A CHANBAEK'S FANFICTION

PRESENT BY TINKERBAEKK

MAIN CAST : CHANYEOL BAEKHYUN SEHUN LUHAN KAI KYUNGSOO

Warning : Contain mature content, harsh words, violence, boyxboy

DILARANG KERAS MENGUPLOAD CERITA INI DALAM BENTUK APAPUN DAN DI MEDIA MANAPUN KARENA SETIAP CERITA MEMILIKI HAK CIPTA DAN COPYRIHGT

Selamat Membaca

Dan usahakan apresiasi dengan review :)

xxx

Chanyeol memarkirkan motornya di halaman rumah orang tuanya yang sudah ramai. Setelah turun dari motor, Chanyeol sedikit membenarkan posisi jasnya.

Tanpa berlama-lama, Chanyeol melenggang masuk ke dalam rumah. Kakinya menyusuri lantai yang mengarah ke ruangan berhias calon mempelai wanita.

Di depan pintu ruangan itu, dijaga oleh dua bodyguard berbadan besar kerahan ayahnya. Dua orang itu membungkukkan badan lalu menyingkir ke samping dan membiarkan Chanyeol masuk ke ruangan itu.

Nampaklah sosok calom mempelai wanita yang tengah didandani agar secantik dewi. Juga ada Hyejung disana yang menatap kosong ke arah jendela.

Chanyeol berdeham dan menyita perhatian orang yang ada disana.

"Pergilah! Aku ingin bicara berdua saja dengan sang pengantin," perintah Chanyeol. Semua perias pun hanya patuh dan meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara, termasuk Hyejung.

Haejin, si calon mempelai wanita itu menatap bayangan Chanyeol dari cermin besar di depannya. Wanita itu tersenyum miring sambil membenarkan letak anting-antingnya.

"Anyeong Chanyeol-ah. Ku pikir kau tidak akan datang," sindirnya.

Chanyeol hanya diam dengan tatapan mautnya kepada wanita itu. Haejin bangkit dan berbalik untuk menatap wajah Chanyeol. Batin wanita itu senang melihat wajah Chanyeol yang diliputi amarah.

"Apa kau tidak ingin memberi pelukan sambutan untuk ibu keduamu, Chanyeol-ah?"

Persetan.

Chanyeol mendekati ke arah wanita itu sambil tersenyum miring. Semakin dekat langkah yang Chanyeol buat, semakin besar pula amarahnya.

Begitu ia sampai tepat di depan Haejin, Chanyeol langsung memenjarakan tubuh wanita itu di meja rias.

Tangan kanannya mengambil jepit tusuk rambut dan mengarahkannya ke leher wanita itu. Bahkan runcingnya sudah menempel pada permukaan kulit wanita itu. Jika Haejin membuat sedikit pergerakan, bisa jadi ujung runcing jepit itu dapat menembus kulitnya.

"Kau pikir aku akan diam saja huh?" gertak Chanyeol.

"Well, ku pikir aku jadi kasihan melihatmu. Jadi ku beri opsi. Biarkan aku menikahi ayah tua bangkamu atau kau menikah dengan putriku, hm?" tawar Haejin tanpa ada sedikitpun raut takut di wajahnya. Chanyeol semakin mengeraskan rahangnya.

"Ku beritahu sesuatu Chanyeol-ah. Aku tak sepenuhnya menginginkan si tua bangka itu. Aku hanya butuh menempatkan posisi sebagai seorang ratu penguasa disini dan menguasai semua harta. Hmm apa kau terkejut dengan rencanaku hmm?" Haejin tersenyum miring ketika ia melihat Chanyeol menggertakkan giginya.

"Sayangnya aku sudah tahu bahwa kau hanyalah jalang kecil yang mudah kusingkirkan dari awal aku melihatmu di bar malam itu," gertak Chanyeol. Haejin hanya terkekeh remeh.

"Hmm aku tak yakin kau bisa menyingkirkanku, anak manis."

"Jalang sialan!" bentak Chanyeol.

Brak.

"Lepaskan dia!" bentak Park Changhyuk di ambang pintu.

Chanyeol hanya melirik sekilas ke arah ayahnya. Sementara wanita yang ia pojokkan itu mulai memasang muka cadangannya. Mengubah rautnya menjadi ketakutan.

"Ku bilang lepaskan dia Park Chanyeol!" bentak sang ayah lagi.

"To-tolong ak-aku yeobo," lirih Haejin namun masih dapat didengar jelas oleh Changhyuk.

"Ku peringatkan sekali lagi atau Yoobin akan dalam masalah saat ini juga!"

Chanyeol bagai tersadar dari kerasukan. Ia menjatuhkan jepit tusuk itu ke lantai dengan reflek setelah ayahnya menyebut nama sang ibu.

Dan kesempatan itu Haejin gunakan untuk menendang lutut Chanyeol hingga laki-laki tinggi itu jatuh tersungkur sambil meringis kesakitan. Haejin lalu berlari menghampiri Changhyuk dengan air mata palsunya yang becucuran.

"Bawa anak itu ke gudang!" perintah Changhyuk pada beberapa bodyguardnya.

Orang-orang berbadan besar itu memapah Chanyeol ke luar dari ruangan tersebut dan menyeretnya hingga ke sebuah gudang luas berdebu yang gelap.

Pintunya dikunci dari luar. Chanyeol duduk bersandar di tembok sambil termenung.

"Maafkan aku ibu. Aku tidak bisa menyelamatkan keluarga kita," lirihnya sambil tersenyum.

Sementara itu Chanyeol terus meringkuk hingga hari berubah menjadi malam. Sebelum resepsi pernikahan, Changhyuk menyempatkan diri untuk mengunjungi Chanyeol.

Ceklek.

Suara pintu berderit yang didorong masuk membuat Chanyeol mengangkat wajahnya untuk melihat gerangan siapa yang mendatanginya.

Changhyuk kembali menutup pintunya dan menyalakan lampu. Ia menatap wajah lesu anaknya itu dengan tatapan datar.

"Malam ini kau akan mengetahui rahasia terbesar kami anakku. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat bersama Yoobin." Changhyuk buka suara namun Chanyeol hanya menganggapnya sebagai desau angin.

"Sejujurnya aku tak pernah mencintai ibumu."

Chanyeol mendengus remeh sambil tersenyum miring.

"Kau, ada di luar hubungan yang sah."

Chanyeol memelototkan mata bulatnya. Hatinya benar-benar sesak seolah oksigen cadangannya menguap keluar.

"Bersyukurlah karena ibuku sangat menyukai Yoobin-ah. Yoobin-ah adalah orang yang baik dan lembut. Cantik dan juga penyayang. Siapapun akan menyukainya. Termasuk diriku. Dan orang selembut Yoobin tak pantas untuk bersama diriku yang kau anggap bajingan ini."

Chanyeol masih bergeming. Dan setetes air mata menuruni pipi tirusnya.

"Dan kurasa, seorang bajingan sepertiku akan lebih cocok bersama seorang jalang seperti Haejin. Bukan bersama bidadari seperti Yoobin. Pernikahan kami karena cinta satu pihak, Chanyeol. Dari dulu, sulit rasanya bagiku untuk membuka hati untuk Yoobin. Hatiku terlalu keras dan aku benar-benar menyesal telah membuatmu ada di antara kami."

Chanhyuk menarik napas panjang dan berjongkok mendekati Chanyeol.

"Aku menyesal telah merusak orang selembut ibumu. Sungguh rasanya aku ingin membalasnya dengan rasa cinta tapi ku pikir itu tak mampu menghapus rasa bersalahku. Ibumu sangat mencintaiku sebelum kita mengenal satu sama lain. Lalu aku memanfaatkan rasa cintanya demi tubuh berharganya."

Chanyeol mengepalkan tangnnya. Bersiap untuk menghantam. Akan tetapi, dirinya lemah. Dirinya benar-benar dalam titik terlemah dimana ia hanya ingin menangis keras-keras.

"Lalu aku adalah sebuah penyesalan? Bagus. Aku benci dirimu dan juga diriku sendiri. Aku membenci hasil penyesalanmu dan juga orang yang membuat penyesalan ini," lirih Chanyeol.

"Chanyeol, untuk terakhir kalinya. Aku masih menganggapku anakmu. Jadi, aku ingin kau membujuk Yoobin untuk melepaskanku. Dan mencari penggantiku dengan seseorang yang selembut dirinya."

Chanyeol mengeraskan rahangnya. Air matanya terus mengucur tanpa ia usap.

Changhyuk mengernyit ketika Chanyeol melepas kasar jas hitamnya. Menyisakan kemeja dalaman putih.

"Cambuk aku dengan sabukmu seperti yang kau biasa lakukan. Atau aku akan keluar mengacau pernikahanmu seperti gorila gila," pinta Chanyeol dengan suara beratnya yang begitu tegas.

"Ti-tidak. Aku menyesal telah sering menyiksamu Chanyeol. Maafkan ayah. Ayah tidak bisa melakukan itu lagi. Tangan ayah begitu hina dan tak pantas menyentuhmu."

"Cepat lakukan atau aku akan benar-benar mengacau!" bentak Chanyeol.

Changhyuk menghela napas panjang. Ini yang terakhir, pikirnya. Daripada ia melihat Haejin menangis kecewa karena resepsi pernikahan mereka rusak gara-gara Chanyeol yang mengamuk seperti gorila gila.

Changhyuk perlahan membuka ikat pinggangnya. Tangannya sedikit bergetar. Begitu berbeda saat ia biasa mencambuk Chanyeol dengan begitu ganas.

Chanyeol sudah memposisikan duduknya. Bersimpuh membelakangi Changhyuk.

Ctak.

Cambukan pertama yang keras berhasil membuat bekas cambukan itu memerah.

Ctak.

Cambukan kedua di tempat yang sama membuat cairan merah kental merembes ke kemeja Chanyeol.

Lalu disusul cambukan yang lain hingga Chanyeol terkapar di lantai.

Changhyuk mengusap kasar air matanya dan menggumam kata maaf saat melihat kondisi Chanyeol yang mengenaskan.

Anaknya terkapar tengkurap sambil terisak dan isakan dengan suara berat itu cukup membuat hati Changhyuk teriris. Bayangan akan Chanyeol kecil yang menangis karena meminta mainan mobil-mobilan baru pun terlintas di kepalanya.

Karena acara resepsi akan dimulai, Changhyuk memanggil beberapa bodyguardnya untuk membawa pulang Chanyeol ke mansion anak itu.

xxx

Jam menunjukkan pukul tujuh. Baekhyun sudah sibuk di dapur mansion Chanyeol dengan apronnya.

Tadi ia sempat berpapasan dengan Yoobin saat Baekhyun dan Luhan baru saja datang. Sedangkan Yoobin hendak pergi ke panti asuhan Hyejung. Untuk menghibur diri sekaligus mengambil alih kondisi karena Hyejung sedang menghadiri pernikahan Changhyuk.

Baekhyun sedang mengaduk-aduk kimchi yang masih di atas kompor menyala. Dan Luhan datang membawa sekeranjang apel.

"Biar aku yang mengaduknya, Baekkie. Tolong kupaskan apelnya," ujar Luhan sambil menunjuk apel-apel yang tergeletak di meja makan dengan dagunya. Baekhyun mengangguk paham.

Luhan dan Baekhyun sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sekaligus ditemani suara-suara merdu Luhan yang menyanyikan lagu China, membuat Baekhyun betah.

"Baekkie, kimchinya sudah matang. Tolong kau angkat, aku akan menutup pintu di halaman belakang supaya angin malam tidak masuk."

"Ne."

Baekhyun meletakkan pisaunya di atas meja dan bangkit untuk melakukan tugas yang Luhan suruh. Luhan lalu beranjak menuju ke halaman belakang meninggalkan Baekhyun sendirian di dapur.

Sebelum diangkat, Baekhyun mencicipinya terlebih dahulu. Setelah dirasa pas, baru ia menyajikannya di meja makan.

Sementara itu, sebuah mobil berhenti di halaman mansion. Chanyeol ada di dalamnya beserta para bodyguard Changhyuk.

Awalnya para bodyguard hendak memapah tubuh Chanyeol. Namun Chanyeol menolak. Dan berakhir ia masuk ke mansion sendiri dengan langkah sempoyongan. Mobil itu segera pergi.

Chanyeol memasuki mansionnya dengan raut marah yang luar biasa. Bahkan rasa perih luka-lukanya kalah dengan rasa perih dihatinya mengingat sebuah rahasia bahwa ia lahir dari hasil pemerkosaan.

Chanyeol tertawa miris mengingat perkataan ayahnya. Hidupnya ternyata benar-benar menyedihkan.

Chanyeol berhenti di ambang pintu dapur. Matanya menatap tajam sosok yang tengah membelakanginya dengan apron cokelat. Lalu matanya bergulir ke pisau yang ada di atas meja.

Chanyeol tersenyum miring. Sekelebat bayangan Changhyuk dengan senyuman setannya melintas dipikiran Chanyeol.

"Changhyuk bajingan! Kau seharusnya mati sekarang juga di tanganku!" desis Chanyeol tanpa di dengar oleh Baekhyun yang masih asik memasak.

Chanyeol lalu mengambil pisau itu dan mendekati Baekhyun secara perlahan. Dimatanya, semua orang itu adalah Changhyuk, dan mereka harus mati di tangannya saat ini juga.

Baekhyun berbalik hendak mengambil sesuatu dari kulkas. Namun ia diam membeku dan matanya melotot tajam ketika Chanyeol mendekatinya dengan tatapan membunuh. Tanpa ia tahu ada pisau tajam terselip di tangan Chanyeol.

"Cha-Chanyeol?" panggil Baekhyun.

Chanyeol segera mendorong tubuh Baekhyun hingga punggungnya menabrak tembok. Napas Chanyeol memburu.

"Kau harus mati bajingan!" bentak Chanyeol membuat Baekhyun tersentak dan meloloskan setetes air matanya.

Chanyeol mengarahkan pisau yang ia pegang ke leher Baekhyun. Ujungnya menempel dengan permukaan kulit Baekhyun. Baekhyun hanya bisa menahan napas dan keringat mulai bercucuran bersamaan dengan air matanya.

"Kau harus mati sekarang juga di tanganku, Park sialan Changhyuk!" geram Chanyeol.

Baekhyun hanya bisa menutup matanya dan pasrah. Membiarkan air matanya keluar deras tanpa isakan.

Hingga tiba-tiba Luhan datang dari arah belakang. Memukul tengkuk Chanyeol dengan tongkat baseball.

Chanyeol melepaskan pisaunya dan terjatuh di lantai. Tubuhnya mulai limbung saat merasakan pening yang luar biasa akibat pukulan Luhan. Dan tubuhnya pun jatuh terkapar.

"Hiks Luhan hyung hiks," isak Baekhyun masih dengan posisi semula.

Luhan segera menarik tubuh Baekhyun dan merengkuhnya dengan raut yang luar biasa khawatir.

"Aku hiks aku akan mati di tangannya hiks. Ada apa hiks dengannya hyung?" tanya Baekhyun.

"Hey tenanglah. Ini bukan Chanyeol yang biasa kau kenal. Tenang Baekhyun-ah sekarang kau aman bersamaku," lirih Luhan sambil mengelus lembut rambut Baekhyun.

Luhan memanggil para bodyguard Chanyeol untuk membawa Chanyeol ke kamarnya.

Sementara itu ia masih mempertahankan posisi untuk menenangkan Baekhyun yang begitu shock mendapat serangan tiba-tiba.

Setelah cukup tenang, Baekhyun melepas pelukannya dan mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Luhan sedikit membawa dagu Baekhyun ke atas dan kedua mata rusanya menangkap sedikit goresan di leher Baekhyun. Tidak salah lagi, pisau itu menggores sedikit permukaan leher Baekhyun hingga berdarah.

"Aigoo Baekhyun-ah. Ayo kita obati dulu luka di lehermu."

Luhan menarik tangan Baekhyun untuk duduk di sofa ruang tengah. Mengobati luka Baekhyun dengan telaten tanpa menutupnya dengan plester. Supaya cepat kering.

"Kau bisa tunggu disini. Aku akan mengurus si pingsan Chanyeol. Aku merasa bersalah terlalu keras memukulnya, Aku hanya terlalu takut melihatmu ketakutan, Baek," ujar Luhan.

"Terima kasih banyak hyung kau datang tepat waktu. Umm boleh aku ikut?" tanya Baekhyun malu-malu.

"Hmm kajja."

xxx

Luhan meringis melihat keadaan Chanyeol yang ditidurkan tengkurap diatas kasur.

Pasti ia habis dicambuki oleh Paman Changhyuk. Ya Tuhan Chanyeol kenapa kau selalu membiarkan dirimu disiksa seperti ini.

Baekhyun melotot melihat kemeja putih yang dikenakan Chanyeol kini bagian belakangnya berwarna merah pekat.

"Tolong lepaskan bajunya, Baekhyun-ah. Aku akan mengambil air hangat dan lap serta kotak obat."

Baekhyun mengangguk kecil. Ia mendekati Chanyeol takut. Ia duduk bersimpuh di dekat ranjang. Bingung bagaimana melepasnya. Chanyeol dalam keadaan telentang. Tidak mungkin ia harus menggulingkan tubuh besar Chanyeol demi membuka kancing-kancingnya.

Baekhyun langsung mendapat ide cemerlang. Ia mecari gunting di laci Chanyeol dan mendesah lega ketika ia dengan cepat menemukannya.

Ia langsung menggunting kemeja Chanyeol dan terpampanglah punggung lebar Chanyeol yang dipenuhi goresan luka berdarah yang masih segar. Baekhyun menutup mulutnya shock.

Ia menyentuh salah satu lukanya dengan gemetar dan menangis pilu.

"Sebenarnya kau kenapa Chanyeol-ah? Waktu pertama kali aku kemari kau juga seperti ini," lirih Baekhyun.

Baekhyun segera menarik tangannya ketika Luhan menutup pintu kamar Chanyeo. Ia membantu Luhan membawa baskom berisi air hangat.

"Ya Tuhan aku rasa aku memukulnya terlalu keras hingga tengkuknya memerah seperti ini. Maafkan aku Chanyeol-ah," lirih Luhan dengan air mata yang berlinang.

"Ayo cepat kita bereskan ini sebelum dia bangun. Chanyeol akan merasa sangat kesakitan kalau kita mengobatinya dalam kondisi sadar," ungkap Luhan. Baekhyun mengangguk paham.

Luhan mengoleskan minyak ke tengkuk Chanyeol yang memerah. Sementara Baekhyun melap luka-luka di punggung Chanyeol dengan air hangat. Hingga air dalam baskomnya berwarna merah.

"Ke-kenapa Chanyeol-ah seperti ini? Dulu saat aku melayaninya untuk yang pertama kali, tubuhnya juga penuh luka seperti ini," tanya Baekhhyun.

"Kapan-kapan akan aku jelaskan."

Baekhyun mengangguk lalu ia bangkit dan membiarkan laki-laki itu membubuhi obat merah ke punggung Chanyeol.

Setelah dirasa beres, Luhan membereskan kotak obat.

"Kau akan pulang atau menginap?" tanya Luhan kepada Baekhyun yang berdiri di dekat nakas dengan diam.

"Ak-aku umm aku, bolehkah aku tidur disini? Maksudku, aku akan menjaga Chanyeol-ah," lirih Baekhyun malu-malu. Sementara itu Luhan tersenyum tipis.

"Dengan senang hati aku membiarkanmu menjaganya. Baiklah aku sangat mengantuk. Selamat malam, Baekkie," ujar Luhan sambil menutup mulutnya saat ia menguap.

"Selamat malam juga Luhan hyung," balas Baekhyun.

Saat Luhan sudah meninggalkannya, Baekhyun beranjak menuju ke sofa di dalam kamar Chanyeol.

Ia menyandarkan diri di sana. Baekhyun cukup mengantuk namun ia tetap bersikeras untuk membuka mata tahu-tahu kalau Chanyeol bangun dan butuh sesuatu.

"Haishh mataku kenapa susah dibuka sih. Sepertinya aku harus membuat kopi," geram Baekhyun. Dan ia pun beranjak untuk membuat kopi agar membuatnya terjaga.

xxx

to be continued...

Sidenotes :

Anyeong~

Jadi aku pengen tahu sejauh ini bagaimana kalian menikmati CREEP karyaku?

Jadi tolong jawab dengan review ne supaya aku lebih semangat update cepet dan supaya aku nggak sering kena writer block hehe.

Jadi disini aku mau bilang, kepada para pembaca kalian bisa panggil aku grey.

Jangan panggil kak hehe berasa tua*padahal iya.-.

Jangan panggil thor juga hehe aku takut dibunuh sama Loki hehe.

Dan bagi kalian yang ingin menambahku sebagai teman seperfangirlingan CB hehe bisa dm aja ke ig @chanbaekdesu karena sebenernya aku ga punya temen CBHS yg aktif ㅠㅠ jadi kuy kita bisa ngobrol seputar ortu kita dan bocah2 exo yang lain :)

oke udah segitu aja dan sekiyan~