Title : Sugar Baby

Rated : M (for language and some adult scenes)

Disclaimer : Kim Jaejoong and Jung Yunho have nothing to do with this story. Beside, Kim Ae Rin and Jung Haneul are my own cast.

Written by: Banshee

This story purely came straight out from my brain. Any similarity with fictitious events or characters was purely coincidental.

.

.

.

Sugar Baby's Last Chapter

.

.

Kau tidak bisa memilih orang yang kau cintai, you just fall in love and somehow you get this person who is all wrong but feel so right at the same time.

Aku selalu berpikir bahwa kau harus jatuh cinta kepada orang yang salah. Aku pikir kau harus memperjuangkan tangis, keringat, dan darah yang tumpahkan untuk mendapatkan cintamu.

Dan kau tau kau sangat mencintainya sampai orang disekelilingmu mengataimu gila because you take risks to be with him. Orang-orang akan bertanya apa yang membuatmu bertahan disisinya, and the reason is also confusing for me, because it's love.

Kalau cinta tak memiliki hambatan dan rintangan, what would be the point?

-Kim Jaejoong-

.

.

Untuk mencintaimu aku menyakiti diriku sendiri. Aku mencintaimu tapi aku yang tersakiti.

Aku mulai menyadari kalau Ia bukan milikku dan tak akan pernah jadi miliku.

Aku bahkan tidak tau mengapa aku berharap suatu saat Ia bakal mencintiku walau sedikit. Namun justru harapan itulah yang menghancurkanku, without a warning sign.

Like a wound which closes and heals, like a sun which sets, like the final breath which is swallowed whole by the mouth of death...

Aku harus menemukan cara untuk tidak mencintaimu lagi. I must unlove you.

-Kim Ae Rin-

.

.

Apa yang harus kau katakan kepada wanita yang kau rusak secara emosional, wanita yang kau hancurkan kemampuannya untuk mempercayai seseorang, dan wanita yang secara cuma-cuma memberikan hatinya kepadamu?

Nothing. You said nothing.

You can't un-sing a song that's sung. Kau tidak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah terjadi. Sebuah permintaan maaf tidak akan memadamkan api yang sudah kau nyalakan. You simply move out of the way, dan biarkan Ia melanjutkan hidupnya untuk mencari seseorang yang lebih baik darimu.

-Jung Yunho-

.

.


Setelah menghindari rokok selama 2 tahun belakangan, Jaejoong tidak mampu menahan perasaannya. Jaejoong mengeluarkan sebungkus rokok yang Ia simpan selama ini. Jaejoong kemudian berjalan ke balkon kamarnya, mengeluarkan pemantik yang didapatkannya dari dapur. Jaejoong menyalakan rokoknya, menghisap dan membumbungkan asapnya ke atas sembari menikmati keheningan malam.

Sudah 1 minggu Yunho tidak menghubunginya. Setelah semua yang terjadi Jaejoong tidak berharap banyak Yunho akan kembali padanya. There, He said it. Jaejoong tahu betul Yunho sangat mencintai putri kecilnya, dan rasanya tak mungkin Yunho mau meninggalkan keluarganya hanya demi Jaejoong. Tak terasa aliran air mata mulai membasahi pipinya. Ah, Ia berharap dengan merokok akan mengalihkan pikirannya dari masalah. Justru dengan merokok lagi dirinya malah jatuh ke lembah pikirannya.

Jaejoong masih berdebat dengan pikirannya sendiri, haruskah Ia memperjuangkan cintanya dan menemui Yunho? Atau haruskah Ia menunggu Yunho?

.

.

Ae Rin memutuskan untuk kembali kerumah orang tuanya untuk sementara waktu, bersama putri kecilnya Jung Haneul. Saat ini Ae Rin tengah menyisiri rambut putri kecilnya sebelum Ia tidur.

"Umma..." Suara Haneul memecah keheningan dikamarnya.

"Hm?"

"Haneul-ie kangen appa..." Mendengar perkataan Haneul, Ae-Rin berhenti menyisir rambut Haneul, kemudian Ae Rin memutar badan Haneul untuk menghadapnya.

"Haneul, ingatkan sama yang umma katakan beberapa hari yang lalu?" Haneul menganggukkan kepalanya.

"Mulai saat ini Haneul akan jarang bertemu dengan appa..." Ae Rin lalu mengelus lembut kepala Haneul.

"Tapi umma, kenapa?" Suara Haneul mulai tercekat seakan menahan tangisnya. Ae Rin pun tidak dapat menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tanpa berkata apapun, Ae Rin menarik tubuh Haneul dan memeluknya erat.

"Anak umma yang cantik, umma sekarang tidak bisa menjelaskannya. Kelak kau dewasa kau akan mengerti bagaimana rumitnya kehidupan orang dewasa. Karena berbuatan orang dewasa anak kecil sepertimu jadi terkena dampaknya..Maafkan umma ne? Maafkan appamu juga ne? Kami berjanji akan tetap selalu membahagiakanmu walaupun dengan kondisi seperti ini." Ae Rin tidak dapat menahan lagi air matanya.

Selama ini dirinya selalu berusaha tegar menghadapi Haneul. Ia menangis dengan kerasnya. Membuat Haneul yang tak tahan melihat ibunya menangis pun ikut menangis. Malam itu, untuk pertama kalinya Ae Rin melepaskan beban yang Ia tanggung sendirian, didepan anaknya sendiri.

.

.

Setelah memastikan Haneul tertidur, Ae Rin keluar dengan perlahan menutup pintu agar anaknya tidak terganggu. Ae Rin menghela nafasnya. Ia tidak habis pikir kenapa orang yang setegar ini bisa break down habis-habisan didepan anaknya sendiri. Setegar apapun seorang perempuan akan ada saatnya Ia tidak sanggup menahan lagi bebannya sendirian. Ae Rin kembali menangisi nasibnya saat ini. Haneul adalah sumber kekuatannya. Ia mampu menghadapi ini semua karena Haneul. Maka dari itupun Ia bertekat tidak akan membuat anaknya tersakiti akibat runtuhnya rumah tangga ini.

Ae Rin lalu teringat akan sesuatu. Ada satu hal lagi yang harus dilakukannya sebelum Ia mantap bercerai dengan Yunho. Ae Rin merogoh kantung celananya. Kemudian mengscroll dan mengetik pesan untuk nama kontak yang saat Ia kenal itu.

'Jaejoong-ssi, bisa kita bertemu besok? ' Taklama pesan Ae Rin pun dibalas.

'Baiklah Ae Rin-ssi, ingin bertemu dimana?' Ae Rin tak mengira bahwa Jaejoong akan secepat itu menyanggupi permintaannya.

'Aku akan mengirimkan lokasi restorannya. Kita bertemu besok jam 10 pagi. Terima kasih sebelumnya, Jaejoong-ssi.'

.

.

.


Entah apa yang ada dipikiran Jaejoong sehingga Ia meng-iyakan ajakan Ae Rin. Bahkan Ia tidak berpikir dua kali untuk mengiyakan ajakannya. Jauh didalam lubuk hatinya, sebenarnya Jaejoong tidak ingin menyerah begitu saja. Dan hal itulah yang membuatnya saat ini memantapkan diri untuk datang ke salah satu restoran mewah di kawasan Gangnam.

"Atas pesanan Kim Ae Rin." Sahut Jaejoong kepada waitress yang tengah membungkuk sopan kepadanya.

"Silahkan ikuti saya tuan." Waitress itu memimpin Jaejoong menuju meja yang sudah dipesan Ae Rin. Jaejoong mengedarkan pandangannya melihat interior restoran bergaya modern-vintage tersebut. Lalu Ia menangkap sosok Kim Ae Rin yang tengah menatap keluar jendela. Sosok Kim Ae Rin terlihat sangat glamour dengan dress merahnya, membuat siapapun yang ada diruangan itu akan menatapnya iri. Kehadiran Jaejoong dan waitress menghentikan kegiatannya menatap jalanan. Kedatangan Jaejoong disambut dengan senyuman tipis Ae Rin.

"Selamat pagi Jaejoong-ssi, silahkan duduk." Ae Rin mempersilahkan Jaejoong duduk didepannya.

"Maaf aku terlambat Ae Rin-ssi, apakah anda sudah lama?" Ae Rin menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan Jaejoong.

"Tidak kok, anda ingin pesan apa Jaejoong-ssi?"

"Aku pesan caramel frappuccino saja."

"Caramel frappuccino satu, dan latte macchiato satu. Untuk macchiato gulanya 1 cube saja." Waitress itu mencatat pesanan yang disampaikan Ae Rin lalu undur diri. Jaejoong sedikit terkejut ketika mendapati Ae Rin menatapnya tajam, tapi Jaejoong sudah meneguhkan hatinya untuk tidak memperbolehkan dirinya diintimidasi oleh Ae Rin.

"Jadi Jaejoong-ssi, apa tujuanmu yang sebenarnya?" Ae Rin melipat kedua tangannya dan menatap Jaejoong tajam.

"Apa maksud anda Ae Rin-ssi?" Ae Rin tertawa kecil mendengar pertanyaan Jaejoong.

"Kau tau maksudku Jaejoong-ssi." Jaejoong terdiam mendengar jawaban Ae Rin. Wanita didepannya ini bukanlah wanita sembarangan. Ae Rin memajukan badannya sedikit berbisik kepada Jaejoong.

"Kau melakukan ini semua atas dasar apa? Uang? Cinta?" Jaejoong menggenggam tangannya erat.

"Jujur dari dalam hatiku Ae Rin-ssi, aku sangat mencintai Yunho layaknya aku mencintai seorang laki-laki. Persetan dengan hartanya aku tidak peduli sedikitpun. Ae Rin menaikkan alisnya. Terkejut dengan perkataan Jaejoong. Ternyata lelaki didepannya ini punya nyali juga.

"Kau tau kan berapa hati yang tersakiti karena perbuatan kalian ini?" Ae rin menatap tajam mata Jaejoong seakan ingin membunuhnya hanya dengan tatapan.

"Ae Rin-ssi, aku, kau, dan Yunho kita semua tersakiti, jadi aku-"

"Yang paling tersakiti adalah Haneul!" Ae Rin meninggikan suaranya membuat pengunjung tertuju kepada mereka berdua.

"Kau, apa yang kau lakukan kalau anakmu bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak tidur bersama? Apa yang kau lakukan kalau anakmu ingin bertemu ayahnya, tapi kau tidak bisa mengiyakan karena setiap kau melihat lelaki itu kau teringat akan wajah bahagianya dengan selingkuhannya!" Jaejoong menatap Ae Rin tajam, Ia tidak akan membiarkan wanita ini menyudutkannya.

"Ae Rin-ssi aku minta maaf karena telah menghancurkan rumah tanggamu, tapi aku tidak akan meminta maaf karena telah mencintai Yunho. Kau tidak bisa memilih lelaki yang kau cintai. Sekalipun aku tau bahwa laki-laki itu sudah memiliki keluarga." Sebelum Ae Rin berteriak lagi kepadanya, Jaejoong sudah kembali memotong.

"Anda juga tidak adil menyudutkan aku seperti ini Ae Rin-ssi, Yunho selingkuh juga karena kau tidak bisa menjaganya jadi Ia mencari kesenangan lain diluar." Ucapan Jaejoong membuat Ae Rin terkejut. Ae Rin tampak menahan amarahnya agar tidak meledak-ledak. Ae Rin kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil tasnya bergegas hendak pergi.

"Kau gila! Kau dan Yunho gila! Terima kasih telah menghancurkan hidupku dan anakku!" Ketika Ae Rin hendak meninggalkan meja itu Ae Rin berbalik.

"For your information, aku dan Yunho akan bercerai. Selamat akhirnya kau bisa hidup bahagia dengan Yunho dan aku tidak akan peduli dengan hidup pathetic kalian!" Ae Rin pun kemudian beranjak pergi meninggalkan Jaejoong yang terpaku tidak percaya. Apakah Ia salah mendengar? Jaejoong tidak percaya Ae rin akan bercerai dengan Yunho. Ini semua diluar dugaannya.

.

.

.


Yunho menjambak rambutnya frustasi. Sudah seminggu lebih Ia tidak bertemu dengan Haneul dan Ae Rin sepertinya tidak ada etikat mengizinkannya bertemu dengan Haneul. Rasa gundah menyelimuti Yunho, Ae Rin dan Yunho bahkan belum sepenuhnya resmi bercerai, apalagi nanti kalau sudah bercerai? Pasti akan semakin sulit untuk menemui Haneul.

Yunho merogoh kantung celananya mencari cellphone kemudian mendial kontak Ae Rin.

'Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi-'

BRAK!

Yunho mencampakkan cellphonenya dan mendengus marah. Haruskah Ia mendatangi anaknya kesekolah? Seorang Jung Yunho datang ke sekolah anaknya sama saja mencari keributan, Jung Yunho bahkan lebih terkenal dari idol idol rookie di Korea.

Terdengar suara ketukan pintu diruang pribadi Jung Yunho. Tak lama berselang kepala sekretaris pribadinya Kim Na Ni menyembul melalui sela pintu.

"Permisi Daepyo-nim, kenalan anda yang bernama Kim Jaejoong memaksa masuk dari tadi apakah saya harus mengijinkannya?" Yunho menatap Kim Na Ni tajam membuat sekretarisnya bergidik ngeri. Sudah seminggu ini Daepyo-nimnya sangat mood swing membuatnya pusing bukan main.

"Aku kan sudah bilang aku tidak terima tamu pribadi!" Mendengar teriakan Daepyo-nimnya Kim Na Ni sontak menundukan kepalanya.

"Aku minta maaf sebesar-besarnya Daepyo-nim, tapi Kim Jaejoo-" Belum selesai Kim Na Ni berbicara pintu ruangan pribadi itu sudah terbuka lebar karena dibuka paksa oleh Jaejoong. Menampakkan sosok Jaejoong yang terengah-engah seperti menahan amarah.

Secara tiba-tiba Jaejoong melemparkan clutch bag bermerk Fendi ke arah Yunho membuat Yunho reflek menghindar. Yunho yang tidak ingin Kim Na Ni menyaksikan drama gratisan ini mengusir Kim Na Ni dengan gesture tangannya. Menangkap gesture Daepyo-nimnya Kim Na Ni bergegas pergi dan menutup pintu ruangan dengan rapat.

"YAH JUNG YUNHO KAU BENAR BENAR BRENGSEK!" Yunho lalu berjalan mendekati Jaejoong yang masih berdiri didepan pintu. Yunho kemudian merengkuh lelaki yang mulai terisak-isak ini. Memeluknya dan mengelus rambut halus itu. Yunho tidak menyangka Jaejoong menerima pelukannya setelah lelaki itu berteriak padanya.

"Mianhae Jae-ah...kau harus mengerti keadaanku saat ini." Jaejoong memeluk erat leher Yunho dan menghirup harum pria yang sangat dirindukannya.

"Semua ini terjadi secara tiba-tiba, Ae Rin tidak mau mendengar permintaanku dan tidak mengijinkanku bertemu Haneul. Aku sangat merasa bersalah Jae-ah. Ini semua terjadi karena keegoisanku."

"Tidak Yunho-ah, tidak. Aku mengerti Yun-ah. Hanya saja kau jangan menutup dirimu seperti itu. Kau bisa bercerita kepadaku setidaknya bagi bebanmu itu denganku." Jaejoong lalu merangkup wajah Yunho, memandangi wajah pria yang disayanginya.

"Lagipula, semua ini terjadi karena salahku juga. Kau tidak bisa menanggungnya sendirian." Yunho semakin mengeratkan pelukannya.

"Kau juga sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku..." Yunho tersenyum menanggapi perkataan Jaejoong. Yunho mengecup bibir merah lelaki itu.

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

.

.

Entah kenapa dengan kehadiran Jaejoong dikantornya membuat Yunho bisa fokus dengan semua berkas yang tadinya terbengkalai. Yunho mulai menandatangani dan mengecheck beberapa file, sambil sesekali melirik Jaejoong yang asyik membaca majalah fashion. Hati Yunho terasa bergetar melihat wajah lelaki itu tampak serius memandangi pattern dan warna baju yang ada di majalah tersebut. Ah, pulang dari sini Yunho akan mengantarkan lelaki itu berbelanja sebagai permintaan maafnya.

Saat Yunho hendak kembali memeriksa laporan keuangan, cellphone Yunho bergetar menandakan sms masuk. Yunho melihat nama Ae Rin dilayar cellphonenya dan cepat-cepat membacanya.

'Sidang pertama senin minggu depan pada tanggal 13, tapi aku sepertinya tidak bisa hadir. Perceraian kita pasti akan terendus media dan aku tak mau Haneul tau orang tuanya bercerai. Aku memutuskan untuk mengurus perusahaan Samsung yang ada di Amerika tepatnya California sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku akan membawa Haneul. Maaf aku tidak bisa mempertemukanmu dengan Haneul dalam waktu dekat ini.'

Setelah membaca sms dari Ae Rin, Yunho menggenggam cellphonenya kuat seakan ingin mematahkan benda mati itu menjadi dua.

.

.

Duo sejoli tampak saling bergandengan tangan menyurusi pertokoan yang ada dikawasan Garosu-gil, Gangnam tersebut. Dengan menenteng kantung belanjaan yang sangat banyak Yunho mengamit erat pergelangan tangan Jaejoong yang antusias ingin masuk ke salah satu store yang menjual coat-coat bermerk.

Jaejoong menarik Yunho untuk masuk ke store itu. Yunho menyanggupi permintaan kekasihnya itu dengan senang hati. Setelah masuk Jaejoong mulai sibuk mencoba berbagai coat yang ada didalam store tersebut. Sedangkan Yunho merasa senang hanya dengan memandangi wajah yang tampak bersinar itu.

"Yun." Jaejoong memanggil Yunho namun pria itu masih saja tenggelam dengan pikirannya.

"YUN!" Teriakan Jaejoong membuat Yunho terkejut kaget.

"A-apa Jae?" Sahut Yunho. Jaejoong kemudian memperlihatkan coat panjang dengan warna biru donker tersebut.

"Bagus tidak?"

"Bagus kok bagus." Mendengar jawaban Yunho membuat Jaejoong mendengus kesal. Jaejoong lalu mendekati Yunho dan mengelus pipi kanan pria itu.

"Apapun yang ada dipikiranmu sekarang, tinggalkan dulu ne? Kau sedang bersamaku jadi kau harus senyum." Perkataan Jaejoong lantas membuat Yunho tersenyum, dan mengelus tangan Jaejoong yang masih ada di pipinya.

.

.

Malam sudah sangat larut sehingga Jaejoong meminta Yunho untuk mengantarkannya pulang. Jaejoong sudah membeli berbagai macam barang dan semuanya dibelikan oleh Yunho. Jaejoong sangat senang karena pelan-pelan Yunho mulai melupakan masalahnya dan mulai tertawa kembali akibat berbagai guyonan Jaejoong. Membuat Jaejoong percaya bahwa semua kedepannya akan baik-baik saja.

Setelah sampai didepan rumah Jaejoong, Jaejoong turun dan menyuruh maid dirumahnya untuk mengambil belanjaan yang ada di bagasi mobil Yunho.

"Kau tidak mau singgah?" Jaejoong memeluk leher Yunho kemudian mengecup bibir berbentuk hati itu.

"Tidak Jae, ada file file yang harus aku lanjutkan." Mendengar respon Yunho Jaejoong mempoutkan bibirnya.

"Urgh padahal malam ini aku ingin main-main sama daddy." Kata-kata Jaejoong membuat Yunho mencubit hidung Jaejoong gemas.

"Dasar nakal. Sudah sana masuk sudah larut malam." Sahut Yunho.

"Harusnya daddy yang masuk mobil, lalu aku dadah-dadah dari sini. Habis daddy pergi baru aku masuk. Ini kenapa aku yang disuruh masuk?" Ucapan Jaejoong membuat Yunho tertawa.

"Aku ingin memastikan kau masuk rumah dan tidak berkeliaran keluar lagi." Mendengar alasan Yunho membuat Jaejoong memutar bola matanya malas.

"Yasudah kalau daddy memaksa. Bye my daddy. Love you." Setelah Jaejoong mengecup dan memberikan Yunho lambaian Ia pun masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Yunho yang menatap rumah itu lama kemudian beranjak pergi dari rumah mewah tersebut.

.

.

.


Pagi ini Jaejoong bangun dengan perasaan yang sangat baik. Yunho membelikannya berbagai barang bermer, membawanya berjalan-jalan, dan yang paling penting Yunho berjanji tidak akan menutup dirinya lagi. Kemarin Yunho dan Jaejoong bercerita banyak, dan Yunho juga sudah memberi tahu dengan mulutnya sendiri kalau Ia dan Ae Rin akan segera bercerai.

Ae Rin menganggap rumah tangganya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kalaupun wanita itu memaafkan Yunho dan melanjutkan pernikahan mereka, Ae Rin tidak akan pernah melupakan apa yang sudah Yunho lakukan kepadanya. Keadaan pernikahan mereka pun tidak akan pernah sama lagi. Ae Rin dan Yunho sepakat untuk melanjutkan hidup mereka masing-masing tanpa menyakiti perasaan satu sama lain. Yunho yang terlampau merasa bersalah kepada Ae Rin pun menyanggupinya, walaupun jauh dilubuk hatinya Yunho tetap ingin hidup bersama Haneul.

Jaejoong terbangun dari lamunannya. Ia pun bergegas turun dari tempat tidur, mencuci mukanya lalu bergegas turun kelantai bawah. Jaejoong melihat Bibi Jang tengah sibuk didapur dan beberapa maid lain yang tengah menyampu.

"Bibi buat apa?" Jaejoong duduk di counter yang ada didapur sambil memperhatikan Bibi Jang. Bibi Jang kemudian berbalik menghadap Jaejoong. Melihat tuannya sudah bangun Ia pun mengambilkan segelas jus jeruk dan meletakkannya didepan Jaejoong. Jaejoong langsung menenggak jus jeruk itu.

"Sudah lama kita tidak sarapan sandwhich. Tuan Jaejoong mau isi tuna apa isi telur? Atau..dua-duanya?"

"Aku mau isi tuna saja. Nanti bisulan banyak-banyak makan telur hehehe. " Sahut Jaejoong. Bibi Jang pun kembali serius membuat sandwhichnya.

"Tuan Jaejoong kelihatannya sedang senang." Sahut Bibi Jang.

"Memangnya kemarin-kemarin aku tidak kelihatan senang bi?" Bibi Jang spontan berbalik.

"Uhhh kemarin Tuan Jaejoong kelihatan seperti zombie berjalan. Mana kantung mata Tuan hitam sekali. Aku mau bertanya tapi takut dimakan sama Tuan Jaejoong." Ucapan Bibi Jang membuat Jaejoong tertawa terbahak-bahak. Separah itukah dia?

"Bibi, kalau aku jadi zombie, bibi adalah orang terakhir yang aku makan. Aku terlalu sayang sama bibi." Bibi Jang tertawa kecil mendengar ucapan Tuannya yang dianggap seperti anaknya sendiri itu.

"Tuan Jaejoong." Salah satu maid memanggil Jaejoong dan membuat Jaejoong langsung membalikkan badannya. Jaejoong melihat maid tersebut membawa sebouquet mawar yang sangat besar ditangan kanannya, dan ditangan kirinya Ia tampak memegang sebuah surat dengan amplop pink.

"Ada kiriman dari Tuan Jung Yunho." Mendengar nama Yunho, Jaejoong langsung melompat dari kursinya dan mengambil surat dan bouquet mawar itu lalu menghirup harum bunga mawar merah tersebut. Jaejoong tampang senang dan wajahnya sangat sumringah. Romantis sekali Yunhonya itu.

"Terima kasih." Ucap Jaejoong kepada maid yang masih muda itu.

"Dari Tuan Yunho?"Tanya Bibi Jang kepada Jaejoong yang tengah sibuk membuka surat. Jaejoong mengangguk antusias.

"Romantis sekali Tuan Yunho. Pagi-pagi begini." Sahut Bibi Jang ikut tersenyum ketika melihat wajah Jaejoong sangat senang.

Jaejoong mulai membaca surat itu dengan wajahnya yang sumringah.10 detik kemudian Bibi Jang dapat menangkap perubahan ekspresi di wajah Jaejoong. Ekspresi wajah Jaejoong kelihatan seperti...takut, cemas, marah, sakit, dan perasaan negatif lainnya.

"Andwae..." Jaejoong menjatuhkan surat itu.

"Tidak...tidak mungkin...Yunho...Tidak tidak..." Jaejoong mulai menjambak rambutnya kuat. Membuat Bibi Jang meletakkan pisaunya dan menghampiri Jaejoong.

"Tuan Jaejoong? Apa semua baik-baik saja?"

Kaki Jaejoong terasa lemas. Ia tidak lagi mampu menahan badannya sendiri.

BRAK!

"Tuan Jaejoong!"

Jaejoong jatuh terduduk sambil menjambaki rambutnya. Jaejoong mulai menangis meraung-raung hingga terdengar keseluruh penjuru rumah. Semua maid tampak berkumpul memandang Jaejoong khawatir.

"ANDWAEEEEE...YUNHOO...HIKS...KENAPA...APA SALAHKU..." Jaejoong menangis hingga wajahnya memerah. Jaejoong terus meracau sambil memanggil nama Yunho. Bibi Jang langsung memeluk Jaejoong erat.

"KAU TEGA YUUUN! KAU SUDAH BERJANJI! ANDWAE !" Jaejoong tampak hancur. Tangisnya terdengar sangat menyayat hati membuat Bibi Jang ikut menangis bersama Jaejoong. Bibi Jang mengelus kepala Jaejoong seakan ingin memberi tahunya bahwa semua akan baik-baik saja.

"YUNHOOOOOOOO!" Jaejoong menjambak rambutnya dan langsung dihentikan oleh Bibi Jang. Bibi Jang terus mengelus kepala Jaejoong.

"Ssstttt...Tuan Jaejoong...Jangan menyakiti diri anda Tuan...semua akan baik-baik saja." Tangis Jaejoong mulai melemah karena Ia mulai kelelahan.

"Yunho...hiks...Ia sudah berjanji...Yunho...katanya Ia mencintaiku..hiks...Yunho...Ia melanggar janjinya...aku sangat mencintai Yunho...Yunho..." Jaejoong kembali menangis keras. Bibi Jang kembali memeluk lelaki itu erat. Ia melihat surat dengan amplop pink yang tergeletak disamping Jaejoong. Bibi Jang mengambil surat itu dengan satu tangannya masih memeluk Jaejoong. Ia lalu membacanya.

Dear Jaejoong

Kau adalah hal pertama yang kuingat saat pagi hari. Kau adalah hal terakhir yang kuingat saat aku memejamkan mataku sebelum tidur. Kau selalu ada didalam ingatanku dan selalu berada didalam hatiku. Aku sangat mencintaimu, aku ingin memilikimu. Aku ingin selalu berada disisimu.

Tapi rasa cintaku kepadamu membuatku menjadi orang yang sangat egois. Aku tidak bisa memiliki semua yang aku mau. Haneul adalah alasan mengapa aku berkerja dengan keras. Aku ingin menjamin masa depannya agar cerah. Haneul adalah alasan kenapa aku hidup didunia ini.

Saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak berada di Korea. Aku akan pindah ke perusahaanku yang ada di Amerika untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku sudah memindahkan rumah dan mobil yang kuberikan atas namamu.

Tetapi ketahuilah Jaejoong. Kau selalu berada didalam hatiku. Kau adalah orang yang sangat kucintai. Maafkan aku sudah mengingkari janji kita. Maafkan aku sudah membuatmu menangis.

Aku selalu mencintaimu.

JYH

Bibi Jang menghela nafas panjang. Seberapa besar cinta Tuan Yunho pada Tuan Jaejoong, pada akhir cerita pria kaya raya itu tetap memilih untuk berada disisi putrinya. Meninggalkan Jaejoong yang sudah terlalu dalam kedalam lubang berbahaya bernama cinta.

.

.

.


6 tahun kemudian

.

.

Cafe dengan nama Olive Garden tersebut dipenuhi dengan pengunjung dijam makan siang seperti ini. Cafe dengan interior serba hijau dan sejuk itu sangan diminati oleh kaula muda. Apalagi cafe itu terletak dikawasan Hongdae, kawasannya para mahasiswa dan mahasiswi.

"Selamat datang!" Seorang lelaki dengan rambut dicat coklat muda menyambut segerombolan mahasiswi. Ketampanannya membuat mahasiswi itu berteriak gemas. Manager di Olive Garden ini memang terkenal ganteng, sehingga banyak mahasiswi yang langganan di Cafe tersebut.

"Jaejoong oppa siang-siang gini pun ganteng deh." Celetuk salah satu gerombolan mahasiswi tersebut.

"Dan kalian siang-siang begini sudah pandai gombal hahaha, mau duduk dimana ladies? Di dekat jendela ada yang kosong. Mau disana?" Pertanyaan Jaejoong disambut anggukan antusias mahasiswi tersebut. Jaejoong pun mengantar mereka ke tempat duduk yang berada di dekat jendela.

Setelah kejadian pahit yang terjadi 6 tahun lalu, Jaejoong perlahan-lahan memulihkan raga dan jiwannya yang hancur. Apalagi dirinya saat itu berstatus pengangguran. Jaejoong memutuskan menjual rumah dan mobil yang diberikan Yunho, uangnya sangat cukup untuk membangun sebuah Cafe yang tidak jauh dari lokasi Cafe Junsu. Junsu secara cuma-cuma membantu Jaejoong mengelola Cafenya ini. Toh cafe Junsu sudah terlampau sukses sekarang hingga memiliki cabang dimana-mana. Apa salahnya Ia membantu sahabatnya yang sedang susah.

Setelah mencatat pesanan gerombolan mahasiswi itu Jaejoong kembali ke counter dan memberikan catatan pesanannya pada koki. Jaejoong kemudian tersenyum melihat Cafenya yang lumayan rame pengunjung. Jaejoong menangkap seorang gadis kecil kira-kira berumur 11 tahun memasuki cafenya. Jaejoong menyerengit heran. Kenapa gadis kecil ini datang sendiri?

"Selamat datang gadis kecil. Mau duduk dimana? Ingin duduk dekat jendela?" Gadis itu memandang Jaejoong seksama kemudian menganggukkan kepalanya. Jaejoong pun mengantar gadis kecil itu ke meja yang kosong.

"Kau datang sendiri?" Lagi-lagi Jaejoong mendapat anggukan sebagai jawaban pertanyaannya.

"Oppa. Aku mau memberikan ini." Jaejoong membulatkan matanya terkejut karena gadis ini memanggilnya Oppa, bukan Ahjussi. Jaejoong Lalu menerima sebuah kertas kecil. Jaejoong lalu membacanya.

'Hari ini pun kau terlihat cantik. Kau selalu cantik. Hatiku selalu bergetar setiap aku melihatmu.'

Jaejoong bergidik ngeri. Urgh siapa sih yang tidak ngeri dapat surat misterius begini.

"Siapa yang memberikanmu ini? Ohya namamu siapa?" Tanya Jaejoong kepada gadis kecil itu.

"Haneul." Jaejoong membulatkan matanya. Jangan bilang ini adalah Haneul yang Ia kenal. Jaejoong kemudian menyadari gadis kecil ini mengalihkan pandangannya ke belakang Jaejoong. Jaejoong perlahan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang ditatap Haneul.

"OMMO!"

Jaejoong tidak percaya. Sangat tidak percaya dengan matanya sendiri. Pria yang sudah 6 tahun tidak Ia jumpai berdiri didepannya dengan membawa sebouquet bunga mawar. Pria yang membuatnya hancur luar dan dalam berdiri tanpa dosa didepannya.

"Jae, Maafkan aku baru menemuimu sekarang. Aku butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian untuk menghadapimu setelah aku...meninggalkanmu. Aku benar-benar minta maaf. Kim Jaejoong, aku berharap kita memulai semuanya dari awal lagi." Yunho memandang Jaejoong yang wajahnya sudah memerah.

Jaejoong mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya pria ini datang tanpa dosa berharap semuanya bisa kembali? Tapi urgh, Yunho tetap saja tampan diusianya yang sudah semakin tua. Dalam lubuk hati Jaejoong sebenarnya Ia ingin melompat dalam pelukannya, menciumnya panas, dan menarik Yunho keruangannya melakukan ena-ena. Lagian kan Yunho juga sudah duda sekarang, tapi urgh...Jae!Kau harus kuat!

"YAH!" Teriakan Jaejoong membuat seisi Cafe tertuju pada mereka.

"Kau kira semudah itu hah! Aku butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan hatiku yang pecah!" Seisi Cafe sekarang menyaksikan drama live secara gratis. Bahkan karyawan Jaejoong menghentikan kegiatannya dan mengintip bosnya marah-marah.

"Maafkan aku Jae sungguh, aku minta maaf. Kau boleh memukulku, menendangku, memakiku..tapi kalau memaki masih ada Haneul disini jadi tidak bisa sekarang." Jaejoong memutar bola matanya dan menghela nafasnya kesal.

"Sebenarnya aku sangat ingin mengusirmu dari cafe ini, tapi urghh. Cafe ini kubangun dari hasil jual rumah dan mobil yang kau berikan jadi secara tidak langsung Cafe ini ada dari uangmu juga..." Yunho terkekeh kecil mendengar racauan Jaejoong. Jaejoongnya tidak banyak berubah ternyata. Jaejoong memelototi Yunho karena menangkap Ia terkekeh, Yunho berdeham dan langsung diam.

"Ya sudah. Kalian tunggu disini. Aku akan bawakan minum." Jaejoong beranjak meninggalkan Yunho dan Haneul. Haneul kemudian memeluk Appanya dan tersenyum lebar. Yunho mengelus kepala Haneul.

Yunho berharap ini adalah awal dari cerita mereka yang baru.

.

.

.

End of Sugar Baby


OMEGAAT SELESE JUGA! *tebar bunga mawar* *nyabut dari bouquet Jaejoong*

Terima kasih kepada pembaca yang sudah review ff penuh drama ini. Terima kasih sudah membaca aku cinta kalian semua. Muach.

Aku sering membalas review kalian, tapi by PM XD jadi bisa dicheck inboxnya ya~

Semoga kita berjumpah dicerita lainnya! *deep bow*

a/n Jangan lupa baca fanfic aku yang judulnya your tiny little foot yaa! ffnya tentang joget joget gitu, seru kok~ (promosi terselubung)