Title:「Love in Camera」

Author: Ricky Senpai

Genre: action, crime, romance, drama

Rating: M

Length: Chapter

NO silent reader and Plagiarist please. DO NOT take ideas/plagiarize, dialogues and others from my story. Comments are very welcome~~

Indonesia,2015.

DON'T Copy this story, because this story after take a copyright by Indonesia,2015.

~rickysenpai

©This fanfict is a story that have inspirations

from manga yaoi japan (sensor because the manga is very someting)

but this fanfict still have the deferen part

and fure from my brain to be a good better .

And i hope your respect my story.

NO FLAME,

NO BASH CHARA,

NO PLAGIAT,

NO SILENT READERS.

Warning:

BL (Boys Love), More Typo(S)

I Told You Before, If You Hate YAOI or IF You HATE Me,

Better If You Don't Read My Fanfiction, Okay?

IT'S YAOI! KAILU KRISHAN EXO x LUHAN COUPLE !

DON'T LIKE, DON'T READ, DON'T BASH

Disclaimer:

Character of this fanfict is themselve, them family and god,

Plot, strory, and etc is fure in my brain don't be plagiat

Summaryy:

Luhan tadinya hanya bercita-cita menjadi photographer handal seperti ayahnya

Namun, sepertinya takdir berkata lain.

luhan terjebak dalam situasi yang membahayakan dirinya sendiri,

sehingga dia harus melewati hari harinya dengan penuh kejutan.

HUNKAI, KRISHAN, LUHAN X EXO Here ! Repe scene Here ! NC+21 Here ! Hardcore(BDSM hard)

「Love in Camera」 © DEATHLY HOLLOW 2015

Tidak ada yang lebih bahagia di dunia ini ketika kau akhirnya menemukan seseorang yang dapat mengisi hari harimu dengan kecerian dan kebahagiaan sehingga membuat hari mu penuh warna, tetapi terkadang sesuatu yang kita rencanakan ada kalanya tidak sesuai dengan kehendak kita.

Mungkin itulah yang di rasakan oleh seorang pria berpostur tubuh 181cm ini yang sedang mengendarai mobil ferarinya, beberapa menit yang lalu dia baru saja di kejutkan dengan perkataan seseorang yang sedang berada di jok belakang mobilnya itu. Ya itu mungkin cukup membuatnya syok sesaat , sungguh di luar dugaannya dia akan mendengar kenyataan semacam itu langsung dari bibir manis pemuda di belakangnya.

Ya walaupun dia sudah meyakinkan dirinya bahwa mungkin itu hanya halusinasinya saja tapi toh perkataannya masih saja terbayang di pikirannya bahkan angin malam kota seoul pun tidak dapat mendinginkan hatinya yang panas terbakar amarah, tapi sekali lagi dia menekankan pada dirinya 'kau bukan lah siapa siapa baginya', jelas itu sangat menyakitkan dan serasa oksigen yang dia hirup ternyata perlahan membunuhnya.

Genggaman dalam kemudinya mulai mengendor dan bahunya mulai terlihat relax sejenak dia berusaha menenangkan kepalanya, beberapa kali dia pun menghembuskan nafasnya hingga akhirnya di persimpangan jalan dia membuat keputusan.

EARL Hotel, yang terletak di pusat kota pun menjadi tujuan akhirnya. Kini dirinya bersama pria manis itu pun berada di sebuah kamar hotel mewah dan luas tanpa sekat dan di luar sana dapat dilihat dengan jelas betapa indahnya malam saat itu.

"ya, hyung aku dan luhan sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah hari ini. Dia ada di rumah ku bersama kai, kau tidak usah khawatir" BIPPPP

Pesan suara itu pun berakhir, entah sejak kapan sehun pria tinggi berparas tampan berambut perak itu kenal dengan kakak luhan pria yang dia bawa kemari. Yah tapi karena hal itu mungkit chanyeol akan sedikit tenang karena adiknya ada bersama orang yang dia kenal.

Sehun memutuskan untuk menyegarkan dirinya karena terlalu lelah hari ini dan membiarkan luhan tertidur pulas di kasur king size itu.

SPLASSS SPLASS

CRASSSS

Deru air mengalir dari shower kamar mandi mewah nan luas itu menggema ke seluruh ruangan di dalam sana, guyuran air itu berebut membasahi tubuh di bawahnya ke setiap bagian tubuhnya. Mata pria itu tertutup merasakan setiap aliran air yang membasahinya, tangannya bergerak mengusapkan cairan berbusa ke seluruh lekuk tubuhnya dan membiarkannya terbilas habis oleh air yang masih senantiasa membasahi tubuhnya.

CKLEK

Pintu kamar mandi itu terbuka menunjukan sesosok pria dengan balutan bathrobe dan rambut peraknya yang basah oleh air membuatnya terkesan sexy. Sehun pria itu pun berjalan menuju single sofa di dekat jendela kamarnya dan membawa secangkir wine dari meja di dekat nya. Dia menikmati malam kota seoul dengan meminum wine di tangannya dan mendudukan tubuhnya di sofa nyaman itu.

Hari ini dia benar benar merasa lelah, sehingga beberapa kali dia memijat pelipisnya dan memejamkan matanya. Setelah beberapa menit beristirahat dia pun bangkit dan berjalan menuju tempat tidurnya, dilihatnya sesosok pria yang membuatnya jatuh hati padanya. Ia pun mendudukan dirinya di pinggir tempat tidurnya dan menaruh wine nya di meja nakas, di pandangnya wajah damai pria manis itu ketika tertidur. Sungguh sehun bersumpah demi dewa dewi di muka bumi, luhan adalah pria paling manis yang pernah dia temuni di dunia ini.

Tanpa dia sadari tangan kekarnya mulai menelusuri lekuk wajah manis luhan,segurat senyum terukir di bibirnya sampai tangannya akhirnya menyentuh benda kenyal berwarna pink itu. Begitu sexy dan memabukan membuat pikirannya lepas kontrol saat memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan. Sekelebat bayangan terlintas di pikirannya dan membuatnya menarik tangannya menjauh, tangannya terkepal keningnya berkerut bibirnya tersungging. Dia mengusap kasar wajahnya, terlintas di benaknya untuk menjadikan luhan miliknya saat ini dan untuk selamanya tapi apakah itu cara yang benar ? apakah ini harus ? apa itu adalah jalan yang terbaik ?

Entah sejak kapan, kini wajah sehun sudah sangat dekat dengan wajah luhan. Hembusan nafas sehun pun mulai membelai permukaan wajah luhan, dan entah setan apa yang merasuki sehun saat ini sehingga dia berani mencium bibir luhan saat ini, walau hanya menempel di awal namun lama kelamaan menjadi lumatan lumatan kecil. Saat ini yang dia harapkan dapat menghabiskan waktu bersama dengan luhan walau hanya malam ini.

BIPPP BIPPP BIPP

Alunan suara alarm ponsel berdering nyaring menggema ke seluruh ruangan, sinar mentari yang mulai meninggi pun masuk kedalam ruangan kamar hotel tersebut. Hari yang indah di seoul pada pagi hari ini.

Namun bagi seseorang yang masih berselimutkan selimut tebal dan hangat itu seperti enggan membuka matanya untuk menyapa pagi hari yang indah itu, tapi suara alarm ponsel di atas nakas itu terus berbunyi selang beberapa menit membuat pria itu mulai terusik dan mencoba menyadarkan dirinya dari tidur nyenyaknya semalam.

Kelopak matanya perlahan terbuka menampilkan sepasang mata indah itu membiasakan nya dengan cahaya yg ada di ruangan itu, perlahan dia pun terbangun dan mengambil ponselnya lalu mematikan alarm nya.

/Yawning/

Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun dirasanya ada sesuatu yang salah di sini, dia tidak mengenali ruangan itu dan jelas dia tidak tertidur di apartemennya melaikan di sebuah kamar hotel. Akhirnya ia pun menemukan secarik kertas di atas meja nakas.

To : Luhan

Aku sudah membayar sewa hotelnya, sebentar lagi sarapan juga akan datang kau tidak perlu khawatir

Aku sudah menghubungi kakak mu agar tidak usah khawatir, aku dapat no nya dari ponsel mu tapi tenang aku tidak mengusik privasinya.

Kemarin kau mabuk dan aku tidak tau rumah mu makanya aku bawa kau ke hotel jadi kau tidak usah memikirkannya lagi aku sudah menulisnya rinci tentang apa yang terjadi.

Jika kau masih merasa pusing lebih tidak usah ke sekolah dulu akan ku urus surat ijin mu.

Tertanda : sehun

"astaga ! jadi semalam ? argghhtttt dasar bodoh kau luhan aw" luhan mengacak rambutnya sendiri namun sepertinya terlalu kuat dan efek alkoholnya masih terasa membuat kepala luhan semakin sakit saja.

"kenapa harus mabuk segala ?" cicitnya meruntuki sikap bodohnya kemarin, tidak lama ponselnya berdiring tanda ada panggilan masuk.

"ahhh sekarang apa lagi ? pasti si tiang mesum itu akan memarahiku habis habisan" ujar luhan pasrah dan menjawab panggilan masuk tersebut.

"ya halo ?"

"kau darimana saja huh ?"

"tenang lah"

"bagaimana aku bisa tenang , semalam kau tidak pulang dan sehun bilang kau ada bersamanya apa itu bisa membuat ku tenang aku telpon kau tidak ada yang menjawab dasar bocah menyusahkan sudah ku bilang jangan keluyuran jangan keluyuran kau mau aku lahap hidup hidup hah ? bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mu ?"

"STOP! Aku tidak apa apa, aku akan pulang sekarang juga bye"

TUTT TUTT

"dasar berisik" luhan pun bergegas untuk mandi dan pulang ke apartemenya sebelum kakaknya benar benar membuat kepalanya pecah.

.

.

.

Sementara di sekolah kai sudah setia menunggu pujaan hatinya, dia bersender di cup mobil sport hitamnya sambil bermain psp, tiba tiba suara kelakson mobil ferrari mengejutkannya dan mobil itu sekarang sudah tepat parkir di sebelah mobil sport milik kai.

"hey kau gila huh ?" ketus kai

Tidak lama sesosok pria tinggi dengan tampang yang rupawan itu pun muncul dari dalam mobil ferrarinya.

"masih menunggu nya ?" sindir sehun yang berdiri tidak jauh dari sana

"bukan urusan mu" kai pun menyibukan kembali dirinya dengan psp di tangannya

"ohh begitu, tapi kurasa ... dia itu tidak akan datang" dan perkataan itu sukses membuat kai melirik tidak suka pada pria itu.

"apa maksudmu ?"

"huh /? Apa maksud ku ? haha asal kau tau kemarin malam itu adalah malam yang paling indah bagi ku dan pujaan mu itu"

"Apa ?"

"aku baru saja tidur dengannya"

DEG

Bagaikan waktu berhenti berputar, perasaan kai saat ini menjadi tidak menentu antara hidup dan mati. Dia hanya bisa terdiam atas perkataan sehun rivalnya itu yang sukses menohok hatinya saat ini.

"itu tidak mungkin" ucapnya pelan

" mungkin saja, karena aku selalu menang dari mu kai. Sudah ku bilang jangan memaksa kan nya karena kau akan mendapat apa yang sebelumnya kau dapatkan yaitu KEGAGALAN. Pergi lah dia sudah tidak butuh kau, yang dia butuhkan hanyalah aku, wu sehun seorang dan mungkin dia sekarang masih tertidur pulas karena service ku semalam padanya. Ingat kai kau tidak ingin sakit hati lebih dalam kan ? maka ..." sehun pun menggantung kata katanya dan berjalan mendekati kai "pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami" bisiknya dan kemudian setelah itu berjalan pergi meninggalkan kai yang tengah menahan amarah dalam benaknya yang terkumpul dan sudah hampir meluap, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.

Beberapa menit kemudian

BRUMM BRUMM

Sebuah mobil sport merah gelap baru saja tiba di lapangan parkir sekolah paling terkenal di seoul itu, mobil kesayangan milik luhan itu pun terparkir di antara deretan mobil mewah lainnya. Luhan bergegas masuk kedalam gedung sekolahnya karena beberapa menit lagi pelajaran akan di mulai tetapi seseorang menghentikan langkahnya dan sontak membuat luhan berhenti.

"luhan, ini gawat"

"gawat apanya ?"

"dua orang dari kelas mu, sehun dan kai sedang berkelahi di lapangan basket outdoor sekolah"

"hah ?"

Setelah mendengar kabar tersebut luhan segera bergegas menuju lapangan basket outdoor yg terletak di sebelah selatan gedung sekolah, butuh waktu lama untuk sampai di sana, karena letaknya terlalu jauh dari tempat luhan tadi. Setibanya di sana, sudah ada banyak kerumunan siswa di sana. Tanpa pikir panjang luhan menerobos kerumunan itu dengan susah payah dan pada akhirnya dia melihat dua pria yg sangat dia kenali sedang saling melukai satu sama lain.

Keadaan mereka sama sama babak belur, bahkan mereka terlihat acak acakan sekali. Bukannya melerai siswa yang berkumpul di sana hanya termenung menonton perkelahian.

"BERHENTI" sesaat sebelum luhan akan memisahkan mereka, beberapa orang yang dia yakini adalah anggota kedisiplinan sekolah berlari ke arah mereka berdua dan segera melerai mereka.

"apa apaan kalian ini ?" ujar seseorang dari anggota kedisiplinan itu.

"dia yang mulai" balas kai yang akan memukul sehun sekali lagi namun di tahan oleh anggota kedisiplinan yang lain.

"cih" sehun hanya berdecih dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah segar

"sudah, kalian berdua ikut denganku ke ruangan kesiswaan. Dan kalian masuk ke kelas masing masing"

Setelah mendengar kata kata itu seluruh murid pun segera masuk ke kelas masing masing kecuali luhan yang mengikuti mereka menuju ruangan kesiswaan.

.

.

Ruang kesiswaan

TOK TOK TOK

"masuk"

Setelah di persilahkan masuk, masuklah sehun dan kai beserta ketua kedisiplinan ke dalam ruangan itu.

"ada masalah apa ?" tanya guru kesiswaan di BWCW school

"mereka berdua baru saja berkelahi di lapangan basket outdoor" papar ketua kedisiplinan

Setelah mendapat isyarat dari Mr Kim, ketua kedisiplinan itu pun meninggalkan mereka bertiga di dalam ruangan.

"duduklah" titah Mr kim "aku tau orang tua kalian adalah donatur terbesar di sekolah ini tetapi aku harap kalian juga harus menjaga sikap kalian" lanjutnya

"Dia yang memulai. Jika tidak, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi"

"huh ? kau menyalahkan ku ? salahkan egomu itu tuan kim jong in"

"damn"

"sudah sudah, berhenti" ujar mr. Kim melerai agar tidak terjadi perkelahian di ruangan nya. Dan mereka berdua pun kembali duduk tenang di kursi mereka masing masing. "huh baiklah, aku sudah mempertimbangkannya. Agar kalaian tidak melakukannya lagi ada tugas yang harus kalian selesaikan sepulang sekolah nanti"

Sementara di depan ruangan Mr. Kim, luhan sudah menunggu mereka bersandar pada dinding di sebrang ruangannya, dan tidak lama pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah dua sosok pria yang baru saja berniat menghabisi diri sendiri itu.

"lu" ujar kai terkejut melihat luhan yang sudah berdiri di depannya, sementara sehun hanya memandang kearah kai dan sesekali ke arah luhan lalu tersenyum simpul.

"apa yang kalian lakukan tadi ? cari mati ?"

"itu semua gara gara dia, kenapa kau tidak bertanya pada nya saja ?" balas kai atas pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut luhan.

"dia yang memulai, dia yang memukulku duluan" timpal sehun skraktis

"apa benar ?"

Kai yang memang memukul sehun terlebih dahulu hanya terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Luhan menjadi sangat pasti bahwa kai yang memulai, selain luhan melihat sendiri tadi waktu kai benar benar seperti ingin menghabisi sehun, gelagat kai yang sekarang semakin memastikannya.

"aku pikir kau tidak akan berbuat hal seperti itu kai, aku kecewa pada mu" ujar luhan, kai pun otomatis memandang kaget ke arah luhan, bagaimana mungkin dia di sudutkan dengan cara seperti ini ? kai semakin memanas dan tangannya terkepal keras saat melihat luhan mengabaikannya dan malah membantu sehun, luhan yang hedak pergi bersama sehun dihentikan oleh kai dan membuat luhan menghentikan langkahnya dan kembali menghadapnya.

"lu kau harus mendengar penjelasan ku, dia itu adalah pria brengsek kau tidak mungkin jatuh begitu saja kedalam perangkapnya lu. Dia tidak baik untuk mu, sebelum terlambat jauhi dia karena dia_"

PLAKK

Tamparan keras mendarat mulus di pipi kai, sebelum kai menyelesaikan perkataannya tanpa di sadari oleh keduanya luhan menampar kai dan membuat kai shock begitu pun sehun yang tidak percaya bahwa hal itu akan terjadi.

Tanpa ingin berbicara panjang lebar lagi luhan pun menjauh dari sana bersama sehun, entah kenapa dia merasa kalau kai salah dan walau pun sehun memang yang memulai harusnya kai bisa mengendalikan emosinya. Luhan hanya tidak ingin ke dua sahabatnya itu terus bersitegang hingga mungkin akan saling membunuh nantinya karena luhan sangat menyayangi mereka berdua, namun kali ini sikap kai sudah pada batasnya.

Sementara kai hanya bisa melampiaskan amarahnya pada tembok di sampingnya, frustasi ? ya dia memang sedang frustasi sekarang ini, perkataan sehun terngiang di telinganya dan perlakuan luhan membuatnya sangat kecewa. Kacau, itulah yang di rasakan kai saat ini.

.

.

UKS

"aw" luhan menempelkan kapas yang sudah diberi anti septik pada luka disekitar rahang sehun akibat pukulan keras yang di lakukan jongin. Dia melakukannya dengan penuh hati-hati karena tidak mau luka sehun semakin parah karenanya.

"kenapa kau berkelahi ?" pertanyaan itu pun terlontar, membuat sehun menatap luhan dan membuat mereka bertemu pandang.

"bagaimana kalau aku jawab karena memperebutkan mu" jawab sehun sedikit menggoda luhan.

"aku bertanya sungguh sungguh" cerca luhan dan kembali menempelkan plester di beberapa luhan di wajah sehun dengan wajah yang aga memerah dan merengut. Sehun yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya, bagaimana mungkin orang yang berada di depannya ini begitu membuatnya tersepona dan jatuh lebih dalam ke dalam sebuah cinta yang rumit.

Merasa di perhatikan luhan memberanikan diri untuk menatap sehun, bagaimana mungkin satu kata itu terlintas di pikirannya saat ini "tampan" walau wajahnya penuh luka tapi masih tetap memiliki karisma yang sangat tinggi membuat luhan segera memalingkan wajahnya sebelum hal aneh menimpanya.

"sudah selesai, jangan bertengkar lagi. Apalagi karena aku, memangnya aku ini barang di perebutkan ?" ujarnya membereskan obat obatan ke dalam kota P3K dan beranjak dari sofa di ruangan itu untuk menyimpannya.

"kembali ke kelas saja lu, aku sudah tidak apa apa. Kau meninggalkan 2 jam pelajaran terpentingmu" ingat sehun

"kau yakin ?"

Sehun pun mengangguk tanda mengiyakan, dan setelah berpikir lagi luhan pun menuruti perkataan sehun, karena di jam berikutnya kelasnya ada tes dan dia tidak mau ketinggalan tes apa lagi 2 jam sebelumnya dia meninggalkan pelajaran terpenting karena besok akan ada tes juga.

Setelah beberapa menit setelah luhan kembali ke kelasnya, seseorang juga masuk ke ruangan uks dimana sehun masih berada di sana.

CKLEK

"ah, kau rupanya. Ku kira petugas Piket tadi" ujar sehun yang melihat siapa yang datang

"ku pikir kau sudah pergi"

"belum, luhan mengobatiku sangat hati hati dan penuh perasaan tadi. Yah, jadi aku punya waktu lama untuk berdua saja dengannya" balas sehun dengan nada tanpa bebannya dan tersenyum licik kepada orang di depannya.

Pria itu hanya mencoba untuk menahan emosinya agar tidak membludak dan menghabisi sehun saat ini juga. Sehun bangkit dan menghampiri orang itu, berdiri tepat di depannya.

"sekarang kau percaya kalau dia sudah menjadi miliku ?" tanyanya datar "ku ingatkan kau ... jangan... pernah... muncul di hadapan kami lagi" sembari membisikannya dengan penuh tekanan dan sebelum meninggalkan pria itu sehun menepuk pundaknya dan menghilang di balik pintu menyisakan pria itu yang merasakan sesak di dadanya, tangannya meremas kuat dadanya. Dia belum siap untuk menerima kenyataan pahit ini.

.

.

Setelah bel sekolah berbunyi menandakan sekolah sudah usai, semua siswa bergegas untuk pulang ke rumah masing masing dan keadaan sekolah mulai terlihat sepi karena hanya beberapa orang yang berada di sekola, mungkin mengikuti club sekolah atau para anggota kedisiplinan yang sedang bertugas. Di sebuah ruangan kelas terlihat masih ada dua orang siswa yang masih asik bercengkrama dan terus saling melempar tawa sambil mengerjakan sesuatu.

"haha akhirnya selesai juga" ujar salah seorang dari mereka dan segera membereskan buku buku di atas mejanya.

"sudah semua ?"

"iya kurasa sudah, aku hanya perlu mengantarnya ke ruangan guru dan kita bisa pulang" ujarnya sambil tersenyum, mereka pun bersiap untuk pulang.

"Lu, trimakasih untuk hari ini" orang yang di maksud itu pun- luhan hanya menatapnya dengan perasaan yang aneh, dia merasa kalau ucapan pria yang bersamanya ini sangat tulus dari hatinya. Bukan apa-apa namun dia merasa bahwa pria ini seperti akan pergi jauh darinya.

"hey, otak mu tidak bergeser ?" ejek luhan

"kenapa kau berkata begitu ?"

"ya, hanya aneh saja kau bisa bilang begitu"

"haha kau ini, ku antar kau pulang"

"aku bawa mobil, langsung pulang saja"

"hmm, ya baiklah"

Di depan kelas luhan melihat pria yang tidak asing baginya, luhan termenung sebentar sebelum akhirnya dia tersadar.

"lu, aku ingin bicara" ucapnya, namun luhan tidak merespon dan malah memberikan isyarat pada sehun bahwa dia pulang duluan.

"LUHAN TUNGGU !"

GREPP

Berniat ingin mengejar luhan, lengannya sudah di tarik oleh sehun dan otomatis pria itu berhadapan dengannya.

"sudah aku bilang pada mu kai, jauhi dia. PARK LUHAN seutuhnya adalah miliku sekarang, dan aku harap kau berhenti untuk mendekatinya. Aku yang menang kai aku yang menang. Menyerahlah sebelum kau semakin terluka"

"sudah selesai ?" potong pria bernama kai itu cepat, kini nada bicaranya sudah kembali dan dia sudah bisa menenangkan jiwanya. "kau mungkin benar, kau yang menang sehun. Tapi ingat satu hal_ aku juga sudah memikirkannya seharian tadi, mungkin aku selalu berada di belakangmu dan kau selalu berada di depan. Kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan, aku tau aku mungkin memiliki satu hal yang tidak kau miliki sehingga seseorang yang aku sayangi selalu pergi dari ku. Tapi aku tidak mau mengulang kembali masalalu buruk ku itu, cukup satu kali aku mengalah tanpa bertarung dengan mu WU SEHUN. Perasaan ku yang sekarang pada LUHAN lebih besar dari yang aku bayangkan, aku tidak akan menyerah" lanjutnya panjang lebar dan membuat sehun sedikit bergeming mendengar perkataan kai yang berbeda kali ini, ya inilah kai yang dia kenal, satu satunya hal yang paling dia suka dari kai adalah sikapnya yang bertanggung jawab dan jujur.

"dengar, walau aku harus menembus 1000 rintangan sekali pun aku tidak akan pernah melepaskan LUHAN begitu saja, aku akan terus berusaha untuk mendapatkannya tanpa paksaan . aku akan membuatnya jatuh hati pada ku dengan sendiri. Tidak peduli apa statusnya sekarang, aku percaya luhan tidak seperti itu. AKU MENCINTAI LUHAN" setelah mengucapkan itu kai segera berlari mengejar luhan dan meninggalkan sehun yang termenung. Syok ? tentu saja, dia tidak menyangka dengan skenario yang dia mainkan hari ini, kai masih mempercayai luhan, seulas senyum sinis terukir di bibirnya. Cinta sejati ? mungkin sehun harus belajar dari kejadian saat ini, "semoga kau bisa menjaga luhan, kai" ujarnya pelan, walau berat tetapi dia sepertinya menemukan orang yang benar benar bisa di andalkan untuk menjaga luhan dari apa pun yang akan mencelakainya, sehun senang bahkan setetes kristal bening begitu saja meluncur dari pelupuk matanya. Sehun akhirnya bahagia.

.

.

.

"LU DENGARKAN AKU DULU LU" kai yang masih mengejarnya terus memanggil luhan namun luhan terus berjalan sampai ke parkiran, dia merogoh kantong celananya mencari kuci mobilnya namun benda itu sepertinya tertinggal di kelas tadi.

"sial" desisnya, karena kai juga semakin dekat dengannya tanpa pikir panjang luhan meninggalkan parkiran menuju halte bus dan memutuskan untuk naik angkutan umum saja.

"LU BERHENTI, LU KUMOHON" di sepanjang perjalanan menuju halte kai terus meminta luhan untuk berhenti namun luhan tetap tidak menghiraukannya membuat kai hampir frustasi.

SPLASS

Rintikan air jatuh dari langit, semakin lama semakin deras membuat kota seoul di guyur hujan deras sore ini. Luhan terus menembus hujan, sementara kai khawatir pada luhan. Di ujung jalan sana luhan harus menyebrang jalan karena halte tepat berada di sebrang sana, dengan terburu buru sebelum tanda menyebrang berubah merah luhan terus berjalan menyebrang tanpa melihat kembali bahwa rambu rambu sudah berubah warna.

Dari arah lain sebuah mobil melaju ke arah luhan namun luhan tidak menyadarinya, kai tiba di sana melihat laju mobil itu dan melihat ke arah luhan. Dengan segera kai berlari ke arah luhan sebelum hal buruk terjadi.

TIDDD TIDD

GREPPP

Kai yang berlari ke sebrang menarik luhan menepi dan mendekapnya erat, sebelum kecelakaan sempat terjadi, MEREKA SELAMAT. Nafas luhan memburu, masih di bawah guyuran air hujan luhan meremas baju seragam kai kuat. Luhan kembali di hadapkan dengan kematian dan lagi lagi dia di selamatkan, kai yang tau luhan begitu syok mendekapnya erat seakan dia tidak mau kehilangan anak itu.

Setelah di rasa luhan sudah tenang kai membawanya ke sebuah cafe milik temannya yang tidak jauh dari sana.

"kau tidak apa apa ?" ujar kai sambil meletakan secangkir kopi mocacino di meja cafe yang mereka tempati, ya mereka sekarang ada di cafe teman kai. Cafe ini di bangun oleh temannya dan bersama kai sebagai ajang coba coba namun akhirnya berbuah hasil yang memuaskan. Teman kai berbaik hati memberikan jaket hangat untuk luhan yang kedinginan dan menutup sementara cafenya.

"aku bersyukur kau selamat lu" ujar kai kembali sambil duduk di depan luhan, tidak ada respon. 'Mungkin dia masih syok' pikir kai

"kai_ trimakasih" setelah keheningan menyelimuti akhirnya luhan membuka suara

"hm tidak masalah" balas kai sambil tersenyum pada luhan

"maaf aku juga sudah menamparmu"

"ah bukan masalah lu"

"tapi kenapa kau menolong ku ?"

"kalau aku berkata karena aku tidak mau kehilangan mu bagaimana ?"

"huh ? kau gila haha kau juga bisa tertabrak nanti kau tidak takut mati ?"

"tidak, aku lebih takut kehilangan mu dari pada kematian di hadapanku. Bahkan aku rela mati demi menyelamatkan mu"

"itu konyol kai, siapa yang mau melakukan hal itu ? mengorbankan nyawanya demi orang lain ? kau harus berpikir ratusan kali"

"tidak masalah, tapi yang aku katakan itu benar"

"kenapa ?"

"karena... aku... aku menyukai mu lu"

"..." luhan terdiam mendengar pengakuan kai barusan.

"mungkin, kau sudah milik sehun sepenuhnya tapi aku akan tetep berusaha"

"apa maksud mu ?"

"bukannya kau dan sehun sudah saling memiliki ?"

"memiliki ?" luhan masih belum mengerti arah pembicaraan kai saat ini

"sehun bilang kalau kemarin dia dan kau tidur bersama" ujar kai hati hati

"ha ? astaga kau gila ?, aku memang bersama dia kemarin tetapi karena aku terlalu banyak minum soju akhirnya aku mabuk, sehun tidak tau rumah ku makanya dia membawa ku ke hotel dan tidur bersama tapi aku dan bocah itu tidak melakukan apa apa" papar luhan panjang lebar

"hah ? jadi..." kai terdiam sejenak lalu tertawa lepas setelah dia menangkap maskud luhan tadi "hahaha sepertinya dia melewatkan yang itu hahaha dasar payah" ujar kai sambil tertawa tidak percaya bahwa apa yang dia dengar dari luhan ternyata tidak sama dengan apa yang di ceritakan sehun. Setidaknya kai sekarang bisa lega karena luhan masih belum milik siapa siapa.

"hentikan senyum bodohmu"

"ahaha baiklah baik"

"tapi, apa yang kau maksud dengan menyukai ku ?"

"ah itu... hm, aku ... aku dari dulu sangat tertarik pada mu lu, entah kenapa setiap berada di dekat mu hatiku berdebar kencang. Aku tidak tau apa maksudnya namun seiring berjalannya waktu ternyata aku mulai sadar bahwa aku mencintaimu lu"

"kau gila ? apa tadi kepalamu terbentur ?"

"tidak lu" tampik kai

"kau tau aku lelaki dan kau juga sama"

"aku tau, dulu aku juga menyukai seseorang seperti mu namun aku kehilangannya bahkan tanpa pengorbanan aku meninggalkannya sampai akhirnya dia benar benar pergi dari hidup ku untuk selama lamanya. Aku tidak mau kehilangan cintaku untuk kedua kalinya, aku akan melakukan apa pun untuk meyakikan mu bahwa aku benar benar tulus mencintai mu"

"kai ? akan ada banyak orang di luar sana yang menentang kita, ini bukan pilihan yang mudah. Lebih baik kau hidup seperti biasa jangan bebani dirimu, perjalanan mu masih sangat panjang kai"

"aku tidak peduli, mau langit dan bumi pun yang menentang aku berhubungan dengan mu aku tidak peduli mau seberat apa pun rintangan yang akan menghadang di luar sana akan ku hadapi. Apa pun yang terjadi bagaimana pun jadinya aku akan berada di sampingmu selamanya"

"kenapa kau bersikeras kai ? masih banyak wanita di luar sana yang lebih pantas dengan mu kenapa aku ?" luhan terus meyakinkan kai, dan mungkin meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di ucapkan kai itu tidak ada unsur kebohongan

"karena kau adalah cinta sejatiku"

DEG

Perasaan terlindungi kembali menyeruak ke dalam hati luhan, baru kali ini dia mendengar hal seperti itu dan bahkan orang yang mengatakannya benar benar tulus. Luhan tidak tau apa yang terjadi, tetapi dia merasa senang karena ada yang mau memperhatikannya sampai seperti itu.

"lu" kai membuyarkan pemikiran luhan, dia memegang kedua tangan luhan menatap luhan dengan penuh cinta kasih "aku tidak akan pernah memaksa mu untuk jatuh cinta pada ku, tetapi aku akan terus berusaha agar kau sendiri yang jatuh cinta padaku. Bukan dengan cara pintas yang kotor aku akan melakukannya dengan cara setulus hati dan aku akan berada di sampingmu dan melindungimu sampai akhir hayatku. Maka dari itu lu, percayalah padaku aku akan menunjukan padamu betapa besar dan tulusnya cintaku padamu." Yakin kai "mau kah kau memberiku kesempatan lu ?" luhan berpikir senjenak denga perkataan kai, dia jelas belum pernah mengalami hal ini sebelumnya dan wajar jika dia bingun menentukan jawaban, tapi luhan yakin bahwa apa yang di ucapkan kai jujur maka luhan pun membalasnya dengan anggukan, senyum lebar pun terpatri jelas di bibir kai dia begitu senang sampai dia tidak harus bagaimana merayakannya. "aku janji lu, aku tidak akan berkhianat pada mu"

"buktikan, jangan hanya di bibirmu" ejek luhan, dia masih tidak mengeri keadaanya tetapi seiring berjalannya waktu mungkin akan terbiasa.

.

.

.

Pagi hari di seoul, luhan seperti biasa menyiapkan tasnya dan sarapan dengan kakaknya. Namun tiba tiba ada yang memencet bel apartemennya.

"biar aku yang buka, lanjutkan sarapan" ujar chanyeol merapihkan koran yang tengah dia baca dan beranjak menuju pintu masuk membukakan pintu.

"ah, selamat pagi hyung. Apa luhan ada di dalam" ujar pria itu ramah

"ah kau rupanya, dia ada masih sarapan, masuklah"

"ada apa kak ?" ujar luhan menghampiri kakaknya " kai ! sedang apa kau disini ?" lanjut luhan dia syok kenapa kai ada di depan pintu apartemennya pagi pagi sekali.

"aku akan mengantarmu kesekolah mulai saat ini" perkataan itu langsung membuat luhan tercengang sebentar "bolehkan hyung" timpa kai menunggu persetujuan kakak luhan.

"ya, aku pikir tidak masalah. Aku mulai sibuk akhir akhir ini jadi aku titip adik kesayanganku ini oke, awas kalau kau melukainya akan ku bunuh kau" ujar chanyeol yang seperti mengeluarkan aura membunuh saat mengatakan kalimat terakhir pada kai.

"siap hyung" kai hanya membalasnya dengan senyuman gajenya

"ya hyung kau juga malah ikut ikutan tidak waras" sementara luhan hanya bisa pasrah saja, toh tidak rugi juga kalau kai mau menjemputnya dia tidak usah repot repot membawa mobilnya.

"sudah berangkat sana, nanti kalian terlambat"

"ya sudah kami berangkat dulu hyung"

Mau tidak mau luhan mengikuti kai setelah berpamitan dengan kakaknya, hari ini luhan ke sekolah besama kai. Semua mata tertuju pada mereka ketika mereka turun dari mobil kesayangan kai, seperti seorang artis baru yang menyita banyak perhatian banyak orang.

"mereka melihat ke arah kita" ucap luhan risih

"tidak masalah, mereka tidak akan mengganggu mu percaya lah"

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka menuju gedung sekolah namun di depan sana ada sehun yang sudah menunggu.

"kalau aku bilang untuk tidak bicara padanya, apa kau akan mengikutinya ?" ujar kai pada luhan dan luhan hanya memalingkan pandangannya pada sehun.

"lu, selamat pagi. tumben kau datang pagi sekali" sapa sehun

"kai menjemputku jadi aku datang lebih awal" ujar luhan

"yah kurasa kau tidak akan menuruti perkataan ku lu" celetuk kai

"bisa kita bicara hanya 15 menit tidak lebih" sehun meminta persetujuan kai, namun kai tidak bergeming akhirnya luhan yang menatap kai dan kali ini kai luluh dia mengijinkan mereka berbicara berdua.

Mereka berdua pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan kai di belakang, dan memulai percakapan percakapan ringan di antara mereka.

"oiya kenapa kau tidak memakai seragammu ? kau tidak takut di hukum ?" luhan melihat penampilan sehun yang stylish saat ini baru luhan sadari terlihat berbeda dari biasanya.

"oh itu aku ada urusan dengan kepala sekola soal you know lah"

"apa ?"

"nanti kau akan tau"

"mau kemana kita ?"

"atap, aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya"

"ha ? kau ini aneh sekali hun, kau berkata seolah olah kau akan pergi jauh"

"hm begitu kah "

"ya begitu menurutku"

"kau tau aku senang akhirnya kau bersama seseorang yang dapat menjagamu dengan baik"

"maksudmu ?"

"aku mencintaimu" jawab sehun to the poit

"ha ?" kaget, ya luhan terkaget untuk kedua kalinya. Secara berturut turut telah dua orang yang menyatakan perasaanya padanya tapi luhan tidak tau kenapa.

"ya aku sangat bahagia karena aku akhirnya kalah dari kai, tapi aku juga lega karena kai yang telah kau pilih. Dia adalah orang yang baik, jujur dan bertanggung jawab. Yah, setidaknya aku tenang karena ada yang akan melindungi mu segenap jiwa dan raganya untuk mu"

"kenapa kau berkata seolah olah kai adalah temanmu tetapi kemarin kalian seperti akan saling membunuh"

"yah kami memang berteman sebelum kejadian yang sama seperti sekarang terjadi, asal kau tau kai, itu adalah idola ku sejak SD. Tapi jangan berpikir kalau aku menyukainya lu, dulu aku sering bertengkar dengan teman sekelasku karena masalah sepele tapi kai membela ku. Kami selalu bersama, makan bersama, tertawa bersama, bahakan suka duka bersama."

"tapi kenapa sekarang berbeda ?"

"itu terjadi setelah kami memutuskan untuk masuk kesatu SMP yang sama, persahabatan kami luntur karena seorang pria yang kai suka. Aku tau, dia suka siapa saja itu boleh. Tapi aku tidak setuju orang sebaik kai dan sejujur dia harus jatuh cinta pada orang yang salah."

"apa maksudmu ?"

"orang yang kai suka ternyata tidak sebaik yang dia pikir, aku sudah melarangnya tapi dia malah tidak percaya. Dengan berbekal persahabatan aku memastikan apa yang jadi peganganku itu benar.. namun.. aku di jebak, dia ternyata seorang pria yang tidak baik. Tapi aku bersyukur dia menunjukannya pada ku buka pada kai. Aku mengikuti skenario dia dan memastikan kai terluka. Setelah itu dia menyerah, pria itu pun pergi dengan uangku dan kekayaan ku yang lain. Tapi tidak semua karena aku tidak sebodoh itu. Tapi sekarang aku percaya kau adalah cinta yang tepat untuk kai"

"maksudmu kau berkorban demi kai ?"

"berkorban demi sahabat bukannya itu hal yang biasa ? aku hanya ingin berterimakasih karena dia sudah menjaga ku"

"maksudku apa kau tidak apa apa ? mementingkan persahabatan di banding dirimu sendiri ?"

"tidak apa ? walau aku juga benar benar jatuh cinta padamu kali ini."

"huh ?" luhan hanya kembali di kejutkan dengan pengakuan sehun.

"untuk pertama kalinya, aku merasa benar benar berperang dengan kai setelah bertemu dengan mu. Tapi toh kai selalu punya apa yang tidak aku punya selama ini. Kau akan bahagia dengan nya aku pastikan itu"

"tapi kenapa kalian tidak berteman lagi ?"

"kai menghilang, dan secara tidak sengaja bertemu lagi disini. Sepertinya dia masih marah padaku dan dengan kejadian ini dia tidak akan pernah memaafkan ku. Jadi lupakan soal pertemanan"

"tapi kau berkorban untuknya"

"itu tidak masalah"

Akhirnya setelah cukup lama berjalan, mereka sampai juga di atap sekolah. Angin sepoy sepoy menerpa tubuh mereka dan membawa kesan damai di hati mereka.

"lu"

"hm"

"aku akan pergi"

DEGG

Perkataan itu bagai mengiris hati luhan terasa sesak di dadanya, dia merasa tidak yakin dengan apa yang sudah dia dengar.

"kau bercanda"

"tidak lu, aku benar benar akan pergi"

"ta-tapi kenapa ?"

"karena tugasku selesai, aku merasa bersalah karena membuat si hitam itu menderita setelah kehilangan cintanya itu dan sekarang aku memastikan kalian akan berdua selamanya"

"tapi kenapa harus pergi ? kau masih bisa tinggal sehun"

"tidak bisa, aku tidak bisa tinggal. Aku tidak bisa menjadi orang ketiga terus dalam hubungan kalian. Aku juga tidak bisa melihatmu bersama orang lain"

"kalau begitu tetap disini" entah keberanian apa yang merasuk ke dalam diri luhan dia berani mengatakan itu tapi luhan memang tidak mau kehilangan sahabatnya.

"dengarkan aku lu" sehun membalikan tubuh luhan agar menatapnya dan memegang kedua bahu luhan "kau sudah punya orang yang akan melindungi mu dan mencintaimu sampai mati lu, kau tidak butuh aku. Yang kau butuhkan adalah kai, walaupun kita berada di sisi yang yang berbeda aku tetap akan mengawasi mu dan berada di sini" sehun menunjuk dada luhan "aku tidak akan kemana mana lu, aku berjanji. Aku akan selalu berada di hatimu" sehun menarik luhan kedalam dekapannya dan memeluknya dengan erat sebagai salam perpisahan. Sehun sebenarnya tidak rela berpisah dengan luhan tapi satu satunya alasan untuk pergi adalah dia masih tidak percaya dengan hubungan kris kakaknya dengan luhan, dia tidak mau jika suatu hari nanti kakaknya dan luhan benar benar melakukannya di hadapan mata kepalanya sendiri.

Sungguh sehun belum siap akan satu hal itu, tapi setidaknya dia sudah yakin bahwa kai akan benar benar menjaga luhan dan menyayanginya lebih dari rasa sayangnya kepada dirinya sendiri. Dan kai mungkin bisa merebut luhan dari tangan kakaknya suatu saat nanti karena dia lebih rela luhan bersama kai dari pada bersama kakaknya. Apalagi jika mereka harus hidup satu atap bersama, sehun tidak mau itu terjadi dia benar benar belum siap menyerahkan luhan pada kakaknya sendiri.

.

.

.

Setelah 1 minggu setelah kepergian sehun keluar negeri, luhan seperti kehilangan seseorang yang penting bagi hidupnya. Ya walaupun kai kini mengisi hari harinya namun tetap saja ada sesuatu yang kurang, dia merindukan sehun.

Hari ini seperti biasa luhan sedang berada di sebuah cafe, memesan satu kopi di pagi hari ini. Setiap hari minggu luhan menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya berphoto photo, dan akan mampir ke cafe ini setelah merasa lelah. Luhan sangat suka aroma kopi di cafe ini karena aromanya sangat berbeda dari kopi di cafe lainnya.

Saking begitu menikmati kopi hangat nya, luhan sejenak melupakan semua beban yang menumpuk di otaknya untuk saat ini. Terlalu banyak yang dia pikirkan akhir-akhir ini membuatnya merasa lelah.

BIPPP BIPP BIPP

Luhan menatap layar ponsel pintarnya yang berada di meja.

CALLING CHANYEOL HYUNG

Luhan sudah bisa menebak pasti kakaknya sedang uring uringan di apartemennya, ya pastinya setelah apa yang sudah terjadi sebelum sebelumnya kakaknya akan lebih over protective pada luhan. Bahkan dia lebih memperhatikan luhan dibandingkan pekerjaannya dan kekasihnya, sehingga terkadang chanyeol harus berusaha mati-matian untuk meminta maaf pada baekhyun ketika baekhyun mulai cemburu dan mendiamkannya yang pasti ujung ujungnya akan berakhir di ranjang dan itu yang paling di benci oleh luhan karena dia harus menutup telinganya rapat rapat juga rela untuk terjaga sepanjang malam karena terganggu.

PIPPP

"YA KAU DIMANA HUH ? SUDAH WAKTUNYA KAU KEMBALI KE RUMAH, KAU MAU MATI ?" tidak harus menunggu waktu yang lama, suara dari line telpon itu sudah terdengar menggelegar memekakan telinganya sehingga luhan harus menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya. Ya tentu saja luhan masih sayang dengan gendang telinganya.

"YA ! bisa kau kecilkan suara mu ? dan berhenti untuk menelpon ku terus ? ini sudah ke 20 kalinya kau menelponku dalam kurun waktu 2 jam, bahkan aku baru saja menikmati hari minggu ku yang menyenangkan tapi ponselku terus meraung raung minta di tanggapi tidak kah kau tau itu sangat menggangu ?" begitulah cercaan luhan melampiaskan kekesalannya, ya jujur saja dia senang di perhatikan tapi kalau berlebihan sepertinya tidak usah. Bahkan ibunya sendiri tidak se-protective itu padanya.

"yayaya aku tau tapi aku juga harus mengecek keadaanmu terus aku tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi, aku bisa strees tau"

"ck dasar"

"cepat pulang, aku ada urusan di kantor mungkin malam ini aku lembur. Jangan keluyuran sampai malam, tetaplah di apartemen mengerti ?" kali ini nada suara itu menurun dan terdengar cukup berbeda, sepertinya kali ini terjadi sesuatu di kantor kakaknya.

"hm, baiklah aku akan pulang setelah mengunjungi satu tempat lagi. Emmm kak"

"apa hm ?"

"hmmm ja-jangan bekerja terlalu keras kau butuh istirahat, kau mengerti ?" ujar luhan mencoba untuk terdengar setenang mungkin walau tetap terdengar gugup lalu dengan segera menutup telponnya, ya baru kali ini dia mengatakan itu dan itu membuatnya errrr…. Sudahlah.

Sedangkan di line sebrang sana cukup terkejut dengan apa yang di katakan adiknya itu, dan sedetik kemudian tersenyum senang. Ya mungkin dipikirannya kali ini adalah 'akhirnya dia mengkhawatirkan ku juga' atau 'tunggu apa aku tidak salah dengar ? apa dia mengkhawatirkan ku ? sungguh ? ah seperti mimpi saja' dan untung saja dia tidak berteriak histeris layaknya seorang kekasih yang baru saja di terima cintanya setelah sekian lama menunggu jawaban, bayangkan sekarang dia berada di ruangan meeting dan dihadiri oleh orang orang penting di perusahaannya apa kata mereka kalau melihat presdir mereka berteriak dan jingkrak jingkrak seperti orang gila di sana saat ini ? memalukan ingat itu.

Sementara luhan ? dia sedang menenggelampakan kepalanya di atas meja menyembunyikan rasa malu di wajahnya yang sudah memerah padam 'apa kata kakak nanti ?' batinnya miris dan frustasi.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan 21.30 KST, kota seoul sudah di sinari oleh gemerlap cayaha dari gedung gedung pencakar langit. Seperti yang dikatakan luhan, dia pulang ke apartemennya setelah mengunjungi satu tempat dan disinilah dia sekarang menonton televisinya sambil ditemani dengan banyaknya cemilan, sudah berjam jam dia menatap layar datar itu dan membuatnya bosan sekarang ini.

"ah aku bosan" teriak luhan malas, dia terus mengganti chenel tvnya sambil bersandar malas di sofa empuknya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang dan membosankan.

"apa tidak ada yang bisa dilakukan lagi ?" desahnya, dia beralih menatap layar ponsel pintarnya dan mentouch beberapa digit angka menunggu telponnya tersambung dengan orang di sebrang sana.

"ayolah angkat telponnya" ujarnya tidak sabar, sampai setelah beberapa menit akhirnya line telpon di sebrang sana mengangkat telpon darinya.

"ya halo, ada apa kau menelpon ku malam sekali apa kau rindu padaku ?"

"berhenti untuk menggodaku kai"

"hey hey hey, kenapa biasanya rusa kecilku yang manis selalu ceria sekarang apa ? kau ketus sekali padaku. Apa ada yang salah dengan harimu ?"

"aku bosan, bisa kau datang ke rumahku"

"hmm, ada kakakmu aku tidak mau mati kutu disana hahaha"

"KAI !"

"ya baiklah baiklah aku akan segera kesana demi kekasihku yang sedang rindu berat padaku, tunggu aku ok"

"ya cepatlah"

.

.

.

Sudah 20 menit menunggu tapi orang yang ditunggu belum kunjung datang membuat luhan semakin bosan. Bahkan merebahkan dirinya di ranjang yang sangat empuk itu pun tidak membuatnya merasa baikan dan terkantuk kantuk, benar-benar akan menjadi malam yang panjang.

TETT TETTT

"hmm, mungkin itu kai" luhan pun turun dari ranjangnya dan segera menuju pintu apartemennya dan segera membuka pintunya.

"kenapa kau sangat lama sekali ka-" belum sempat melanjutkan kata-katanya luhan sudah dikejutkan dengan siapa yang telah mendatangi apartemennya kali ini.

"lama tidak berjumpa park luhan" orang itu tersenyum melihat ekspresi keterkejutan luhan, demi tuhan luhan tidak mau melihat orang itu sampai kapan pun.

"K-KAU.."

TBC