BABY GRAND

VIDIOT

CHAPTER 10

LUHAN BERADA di lorong panjang kelabu yang berujung gelap. Diseselilingnya, pada tembok kusam yang retak-retak, ada coretan krayon yang memanjang; seperti krayon itu digoreskan sambil berlari. Goresan itu rendah, seperti digoreskan oleh anak-anak. Luhan mengelus bagian itu dan serpihan krayon biru muda itu menempel di tangannya. Ini baru. Ia menggosokkan ujung jarinya pada gaun merahnya. Ia bingung, tempat apa ini? Ini familiar tapi asing. Ini asing tapi ia merasa pernah berada disini.

Matanya sibuk memandang sekeliling. Semua terlihat hitam dan putih. Tidak ada warna lain selain itu— kecuali coretan krayon dan gaunnya yang berwarna merah. Ia bahkan menyadari bahwa ia tidak memakai alas kaki. Ubin disini terasa sangat dingin seperti permukaan besi di musim dingin. Lorong sempit ini berudara pekat sekaligus dingin yang menusuk.

Lorong ini tak berujung— atau sebenarnya berujung namun diujungnya gelap sekali— ditambah dengan udara berkabut tipis ini membuat pandangan Luhan sedikit kabur. Luhan menggosokkan kedua tangannya pada lengannya yang terbuka. Lengannya sedingin es namun ia merasa leher bagian belakangnya terasa hangat cenderung panas.

Ia maju ke depan pada lorong yang gelap. Hatinya merasa penasaran dengan apa yang ada disana. Ia melangkah beberapa kali dan merasakan dingin yang menusuk tiap kali ia melangkah.

"Kris! Berhenti mengotori tembok!" Suara pria menginteruksi dari belakang. Suaranya hangat dan berwibawa. Sedikit keras sehingga membuat Luhan tersentak kaget. Ia menoleh pada sumber suara. Disana berdiri seorang pria yang ia kenali. Mr. Park. Luhan tersenyum dan membungkukkan badan. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan CEO-nya yang sangat baik ini.

"Mr. Park," Luhan menyapa.

Mr. Park hanya diam. Beliau memandang padanya dengan berkacak pinggang. Beliau berpakaian aneh— tidak seperti biasanya— tuxedo abu-abu kasar dan celana hitam besar. Ada dasi kupu-kupu hitam yang manis di lehernya. Dan beliau terlihat lebih muda.

"Sudah kubilang, kau tidak boleh melakukan itu," Mr. Park memandangnya. Tatapannya penuh kasih dan ada rasa sayang yang sangat dalam disana. "Kemarilah. Kita akan mengunjungi Sehun. Kau tak ingin bertemu dengannya?" Ia bahkan tersenyum saat mengakhiri ajakannya.

"Sehun?" Luhan terkejut. Mr. Park mengenal Sehun? Hal itu membuat Luhan lega. Setidaknya ada seseorang yang mengenal kekasihnya. Ini akan menjadi awal baginya untuk memperkenalkan kekasihnya pada orang-orang yang ia kenal bahkan Baekhyun dan Chanyeol.

"Ayo," Mr. Park berseru lebih keras. "Akan segera hujan jika kau tak bergegas." Mr. Park berbalik dan berjalan menuju pintu lift diujung lain lorong.

Dibelakangnya, Luhan dengan tersenyum mengikuti. Ia juga tak sabar untuk bertemu dengan Sehun. Luhan yakin bahwa Sehun akan terkejut saat mengetahui bahwa Mr. Park sudah mengenalinya.

"Kris, ayo!" Mr. Park berteriak.

Kris?

Luhan menoleh dan melihat seorang bocah kecil berlari ke arahnya.

"Kita akan mengunjungi Sehun?" Bocah itu berteriak.

Itu membuat Luhan tersentak kaget. Bocah itu berlari girang ke arah Luhan. Awalnya Luhan tersenyum menyambutnya namun kemudian senyumnya menghilang terganti linglung. Bocah itu menerjangnya. Ia merasakan tubuhnya terhuyung ke belakang oleh angin yang sangat kuat. Ia merasakan sakit yang sangat di dadanya.

"Ayah, aku ingin membelikannya sesuatu."

Luhan terduduk memegangi dadanya. Tepat di pusat jantungnya terasa sangat nyeri. Ia menoleh ke belakang dan mendapati bocah itu sudah bersama Mr. Park. Ia memanggil Mr. Park dengan sebutan 'ayah', siapa dia?

Sebentar, apa bocah itu menembus dirinya? Luhan semakin linglung. Ia berdiri dan melihat pada dirinya; pada tangannya dan mendapati bagian itu tembus pandang. Ia menoleh pada Mr. Park yang menjauh kemudian ia menoleh ke belakang. Disana ada Sehun sedang berdiri, tersenyum, menatapnya. Tangannya berayun memintanya untuk mendekat.

Luhan merasa banyak hal ganjil disini. Apa ini mimpi? Tentu saja ini mimpi, ada banyak hal tak masuk akal terjadi disini. Luhan mencoba menemukan sesuatu yang masuk akal namun ia tidak sanggup. Ada sesuatu yang menyumbat otaknya sehingga ia tak mampu berfikir jernih.

Ia menggeleng berkali-kali mencoba mencari putusan yang tepat untuk menjelaskan yang baru saja ia alami. Suara lift berdentang parau menandakan Mr. Park dan bocah kecil tadi— Kris, ya, bocah itu tadi dipanggil Kris. Apa itu Kris putra Mr. Park? Memikirkannya membuat Luhan pusing.

Tangan kanannya meraba permukaan tembok, ia mencoba untuk berdiri, sedang tangan kirinya masih memegang dadanya sedang kakinya tertatih mencoba berjalan.

"Lu," Sehun memanggilnya lagi.

Suaranya sangat lembut dan menenangkan. Ada perasaan lega yang sangat besar menyebar disetiap venanya. Ia melangkah dengan gugup menuju pada Sehun namun kemudian ia berhenti karena seseorang menyentuh pundaknya.

"Lu,"

"Zhoumi?"

"Kembalilah pada Mr. Park."

Luhan menggeleng. Bagaimana bisa kakaknya ada disana. Bukankah ia sedang ada tour luar negeri?

Ia memandang Sehun dan berjalan mendekat. Zhoumi, dibelakang, memanggilnya dengan pelan dan Luhan tidak peduli. Ia berjalan tertatih, bertumpu pada tembok, dengan hati-hati. Namun lampu diujung lorong, tempat dimana Sehun berdiri, tiba-tiba mati, disusul dengan lampu kedua, ketiga, kegelapan semakin menelan Sehun dan mendekati Luhan. Luhan merasa takut dan ia berteriak mencari Sehun yang menghilang ditelan kegelapan.

"Sehun!" Ia terus berteriak mencari. "Sehun!"

Namun ia merasa gelap kemudian kepalanya pening sekali. Ia seperti terbawa arus air yang berputar semakin tenggelam ke dasar. Seperti ia memutar dengan kepala dibawah, rasanya seperti vertigo yang tak berjeda.

"Se... Seehun?" ia masih terus berusaha mencari kekasihnya. Berharap pria itu tiba-tiba datang untuk menyelamatkannya. Tangannya menggapai-gapai ruang kosong yang semakin dingin.

"Lu," Luhan merasa lega sekali mendengar suara familiar itu. Sehun memanggilnya.

Ya, sayang, aku disini. Bantu aku. Ini menyakitkan.

Luhan berusaha semakin keras namun tiba-tiba ia merasa mengantuk yang sangat dalam. Matanya berat namun ia yakin sekali bahwa jika ia menutup matanya ia akan mati. Ia mencoba membuka matanya namun tetap gelap.

"Sayang,"

Luhan merasa tangan dingin Sehun mengguncang pundaknya pelan. Itu membuatnya merasa sangat lega. Sehunnya ada disana untuk menyelamatkannya.

Sehun, aku tak bisa bergerak.

Ia mencoba berteriak namun tetap tak bisa. Ia terus berusaha dan ia tahu Sehun mengelus keningnya.

"Kau mimpi buruk lagi? Buka matamu."

Luhan tersentak. Rasanya seperti tubuhnya dilempar dari lubang sumur yang sangat dalam menuju permukaan. Ia melihat cahaya terang yang menyilaukan saat ia membuka sedikit kelopak matanya. Kepalanya berputar vertikal yang membuatnya mual. "Sehun!" ia mengeluarkan suara sangat kuat hingga tenggorokannya serak namun yang keluar hanyalah rintihan memilukan.

"Ya, aku disini."

"Kau disini?" Luhan bertanya. Ia masih belum yakin jika ia telah selamat. Ia belum bisa membuka matanya kembali karena jika ia melakukannya, ia akan merasakan dunia berputar sangat cepat.

"Mimpi buruk?" Sehun memeluknya, berbisik pada telinganya, dan mengelus punggungnya dengan sayang.

Mimpi?

Luhan tak ingin menjawab. Ia menajamkan semua inderanya untuk menangkap rangsangan apapun yang mungkin bisa ia tangkap. Ia merasakan sesuatu yang lembut meringsut mendekati tubuhnya. Ada tubuh Sehun juga yang semakin mendekat. Itu membuat Luhan ingin berlari menjauh, ia merasakan lantai tempatnya bersimpuh bergoyang tak beritme membuatnya semakin pusing.

"Jangan..."

"Jangan apa? Lu, kumohon buka matamu. Kau bermimpi," Sehun mengguncang bahu Luhan lebih kuat. Luhan semakin pusing dan kepalanya melemah. Ia mencoba membuka matanya namun itu sangat berat, seolah ada balok batu yang menimpa kelopak matanya.

Luhan linglung ambruk namun Sehun menangkapnya. "Buka, Lu!" Pria itu membentak keras dan membuat Luhan tersentak.

Ia diam mengumpulkan konsentrasi dan tenaga untuk membuka matanya. Sehun membantunya dengan terus mengajaknya bicara terus menerus. Suaranya seperti panggilan agar Luhan tidak mati. Matanya terbuka pelan, seiring dengan terbukanya mata, Luhan merasa tubuhnya menghangat dengan tidak wajar. Tiba-tiba ia merasakan panas dan ada keringat di keningnya.

"Aku tadi bermimpi?" suaranya masih lemah. Tangannya meraba permukaan selimut yang bergelombang. "Ini dimana?"

"Ya, kau bermimpi dan ini di kamar."

"Syukurlah," Luhan tersenyum lega. Hanya mimpi.

Sedang Sehun mendekat meringsut pada selimut Luhan; meraih pinggul kekasihnya dan membuatnya terduduk. "Aku selalu disini," ia menarik tubuh kecil Luhan pada pelukannya yang dingin.

"Aku bermimpi," Luhan bermonolog. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ia hanya bermimpi. Yang tadi, sangat buruk menurutnya.

Sehun mengangguk. "Kurasa begitu. Apa itu buruk?"

"Mengerikan."

Sehun tersenyum lagi. Ia meraih gelas kaca di meja lampu dan mendekatkannya pada bibir Luhan. "Kalau begitu lupakan. Jangan diingat-ingat. Ada aku disini."

Sekejap Luhan merasa seperti waktu berhenti.

Semakin waktu berlalu, Luhan merasakan kewarasannya kembali menguasai pikirannya. Ia menyadari bahwa Sehun sedang ada disampingnya. Dengan kaki ditekuk maskulin, pria itu memeluknya dengan posesif, menenangkannya dan itu membuatnya merasa lebih baik. Luhan memejamkan matanya dan bayangan mimpi tadi kembali. Ia berfikir tentang apa maksudnya tapi ia enggan meneruskan karena ia merasa sekarang ia sudah aman. Ada Sehun disampingnya. Hanya itu yang ia butuhkan.

"Apa kau masih pusing? Sarapan sudah kusiapkan," telinga Luhan terasa sejuk karena nafas Sehun menyapu tepat di bagian tersensitifnya.

Luhan mengangguk dan merangkak turun, mencoba berdiri. Ia menoleh pada Sehun yang sedang tersenyum padanya. Senyum paling indah yang pernah ia lihat. Pria itu memegang lengannya posesif. Mereka keluar kamar.

"Kau bilang kita akan sarapan," Luhan protes. Mereka berjalan melewati TV menuju ruang yoga. Matahari bersinar lembut menembus kabut abu-abu kebiruan terlihat dari tembok kaca. Luhan tersenyum tipis. Matanya menatap pada baby grand yang berdiri kokoh disudut ruangan.

Sehun tersenyum. "Kemarilah." Itu membuat yang dipanggil mendekat, "Lihatlah," Sehun meraih lengan Luhan dan memeluknya menghadap kaktus, "mereka berbunga."

Ini bunga kaktus tercantik yang ia lihat. Bunganya tidak besar dan berwarna kuning. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. "Aku bahkan sudah lupa apa jenis kaktus ini."

"Mammillaria Fraileana. Kau pernah menyebutkannya padaku. Mereka sangat cantik sepertimu," Sehun berbisik pada telinga Luhan. Itu membuat wanita itu memejamkan mata.

"Aku mencintaimu, Lu."

"Aku sangat mencintaimu, Sehun," Luhan berbalik. Ia mengalungkan tangannya di leher kekasihnya. Kakinya berjinjit untuk meraih bibir Sehun dan ia mendapatkannya. Menempelkan bibirnya pada bibir Sehun yang lembut dan basah. Merasakan bibir itu bergerak mencari sesuatu yang lebih; melumat bibir bawah Luhan dan memberikan sensasi geli di pusar wanita itu.

Sehun memutuskan untuk menarik kepalanya. Ia tersenyum. "Bersamalah denganku. Disini. Selamanya."

Itu membuat Luhan menatap Sehun dengan penuh kepastian. Pupilnya bergerak pelan menilik ekspresi yang diukir Sehun diwajah tampan itu. Ia tidak menemukan kebohongan ataupun keraguan. Pria ini akan menjadi masa depannya, menjadi selamanya bersamanya. Itu pasti.

Yang ditatap ikut tersenyum dan menggiring kekasihnya ke dapur. Mereka harus sarapan, setidaknya Luhan harus sarapan.

.

.

CHEVROLET hitam milik Kris berhenti di parkiran apartemen dengan elegan. Pemiliknya sedang duduk terdiam dibalik kemudi. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan menghubungi seseorang.

"Baek, kau yakin ini tempatnya?" Ia mematikan mesin dan mendorong pintu dengan lengan kokohnya, "ya, aku disini. Nomor berapa? 407? Oke. Hmm, aku akan menghubungimu lagi nanti. Ya."

Ia keluar dan berjalan melewati area parkir yang kosong menuju lift usang disisi pintu masuk. Ada perasaan aneh yang muncul dalam pikiran Kris. Tempat ini, ini seperti tidak asing dalam memorinya. Ia seperti pernah kesini entah untuk urusan apa. Ia menggeleng pelan dan mengangkat wajahnya. Ini hanya perasaannya saja. Pria tinggi itu masuk pada lift dan menekan angka empat. Lantai empat nomor 407. Menekan angka empat seperti inipun terasa tidak asing baginya. Ia pernah melakukannya, di tempat yang sama, suatu kali di masa lalunya. Kris ingin mengingatnya namun ia urungkan. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Ia tidak mungkin datang ke tempat usang semacam ini. Tidak mungkin ia memiliki urusan dengan seseorang yang tinggal di tempat yang bahkan hampir ditinggalkan ini. Pikirannya yang melayang mencari kemungkinan tiba-tiba tersadar karena lift tergoncang tanda bahwa ia sudah sampai di lantai empat. Bahkan bel alarm lift itu sudah tak berfungsi. Itu membuat Kris mendesah panjang. Bagaimana Luhan bisa tinggal di tempat seperti ini.

Ia keluar dan berjalan menjauhi lift. Langkah demi langkahnya sangat mantap membawa tubuh tinggi tampannya pada pintu-pintu tua yang berjajar di sisi kiri dan kanannya.

401

403

405

407

Ia berhenti. Jadi disini gadis itu tinggal. Kris menoleh ke belakang. Lift tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, itu berarti kamar-kamar apartemen ini tidak terlalu luas. Ia mengambil satu nafas panjang kemudian menekan bel dua kali. Kedua tangannya membenahi jas yang ia kenakan kemudian kembali menekan bel. Kris menunggu namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Mungkin bel ini tidak berfungsi. Ia mengetuk pintu dua kali dengan cepat. Berharap Luhan mendengar dan membuka pintu untuknya.

"Lu," ia sedikit berseru, "kau di dalam?"

Suara langkah kaki berjalan mendekat terdengar dari balik pintu. Kris mundur satu langkah untuk mengantisipasi siapa yang akan muncul dari pintu itu. Ia yakin itu Luhan.

"Siapa?" Pintu terbuka 10 senti dan mata Luhan mengintip dari baliknya.

"Kris. Aku Kris."

"Yifan?"

Kris tersenyum mengangguk. "Boleh aku masuk?"

Pintu dibuka oleh Luhan. Kris merasa jantungnya berdetak sangat kuat. Ia takut. Takut jika Luhan benar-benar menunjukkan gejala depresi, stres, atau sejenisnya.

"Apa yang membawamu kemari?" Luhan memandangnya curiga. Namun kris tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Luhan. Ia menatap wanita itu. Badannya tetap segar, bahkan pipinya sedikit gembul.

"Kenapa?" Luhan bertanya.

Kris semakin linglung. Matanya menilik Luhan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia bahkan memandang sekeliling. Rak sepatu disampingnya terlihat rapi, lantai cokelat disana juga terlihat bersih. Ia yakin Baekhyun melebih-lebihkan tentang apa yang ia lihat kemarin.

"Oppa!" Luhan berseru, "apa yang membawamu kemari?"

Kris terperanjat sedikit. "Hm? Tidak ada. Aku hanya mampir. Kita... kita lama tak berjumpa."

"Masuklah."

Luhan membawakannya secangkir teh hangat dan beberapa potong kue bulat dengan toping cokelat. Itu membuat Kris tersenyum. Ia yakin Luhan baik-baik saja.

"Bagaimana kabarmu?" Kris mencoba bertanya. Ia serius, ini bukanlah untuk berbasa-basi.

"Baik."

"Kenapa kau tak datang ke perusahaan? Kau mendapat banyak tawaran pekerjaan."

Kris melihat Luhan mengangkat bahunya. "Aku tak tahu. Aku merasa jenuh, Oppa," Luhan melipat kakinya pada sofa, "aku melakukan pekerjaan ini dalam waktu yang sangat panjang. Dari aku muda sampai aku berusia hampir 28."

"Kau ingin berhenti?"

Luhan menggeleng. "Bagaimana bisa aku berhenti. Aku... aku hanya ingin beristirahat sebentar. Aku ingin menghirup udara segar."

Kris tersenyum. Ia memegang cangkirnya kemudian menghirup teh yang ada disana. Matanya melihat sekeliling, ia berfikir tentang rumah berantakan yang dibicarakan oleh Baekhyun. Rumah ini 100% bersih. Sofa cokelat tuanya nyaman dan tak berdebu. Dapurnya tertata rapi walaupun terlihat usang, Kris memakluminya karena ini adalah apartemen tua.

Setidaknya ada satu yang membuat Kris lega, Luhan baik-baik saja disini.

Berbincang dengan Luhan beberapa saat membuat Kris merasa sedikit tenang. Ia tahu apa yang sudah menimpa Luhan. Wanita itu hanya merasa jenuh dengan pekerjaannya dan ingin beristirahat sebentar.

"Datanglah ke perusahaan. Ada banyak hal menarik yang mungkin bisa kita lakukan bersama disana," Kris tersenyum tulus. Dalam hatinya ia berharap Luhan akan terbuka dengannya, kemudian mengatakan apapun yang membuat gadis ini senang maupun susah hanya kepadanya. Ia ingin Luhan menjadikannya pria pertama yang wanita ini datangi saat ia merasa tidak baik.

Luhan membalasnya dengan senyuman yang memikat. Ia berpaling pada kue bulat di piring, matanya menawarkan Kris untuk mencicipinya.

Kris mengangguk dan mengambil satu. "Ini enak," Kris memuji. "Bisa kau ambilkan aku tissue?"

.

.

Kris duduk di dalam mobilnya sembari berfikir. Ia merasa lega karena Luhan terlihat baik-baik saja, tapi di sisi lain ia merasa kesal pada Baekhyun yang membesar-besarkan masalah ini. Ia tidak menemukan apapun yang salah pada Luhan. Mungkin kemarin Luhan hanya belum sempat membersihkan rumah dan ia baru membersihkannya sekarang. Hari ini terlihat baik-baik saja.

Kris membuka ponselnya sebentar. Memeriksa galeri fotonya yang hanya berisi beberapa. Fokusnya pada latest photos yang berisi empat foto di ruangan Luhan. Ruangan sederhana dengan tembok putih dan lantai cokelat itu terasa sangat hangat. Rumah itu seperti rumah. Rumah tua yang lama sekali tidak dikunjungi dan ketika seseorang pulang kesana, rumah itu akan menahannya untuk tak kembali. Mungkin Luhan merasakan hal itu.

Ia menggeser kembali galerinya dan menemukan foto yang kemarin dikirimkan oleh Baekhyun. Foto itu diambil di sebuah kamar seorang wanita— itu terlihat dari warna yang diberikan disana. Ada foto Luhan yang besar di atas head-bed ranjang, menandakan bahwa pemiliknya tak lain adalah Luhan. Kamar itu berantakan, bed covernya kotor dan banyak baju berserakan. Apa ini kamar yang tersembunyi di balik pintu putih tadi?

Kris menghela nafas panjang. Matanya berputar memandang sekeliling. Ia tak percaya jika Luhan seperti itu. Kamar itu, mungkin Luhan hanya belum membersihkannya atau mungkin Baekhyun memotret kamar yang berbeda.

Mungkin.

Ia harus menemui Baekhyun dan Chanyeol sekarang. Kris memasang wireless headphone di telinganya kemudian menjalankan mobil.

Sambungan telepon berbunyi tiga kali dan baru ada jawaban.

"Baek, ah, Chan, aku dalam perjalanan ke kantor. Kau disana?" Kris menginjak gas menjauhi area parkir, ia berbelok pada tikungan, meninggalkan halaman apartemen Luhan, "apartemenmu? Oke, aku dalam perjalanan."

Dengan kecepatan 80km/jam Kris melaju menuju apartemen mewah milik adiknya.

.

.

"Dia pergi?" Luhan beranjak dari sofanya. Tangannya mengangkat cangkir teh milik Kris kemudian menaruhnya di wastafel. "Kenapa akhir-akhir ini aku banyak dikunjungi tamu." Tangannya sibuk dengan busa sabun dan bibirnya sibuk mengeluh.

"Mereka hanya mengunjungimu," Sehun tersenyum manis di depan jendela kaca. Tangannya memegang cangkir teh sedangkan matanya menatap mobil sedan hitam yang baru saja berputar meninggalkan halaman apartemen. Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Ia bergumam sangat lirih,"Lama tak bertemu, Kris."

"Aku tidak suka dikunjungi."

"Mereka memperhatikanmu," ia tersenyum sangat tampan kemudian berbalik mendekat pada Luhan. Ia berjalan sangat normal melewati papan pembatas dapur dan berdiri di samping TV. "Ingin tidur siang?"

.

.

Baekhyun dan Chanyeol sedang meringkuk di balik selimut saat pintu depan berbunyi bip-bip sebanyak enam kali. Setelahnya disusul suara tingg! yang sedikit keras dari sumber yang sama.

Chanyeol mendesah, "Ia tidak pernah mengetuk pintu," ia beranjak dari ranjangnya, melepas pelukan Baekhyun, lalu mengambil celananya di samping lampu. "Mandilah," ia tersenyum pada Baekhyun yang menatapnya nakal.

"Aku ada di dapur jika kau sudah selesai," ia menambahkan.

"Kau tak menciumku?" Kekasihnya membuka selimut dan meraih lingerie diujung kakinya. Suaranya terdengar kecewa.

Chanyeol tersenyum sebentar setelahnya memalingkan wajah. Ia melirik kekasihnya sekali lagi kemudian berujar, "pakai itu. Kris berjalan kemari."

"Aku sudah mengunci pintu kamar. Ayolah..." lagi, Baekhyun merajuk manja.

"Mandilah. Aku akan keluar."

Chanyeol memungut kaos hitam polos di kaki meja kemudian memakainya sambil berjalan menuju pintu. Ia berbalik pada Baekhyun dan menunjuknya dengan jari telunjuk, "mandilah."

Sedang yang ditunjuk hanya mendesah sebal. Ia ingin lagi dan Chanyeol menolaknya.

Pintu tertutup pelan dan Chanyeol menemukan Kris berada di depan lemari es. Pria itu meminum satu gelas tinggi air putih.

"Kau haus?" ia meraih gelas yang dipegang Kris dan meneguknya.

"Kau yang haus. Kau bersenang-senang, adikku?" Kris mengendus tubuh Chanyeol seperti seekor anjing. Ia mencoba mencari aroma cinta disana dan ia berhasil menemukannya. "Kau bau," Kris berjalan menjauh. Ia mendaratkan tubuhnya pada kursi bar tinggi di depan kabinet dapur. "Aku baru saja mengunjungi Luhan."

"Lalu?" Chanyeol membuka satu plastik sosis dan meraih teflon. "Kau bertemu dengannya?"

Kris mengangguk.

"Kau sudah makan?"

"Aku tidak makan apapun yang kau masak," kris memutar kursinya hingga menghadap pada pintu-pintu yang berjajar di belakangnya. "Dimana Baekhyun?"

"Mandi," Chanyeol menjawab singkat. Ia berkonsentrasi pada potongan-potongan sosis yang ia masak. Ia terlalu lapar untuk sekedar membicarakan hal lain.

Kris diam. Ia memilih untuk menunggu Baekhyun karena sedari awal memang Chanyeol tidak terlalu antusias dengan masalah ini. Adiknya itu masih kukuh dengan opininya yang mengatakan Luhan hanya perlu istirahat dan sepertinya Kris mulai mempercayainya.

"Oppa!" Baekhyun muncul dari salah satu pintu kamar disana, "bagaimana?" ia menjerit.

Kris menutup telinganya secara spontan. Ia dapat mendengar Chanyeol terkikik dibelakang sana.

"Semua baik-baik saja, Baek," Kris mengatakannya dengan tak antusias. Ia memutar kursinya menghadap sosis-sosis Chanyeol yang mulai berubah warna kecokelatan. "Tidak ada hal buruk yang menimpa Luhan."

Kris meraih garpu dan menusuk satu. Chanyeol memelototinya, bibirnya mengucap kalimat, "kau bilang bahwa kau tak mau," namun tak ada suara yang keluar. Ia hanya tersenyum dengan bibir yang sibuk mengunyah.

"Seperti maumu, aku mengambil beberapa foto," ia menatap Baekhyun yang duduk disampingnya. Ia menggeser ponselnya ke arah Baekhyun. "Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa masuk ke kamarnya. Itu gila."

Baekhyun meraih ponsel itu kemudian menggeser layarnya. "Kau tak menguncinya?"

Kris menggeleng. Ia menikmati sosis yang digoreng Chanyeol dengan nikmat. Perutnya sangat lapar tanpa alasan, padahal ia sangat ingat tadi ia makan dua potong kue di apartemen Luhan.

"Oh, kau punya dua pesan, Oppa," Baekhyun tersenyum memandang Kris. Yang dipandang hanya menghembuskan nafas panjang.

"Lihat saja galeri foto. Jangan membuka yang lain."

Yang ditegur hanya tersenyum mengejek. "Galeri foto," ia bergumam. "Hm, ini dia."

Chanyeol yang sedari tadi diam kini menaruh perhatiannya pada kekasihnya. Ia memandang ekspresi Baekhyun yang terdiam.

"Nah, kau lihat bukan! Lihatlah, sangat berantakan!" Baekhyun berseru dan itu mengagetkan Kris.

"Apanya? Semua normal!" Kris membalas santai.

"Biar kulihat," Chanyeol memajukan tubuhnya mendekat pada ponsel yang dipegang Baekhyun dan Baekhyun memberikannya.

"Lihatlah, berantakan, kan?"

Chanyeol memadang sebentar lalu menjauhkan wajahnya dari sana. "Apa itu tempat yang ditinggali Luhan? bagaimana bisa seperti itu."

"Lihat, ia memberikan gelas yang sama padamu, Oppa. Gelas ini—" Baekhyun mengetuk ponsel yang ia pegang, "— gelas ini juga ia berikan padaku. Menjijikkan."

Kris mendesah panjang kemudian merampas ponsel yang diperhatikan oleh dua sejoli dihadapannya. "Kemarikan!" ia membuka ponselnya kemudian terdiam.

Itu foto yang ia ambil tadi. Foto yang ia cek di dalam mobil tadi. Ruangannya, apapun yang ada disana, BERBEDA.

Dimana sofa cokelat tua yang ia duduki tadi? Sofa di dalam foto itu berwarna merah. TV yang ada disana tadi, kenapa berbeda? Kue yang dipiring, ia ingat sekali hanya memakannya dua, kenapa di foto piring itu kosong. Disana banyak sekali debu yang menempel. Ia berhenti saat layar ponselnya padam.

"Baek," ia menatap Baekhyun serius. "Dimana kunciku?"

"Hm? Oppa, apa yang terjadi?"

"Hyung, kau tak apa?"

"Aku harus pergi."

Kemudian Kris berdiri dan berlari menuju pintu. Ada seseorang yang harus ia temui.

.

.

KIM JONGIN melotot pada Kris yang sedang mendesaknya disamping wastafel toilet. Wajahnya masih basah karena bekas mencuci muka beberapa saat yang lalu. Ia terkejut bagaimana orang ini bisa masuk ke dalam perusahaannya.

Matanya menatap sekeliling, pada empat bilik yang terbuka disana. Tempat ini kosong, hanya ada mereka berdua. Itu bagus karena Jongin merasa lega karena tidak akan ada yang melihatnya diperlakukan seperti ini.

Pandangannya kembali pada sosok tinggi maskulin di hadapannya, "Ada apa, Kris?" Suaranya bergetar. Kris sudah lama membencinya, ia tahu itu. Ini adalah pertemuan pertamanya setelah Jongin debut sebagai aktor. Untuk apa pria ini tiba-tiba datang dan mendesaknya seperti ini. Apapun alasannya, Jongin tidak ingin berhubungan dengan Kris. Pria ini menyebalkan dan berbahaya.

Kris tidak menjawab. Ia mengatur nafasnya yang meraung karena menahan amarah. Ia ingin sekali menonjok pria ini sekedar untuk melampiaskan amarah namun ia mengurungkannya. Jongin tidak bersalah atau bahkan tidak mengetahui apa-apa.

"Ada apa, Kris?" Jongin mengulanginya disela usahanya melepas lengan Kris yang menekan tenggorokannya. Buku-buku jarinya memutih karena usahanya yang tak berhasil. "Kumohon!"

Kris melepasnya dan sedetik kemudian Jongin merosot terduduk terbatuk. "Ada apa?" Ia mendongak mencari wajah Kris yang menatap pada cermin. Tangannya masih memegangi lehernya yang terasa panas. Kris tidak main-main saat mencengkeramnya tadi.

"Luhan." Kris bergumam.

"Luhan? Ada apa dengannya?" Kenapa harus sesuatu yang menyangkut Luhan!

Kris mendengar suara Jongin yang tak menunjukkan keterkejutan, suara itu terdengar malas dan lelah. Sedari awal Kris tahu Jongin tidak akan pernah tahu tentang apa yang menimpa Luhan saat ini. Ia datang kesini juga bukan untuk mengadili Jongin atau menghajarnya atau melimpahkan semua kesalahan yang terjadi pada Luhan pada pria ini.

Ia hanya ingin meminta bantuan Jongin untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Luhan. namun saat ia melihat Jongin, ia merasa darahnya naik sampai ubun-ubun. Kejadian masa lalu terputar kembali membuat Kris ingin sekali membunuh orang ini. Orang yang membuat Luhan menderita lama sekali— mungkin sampai sekarang juga.

"Ia dalam masalah," Kris mulai tenang.

"Masalah?" Matanya melotot tak percaya. "Apa?"

"Kurasa dia berimajinasi atau sejenisnya." Kris berhenti sejenak. Ia menatap Jongin untuk mencoba membaca ekspresi apa itu. Wajah jongin tersentak kaget dan pupil matanya resah memandang mata Kris.

"Jelaskan padaku," Jongin merespon terperanjat. Ia berdiri dan itu membuat Kris mundur menjauh. "Imajinasi? Apa maksudnya?" suara Jongin mendesak Kris untuk segera berbicara.

"Ada kantin atau semacamnya disini? Kita cari tempat yang lebih nyaman."

"Itu salahmu kenapa kau mendatangiku di toilet," Jongin mendengus dan berjalan melewati Kris. "Ikut aku." Ia maju melangkah, ia meraih tissue di sampingnya dan mengusap wajah. Kris memberinya jalan untuk membiarkan Jongin memimpinnya ke tempat yang lebih nyaman.

"Kau populer," Jongin berkata dalam senyumnya.

"Maksudmu?" Kris menjawab tak acuh.

Sedang Jongin menatap Kris kemudian melayangkan pandang pada wanita-wanita di ruang luas dengan ruang-ruang kecil bersekat kaca berjajar disana. Para officer yang bekerja di depan komputer memandang mereka secara terang-terangan, "Mereka memperhatikanmu."

"Aku hanya terlahir tampan."

Jongin mendesis malas. Ia memutuskan untuk diam dan terus berjalan. Mereka berbelok pada lorong terang di sisi practice room yang berisik kemudian menemukan tulisan 'Kafetaria´ berwarna hijau menempel pada temboknya.

"Duduklah," carilah kursi ternyaman menurutmu. Aku akan membawakanmu sesuatu.

"Kopi," Kris menyaut. Kakinya berjalan lurus pada sofa dekat jendela. Disini, sofanya tertata perblok saling berjauhan. Terlihat bahwa artisnya, atau siapapun yang sering mengunjungi tempat ini, tidak suka berbincang bersama.

"Luhan kenapa?" Jongin bertanya bahkan saat ia masih lima meter di depan Kris.

"Kau bersamanya saat di Milan?" Kris memulai.

Jongin mengangguk. "Ya."

"Kau bertemu dengannya setelahnya?"

Kali ini Jongin menggeleng. "Tidak. Aku bahkan tidak pernah menghubunginya. Kau tahu, kan, bahwa aku tidak bisa menghubunginya. Ia membenciku dan aku tak mau menyakitinya lagi."

"Sudah kuduga," Kris menghembuskan nafasnya cepat. Ia menekan pelipisnya. "Aku tadi datang ke apartemennya."

Kris berhenti sejenak untuk mengingat apa yang tadi ia lakukan. Bulu kuduknya berdiri tiap kali ia mengingatnya.

"Luhan berubah, Jong. Ia tak seperti Luhan yang kau temui di Milan. Aku tahu kau mengenal Luhan sama dekatnya seperti aku mengenalnya. Kami butuh bantuanmu untuk membuatnya lebih baik."

"Membuatnya lebih baik? Apa kau bercanda? Aku akan membuatnya tambah parah. Aku bahkan sempat bertengkat dengannya di Milan."

Kris diam. ia berfikir tentang apa yang menimpa Luhan – dan apa yang menimpanya— banyak hal yang tidak masuk akal telah terjadi. Ia yakin sekali tadi ia masuk ke apartemen 407 dan bertemu dengan Luhan. Ruang apartemennya terlihat tua seperti apartemen tua pada umumnya. Ia pikir itu normal, namun saat ia melihat foto yang ia ambil tadi, ia merasa seperti ada bom meledak di bagian terdalam isi kepalanya.

Yang ia potret berbeda dengan apa yang ia lihat. Ruangan dalam foto itu terlihat berbeda. Sebuah ruangan yang lebih modern. Ada TV layar datar, pintu kamar yang dicat ulang, dan sofa minimalis yang berwarna cerah.

"Kris, kau tak apa?"

Jongin mengguncang lengan Kris. Ia menyodorkan kopi panas padanya.

"Terima kasih," Kris berucap.

"Sebenarnya apa maksudmu dengan Luhan berubah? Imajinasi? Apa itu?" Jongin mulai menuntut. Wajahnya terlihat serius dan antusias.

"Ia seperti berimajinasi," Kris menutup matanya. Ia butuh sebuah cerita fiktif yang bisa membuatnya tak perlu menceritakan tentang ia yang mengunjungi tempat yang berbeda pada pertemuannya dengan Luhan. "Ia seperti hidup di tempat yang berbeda. Ia merasa demikian, tapi nyatanya tidak. Semacam itu."

Jongin mengerutkan kening. "Apa ada hal semacam itu?"

Kini Kris mengangkat bahu. "Aku bukan mahasiswa kedokteran. Mana aku tahu! Aku hanya mengatakan apa yang kulihat," Kris melotot marah pada Jongin. yang dipelototi menjauh karena ngeri.

"Aku hanya bertanya!" Jongin mendengus memalingkan wajah. "Apa kau sudah bertanya dengan dr. Zhang?"

"Zhang?"

"Yixing."

Kris berfikir. Benar, mungkin Yixing tahu tentang hal ini, namun ia tak mau melibatkan lebih banyak orang lagi. Disamping itu, ia masih tak yakin tentang apa yang menimpa Luhan.

Ini bukan hal yang bisa dijelaskan dunia medis karena ini bukan imajinasi Luhan. Ini sesuatu yang Kris juga mengalaminya.

Bagaimana bisa foto itu berubah. Bagaimana bisa ia melihat hal yang berbeda dengan apa yang ia foto.

Ia datang kemari bukan untuk mendiskusikan apa yang menimpa Luhan. Kris hanya butuh bantuan seseorang untuk berjunjung ke apartemen wanita itu, sekedar untuk memastikan apakah rumah itu berantakan atau tidak; apakah foto itu yang keliru atau mata kris yang salah. Ia butuh seseorang yang bisa masuk ke sana. Seseorang yang dikenal Luhan.

Dan seseorang itu adalah Kim Jongin.

"Jongin?"

Jongin mengangkat kepalanya, menatap pada Kris. "Apa?"

"Berkunjunglah ke rumah Luhan."

Kini bibir aktor itu terbuka lebar. "Me.. mengunjunginya?" pertanyaannya dijawab dengan anggukan oleh Kris.

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?" Kini nada suara Kris meningkat.

"Ia tidak menyukaiku. Apa aku gila sampai aku datang kesana. Yang terjadi adalah aku akan membuatnya semakin gila."

Kalimat Jongin membuat Kris beram. "Kau menyebutnya gila?"

"Maksudku, semakin parah."

"Jika kau merasa bersalah padanya, datanglah kesana!"

Jongin mendesah. Ia membanting punggungnya pada sandaran sofa. Tiba-tiba kepalanya terbayang dirinya dengan memakai masker, topi hitam, dan jaket kulit berjalan mengunjungi Luhan di sebuah apartemen jelek dan usang. Bagaimana jika ada yang melihat? Ia akan mati diberitakan. Shit! Jongin bukan orang yang suka muncul di public space. Lalu ini apa? Permintaan Kris tak bisa ia tolak. Karena, tentang rasa bersalah itu, ia harus melakukannya.

"Aku akan pergi."

to be continueeee...

pertama, terima kasih atas reviews kalian.

Kedua, maaf karena pendek. Memang chapternya harus berhenti disitu. AKu usahakan update soon.

Ketiga, aku tahu FF ini tidak masuk akal. Maaf. Tolong jika kalian menemukan kejanggalan, keanehan, kekurang-koherenan, ketidak-kohesifan cerita, tolong, tulis di kolom review. Itu akan sangat membantuku untuk memperbaiki FF ini— dan atau FF lain setelah Baby Grand.

Besides, thanks readers. I love you so much. Untuk kontak silahkan buka profile.