Tap tap tap
Dua pasang kaki itu berjalan dengan langkah sedikit tergesa menyusuri koridor panjang Spamcos yang saat itu terlihat sepi. Semua siswa masih sibuk belajar di kelas masing-masing ketimbang berkeliaran di koridor panjang itu.
"Kau yakin kita akan menemui mereka hari ini juga?" sahut salah satu dari dua siswa dengan badge kelas 1 itu kepada rekannya yang berjalan di depannya. "Kibum belum menginstruksi kita untuk muncul, bukan?"
Namja yang berjalan di depan itu menoleh sekilas kepada rekannya di belakang sambil tersenyum mengejek. Kedua tangannya disemayamkan ke dalam saku celananya untuk menghalau rasa dingin yang mulai merasuki tubuhnya.
"Kau tenang saja, kerdil. Memangnya siapa Kibum, dia tidak punya hak untuk mengatur semua ini."
Namja yang masih berjalan di belakang itu merengut sebentar saat rekannya itu memanggilnya dengan tidak sopan lagi.
"Kau juga tidak punya hak, Minho-ah." ucap namja yang dipanggil 'kerdil' tadi sambil menatap sendu punggung tegap rekannya yang masih berjalan di depannya. "Dan aku tidak mau kau terluka lagi."
"Aku sudah sembuh. Jadi jangan bicarakan itu lagi, OK!" sahut Minho menanggapi perkataan rekannya.
"Kau memilih jalan nekat, tiang listrik. Pikirkan keselamatanmu juga."
Minho berhenti dari kegiatan berjalannya secara tiba-tiba hingga membuat namja di belakangnya menabrak punggungnnya lalu merengut tak jelas.
"Lee Taemin! Jangan bahas hal ini lagi! Kita sudah sepakat, bukan?" ucap Minho tanpa menghadap Taemin di belakangnya.
Taemin menatap terkejut punggung tegap di depannya. Sedikit lama namja bertubuh sedikit pendek itu melayangkan tatapan yang berangsur-angsur berubah menjadi tatapan nanar.
"Kajja! Kita harus ke kelas istimewa itu dan menghadapi mereka semua. Sebelum Kibum, Henry, dan Changmin mendahului kita." Ucap Minho sambil meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Taemin memperhatikan punggung Minho yang berjalan mendahuluinya dengan tatapan sendu yang sulit diartikan. Sekelebat ingatan tentang masa lalu berkeliaran di depan matanya, membuat kedua onix itu berkaca-kaca.
"Aku tidak mau kau hancur seperti Guard Poros, Minho~ Kumohon~"
Choi Minho menghentikan langkahnya tiba-tiba lalu berbalik menghadap namja pendek di belakangnya yang kini terlihat menundukkan wajahnya entah karena apa. Namja tampan itu menghela nafas saat melihat bahu Taemin mulai bergetar. Minho perlahan berjalan menuju Taemin yang masih bergeming di tempatnya.
"Hei, pendek. Kau tenang saja. Aku―"
"AKU TIDAK MAU HAL YANG SAMA MENIMPAMU SEPERTI YANG TERJADI PADA GUARD POROS! KAU MENJEMPUT KEMATIANMU SENDIRI JIKA MELANJUTKAN SEMUA INI, CHOI MINHO!"
Minho terperanjat mendengar seruan itu. Namja di depannya itu kini menatapnya dengan mata besarnya yang sudah berair mata. Tatapan khawatir tertampang jelas di wajah kekanakannya. Minho yang melihat itu segera membawa tubuh yang masih bergetar menahan tangis itu ke dalam pelukannya.
"Aku akan baik-baik saja, Taemin-ah. Aku berjanji tidak akan berakhir seperti Guard Poros. Aku akan baik-baik saja."
"Kumohon~ Hentikan semua ini. Kita bisa mencari jalan lain~" sedu Taemin masih dengan wajah yang sudah mulai basah disana-sini dan suara tersendat.
"Taemin benar." Sahut sebuah suara lagi, membuat mereka menolehkan kepala ke samping, "Kita bisa mencari jalan lain, Minho. Kau tidak perlu bertindak sejauh ini."
Minho melepaskan pelukannya dari tubuh Taemin yang masih terisak lalu menatap satu siswa di depannya. "Aku tidak mau diam menunggu kehancuran, Kibum. Tidak ada waktu."
Kibum kini bergerak mendekat, masih menatap tajam manik Minho di depannya. Dua orang muncul di belakangnya kemudian.
"Taeminnie~ Uljima~" seru Henry sambil berhambur menuju Taemin yang kini mulai terisak. "Ya! Tiang jemuran, kau membuatnya menangis lagi! Kuubah kau menjadi tiang jemuran yang sebenarnya kau mau?!"
Minho menggaruk kepalanya salah tingkah saat melihat Taemin masih menangis di pelukan Henry. Kibum dan Changmin menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Lihat, bahkan Taemin sampai seperti itu. Tindakanmu ini terlalu jauh, Minho." Ucap Changmin sambil menatap Taemin yang kini sudah mulai tenang bersama Henry.
Minho menghela nafas panjang lalu mengalihkan perhatiannya ke jendela kaca besar di sisi kanannya. Kain kelabu membentang menutupi langit, dengan bias-bias sinar matahari yang menembus celah-celahnya. Pemuda itu kemudian mendaratkan tangannya di atas dadanya sendiri, mencoba merasakan sisa-sisa luka dan rasa sakit disana. Keempat namja yang lain menatapnya dalam diam.
"Bukankah semuanya hidup untuk mati pada akhirnya?" Tanya Minho entah kepada siapa, namun keempat namja di sekelilingnya seakan mengerti dan hanya mengangguk samar. "Akupun begitu. Kita semua begitu. Dan aku tidak mau cahaya matahari yang disana itu menghilang untuk kedua kalinya. Jadi, kita harus bekerja sama, ya?"
Semuanya terpana melihat senyum ceria Minho ketika mengatakan kalimatnya. Namja itu kemudian meraih sesuatu dari balik saku blazer-nya. Sesuatu yang berkilau. Membuat keempat pasang mata di sekelilingnya menatap benda kecil itu dengan terkejut.
"Bukankah itu―"
"Ya. Inilah sumber kekuatan besar mereka." Sahut Minho memotong ucapan Henry, "The Power of High Polar."
.
.
THE POWER OF HIGH POLAR
Chapter 9: GUARD OF THE CENTER
Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life
Rating: T
Main Pair: WONKYU
Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK
Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS
Summary:
Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.
DON'T LIKE DON'T READ
BabyWonKyu proudly presents
.
.
_Wonkyu_
Suasana Spamcos High School di jam-jam pertengahan pelajaran seperti sekarang lebih hening daripada jam-jam awal. Semua siswa terlalu sibuk bergelut dengan hal membosankan yang disebut buku dan rumus atau hafalan. Namun itu kewajiban semua siswa untuk membangun masa depan Negara yang lebih baik, begitu kata Presiden atau Menteri Pendidikan disana. Semua siswa bahkan tidak dapat menolaknya, membuat mereka terkurung dalam sangkar emas dan rela menghabiskan waktu mereka untuk menuntut ilmu di sekolah seperti sekarang.
Park Yoochun tersenyum simpul saat melewati beberapa kelas di sepanjang koridor yang dilaluinya. Didalam setiap kelas yang dilaluinya itu dapat dilihat pemandangan yang sama. Guru yang sedang menjelaskan di depan kelas dan siswa yang mendengarkan dengan banyak versi. Versi serius, versi bosan, versi mengantuk, dan sebagainya. Hal itu mengingatkan kenangannya sewaktu masih berstatus pelajar seperti murid-muridnya saat ini.
Sudah sejak beberapa menit yang lalu guru muda itu berjalan santai di sepanjang koridor sekolah mewah itu. Tujuannya bukan hanya untuk sekedar berkeliaran saja, namun guru musik itu melangkahkan kakinya dengan mantap menuju tempat yang tergambar di kepalanya.
1-A
1-B
1-C
1-D
"Eh, kemana mereka?" monolog Yoochun saat melihat kelas yang akan dikunjunginya itu kosong. Namun tas-tas para siswa masih ada di bangku mereka masing-masing, hanya pemiliknya yang tidak ada.
"Ah, kelas D sedang melakukan kegiatan praktikum di Laboratorium Biologi, Park Sonsaengnim."
Yoochun sedikit terkejut saat sebuah suara terdengar di belakang tubuhnya. Guru muda itu sedikit membungkuk untuk menyapa si Petugas kebersihan yang kini menatapnya ramah.
"Ah, Ne. Kamsahamnida." Balas Yoochun dengan sedikit menyunggingkan senyuman kepada si petugas yang kini mulai pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sebaiknya anda segera bergegas." Ucap si petugas kebersihan sambil tersenyum ramah lagi, membuat Yoochun menatapnya tidak mengerti, "Kadang anak muda jaman sekarang melakukan hal-hal berbahaya jika bermain-main dengan alat-alat Laboratorium."
Yoochun kembali tersenyum saat petugas kebersihan itu pamit. Guru muda itu kembali melanjutkan langkahnya ke arah Laboratorium Biologi di lantai 3. Entah mengapa perasaan menjadi tidak karuan dan jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat.
"Aku pasti kelelahan." ucapnya lagi sambil menggeleng lalu melanjutkan acara berjalannya. "Setelah berbicara dengan Kyuhyun, aku akan―"
Drap drap
"S-saem?"
"Ya! Apa yang kalian lakukan diluar kelas?! Bukankah seharusnya kalian belajar di kelas masing-masing sekarang?!"
Yoochun menatap keempat belas pasang mata di depannya dengan tatapan mengintimidasi, sementara murid-murid itu juga menatap bingung. Kini mereka berdiri berhadapan di lorong lantai dua yang masih sepi.
"K-kami―"
"Kami harus pergi. Sonsaengnim sebaiknya tidak menghalangi kami saat ini." ucap Yunho dengan pandangan mata berkilat terang, menandakan kekuatan pengendalian pikiran miliknya sedang bekerja.
Jika sudah begitu, siapapun tidak dapat menolak perintahnya.
"Tidak. Kalian kembali ke kelas masing-masing. Sekarang."
Deg
Penolakan Yoochun itu membuat semua yang ada disana terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa menolak perintah sang Utara? Bukankah Yunho telah memerintahkannya untuk―
'Tidak ada waktu!'
Semuanya menoleh ke arah Siwon yang kini menerobos dan melewati Yoochun begitu saja untuk berlari menuju tangga naik. Yoochun hanya menatap semua murid di depannya dengan tatapan bertanya, dan para siswa itu hanya bisa diam.
"Ada apa ini?" tanya Yoochun kepada Hankyung dan Yunho yang berdiri paling dekat dengannya. Kedua siswanya itu saling menatap penuh arti. "Apa yang―"
"Mianhamnida, Park Sonsaengnim. Tapi kami harus ke Laboratorium Biologi secepatnya."
Tidak perlu waktu lama bagi otak Yoochun untuk mengolah kata-kata Minho. Satu hal yang terpikir di kepalanya saat Minho menyebut kata Laboratorium.
"K-kyuhyun…"
_Wonkyu_
"Indah sekali~"
Suasana ruang praktek Biologi itu masih tenang. Siswa-siswanya masih bekerja dengan partnernya masing-masing. Sang guru juga masih berada di meja kerja deretan depan untuk memeriksa pekerjaan siswa-siswanya.
Yoon Doojoon juga masih bergeming di tempatnya. Namja itu tidak bergerak sama sekali. Partner kerjanya juga masih memegang tangannya untuk mengamati hasil kerjanya untuk tes golongan darah. Namun, bukan mengamati di atas kaca preparat yang nantinya akan ditetesi anti A atau B, namun mengamati pergerakan dan aliran cairan merah pekat yang kini mulai menjalari seluruh telapak tangan siswa yang masih terdiam itu.
"Astaga, Saem!" seru seorang siswa yang berada tak jauh dari meja kerja Doojoon dan Kyuhyun, "Doojoon―Kyuhyun―mereka―"
"Astaga! Cho Kyuhyu―"
"Diam." Seruan sang guru seketika terhenti setelah mendengar kalimat pendek dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Para siswa disana kini juga terdiam memperhatikan Kyuhyun yang masih menatap cairan merah yang terus mengalir dari ujung jari Doojoon yang masih saja terdiam di tempatnya. "Jangan menggagguku dan mainanku."
"Ma-matanya… Li-lihat matanya." Ucap salah satu siswa dengan pelan dan terbata kepada teman di sampingnya. Dua siswa itu terkejut sekaligus terpana melihat warna iris mata Kyuhyun yang semerah darah. Seperti batu Ruby yang menyala.
Begitu indah… dan menyesatkan.
"CHO KYUHYUN! HENTIKAN! KAU BISA MEMBUAT―"
Sret
Sang guru hanya bisa menelan ludah gugup saat murid yang ditegurnya itu berdiri dengan tiba-tiba lalu menatapnya dengan mata merahnya yang kini terlihat lebih menakutkan. Tangan kanannya yang masih berlumuran darah kini terlihat menggenggam sebuah pisau pinset kecil.
"Kau juga mau memperlihatkan milikmu, Sonsaengnim. Boleh aku melihat darahmu juga?"
Kalimat bernada tenang dan datar itu justru membuat guru yeoja paruh baya itu mundur dari tempatnya. Semua siswa yang ada disana mulai menahan nafas takut melihat sosok temannya yang kini lebih menyerupai seorang psikopat yang haus darah.
Tap
Tap
"Berhenti disana dan letakkan pisaumu, Cho Kyuhyun!" seru sang guru dengan suara yang mulai bergetar, sementara murid di depannya itu hanya menyeringai sambil memainkan pisau kecil mengkilap dan tajam itu di tangannya yang masih penuh dengan darah Doojoon.
Beberapa siswa yang berinisiatif hendak menghentikan Kyuhyun hanya terdiam di tempatnya saat iris semerah Ruby gelap itu menatap mereka. Menghentikan apapun tanpa kata dan tindakan. Seakan menghipnotis secara alami.
"Ayo bermain denganku, teman-teman. Kalian menjadi korban sedangkan aku akan menjadi pembunuh yang kejam. Kau juga boleh ikut, Saem~"
"Kau gila!" seru salah satu siswa dengan wajah ketakutan lalu bergerak cepat menuju pintu keluar, "KAU SUDAH GILA, CHO KYU―"
Sret
Trang!
Pisau kecil itu melayang dan tepat akan menghujam wajah siswa yang hendak mencapai pintu keluar, sebelum sebuah tangan menahan pisau itu dan melemparkannya ke lantai dengan suara gemerincing yang keras.
"Nona Cho?"
Siwon menatap namja manis di depannya dengan sorot yang tidak bisa diartikan. Ordinal-nya itu menatapnya datar dengan mata merahnya yang gelap menakutkan. Siswa di belakangnya tadi tanpa pikir panjang segera berlari ke luar Laboratorium.
Drap
'Lepaskan kekuatan mereka, Guards!'
Taemin, Henry, Kibum, dan Changmin mengangguk mendengar perintah Minho. Keempat pasang mata mereka bersinar terang sekilas. Yunho yang merasa aliran energy kembali ke tubuhnya, kini tersenyum kecil lalu maju ke depan dan berdiri di bagian depan.
"Hyukjae!"
Hyukjae mengangguk mendengar panggilan Hankyung disampingnya, lalu namja itu melambaikan tangannya sekilas dan seketika angin dingin yang mengalir sejak tadi itu berhenti, begitu juga detak jarum jam di ruangan itu.
"Kalian semua keluar dari sini dan lupakan semuanya!" ucap Yunho hingga semua siswa kelas 1-D di sana termasuk sang guru manatapnya, lalu mengangguk dan berjalan keluar tanpa kata bersamaan dengan kilatan terang yang tergambar jelas di mata musang milik Yunho.
Ryeowook mulai bergerak ke tempat Doojoon yang masih seperti mayat hidup lalu membawa teman sekelasnya itu ke luar kelas dengan dibantu Henry.
"Nona Cho…"
"Siwon, jangan mendekat padanya!"
Siwon tidak menghiraukan seruan Yesung di belakangnya. Namja tampan itu terus berjalan mendekat menuju namja manis yang masih diam tenang di tempatnya.
"Dia bukan Kyuhyun." Ucap Heechul pelan dengan suara sedikit bergetar. Hankyung di sampingnya kini mulai bergerak menutupi Ordinal-nya itu di belakang punggungnya.
Saat sudah beberapa langkah di depan Kyuhyun, Siwon menghentikan langkahnya dan sukses terkejut saat melihat iris merah gelap di depannya itu berair dan menganak sungai beberapa saat kemudian. Bukan hanya Siwon, semua yang ada di ruangan itu terperanjat melihat air mata Kyuhyun.
Minho bergerak maju saat menyadari apa yang terjadi pada kedua Porosnya itu, namun belum ada langkah yang diambilnya, sepasang tangan menggenggam dan menahan lengannya dengan kuat. Taemin.
"Nona Cho―"
"Hiks. Hiks. Wae~" isak Kyuhyun dengan suara tersendat. Kedua telapak tangannya yang masih penuh darah itu mencoba mengusap air matanya, hingga membuat wajah putih pucatnya itu ternoda darah di beberapa bagian. "Mengapa kalian membuang mainanku~ Hiks. Sudah lama aku tidak bermain~ Kalian jahat. Aku benci kalian."
Donghae mulai bergerak menarik tangan Hyukjae di depannya dan membawa Ordinal-nya itu untuk berdiri di sampingnya. Yunho mulai memasang posisi waspada sementara Changmin mulai menahan lengan Jaejoong yang sudah akan maju menuju tempat Yunho berdiri.
"Nona Cho, dengarkan aku. Aku―"
"DIAM!"
PRANG!
Yesung segera menarik Ryeowook dan Henry dari tepi jendela sesaat sebelum semua kaca jendela Laboratorium itu pecah berkeping-keping. Semuanya menatap Kyuhyun yang masih menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya yang masih berlumuran darah. Air mata masih mengalir dari sepasang mata merahnya.
'Siwon, pergi dari sana! Kita harus mencari cara untuk menghentikannya!'
Siwon menggeleng mendengar suara Yunho di dalam pikirannya. Poros Cardinal itu melanjutkan langkahnya untuk menggapai tubuh Kyuhyun yang masih terisak di depannya.
'Dia bukan Kyuhyun, Choi Siwon! Menjauhlah darinya!' kali ini suara Donghae yang terdengar, namun Siwon sama sekali tidak menggubrisnya.
"Kemarilah, kau tidak perlu takut, Nona Cho. Ini aku, Choi Siwon-mu yang menjengkelkan." Ucap Siwon sambil melangkah semakin mendekat. Namja manis di depannya itu mulai menatapnya dengan tatapan datar lagi. Sepasang iris merah gelapnya itu berkilat sesaat.
'Jangan tatap matanya, Sunbaenim!' seru Minho sambil melangkah maju dan menghentakkan tangan Taemin yang sejak tadi menahan lengannya.
Kyuhyun tersenyum sekilas melihat Minho yang kini mendekat lalu namja manis itu mulai meraih beberapa pinset dan pisau di depan mejanya dan melemparkan benda-benda tajam berkilau itu ke arah Siwon dan Minho.
"TIDAK!"
Crassh
Hankyung berhasil menghalau benda tajam itu dengan kepingan es bekunya. Yunho menyusul kemudian dan mencoba menangkap tubuh Kyuhyun yang kembali melemparkan segalanya yang tajam kepadanya. Taemin yang tadi berteriak segera berlari ke arah Minho yang masih menahan tubuh Siwon di sudut ruangan.
"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!"
"Dengarkan aku, Siwon Sunbae. Kita harus bekerja sama menghentikannya, sebelum kekacauan ini semakin parah!" seru Minho di depan wajah Siwon yang masih menatapnya tidak mengerti. Tidak perlu waktu lama bagi Minho untuk menunggu, namja tinggi itu berjalan menuju Yunho yang masih menatap Kyuhyun dengan sorot waspada.
'Changmin-ah. Aku perlu kekuatan Utara.'
Changmin mengangguk dan maju menuju tempat Yunho berdiri, sementara Minho mengeluarkan sebuah bandul berantai dari balik saku blazernya. Yunho memperhatikan benda itu penuh tanya, sementara Changmin sudah akan mengambil alih benda berkilau itu dari tangan Minho. Mereka tidak menyadari mata merah di belakang mereka yang berkilat terang.
"Lepaskan segel―"
Sret
Grep
Changmin dan Yunho sukses tersungkur di lantai saat gerakan cepat itu menabrak mereka. Begitu kedua namja itu bangkit, yang dilihatnya adalah Minho, Kyuhyun dan―
Tes
"Aku suka benda berkilau ini," ucap Kyuhyun dengan mata merahnya yang berbinar takjub sambil memainkan bandul perak berkilau di tangan kirinya, "Dan juga darahmu~"
"MINHO!"
Bruk
Semuanya hening saat tubuh Minho perlahan merosot turun lalu terkulai lemas di lantai putih Laboratorium. Cairan merah gelap mengalir dari perut sampingnya dan meresap ke blazer biru dongker-nya hingga menghitam, dan berakhir menodai lantai putih dibawahnya.
"Minho~" lirih Taemin bersamaan dengan dua butir air mata yang jatuh dari kedua mata besarnya.
"Hihihihi~ Indah sekali~" Semuanya ganti menatap Kyuhyun yang kini sibuk mengagumi bendul berantai di tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang sebuah pisau yang sudah penuh dengan bercak darah segar milik Minho. "Benda ini sangat―"
Sret
Bruk
Donghae, Yesung, dan Hankyung yang sudah akan menerjang tubuh Kyuhyun berhenti seketika saat tubuh itu ambruk secara tiba-tiba. Namja manis yang sejak tadi terlihat senang karena melihat 'mainan' kesukaannya itu, kini terbaring tak bergerak di samping tubuh Minho. Sepasang iris merah gelap menakutkan itu tertutup sempurna.
Dan semuanya sukses membelalakkan mata saat melihat Siwon berdiri tepat di belakang Kyuhyun dengan mata berkilat putih terang. Tangan kanannya meraih benda perak berkilau di tangan Kyuhyun, menatapnya beberapa saat, lalu melemparnya ke tangan Hankyung sebagai orang yang berdiri paling dekat dengannya.
"Ryeowook-ah! Sembuhkan Minho, cepat!"
Ryeowook maju ke samping Minho yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan Taemin yang sudah menangis di sampingnya. Ryeowook sempat berjengit takut melihat Kyuhyun di sampingnya yang mulai diangkat Siwon ke dalam gendongannya.
'Bereskan semuanya, lalu temui aku di ruang kesehatan.'
_Wonkyu_
Brak!
Pintu coklat itu tertutup keras sesaat setelah didorong dengan tenaga luar biasa pemilik ruangan itu. Sosok itu menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengusap wajahnya kasar.
"Me-mereka bukan manusia. Ya, benar! Mungkin mereka adalah dewa atau semacamnya yang menyamar menjadi anak remaja!"
Park Yoochun bermonolog pada dirinya sendiri sembari mengacak rambutnya frustasi. Namja itu mulai melangkahkan kakinya ke meja kerjanya lalu mulai membuka beberapa laci dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.
"Aku pasti sudah gila!" ucapnya lagi sambil tetap mencari sesuatu yang sejak tadi terlintas di dalam kepalanya.
Sudah cukup ia melihat sesuatu yang terlalu tidak masuk akal beberapa saat yang lalu di depan Laboratorium Biologi. Mulai dari kaca yang pecah dengan tiba-tiba, semua orang yang seakan dihipnotis, darah, waktu yang berhenti, dan Minho yang terluka.
"Astaga! Seharusnya aku menolong Minho! Tapi―" Yoochun yang sudah akan melangkahkan kakinya keluar, kembali duduk di kursinya saat mengingat bagaimana tangan seorang Kim Ryeowook yang seakan bercahaya terang, hingga luka dan bekas darah di perut Minho hilang dalam sekejap mata.
Lama guru muda itu terdiam di tempatnya sambil mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Bukan. Sepertinya kata 'beberapa saat yang lalu' tidak berlaku saat ini. Lihat saja jam dinding di ruangannya itu. Masih diam tak bergerak.
Waktu masih berhenti.
Yoochun kembali menggeledah isi lacinya dengan tangan gemetar, dan setelah beberapa saat kemudian sebuah map kertas yang ada di genggamannya membuatnya lega dan segera membukanya dengan kasar.
"Semua ini pasti bukan kebetulan. Mereka pasti menyimpan sesuatu yang―"
Gumaman Yoochun terhenti saat membaca rentetan kalimat di salah satu kertas yang saat ini sedang dibacanya.
"Phobia Darah, Phobia Gelap." Gumamnya saat membaca dokumen di depannya."Jadi ini alasan dibalik kata Phobia. Jadi begitu?"
Mata gelap Yoochun berangsur sendu saat melihat biodata salah satu siswa di kelas istimewanya itu. Beberapa biodata lain juga ia baca setelahnya, dan sambil menggabungkan apa yang telah ia lihat tadi dengan mata kepalanya sendiri, guru muda itu mengangguk paham.
"Kau benar, Sungmin-ssi. Aku pasti melakukan apa yang kau sarankan disini."
Guru muda itu kembali memasukkan kertas-kertas itu ke dalam map lalu meletakkannya kembali ke dalam laci. Satu kalimat di kotak saran wali murid yang tertera di biodata Cho Kyuhyun itu membuatnya paham.
Ia pasti melakukannya. Demi Kyuhyun dan keselamatan semua murid istimewanya. Setelah menghela nafas panjang, Yoochun segera berjalan cepat keluar ruangannya.
_Wonkyu_
Ceklek
Beberapa langkah masuk ke ruangan yang lebih mirip seperti ruang sebuah Rumah Sakit itu. Beberapa ranjang berjajar di sepanjang dinding putih bersihnya. Beberapa lemari kaca berisi berbagai macam jenis obat juga berjajar disana.
Siwon baru saja meletakkan tubuh lemas di gendongannya ke salah satu ranjang di sana sesaat sebelum Yunho masuk dengan membawa Minho yang juga masih tidak sadarkan diri di punggungnya. Hankyung masuk kemudian, sambil membawa Doojoon di punggungnya juga.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Siwon kepada Yunho dengan pandangan sedikit khawatir ke arah Minho yang kini sudah berada di ranjangnya.
"Ryeowook sudah menutup lukanya, tinggal menunggunya sadar." Jawab Yunho sambil meregangkan punggungnya yang sedikit pegal, "Begitu pula dengan anak yang disana itu."
Hankyung membenarkan posisi tangan Doojoon yang kini sudah bersih dari luka dan noda darah yang beberapa saat yang lalu terlihat mengerikan.
Siwon menatap beberapa orang lagi yang mulai memasuki ruangan. Terlihat Henry yang masih setia menenangkan Taemin yang masih terlihat berantakan karena terlalu banyak menangis. Namja bertubuh sedikit pendek itu kemudian berhambur menuju Minho yang masih tertidur di atas ranjang lalu memeluknya erat.
"Hei, biarkan dia beristirahat. Kau tidak perlu khawatir, temanmu itu sudah baik-baik saja." Ucap Heechul sambil menepuk bahu Guard-nya yang masih terisak itu. Hankyung tersenyum melihat sikap Ordinal-nya yang terlihat keibuan. Namja cina itu kini beralih menatap Siwon.
"Bagaimana dia, Siwon?"
Siwon menatap Hankyung sekilas, lalu beralih menatap sosok tubuh yang terbaring di belakangnya. Semua yang ada di ruangan itu juga menatap sosok tubuh tak sadarkan diri itu.
"Aku… Dia baik-baik saja."
"Bohong!" seru sebuah suara disana. Semuanya mata kini memandang Taemin yang masih memeluk lengan Minho, "Dari mana kau tahu keadaannya?! Kau bahkan tidak merasakan apa-apa seperti sebelumnya, kan?!"
Jaejoong dan para Guards disana hanya menundukkan kepalanya, sedangkan yang lain hanya menatap Siwon dan Taemin bergantian dengan pandangan bingung.
"Bukankah apa yang dirasakan Ordinal juga dirasakan oleh Cardinal-nya?" tanya Yesung tidak mengerti. "Kau bisa merasakannya kan, Siwon?"
Semua pandangan kini jatuh ke pada Siwon yang hanya menatap Kyuhyun yang terbaring di belakangnya. Namja manis itu terlihat damai dalam ketidaksadarannya. Wajah dan telapak tangannya masih dipenuhi bercak darah yang mulai mengering.
"Mengapa ikatan kami terputus?" ucap Siwon terlebih kepada para Guards yang lebih memilih diam, "Mengapa aku tidak bisa merasakan apapun yang terjadi padanya?!"
"Ikatan kalian memang sudah terputus sejak dahulu kala! Bukankah kami sudah bilang bahwa Poros Cardinal tidak mempunyai Poros Ordinal?!" seru Taemin pada akhirnya. Namja itu terlihat menahan amarah. Henry dan Kibum terlihat menepuk bahunya untuk menenangkannya.
"Terputus?" ulang Siwon tidak mengerti.
"Ya. Kalian tidak akan bersatu lagi! Jadi lupakanlah keegoisanmu, pikirkan keselamatan yang lain dan jangan membunuh siapapun la―"
"TAEMIN!"
Seru Changmin hingga membuat rekannya itu terdiam. Ketiga Guard yang lain hanya menatap ke arah lain untuk menghindari beberapa pasang mata yang menatap mereka tidak mengerti.
"Membunuh? Siapa yang membunuh?" tanya Donghae setelah lama terdiam. Namja berwajah ikan itu menatap lekat Changmin dan Taemin secara bergantian.
"Bisakah kalian tidak berbasa-basi dan langsung mengatakannya kepada kami sekarang juga?!" sahut Yunho terlebih kepada Jaejoong yang sejak tadi menolak menatapnya.
"Maaf, kami―"
"Jika kalian tidak mau mengatakannya, kami bisa menggunakan cara kami sendiri."
"Kalian tidak bisa menggunakan kekuatan sesuka kalian."
"Kita lihat saja―"
"Berhenti!"
Ucapan lemah itu membuat perdebatan itu terhenti seketika. Semuanya kini menatap namja yang mulai bangkit dari posisi berbaringnya itu dengan tatapan terkejut.
"Minho!" seru Taemin sambil membantu temannya itu bangkit, Changmin dan Kibum juga melakukan hal yang sama.
"Biar aku saja yang menjelaskan―" Ucap Minho sambil meringis memegangi dadanya sendiri lalu menatap kesembilan penguasa mata angin di depannya. "―semuanya."
_Wonkyu_
"Ikatan High Polar antara kedua Poros terputus saat kejadian itu. Dirusak dan dihancurkan olehnya, Sang Poros Ordinal sendiri."
Kalimat Minho masih terngiang di telinga Siwon. Sudah sekitar 2 jam ia duduk di ruang kesehatan itu. Semuanya sudah meninggalkan ruang kesehatan beberapa saat yang lalu. Doojoon yang sudah siuman segera diajak Ryeowook untuk kembali ke kelas mereka dan melanjutkan praktikum Biologi mereka yang sempat 'terhenti karena suatu hal'. Minho yang sudah mulai membaik, juga kembali ke kelasnya bersama Taemin yang terus-terusan khawatir kepadanya.
Semuanya sudah kembali ke kelas masing-masing. Terlebih setelah Hyukjae kembali menjalankan waktu, dan saat itu pula jam pergantian pelajaran berdering. Membuat mereka mau tidak mau kembali ke kelas masing-masing.
Siwon kembali memusatkan perhatiannya pada sosok yang masih tertidur di depannya. Ryeowook sudah melakukan semua yang ia bisa, hingga bercak darah dan segala sesuatu yang tersisa dari insiden Laboratorium itu hilang tak berbekas. Perlu usaha keras mereka untuk membujuk Ryeowook agar mau memulihkan kondisi Kyuhyun yang tadi terbilang masih berantakan. Dan pada akhirnya, dengan bantuan besar dari sang Cardinal, Yesung, Ryeowook akhirnya menghilangkan rasa takutnya pada Kyuhyun dan mulai menggunakan ke'ahli'annya dalam menyembuhkan.
Siapapun pasti takut setelah melihat apa yang telah dilakukan namja manis yang masih memejamkan matanya itu.
Termasuk Siwon sendiri. Ia takut.
"Enggh~"
Siwon bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati ranjang Kyuhyun saat erangan kecil itu terdengar dari bibir Kyuhyun. Namja manis itu menggeliat pelan sebelum membuka kedua matanya.
"Dia akan kembali normal, tenang saja. Selama tidak ada darah dan kegelapan, Cho Kyuhyun akan menjadi namja manis yang selama ini kalian kenal."
Siwon tersenyum kecil saat iris coklat caramel yang bersinar hangat itu mulai terbuka. Namja tampan itu mendudukkan dirinya di sisi ranjang lalu menggenggam telapak tangan pucat itu perlahan. Beruntung, seragam dan segala sesuatu yang dikenakan Kyuhyun saat ini adalah seragam baru yang bebas dari noda darah atau apapun. Terima kasih kepada Ryeowook yang bersedia meminjamkan satu set seragam barunya.
"Hei, Nona Cho. Kau sudah merasa baikan?" tanya Siwon sambil menahan tangan Kyuhyun yang akan bergerak mengusap matanya khas anak kecil.
"Kepalaku―pusing sekali."
Siwon tersenyum simpul mendengar kalimat lemah itu. Namja tampan itu kemudian mengambil segelas air putih di samping ranjang lalu mengangkat kepala Kyuhyun dan meminumkan air itu. Kyuhyun yang masih merasa pusing hanya menerima dan meminum air itu hingga tersisa sedikit. Entah mengapa tenggorokannya sangat kering dan energinya terasa terkuras habis entah karena apa.
"Mengapa aku disini?"
"Emm, kau menghirup terlalu banyak kloroform di dalam lab. Kau pingsan dan berakhir disini, Nona Cho."
Kyuhyun menatap Siwon di sampingnya dengan tatapan ragu sesaat lalu kembali menghela nafas sambil mendudukkan dirinya. Siwon terkekeh geli saat melihat wajah lucu Kyuhyun yang sedikit merengut dengan rambut ikal coklatnya yang berantakan.
"Hei, Nona Cho. Sepertinya kau masih lemas sekali. Apa perlu kuberikan vitamin harian seperti yang kau berikan padaku pagi tadi?"
Kyuhyun menatap namja yang masih tersenyum miring disampingnya dengan tatapan bingung. Otaknya yang cerdas sedikit lambat bekerja karena masa trans-nya. Namun setelah beberapa saat, wajahnya memerah saat tahu apa yang dimaksud 'vitamin' oleh Siwon.
Plug
"KAU BABO, HAH?! ITU MAUMU SAJA, CHOI PERVERT!"
Siwon sedikit terhuyung saat sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya bersamaan dengan pukulan-pukulan kecil yang mendarat di tubuhnya. Namun, Siwon lebih memilih seperti ini dari pada harus melihat tatapan datar dan mengerikan sepasang mata merah itu.
"Hahaha. Kau sudah kembali rupanya." Ucap Siwon sambil menahan kedua pergelangan tangan Kyuhyun yang masih memukul-mukulnya. "Aku tidak akan memberikan vitamin jika kau sudah galak lagi seperti ini, Nona Cho."
"Aish! Menyebalkan." Umpat Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat. "Mengapa kau disini, huh? Bukankah kau harus belajar di kelasmu sendiri?"
"Seorang suami yang baik harus berada di sisi istrinya kapanpun dibutuhkan." Ucap Siwon dengan gaya cool yang konyol.
"Sejak kapan kau jadi suamiku, Choi Siwon! Aku tidak ingat kita pernah menikah!" sahut Kyuhyun sambil bersedekap dan menatap sengit namja menjengkelkan di depannya. "Aku mau kembali saja! Kelompok praktikumku pasti membutuhkanku."
Siwon buru-buru menahan lengan Kyuhyun saat namja manis itu sudah hendak turun dari ranjang.
"Praktikumnya sudah berakhir sejak siang tadi, Nona Cho. Kau pingsan selama 2 jam lamanya. Hanya kelas musik tambahan yang tersisa untuk kita saat ini."
"Benarkah?" tanya Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya yang hanya dijawab anggukan oleh Siwon. Namja manis itu terlihat terkejut dan sedih disaat bersamaan, membuat Siwon tidak tahan untuk mengacak surai ikal coklat yang sudah berantakan itu dengan gemas.
Kyuhyun hanya menggerutu sebal dan berusaha menyingkirkan tangan Siwon yang masih mengacak rambutnya. Siwon menghentikan kegiatannya saat dirasanya Kyuhyun sudah tidak memberikan perlawanan apapun dan hanya terdiam di tempatnya.
"Nona Cho?" ucap Siwon sambil menatap namja manis di depannya yang kini hanya menundukkan wajah.
"Wonnie Hyung, apa aku melakukan sesuatu yang aneh saat aku pingsan?"
Deg
Siwon terdiam mendengar pertanyaan itu. Namja tampan itu menatap khawatir pada Kyuhyun yang kini memeluk kedua lututnya sendiri dan menumpukan kepalanya di atas lututnya yang ia tekuk itu. Iris coklat caramel itu bersinar redup.
Cup
"YA!"
Siwon menampilkan senyum miringnya begitu melihat wajah kesal Kyuhyun sesaat setelah ia mendaratkan kecupan singkat di pipi yang sedikit merona itu.
"Saat kau pingsan, kau terus-terusan memanggil-manggil namaku, Nona Cho. Aku merasa tersanjung."
"Ck! Percuma saja bertanya padamu, Wonnie Pabbo!" sahut Kyuhyun ketus sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. "Padahal aku bermimpi buruk sekali. Menakutkan sekali."
Siwon tersenyum simpul lalu menggenggam jemari lentik di depannya lembut. "Mimpi itu hanya bunga tidur. Kalau kau bermimpi buruk, ceritakan saja kepada orang lain, dan lama-kelamaan orang-orang itu akan menceritakan ke orang yang lain, terus seperti itu hingga banyak yang akan menanggung mimpi burukmu. Dan akhirnya mimpi itu akan terbang, tanpa bisa menjadi kenyataan."
Kyuhyun menatap Siwon dengan pandangan takjub, "Kalau aku menyimpannya sendiri?"
"Mimpimu akan jadi kenyataan." Sahut Siwon santai lalu mendekatkan wajahnya ke namja manis di depannya. "Memangnya kau mimpi apa, Nona Cho? Kau bermimpi aku meninggalkanmu? Atau kau bermimpi aku dinikahkan dengan orang lain? Tenang saja, aku tidak akan pernah melakukannya~"
Pletak
"Mana mungkin aku mimpi tentangmu, Choi Mesum!" ucap Kyuhyun setelah mendaratkan sebuah jitakan 'lembut' di kepala Siwon. "Sudahlah! Aku tidak mau membolos pelajaran terlalu lama! Aku mau kembali ke kelas!"
Siwon hanya meringis sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit karena jitakan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun memilih tidak peduli dan mulai beranjak turun dari ranjang. Namun saat sudah akan menapak lantai, kepalanya terasa berputar hebat hingga membuatnya limbung dan―
Bruk
Kyuhyun membuka matanya saat merasa tubuhnya jatuh ke lantai, namun tidak merasakan kerasnya lantai yang membentur tubuhnya. Ternyata saat matanya terbuka, Siwon ada di depannya, sedang menatapnya khawatir sambil menopang tubuhnya.
"Sudah kubilang untuk tidak bergerak tiba-tiba dulu, Nona Cho. Aku sangat khawatir padamu." Ucap Siwon dengan sorot khawatir lalu membawa tubuh di dekapannya ke atas ranjang lagi.
"Ma-maaf―a-aku…"
Kyuhyun hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona sambil berusaha menetralkan detak jantungnya yang entah mengapa berdetak kencang sekali.
"Aku akan melakukan apapun asal kau tidak terluka, Nona Cho." Ucap Siwon sambil membawa wajah Kyuhyun yang masih berpaling darinya untuk menatapnya. Dan Kyuhyun sukses merona hebat melihat iris kelam yang menatapnya sendu itu. "Tapi tentu saja tidak gratis."
Plak
"CEPAT BANTU AKU TURUN DARI RANJANG AGAR KITA TIDAK TERLAMBAT KE KELAS MUSIK, WONNIE HYUNG!"
Siwon hanya mengusap kepalanya yang di timpuk begitu saja dengan tangan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun kembali berpaling dengan wajah angkuh dan jengkel. Namja menjengkelkan di depannya itu bisa-bisanya berkata-kata manis hingga membuatnya terbang tinggi, namun kalimat terakhirnya sukses membuatnya jatuh lagi dan membuatnya sweatdrop.
"Mengapa kau suka sekali memukul kepalaku, Nona Cho? Bagaimana jika otakku bermasalah dan aku tidak bisa memikirkanmu lagi~" ucap Siwon sambil memperhatikan Kyuhyun yang mulai memakai blazernya.
"Kalau begitu jangan memikirkanku!" sahut Kyuhyun ketus sambil memakai sepatunya yang sejak tadi berada di sisi ranjangnya. "Sekarang bantu aku turun dari sini dan kembali ke kelas sebelum―"
Grep
Ucapan Kyuhyun terhenti saat tiba-tiba Siwon mengekangnya dengan kedua tangannya, membuatnya yang duduk di sisi ranjang tidak bisa bergerak kemanapun.
"W-wonnie―"
"Lupakan!" ucap Siwon datar sambil membawa dagu Kyuhyun mendekat ke arahnya. "Aku tidak akan pernah bisa untuk tidak memikirkanmu, Nona Cho. Kau harus tahu itu."
Kyuhyun hanya membelalak takut melihat sorot datar itu. Sepertinya ia sudah berbicara hal yang salah, begitu pikirnya. Dan namja manis itu juga tidak bisa apa-apa saat Siwon mengangkat dan membawa dagunya semakin dekat kemudian mendaratkan sebuah ciuman hangat di atas bibirnya.
"Kau harus terbiasa dengan aku di sisimu, Nona Cho. Karena mulai sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan sisimu walau hanya satu detik." Ucap Siwon di sela-sela ciumannya kemudian menarik tengkuk Kyuhyun untuk memperdalam ciumannya.
Kyuhyun hanya memejamkan matanya erat sambil mengeratkan genggamannya di sisi ranjang ruang kesehatan yang sedang didudukinya.
"Jika Kyuhyun sudah seperti itu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada kekuatan yang bisa mengimbangi kegelapan dalam dirinya, kecuali satu orang. Hanya Poros Cardinal yang bisa menghentikannya."
Siwon masih mengingat jelas apa yang dikatakan Minho beberapa saat yang lalu. Ia tidak peduli, segelap atau seburuk apapun sesuatu yang ada di dalam tubuh Kyuhyun, ia akan terus melindungi Ordinal-nya ini dan menghadapi apapun yang ada di dalam tubuh namja manisnya ini. Suatu saat nanti.
_Wonkyu_
Tap tap tap
"Wonnie Hyung~"
"Hmm?"
"Aku kan hanya menyuruhmu membantuku turun dari ranjang, DAN BUKAN MENGGENDONGKU SEPERTI INI!"
Siwon tersenyum kecil mendengar kalimat galak di belakangnya. Telinga kirinya sampai berdenging karena suara 'kecil' itu.
Saat ini mereka berdua sedang berjalan santai di koridor kelas 2 di lantai 3 untuk menuju kelas musik sore mereka. Sebenarnya, bukan mereka berdua yang berjalan, lebih tepatnya hanya Siwon saja yang berjalan. Sementara Kyuhyun sedang menyembunyikan wajahnya di punggung Siwon yang saat ini menggendongnya ala Piggy Back.
"Semua orang menatap kita aneh, Hyung."
Siwon kembali tersenyum lalu melangkahkan kakinya santai tanpa memperdulikan tatapan-tatapan di sekelilingnya mengingat saat ini adalah saat pergantian pelajaran, jadi banyak sekali siswa-siswa yang keluar kelas. Beberapa hingga melongok dan menempelkan kepala mereka di jendela-jendela kelas demi melihat pasangan baru ini. ekspresi mereka sangat beragam, kagum, terpesona, iri, cemberut, dan lain sebagainya.
"Kalian lihat apa?!" ucap Siwon dengan sorot mata mematikan saat beberapa siswa yang mencuri-curi pandang pada Kyuhyun yang masih setia menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah karena malu.
"Apa kita sudah sampai?" gumam Kyuhyun sambil sedikit meremas bahu Siwon yang ia jadikan pegangannya, "Hyung, apa kita sudah sampai?"
"Masih kurang beberapa belokan lagi~"
"MWO! Mengapa kelasnya jauh sekali? Dari tadi tidak sampai juga?!"
"Aku sengaja mengambil jalan memutar."
Alis Kyuhyun berkedut kesal mendengar jawaban super santai Siwon. Untung saja posisinya yang berada di belakang, sehingga aman baginya untuk memasang wajah kesal yang mengutuk namja di depannya ini. Apakah Sunbae menjengkelkan yang berkali-kali mencuri ciumannya ini tidak tahu betapa malunya ia saat digendong seperti ini, dengan banyak pasang mata yang melihat?! Begitu batinnya. Sementara Kyuhyun sedang bergulat dengan rasa kesalnya, Siwon justru terlihat senang dan menikmati dengan apa yang dilakukannya saat ini
"Kau tidak capek menggendongku seperti ini?" tanya Kyuhyun kini menyandarkan dagunya di bahu Siwon. Pintu kelas istimewanya itu sudah terlihat di ujung koridor. "Padahal Sungmin Hyung bilang kalau tubuhku sangat berat."
Siwon terdiam ketika nama Sungmin disebut. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa masih ada Sungmin yang bisa memberinya petunjuk tentang Kyuhyun.
"Tubuhmu seringan bulu, Nona Cho. Apa Sungmin Hyung tidak pernah menggendongmu?" tanya Siwon sambil memperlambat langkahnya.
"Tidak pernah." Sahut Kyuhyun dengan muka cemberut, "Sungmin Hyung bilang aku harus jadi anak mandiri. Tapi dia masih saja khawatir tentang hal-hal kecil."
"Hal kecil? Apa?"
"Banyak sekali~" jawab Kyuhyun lagi, "Oh ya! Jangan menceritakan kalau aku pingsan di lab hari ini pada Sungmin Hyung, ya?"
"Boleh saja. Tapi tidak gratis." Sahut Siwon santai hingga membuat Kyuhyun siap melayangkan satu jitakan lagi di kepala namja tampan namun menjengkelkan itu. "Kau tidak boleh ceroboh lagi, Nona Cho. Cukup itu saja bayarannya."
"A-arra-sseo." Ucap Kyuhyun dengan wajah yang sudah blushing parah. Mengapa namja mesum ini selalu mengatakan kata-kata yang membuatnya melambung ke awan? Batinnya.
Tap
Siwon menurunkan Kyuhyun tepat saat mereka sudah sampai di depan pintu bertuliskan 'Music Class' di depan mereka. Kyuhyun masih berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih memerah dengan menatap ke arah lain, sementara Siwon hanya terkekeh pelan sambil mengacak surai ikal coklat yang masih sedikit berantakan itu.
Tok tok tok
Ceklek
"Annyeonghaseyo, Sonsaengnim. Maaf kami terlambat." Ucap Siwon sambil membungkuk sekilas saat pintu terbuka di depan mereka. Kyuhyun berdiri di belakangnya dengan kikuk.
"Selamat datang, Siwon-ah, Kyuhyun-ah." sahut Yoochun riang sambil membuka pintu lebih lebar lagi. "Ayo ayo masuk. Kami sedang membahas tema konser musim gugur sekarang. Dan, kau sudah tidak apa-apa, Kyuhyun-ah? Kudengar kau pingsan di lab karena menghirup kloroform."
Kyuhyun membungkuk sopan sambil tersenyum salah tingkah pada guru muda di depannya. "Maaf karena membuat khawatir, Sonsaengnim."
Yoochun tersenyum lagi lalu mempersilahkan dua murid istimewanya itu masuk ke kelas. Begitu masuk, beberapa sapaan riang langsung saja memenuhi ruangan. Kyuhyun hanya tersenyum untuk membalas semua sapaan teman-temannya itu.
"Halo, Kyu. Kau sudah merasa baikan?" tanya Donghae dan Hyukjae dengan intonasi dan suara yang bersamaan. Keduanya melambai ceria ke arah Kyuhyun.
"Hei, bocah evil! Kau hobby membuat kami semua khawatir tahu!" sahut Heechul dengan pandangan galaknya, namun beberapa saat kemudian namja cantik itu tersenyum.
"Ya! Kalian mengapa lama sekali di ruang kesehatan?" kali ini Yesung yang berbicara dengan seringai di wajahnya. "Kalian pasti―"
"Hei, Sunbae aneh! Jangan berpikiran macam-macam!" sahut Ryeowook sambil melayangkan death glare kepada Yesung yang langsung terdiam, beberapa terkikik geli melihat ekspresi namja berkepala besar itu. "KYUUU~ KAU BAIK-BAIK SAJA, KAN? TEGANYA KAU MENINGGALKANKU SENDIRI DI KELAS~"
Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal begitu pertanyaan-pertanyaan itu menyerangnya. Siwon hanya tersenyum simpul lalu menarik lengan Kyuhyun dan membawa namja manis itu duduk di bangkunya. Kyuhyun hanya memberikan tatapan meminta maaf kepada Ryeowook saat melewati bangkunya. Ryeowook tersenyum mengerti untuk membiarkan Kyuhyun duduk di samping Siwon.
"Hei, Nona Cho~ Aku sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana keadaanmu?" ucap seseorang di samping Siwon hingga membuat Kyuhyun menatapnya kaget. "Kau sudah tidak apa-apa kan, Nona Cho~"
"Hentikan itu. Kau sudah bosan hidup, Jung Yunho?!"
Yunho hanya tertawa geli melihat ekspresi geram di wajah Siwon. Kyuhyun di samping Siwon juga terkikik geli melihat sunbae bermata musangnya itu menirukan panggilan khas Siwon untuknya. Yunho melambai ke arahnya sekilas lalu membuat tanda peace kepada Siwon sebagai tanda damai. Kyuhyun melirik Jaejoong sekilas, namja pendiam itu menatapnya datar sekilas kemudian berpaling.
"Oke. Kita lanjutkan yang tadi." Ucap Yoochun sambil berjalan ke tengah kelas dan menatap siswa-siswanya. "Ada ide lain mengenai konsep musical musim gugur kelas kita?"
"Aku! Aku!" seru Ryeowook sambil mengangkat tangannya. "Bagaimana jika kita meniru konsep High School Musical? Aku sangat suka film itu!"
"Ide bagus. Banyak lagu bagus yang bisa dibawakan di film itu." tambah Hyukjae sambil menerawang. "Koreografinya juga keren."
"Tapi setahuku, konsep itu sudah akan dipakai untuk acara kelulusan siswa kelas tiga tahun ini." ucap Yunho sambil menatap Ryeowook dengan pandangan sedih.
Yoochun terlihat menimbang sesaat lalu mengetuk meja di depannya. "Benar juga. Jadi, bagaimana keputusan kalian mengenai konsep dari Ryeowook?"
"Sepertinya tidak bisa." Sahut Hankyung.
"Maaf sekali, Wookie. Sepertinya kita harus cari yang lain." Hyukjae dan Donghae lagi-lagi berbicara bersamaan.
"Sebenarnya menarik."
"Lebih baik mencari yang lain untuk antisipasi."
Yesung dan Yunho ikut menimpali. Ryeowook terlihat kecewa di tempatnya, namun pada akhirnya namja mungil itu tersenyum dan menerima hasil keputusan kelasnya. Yoochun menepuk bahu Ryeowook pelan untuk mengapresiasi pendapatnya. Kyuhyun hanya membentuk pose 'Fighting' untuk menghibur teman sekelasnya itu.
"Ada yang punya ide lain?"
"Aku punya ide yang luar bisa bagus, Saem!"
Semua perhatian kini beralih ke arah Heechul yang berdiri dari bangkunya dengan wajah berbinar.
"Silahkan, Heechul-ah." sahut Yoochun yang dibalas anggukan mantap oleh Heechul.
"Bagaimana jika kita buat seperti negeri dongeng!" seru Heechul antusias. Semuanya memperhatikan namja cantik itu dengan aneh. "Ada seorang pangeran yang jatuh cinta dengan Cinderella dan ada kurcaci juga. Mereka bertarung dengan seorang penyihir jahat iri dengan kecantikan Cinderella. Ada pesta dansa, ada peri-peri dan ada istana yang megah. Bagaimana? Itu ide yang sangat brilian, kan? Aku bersedia menjadi Cinderella, dan pangerannya uhm, kau boleh menjadi pangerannya, Hankyung-ssi."
Hening
Bahkan jika saja saat itu malam hari, binatang malam pun rasanya enggan untuk mengisi keheningan itu. semuanya masih menatap aneh Heechul yang masih tersenyum-senyum tidak jelas mendalami fantasi di dalam kepalanya.
"E-eerr… Bagaimana pendapat Heechul?" ucap Yoochun terbata sambil memandangi Heechul yang masih tersenyum-senyum tidak jelas menatap Hankyung yang hanya menghela nafas jengah di tempatnya.
"Membosankan." Ucap Hankyung segera sambil membenarkan letak kacamatanya. Singkat, padat, dan jelas. Yang sukses membuat senyum Heechul musnah.
"Sangat membosankan." Sahut Jaejoong yang membuat semua melayangkan tatapan tak percaya kepadanya karena telah membuka mulutnya.
"Super sangat membosankan." Kali ini Donghae yang bersuara.
"Super duper sangat membosankan." Itu Yesung.
"Super duper sangat membosankan MAKSIMAL." Seringaian sadis tergambar di wajah Yunho saat mengucapkan pendapatnya.
Ryeowook dan Hyukjae hanya sweatdrop mendengar komentar 'manis' teman-temannya itu. Heechul sudah seperti akan melemparkan sesuatu kepada semua orang di kelas itu.
"Err… Bagaimana denganmu, Siwon-ah?"
Siwon tersenyum miring sekilas setelah mendengar pertanyaan Yoochun. Namja tampan itu meletakkan tangan kanannya ke bahu Kyuhyun yang juga masih menatap Heechul dengan pandangan antara aneh dan kasihan. "Mengapa kau tidak terjun ke laut saja, Heechul Noona~"
"Wonnie Hyung!" desis Kyuhyun sambil berusaha menyingkirkan tangan Siwon yang melingkari bahunya. Namja manis itu kemudian melayangkan tatapan meminta maaf kepada Heechul.
"APA KATAMU?!"
HAHAHAHAHAHAHA!
Semuanya tertawa keras melihat wajah Heechul yang merah padam karena marah dan malu. Bahkan Yoochun sendiri sampai harus menutupi mulutnya dengan tangannya untuk menahan tawanya. Duo Donghae dan Hyukjae yang tertawa paling keras. Yesung juga tertawa aneh. Siwon dan Yunho masih bertahan dengan seringaiannya, sementara Ryeowook mulai memegangi perutnya yang mulai sakit karena tawanya. Jaejoong dan Hankyung hanya tersenyu kecil di tempatnya.
"KALIAN SEMUA PABBO!" seru Heechul sambil mendudukkan dirinya lalu menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Umpatan-umpatan kecil mengalun darinya, membuat kelas kembali penuh tawa.
"Lebih baik seperti ini konsepnya." Ucap Siwon santai dengan tangan yang masih bertahan merangkul bahu Kyuhyun yang mulai risih disampingnya. "Tentang kisah sekelompok prajurit matahari yang memperjuangkan cahaya untuk menghapus kegelapan di muka bumi. Mereka menguasai semua kekuatan di segala penjuru mata angin. Namun, salah satu dari mereka tidak dapat mempertahankan cahayanya, menjadikannya diselimuti kegelapan yang suatu saat akan melawan cahaya yang mereka perjuangkan. Mereka semua harus mencari cara agar kegelapan itu bisa musnah dan membawa dunia pada cahaya yang abadi selamanya."
Semuanya hening mendengar penjelasan Siwon, bahkan Heechul yang tadi merajuk kini menatap sang Poros Cardinal dengan tatapan terkejut. Bukan hanya Heechul, semua pasang mata disana menatap Siwon tanpa terkecuali.
"Kurasa itu ide yang bagus." Ucap Yoochun sambil mengangguk singkat saat Siwon menatapnya.
Semuanya mengangguk samar saat Siwon mengedarkan pandangannya ke semua penguasa mata angin di sekelilingnya. Namja tampan itu kemudian menggenggam telapak tangan Kyuhyun yang masih berusaha melepaskan diri dari rangkulannya.
"Perang kalian yang sesungguhnya adalah melawannya. Melawan Poros Ordinal. Kalian harus bersatu untuk memusnahkan kegelapan yang ada dalam dirinya dan membuat dunia tidak tenggelam dalam kegelapan untuk kedua kalinya."
_Wonkyu_
Bel pulang baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu. Sekolah elit di pusat kota Soeul itu kini ramai dengan para siswa yang berhamburan keluar. Udara sore itu sangat dingin. Daun-daun yang berguguran mulai berterbangan di jalanan yang kini dipadati langkah kaki para pelajar.
"Aish! Mengapa dingin sekali~"
Yesung tersenyum kecil mendengar ucapan Ryeowook yang berjalan di sampingnya. Namja itu kemudian menghampiri Ordinal-nya lalu menarik tangannya dan menggenggamnya. Ryeowook yang terkejut, berusaha melepaskan tangannya namun gagal. Sunbae aneh di sampingnya itu hanya melanjutkan berjalan sambil sesekali bersenandung pelan.
"Apa yang kau lakukan, Yesung-ssi! Lepaskan tanganku!" ucap Ryeowook dengan wajah memerah entah karena apa.
"Panggil Hyung saja." Balas Yesung pendek sambil menatap namja di sampingnya. Senyum simpul menghiasi wajahnya. Kilatan putih terang melintas di matanya sekejap.
Ryeowook terkejut saat telapak tangannya merasa hangat. Ia tahu, Yesung pasti menggunakan kekuatannya untuk menghangatkan tangannya sendiri.
'Gomawo, Yesung―Hyung~'
Yesung mengangguk sambil menuntun Ordinal-nya itu untuk melintasi halaman Spamcos. Namja berkepala besar itu menerawang sesaat menatap langit kemerahan di atasnya, kemudian matanya beralih menatap seseorang yang berdiri tak jauh darinya lalu mengangguk singkat. Henry membalas anggukan itu dengan senyumnya.
"Kekuatan Cardinal dan Ordinal-nya akan selalu kami jaga. Kalian tidak bisa menggunakan semau kalian, karena kami para Guard punya segelnya. Karena anugerah ini diberikan kepada kalian hanya untuk kepentingan melawan kegelapan, dan bukan untuk main-main."
Heechul menghentikan langkahnya saat udara dingin mengalir menembus seragamnya. Namja cantik itu membiarkan angin dingin menerbangkan surai hitamnya sejenak. Matanya menatap lembaran jingga diatasnya, dan sepasang mata itu bersinar redup saat tidak menemukan bola besar kesukaannya.
'Matahari akan berada di sudut 177,5 derajat bujur timur di jam sekarang. Tidak akan terlihat lagi.'
Heechul tersenyum tipis mendengar kalimat itu di dalam kepalanya. Namja itu kemudian pura-pura cemberut dan menatap Hankyung yang berdiri tak jauh di belakangnya. Cardinal-nya itu berjalan mendekat dengan membawa sebuah mantel di tangannya.
"Mengapa kau tidak membelaku di kelas tadi, Hankyung-ssi?" tanya Heechul dengan wajah yang masih pura-pura kesal.
"Karena idemu memang tidak masuk akal." Sahut Hankyung pendek. Namja itu menyerahkan mantel yang dibawanya kepada Heechul. "Pakailah. Matahariku tidak boleh kedinginan."
Hankyung hanya tersenyum simpul saat melihat wajah Heechul yang memerah sepenuhnya di hadapannya. Ordinal-nya itu lebih memilih berjalan mendahuluinya untuk menyembunyikan raut mukanya yang blushing parah. Namja berdarah Cina itu menengadahkan kepalanya ke atas sebentar untuk melihat sinar kemerahan yang mulai tenggelam. Kata-kata Minho siang tadi masih terngiang di telinganya.
"Matahari itu pernah hilang. Dimatikan olehnya. Menjadikan kegelapan yang abadi, namun seseorang berhasil mengembalikan sinarnya, walaupun ia harus menukar nyawanya, ah bukan, menukar segalanya. Dia adalah Guard Poros yang sebenarnya. Tugas kalian sekarang adalah mencegah hal itu terjadi untuk kedua kalinya. Bukan untuk kalian sendiri, melainkan untuk semua umat manusia."
"Hyukkie?"
Donghae menatap Hyukjae yang tadi berjalan diam disampingnya. Namja itu tidak biasanya diam seperti sekarang. Biasanya Hyukjae-lah yang memulia dan selalu mendominasi percakapan diantara mereka.
"Ada apa?" tanya Donghae lagi, sambil menghadang langkah Ordinal-nya itu.
"Aku tidak pernah ingin kekuatan ini ada padaku, Hae." Donghae terdiam mendengar kalimat lirih itu. Hyukjae masih menunduk di depannya. "Aku tidak mau kutukan ini―"
"Hei, Lee Hyukjae! Kau ini kenapa?" seru Donghae hingga membuat beberapa siswa yang melintas di sekitarnya kini menatapnya aneh.
"Minho bilang―"
"Minho bilang kita bisa melalui ini semua, bukan menyerah pada ini semua." Potong Donghae sambil mencengkeram bahu Ordinal-nya itu erat-erat. "Aku akan selalu mendampingimu. Kau tidak perlu takut."
Hyukjae menatap mata ikan di depannya dengan pandangan yang ragu sesaat. Donghae hanya tersenyum lalu menarik tangannya dan berjalan menerobos lautan siswa yang memenuhi lapangan luas Spamcos High School di depannya.
Jika sudah seperti ini, Hyukjae hanya mampu tersenyum tipis dan menatap mantap kea rag Cardinal-nya itu. Berusaha tidak memikirkan ucapan Minho dan berjalan lurus ke depan.
'Kau adalah Ordinal-ku, Hyukkie. Aku akan selalu melindungi darin apapun.'
"Dia menanamkan kutukan di semua kekuatan Ordinal. Tunggu saja apa kejutan dibalik kekuatan kalian para Ordinal. Ada sesuatu yang gelap yang berhasil ditanamkan Poros kalian disana, dan kalian harus bisa melawannya."
Changmin menyembunyikan tubuhnya yang tadi berjalan santai di koridor lantai satu, saat melihat dua siswa di depannya. Bukan siswa biasa, itu adalah Cardinal dan Ordinal-nya.
"Katakan padaku, Jae!"
"Aku tidak tahu apa-apa, Yunho."
Yunho menghela nafas panjang lalu melepaskan genggamannya di lengan Jaejoong. jaejoong menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Tidak akan ada gunanya kau menyembunyikan rahasia besar sendirian, Jae." Ucap Yunho pelan namun berhasil menghentikan langkah Jaejoong yang sudah berjarak beberapa meter di depannya.
"Aku melakukannya agar tidak ada lagi yang terluka―"
"Tidak!" potong Yunho sambil menatap nanar Ordinalnya, "Semua itu hanya untuk keselamatanmu sendiri. Kau justru akan melukai banyak orang jika tidak membagi kebenaran yang kau ketahui. Aku adalah Cardinal-mu. Dan aku ada untukmu berbagi apapun."
Changmin masih bertahan di posisinya. Diam dan mendengarkan apa yang sedang dibicarakan dua orang yang merupakan tanggung-jawabnya itu. Sementara Jaejoong hanya menatap tak percaya pada Yunho yang kini lebih memilih berjalan mendahuluinya.
"Kau tidak mengerti. Kau tidak mengalaminya, Yunho!"
"Kalau begitu katakan agar aku bisa mengerti, Kim jaejoong."
Jaejoong memalingkan wajahnya saat Yunho menatapnya sendu. Ia tahu Yunho memiliki kekuatan mengendalikan pikiran, namun ia sangat yakin Cardinal-nya itu tidak menggunakan kekuatannya sedikitpun saat ini. sesuatu yang lain di dalam mata musang itu memang selalu menghipnotisnya.
"Bandul itu milik Guard Poros. Seseorang yang menghentikannya saat itu dan merelakan segalanya termasuk hidupnya." Ucap Jaejoong pada akhirnya. Begitu lirih tanpa menatap sepasang mata musang di depannya. "Dia adalah kakak dari Minho, dan saat ini Minho yang menggantikannya. Menggantikannya untuk mati, Yunho."
Changmin masih berdiam di tempatnya saat Yunho mulai membawa tubuh Jaejoong yang mulai gemetar ke dalam pelukannya. Kedua orang itu terlihat menahan rasa sakit yang lagi-lagi memenuhi kepala Jaejoong.
"Poros Ordinal… dia pernah menghancurkan seseorang. Seseorang yang berusaha menolongnya dan mengembalikan cahaya dalam kegelapan yang dibuatnya. Dia menghancurkannya hingga tidak ada yang tersisa darinya."
"Ini pakailah."
Siwon menerima sebuah syal rajut merah tebal dari sepasang tangan pucat yang berbalut sarung tangan hangat di depannya.
"Kau saja yang pakai. Aku tidak mau kau kedinginan, Nona Cho."
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal lalu melemparkan syal merahnya ke tangan Siwon dengan paksa. Siwon hanya menatapnya ragu.
"Aku sudah cukup hangat dengan sarung tangan ini, Wonnie Hyung! Sudahlah pakai saja dan jangan sok jagoan. Lihat uap nyang keluar dari mulutmu, kau pasti juga kedinginan!"
Siwon tersenyum pada akhirnya sambil mengacak surai ikal lembut Kyuhyun. Namja tampan itu menarik tangan lengan Kyuhyun agar mendekat kesisinya lalu melilitkan syal tebal itu ke lehernya kemudian menyambungkannya ke leher Kyuhyun di sampingnya.
"Hey, apa yang lakukan, Wonnie?!" seru Kyuhyun yang mulai merasa bingung dengan tindakan Sunbae-nya ini.
Siwon tidak menanggapi dan kini mulai melepas sarung tangan di tangan kanan Kyuhyun lalu memakainya di tangan kanannya sendiri. Tangan kirinya yang telanjang kini segera menggenggam tangan kanan Kyuhyun yang sudah tidak bersarung tangan dan memasukkan tautan kedua tangan itu ke dalam saku blazernya.
"Nah begini jadi hangat~" ucap Siwon sambil mempererat genggaman tangannya di tangan dingin Kyuhyun yang mulai menghangat di dalam saku blazernya.
"Kau memalukan, Wonnie Hyung."sahut Kyuhyun lirih sambil memalingkan wajahnya yang sudah merona merah karena malu dengan sikap Siwon kepadanya. Namun entah kenapa sesuatu di dalam dirinya menyuruhnya untuk tetap bertahan di posisi seperti sekarang.
"Jja! Kita pulang."
Siwon berjalan santai sambil sesekali melirik wajah Kyuhyun yang sedikit tersembunyi syal yang melingkari lehernya. Namun Siwon yakin sekali, sekilas lalu, ia melihat seberkas rona pink di kedua pipi gembul itu.
"Dialah penghancur ikatan High Polar yang selam ini menjadi sumber kekuatan system mata angin. Sesuatu dalam dirinya sangatlah menakutkan. Kami tidak akan memberitahu, kalian sendirilah yang akan mencari tahu, Axis."
"Hyung, aku bermimpi aneh saat pingsan tadi."
Ucapan pelan itu membuyarkan lamunan Siwon tentang ucapan Minho beberapa waktu yang lalu. namja tampan itu menatap namja manis di sampingnya yang masih menunduk.
"Mimpi apa, Nona Cho? Kau bisa menceritakannya kepadaku." Sahut Siwon sembari mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku bermimpi melihat diriku yang lain sedang melukai orang-orang dan bermain-main dengan darah. Aku takut sekali. Itu seperti bukan aku. Aku tidak mau seperti itu." ucap Kyuhyun dengan tubuh yang mulai gemetar ketakutan.
Siwon terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi aku bersyukur itu hanya mimpi. Iya kan? Itu hanya―"
"Hanya mimpi?"
Siwon dan Kyuhyun menolehkan kepalanya ke samping dengan terkejut. Seorang siswa yang familiar berdiri disana dengan raut muka marah yang bercampur takut.
"Jonghyun-ah?" ucap Kyuhyun dengan sebuah senyuman untuk teman sekelasnya itu.
"JANGAN MENYAPAKU, PSIKOPAT!" seru Jonghyun sambil memundurkan tubuhnya. "KAU MELUKAI DOOJOON DAN MENGACAUKAN KELAS PRAKTIKUM, CHO KYUHYUN!"
Deg
Siwon ingat siapa siswa itu sekarang. Ia adalah salah satu teman sekelas Kyuhyun yang ia selamatkan dari lemparan pisau tadi siang saat insiden di Laboratorium.
"KAU TEROBSESI DENGAN DARAH?!" seru Jonghyun lagi hingga membuat beberapa siswa yang melintas menatapnya aneh dan menghentikan langkahnya. "Jika kau meminta darah! Akan kuberikan kau darah! TAPI JANGAN GANGGU KELASKU LAGI!"
Crasssh
Terlambat beberapa detik. Siwon tercengang melihat kantong plastic yang tadi dilemparkan Jonghyun ke depan tubuh Kyuhyun. Membuat kemeja putih dan blazer biru milik Kyuhyun itu basah.
Oleh cairan berwarna merah.
"Da-darah."
"NONA CHO!"
.
Satu hal yang akhirnya mereka tahu
System itu rusak karena Dia
Ikatan itu terputus karena Dia
Matahari itu menghilang karena Dia
Namun…
Banyak hal yang belum mereka tahu
Ada alasan mengapa Dia merusak system itu
Ada alasan mengapa Dia memutus ikatan itu
Ada alasan mengapa Dia menghancurkan orang itu
Ada alasan baginya, mengapa Matahari harus menghilang saat itu
Ada alasan yang tidak diketahui para Cardinal dan Ordinal
Juga tidak diketahui oleh Poros
Alasan mengapa Dia merelakan gelar Poros Ordinal ternoda
Dia punya semua alasannya…
.
.
.
Annyeong, my dear Readers
IT'S WONKYU MONTH! D-9 TO THE 1013 DAY \^O^/
I'm preparing something on 1013, just wait.
Sorry for very late update. Enjoy this very long chapter ^^
.
Kyuhyun. Dia melihatnya lagi. Darah yang merupakan mainannya. Akankah ia berubah menakutkan?
Wait next chapter :)
Sabar, semua misteri akan dijawab satu-satu. Jadi ikuti saja alur ceritanya dan pasti ada jawaban yang tidak terduga disana.
.
Ask me more on ask . fm by username: BabyWonKyu1013
We'll share together there ^^
Saya sudah berusaha update kilat, tapi FF ini jujur lebih membutuhkan pemerasan otak yang lebih. Hehehe
Tunggu FF saya yang lain, my dear readers #kiss
Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^
Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^
FEEL FREE TO REVIEW ^^
Wonkyu is Love,
BabyWonKyu
