Seongwoo membatalkan niatnya untuk berangkat ke kampus pagi itu, entah kenapa hatinya seperti terbakar cemburu ketika ia melihat Daniel dan Jihoon bersama di halte, terlebih saat tatapan misterius Jihoon ketika menatap Daniel.

Hati Seongwoo sakit, ia berjalan perlahan meninggalkan halte, memegang payung agar gerimis yang semakin deras tidak membasahinya. Kepalanya tertunduk, entah kemana pikirannya saat ini. Seongwoo mendengar suara bus yang mulai berjalan, bercampur dengan suara hujan yang turun semakin deras.

Ia tau sikapnya terlalu berlebihan, Seongwoo mencoba menghilangkan rasa cemburunya. Sulit.

Kepalanya mendongak, melihat bus yang semakin jauh, kabur oleh biasan air hujan yang menutupi bus. Seongwoo terdiam, melihat sampai bus itu benar-benar tidak nampak oleh matanya lagi. 'Hati-hati di jalan, Kang Daniel'

-0-

Woojin kaget melihat Seongwoo sang kakak pulang.

"Loh, katanya ada laporan yang harus hyung kerjakan di kampus? kenapa malah pulang?" Tanya Woojin heran.

"Aku kerjakan di rumah saja" jawab Seongwoo.

Woojin memperhatikan sang kakak, 'aneh, tadi sebelum ia berangkat ia sepertinya dalam kondisi yang baik. Tapi sekarang kenapa seperti orang sakit ya'

"Apa hyung tidak enak badan ?" Tanya Seongwoo kemudian.

"Tidak Woojin, aku baik-baik saja. Hanya sepertinya aku ke kampus sesuai jadwal kelasku saja. Jika kepagian tidak baik juga. nanti aku mengantuk di kelas." Jawab Seongwoo, Seongwoo menaruh tasnya di sofa dekat Woojin duduk, kemudian Seongwoo berjalan menuju dapur.

"kau mau aku buatkan makanan?" Tanya Seongwoo dari arah dapur.

"ah.. buatkan aku pancake hyung." Jawab Woojin semangat.

"oke, tunggu sebentar." Seongwoo mulai sibuk menyiapkan perlengkapan memasaknya. Ia mencoba menyibukkan diri, melupakan hal yang tadi ia lihat di halte.

Tak lama kemudian, pancake dengan buat strowberi dan madu sudah siap disajikan, tak lupa Seongwoo menyeduh teh untuk menghilangkan dingin. Woojin tampak bersemangat, ia dengan cepat mengambil piring pancake nya.

"makan pelan-pelan, kau sudah besar." Goda Seongwoo melihat Woojin yang bersemangat memakan pancake.

"hahaha, kan kau tau hyung.. pancake adalah kesukaanku, apalagi buatanmu.." Woojin mengacungkan jempolnya.

Seongwoo tertawa, kemudian mengusap kepala adik kesayangannya itu.

Mereka menghabiskan pancake masing-masing, Woojin berinisiatif membereskan sisa makan mereka. Seongwoo pergi menuju kamarnya. Berencana berangkat ke kampus saat jam pelajaran pertama usai sekitar pukul 9.

-0-

Daniel melihat hujan yang semakin mengaburkan pandangannya dari dalam bus, pikirannya masih tertuju ke sosok yang ia yakini adalah Seongwoo tadi. 'AKu yakin dia benar-benar Seongwoo, tapi kenapa aku rasa suasana hatinya sedang tidak baik ya'

Daniel penasaran, sangat penasaran.

"Daniel, kau kenapa ? Tidak enak badan?" Tangan Jihoon memegang pundak Daniel.

Daniel menoleh kearah Jihoon, tersenyum.

"Eh, tidak-tidak, aku tidak apa-apa kok"

"hmm.. aku tidak yakin, apa kau belum sarapan?" Tanya Jihoon masih belum yakin dengan jawaban Daniel.

"Sudah kok Jihoon, tenang saja." Jawab Daniel kemudian.

"Uhh, tenang saja apanya. aku khawatir melihatmu tiba-tiba jadi sering melamun." Jihoon mendorong badan Daniel.

Daniel hanya tertawa, kemudian berbalik mendorong Jihoon.

-0-

Bus akhirnya sampai di halte depan kampus. Daniel, Jihoon dan beberapa orang turun di halte ini. Untungnya Daniel membawa payung jadi ia tidak khawatir lagi untuk menerobos hujan.

"Syukurlah kau bawa payung. aku lupa membawanya.. hahaha" Jihoon tampak senang.

"Hahaha, ayo.." Ajak Daniel kemudian.

Daniel dan Jihoon berjalan beriringan menuju lobi kampus, Jihoon mencoba berdekatan dengan Daniel, ia mencoba memegang tangan kiri Daniel yang bebas. Namun hanya bersentuhan sedikit, tangan kiri Daniel buru-buru menggantikan tangan kanan memegang payung. Jihoon sedikit kecewa saat itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesampainya di lobi mereka harus berpisah, Jihoon langsung menuju keatas, karena kelasnya berada di gedung utama, sementara Daniel harus melewati lorong menuju gedung 2. Daniel menitipkan payungnya di petugas yang ada di lobi.

"Sampai ketemu lagi ya Daniel.." Kata Jihoon.

Daniel hanya tersenyum, mengacungkan jempolnya. Lalu berlalu meninggalkan Jihoon.

-0-

Daniel bertemu dengan Hyeongseop yang sudah ada di kelas.

"Kenapa lagi nih, masih pagi.. tapi wajahmu bagai langit yang mendung, tidak cerah sama sekali.." ejek Hyeongseop melihat Daniel.

"Diam, bangunkan aku jika ada dosen" Balas Daniel singkat, ia kemudian mengambil earphone nya, menyambungkannya ke hp. Daniel menidurkan kepalanya di atas tangan, di meja tempatnya duduk.

Hyeongseop yang melihat itu hanya bengong. 'Apa yang salah dengan anak ini? tidak seperti biasanya' Ia heran, kemudian menggelengkan kepalanya.

Kelas pagi itu terasa sangat lama dan membosankan bagi Daniel, terlebih saat pikirannya tidak fokus memperhatikan dosen yang sedang menerangkan pelajarannya. Pikiran Daniel tidak kosong, ia memikirkan pria yang ia yakini Seongwoo yang berjalan murung pagi tadi. Ia menghawatirkan kondisi Seongwoo.

Pelajaran pertama akhirnya selesai pukul 9 pagi, Hyeongseop menguap kemudian memandang Daniel yang bersiap-siap ingin pergi.

"Daniel, kau mau kemana? Sarapan dulu yuk." Ajak Hyeongseop.

'kau sendiri saja, aku ada urusan." Balas Daniel sambil merapikan buku-bukunya.

"Aku temani ya. urusan dimana?" Tanya Hyeongseop lagi.

"Tidak apa-apa, kau ke kantin saja. Aku hanya ingin pergi ke perpustakaan sebentar." Jelas Daniel.

"Argh, aku ikut. titik. kau tau beberapa hari ini aku sendiri terus. Aku pokoknya ikut kau ke perpustakaan." Jelas Hyeongseop.

Daniel memandang Hyeongseop, Daniel tau jika Hyeongseop memiliki kemauan yang keras jadi ia merasa percuma menolak perkataan Hyeongseop. Daniel tersenyum kecut, kemudian mengangguk.

Hyeongseop tersenyum, menyilangkan lengannya di bahu Daniel. "Gitu dong.."

-0-

Sesampainya mereka di perpustakaan, Daniel dan Hyeongseop langsung menuju rak buku fotografi, mengambil beberapa buku untuk di baca. Sebenarnya alasan Daniel datang ke perpustakaan adalah untuk mencari Seongwoo. Ada hal yang ingin ditanyakan ke Seongwoo.

Namun karena Hyeongseop memaksa ikut, Daniel tidak berani terang-terangan mencari Seongwoo di perpustakaan itu.

"Ayo duduk." Ajak Hyeongseop.

"Iya.." kepala Daniel menoleh ke kiri dan kanan, tidak ada sosok Seongwoo di perpustakaan.

'Apa dia tidak ada di kampus juga ya?' batin Daniel.

Daniel dan Hyeongseop akhirnya duduk di tempat yang agak sepi. Daniel dan Hyeongseop membaca buku masing-masing. Sesekali mata Daniel mencoba mencari sosok Seongwoo, Tetap tidak ada. Hingga akhirnya ia menyerah, mengambil earphonenya, larut dalam alunan musik dari hp nya.

Sekitar 30 menit berlalu, Daniel sudah membaca setengah halaman dari buku yang di ambilnya, ia melihat ke arah Hyeongseop. Daniel tidak dapat menyembunyikan tawanya melihat ternyata Hyeongseop malah tertidur. Mulut Hyeongseop sedikit menganga, terdengar deru nafas yang berat mulut Hyeongseop.

Daniel tidak tega membangunkan Hyeongseop yang nampaknya sangat lelah dalam tidurnya, Daniel melihat jam masih cukup lama hingga kelas selanjutnya dimulai. Daniel bangkit dari duduknya berencana untuk mencari buku lain.

Daniel berjalan menuju ke rak novel, dekat jendela besar yang mengarah ke koridor lantai 1 serta taman yang ada di samping koridor. Daniel melihat lihat judul novel yang ada disana, kemudian memilih satu novel yang cukup menarik perhatiannya. Saat ingin kembali ke meja tempatnya membaca tadi, mata Daniel sekilas melihat ke arah luar kaca jendela, disana.. berjalan pelan di koridor, mengenakan jaket hitam serta tas selempang hitam, sosok Ong Seongwoo yang dicari Daniel terlihat.

Daniel menghentikan langkahnya, kemudian ia mendekati jendela, melihat pergerakan Seongwoo yang sepertinya sedang berhenti memeriksa sesuatu di tasnya. Daniel tersenyum berharap Seongwoo melihatnya.

-0-

Seongwoo berjalan menuju gedung fakultasnya, ia menyapa beberapa orang yang ia kenal dengan ramah. Tiba-tiba Seongwoo terdiam.

Seongwoo memeriksa tasnya, memastikan laporan yang dikumpulkan hari ini ada di dalam tasnya. Setelah memastikan laporan itu ada, ia menutup tasnya, bernafas lega. Kemudian ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mengendurkan otot lehernya yang kaku, saat itu lah ujung matanya menangkap sosok berambut pink sedang berdiri di dalam perpustakaan.

'Kang Daniel?' ujar Seongwoo dalam hatinya.

Ia menyipitkan matanya memandang perpustakaan yang berada sedikit tinggi dari koridor tempat Seongwoo sekarang, Ia melihat ternyata sosok itu benar adalah Daniel, Seongwoo tersenyum kemudian melambai ke arah Daniel. Ia melihat Daniel tersenyum.

Namun, senyuman yang menghiasi bibir Seongwoo hanya sesaat, Seongwoo melihat ada seseorang yang mendekat ke arah Daniel, seseorang yang tadi pagi membuatnya cemburu. Jihoon.

Jihoon nampaknya tidak melihat Seongwoo, berjalan ke arah Daniel. Sebelum Jihoon sadar bahwa Daniel melihatnya, Seongwoo dengan cepat berbalik berjalan dan melangkah menuju taman.

-0-

Daniel tersenyum menatap Seongwoo yang melambaikan tangannya pada Daniel, Daniel sedikit lega melihat senyum Seongwoo, 'sepertinya ia baik-baik saja..' ujar Daniel.

Belum sempat Daniel membalas lambaian tangan Seongwoo, ia melihat Seongwoo tiba-tiba berbalik arah, pergi menuju taman yang ada di dekat koridor itu. Daniel heran dan kaget melihat Seongwoo pergi, ia melihat Seongwoo berjalan lumayan cepat ke arah taman, Daniel ingin menemui Seongwoo.

Ia melangkah menuju pintu keluar perpustakaan, namun terhenti saat ia merasa tangannya ada yang memegang. Daniel menoleh, sosok Jihoon lah yang memegang tangannya.

"Kau mau kemana Kang Daniel? baru saja aku melihatmu" Kata Jihoon kemudian melepas tangannya.

"oh, eh.. tidak, tidak kemana-mana kok." Daniel gugup.

"Tadi aku memanggilmu, tapi sepertinya kau melihat sesuatu ya.." Jihoon mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mencari sesuatu yang dilihat oleh Daniel.

Daniel ikut melihat kembali kearah jendela, ia masih bisa melihat sosok Seongwoo yang semakin jauh pergi menuju koridor lain di seberang taman.

'argh, aku ingin berbicara dengannya..' sesal Daniel.

-0-

Suasana hati Seongwoo kembali berubah, melihat Daniel yang ternyata bersama Jihoon di perpustakaan cukup membuat dirinya kehilangan semangat. Ada rasa bersalah saat dirinya tiba-tiba pergi saat Daniel ingin melambaikan tangannya.

Berjalan menyusuri taman kampus, Seongwoo sekuat tenaga untuk tidak menoleh melihat sosok Daniel yang ada di dalam perpustakaan. Seongwoo berjalan, menuju koridor di seberang, menuju gedung fakultasnya.

'Cukup Seongwoo, cukup.. jangan buat hatimu seperti ini, ingat tujuan awalmu..' batin Seongwoo.

Seongwoo menghentikan langkahnya, "Meyerah saja ?"

- to be continued