Perhatian: Seluruh cerita Hetalia yang ada di dalam fanfiction ini adalah murni fiksi dengan setting Alternate Universe di mana mereka tidak dianggap sebagai sebuah entitas Negara, melainkan sebagai individu yang memiliki kehidupan pribadi dan emosi layaknya manusia. Cerita ini tidak ada hubungannya dengan kisah Hetalia pada serial aslinya. Di dalamnya juga terdapat crack pairing Ger/Ukr atau Ludwig x Katyusha. Bila ada kesamaan nama atau tempat di dunia nyata, itu hanya kebetulan. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca.


Disclaimer: Hetalia – Hidekazu Himaruya

Pairing: Ger/Ukr

Genre: Drama/Family/Romance

Rating: T

604.080 detik

Chapter 9: Baby Ludwig's Day Out

Ludwig POV

Kamis

12.22 siang

Siang itu…langit berselimutkan mendung hitam kelam bersamaan dengan jatuhnya titik titik hujan yang membasahi tanah. Dalam sendunya suasana yang diliputi kegelapan mendung, diiku berada sendirian di sebuah ruangan berdindingkan kayu yang gelap dan pengap. Tidak ada lampu maupun penerangan yang cukup…hanya sebuah ventilasi kecil yang ada di dinding ruangan. Hanya saja, cahaya yang seharusnya bisa masuk ke dalam ruangan yang mirip gudang ini harus terhalang oleh palang palang kayu yang menempel di antara lubang ventilasi.

'Schisse! Gelap sekali! Seharusnya ruangan ini lebih punya banyak ventilasi!' keluhku kesal di dalam hati. Dalam minimnya cahaya di ruangan sempit yang penuh tumpukan barang barang itu, samar samar aku melihat sebuah pintu dari seng bekas yang dipalangi oleh balok balok kayu berukuran sedang. Sepertinya pintu seng itu menghubungkan ruangan ini dengan dunia luar.

"Bagus! Sepertinya keberuntungan masih berpihak padaku!" gumamku optimis. Namun aku juga tidak bisa tenang bila tidak bisa menemukan suatu alat yang tepat untuk menyingkirkan balok balok kayu itu dari pintu seng yang ada di sana. Untungnya, paku paku yang merekatkan balok balok kayu pada pintu seng itu sudah berkarat dan ringkih…sepertinya mudah untuk disingkirkan.

Dengan sigap, tangan kananku segera menggeledah saku celanaku. Kuraih ponsel miniku dengan tergesa gesa dan kunyalakan lampunya. Meski nyala cahayanya sama sekali tidak begitu terang seperti sebuah bola lampu, kuanggap nyala lampu dari ponselku cukup untuk menemaniku 'berpetualang' di dalam ruangan yang gelap ini.

Segera kuletakkan tas putih yang berada di dalam gendonganku itu ke 'lantai' yang hanya beralaskan tanah. Kuarahkan nyala lampu pada sekitar ruangan yang ada di sana. Kutemukan barang barang bekas di dalamnya…kursi kayu bekas yang sudah rusak, tumpukan jerami, kotak kotak kardus yang berserakan, kotak kotak kayu, botol botol kaca besar seperti botol tempat obat, tali temali, potongan seng bekas, gunting tanaman, untaian kawat besi yang sebagian besar sudah berkarat, tumpukan rosongsokan besi dan lain sebagainya. Seluruh barang barang bekas tersebut bertumpuk tumpang tindih di dalam 'balutan' tebalnya debu dan jalinan benang benang laba laba di atasnya.

"Uhuk…uhuk…uhuk…argghh! Apa Belle dan suaminya malas bersih bersih gudang?" keluhku seraya berusaha mengusir tumpukan debu itu dari benda benda tersebut. Barang barang tersebut sebenarnya akan sangat berguna bagiku, namun sebelumnya aku harus menemukan suatu benda yang kuat dan tajam…

Tanpa pikir panjang, segera kukumpulkan barang barang yang layaknya sangat berguna bagiku dan kuletakkan di tempat yang aman. 'Bagus…sedikit lagi!' pikirku yakin. 'Aku harus bergegas sebelum nyawa mereka melayang' batinku resah, sementara peluh tak berehenti mengaliri dahiku di tengah pengapnya ruangan ini.

DOK DOK DOK tiba tiba dari luar ruangan terdengar seseorang sedang menggedor gedor pintu yang sengaja kututup dari dalam agar tak satupun orang bisa memasuki ruangan gudang pengap ini.

"LUTZ! BUKAIN PINTU DONNNNGGG! LUTZ! JANGAN NAKAL!" suara cempreng itu terus memanggil manggil namaku.

"LUTZ! JAHAT! HUWEEEEE!" tangisan cempreng mulai menggema bersamaan dengan suara gedoran yang terus menghantam pintu masuk gudang ini. Tidak hanya satu atau dua suara yang terus terusan memanggilku…semakin lama jumlah suara tersebut semakin banyak dan gedoran pintu pun semakin kuat. Tumpukan kursi kayu bekas dan kotak kotak kayu yang sengaja kuletakkan di pintu masuk tersebut demi mencegah masuknya seseorang ke dalam ruangan ini terus bergerak bergeser dari posisi sebelumnya seolah mereka tidak sanggup lagi untuk menahan serangan membabi buta dari para penggedor pintu yang ada di luar ruangan.

'Celaka! Mereka mengetahui di mana posisiku' dalam kepanikan, aku bergegas mencari suatu alat untuk membuka palang balok kayu yang merintangi pintu seng itu. Dalam situasi itu, kedua mataku melihat sebuah benda yang tak lain adalah sebuah linggis panjang berwarna hitam tergeletak di dalam peti perkakas yang sepertinya sudah tak terpakai lagi. Ketika kuhampiri linggis hitam itu dan kugenggam benda itu dengan kedua tangan kecilku yang lemah ini, aku merasa familiar dengannya.

"Ughh…berat sekali!" teriakku seraya berusaha untuk mengangkatnya dengan tenaga maksimal. Sesaat ketika kuperhatikan benda itu dengan seksama, kudapati bercak darah kering menempel di permukaannya yang sedikit berkarat. 'Jangan jangan inilah linggis yang sudah melukai pundak Katyusha kemarin' pikirku terkejut.

"Kalau memang kemarin kau sudah melukai Katya, kali ini berarti kau berhutang padaku atau kau takkan kumaafkan, linggis sial!" gerutuku pada linggis yang jelas tidak mungkin untuk membalas segala ucapanku padanya.

Tanpa keraguan sedikitpun, segera kubawa linggis itu ke arah pintu seng tersebut. Dengan sekuat tenaga, kucoba untuk mencabut balok balok kayu dari paku berkarat yang sudah menancapkan mereka di pintu seng itu. Meski diriku sadar bahwa tidaklah mungkin seorang anak kecil berusia 4 tahun seperti diriku ini mampu mencabut seluruh balok kayu itu dari pintu seng tersebut, aku tetap tidak gentar untuk melakukannya. Hal ini kulakukan untuk sebuah misi yang sangat penting dan tidak bisa kuelakkan lagi.

"Satu…dua…tiga….arrgggghh!" teriakku sembari terus menarik satu demi satu balok kayu tersebut dengan menggunakan linggis ditanganku sekuat tenaga yang kupunya. Usahaku tidaklah sia sia, satu per satu balok kayu itu terlepas dari pintu seng tersebut. Alhasil, kedua tanganku kali ini penuh ruam dan merasakan sakit yang luar biasa. Bisa kurasakan titik titik darah keluar dari tangan kiriku.

'Sial! Menyusahkan saja!' gerutuku di dalam hati seraya mengikatkan perban putih yang ada di dalam tas bawaanku pada tangan kiriku yang terluka.

DOK DOK DOK gedoran dari arah luar pintu masuk gudang ini semakin lama jadi semakin kuat. Tumpukan barang barang yang jadi penahan pintu tersebut semakin lama semakin tidak mungkin melawan kuatnya tekanan gedoran yang diberikan dan akhirnya benda benda itu berjatuhan ke lantai. Pintu masuk yang gagangnya sudah berkarat itupun sepertinya tak sanggup lagi untuk menahan gempuran dari arah yang berlawanan.

'Ughh…kalau tidak kulakukan secepatnya, ini akan menjadi masalah yang besar' pikirku kalut. Tak kuhiraukan gedoran yang datang dari arah pintu masuk tersebut. Aku terus melakukan apa yang bisa kulakukan untuk membuka pintu seng tersebut meski harus mengorbankan kedua tanganku. Kalau saja saat ini aku masih bersama sama dengan Katyusha dan melawan orang orang di ladang Katyusha yang kucurigai sebagai kaki tangan Kirkland, mungkin saat ini aku tidak akan berurusan dengan perkara hidup mati dan berkorban demi sesuatu yang sesungguhnya bukanlah menjadi urusanku.


(3 jam yang lalu)

"LEPASKAN AKU!" hardikku pada sosok pria berambut cokelat sepundak yang tak mau melepaskan gendongannya dari tubuhku ini. Diriku terus menggoncang goncangkan tubuhku dan menendang nendang dadanya dengan kedua kakiku yang tidak seberapa kuat ini.

"Berhentilah meronta, Nak!" perintahnya seraya berjalan dengan cepat menuju ke suatu tempat.

"Lutz, jangan khawatirkan Katyusha…dia pasti akan baik baik saja" timpal Belle kerabat jauhku yang sepertinya tidak mengenaliku lagi dalam sosok anak kecil. 'Syukurlah sepertinya Belle lupa pada sosokku ketika masih kecil ini, bila dia masih mengingatnya…mampuslah aku' pikirku lega pada reaksi Belle yang sama sekali tidak mengenaliku.

Dalam langkah yang penuh ketergesaan, mereka membawaku ke suatu tempat yang sangat asing bagiku. Ketika mereka membuka pintu bangunan itu, tampak sebuah ruangan besar yang dindingnya dicat warna warni hingga memancarkan aura yang sangat kekanakan sekali di dalamnya. Tak tampak tempat tidur pasien atau ruangan dokter penuh obat obatan di sana. Hanya hiasan gambar bunga bunga warna warni tertempel di dindingnya beserta kelap kelip hiasan bintang plastik menghiasi langit langit ruangan itu. Dekorasi pesawat kertas mainan berwarna biru tua yang menggantung di dinding juga tak kalah memeriahkan suasana ruangan.

Di tengah kekanakannya suasana ruangan ini, terdengar suara anak anak kecil bersahut sahutan. Suara suara anak kecil yang menangis, tertawa bahkan berteriak seolah menjadi lagu penyambutan kedatanganku di tempat asing ini.

"Selamat datang di playgroup milikku, Lutz" ujar Belle sembari tersenyum padaku.

"Kau suka tempat ini kan, Lutz?" tanya pria yang menggendongku itu dengan riang.

'Playgroup? Verdammnt! Memangnya apa menariknya dari tempat yang sangat kekanakan seperti ini?' makiku di dalam hati. Diriku yang benar benar kesal dengan segala sesuatu yang mereka lakukan tak kuasa menahan amarahku dan kebencianku pada tempat bodoh semacam ini.

"KEMBALIKAN AKU PADA KATYA!" Teriakku penuh amarah pada mereka sambil memukul mukul pundak pria penggendongku dengan kasarnya.

"CUKUP, LUTZ!" hardik Belle. "Kemarikan anak itu, Toris!" ucapnya tegas. Pria penggendongku yang dipanggil Toris itu segera menyerahkanku dalam gendongan sang dokter. Di dalam gendongannya, wanita itu segera mengarahkan wajahku ke dalam tatapannya seolah dia meminta perhatian dan pengertianku saat ini.

"Memangnya anak kecil sepertimu bisa apa bila bersama Katyusha sekarang?" sindirnya dalam nada yang sangat tegas. "Apa kau mau melihat Katyusha bersedih karena melihatmu terluka akibat kelakuan cerobohmu?" ucap Belle tanpa bisa menutupi rasa kesalnya padaku.

"Ta…tapi kan…"aku berusaha membantahnya.

"JANGAN MEMBANTAH!" hardiknya lagi.

"Dengar Lutz, apa kau tahu bagaimana cara membuat orang tua menjadi bahagia?" tiba tiba nada suaranya berubah menjadi lembut. Aku yang masih kebingungan dengan segala perubahan sikapnya hanya bisa terdiam.

"Mereka akan bahagia bila melihat anaknya terhindar dari marabahaya dan hidup bahagia, apa kau paham, Lutz?" lanjutnya. Kedua bola mata Belle terus menatap mataku seolah memintaku untuk mengerti seluruh jalan pikirannya.

'Bagaimana mungkin aku bisa mengerti apa yang dia maksudkan bila sejak dulu ide mengurungku di rumah hanyalah hukuman yang tepat untuk menyiksaku pelan pelan dalam kesepian?' batinku kesal. Sesungguhnya segala kejadian saat ini membangkitkan memori burukku tentang masa laluku yang tak ingin kuingat ingat lagi.

'Seandainya dia tahu bahwa sewaktu aku masih kecil kakekku jarang sekali mengizinkanku untuk bermain di luar bersama anak anak sebayaku dan selalu mengurungku di rumah sampai aku hampir mati kesepian, apakah itu kebahagiaan yang harus diterima kakekku? Apakah aku tak pantas bahagia juga?' gerutu batinku yang sampai detik ini masih belum bisa memaafkan segala tindakan kakek tua yang merenggut kebebasan masa kecilku saat itu.

"AKU BENCI DIKURUNG! KALIAN SEMUA EGOIS!" protesku pada Belle dan Toris.

"Lutz! Tempat ini bukanlah kurungan!" bantah Toris. "Kami di sini hanya diamanatkan oleh Katyusha untuk menjagamu dari marabahaya di luar sana!" tegasnya.

"Dia…Katyusha begitu menyayangimu, Lutz…dia tak ingin kau terluka seperti yang dirinya alami kemarin" sahut Belle dalam tatapan memelas sementara tangannya mengelus rambutku. "Kumohon…berhentilah bersikap keras kepala" lanjutnya lirih.

Mendengar hal itu, rasanya rasa bersalahku kembali bergejolak. Aku yang berada di dalam keadaan seperti ini sama sekali tidak mampu untuk melindunginya yang telah begitu baik membantuku dalam pelarian ini. 'Pria macam apa aku ini sampai sampai harus selalu dilindungi oleh seorang wanita?' bisik hatiku dalam kegetiran ironi. Dan semua masalah ini berakar dari ulah pengurus perusahaanku yang tidak bertanggung jawab. Rasanya lengkap sudah rasa bersalah ini.

"A…aku…aku hanya ingin melindunginya" jawabku getir. "A…aku…semua ini…karena diriku!" ujarku terbata bata penuh emosi. Entah kenapa rasanya baru kali ini sekujur tubuh dan pikiranku dikendalikan oleh emosiku yang meluap luap…sebegitu jujurnya hingga aku tak kuasa menahan tangis keputusasaanku di hadapan orang orang selain abangku.

"Hiks…hiks…kenapa harus seperti ini?" ujarku dalam isakan tangis. Kutundukkan kepalaku…kukepalkan kedua tanganku yang bergetar seolah ketakutan akan seluruh dosa dosa yang kutanggung terhadap segala derita Katyusha. Dengan sigap, Belle segera memelukku dalam pelukannya erat erat seolah dia lupa akan rasa kesalnya terhadap keras kepalanya diriku beberapa saat tadi.

"Jangan menangis…semua bukanlah salahmu" bisiknya lembut. "Dia akan kembali lagi padamu, Lutz" ujarnya seraya menghapus titik air mataku. Kata katanya itu hanya angin lalu bagiku…aku masih terbenam dalam tangis rasa bersalahku yang terdalam.

Tak terasa dirinya mendudukkan tubuh kecilku di sebuah tempat duduk kecil yang ada di ruangan itu. Diriku yang masih menangis karena ketidakbergunaanku ini hanya bisa menundukkan kepalaku demi menghindari tatapan mata lawan bicaraku. Sayangnya, kedua tangannya segera meraih kedua pipiku dan mulai menyeka air mataku dengan hati hati.

"Hiks…hiks…ka…kau be…nar…hiks…aku…ha…hiks…hanya…menyu…hiks…menyusahkan…hiks…Katyu…hiks...sha…hiks…saja…hiks" seluruh pengakuan atas rasa bersalahku pada Katyusha benar benar mengiris iris harga diriku sebagai seorang pria, namun sebenarnya aku bukanlah pria yang bisa berpura pura untuk selalu terlihat kuat setiap saat. Kadang aku harus menyerah pada kejujuran meski itu menyakitkan.

"Kau tidaklah menyusahkan…Lutz" tuturnya lembut. "Katyusha hanya terlalu sayang padamu" ujarnya seraya menyeka air mataku dan menyingkirkan seluruh poni yang sempat menutupi dahi dan mataku dalam satu sekaan tangan yang hangat. Demi mendengar kata katanya, entah kenapa hatiku merasa perih…bagiku ini adalah sebuah ironi kehidupan.

Tiba tiba Belle tampak berubah menjadi sedikit terkejut. Beberapa saat, dia sempat memelototi ku dengan tatapan penuh selidik.

"Hmm…entah kenapa rasanya aku seperti pernah melihat dirimu di suatu tempat, Lutz" gumamnya keheranan. "Kalau diperhatikan lagi…kau mirip sekali dengan…kerabat tiriku…entah siapa" tuturnya sambil mengerenyitkan alisnya. Dia tampak sedang mengingat sesuatu yang lama terlupakan.

'GAWAT! Dia tidak boleh menyadari siapa diriku' pikirku panik. Dengan terburu buru, segera kuseka air mataku dan kuhindari sentuhan tangannya dari wajahku. Rasa panik dan ketakutan membuatku takut untuk bertatap mata dengannya. Sesegera mungkin ku mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengannya.

"Ugh…eh…hmm…la…langit di luar mendung dan…hujan ya" ucapku salah tingkah sementara kualihkan pandangan mataku ke arah jendela yang ada di sampingku.

"Eh? Benarkah?" sahutnya panik seraya memperhatikan keadaan di luar jendela. "Toris! Anginnya kuat sekali di luar! Cepat kau sesuaikan suhu thermostat di ruangan bayi!" teriak Belle. Dengan cepat, kerabat tiriku ini segera beranjak dari duduknya dan pergi ke suatu tempat.

"BAIK, DOKTER!" sahut Toris yang sedang duduk di meja konsultasi untuk melayani sepasang pria dan wanita yang duduk di hadapannya. Demi melaksanakan perintah sang dokter, pria yang bernama Toris meninggalkan meja nya dan beberapa orang dewasa yang duduk di ruang tunggu di sana.

'Syukurlah Belle masih tidak bisa mengenali sosokku yang sekarang ini' pikirku lega. Sejenak tak kuhiraukan kejadian di sana dan orang orang yang ada di sekitarku. Dari balik jendela, aku bisa melihat betapa kuatnya angin menerpa pohon pohon dan menerbangkan dedaunan dari tangkainya. Titik titik hujan seolah berdansa dengan angin yang keras bertiup siang itu seolah menyiratkan akan adanya badai siang ini.

'Apakah Katyusha akan baik baik saja?' batinku risau. Sejenak mataku beralih pada bayangan wajahku yang terpantul di jendela. Dari pantulan bayangan di jendela itu, kudapati wajah seorang anak laki kali kecil tak berdaya yang berwajah sembab karena tangisnya.

'Inikah sosok Ludwig Beilschmidt yang tak berdaya? Inikah suratan nasibku?' ujar batinku perih. 'Sosok seperti ini hanyalah beban bagi orang lain' bisik batinku yang mulai menyalahkan keadaan. Sejak kecil, kakekku selalu melarangku untuk terlalu bergantung pada orang lain. Dirinya selalu menanamkan nilai bahwa…laki laki harus kuat! Laki laki tidak boleh bergantung pada orang lain! Kemandirian adalah sifat pria sejati!

'Tapi…tapi kenapa saat ini aku merasa seperti pecundang bodoh?' teriak hatiku sembari menutupi wajahku dengan kedua mataku agar aku tidak bisa memandang bayangan seorang anak kecil lemah yang ada di jendela itu. Sungguh pikiran pikiranku yang negatif ini telah membuatku semakin frustasi dan semakin gila dibuatnya.

PUK PUK PUK seseorang sepertinya sedang memukulku dari belakang dengan sesuatu yang empuk dan lembut. Tak kuhiraukan…

"Hei!" sapa seseorang yang ada di belakangku. Kudiamkan…

Sayangnya orang itu masih terus saja menggangguku dengan terus memukul mukulkan benda empuk pada kepalaku. Aku masih tak mempedulikannya…

"HEI!" teriaknya lantang tepat di telingaku. Habis sudah kesabaranku pada orang yang sedari tadi menggangguku ini.

"BERISIK!" protesku kesal sementara tanganku menghentikan benda yang sejak tadi dipukulkannya ke kepalaku. "TINGGALKAN AKU SENDIRIAN! PERGI SANA!" usirku dengan kasar padanya.

"HUWEEEE! Jahaaaaaaaaat!" tangis lawan bicaraku itu. Diriku sungguh tak menyangka bahwa lawan bicaraku yang kuhardik tadi adalah seorang gadis kecil…seumuranku saat ini. Tangisan gadis kecil itu sungguh keras sekali sampai memekakkan telinga.

'Aduh! Bodohnya aku! Kenapa aku sampai lupa kalau sekarang diriku berada di playgroup?' sesalku dalam benak ini.

"Ma…maafkan aku" ucapku penuh sesal pada dirinya seraya menutupi kedua telingaku. Sayangnya gadis kecil berkuncir itu berlari menjauhiku dan menuju ke suatu tempat sambil menangis dan menggendong kedua bonekanya.

"Om Toris! Hiks…hiks…hiks…anak itu jahat" adunya pada Toris yang tampak sedang merapihkan beberapa arsip di meja konsultasi tersebut.

"Yang mana?" tanya Toris dengan sedikit terkejut.

"Itu!" ujarnya seraya mengarahkan boneka kelincinya ke arah ku. "Masak aku dibilang berisik sih, Om?" protesnya kesal sambil memelototiku dari kejauhan.

"Sudahlah, jangan bertengkar!" sahut Toris dengan lembut pada gadis kecil yang memakai jaket berwarna merah muda itu. Dengan menggandeng gadis kecil itu, Toris berjalan menghampiriku.

"Ayo salaman! Kalian harus saling bermaafan" nasihatnya dengan lembut. Diriku segera menyodorkan tangan kananku padanya untuk bersalaman. Sayangnya, alih alih dia menyambut uluran tangan ku, malah kedua tangannya itu disembunyikan di balik punggungnya.

"Kau tidak boleh bersikap begitu! Ayo salaman!" perintah Toris dengan tegas pada anak itu.

"Gak mau!" bantah gadis kecil yang kuncir ekor kudanya itu diikat dengan pita merah jambu ukuran besar. "Aku benci kamu! Weee!" ujarnya dengan kasar sembari menjulurkan lidahnya sangat kekanakan sekali. Tak lama kemudian, dia berlari pergi meninggalkan diriku dan Toris menuju ke tempat anak anak lainnya yang sedang bermain di sudut lain.

"Nona Irwin! Sopanlah pada temanmu!" protes Toris kesal pada sikap kekanakan gadis kecil yang dipanggil dengan sebutan Nona Irwin itu.

"Eh…Lutz…tolong maafkan kelakuannya ya! Dia memang sangat manja seperti itu" keluh Toris.

"Ja…tidak apa apa. Ini juga kesalahanku" jawabku maklum.

"Oh ya, bagaimana kalau kau kuperkenalkan dengan teman temanmu di sana?" tawar Toris dengan riang.

"Ta…tapi…aku…" jawabku enggan. 'Bagaimana mungkin aku yang sudah dewasa ini bermain bersama anak anak ingusan seperti mereka?' pikirku kesal.

"Ayolah! Jangan malu! Mereka anak anak yang baik" ujar Toris bersemangat. Tanpa pikir panjang lagi, Toris segera menggendongku dan membawaku ke tempat anak anak itu berada.

"Halo anak anak! Hari ini kita kedatangan teman baru!" tutur Toris penuh kegembiraan. Kemudian anak anak yang sedang sibuk bermain sejak tadi segera menghentikan kegiatan mereka dan mulai memperhatikan Toris.

"Namanya Lutz. Ayo semuanya, disapa dong Lutz nya!" perintah Toris.

"Halo Lutz" jawab anak anak itu dalam suara yang serempak kecuali gadis yang dipanggil Nona Irwin…dia masih tetap berkonsentrasi bermain bersama boneka bonekanya.

"Ha…halo se…semuanya" sapaku kaku pada kerumunan anak anak yang ada di sana.

"Mari kuperkenalkan mereka semua" ucap Toris. "Yang memakai baju biru di sebelah kanan kita namanya Igor" lanjut Toris seraya menunjukkan jarinya pada seorang anak laki laki berambut hitam dan bermata sayu yang ada di dekat kami.

"Hai, aku Igor" sapa anak itu.

"Dua orang gadis kecil kembar yang ada di sebelah Igor itu namanya Etna dan Yulia" telunjuk Toris mengarah pada dua gadis kecil kembar kurus yang memakai baju bermotif kotak kotak hijau.

"Namaku Etna" sahut anak perempuan yang berambut pirang pendek itu dengan ramah. "Ini adik kembarku, Yulia" ujarnya memperkenalkan saudara kembarnya yang tampak pemalu dan berwajah pucat pasi. Saking pemalunya, si adik yang berambut panjang itu bahkan menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh sang kakak.

"Nah, yang di sebelah kiri kita ini namanya Leonid" tunjuk Toris ke arah seorang anak yang bertubuh kurus pendek dan tampak ingus menjalar dari kedua lubang hidungnya.

"Hei, Lutz…aku Leo" ucap anak kecil berbaju kuning itu sembari berkali kali menyusut hidung.

"Anak laki laki yang memakai baju sailor dan duduk di atas meja menggambar itu namanya Peter" telunjuk Toris segera mengarah pada sosok anak kecil yang mengenakan seragam pelaut warna biru muda dan putih. "Peter, cepat turun dari meja itu!" protes Toris.

"Iya! Iya! Aku tahu!" timpalnya kesal seraya turun dari meja. "Namaku Peter!" lanjut anak kecil bertopi sailor itu dengan ketus.

"Dan yang terakhir…anak perempuan yang tadi bertemu denganmu itu namanya Wyonna" pandangan mata Toris segera beralih pada gadis kecil yang duduk di pojok dan sedang asyik memainkan bonekanya.

"Wyonna! Ayo, sapalah Lutz!" perintah Toris dengan tegas. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tak merespon. "Nona Irwin! Tolong bersikaplah sopan!" perintah Toris. Gadis kecil yang bernama Wyonna itu malah membuang mukanya.

"Toris!" teriak suara dokter Belle. "Aku mau pergi dulu ke klinik! Jangan lupa urus dua bayi prematur yang masih ada di ruang rawat dan beri mereka pijatan" perintah dokter Belle yang berjalan melewati kami semua yang ada di ruang bermain itu.

"Baik, Dokter!" sahut Toris sembari pergi meninggalkan kami di sini dan pergi menuju ke arah pintu untuk melepas kepergian dokter Belle.

Sementara itu, aku yang sedang berada di tengah tengah kerumunan para balita ini merasa sangat canggung untuk memulai pembicaraan dengan mereka. Diriku hanya bisa pergi menjauhi mereka dan memandangi mereka bermain dari kejauhan.

Tiba tiba, anak yang bernama Leonid datang menghampiriku dan memintaku untuk bermain bersama dengannya. "Ha…hai Lutz…mau main kelereng denganku?" tanyanya malu malu.

"Eh…uhmm…tentu saja" jawabku dengan grogi. Aku yang sejak kecil ini jarang bermain dengan anak anak sebayaku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan permainan kelereng. Hanya karena aku tidak ingin mengecewakannya anak ini saja, dengan tangan terbuka aku menerima tawarannya yang polos.

"O…oke…tunggu ya" ucap Leonid seraya menyeka ingus yang mengalir dari kedua lubang hidungnya dengan kedua tangannya. 'Ughh…menjijikkan sekali' batinku merinding. Kemudian anak itu segera merogoh kedua saku celananya dengan sangat antusias.

"Nah, ini dia" serunya riang sambil memperlihatkan kedua tangannya yang dipenuhi butir butir bola kaca kecil berwarna. Sayangnya bola bola kecil yang terbuat dari kaca itu harus ternoda oleh cairan ingus.

"Ayo ambillah!" ujarnya sembari menyodorkan butiran kelereng yang ada di tangan kanannya yg penuh ingus.

"Err…ugh…o…oke" gumamku sambil menahan rasa jijik. 'Kuakui Leonid sangat baik hati…tapi dia terlalu menjijikkan! Bagaimana caranya aku menolak tawarannya tanpa harus membuatnya kesal' pikirku kebingungan. Belum sempat aku mengambil butiran kelereng menjijikkan itu dari tangan Leonid, tiba tiba salah seorang anak memanggil Leonid.

"Leo! Mau main raja dan ratu sama kami di sini gak?" teriak Etna dari kejauhan.

"Yaaa! Tunggu bentar!" jawab Leo dengan bersemangat sambil memasukkan kelereng kelereng itu kembali ke sakunya. "Lutz, ikutan main sama mereka yuk! Asyik lho" promosi Leonid padaku yang masih asing dengan keadaan ini.

"Ugh…maaf…aku ingin sendirian" tolakku dengan sopan. Kulihat ekspresi Leonid nampak kecewa.

"Jangan sendirian! Kalau kau gak mau, aku seret lho" paksanya sementara tangannya mencoba meraih lengan kiriku. Dengan sigap segera kuhindari tangannya yang penuh ingus itu.

"Baik…baiklah! Aku ikut" jawabku dengan terburu buru.

"Yay! Asyik! Ayo gabung sama mereka" teriak Leonid kegirangan.

Kami berdua segera menghampiri anak anak lain yang sedang berkumpul untuk memulai permainan raja dan ratu. Di tengah kerumunan itu tampak Wyonna yang sedang memberikan instruksi. Sepertinya, dialah yang menjadi pemimpin mereka.

"Aku udah mutuskan! Rajanya sekarang Igor!" ucap Wyonna dengan lantang.

"Tap…tapi kan kemarin Igor udah jadi raja! Sekarang aku dong!" protes Peter dengan kesal sambil memelototi Igor yang memainkan mobil kayunya dengan santai di lantai.

"Pokoknya Peter jadi penjahat aja!" balas Wyonna sengit.

"GAK MAU! AKU MAU JADI RAJA!" cekcok mulut kekanakan nan panas itupun segera dimulai

"Sudah! Sudah! Biar aku yang jadi penjahatnya!" lerai Igor yang tampak risih dengan kelakuan teman temannya itu. Etna yang tampak lebih dewasa dari mereka pun juga segera berusaha mendamaikan mereka yang berkonflik.

"Baiklah, udah diputuskan! Wyonna jadi ratu, Peter jadi raja, Igor jadi penjahat, Aku jadi pelayan, Yulia jadi penduduk desa dan Leo jadi pengawal!" tegas Etna dengan tenang.

"Dan Mary jadi putri!" teriak Wyonna girang seraya mengangkat boneka balita perempuan tinggi tinggi.

"Mary? Siapa itu?" tanya Etna bingung.

"Ini Mary lho, cantik kan?" jawab Wyonna sembari menunjukkan boneka balita perempuan itu di hadapan teman temannya. Boneka balita wanita yang mengenakan gaun merah jambu penuh renda dan dilengkapi dengan topi warna putih seklias nampak mahal dan cantik. Sungguh mewah untuk ukuran mainan anak anak di desa.

"Mary juga bisa ngomong lho" pamer Wyonna percaya diri. "Nih, Lihat aja!" tak lama kemudian, dia melepaskan empeng berwarna putih yang menempel di bibir si boneka itu.

"Mama…mama…mama" ucap suara buatan yang keluar dari bibir si boneka Mary. Semua anak yang ada di ruangan itu hanya bisa berdecak kagum melihat 'keajaiban' si boneka Mary, terkecuali diriku yang mengetahui rahasia di balik suara boneka itu.

"Wah…bagusnya" puji Yulia si pemalu dalam suara lirih dan dia berusaha memegang boneka milik Wyonna diam diam. PLAK tangan Wyonna segera menyingkirkan tangan Yulia yang berusaha menyentuh boneka kesayangannya itu dengan kasar.

"JANGAN PEGANG PEGANG!" hardik Wyonna. "Boneka ini mahal! Baru dibeliin sama papa di kota! Kamu gak bisa beli kan?" ejek Wyonna dalam gaya yang sangat angkuh. Yulia hanya bisa menyingkir dari hadapan Wyonna dan menangis di balik punggung kakak kembarnya. Diriku yang menyaksikan hal itu merasa prihatin pada Yulia dan tidak bisa menerima kelakuan Wyonna.

"Jangan sombong, Wyonna!" protes Etna sembari menenangkan tangisan adiknya. Wyonna tak mendengarkan Etna dan malah berlagak cuek.

Demi melihat pemandangan antara Wyonna yang lebih berpunya daripada Yulia si pemalu, aku malah terhanyut dalam pikiranku sendiri. Sekelebat bayang bayang tawa Kirkland dan beberapa pemegang saham yang berkuasa di perusahaanku muncul di dalam pikiranku. 'Uang dan kekayaan telah membuat seseorang menjadi angkuh…apakah hal seperti ini juga telah terjadi padaku…dan perusahaanku?' batinku yang berada dalam kontemplasi miris.

"Udah ah! Maen aja, yuk!" pinta Peter yang tiba tiba memecah lamunanku.

"Ta…tapi siapa yang jadi…kusir kereta emas nya?" tanya Leonid seraya menyodorkan sebuah kotak kardus bekas yang dilengkapi tali rafia di depannya. "Ilya udah gak pernah maen ke sini lagi…siapa yang mau gantiin Ilya?" ujarnya sambil menyusut hidung.

Senyap. Tak ada yang menjawab. Mereka sepertinya enggan mendapatkan peran kusir.

"KAMU!" seru Wyonna dengan tegas seraya menunjukkan telunjuknya ke arah di mana aku berdiri.

"A…aku?" ucapku bingung.

"Ya! Kamu!" jawab Wyonna dengan ketus sekali. "HARUS MAU!" paksanya kasar. Semuanya masih terdiam tak berani membantah perintah Wyonna sang pemimpin. Aku yang masih benar benar bingung ini belum bisa mengerti apa maksud perintahnya.

Leonid yang tadi memegang kardus bertali itu segera meletakkan kardus berwarna kuning itu di lantai. Kemudian, Wyonna dan Peter segera memasuki kardus yang terbuka itu. Mereka berdua duduk di dalamnya layaknya penumpang taksi.

"Tarik keretanya!" perintah Wyonna seperti seorang bos besar. "Cepat! Ayo tarik tali keretanya, Kusir!" hardiknya. Diriku segera mengambil seutas tali rafia yang tertambat di kardus itu dan menariknya sesuai dengan instruksi Wyonna dan Peter…rasanya persis seperti seekor kuda.

Kadang aku harus berjalan…kadang aku harus berlari mengelilingi luasnya ruangan playgroup ini sambil menarik kardus yang 'dikendarai' oleh mereka. Andai diriku masih menjadi Ludwig Beilschmidt yang kekar dan perkasa, mungkin menarik kardus berisikan dua orang anak kecil bukanlah masalah besar bagiku. Tapi sekarang…aku cuma anak kecil yang kurus dan lemah. 'Ughh…ini melelahkan sekali! sampai kapan aku harus melakukan kegiatan bodoh macam ini?' keluhku kesal.

Beberapa saat kemudian, tak kusangka ponsel miniku yang ada di saku celanaku bergetar. 'Pasti ada pesan penting terbaru dari Abang!' terka benakku yakin. Tanpa pikir panjang, segera aku akhiri drama bodoh kusir raja dan ratu yang mereka mainkan ini.

"Hei! Kok berenti sih?" protes Peter yang kesal.

"Maaf, aku mau ke kamar kecil…bisa beritau tempatnya?" tanyaku seraya berpura pura tak kuasa menahan kencing di hadapan mereka. Igor yang baik hati segera mengantarkanku ke sebuah ruangan kecil yang ada di belakang dapur. Segera aku masuk ke dalam kamar kecil itu dan kukunci pintunya rapat rapat dari dalam.

"Halo, Bang? Ada berita penting apa?" sapaku tanpa bisa menahan rasa ingin tahuku

"Lud! Gue mau bilang ke loe kalo ntar gue mau mampir ke Ruslaville. Gue sekarang lagi nungguin kereta di stasiun Healienenberg, nih!" ujarnya santai.

"Apa? Kenapa Abang justru berkunjung ke tempat ini?" tanyaku heran

"Gue pikir tempat itu gak aman lagi buat loe…apalagi gue denger si Jenggot mau berkunjung ke sana sama orang orang East Bloc Energy! Bisa berabe tuh urusannye!" keluhnya.

"Arrgghhhh TIDAK!" diriku yang sangat kecewa ini hanya bisa memijit dahi yang sudah terlanjur dipusingkan dengan berbagai hal menyangkut perusahaan. "Kenapa Abang tidak mencegah Francis datang kemari?" protesku penuh emosi.

"Udah terlanjur! Diye bilang gak bisa ngebatalin rencana ini" jawabnya kesal padaku. "Apalagi diye dah teken kontrak konsorsium sama East Bloc Energy" lanjutnya tegas.

"Baik! Aku sadar itu memang salah kita, tapi apa Francis akan datang kemari bersama dengan Ivan?" tanyaku tidak sabaran.

"Gue gak tau! Moga moga aja gak sama si Ivan…kalo iya, bakalan ada perang dunia di Ruslaville…serem dah!" sahut abangku.

"Ohh…Tidak! Ini bahaya!" gumamku dipenuh rasa frustasi. "Bang, apa Abang sudah memperingatkan rencana kunjungan Francis dan East Bloc Energy ke Ruslaville ini pada Kirkland dan Jan?" lanjutku yang masih berharap agar perang itu tidak terjadi.

"Mana mungkin, Lud!" sahut abangku. "Si Alis sama Si Jan bener bener udah putus kontak sama kite sejak kejadian itu…mereka emang sengaja ngelakuin hal kayak gini ke kite" dengus kesal abangku terdengar sampai ke telingaku. Sepertinya harapan kami untuk mencegah perang antara dua 'raksasa' bisnis energi itu semakin tipis.

"Lalu…apa yang akan Abang lakukan di Ruslaville ini kalau harapan kita untuk melerai mereka sangat kecil?" tuturku hampir putus asa. "Lagipula, apa Abang tidak takut kalau penduduk Ruslaville sampai mengenali Abang sebagai Beilschmidt pemilik Blue Star Electricity?" lanjutku penuh pertimbangan.

"Tenang aje, Lud! Gue punye rencana awesome! Gue juga udah nyiapin penyamaran paling oke dan orang laen dijamin bakalan gak kenal siape gue" jawab abangku dengan percaya diri. 'Ughh…sejujurnya aku sama sekali tidak bisa mempercayai kemampuan menyamarnya yang bodoh itu' keluhku penuh ragu di dalam hati.

"Gue ke Ruslaville bukan cuman mau ngurusin perkara Alis vs Jenggot di sana …gue juga mau ketemu loe buat ngasih loe sesuatu, Lud" ujar abangku tegas.

"Apa itu?" tanyaku keheranan.

"Biar si Mihai yang ngejelasin" jawab abangku singkat. Aku bisa mendengar suara ponselnya sedang berpindah tangan.

"Selamat pagi, Tuan Ludwig Beilschmidt" sapanya dengan nada yang santun.

"Selamat pagi, Tuan Ionescu…maaf, apa tadi Abangku memerintahkan anda untuk melakukan sesuatu untukku?" ucapku penasaran.

"Ehem…begini. Sebenarnya saya ingin menjelaskan masalah kutukan yang anda terima, Tuan" jawabnya lugas. "Berdasarkan dari penyelidikan yang saya lakukan di kediaman Tuan Kirkland, saya menemukan fakta yang menggembirakan bahwa kutukan Tuan akan segera berakhir secepatnya" lanjutnya meyakinkanku.

"Syukurlah!" seruku lega. "Kapan kutukan ini akan berakhir?" tanyaku tidak sabaran.

"604.800 detik sejak waktu kutukan itu diberikan atau setara dengan satu minggu sejak kutukan itu diucapkan oleh si pemberi kutukan" ucap pria yang berprofesi sebagai dukun itu. 'satu minggu sejak kutukan? Berarti…waktu yang tersisa hanya kurang lebih tiga hari lagi' pikirku.

"Tidak! Aku tidak bisa menunggu sampai dengan batas waktu akhir kutukan itu!" balasku yang masih belum bisa menerima kenyataan. "Apakah tidak ada cara lain untuk mempercepat akhir kutukan ini? Kalau tidak secepatnya, bencana besar tidak akan bisa terhindarkan lagi!" seruku panik. Aku sadar bahwa aku sedang memaksanya, tapi hal ini terlalu penting untuk ditunda.

"Tenanglah, Tuan. Saya sudah mempersiapkan jimat yang bisa membantu Tuan untuk kembali lagi seperti semula dalam waktu yang terbatas" jawaban pria itu sungguh menenangkan hatiku.

"Terima kasih! Tapi bagaimana caranya agar jimat itu bisa sampai ke tanganku?" sahutku bingung.

"Saya akan menitipkan jimat itu pada kakak Tuan. Maaf bila saya hanya bisa membantu anda sampai di sini saja" ujarnya penuh sesal. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih pada sang dukun, tiba tiba ponsel abangku segera berpindah tangan pada pemiliknya lagi.

"Biar gue yang ngurusin masalah ini. Sekarang kereta gue udah dateng. Ntar loe gue kabarin lagi!" sahut abangku penuh ketergesaan. Koneksi panggilan telepon pun terputus. Meski aku sedikit khawatir pada abangku yang berniat untuk terjun langsung dalam konflik ini, setidaknya aku merasa bahagia karena aku masih memiliki harapan.

'Meskipun hanya beberapa saat saja, aku ingin bertemu dengan Kirkland dan Jan di tempat ini dalam sosok asliku untuk menyelesaikan seluruh masalah ini secapatnya' itulah niat besar yang terukir di dalam benakku saat ini.

Usai melakukan pembicaraan rahasia dengan abangku via ponsel di toilet tadi, akupun segera keluar dari tempat itu dan segera bergabung kembali dengan teman temanku di ruangan bermain. Sayangnya, tak satupun dari mereka kutemukan di tempat itu. 'Lho? Apa mereka semua sudah pulang ke rumah masing masing?' hal ini sangat membuatku keheranan.

"Lutz! Kamu mau ke mana? Gabung sama kita, yuk!" ujar seseorang yang ada di belakangku. Ketika aku menolehkan wajahku ke arah lawan bicaraku, ku mendapati sosok Etna yang entah datang dari mana.

"Bukankah tadi kita bermain raja dan ratu di sini? Anak anak yang lain sedang ada di mana?" tanyaku seraya menggaruk garuk kepalaku keheranan.

"Wyonna udah bosen maen raja dan ratu…sekarang mereka sedang liat Om Toris di ruang adik bayi, lho!" jawab anak perempuan kurus berbola mata cokelat tua itu. "Yuk ikutan kami, Lutz!" lanjutnya antusias sembari menarik tangan kiriku.

Etna segera menarik tubuhku menuju ke sebuah ruangan yang ada di belakang tempat bermain kami. Ruangan itu sebagian besar hanya berdindingkan jendela besar yang mana kami bisa melihat apapun yang ada di dalamnya. Di dalamnya nampak beberapa boks bayi dan peralatan elektronik yang sepertinya cukup canggih untuk mengurus para bayi di dalamnya.

"Tuh…lihat Om Toris lagi maen sama adeknya Wyonna" tutur gadis kecil itu riang. Dari balik jendela, kulihat ruangan yang berisi boks boks bayi itu hampir tidak memiliki jendela. Hanya ada beberapa ventilasi bertutupkan jaring kasa. Di dinding atasnya terdapat beberapa peralatan sederhana seperti thermostat ruangan untuk mengubah suhu ruangan itu. Di dalam ruangan itu, tampak Toris sedang memasukkan kedua tangannya ke dalam sebuah kotak kaca transparan yang berisikan seorang bayi berukuran sangat mungil berkulit merah…terlihat begitu ringkih dan tidak berdaya di dalam tangan Toris. Di samping mereka juga terdapat boks bayi dari kaca yang sama. Di dalamnya juga terdapat bayi lainnya yang juga bernasib sama seperti bayi yang sedang dirawat oleh Toris.

Sementara itu, beberapa anak seperti Peter, Yulia, Leonid, Igor dan Wyonna sedang sibuk memperhatikan Toris yang bekerja merawat sang bayi dari kejauhan. Sesungguhnya, aku tidak begitu tertarik dengan hal ini, namun Etna mendorongku untuk ikut bergabung bersama mereka yang ada di dalam ruangan bayi itu.

"Shhh…jangan berisik ya!" perintah Etna dalam suara yang lirih. Aku yang berjalan mengendap endap di belakangnya hanya mengangguk. Kami berjalan memasuki ruangan itu diam diam melewati pintu ruangan yang masih setengah terbuka.

Di tengah sunyinya suasana rungan itu, tiba tiba suara Wyonna yang cempreng itu memecah keheningan.

"Om Toris! Apa sih yang Om berikan ke adek Wyonna?" tanyanya polos seraya berjalan mendekati Toris.

"Wyonna? Kalian?" sahutnya terkejut dengan kehadiran anak anak di dalam ruangan yang seharusnya sangat tertutup itu. "Pelankan suara kalian! Kalian tidak boleh ada di sini!" perintah Toris dalam suara setengah berbisik. Sayangnya, tak satupun anak anak itu mau mendengarkan kata kata pria berbola mata hazel itu sama sekali.

"Kami janji gak akan ribut kok, Om!" sahut Peter yang berusaha mengecilkan suaranya. "Kami cuman pengen lihat adek Wyonna sama kegiatan Om di sini" lanjutnya.

"Arrggh…kalian ini keras kepala sekali" gumamnya penuh keluh kesal. "Baiklah, apa kalian janji mau keluar ruangan setelah aku memberitahukan keadaan di sini pada kalian?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan rasa risih. Seluruh anak anak yang ada di sana segera mengangguk seolah paham dan berjanji pada apa yang diminta oleh pria itu.

"Baik, dengarkan! Aku sedang memijat adikmu dengan minyak bunga matahari" jawabnya singkat.

"Kenapa mesti pake minyak bunga matahari, Om? Emangnya mau goreng makanan ya?" tutur Peter polos. Sementara yang lain malah tertawa mengikik pada kata kata polos yang Peter utarakan.

"Aku tidak sedang bercanda, Peter" ujar Toris dengan sabar. "Minyak yang dihasilkan bunga matahari itu banyak khasiatnya, termasuk untuk membantu para bayi prematur menyembuhkan kulit mereka yang begitu tipis ini" papar Toris.

"Kenapa namanya bayi prematur?" Leonid tampak kebingungan dengan istilah semacam itu.

"Diberi istilah seperti itu karena bayi bayi ini lahir sebelum masanya untuk dilahirkan. Akibatnya, mereka lahir dalam keadaan belum sempurna. Makanya, adek Wyonna dirawat dulu di sini biar cepet sembuh" jawabnya dengan sangat lengkap dan mudah dimengerti.

"A…apa kulit adek Wyonna juga gak sempurna, Om?" Yulia si pemalu akhirnya mengajukan pertanyaan dengan suara lirih.

"Bukan tidak sempurna, tetapi belum sempurna saking tipisnya" sahut Toris membenarkan. "Karena ketipisan kulitnya, adek Wyonna gak sanggup untuk kena udara dingin atau panas. Kalo gak disembuhkan, nanti bisa meninggal kedinginan atau kepanasan" lanjut Toris. Seluruh anak yang ada di tempat itu langsung menampakkan wajah yang kasihan pada para bayi yang tertidur pulas di dalam boks kaca tinggi itu.

"Oh ya, Om. Benda apa itu?" tanya Igor seraya mengarahkan telunjuknya pada alat alat yang menempel di dinding bagian atas ruangan itu.

"Oh…itu alat alat pengubah suhu ruang, namanya thermostat dan alat pengukur suhu ruangan ini" ucapnya tanpa kehilangan kesabaran untuk meladeni seluruh pertanyaan anak anak yang ada di sini.

"Jadi…Om selalu mengubah suhu ruangan?" Etna yang berdiri membelakangiku segera melontarkan pertanyaan.

"Tentu saja! Suhu ruangan harus selalu disesuaikan biar bayi bayinya tidak kedinginan atau kepanasan" tutur pria itu sembari meneruskan pijatannya pada sang bayi. "Kalau suhunya tidak selalu dijaga dan disesuaikan, mustahil beberapa bayi di sini bisa sehat dan pulang ke rumah" lanjutnya.

TOK TOK TOK terdengar suara pintu diketuk dari arah luar bangunan ini. "TORIS!" sayup sayup tersengar suara seseorang dari luar bangunan yang berteriak memanggil nama Toris. Dengan sigap, Toris segera berhenti dari tugasnya dan beranjak menemui tamu yang memanggilnya itu. Seluruh anak anak yang ada di ruangan itupun juga mengekor ke mana Toris pergi.

Ketika Toris membukakan pintu, tampak seorang wanita bertubuh pendek dan berambut cokelat tua lurus menghampirinya. Dia tampak membisikkan suatu hal penting pada pria itu. Toris yang mendengarkan bisikan itu di telinganya tak sanggup untuk menyembunyikan ekspresi panik dan ketakutan di wajahnya. Dalam kepanikan, dirinya segera menghampiri kami semua dan memberikan pesan penting.

"Dengar, sepertinya aku harus sibuk membantu Dokter Belle karena ada suatu tugas penting di klinik. Kalian tetaplah di sini dan aku akan mengunci bangunan ini dari luar" pesan pria itu. Semua anak anak tampak keberatan, namun Toris tak mengendurkan niatnya untuk membantu sang dokter. Sebelum Toris berangkat, dirinya hanya memberi pesan pada kami.

"Jangan rewel dan jangan mengganggu para bayi di sana. Jagalah mereka dengan baik, ya! Aku akan kembali" ujarnya dengan berat hati. Pria itupun segera pergi meninggalkan kami semua di tempat ini dengan mengunci bangunan playgroup ini dari luar. Sosoknya yang berlalu meninggalkan kami perlahan tampak menghilang dari pandangan. Seluruh anak anak yang ada di tempat ini hanya bisa bersedih dan menunggu kepulangan pria itu.

BZZZTTT tiba tiba lampu ruangan yang sedari tadi menerangi kami yang ada di sini padam. Seluruh ruangan menjadi gelap gulita karena kurangnya cahaya yang menerangi kami siang itu. Hanya sedikit cahaya yang dapat masuk dari jendela ruangan. Jikalau mendung siang itu tidak terlalu tebal, mungkin aku masih bisa melihat wajah wajah teman baruku semua dengan sangat jelas. Saking gelapnya, beberapa anak yang sangat fobia pada kegelapan menjadi panik dan menangis ketakutan. Peter, Leonid dan Yulia meringkuk dan menangis di lantai ruangan. Sementara Igor dan Etna sibuk mencari sumber cahaya yang bisa menjadi alat penerangan darurat.

Sama seperti Igor dan Etna, dirikupun tidak bisa tinggal diam dan mulai mencari sesuatu untuk penerangan. Tak lama kemudian Etna berteriak seraya menghampiriku yang masih mencari lilin dan korek api di sekitar ruangan depan.

"Hei! Aku menemukan lampu minyak gantung di ruangan penyimpanan obat!" seru Etna girang. Dia segera menyerahkan lampu itu padaku. Sayangnya ketika aku memeriksa sumbu api nya dan bagian tempat penyimpanan bahan bakar minyaknya, semua tampak sia sia belaka.

"Tidak bisa! Bahan bakar minyak tanah nya sudah habis! Sumbu apinya sudah habis pula" ujarku meyakinkannya. Etna tampak kecewa dengan hal tersebut.

"Etna! Lutz! Kemarilah!" teriak Igor yang berdiri di depan pintu ruangan bayi. Kamipun segera menghampiri anak itu yang memperlihatkan sesuatu di tangannya. "Ini! Lampu darurat! Tadi aku temukan di ruang bayi" serunya gembira. Diriku dan Etna juga tak kalah gembira dengan apa yang ditemukan oleh Igor. Lampu itu tampak terang menyala. Sayangnya, ketika diriku memeriksa sinyal indikator energi listrik yang tersimpan di dalamnya, sinyal tersebut menampakkan lampu berwana merah…tepat di titik terendahnya.

"Gawat! Energi yang tersimpan di dalam alat ini tidak cukup untuk menerangi kita semua dalam waktu yang lama" tuturku yang panik sekali. Mereka yang mendengar hal ini sangat terpukul dengan keadaan ini. Tak sengaja mataku menangkap sosok dua bayi yang sedang tertidur di dalam boks kaca itu. Saat kuperhatikan, sosok keduanya tampak menangis seperti kedinginan.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera memerintahkan Etna untuk mencari cadangan persediaan minyak tanah di ruangan lainnya. Sementara diriku dan Igor segera masuk ke dalam ruangan bayi dan memeriksa keadaan para bayi prematur yang tertidur di dalam boks kaca tertutup. Keadaan mereka tampak menyedihkan diiringi suara tangis mereka yang memilukan. 'Celaka! Mereka harus mendapatkan suhu hangat yang cukup' ujar benakku. Di sisi lain, Wyonna malah bersembunyi di balik boks boks bayi yang ada di ruangan bayi.

"Igor, apa lampu darurat itu terasa panas menurutmu?" tanyaku pada Igor yang masih dihantui perasaan panik. Igor segera mengarahkan tangannya ke arah dua buah lampu neon panjang yang berjajar menempel pada alat itu seolah sedang mengukur suhu nya.

"Ya! Panas! Memangnya kenapa, Lutz?" sahutnya keheranan.

"Kita akan menghangatkan mereka dulu dengan lampu darurat ini untuk sementara" jawabku yakin. "Sekarang bantu aku untuk menggeser boks bayi ini dengan hati hati" pintaku pada Igor.

Dengan sangat hati hati, kami berdua menggeser posisi kedua buah boks bayi yang dilengkapi dengan roda pada setiap kakinya itu menjadi saling bertolak belakang satu sama lain. Di tengahnya, kuletakkan sebuah meja tinggi yang tingginya sejajar dengan tinggi boks bayi. Di atas meja tersebut, kuletakkan lampu darurat untuk menghangatkan para bayi. Dengan cara memanjat kursi yang ada di ruangan itu, penutup boks bayi dengan sengaja sedikit kubuka untuk membiarkan aliran oksigen masuk ke dalamnya.

"Terima kasih, Igor" ujarku sedikit lega. "Apa kau mau membantuku untuk mengawasi para bayi ini?" pintaku.

"Ya, tentu saja" jawabnya sumringah. Di tengah keberhasilan kami berdua, sekonyong konyong Etna datang menghampiri kami dan melaporkan hasil pencariannya.

"Teman teman, aku tidak menemukan minyak tanah dimana pun!" ucapnya penuh sesal. "Lalu bagaimana nasib kita?…hiks…" isaknya penuh kekecewaan.

"Sudahlah! Jangan khawatir! Aku akan menemukan cara lain" ujarku tanpa harus kehilangan kontrol emosi pada saat saat genting seperti ini. "Kalian tunggulah di sini" lanjutku seraya menenangkan Etna.

Demi berpacu dengan waktu dan suplai energi listrik lampu darurat yang semakin menipis, aku segera bergegas untuk memikirkan cara demi menyelesaikan masalah ini. 'Kalau aku tidak bisa menemukan sumber energi panas di tempat ini…bukankah masih ada kemungkinan untuk menciptakannya kan?' pikirku dengan optimis. 'Kurasa aku bisa memanfaatkan bahan bahan yang ada di sini untuk membuat cahaya ku sendiri' tutur benakku, sementara mataku tetap mengeksplorasi seluruh ruangan itu demi menemukan benda yang tepat untuk menciptakan cahayaku sendiri.

Tanpa kusadari, tanganku menyambar sebotol minyak bunga matahari dan mendekap botol itu seraya berlari keluar ruangan. Aku berlari menuju ke ruangan penyimpanan obat yang ada di sebelah kiri ruang bayi. Di sana aku menemukan banyak obat obatan dan beberapa bahan kimia yang tidak aku ketahui jenis substansinya.

Ketika diriku memeriksa isi dari setiap botol botol bahan kimia yang ada di sana, aku menemukan sebuah kotak putih plastik yang bertuliskan 'lilin padat, 100% dari bunga matahari". 'Ya! Mungkin ini bisa kugunakan!' pikirku bersemangat. Sebagai wadah bahan bahan untuk membuat cahaya nanti, tas kain P3K besar berwarna putih yang ada di sana menjadi pilihan tepat. Sebuah saput pencuci piring dari kawat pun tak lupa kumasukkan ke dalam tas kain P3K itu.

Sayangnya di tengah rasa puasku itu, aku masih belum bisa menemukan ide yang tepat untuk membuat alat yang bisa menghangatkan para bayi bayi itu. 'Mungkin aku bisa membuat sebuah cahaya, tapi…apa cahaya kecil yang kubuat ini mampu untuk membantu para bayi itu?' batinku resah.

Tak kusangka dari arah jendela, mataku menangkap sosok seekor burung pipit kecil yang bertengger di dekat jendela yang sedang melindungi dirinya dari kencangnya angin siang itu. Hal itu benar benar memunculkan sebuah ide brilian. 'Gilbird! Inkubator' seru benakku. Tak lama kemudian, segera kuraih ponselku dan kuhubungi lagi abangku.

"Halo? Lud? Ada ape nih?" sahut suara abangku yang sepertinya baru terbangun dari tidurnya.

"Bang, apa Abang masih ingat cara membuat inkubator Gilbird dulu?" tanyaku penasaran

"Hmm…gue cuman pake kotak kayu sama lampu bohlam doang, emangnye knape loe tanya soal ginian?" ujar abangku tak habis pikir.

"Kalau bohlam tidak ada, apa bisa diganti dengan yang lain? Hmm…misalnya lilin, Bang?" Tak kuhiraukan pertanyaannya dan kualihkan topiknya pada hal yang lebih penting.

"Jelas bisa dong! Tinggal loe bolongin aja dasar kotaknye. Terus loe tambal bolongan itu pake plat seng. Di bawah plat seng, loe beri air di mangkuk besi ato seng secukupnye. Lilinnya loe taroh pas di bawah mangkuk" paparnya. "Emangnye loe mau bisnis ternak ayam di Ruslaville ya, Lud?" Keheranan abangku benar benar memuncak dan memaksaku untuk berterus terang. Namun, penjelasan itu bagiku tidaklah penting.

"Terima kasih, Bang!" seruku seraya menutup pembicaraan. Dengan sigap, kucari suatu benda yang mirip mangkuk dan dapat menghantarkan panas. Pandanganku segera beralih pada beberapa benda yang mirip nampan. Nampan nampan tersebut berbahan dasar alumunium. Tanpa pikir panjang, ku sambar dua buah nampan itu dan kuletakkan di dalam tas kainku.

"Bagus! Sekarang tinggal membuat apinya!" gumamku bersemangat. Diriku segera keluar dari ruangan penyimpanan obat itu dan berjalan menghampiri Wyonna yang sedang bersembunyi di balik boks bayi.

"Wyonna, boleh aku pinjam Mary sebentar?" Wyonna hanya menggelengkan kepalanya sembari menyembunyikan Mary di balik punggungnya. "Wyonna! Aku membutuhkan baterai yang ada di punggung Mary untuk menyelamatkan nyawa adikmu!" ujarku seraya menghampiri Wyonna yang duduk meringkuk di sana.

"GAK BOLEH!" Teriaknya kesal. Tanpa basa basi lagi, aku segera merebut boneka bernama Mary itu dari tangannya. Aksi berebut boneka pun segera dimulai antara diriku dan Wyonna. 'Maaf Wyonna, aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini…tapi, ini demi kebaikan adikmu juga' sesal benakku.

Yulia, Peter dan Leonid yang sedari tadi sedang meringkuk dan menangis di lantai, sontak terkejut dengan lengkingan teriakan Wyonna yang mengamuk. Mereka bahkan menyaksikan perkelahian di antara kami berdua. Sementara Etna dan Igor berusaha melerai kekisruhan yang kumulai ini.

Wyonna yang kalah tenaga dariku akhirnya jatuh terhempas di lantai dan menangis. Diriku yang berhasil mendapatkan boneka Mary, segera memasukkan boneka itu ke dalam tas. Aku segera berlari menghindari para anak anak itu dan mencari tempat persembunyian yang tepat. Aku mendengar derap langkah kaki anak anak itu mengejarku sayup sayup dari kejauhan. Berbekal insting di tengah ketidakpastian, aku berlari menyusuri lorong gelap yang melewati toilet dan ruangan dapur.

Sayangnya, lorong gelap itu hanya membawaku ke sebuah pintu tua yang tak kuketahui akan mengarahkanku ke ruangan macam apa. Demi menghemat waktu dan menghindari kejaran anak anak itu, aku segera membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.

Dengan nafas tersengal sengal, kuperhatikan sekelilingku. 'Gudang…Ini sempurna!' batinku senang. 'Inilah saat yang tepat untuk membuat api! Jauh dari jangkauan anak anak itu!' pikirku dengan berbekal optimisme dan kebulatan tekad.


BRAK! Pintu masuk gudang yang tadi ku tutup dengan rapat akhirnya jebol juga di tangan anak anak yang menggedor pintu itu bertubi tubi. Rasanya aku sudah merasa terpojok dengan keadaan semacam ini. 'Oh…TIDAK! Bagaimana caraku bisa membuat api dengan baik bila banyak sekali anak anak berkerumun di sekitarku!' ucap benakku yang dipenuhi rasa kecewa.

"Lutz! Kenapa kamu jahat sama Wyonna?" tanya Leonid tak percaya.

"A…aku aku hanya ingin meminjam Mary...maksudku baterai yang ada di dalam tubuh nya untuk membuat api, apa itu salah?" itulah pembelaan yang bisa kuberikan di hadapan mereka.

"Jangan rusak Mary…hiks…hiks…kamu jahat! Kamu mau bunuh Mary!" dakwanya padaku penuh emosi.

"Aku hanya membutuhkan baterainya saja! Bukan Mary!" tegasku. "Apa kau mau melihat adikmu meninggal kedinginan hanya karena tidak ingin merusak Mary?" sindirku tanpa basa basi. Wyonna hanya terdiam dan menangis.

"Kalo emang mau bikin api pake baterai boneka Mary, kenapa gak bilang dari tadi, Lutz?" protes Etna. "Kita kan bisa bantu" lanjutnya.

"Maaf…tapi, pekerjaan berbahaya seperti ini terlalu berisiko untuk kalian" jawabku tegas. "Aku tak ingin ada korban jiwa karena kecerobohanku membiarkan kalian melakukannya sendiri" itulah alasan yang tak bisa kututupi lagi dari mereka semua.

"Kata ibuku, kalo kita sendirian gak akan berhasil, Lutz" sahut Igor sebagai anak yang usianya paling tua di antara mereka yang ada di sini. "Ayo kita kerjakan sama sama" tawarnya sembari tersenyum.

"Ta…tapi…ini berbahaya! Sekali kalian ceroboh, playgroup ini bisa terbakar! Apa kalian mengerti?" ujarku tanpa bisa menutupi kekhawatiran akan risiko yang akan mereka tanggung.

"Jangan khawatir! Gak bakal ada apa apa sama kami, selama kamu di sini, Lutz. Kita kan teman" tutur Etna seraya menggenggam tangan kiriku yang masih terbungkus perban. Demi mendengar kata kata mereka itu, aku jadi merasa malu sendiri. Mata mereka yang memancarkan keseriusan dan rasa bersahabat yang luar biasa, membuatku merasa kecil dan bersalah atas segala hal bodoh yang kulakukan tadi. 'Betapa egoisnya diri ini' pikirku penuh sesal. Batin yang telah tergerak ini tak kuasa untuk menerima uluran tangan mereka yang penuh keikhlasan.

"Kuakui aku yang bersalah. Maafkan aku…semuanya, tolong maafkan sikap egoisku!" tuturku penuh rasa bersalah yang bercampur rasa malu. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Sementara Wyonna hanya terdiam membisu melihat wajahku.

"Lalu, kita harus ngerjakan apa dulu, nih?" tanya Peter tak sabar.

"Jangan khawatir, Peter! Kita akan memulai pekerjaan ini!" jawabku bersemangat. "Tapi sebelumnya, kalian harus berjanji untuk mengikuti segala perintahku! Apa kalian siap?" tanyaku dengan serius.

"SIAP, KAPTEN LUTZ!" teriak seluruh anak anak itu dalam satu suara yang kompak. Melihat antusiasme mereka siang ini, aku merasakan semangat yang begitu meluap luap meski risiko yang kami hadapi pun juga tak kalah besarnya.

Tanpa membuang waktu lagi, diriku segera membagi kerja tim. Tim pertama, yang terdiri dari diriku dan Igor, bertugas untuk membuka pintu seng yang tertutup. Dengan menggabungkan seluruh kekuatan kami yang ada, akhirnya kami berhasil membuka seluruh balok balok kayu yang merintangi pintu seng tersebut. Di balik pintu seng itu, kudapati hutan belantara yang masih perawan dan sebuah sumur tua yang dindingnya terbuat dari tumpukan bebatuan.

Sementara tim yang ke dua, terdiri dari Leonid dan Peter, kutugaskan untuk mempersiapkan botol botol kaca sebagai wadah lampu minyak kami nanti dan mereka juga bertugas membentuk untaian kawat sebagai penegak sumbu lampu minyak. Kawat yang tadinya berbentuk lurus, harus dibentuk membulat seperti kumparan seukuran dengan diameter dasar botol kaca. Kemudian, ujung dari kawatnya dibentuk menjadi penegak sumbu yang diletakkan di tengah tengah botol.

Tim ketiga yang terdiri dari Etna dan Yulia bertugas untuk memotong motong tali yang berbahan dasar katun itu sesuai dengan tinggi botol kaca. Usai tahap pemotongan, mereka kutugasi untuk melumuri seluruh permukaan tali dari ujung ke ujung lainnya dengan lilin padat yang terbuat dari bunga matahari. Ketika tahap itu telah selesai, sumbu yang sudah berlumur lilin padat itu segera dipasang pada kawat penegak sumbu yang telah dibuat oleh Peter dan Leonid. Etna dan Yulia pun segera menuangkan minyak bunga matahari sampai memenuhi tiga perempat dari tinggi botol itu dengan sangat hati hati. Alhasil, berkat kerja sama kami semua, kami berhasil membuat enam botol lampu minyak bunga matahari yang terlihat hampir mendekati sempurna.

"Baiklah! Mari kita buat apinya!" teriakku penuh semangat. Mereka yang ada di sana pun tak kalah bersemangat menyambut ajakanku. Igor, Leonid dan Peter segera kutugaskan untuk menumpuk jerami yang ada di dalam ruangan itu. Jerami tersebut sengaja ditumpuk tepat di tengah pintu yang tadi terututup seng. Sementara, pintu yang menghubungkan ruangan gudang ini dan playgroup segera kututup agar asapnya tidak memasuki ruangan bayi yang ada di dalam.

Sayangnya, ketika diriku memegang boneka Mary demi melepas baterai yang ada di punggungnya, aku melihat sosok Wyonna yang masih duduk di pojok gudang itu sambil memperlihatkan wajah penuh kesedihan. Kuhampiri Wyonna yang sedang bersedih di sana.

"Ma…maafkan aku. A…apakah ki…kita masih…berteman?" tanyaku malu malu sembari menutupi rasa bersalahku padanya. Dia hanya mengangguk tanpa membalas pertanyaanku.

"Wy…Wyonna…kal…kalau aku…berjanji…ak…akan memberikanmu baterai…peng…pengganti, mau…maukah ka…kamu mau membantuku?" janjiku, meski aku sadar bahwa diriku tidak memiliki uang untuk membeli baterai pengganti. "Ini janji laki laki…" lanjutku demi meyakinkannya.

"Ja...janji ya?" tuturnya terbata bata. Matanya yang tadi berselimutkan kesediihan tiba tiba memancarkan cahaya semangat.

"A…aku janji" jawabku seraya mengulurkan tangan kananku untuk membantunya berdiri. Gadis kecil itu segera menyambut uluran tanganku. Air mata yang tadi mengalir di pipinya disekanya dengan tergesa gesa.

"Aku…bantu kamu, Lutz" ujarnya sambil tersenyum. Mendengar kesediaan Wyonna membantu kami semua, semangatku untuk menyelamatkan nyawa para bayi kembali berkobar.

Dengan berbekal saput kawat pencuci piring dan dua buah baterai, diriku segera membuat api. Menggosok gosokkan ujung kutub negatif baterai pada permukaan saput kawat cuci piring memang dapat menciptkan percikan api kecil. Ketika percikan itu kusulut dengan menggunakan jerami yang telah dilumuri sejumput minyak bunga matahari, api yang dihasilkan pun menjadi besar sehingga cukup untuk menyalakan lampu minyak bunga matahari kreasi kami. Api yang kami sulut di jerami itu menghasilkan asap yang cukup tebal hingga terbang tinggi membumbung ke angkasa di tengah hujan rintik.

Seluruh anak anak di sana bersorak sorai setelah berhasil menyalakan api pada ke enam sumbu lampu lampu minyak bunga matahari itu. Namun, tugas kami belumlah selesai. Usai memadamkan api yang kami sulut pada tumpukan jerami, kami segera bergegas berjalan menuju ruangan bayi. Setiap anak memegang sebuah botol lampu minyak bunga matahari dan mereka kuwajibkan untuk berjalan ekstra hati hati. Sesampainya di ruang bayi, betapa terkejutnya diriku mendapati para bayi yang tadi sempat bergerak dan menangis hanya diam terbujur kaku seolah mereka sudah…

"Lutz…kenapa adekku gak bergerak? Kenapa badannya pucat?" seru Wyonna yang tampak khawatir melihat adiknya tampak seolah tak bernyawa. Tidak hanya Wyonna dan kawan kawannya saja yang khawatir dengan keadaan ini, dirikupun juga terbawa dalam suasana panik yang mencekam.

'Ludwig Beilschmidt…tenanglah…semua belum pasti! Masih ada harapan' pikirku dengan terus berusaha mengendalikan arus emosi dalam kebimbangan ini.

"Teman teman, jangan khawatir! Kita tetap tidak boleh kehilangan semangat! Masih ada harapan selama kita mau mencoba!" nasihatku meskipun jauh di lubuk hati ini…aku juga masih tidak yakin dengan hasilnya.

Tanpa menunggu waktu lama lagi, segera kubongkar laci yang ada di bagian bawah boks bayi tempat di mana komponen komponen listrik boks itu berada. Laci boks bayi yang berbatasan langsung dengan kasur bayi itu sudah kubebaskan dari komponen listrik. Isinya segera kugantikan dengan sebuah plat seng berukuran sedang, sementara di bawahnya kuletakkan sebuah nampan alumunium berisi air. Pada bagian rak dasar yang berada tepat di bawah laci, kuletakkan tiga buah lampu minyak bunga matahari yang sumbunya sudah disulut api. Selepas melakukan semua hal itu pada kedua boks bayi, aku dan seluruh anak anak yang ada di sana berharap agar para bayi itu segera menampakkan tanda tanda kehidupan pada kami.

"Adek bayi…ayo semangat!" ucap Leonid dan Igor.

"Adek bayi…jangan mati dulu…" tutur Peter sembari memperhatikan para bayi yang ada di dalam boks kaca dari luar.

"Jack…bertahanlah" bisik Wyonna lirih. Etna yang baik hati segera meraih tangan kanan Wyonna yang tak berhenti bergetar. Sementara itu, bibir Yulia tak henti hentinya memanjatkan doa.

Sedangkan diriku…aku hanya bisa sedikit berharap dan pasrah atas semua yang telah aku dan teman temanku lakukan sampai detik ini. Dalam ketidak pastian itu, aku segera keluar dari ruangan bayi dan duduk meringkuk di pojok ruangan bermain sendirian…jujur saja, aku sangat tidak yakin dengan hasil dari ide gilaku ini.

'Sudah selesai…hanya sampai di sini yang bisa kulakukan' batinku pasrah. 'Aku tak peduli bila mereka menyalahkanku' sekelibat pikiran negatif dan rasa frustasi membayangi benakku di tengah kepasarahan.

"LUTZ! LUTZ! LUTZ!" suara teriakan anak anak kecil itu segera memecah lamunan frustasiku. 'Ah…sudahlah…mungkin hanya berita buruk yang akan mereka sampaikan padaku' kembali rasa putus asa menggelayuti pikiranku yang sudah buntu ini.

"Luuuuutz!" panggil Wyonna yang datang menghampiriku di tengah kegalauan pikiranku.

"Ma…maafkan aku, Wyonna…aku tidak bisa berbuat lebih baik daripada ini" sesalku tanpa bisa memandang kedua bola matanya. Tak disangka lengan Wyonna memelukku dengan eratnya. Aku sungguh terkejut sekali ketika anak itu mencium pipi kananku.

CUP "Terima kasih, Lutz" sahutnya dengan wajah berseri seri.

"Eh…a…a…apa…ma…maksudnya?" Hal ini membuatku salah tingkah.

"Kamu pinter, deh!" pujinya seraya mendaratkan ciuman lagi ke pipi kiriku. Usai meghadiahiku dua buah ciuman, Wyonna segera berlalu pergi dari hadapanku. Di tengah kebingunganku pada sikapnya, mendadak anak anak yang lainnya segera mengahampiriku dengan penuh tawa riang.

"HORE! ADIK BAYINYA SELAMAT!" teriak mereka girang. "LUTZ KEREN!" sorak sorai penuh pujian pun dialamatkan padaku. Diri ini yang setengah tak percaya, sungguh merasa malu dibuatnya.

"Terima kasih! Tanpa kalian, mungkin saat ini usahaku takkan berhasil" balasku, sedapat mungkin aku tidak bersikap jumawa di hadapan anak anak itu. Di saat semuanya sedang asyik merayakan keberhasilan kerja kami, beberapa saat kemudian seseorang menggedor pintu masuk playgroup diiringi dengan teriakan panggilan histeris.

"LUTZ! APA KAU DI SANA, LUTZ?" teriak suara histeris yang sepertinya milik…Katyusha. Demi mendengar suaranya kembali, dengan spontan diriku segera berlari ke arah pintu masuk playgroup. Tidak hanya suara Katyusha saja, beberapa orang yang berada di luar sana terus berteriak memanggil satu per satu nama anak anak yang ada di ruangan ini tanpa kecuali. Dari teriakan yang mereka kumandangkan, aku bisa menilai bahwa mereka sedang dalam keadaan panik dan ketakutan yang luar biasa. Di antara suara teriakan panggilan yang terdengar simpang siur, beruntung diriku masih bisa mendengar suara Katyusha dengan jelas.

"KATYA! INI AKU!" Sahutku dalam suara yang cukup lantang.

"Syukurlah…hiks…hiks" ujarnya lega dari balik pintu dalam balutan isak tangis. Tak berapa lama, seseorang segera membuka kunci pintu playgroup. Ketika pintu dibuka, sekonyong konyong sosok orang orang dewasa, baik para staff playgroup, penduduk desa dan para orang tua segera masuk membanjiri ruangan itu penuh tangis bahagia.

Dari arah teras playgroup, kulihat sosok Katyusha yang jatuh berlutut di lantai sementara sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka dan pakaian yang hampir compang camping seperti seseorang yang baru saja mengalami siksaan berat. Sementara itu, matanya menampakkan kesedihan meski senyum lega terpasang di bibirnya. Air mata jatuh membasahi pipinya lagi, apakah itu air mata kesedihan atau bahagia…jujur, aku tak paham. Entah apa yang telah terjadi padanya…aku yang sejak berada di dalam pengampuannya ini tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan perhatianku pada orang yang selama di desa ini selalu memperhatikanku, selain abangku.

"Katya! Apa yang telah terjadi padamu?" Seruku khawatir seraya berlari kencang menggapai sosoknya yang tampak sedih dan lelah. Secara refleks lenganku segera memeluk tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan…baru kali ini dalam sejarah hidupku, aku berinisiatif memberikan pelukan pada seorang wanita dengan mudahnya.

Tak satupun jawaban diberikannya padaku. Hanya linangan air mata dan senyuman yang dia suguhkan sebagai pengganti jawaban atas pertanyaanku. Katyusha tak membalas pelukanku seperti biasanya, hanya elusan lembut di kepalaku yang bisa dia berikan. Meskipun dirinya tak mampu mengekspresikan pikirannya melalui kata, aku sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan memeluknya demi menenangkannya saat ini.


"Hiks…hiks…hiks…kenapa? Kenapa kau tak jujur mengatakan hal ini sedari awal padaku, Katyusha?" gugat Belle pada Katyusha yang terduduk di tempat tidur ruang perawatan klinik. Katyusha tak menjawab. Hanya pandangan kosong yang bisa dia berikan pada sang dokter yang tengah frustasi.

"Jawab aku!…hiks…hiks…" perintah sang dokter dengan emosional. "Andai aku tidak mendapatkan informasi ini dari Celine mungkin aku tidak akan pernah menyadari bahwa Jan lah dalang di balik semua masalah ini…hiks…hiks…hiks…" tutur Belle sembari diselingi tangis pilu.

"Maaf…" hanya sepatah kata itu saja yang dapat Katyusha ucapkan sementara air matanya menetes dalam suasana sendunya sore ini. Aku yang menyaksikan kejadian itu dari balik pintu ruang perawatan ingin sekali mendatangi Belle dan menjelaskan padanya bahwa semua masalah ini berawal dari kecerobohanku. Sayangnya, aku tidak mungkin membuka penyamaranku di hadapan mereka saat ini…lagipula, tidak mungkin orang orang dewasa akan mempercayai omongan anak kecil seperti diriku dengan mudahnya.

"Jangan hanya minta maaf saja!" protes Belle kesal. Belle yang tidak tahan dengan sikap tutup mulut Katyusha segera mendekati wanita itu dan menatap kedua bola mata Katyusha dalam dalam.

"Katakan…siapa dalang di balik semua ini, Katyusha?" tanya Belle yang masih berupaya bersabar. Katyusha sama sekali tetap saja terdiam, dia hanya menundukkan kepalanya seolah berusaha untuk menutupi sebuah kejujuran.

"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya…aku akan segera meminta maaf pada semua penduduk desa dan angkat kaki dari desa ini" ujar sang dokter dengan sangat tegas sembari menahan tangis yang berusaha dia sembunyikan. Tanpa menunggu waktu lama, dokter Belle segera berjalan melangkah keluar dari ruangan itu.

"…Kirkland…" sahut Katyusha dalam suara yang lirih. Demi mendengar hal itu, dokter Belle yang berniat pergi segera menghentikan langkahnya.

"Kirkland? Apa maksudmu?" ucap sang dokter tak percaya seraya membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Katyusha. "Kirkland yang mana, Katyusha?" tanyanya kebingungan.

"Ja…jangan bilang…ka…kalau…di…dia…Arthur…Kirkland…da…dari Blue Star Electricity?" Belle yang merasa tak percaya dan tampak dengan setengah hati enggan menerima keadaan itu. Hanya anggukan dari Katyusha yang diterima oleh Belle.

"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN!" seru dokter Belle seraya menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya. "Ti…tidak mungkin Kirkland yang berhati baik itu mau bersekutu dengan kakakku! Kau…kau pasti berbohong kan, Katyusha?" ujar dokter Belle yang masih tenggelam dalam segala pencitraan yang dibangun oleh Kirkland selama ini. Katyusha yang tampak seperti orang tertekan hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tanpa menjawab satu kalimat pun.

Dokter Belle yang malang itu langsung terduduk bersimpuh di lantai ruangan itu. Suara tangisan sang dokter segera membelah sunyinya suasana ruangan…sementara Katyusha yang tak mampu berbuat apa apa hanya bisa memandang sang dokter yang kecewa dan frustasi dengan pandangan penuh sesal. Tak satu kalimat pun terucap sore ini selain tangisan dan erangan kesedihan yang memilukan dari dua orang wanita yang menjadi kekuatan bagi desa kecil ini.

'Jan…Kirkland…aku berjanji akan menghentikan tindakan kalian' seru bantinku yang tak rela melihat kedua orang wanita tak bersalah itu menderita menanggung beban yang disebabkan oleh diriku.


Malam semakin larut di Ruslaville, namun rembulan malam dan bintang bintang masih tetap bersembunyi di balik tebalnya awan hujan hingga tak satupun cahaya dihadiahkan oleh langit untuk kami pada malam yang sunyi ini. Masih belum cukup dengan itu, listrik yang tadinya menyala degan terangnya saat diriku dan Katyusha melakukan makan malam, secara mendadak segera padam tanpa sebab yang jelas.

Dengan berbekal cahaya lampu lilin yang tak seberapa nyalanya, aku dan Katyusha hanya duduk terdiam di kamar tidur berdua. Tak ada kegiatan penting yang dapat kulakukan selain merapihkan barang barang yang ada di dalam ransel miniku untuk bergegas pindah ke ruangan tidurku sendiri. Sesungguhnya, aku merasa tidak enak bila harus tidur di kamar milik Katyusha.

Sementara itu, Katyusha hanya bisa duduk terdiam di depan meja rias kuno sembari menyisir rambutnya. Namun, wanita itu sama sekali tak berkonsentrasi dengan kegiatan yang dilakukannya dengan setengah hati…pandangan katyusha hanya terpaku pada keadaan yang ada di luar jendela kamar. Angin bertiup dengan keras hingga menerbangkan apapun yang ada di sana dan hujan yang terus turun dengan derasnya sampai sampai menggetarkan kaca jendela.

"Ah…badai datang" tuturnya memecah keheningan malam.

"Katya…apa...aku harus menutup tirai jendela?" tawarku.

"Lutz…badai sudah datang…aku…pasti akan memulangkanmu besok" ujarnya seraya memandangku dengan tatapan sendu.

"Ma…maksudmu? Kenapa?" tanyaku tak percaya pada kalimat yang dia ucapkan barusan. "Bu…bukankah pa…pamanku belum menjemputku?" lanjutku.

"Aku…aku sendiri yang akan membawamu kembali ke Hetalienenberg…besok pagi" jawab Katyusha.

"Kenapa kau mau memulangkanku, Katya?" protesku kesal. Perlahan, wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

"Sebenarnya, tidak ada alasan bagimu untuk tinggal berlama lama di sini, Lutz" ucapnya sembari duduk di sebelahku. "Ini semua demi kebaikanmu, sebaiknya kau pergi" tuturnya meyakinkanku dengan senyumannya seolah semua akan baik baik saja bila ku pergi.

"Ta…tapi…tapi, aku masih mau tetap di sini, Katya! Tempat ini indah dan menarik! Aku menyukainya" belaku meski harus dengan pemaparan yang melebih lebihkan agar Katyusha tidak memulangkanku dari desa ini. 'Bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkannya dengan tenang bila masih masalah yang menimpanya selama ini berkaitan dengan perusahaanku dan rekanan kerjaku?' batinku khawatir.

"Sudahlah…tak akan ada yang tersisa lagi di tempat ini" ujar Katyusha sembari menghindari tatapan mataku.

"Katya, apa masalah ini ada kaitannya dengan…kejadian tadi siang? Ceritakan padaku alasanmu terluka siang itu!" desakku.

"Ti…tidak ada kejadian apapun tadi siang…lukaku hanya hasil dari kecerobohanku saja" ucapnya dengan kepala tertunduk.

"Tolong ceritakanlah! A…aku…aku ingin membantumu…sekali ini saja" sahutku sembari membantunya menengadahkan kepalanya. Aku ingin sekali dia mengetahui bahwa aku tidak bisa membiarkannya sendirian mengahadapi persoalan ini.

"Te…terima kasih, Lutz" bulir bulir air mata muncul dari kedua matanya. "Ta…tapi…masalahku bukanlah masalahmu…jangan khawatirkan aku…hiks…hiks" isaknya. Meski bibirnya tersenyum, Katyusha tetap saja tak mampu untuk berlagak tegar di hadapan orang lain.

"A…aku…aku…tak yakin kalau kau bisa menghadapi masalah sendirian, Katya" kalimat jujur itu spontan meluncur dari bibirku.

"Jangan khawatir! Sejak kepergian ayah dan adik adikku dari desa…sejak sepeninggal ibuku…aku sudah hidup sendirian di sini" jawabnya. Dengan sigap, kedua tangannya segera menyeka aliran tetes air mata di pipinya. "Justru…kaulah yang harus mengkhawatirkan dirimu sendiri…karena kau masih memiliki dua orang paman yang menyayangimu" nasihatnya.

"TIDAK MAU!" tolakku kasar. "Aku tetap akan berada di tempat ini!" bantahku dengan sekuat tenaga.

"JANGAN KERAS KEPALA, LUTZ BEILSCHMIDT!" hardiknya. "Apa yang akan dika…" belum sempat Katyusha menyelesaikan kata katanya, tiba tiba langit berubah menjadi murka.

CTAR! GLUDUK GLUDUK suara petir yang menyambar nyambar terdengar bergemuruh di langit bumi Ruslaville.

"KYAAA!" Katyusha menjerit histeris ketakutan mendengarnya. Katyusha yang menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya segera menyembunyikan dirinya di dalam kolong tempat tidur. Dengan bersikap seperti prajurit tiarap, dia menggigil ketakutan di tempat yang pengap dan dingin itu.

"Katya? Kenapa kau bersembunyi di bawah kolong tempat tidur?" tanyaku keheranan.

"A…aku…benci…petir" jawabnya menggigil ketakutan. Aku sungguh geli melihat sikapnya, namun aku tetap berusaha menahan tawaku.

"Ayolah, jangan bersembunyi di sana! Kalau terus bersembunyi di sana, nanti bisa sakit" ujarku seraya berjongkok dan mengulurkan kedua tanganku padanya.

"Hiks…tapi nanti…petir…" bantahnya ketakutan.

"Hahaha…bagaimana bisa menyelesaikan masalahmu kalau petir saja bisa membuatmu ketakutan?" sahutku tanpa bisa menahan tawaku lagi. Demi mendengar kalimat yang tadi baru saja kuucapkan, sontak Katyusha bergegas keluar dari kolong dan duduk di atas kasur sembari memelototiku.

"Aku…aku tidak takut! Aku tidak takut menghadapi apapun!" protesnya sengit meski matanya berkaca kaca penuh air mata dan semburat merah menghiasi pipinya penuh rasa malu.

CTAR GLUDUK GLUDUK

"KYAAAAAA!" teriakannya semakin kencang. Hampir saja dia kembali bersembunyi di bawah kolong kalau saja aku gagal memeluk tubuhnya.

"Bukannya tadi ada yang bilang tidak takut menghadapi apapun?" godaku sembari menatap matanya dan tersenyum puas.

"Ughh…kau mencoba menggodaku ya, Lutz?" protesnya dengan wajah cemberut.

"Hehehe…ekspresimu lucu sekali, Katya" tawaku terkekeh melihatnya cemberut. Baru kali ini aku melihat wajahnya yang cemberut…sungguh lucu sekali.

CTAR GLUDUK GLUDUK

"KYAAAAAAAAA!" lagi lagi dia masih ketakutan dan panik meski saat ini tubuhnya berada di dalam pelukanku.

"Hei, Katya…apa kau mau kuajari lagu pengusir petir?" bisikku di telinga kanan Katyusha.

"Eh? Lagu pengusir petir? Apa itu ada?" tanyanya heran. Aku hanya mengangguk dan mengumpulkan nafasku untuk memulai lagu yang…sebenarnya cukup bodoh untuk didengar.

KALO DENGAR SUARA PETIR, KAKIMU JANGAN NGEPIR!

TERIAK DAN NYANYILAH KERAS KERAS PADA PETIR BIAR GAK MAMPIR!

DASAR PETIR SIALAN! OGAH LIHAT! CUEKIN AJA, GAN!

EMANGNYA SI PETIR GALAU APA, YA GAN? TANYA AJA SAMA KAWAN!

"Hahahahahaha…lagu milik siapa itu, Lutz?" Katyusha yang tadi sempat bersedih dan ketakutan dalam pelukanku langsung tertawa terpingkal pingkal usai mendengarkan lagu yang kunyanyikan dalam volume suara yang keras.

"Itu…itu lagu yang diciptakan oleh pamanku waktu aku ketakutan pada petir" jawabku. 'Andai dia tahu bahwa lagu ini diciptakan oleh abangku dan Elizabeth sewaktu mereka masih kecil, Katyusha pasti tidak akan berhenti menertawakan kebodohan mereka kala itu' pikirku yakin.

"Apa kau mau menyanyikan lagu ini bersamaku tiap kita mendengar suara petir?" tawarku antusias. "Yang nyayinya kurang lantang, harus menebak alasan kenapa si petir galau, setuju?" tantangku.

"Kenapa tidak?" ujarnya girang. "Kalau jawabannya gak lucu, harus dapat hukuman gelitik!" tantang balik Katyusha.

Alhasil, setiap kali kami mendengarkan suara petir, lagu bodoh inilah yang kami berdua kumandangkan keras keras malam itu. Tawa dan gelitik menghiasi kelamnya malam penuh badai di rumah Katyusha yang sederhana ini. Tak kusangka Katyusha yang sedari tadi begitu ketakutan terhadap suara petir, sedikit demi sedikit mulai bisa menghilangkan ketakutannya itu. Beberapa saat kemudian, lelah dan kantuk mulai menyerang Katyusha hingga dirinya menghentikan permainan menarik yang kami lakukan malam ini. 'Kurasa aku banyak berhutang budi pada abangku yang masih sering menyanyikan lagu ini di kala mabuk' ujar benakku penuh syukur.

Katyusha yang tertidur di sebelahku tampak begitu damai seolah hari ini dirinya tidak mengalami kejadian buruk apapun. Diriku yang pada awalnya berniat tidur di kamar lainnya yang sudah disiapkan oleh Katyusha mendadak mengurungkan niat itu. 'Dia terlalu ketakutan untuk ditinggalkan sendirian dan nanti dia pasti akan mencari cariku' pikirku yakin. 'Semoga badai ini bisa cepat berlalu, Katya' harapku sembari menyelimuti tubuhnya dengan selimut.

Di tengah kebahagiaan kecil itu, tiba tiba diriku dikejutkan dengan getaran sinyal pesan dari ponselku yang masih berada di dalam saku celanaku. Ketika kubuka isi pesannya, betapa terkejutnya diriku!

[KONSORSIUM EAST BLOC SAMA BLUE STAR UDAH NGAJAK PERANG KIRKLAND DKK. LAHAN KATYUSHA UDAH DIAMBIL KONSORSIUM. KIRKLAND SAMA JAN KATANYA BAKAL NGAMUK DI DESA. HATI HATI, LUD!]

Berita peringatan itu sungguh membuatku panik dan ketakutan. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, kucoba menghubungi abangku yang saat ini masih berada di dalam perjalanan.

"Halo, Lud? Apa loe dah baca sms gue?" tanyanya dari seberang telepon.

"Sudah, Bang! Ini sangat keterlaluan!" seruku tak percaya.

"Bener! Barusan gue dapet berita itu dari si Jenggot! Diye…"

Tiba tiba sambungan telepon itu terputus. Ketika kuperiksa ponselku, ternyata isi baterai ponselku sudah habis dan tak bisa digunakan lagi. Diriku yang tidak memiliki baterai ponsel lithium cadangan harus gigit jari demi menerima kesialan ini. PRAK kubanting ponselku hingga jatuh ke lantai.

"Verdamnt! Kenapa di saat seperti ini ponsel ku harus mati?" makiku kesal. Rasa bersalah dan frustasi mulai membebani pikiranku. Perlahan namun pasti, perasaan perasaan negatif ini mulai menghancurkan harapanku. 'Bagaimana caraku menyelamatkan Katyusha dari masalah ini bila alat komunikasiku dengan abangku satu satunya terputus?' keluh batinku.

Ketika ku memandang wajah Katyusha yang tertidur di sampingku, sekelebat rasa bersalah segera menghampiriku. Tanpa kusadari, tangan kiriku segera menggenggam tangan kanannya erat erat. Entah kenapa rasanya tak ingin kulepas lagi. 'Badai masih belum berlalu, Katyusha…Kumohon tetaplah bertahan bersamaku sampai akhir' batinku galau di tengah amukan badai malam ini.

Bersambung


Maaf kepanjangan…ini memang chapter yang kekanakan m(_ _)m

Untuk lagu yang dinyanyikan Ludwig, lagu nya memang bener bener ada. Judulnya Der Donner Song atawa The Thunder Song alias Lagu Petir/Guntur (silakan liat di youtube). Liriknya ane adaptasikan secara bebas dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia pake Google translate dengan berbagai macam perubahan sana sini cuz lirik aslinya sangat gak sopan sekali (banyak swear words). Maaf kalo hasilnya jelek banget n membosankan. Saatnya pindah setting ke daerah baru. Makasih.