Selamat membaca…
Di bagian lain sudut kota kecil, terdapat sebuah café yang nyaman dan menenangkan. Café tersebut memiliki konsep taman bunga. Banyak kalangan remaja ataupun keluarga kecil diakhir pekan memadati café tersebut setelah seharian menghabiskan waktu untuk menghibur diri. Akan tetapi café bunga itu juga memiliki pengunjung favorit yang selalu datang setelah pulang sekolah atau bimbel.
Pengunjung itu, seorang laki-laki yang memiliki kulit kecoklatan eksotis dengan muka yang cukup manis bukan tampan untuk ukuran cowok maskulin. Para pegawai café pun juga begitu akrab dengan remaja tersebut karena sifatnya yang begitu ramah dan cerewet namun hari ini, ia tidak datang sendirian. Ia membawa seorang laki-laki yang seusianya namun memiliki penampilan yang cukup buruk, ia menggunakan baju dengan style lelaki dewasa yang tidak sesuai dengan umurnya. Entahlah, laki-laki itu sengaja berpakaian aneh atau ia tidak mengerti banyak soal fashion diera modern ini walaupun begitu laki-laki itu masih terlihat tampan.
"N?" kata seorang laki-laki itu, menatap orang yang dipanggil N dengan inten penuh harapan. Mereka duduk di beranda lantai dua.
"apa aku memang mirip dengannya?" sahut remaja manis itu yang disapa N dengan pipi yang memanas menahan kegugupan dan rasa kecewa secara bersamaan. Menatap laki-laki tampan itu dengan gelisah.
"apa kau mau menjadi kekasihku?" lanjut laki-laki itu dengan penekanan suara yang datar, tidak membalas ucapan laki-laki tan itu.
"apa?" tanya laki-laki yang masih berseragam SMA terkejut, salah tingkah ia dengan berpura-pura melakukan sesuatu yang dianggapnya sibuk namun tanpa sengaja dari acara menghilangkah salting, Ia menemukan kertas-kerats lusuh itu yang masih ia bawa kemana-mana didalam tas sampai ia teringat kembali.
"N?" sapa laki-laki tampan itu dengan menatap bingung pada remaja manis itu yang diam, melamun. "N?" ucapnya lagi. "apa kau sakit?" lanjutnya dengan mengerutkan kening. Tetapi yang dipanggil masih tak merespon, tanpa berpikir Panjang si laki- laki berkulit pucat itu berdiri dari duduknya yang berhadap-hadapan dan memeluk remaja berkulit sawo matang itu dengan erat.
Remaja manis itu yang merasakan kehangatan segera tersadar dan beraksi. "apa yang kau lakukan?" mendorong kuat, pelukkan merekapun melonggar.
"mengawatirkanmu?" tukas laki-laki itu, lagi-lagi menatap remaja itu dengan intens penuh harapan.
"apa kau yang sering mengikutiku? Dan menulis kertas-kertas ini?" terang N, mengeluarkan kertas-kertas lusuh dari tasnya dan meletakkannya diatas meja.
Laki-laki yang memiliki tanda lahir dibawah mata itu melihat kertas-kertas itu tanpa menyentuhnya, masih dalam keadaan berdiri didepan N. "aku tidak tahu?"
"jangan bohong, kau orang asing yang aneh dan selalu menyebut N padaku." Jelas remaja manis itu, antara marah dan masih gugup sekaligus takut.
"bukan aku." Jawab lelaki tampan cepat.
"aku tidak percaya." tegas N dengan tidak sopan, ia memeriksa jas panjang coklat muda si laki-laki tampan itu. Ia ingin bukti, mungkin hp atau sesuatu yang mencurigakan. Si laki-laki itu hanya diam tak bergerak dengan kedua tanganya ia angkat keatas.
"ini apa?" menunjukkan sebuah blocknote, pulpen, dompet dan kotak berbahan bludru berwarna hitam dengan aksen pita biru agar terkesan elegan.
"bukankah kertas ini mirip dengan punya kamu? apa maksud semua ini?" menaruh blocknote dan pulpen itu dengan kasar diatas meja dengan tangan yang gemetaran, gelisah.
"apa yang kau inginkan dariku? Apa kau gila?" kata remaja manis itu, resah; mengambil hp dari saku bajunya dan menelpon seseorang.
"aku tidak melakukannya? Percayalah padaku." Tukas si laki-laki itu memohon dengan menampakkan wajah terluka, seakan tidak dapat dipercayai.
"aku hanya ingin menemuimu." Lanjut si laki-laki itu. "aku merindukanmu." Sambil meremas-remas tangannya sendiri seolah mencoba menghilangkan kepanikkan.
"apa N membenciku? Apakah aku kekasih yang menjengkelkan?" cercah lelaki tampan itu yang berusaha mati-matian berbicara banyak, keringatnya mulai bercucuran padahal cuaca begitu dingin. "aku tetap menjaga rahasia hubungan ini. Jika kau tidak menyukainya."
"aku bukan kekasihmu?jangan delusi?kau sungguh gila. Aku sungguh tidak mengenalmu. Jangan macam-macam denganku. Aku sedang menghubungi polisi. Aku punya cukup bukti untuk menuntutmu." Sela si lelaki itu bernama N sambil menunggu telpon untuk dijawab.
"jika kau lari dan melakukan yang mecurigakan. Aku akan teriak." Ungkap N lagi.
"Aku selalu menunggumu di halte bus. Aku sungguh mencintaimu N." cerocos laki-laki tampan itu, mengerutkkan kening, menandakan hatinya terluka.
Disela perdebatan itu, seorang pelayan datang menghampiri mereka; membawakan pesanan.
" apa yang terjadi? Aku mendengar komplain dari pelanggan lain yang tidak jadi singgah dilantai atas ini." Kata pelayan laki-laki yang bername tag won geun, menaruh beberapa pesanan diatas meja.
" won, mau kah kau menjaganya. Aku menelpon seseorang." Terang N secara cepat mengambil barang-barang yang ada dimeja dan memasukkannya ke dalam tas, meninggalkan si laki-laki tampan itu Bersama won geun. ia sepertinya turun ke lantai bawah.
"apa yang terjadi? Apa yang kaulakukan padanya. Aku melihat sesuatu yang tidak biasa padanya." Todong won geun langsung, menatap tajam pada si laki-laki tampan itu.
Si laki-laki tampan itu tidak menjawab, ia hanya meremat tanganya sendiri dan sesekali menyeka keringatnya yang bercucuran deras diwajahnya. Ia tidak memandang wo guen malah menundukkan wajah.
"hei jawab aku." cercah woo geun, menarik kerah si laki-laki berjas coklat muda itu. "siapa kau sebenarnya? kami tak pernah melihatmu."
"jangan berbuat macam-macam dengannya atau kau akan ku hajar." gertak won geun, jengkel padahal dia termasuk laki-laki yang tak mudah emosi.
"maaf." Ungkap si lelaki kulit pucat itu dengan nada datar dengan menghindari tatapan won geun kearah samping.
"apa maaf? Sungguh aneh. Apa hubunganmu dengannya?" melirik seluruh penampilan laki-laki tampan itu, memastikan kecurigaannya.
"maaf. Bolehkah aku meminta kopi itu?" tanya laki-laki tampan yang aneh itu memberanikan diri, ia memandang kopi yang spertinya mulai mendingin diatas meja. Posisi mereka yang masih berdiri didekat meja. "kopi? Dasar orang gila." Melepaskan cengkramannya, mengambil kopi itu dan menumpahkan gelas yang berisi kopi itu didepan lelaki aneh tersebut. "maaf, tanganku tidak sengaja."
Lelaki tampan itu diam, tidak bereaksi. Ia hanya menuduk melihat cairan kopi yang telah berceceran dilantai namun dalam selang ketegangan antara wonguen dan lak-laki aneh itu, suara hadphone dari saku kemeja won geun berbunyi. "sepertinya hakyeon tidak ingin menemuimu. Ia telah pergi. Dan jangn pernah kembali kesini. Kami tidak kan melayanimu. Sekarang kau silahkan pergi. " jawab wongeun setelah mendapat balasan teks massege.
Iapun mendorong laki-laki tampan itu cukup keras hingga lelaki berjas bludru tebal itu bergerak dari tempatnya sedangkan lelaki tampan itu menatap kopi itu dengan nanar dan beranjak pergi.
Si laki-laki itu yang telah keluar dari café memandang sekitar jalanan dengan pandangan bingung. "N tidak menyukaiku, aku harus bagaimana? Sambil berbicara pada dirinya sendiri.
TBC….
Terima kasih telah mem-vote dan masih bersedia membuka ff aneh ini…
Saya mencoba mengakhiri cerita ini…
Semoga segera selesai…
Saya takut berhutang...
See u next chapter…
