Kyaa~~~~~ *Lari kebakaran jenggot* kenapa makin lama padetnya makin lelet? GOMEN… GOMEN… GOMEN… bagi readers yang kecewa. Saiya makin kehabisan Ide.. udah mentok. Tapi saiya terus menyemangati diri saya dengan berfikir "FIC yang sangat jelek tapi komplit masih jauh lebih baik dari pada FIC bagus tapi Authornya gag mampu nyelesein" jadi saiya bertekad akan menyelesaikan Fic ini seberapapun mentoknya. GANBATTE LHYN *Treak2 gaje*

Haduh.. kenapa malah curcol?

Langsung saja bales rifyunya Readers yang paling Baik2 luph U ol :

Ayano Hatake : Arigatou Ayano… ih senengnya dibilang gag bikin bosen…

Hikari Uchiha Hatake : Iyah.. iyah.. saiya ngerti kok, selera org kan beda2. Saiya juga Sakura Haters tingkat Akut, abis gara2 dia Sasuke jadi mutusin saiya. *Dibatai Sasusaku FC* Arigatou Hikari…

miss hakuba : Cheers… To SASUSAKU… selamat membaca… chaps yg leler apdet ini.. Gomen udah bikin gag sabar… Arigatou..

ZephyrAmfoter : Iyah, kan Zephyr nebaknya saiya gag puny aide untuk ending… iyah seru.. ada adegan Action terpanjang saiya*muji fic sendiri-dibakar* Arigatou…

Riichan LuvHiru : Arigatou Riichan.. Iyah.. menurut saiya juga Hinata gag terlalu pantes ama Kakashi *Dicemplungin ke Sumur-emang siapa yang nikahin mereka di fic ini!*

akasuna no hataruno teng tong : Kikikik… Senengnya... biar repot tapi masih bela2in Rifyu… jadi terharu saiya… Hiks..Hiks.. *Lebay*.. Arigatou Teng-chan.. Tong-Chan..

chiu-chi Hatake : Arigatou.. iyah bakal saiya teruskan…

sava kaladze : Kyaa~~~ seneng udah nyenengin Readers… Arigatou Sava…

dei hatake : Iyah gapapa.. yg penting balik lagi dei-channya… saiya lagi coba nyari-nyari jalan *Orang buta kali?* buat menuju kesitu… Arigatou dei-chan..

hyuneko : Iyah hyuneko.. Sasuke udah mulei sedikit hangat ama Sakura.. Kacian Sakuranya kalo sasukenya dingin terus.. Gomen… Gomen… Udah ngecewain… Gomen…

Anggun Nara : yap Semangat! Arigatou Angguuuun…. Arigatou…

Azuka Kanahara: Iyah gag papa Azuka... Iyah... Jacob Keren banget.. bikin geregetan... IYA Azuka... kalo diganti ino harus dari awal dunk.. susah... Arigatou Azuka...

Aya-na Rifa'i : Arigatou Aya-chan... Haha... gomen munculnya Kaka cuman dikit.. di chaps ini kaka lumayan banyak kok... Arigatou...

Sumpah Saiya gag bisa ngapa-ngapain lagi selain ngucapin Arigatou ama gomen.. dua kalimat itulah yang terus saiya ucapkan untuk para Readers…

Gomen kalo mengecewakan, Arigatou udah bersedia membaca, merifyu… sampe susah2 memberi semangat bagi saiya.. itu sangat berarti buat Saiya..

Happy Reading…

—Lhyn Hatake—

Disclaimer : Gada Om Masashi gada Naruto.

Warning : AU, pre Junior Author… jadi sorry banged kalo gaje.. OOC (Pasti), OC (beberapa peran gag penting), typo (Buanyak banget) N' segala macem temen satu paketnya… dan saiya mengharapkan…Dukungan, Kritik dan Saran... kalo untuk Flame… saiya terima meskipun saiya gag minta… Ikhlas…

—Lhyn Hatake—

Gedung itu sama sekali tak tampak seperti sebuah markas kriminal, tidak terlihat gelap dan menakutkan. Gedung bercat putih gading berlantai tiga itu justru tampak sangat wajar sebagai sebuah bangunan pabrik kecil yang terletak ditengah-tengah kawasan industri dengan gedung-gedung tingginya. Bahkan adanya kedai-kedai kecil dan orang-orang makan didalamnya membuatnya semakin tampak membaur dengan lingkungan disekelilingnya.

"Kalian yakin ini markas mafia kelas triple S?" Tanya Sakura tak yakin. Ketiganya hanya memberi padangan maklum pada Sakura. Bagaimanapun juga Sakura hanyalah orang baru dalam dunia itu.

Sakura diajak oleh Ino untuk lebih mempertajam indra penglihatan dan pendengarannya. Meski awalnya Sakura sama sekali tidak melihat adanya gerak-gerik aneh digedung dan disekitar gedung itu, tapi hal yang kemudian ditunjukkan Ino membuatnya membelalak tak percaya. Dan lagi hampir disetiap sudut kini telah terdapat Anbu yang menyamar.

"lima belas detik sebelum penyerangan di mulai." Kata shino. Pandangannya bolak-balik dari netbooknya dan gedung itu.

—Lhyn Hatake—

Kakashi berjalan dengan tenang menapaki tangga itu meskipun jantungnya berdetak tak sabar. Tidak lama lagi dia akan berhadapan langsung dengan pria ular licik yang telah diburunya selama dua tahun ini.

"Silahkan masuk." Kata seorang wanita berambut merah berkacamata padanya. Usia wanita itu tidak lebih tua dari Hinata, namun sayang sekali wanita semuda itu telah bekerja sebagai kaki tangan Orochimaru dan menghabiskan sisa hidupnya dipenjara setelah ini.

Kakashi masuk bersama Yamato. Dan tentu saja keduanya dalam penampilan yang jauh berbeda dengan penampilan asli mereka. Bodoh sekali kalau mereka datang dengan penampilan asli mereka yang pasti akan membuat mereka terbunuh bahkan sebelum menyentuh gerbang bangunan ini.

Wanita itu membukakan pintu sambil mengedip genit kearahnya. Kakashi hanya tersenyum menanggapinya dan berjalan masuk. Tangannya telah menyusup masuk kedalam jasnya dan menyentuh gagang revolvernya ringan.

Kakashi dan Yamato masuk kesebuah ruangan lain. Sebuah ruang kerja dengan sebuah meja dan kursi bersandaran tinggi yang membelakangi mereka. Ruangan itu tampak sangat nyaman dengan AC, televisi dan satu set sofa elegant. Tangan Kakashi lebih erat mengenggam revolvernya saat kursi itu bergerak memutar pelan dan…

Kabuto.

"Selamat siang Yuugi-sama dan Yuyasan-sama." Sapa pria berambut perak yang lebih gelap dari milik Kakashi. Kabuto bangkit dari kursinya dan membungkuk rendah dihadapan Kakashi dan Yamato. Keduanya membalas membungkuk dengan terpaksa. Cih. Membungkuk hormat untuk bajingan seperti dia?. Seumur hidup Kakashi tidak akan rela.

"Dimana Orochimaru?" Tanya Kakashi dengan suara yang jauh dari suaranya, tak sabar.

"Oh, sabarlah sedikit Yuugi-sama, kita ngobrol-ngobrol sebentar. Silahkan duduk." Kabuto menunjuk dua kursi kosong didepannya ."Karin, cepat ambilkan Sake terbaik untuk kedua tamu kita ini?" Katanya memerintah wanita berambut merah yang sedari tadi menatap Kakashi dengan pandangan lapar. Gadis itu membungkuk dan berlalu pergi.

"Kami tidak punya banyak waktu. Kami ingin bicara langsung dengan Orochimaru atau kerjasama ini kita batalkan saja." Kata Yamato sedikit mengertak. Dan tampaknya gertakan itu cukup ampuh meskipun Kabuto membalasnya dengan senyum.

'Huh.. masuk dalam jebakan. Bodoh.' Batin Kakashi

"Baiklah-baiklah, kalian benar-benar berkuasa rupanya. Padahal ini tempatku, tapi yah.. mafia sekelas kalian memang tidak bisa diremehkan." Kabuto tersenyum masam."Orochimaru-sama ada dibalik pintu itu." Kabuto menunjuk sebuah pintu tak jauh dari mereka.

Kakashi dan Yamato saling berpandangan. Kemudian Kakashi bangkit, sementara Yamato tetap ditempatnya.

"Maaf tuan, saya harus memberi tahu—" Kabuto hendak berdiri, namun tangan Yamato mencegahnya.

"Tak perlu repot-repot. Saya akan langsung pergi kalau dia menolakku." Kata Kakashi dengan senyum licik dan aura gelap disekitarnya khas mafia kelas tinggi.

Kabuto hanya menengguk ludah tak berani membantah. Dan Kakashi kembali melangkah menuju pintu itu. Dia membukanya perlahan dan sebuah ruangan yang tak kalah nyaman dari ruang sebelumnya. Salah satu dinding didepannya terbuat dari kaca seluruhnya, menampilkan pemandangan jalanan dibawahnya dengan gedung lain yang lebih tinggi, dan seseorang yang telah duduk dikursi bersandaran tinggi itu langsung menatapnya terkejut.

"WOW.. WOW.. WOW.. Aku tak menyangka hari ini akan bertemu denganmu KAKASHI HATAKE." Katanya saat pintu baru saja tertutup, membuat Kakashi langsung terkejut penyamarannya yang sempurna langsung diketahui dalam sekejap mata.

Keduanya sama-sama tersenyum. Senyum licik dan senyum penuh kebencian.

"Aku tak menyangka kau akan langsung mengenaliku." Kakashi melepas wig rambut coklat yang menjadi identitas palsunya.

"Hahaha…" pria didepan Kakashi tertawa tanpa kegembiraan. "Aku merasa terhormat bahwa kau telah bersusah payah memakai wig bodoh dan kontak lens, bahkan sampai repot-repot menutup bekas lukamu Kakashi. Aku terlalu mengenalmu, Kau pasti tahu bahwa aku harus lihai terhadap Anbu-Anbu sepertimu."

"Cih. Itu sama sekali tidak akan menolongmu sekarang." Geram Kakashi, memandang waspada pada sosok didepannya, dia tidak bergerak dari tempatnya sedikitpun.

"Kau yakin? Karna aku pikir kau tidak serius untuk menangkapku. Bahkan setelah aku membunuh wanita itu baru kali ini kau datang lagi padaku." Katanya melipat tangan didadanya dengan nyaman.

Dan kemudian suara letusan tembakan, debam dan ledakan diluar tempatnya berada memberi tahunya bahwa Yamato dan semua anak buahnya telah bergerak.

"Kau tahu…" Suara dingin itu membuatnya kembali terfokus pada sosok didepannya. "Aku merasa sangat beruntung waktu itu. Meskipun ternyata aku salah menculik, tapi aku tidak salah membunuh." Kakashi mengepalkan tangannya erat-erat menahan emosi yang hampir meledak. "Gadis Pink Itu… hidupmu pasti menjadi seperti dineraka kan Kakashi?" Wajah ular itu memberikan senyum terliciknya.

"Diam Kau.." Kakashi mencabut revolvernya.

'Dorr…'

Sebuah peluru ditembakkan bahkan sebelum Kakashi sempat mengacungkan senjatanya. Dia melompat menghindar..

'Pyarr…'

Suara kaca pecah. Orochimaru telah kabur dengan menjejakkan kakinya kemeja dan membuatnya terdorong mundur dalam kursinya, terjun kebawah.

Kakashi bangkit dengan cepat dan melompat kelangsung dari lantai dua kelantai satu. Tapi detik berikutnya dia merasa bodoh karna ternyata Orochimaru bukan jatuh kebawah namun menembakkan tali berpengait dan naik keatas.

"SHIT!" Dia mengumpat keras. Menendang kursi yang sebelumnya duduki pria ular itu.

'DORR… SYUUUUT… JLEB… KREK'

Terdengar tembakan tepat disamping Kakashi.

"Hay, kau butuh bantuan?" kata seorang gadis bercepol dua. Dia telah menembakkan sebuah tali berpengait keatas. Dan mengulurkan pistol pegangannya pada Kakashi.

"Hah. Kalian lagi." Kakashi mendengus kesal, namun dia segera mengambil pistol dari pegangan gadis itu, menarik pelatuknya dan naik dengan cepat keatas. Dia melompat mendarat diatap bagunan itu begitu sampai diujung tali. Dan sebuah suara baling-baling helli copter membawa pandangannya pada benda itu.

"Cih. Bagaimana mereka bisa melewatkan keberadan helli itu?" Kakashi mengumpat pada anak buahnya mesti tidak ada satupun dari mereka yang bisa mendengarnya.

'Dorr.'

Kakashi menembakkan pelurunya tepat kebagian mesih utamanya. Membuat mesin helli yang telah sedikit meninggalkan tanah itu mati, dan kembali turun, baling-balingnya melambat. Sebagai ketua divisi pertahanan Anbu Kakashi adalah penembak terbaik, penerbang terbaik, penguasaan terhadap mesin terbaik dan beberapa predikat terbaik lainnya.

'Dorr..dor..dor..dor..dor..'

Rentetan tembakkan diarahkan padanya dari sosok didalam helli itu. Kakashi hanya mampu menghindar, terus bergerak untuk menghindarinya dan sesekali dia menembak kearah tangki bahan bakar helli itu. Seolah tahu apa yang ditembaki Kakashi sosok pria berambut hitam panjang itu turun mlompat dari tempatnya duduk, dan berlari menjauh.

'DUUARRR!'

Helli itu meledak. Menerbangkan serpihan bahan-bahan penyusunnya keudara bersama api merah dan asap hitam pekat.

'Dorr..dor..dor..dor..dor..dor..dor..'

Rentetan tembakan kembali diarahkan padanya. Kakashi kembali melompat cepat guna menghindari peluru yang bergerak melampaui kecepatan angin.

'Dor.'

Dia juga menembakkan pelurunya. Namun sayang peluru itu hanya mengenai tembok dibalakang pria berwajah ular itu. Suara tembakan keduanya saling beradu, menemani suara-suara pertempuran lain dibawah mereka.

'Srashh…'

Sebuah peluru mengenai lengan kirinya, dan rasa perih serta hangat darah langsung menyergap kulitnya. Namun seolah tidak terjadi apa-apa pada lengan kirinya dia terus beradu tembak dengan sosok yang paling dibencinya seumur hidup itu. Kebencian yang melampaui batas wajar.

'Craksh..'

Darah segar muncrat dari betis pria bermata ular itu. Membuatnya jatuh berlutut dan..

"Prak.. Prak.. Prak.." Kakashi menembak pistol dari tangan pucat itu, hingga benda itu terbang dan terlempar jatuh dari atap tempat mereka berada.

"Skak matt" Ucap Kakashi penuh kemenangan, revolvelnya telah menempel di kening ular itu.

"Jangan terlalu ya—"

"Prak…" Kakashi menendang sebuah pistol lain yang baru saja akan dikeluarkan Orochimaru dari saku belakangnya. Keduanya terdiam sekian lama.

'Sakura aku mendapatkannya.' Batin Kakashi.

"HAHAHA…" Pria itu tertawa mengarikan. "Kenapa kau belum juga membunuhku Kakashi? Bukankah kau ingin sekali membunuhku?"

Kakashi memandang pria itu benci, dan mendengus meremehkan. "Aku tahu kau pintar Iblis. Aku tahu kau telah mengetahui bahwa aku sama sekali tidak berniat membunuhmu. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya hidup seperti mati." Ujar Kakashi, tak kalah dingin dengan pria didepannya.

—Lhyn Hatake—

Sakura menutup telinganya memblokir suara-suara letusan dan ledakan ketelinganya. Namun itu tak berpengaruh banyak. Dia memang merasa takut, bukan takut terhadap suara-suara itu, namun takut bila membayangkan apa yang terjadi pada mereka yang berada didalam pertempuran itu. Tapi rasa takutnya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa bencinya pada tiga orang yang meninggalkannya di mobil itu.

Dia benci tidak diizinkan membantu dalam pertempuran itu, padahal dia telah berulangkali mengatakan bahwa dia telah mendapatkan sabuk hitam sejak di junior high school. Tapi dengan mudah Ino berkata bahwa sabuk hitam saja tidak cukup.

Dan sekarang didepan mobilnya telah terparkir puluhan mobil Anbu Konoha dan Anbu Ame, membuatnya semakin ingin memecahkan kaca mobil yang mengurungnya dari keadaan diluar.

"Tenang saja Sakura, mobil ini dibuat dengan bahan anti misil. Kau aman didalamnya." Sakura mengingat jengkel perkataan Tenten itu. Dirinya aman sementara orang-orang yang disayanginya tidak aman sama sekali tidak akan membuatnya tenang.

"Nii-chan… Ino… Tenten… Shino…" Sakura menyebutkan nama mereka satu per satu, dan sebuah nama yang sosoknya baru dia lihat saat pertempuran telah dimulai. Sosok berambut ayam yang tengah beradu tembak dengan orang berambut hijau lemon berbadan besar. "Sasuke… apa kalian baik-baik saja?" Sakura bergumam khawatir.

Dia memandang gedung yang kini telah berasap di berbagai bagian. Juga puluhan Anbu yang berjaga dibalik pintu mobil yang mereka gunakan sebagai tameng. Dan beberapa detik kemudian dia menyadari suara tembakan telah mereda.

"Apakah sudah selesai? Apakah Orochimaru tertangkap? Siapa yang berhasil menangkapnya?" dia berbicara pada diri sendiri. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. "Apakah kalian semua selamat?"

Sakura memandang penuh harap kearah gedung itu. Sekarang hiruk-pikuk telah terjadi, tampak beberapa orang merangkul teman mereka yang terluka dan membawanya kemobil pengobatan. Saling merangkul, saling menguatkan. Air mata Sakura menetes melihat pemandangan itu. Betapa mereka semua telah berjuang bersama-sama menembus maut.

"TENTEN?" pekiknya saat melihat gadis bercepol dua itu tengah berjalan kearah mobil tempatnya disekap, gadis itu tampak berantakan. Cepolnya tidak serapi sebelumnya, bahkan satu cepol telah hampir terbuka, melepaskan rambut coklat ikal yang menggantung hingga pundak. Pipinya sedikit tergores dan darah mengalir pelan dari sana.

'Clek'

Pintu mobil terbuka, Sakura segera keluar dan memeluk gadis itu dengan tubuh gemetar.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. "Bagaimana yang lain?"

"Mereka baik-baik saja. Kau bisa menemui mereka sekarang. Ino dan Shino ada Ambulance yang itu." Tenten menunjuk sebuah mobil yang tak jauh dari mereka. Dan dari sana seorang gadis melambai dengan tangan kirinya. Sakura segera berlari kearah gadis itu.

"Ino!" teriaknya dan langsung memeluk gadis itu, membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan Sakura segera melepaskannya."Kau kenapa?" tanyanya khawatir melihat tangan kanan Ino yang terbalu perban.

"Tidak apa-apa jidat, apa kau menangis karna mencemaskanku Jidat?" Ino menepuk jidatnya.

Sakura baru menyadari air matanya belum berhenti sejak dia mulai menangis. "Tentu saja Pig. Pig, apa kau juga melihat Nii-chanku atau Sasuke?" Suara Sakura masih menyiratkan kecemasan. Ino hanya menggeleng.

"Mereka akan baik-baik saja Jidat. Ini bukan perang. Ini hanya hal kecil bagi mereka."

"Hal kecil? Tembakan dan ledakan dan segala macamnya kau bilang—"

"Mereka sudah biasa menghadapi ini. Inilah yang ku maksud sabuk hitam saja tidak cukup. Selain kuat fisik kau juga harus kuat mental dan tentu saja strategi." Kata Ino menyentil jidat Sakura diakhir kalimatnya. Sakura hanya mengangguk mengerti. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa tugas seorang Anbu begitu berat. Dan mungkin saja setiap Hari Nii-channya dan seluruh teman-temannya menghadapi bahaya seperti ini bahkan yang lebih bersar lagi. "Itu dia Nii-chanmu." Ino menunjuk seorang lelaki berambut merah yang tengah berjalan membawa sebuah kotak yang tampak seperti kotak obat. "Tunggu." Ino mencegah Sakura berlari kearah Nii-channya dengan menggenggam pergelangan tangannya kuat."Dia kelihatan baik-baik saja, kalau kau kesana sekarang itu bisa membuatmu tidak diijinkan lagi berteman dengan kami."Ino memandang tajam mata Sakura."Kau bisa menyambutnya dengan hangat saat dirumah." Senyum Ino menenagkan.

Sakura terdiam. Ino benar, kalau Nii-channya tahu dia ada disini bisa-bisa dia memutuskan segala hal yang bisa membuat Sakura berhubungan dengan Taka no Konoha lagi. Tangan Sakura merileks dan Ino melepaskan tangannya.

"Kau harus bersembunyi sebanyak mungkin orang selama disini Sakura, dan aku akan menunjukkan seorang lagi bila kau berjanji akan menemuinya diam-diam untuk saat ini." Kata Ino dengan seringgai licik.

"Apa maksudmu Pig?"

"Berjanji saja." Seringgai itu makin lebar.

"Iyah-iyah aku berjanji." Sakura berjanji dengan sebal.

"Itu, Sasuke…" Ino menunjuk sebuah arah. Dan disana tampak seorang pria berambut ayam yang tengah terpincang. "Sepertinya dia—" Ino tak sempat melanjutkan kata-katanya karna Sakura telah berlari menemui pria itu.

Sakura berlari memutari bagian belakang mobil-mobil yang berjejer menuju tempat yang dituju oleh Sasuke yang berjalan dengan terpincang. Begitu jarak pria itu cukup dalam jangkauan tangannya Sakura menarik lengan pria itu mengajaknya kearah sisi bagian belakang mobil dan langsung memeluknya.

"Sasuke, Kakimu kenapa?" Sakura terisak dalam pelukkan pria itu.

Sasuke yang sebelumnya mengaduh dan hampir berteriak marah karna telah menariknya sembarangan langsung terdiam mendapati gadis berambut pink itu dalam pelukannya.

"Kenapa kau ada disini Sakura?" Sasuke membelai rambut pink itu lembut.

"Aku bersama Ino." Sakura mendongak memandang mata onxy itu. "Kakimu kenapa?"

"Aku tidak apa-apa.. tak perlu khawatir. Ini tidak akan membuatku cacat seumur hidup." Katanya dingin. Sakura hanya mendengus mendengarnya. "Lain kali Ino harus meminta izinku sebelum membawamu kedalam operasinya lagi." Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Kenapa begitu?" Sakura memprotes. Bagaimana tidak? Sepertinya akan ada satu orang lagi yang akan membuatnya menjadi seperti porselen yang mudah sekali pecah hanya dengan sedikit benturan saja.

"Karna aku kekasihmu." Sasuke berbisik ditelinga Sakura, membuat Sakura merasakan panas disekitar pipinya dan detik berikutnya dia merasakan sentuhan lembut dibibirnya.

—Lhyn Hatake—

Selesai.

Satu-satunya tujuan hidup Kakashi telah dia selesaikan. Orochimaru telah tertangkap. Tapi dia tidak tahu harus merasa apa… bahagiakah karna apa yang menjadi tujuannya telah tercapai atau bersedihkah karna kini tidak ada lagi tujuannya untuk hidup?

Pada kenyataannya terapai atau tidak tercapai tujuannya dia tetap tidak merasa apapun. Kosong. Hampa. Sedikit kebahagiaan yang tadi sempat menggoda hatinya kini telah lenyap. Seperti setetes air yang dijatuhkan diatas wajah panas. Langsung menguap lenyap begitu saja.

Kakashi langsung masuk kekamar kerjanya begitu dia tiba dirumah. Disitulah dia menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah, duduk diantara meja dan kursi, dikelilingi rak-rak buku yang menjulang tinggi, memandang laptop yang tergeletak manis disana, terkadang dia tiduran dilantai sambil membaca sesuatu, atau duduk didekat jendela dan memikirkan sesuatu… sesuatu atau seseorang? Sepertinya seseorang lebih tepat.

Kakashi duduk dikursinya, lalu bersandar dengan nyaman disana. Matanya yang kosong memandang jauh, memandang sebuah sosok yang tak terlihat mata orang lain, sosok berambut pink yang tersenyum manis, bibir tipis yang mengumamkan namanya dengan begitu lembut, berdesir halus dihatinya.

"Kakashi…" Suara lembut memanggilnya pelan. Kakashi mengalihkan pandangannya dari gadis pink dalam imajinasinya pada sseorang wanita yang tengah berjalah kearahnya. Wanita itu memakai gaun tidur merah yang sangat kontras sekali dengan warna rambut dan matanya, meski begitu tetap saja gaun itu terlihat cantik ditubuh indahnya.

"Hinata.. kau belum tidur?" Kakshi memandang jam tangannya yang menunjukkan pukul satu malam lebih.

"Aku menunggumu." Kata Hinata lirih. Kakashi hanya mengangguk kecil. Dia memandang prihatin pada tubuh kecil didepannya.

Wanita yang telah menaruh harapan yang begitu besar padanya, dan meskipun telah berulang kali Kakashi hanya memberinya kekosongan, wanita itu tak pernah berhenti mengharapnya. tapi berapa kali pun dia mencoba, berapa kali pun dia berusaha hatinya sama sekali tak mau berpaling. Dia mencoba untuk mencintai Hinata. Bagaimanapun Hinata berhak bahagia. Berhak mendapatkan cintanya. Tapi tak pernah bisa. Hingga yang bisa diberikannya hanya kekosongan.

Kakashi bangkit, meraih tubuh itu dalam pelukannya, mengecup bibir lembut yang balas mengecupnya. "Kita kekamar." Bisik Kakashi pada istrinya, yang kemudian menyambutnya dengan senyum kecil dan mengangguk pelan.

—Lhyn Hatake—

Musim ujian telah selesai. Hari-hari ini adalah hari-hari terakhir sebelum liburan panjang musim panas. Tidak ada pelajaran, tidak ada kegiatan sekolah apapun. Yang ada hanya keributan siswa-siswi disetiap kelas, di sepanjang lorong, di koridor-korodor, di tangga-tangga, bergosip tentang berita hangat, membicarakan gadis-gadis dikalangan cowok dan cowok-cowok dikalangan gadis, membicarakan rencana liburan mereka, atau hanya tertidur seperti Sakura.

"Sakura… Sakura… kamu kok tidur sih? Jadi dari tadi kamu tidak mendengarkanku bicara ya?" Hanabi mengoyang-goyang bahu Sakura.

"Hem.. iyah.. aku mendengarkan kok, kamu bilang kalau liburan nanti akan ke Pantuko *Pantai Utara Konoha* kan?" Sakura menjawab malas sambil tetap menyembunyikan wajahnya diatara kedua tangannya yang terlipat diatas meja.

"Iyah, tapi takut nggak jadi juga, habis Neji-nii sibuk sih." Kata Hanabi lagi. "Sakura, kamu kenapa sih? Semalam tidur jam berapa sih? Tumben-tumbenan ngantuk di kelas?"

"Jam duaaAAAAmmm.." Kata Sakura berlanjut menguap lebar.

"Hah? Ngapain tidur jam segitu?" Hanabi tampak penasaran.

"Baca fanfic, bagus deh.. ada yang berjudul 2nd Sakura, ceritanya mirip kisah hidupku." *Lho?*

Ralat… Ralat…

Sakura hanya terdiam. Dia belum mendapatkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu, dan tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tidak tidur karna memikirkan pertemuannya dengan Kakashi dan Hinata di rumah sakit kemarin. Saat itu dia dan Sasuke tengah mengantar Mikoto baa-san memerikasakan kesehatannya yang menurun, dan mereka bertemu secara tidak sengaja disana.

Satu hal yang terus terngiang difikiran Sakura. Kakashi dan Hinata baru saja keluar dari sebuah ruang praktek dokter kandungan. Apakah Hinata hamil? Tidak. Hinata tidak hamil, mereka kedokter kandungan untuk mengikuti program kehamilan, jadi bisa kapan saja Hinata hamil sekarang.

Tapi apa peduli Sakura? Apa urusannya dalam rumah tangga mereka. Dia hanya orang luar. Tapi.. meskipun begitu, wanita mana yang tidak sakit hati melihat orang yang dicintainya melakukan program kehamilan dengan wanita lain?

"Sakura.. hah, kau tidur lagi?"

"Eh.. tidak Hanabi.. tapi aku memang ngantuk sekali." Sakura mengeliat sambil menguap lebar.

"Ngomong-ngomong Sakura, liburan kau mau kemana?" Tanya Hanabi yang duduk dikursi didepannya. Kursi itu dia balikkan menjadi menghadap ke Sakura.

"Aku tidak tahu, kalau keSuna.. rasanya itu bukan liburan tapi pulang. Sepertinya aku akan di Konoha saja."Jawab Sakura tidak fokus. Fikirannya melayang ketempat lain.

"Hey, kalau kau Matsuri?" Hanabi menarik paksa sebuah buku yang tengah dibaca gadis manis disamping Sakura.

"Aku akan ke Suna, ingin melihat-lihat Universitas disana." Jawab gadis itu mengambil kembali bukunya dari Hanabi.

"Ya ampun Matsuri… kita masih kelas sebelas, lagi pula apa kau tidak tertarik untuk melanjutkan ke Universitas konoha? Kau pasti bisa diterima tanpa Tes. Kau dan Sakura, kalian kan pintar. Malang sekali nasib ku yang harus menempuh tes mengerikan itu sendirian." Kata Hanabi merengut.

"Kau bicara apa Hanabi?" Matsuri memandang Hanabi lembut. "Kau cukup pintar, aku yakin kau bisa melanjutkan ke Universitas Konoha, kau ini murid Konoha's School."

"Benar juga sih." Hanabi mengangguk-angguk paham."Lalu kenapa kau mau pindah keSuna?"

"Aku ingin mendalami tentang pertanian, sedangkan pertanian di konoha sudah subur, pasti tidak menantang. Berbeda dengan suna yang berpasir, pasti sangat menantang kalau bisa bertani ditanah pasir." Jawab gadis itu penuh semangat.

"Hoammm…" Sakura menguap lagi. "Di suna banyak dibangun rumah kaca, itu rumah kaca dalam arti sesungguhnya. Pertanian di sana dilakukan didalamnya." Kata Sakura malas.

"Oh Kami-sama… bagaimana aku bisa lupa punya sahabat yang berasal dari suna?" Pekik Matsuri memandang Sakura seolah dia itu oase di tengah gurun.

"Hoammmmm…" Sakura menguap lebih panjang, matanya benar-benar terasa berat sekarang. "Aku ketoilet dulu, mau cuci muka. Kalau masih ngantuk juga aku akan tidur di UKS." Kata Sakura bangkit dari kursinya.

"Sakura aku ikut, aku ingin bertanya banyak padamu tentang Suna." Matsuri ikut bangkit dari kursinya dengan mata berbinar-binar. Sementara hanabi hanya memandang heran kekedua sahabatnya itu dan beralih ke segerombolah murid putrid yang tampaknya sedang membicarakan Sasuke.

—Lhyn Hatake—

Kakashi tak tahu kegilaan apa yang tengah mengendalikan fikirannya. Tapi apa yang dirasakannya benar-benar telah membuncah, hingga otaknya tak dapat ia kendalikan lagi. Siapapun pasti akan terkejut kalau mengetahui salah satu ketua divisi Anbu nekat pergi kesekolah hanya untuk menemui seorang gadis.

Yah.

Itulah yang dilakukannya. Kakashi menarik nafas dalam-dalam dan menekan angka enam. Sakura adalah murid Senior, dan seingatnya kelas-kelas murid senior ada dilantai enam sampai sepuluh, jadi dia tak mau repot-repot mencari gadis itu dilantai yang berisi murid-murid Elementrary atau Junior.

Lift bergerak naik keatas perlahan, berhenti di beberapa lantai memasukkan atau mengeluarkan siswa-siswi Konoha's School.

'Ting'

Bunyi bel didengar Kakashi untuk ke enam kalinya intu lift terbuka perlahan, dan koridor dipenuhi anak-anak berseragam Senior High School tertampang jelas didepannya. Dia berjalan santai, tak mau dicurigai sebagai orang aneh atau apapun yang mencurigakan yang membuatnya akan kesulitan menemui gadis itu, meskipun sepertinya kehadirannya tetap saja menjadi suatu pusat perhatian, apalagi bagi para gadis yang menatapnya dengan pandangan kagum.

Dia mengamati setiap kelas, kemampuannya sebagai ketua Anbu tak perlu diragukan dalam hal pengamatan. Kakashi memutari setiap koridor dengan perasaan berdebar. Jantungnya seolah tak sabar menantikan kecepatan yang akan di laluinya saat mata itu menangkap sosok berambut Pink. Tapi lima belas menit Kakashi mengitari lantai itu dia tak menemukan sosok itu. Sakura pastilah bukan sosok yang sulit dicari mengingat tak banyak gadis berambut pink seperti Sakura. Tak banyak atau bahkan tak ada.

Kakashi hendak kembali ke lift, tapi matanya menangkap tertarik pada segerombolan remaja yang tengah bercanda dan tertawa seru. Dia menepuk bahu salah satu dari mereka dan bertanya.

"Apa kau mengenal Sakura? Gadis berambut Pink pindahan dari Suna?"

Dia tampak berfikir "Iyah aku menganalnya, kenapa?" Tanya remaja cowok itu.

"Aku ingin tahu dimana kelasnya?" Jawab Kakashi, sekali lagi dia tak ingin terlalu menarik perhatian.

"Oh, dia anak kelas sebelas.. aku tidak tahu sebelas apa, kau cari saja disana." Katanya.

"Baiklah. Arigatou." Kata Kakashi dan bergegas masuk lift yang saat itu kebetulan tengah terbuka.

Kelas sebelas ada dilantai tujuh dan sebagian besar dilantai delapan, tapi dia tak mau buru-buru langsung kelantai delapan, dia tak mau teledor lagi, bagaimana mungkin dia melupakan bahwa Sakura kelas sebelas. Dan sekarang dia mengingat bahwa Sakura adalah gadis yang cukup berprestasi dan biasanya murid-murid berprestasi akan di masukkan kedalam kelas A atau B. dan kelas sebelas A dan B ada di lantai tujuh.

Lantai itu adalah lantai yang sangat dikenal Kakashi, dulu dia adalah penghuni kelas A dan dia hapal betul dimana-mana letak kelas A mulai dari elementary, junior hingga senior, dia masih sangat hapal dimana letak-letaknya.

Pintu lift terbuka dan keramaian yang sama seperti dikoridor sebelumnya kembali tertangkap indra Kakashi. Dia melangkah keluar dan, entah apa yang menggerakkannya tangannya meraih bahu seorang gadis seumuran Sakura. Mata onyx langsung memandang Kakashi.

"Maaf, apa kau mengenal Sakura?" Tanya Kakashi.

Gadis itu memiringkan wajahnya sedikit. Dan matanya tampak sedikit membalalak, menunjukkan ekspresi kagum. "Yah.. maaf?" Gadis itu bertanya pelan tampak belum bisa menangkap pertanyaan Kakashi.

"Apa kau mengenal Sakura Akasuna?"

"Oh, Sakura. Yah aku mengenalnya, dia satu kelas denganku, siapa anda dan kenapa mencarinya?" gadis itu bertanya seolah menunjukan ekspresi protektif pada Sakura.

Kakashi tersenyum sedikit, dan senyum itu membuat si gadis merona. "Aku Kakashi Hatake." Kakashi membungkuk sedikit. "Aku ada perlu dengannya, bisa kau tunjukkan dimana dia?" dia meminta halus.

"Kakashi Hatake? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" Gadis itu tampak mengingat-ingat. "Bu.. bukan-kah anda yang berhasil menangkap Orochimaru? Beritanya ditayangkan dimana-mana.. anda hebat seka— Maaf" Gadis itu buru-buru membungkuk, wajahnya telah sangat merah. "Dia ada di UKS, aku baru saja dari sanabersama dengannya."

"Di UKS? Dia sakit?" Nada Kakashi terlampau cemas, dan itu membuat sigadis mengernyit.

"Tidak, dia hanya mengantuk, sepertinya kurang tidur." Jawab gadis itu tampak masih malu.

"Baiklah, Arigaotu… siapa namamu?" Kakashi jadi merasa bodoh tidak menanyakan nama gadis itu sejak awal.

"Matsuri." Jawabnya singkat.

"Baiklah Matsuri, Arigatou." Dengan sedikit senyum Kakashi kembali melangkah menuju ujung koridor utara. Tempat dimana UKS lantai itu berada.

Kakashi membuka sebuah pintu bercat putih dengan lambang PMK *palang merah konoha* di pintunya dan memasuki sebuah ruangan bernuansa putih. Ada tiga tempat tidur yang disekat dengan tirai putih yang mengantung rendah serta sebuah meja dan kursi dan lemari, dan setumpuk kursi plastik berwarna merah. Ditempat tidur paling timur sebuah kaki tertutup selimut memberi tahu Kakashi bahwa disitulah satu-satunya manusia selain dia berada, tak ada siapapun lagi diruangan itu. Kakashi melangkah pelan, pandangannya terpaku pada setiap inchi tubuh yang semakin terlihat dibalik selimut itu.

Tubuh itu tertutup selimut hingga ke pinggang, satu tangannya berada di perut dan satunya terkulai lemas disamping. Wajah tampak tenang dan damai. Manis, sangat manis. Rambut pinknya terurai di atas bantal. Matanya terpejam. Dia berdiri disamping tempat tidur Sakura. Kakashi memandang sosok itu lekat-lekat. Dadanya bergemuruh.

Perasaan rindunya meluap tak terkendali. Kakashi membungkuk rendah. Mengecup kening Sakura yang poninya tersingkap kesamping. "Aku merindukanm Sakura." Bisiknya pelan.

—Lhyn Hatake—

Chaps terpendek saiya… Gomen.. gomen…

Plis Rifyu… tapi sebelumnya boleh gag saiya Tanya….

1. kenapa fic dengan rated M –yang bikin mrinding– disebut Lemon?

2. Fujoshi itu apa sih? Kalo yaoi itu saiya tahu.. apa fujoshi itu sbutan untuk penggemar aliran *^_^* itu?

Hehehe… saiya emang belum terlalu paham ama beberapa istilah2 seperti itu… kalo tidak keberatan tolong kasih tau saiya istilah yang sering muncul yang mungkin saiya gag tau maksudnya tapi saiya lupa jadi gag Tanya…

Gomen Ngerepotin…

Rifyu PLISSSS…