
"Yah, dia hanya memberi sedikit informasi, untuk selanjutnya aku menggunakan koneksiku. Kau tahu 'kan aku pasti selalu mengawasimu." Sasuke memutar bola matanya bosan. Itachi adalah kakak yang selalu mengawasinya seperti anak kecil. Bukan cuma itu, Itachi juga sering memperlakukannya seperti seorang yang selalu membuat onar, walau tak dipungkiri itu tidak semuanya salah. Menjengkelkan tapi begaimana pun kakaknya, Sasuke tetap menyayanginya. Uuh, terdengar sangat melankolis bukan? Hubungan kakak-adik yang manis.
Itachi kembali menggerakan kakinya. Ia berjalan pelan melewati Sasuke menuju pintu keluar.
"Aku akan membantumu menyelesaikan hal lain, kau selesaikan saja masalahmu dengan Hinata," ucapnya sembari mendelik pada Hinata yang kini sudah beridiri tak jauh dari Sasuke. Seulas senyum hangat ia berikan pada gadis itu. Setelah itu Itachi mulai membuka pintu untuk keluar.
"Kau selalu seperti itu." Gerakan tangan Itachi yang akan menutup pintu sedikit terhenti kala mendengar suara adiknya. Ia tersenyum miring ...
"Ku tunggu ucapan terimakasihnya."
Blaaammm ...
Pintu pun tertutup dan kini menyisakan sepasang manusia itu. Sasuke berbalik, dan mereka pun bertatapan. Kedua bola mata yang sangat kontras itu saling mencari sesuatu dalam pancarannya.
"Hinata ..." Sasuke berujar pelan kala Hinata membuang muka kesamping untuk menghentikan atau mungkin menghindari tatapan mata kelam milik Uchiha bungsu itu.
"Ada apa? Bukankan ayah sudah membatalkan pertunangannya." Suara halus itu terdengar bergetar ditelinga Sasuke walau pemuda tampan itu tahu Hinata berusaha agar suaranya tidak terdengar demikian. Sasuke mendekat.
"Dengarkan aku."
"Ti-tidak! Jangan mendekat." Hinata merutuki suaranya yang kembali gagap. Harusnya ia terlihat kuat didepan Sasuke. Jika ia terlihat lemah begini akan memalukan. Setidaknya setelah kalah bertaruh dia tidak boleh terlihat menyedihkan.
Ia terus berjalan mundur agar jaraknya dan Sasuke jauh, tapi lelaki itu malah terus mendekatinya. Bahkan kini seringainya muncul dan membuat sulung Hyuuga itu semakin gugup. Sebenarnya apa yang dipikirkan Sasuke sekarang, batinnya menjerit.
"Padahal tadi tidak gugup, kenapa sekarang jadi gugup?" tanya Sasuke yang membuat Hinata kalang kabut. Sasuke sendiri malah semakin menyeringai melihat tingkah Hinata yang terlihat manis ini.
Brughhh ...
Karena terus berjalan mundur, Hinata tidak sadar kalau lantai untuk berjalan terhalangi oleh tempat tidurnya. Alhasil, kini ia tepat terjatuh diatas kasurnya itu dengan posisi terlentang. Beruntung bukan? Tapi tidak kali ini karena Sasuke sudah berada diatasnya. Bahkan kini pemuda itu tiba-tiba saja meletakan kepalanya di dada Hinata dan sialnya tubuh gadis itu malah tidak bergerak sama sekali untuk menolak. Oh Tuhan, musibah apalagi ini?
"Jantungmu berdegup kencang, tubuhmu juga bergetar, apa kau sakit Hime?" ucapnya santai tanpa mempedulikan kondisi Hinata yang mungkin sudah gugup maksimal.
"Ti-tidak. Se-sebenarnya apa yang kau inginkan? Dan tolong jangan seperti ini!" pintanya dengan wajah yang merah padam. Sasuke mendongak melihat gadis itu. Wajahnya seperti buah tomat kesukaannya saja. Sasuke semakin suka dengan keadaan ini, sedangkan Hinata semakin salah tingkah. Padahalkan gadis itu sudah berencana supaya tak berhubungan lagi dengan bungsu Uchiha satu ini. Tapi perasaannya dan juga tingkah pemuda ini semakin membuatnya goyah akan keputusannya itu.
"Ini seperti de-javu bukan?" ucap Sasuke yang masih berada diatas Hinata. Ia menggunakan kedua tangannya yang berada di samping kepala gadis berambut panjang itu untuk menyangga badannya agar tak menimpa tubuh mungil Hinata. Bagaimanapun juga ia tak ingin membuat Hinata mati kehabisan nafas karena menanggung beban badannya. Walau sebenarnya posisi itu terlihat menyenangkan sih.
"Apa maksudmu?"
"Kejadian di sekolah, mirip 'kan? Bedanya kali ini kita berada diatas ranjang dengan posisi yang sedikit ekstrim," ucapnya menggoda, membuat Hinata semakin memerah karena mengingat hal itu.
"A-aku tidak ingat," jawab Hinata sambil memalingkan wajahnya kesamping. Jika seperti ini terus mungkin dia akan pingsan. Kami-sama, ini benar-benar memalukan.
"Tidak ingat yah. Kalau begitu ..." Masih dengan senyumnya ia memberi sedikit jeda pada kalimatnya. Ia menggerakan tangannya ke dagu Hinata. Mengarahkannya agar pandangan mereka berhadapan lagi.
"Ap~hmmmppphhhh ..." Dengan cepat Sasuke menyatukan kedua benda kenyal itu. Kedua bibir mereka dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan. Bahkan Hinata yang tadinya ingin menolak menjadi tak berdaya karena terlalu terhipnotis. Ia pun memejamkan mata. Menikmati rasa manis yang diberikan Sasuke. Rasa manis yang terulang kembali untuk kedua kalinya. Eh, mungkin tiga kali.
Ciuman itu tak berlangsung lama. Sasuke memisahkan kembali bibir mereka. Hinata pun merasa lega. Namun itu tak lama karena kini Sasuke sudah menghantam tubuhnya dengan sebuah pelukan erat.
"Itu yang kita lakukan, sudah ingat?" bisiknya pelan. Hinata tak menjawab. Ia masih bingung dengan perilaku Sasuke yang tiba-tiba memeluknya seperti ini. Nada bicaranya pun berubah melembut, tidak seperti tadi yang terdengar mempermainkan.
"Maafkan aku, Hinata." Telinga gadis itu dapat mendengar permohonan maaf yang keluar dari mulut sang Uchiha yang biasanya dingin dan arogan itu. Apa ini tipuan lagi?
"Maaf karena telah membuat taruhan itu dan menyakitimu." Suaranya kini terdengar sangat lirih di telinga Hinata. Gadis itu sendiri masih belum membuka mulut untuk merespon permohonan maaf yang telah dilontarkan. Ia masih setia membisu dan memdengarkan kata-perkata yang akan Sasuke ucapkan lagi.
"Semua yang terjadi padamu adalah salahku. Tapi untuk kejadian yang terakhir, percayalah itu bukan aku." Pelukan Sasuke semakin erat pada putri Hiashi itu. Berusaha meyakinkan Hinata akan setiap omongannya. Sedangkam Hinata terlihat bingung mendengar perkataan Sasuke.
Apa dia harus percaya? Kenapa? Karena keyakinan hati seperti yang dibicarakan kakak Sasuke tadi?
"Aku sudah menjelaskannya. Aku ingin memulai dari awal lagi dan dekat denganmu."
"Apa maksud Sasuke?"
Sasuke tersenyum tipis lalu, lalu kembali berbicara.
"Sepertinya aku mulai menyukaimu. Aku ingin bersamamu," ujarnya tulus. Hinata kini merenungi pernyataan Sasuke barusan. Pernyataan cinta yang datang setelah luka. Dan itu datang dari orang yang sama. Walaupun dia kurang yakin untuk poin yang kedua. Hinata menghela nafas. Bagaimanapun ia harus memberikan jawaban bukan?
"A-aku tidak akan memaafkan Sasuke sekarang." Sasuke sedikit kecewa, tapi ia akan berusaha mengerti.
"Aku mengerti. Kau harus memaafkanku saat pelaku sesungguhnya tertangkap." Hinata mengangguk pelan.
"Aku pasti akan menangkapnya. Tapi sekarang bisakah kita berbaikan?" Hinata tersenyum malu, lalu kembali mengangguk. Sasuke pun tersenyum lega atas respon Hinata.
"Umm ano, Sasuke."
"Hn."
"Aku sedikit susah bernafas. Bisakah tidak berada diatasku?"
"Kalau begitu kau saja yang diatas."
"Sasuke!"
.
.
Suara deruman motor itu berhenti didepan gerbang sekolah. Hinata yang duduk dibelakang turun lalu membuka helmnya. disusul dengan Gaara yang melakukan hal sama. Setelah pertemuannya kemarin dengan Sasuke, ia merasa kondisi badan dan juga hatinya sudah baikan. Ia pun memutuskan untuk kembali bersekolah. Awalnya ia tidak tahu kalau Gaara datang menjemputnya. Tiba-tiba saja bungsu Sabaku ini sudah ada didepan rumahnya. Saat ditanyakan pada orangnya, Gaara memberi alasan bahwa dia diminta ayah Hinata untuk mengantarkannya ke Sekolah. Jadi begitulah cerita mereka bisa ke sekolah bersama.
"Apa kau yakin sudah sehat, Hinata. Tidak perlu memaksakan diri," ucapnya khawatir. Tangannya mengelus-elus puncak kepala gadis bermata lavender itu. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Terimakasih sudah khawatir, tapi aku baik-baik saja," balas Hinata diiringi sebuah senyuman untuk meyakinkannya. Gaara menghela nafas. Sejak kejadian itu ia tahu ada yang tidak beres. Tapi Hinata tidak mau menceritakannya. Ia hanya beralasan mungkin hari itu adalah hari sialnya. Gaara tentu tidak percaya, namun ia berusaha mengerti. Hinata masih tidak bisa terbuka padanya. Mungkin karena perasaan gadis itu masih belum berubah. Haah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu memang sakit. Walau dia sudah kelas 10 SMA tapi rasanya tetap saja tidak enak.
Gaara menyukai Hinata sejak gadis itu berumur lima tahun dan menyatakan perasaannya saat ia berada dikelas dua SMP. Diumur yang akan menginjak 15 tahun dia memberanikan diri untuk jujur. Ia tahu umurnya terlalu dini akan hal itu. Ia selalu merasa ada sesuatu yang mengganjal di relung hatinya. Apalagi ketika melihat Hinata berdekatan dengan pemuda lain. Sampai akhirnya ia mengungkapkan semuanya, tapi jawabannya tidak sama seperti yang diharapkan. Hinata hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih. Ia berusaha untuk menanggapinya dengan positive. Mungkin suatu saat nanti perasaan Hinata akan berubah padanya. Tapi sampai sekarang semuanya masih belum berubah. Perasaan Hinata ataupun perasaannya.
Gaara mengulurkan tangannya pada Hinata, setelah sebelumnya ia memarkirkan motor berwarna merahnya itu ditempat parkir sekolah.
"Ayo, ku antar ke kelas." ajaknya dengan uluran tangan yang sudah berada didepan Hinata. Gadis itu tersenyum lagi, lalu menyambut uluran tangan pemuda bertato 'Ai' itu. Keduanya pun melangkah dengan tangan mereka yang bertautan. Gaara menikmati suasana ini. Walau hanya dianggap seorang adik. Walau ini saja tak cukup. Tapi Gaara akan berusaha lebih keras untuk merubah perasaan Hinata padanya.
Langkah keduanya terhenti kala sebuah teriakan menghampiri indra pendengaran mereka. Dari kejauhan, seorang gadis berambut pink sedang berlari menuju mereka. Diikuti dengan gadis berambut pirang yang ada dibelakangnya.
"Hinata-chaaannn ... akhirnya kau sekolah juga, aku merindukanmu," ujar gadis bersurai pink yang langsung memeluk Hinata.
"Aku juga rindu Sakura," balas Hinata.
"Jadi aku tidak?" Suara gadis berambut pirang itu menginterupsi keduanya.
"Tentu saja Temari juga," ucapnya dengan senyuman ramah. Gaara sendiri hanya diam dan memperhatikan saja perbincangan para gadis-gadis itu. Setelah bertegur sapa sebentar, mereka berempat kembali berjalan menuju kelas sambil mengobrol ringan. Sakura dan Temari yang berada didepan duluan, sedangkan Gaara dan Hinata dibelakang. Dengan tangan yang masih berpegangan. Atau mungkin Gaara yang masih memegangnya.
"Kau sudah sehat Hinata?" tanya Sakura sembari sedikit menoleh
"Hu'um." Satu anggukan diberikan gadis itu sebagai jawabannya.
"Kau tahu Hinata, banyak sekali berita yang kau tak tahu saat kau tak sekolah. Salah satunya yaitu, Sakura sudah berpacaran dengan Naruto," ucap Temari antusias yang ikut dalam percakapan. Kelihatannya Hinata tidak terlalu terkejut mendengar berita ini. Dengan kejadian tempo dulu yang pernah ia lihat, ia sudah memprediksi bahwa ini akan terjadi. Ia mengembangkan senyum, kali ini ia sudah tidak merasakan lagi sakit hati karena orang yang pernah disukainya menyukai sahabatnya sendiri. Ia malah merasakan hal sebaliknya. Ikut bahagia atas hal menyenangkan yang terjadi pada Sakura ataupun Naruto.
"Selamat yah Sakura-chan." Wajah Sakura sedikit memerah karena hal itu.
"I-itu, kenapa kau mengatakannya sekarang, Temari. Oh iya Hinata-chan juga tidak tahu kan kalau Temari dikabarkam berpacaran dengan Shikamaru. Ternyata diam-diam kalian saling menyukai yah," balas Sakura tidak mau kalah.
"He-heey itu tidak benar. Itu salah paham. Si rusa nanas itu yang ..."
"Oh jadi itu panggilan sayang kalian."
"Sakura!"
Hinata terkikik geli melihat tingkah sahabatnya itu. Ia tidak menyangka akan mendapatkan sahabat-sahabat seperti mereka yang bisa membuatnya tersenyum seperti ini. Bagaimanapun juga awal Hinata masuk ke sekolah ini kan karena sebuah taruhan konyol yang membuatnya sering dibully. Jadi wajar jika sulung Hyuuga berpikir hal seperti itu. Gaara yang ada disampingnya pun ikut senang melihat Hinata yang tersenyum seperti itu.
Senyum Hinata terhenti kala ada empat orang berjalan menuju mereka. Empat orang paling terkenal disekolah ini. Salah satu dari mereka menarik Sakura dari pertengkarannya dengan Temari.
"Naruto? Kenapa disini?" tanya Sakura. Tidak langsung menjawab, Naruto malah memeluk Sakura didepan umum.
"Aku merindukanmu." Dalam sekejap, pemandangan itu sudah jadi pusat perhatian murid-murid disana. Apalagi murid perempuan. Mereka terus berteriak. Ada yang suka tapi ada juga yang iri. Namanya juga Fans.
"Hentikan dobe, kau membuat situasi jadi seperti pasar."
"Haah merepotkan."
"Lebih baik cari tempat yang nyaman kak."
Mendengar bisikan-bisikan itu Naruto pun sedikit kesal karena dianggap sudah mengganggu kesenangannya.
"Kalian cerewet," ujarnya setelah melepaskan pelukannya pada Sakura.
Bletaaakkk ...
Satu jitakan yang menghasilkan benjolan itu didapat Naruto dari sang pacar.
"Naruto no baka!" Setelah itu Sakura pergi dengan wajah memerah. Entah karena malu atau marah yang langsung disusul Naruto dan benjolannya.
"Pasangan yang merepotkan."
"Hmm tapi mereka manis. Oh iya Hinata-san apa kabar? Ku dengar kau sakit," ucap Shion ramah. Kini semua perhatian beralih padanya. Terutama dari Sasuke. Hinata dapat merasakan tatapan mata yang sangat tajam mengarah kepadanya.
"Dia baik-baik saja. Aku akan menjaganya." Gaara yang menjawab pertanyaan Shion dengan nada dingin sembari mendelik kearah Sasuke. Bahkan Gaara sengaja menggerakan tangannya untuk merangkul pinggang Hinata dengan erat. Itu sukses membuat Sasuke memelototinya. Memberikan tatapan penuh kutukan pada bocah merah itu. Namun sepertinya Gaara tak peduli. Buktinya ia semakin mengeratkan rangkulannya dan tak takut untuk membalas tatapan Sasuke dengan seringai kemenangan.
"Kalian manis sekali. Kak Sasuke juga pasti akan melakukan hal yang sama padaku, iya 'kan?" ucap Shion sembari memeluk pemuda itu. Sasuke hanya ber'hn' ria menjawab ucapan Shion. Sedangkan matanya masih terfokus memberi ancaman pada Gaara.
"Sepertinya sudah mau bel. Ayo kekelas," ajak Temari yang berhasil mengubah keadaan. Hinata akan melangkah, tapi ia sedikit tertubruk dibagian bahu oleh seorang murid laki-laki yang sedang berlari terburu-buru. Dengan cepat Sasuke menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Dengan tatapan tajamnya, ia melihat murid itu yang berlari semakin menjauh. "Dia akan segera mendapat pelajaran." tambahnya murka.
"Ja-jangan lakukan itu. Aku baik-baik saja." Hinata menjawab dengan senyum yang mampu membuat Sasuke mendingin.
"Baiklah kalau begitu, tapi ..." Sasuke tak mengatakan kelanjutan kalimat itu. Ia malah membisikannya hingga membuat orang disekitarnya cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan Sasuke. Bahkan tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang tak suka dengan adegan itu.
"Kau mengerti?"
"Tapi ..." Sebelum memberi alasan, Sasuke sudah berjalan duluan dengan Shion dan Shikamaru. Memberi isyarat bahwa ia tak mau menerima alasan penolakan. Sembari menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh, ia tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi, sepertinya ia harus melakukan itu. Sementara Gaara kini sedang menatapnya penuh tanya. Jujur saja ia penasaran dengan apa yang dibisikkan Sasuke. Tapi percuma menanyakannya karena Hinata tidak akan menjawabnya. Sejak awal ia memang sudah terancam dengan keberadaan Sasuke. Ia merasa Hinata semakin jauh darinya karena Sasuke. Ia tahu perasaan seperti apa yang dirasakan Hinata, dan ia tidak mau itu semakin dalam. Ia harus berpikir keras mencari solusi. Kali ini cara seperti apalagi yang harus ia lakukan untuk bisa merubah perasaan Hinata agar bisa sama seperti perasaannya dan mencegah perasaan Hinata pada Sasuke berhenti berkembang.
.
.
TBC
.
.
Terimakasih untuk; rozhee flouwerz, AyuCluods69, Orange's Caramel, uchiha hana hime, anita indah 777, kensuchan, Han G Kim, aindri961, Cahya LavenderUchiha ELFishy, Guest(1), kiiroi, hana37, Guest (2), eri, Guest (3), hakuna, HinaHimeLovers8, Ay Shi Sora-chan, Animea Lover Ya-ha, wiendzbica732, seo haeri fishYeobos, Po, himeka, uchihabungsu98, Rini Andriani Uciga, Uppie Lupz, Hikari mafuyu, Hinataholic, Uchiha Hanaruhime, Uchiha yardi, sushimakipark, putri hime, hinatauchiha69, Yumiko Harvey.
Maaf jika ada salah kata, and last mind to RnR?
