So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again
My love
.
.
.
~Between Black and White Desire~
Chapter 10 (Do not leave me)
.
.
BRAKK
Suara benturan itu cukup keras, bersamaan dengan itu, tubuh Kyuhyun dan Sungmin terhempas cukup jauh dari tempat kejadian penabrakkan.
Kyuhyun memejamkan matanya, rasa nyeri hebat mendera seluruh tubuh nya. Ketika tubuh nya berhasil merengkuh tubuh Sungmin, ia bersyukur, tapi setelah tubuhnya ikut terhempas dan membawa tubuh mereka terlempar jauh seketika itu juga rengkuhan itu terlepas. Kejadian itu berlangsung terlalu cepat.
"Kyuhyun-ah.."
"Sungmin-ah.."
Hanya teriakkan yang memanggil nama nya dan Sungmin yang terakhir kali Kyuhyun dengar. Dan setelah itu gelap dan ia tidak merasakan apapun lagi.
.
.
.
"CEPAT KEJAR MOBIL ITU!" titah Kangin sebelum berlari menuju tubuh Sungmin yang tergeletak di sebrang jalan dengan berlumuran darah.
Hankyung pun begitu. Tubuh nya bergetar ketika ia sampai di lokasi, dirinya menyaksikan secara langsung bagaimana rentetan peristiwa itu terjadi.
"Sungmin-ah.. bangun sayang.. jangan tinggalkan appa. Appa mohon…" air mata Kangin tumpah seketika melihat tubuh Sungmin yang tidak berdaya. Darahnya mengalir sangat banyak.
Hankyung meraih tubuh sang putra yang juga mengalami luka namun tidak terlalu parah seperti yang Sungmin alami.
"Kyuhyun-ah.. Kyuhyun-ah.. bangun nak.. ini appa" Hankyung sama paniknya.
Salah satu bodyguard Hankyung bergegas menghubungi ambulance. Dan sisanya mengejar mobil pelaku bersama dengan bodyguard yang dibawa Kangin.
Suara sirine ambulance mengintrupsi. Kangin tidak melepas kan rengkuhannya dari tubuh Sungmin. Hankyung yang melihat kejadian itu merasa terenyuh.
"Kangin-ah segera bawa Sungmi ke ambulance" pinta Hankyung. Untuk saat ini ia tidak memperdulikan status Kangin sebagai pesaing nya. Yang terpenting adalah nyawa Kyuhyun dan Sungmin harus selamat.
Kangin mengangguk dan perlahan membantu para petugas untuk mengangkat tubuh Sungmin dan membawanya ke dalam ambulance. Lalu setelah itu Kangin pun ikut masuk bersama Sungmin.
Kyuhyun juga berada dalam satu ambulance dengan Sungmin. Tapi Hankyung tidak ikut menemani mobil yang membawa putranya itu menuju rumah sakit. Ia masih terpaku di sisi jalan itu, pandangannya ia edarkan ke seluruh sisi jalan tempat kejadian. Hankyung menahann emosi nya ketika ia mengingat Kang Junho. Ya.. orang itu memang tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Tangannya mengepal erat. Ia bersumpah akan membuat Junho menyesali perbuatannya.
Kepalan tangan Hankyung merenggang ketika sepasang matanya menangkap suatu benda yang tergeletak tak jauh dari posisinya.
"Dompet?" Hankyung mendekati tempat di mana benda itu tergeletak dan mengambilnya. Terlihat dengan jelas bercak darah di sana. Dan seketika itu juga Hankyung tahu bahwa dompet itu milik Sungmin.
Hankyung terbelalak. Tubuh nya membeku seketika. Tangan yang dipakainya untuk memegang dompet itu bergetar ketika ia membuka dompet tersebut.
"Foto itu..?" lidahnya seakan kelu ketika melihat satu foto yang tersemat di dompet itu. Ada tiga orang. Dua namja dewasa yang Hankyung yakini sebagai Lee Kangin beserta Lee Jungsoo, dan namja kecil dalam gendongan Kangin yang tengah tersenyum sambil menatap ke arah kamera.
"Dia… dia.. Sung..min" ya.. Hankyung yakin namja kecil berusia sekitar empat tahun di dalam foto itu adalah Sungmin –putra dari Kangin-
Tubuh nya melemas, ia bersimpuh di sisi jalan itu sambil terus menatap lekat foto Sungmin kecil di dompet itu.
Tes..
Dan sukes membuat Hankyung menangis saat itu juga.
"Malaikat kecil… penolongku…"
.
.
~000oo000~
.
.
Kangin terus mondar-mandir di ruang ICU rumah sakit. Ia terus memanjatkan doa untuk keselamatan Sungmin.
Kangin sangat takut. Takut untuk kehilangan kedua kalinya.
"Kangin-ah.."
Kangin menoleh ketika melihat sosok namja cantik berlari tergupuh-gupuh ke arahnya. "Heechul hyung"
"Bagimana keadaan Kyuhyun dan Sungmin?"
Kangin menggeleng perlahan. "Mereka masih diperiksa, aku juga tidak tahu." Kangin tidak bisa banyak bicara. Ia tidak bisa berfikir tentang hal lain selain Sungmin.
Sementara Heechul langsung terduduk di bangku tepat di samping Kangin. Ia menetralkan nafasnya karena sejak diberitahu bahwa Kyuhyun dan Sungmin dibawa ke rumah sakit karena tertabrak Heechul segera menyuruh Pak Hwang untuk mengantarnya, bahkan Pak Hwang berkali-kali dibentak oleh Heechul untuk mempercepat laju mobilnya.
Pintu ruangan itu terbuka menampakkan seorang dokter dan beberapa perawat di samping kiri dan kanannya.
Kangin dan Heechul segera menghampiri dokter muda itu.
"Bagaimana keadaan mereka berdua Siwon-ah?" Heechul lah yang pertama kali membuka suara.
"Keadaan Kyuhyun sekarang sudah membaik hanya menderita luka lecet di beberapa bagian tubuh nya, tapi itu tidak akan apa-apa. Sedangkan Sungmin" Siwon menarik nafasnya dan menatap Kangin. "Sungmin kehilangan banyak darah, dan sayangnya rumah sakit sedang kehabisan stok darah golongan A. Kami membutuhkan pendonor.. lalu setelah itu akan kami jalani operasi terhadap Sungmin karena beberapa tulang belakangnya retak. Kondisi nya tidak bisa dikatakan baik saat ini" tutur Siwon sangat pelan.
Heechul bersyukur karena putranya selamat. Tapi ia juga takut ketika mendengar penjelasan Siwon tentang kondisi melirik Kangin, pria itu terdiam. Terkejut.. pastinya ia sangat terkejut mendengar bahwa Sungmin sedang dalam kondisi kritis.
"Golongan darahku B, tidak sama dengan Sungmin. Jungsoo lah yang sama." Kangin menggelengkan kepalanya frustasi.
"Aku juga.. " Lirih Heechul. Ia benar-benar sangat mengharapkan mukjizat dari Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Sungmin.
"Aku bersedia mendonorkan darah ku untuk Sungmin"
Suara itu sontak membuat Kangin, Heechul dan Siwon menoleh ke sumber suara. Mereka terbelalak ketika melihat siapa sosok itu.
"Yeobo.." ujar Heechul tak percaya. Hankyung datang dengan mata sembab seperti habis menangis dan mengatakan bahwa ia bersedia mendonorkan darahnya untuk Sungmin.
"Tunggu apalagi cepat ambil darah ku" sentak Hankyung.
Siwon pun mengangguk dan menuntun Hankyung untuk melakukan cek darah terlebih dahulu.
Kangin masih terdiam tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Hankyung datang dengan pernyataan yang mengejutkan. Orang yang telah membunuh istrinya, tapi saat ini.. orang itulah yang mencoba menyelamatkan nyawa Sungmin.
Heechul tersenyum haru melihat suaminya. Walau ia tidak tahu mengapa dengan cepat Hankyung untuk berubah, apalagi melihat tindakan Hankyung barusan.
Heechul menepuk bahu Kangin pelan. "Hankyung sudah berubah. Aku harap kau mau memaafkan dosanya di masa lalu"
Kangin tersenyum. "Aku sudah bilang telah memaafkannya. Bahkan setelah ini aku akan sangat berterima kasih padanya"
Di tengah rasa khawatir itu ada secercah kelegaan di antara Kangin dan Heechul. Takdir Tuhan memang selalu tidak terduga.
.
.
~000oo000~
.
.
Heechul kini tengah di ruang rawat Kyuhyun, kata salah satu perawat Kyuhyun masih di bawah pengaruh obat bius dan akan sadar beberapa jam lagi. Sejak tadi genggaman tangan Heechul tak terlepas sedikitpun. Inilah pertama kalinya semenjak ia meninggalkan rumah tiga tahun lalu menggenggam tangan putranya seerat ini. Ia menatap sangat lekat sepasang mata Kyuhyun yang tengah tertutup. Beberapa luka lecet menghiasi wajah Kyuhyun. Heechul meringis ketika tangannya menyentuh beberapa luka itu.
"Sakitkah?" tanya Heechul yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari Kyuhyun.
"Ini eomma.. bangunlah.. dan setelah itu kau boleh memarahi eomma sampai kau puas karena telah meninggalkan mu selama ini" lirih Heechul. "Tapi perlu kau tahu. Perginya eomma sangat beralasan dan tentu kau tahu alasan itu" sambungnya lagi.
.
.
.
Operasi Sungmin sedang berjalan, Kangin tidak sama sekali beranjak dari tempat duduknya, ia tidak sabar untuk menunggu lampu ruang operasi menyala yang menandakan operasi Sungmin selesai dan dokter membawa kabar bagus untuknya.
"Ehemm" suara deheman seseorang membuat Kangin menoleh.
"Hankyung?"
Hankyung berjalan mendekati sosok Kangin dan ikut terduduk. Ia menghela nafas nya, rasa gugup sangat mendominasi diantara mereka berdua.
Hankyung menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup dengan rapat. Ia menatap nanar pintu itu, tepatnya orang yang tengah berjuang antara hidup dan matinya. Sungmin tengah berjuang dengan bantuan darah Hankyung yang telah ia donorkan. Semoga saja itu bisa membantu keselamatannya.
"Terima kasih, karena telah bersedia mendonorkan darah mu untuk Sungmin. Jika tidak ada kau, aku tidak tahu, mungkin operasinya akan tertunda demi mencarikan pendonor darah." Ujar Kangin lirih.
Hankyung tahu Kangin adalah orang yang sangat baik, tidak peduli kejahatan apa yang dilakukan nya di masa lalu.
"Ku rasa ini adalah permintaan maaf ku pada keluarga kalian, atas kematian istrimu yang kau pasti tahu, akulah dalangnya. Ini hanya sedikit, hanya ini yang bisa kulakukan, aku tahu dosa yang telah kuperbuat lebih besar dari darah yang kuberikan pada anak mu" suara Hankyung bergetar. Ia teringat bagaimana rencana dirinya untuk membunuh Sungmin, menyuruh putranya menjauhi Sungmin. Pikirannya masih melayang pada foto itu. Foto yang sukses membuat Hankyung menangis di tepi jalan tempat kecelakaan itu terjadi.
Ting
Lampu operasi menyala, menandakan proses operasi telah selesai, Kangin dan Hankyung segera berdiri dan menuntut penjelasan pada sang dokter yang menangani proses operasi Sungmin.
"Operasi telah selesai, meskipun begitu Sungmin-ssi belum melewati masa kritisnya."
Seketika tubuh Kangin merasa lemas, untung saja dengan cepat ia meraba dinding untuk menahan tubuhnya yang agak limbung. Bagaimana bisa? Ia mengharapkan setelah operasi selesai ia bisa segera melihat Sungminnya. Tapi kenapa kondisi putranya sampai sekarang seperti belum menentu.
"Setelah diperiksa kembali, ternyata ada luka yang cukup serius di organ bagian dalam Sungmin-ssi. Kami berusaha semaksimal mungkin, karena kondisi Sungmin-ssi juga sangat lemah, itu berpengaruh pada proses operasi. Yang ia butuhkan sekarang adalah doa untuk keselamatannya" ujar dokter itu lagi.
"Tapi kau bisa menjamin kalau Sungmin akan sembuh kan, Siwon-ah?" tanya Hankyung.
Siwon menghela nafasnya. "Kami tidak bisa memastikan itu. Tergantung kekuatan tubuh Sungmin-ssi sendiri. Kami juga mengharapkan ada mukjizat dari Tuhan yang mampu membuat tubuh Sungmin-ssi kuat dan bisa melewati masa kritis nya. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, untuk selanjutnya kami akan mengadakan control secara teratur untuk Sungmin-ssi" setelah itu Siwon pun pergi bersama beberapa suster.
Hankyung melirik Kangin, entah bagaimana dirinya juga merasakan sakit ketika mendengar kondisi Sungmin masih kritis usai operasi. Padahal Hankyung berharap dengan donor yang diberikannya pada Sungmin dapat menyelamatkan namja cantik itu, tapi ternyata?
Hankyung menepuk punggung Kangin pelan mencoba membantu menenangkan sosok itu.
"Kita hanya perlu berdoa, dan yakin bahwa Sungmin bisa melewati masa kritisnya."
"Tapi bagaimana jika Sungmin lebih memilih tinggal bersama eomma nya di surga sana" lirih Kangin. Sangat tampak jelas raut frustasi di wajahnya. Ia benar-benar takut Sungmin pergi meninggalkannya.
"Hati-hati berbicara Kangin-ah, yang kau lakukan saat ini hanya cukup berdoa untuk keselamatannya." Ujar Hankyung.
Kangin terdiam. Ucapan Hankyung tadi ada benarnya. Ia tidak mungkin membayangkan yang tidak-tidak akan kondisi Sungmin selanjutnya. Tapi Sungguh.. ia ingin secepatnya Sungmin sadar dan kembali menemani haru-harinya dengan senyuman manis yang dimiliki putranya itu.
"Bagaimana keadaan Kyuhyun?" tanya Kangin.
Hankyung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini, masih saja memperdulikan kondisi orang lain. Dia tidak apa-apa, kata Heechul dia akan sadar beberapa jam lagi.
Kangin tersenyum. "Bagaimanapun juga anak mu telah telah berusaha menyelamatkan Sungmin sampai dia ikut terluka."
Hankyung tertunduk. "Betapa bodohnya aku.." lirih Hankyung. "Mungkin ini akan membuat mu terkejut tapi.. akulah yang menyuruh Kyuhyun untuk menjauhi Sungmin"
Kangin tertegun mendengar pengakuan Hankyung.
"Aku melarang Kyuhyun untuk mencintai Sungmin bahkan aku mengancam Kyuhyun dengan nyawa Sungmin jika ia tidak menuruti perintah ku. Kau boleh membenciku setelah ini, Kangin-ah"
Kangin akui memang ia sedikit emosi, tapi dirinya tidak bisa meluapkan emosi itu dengan mudahnya. Kangin adalah tipe orang yang berfikir terlebih dahulu baru bertindak.
"Memang ku akui sedikit merasa kecewa dengan mu Hankyung-ah.. karena kau terlalu dibutakan oleh kekuasaan yang mengelilingi mu" tutur Kangin.
"Aku tahu, aku orang yang paling kejam, paling bodoh, paling tak berperasaan_"
"Jangan menghakimi dirimu sendiri. Aku juga dulu berfikir bahwa akan membalas dendam padamu atas kematian istri ku, tapi seiring dengan berjalan nya waktu, aku menyadari bahwa itu hanya emosi sesaat dan setelah itu perlahan aku mulai menerima nya. Begitupun dirimu juga.. aku yakin setelah ini kau bisa hidup lebih baik dengan keluarga mu.. Heechul telah kembali, bahagiakanlah keluarga mu dengan kasih sayang.."
Hankyung tersenyum simpul. "Itu pasti.. aku tidak akan membiarkan kesalahan yang sama terulang lagi" ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, kesempatan di mana ia harus memberikan kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya. "Kau perlu tahu sesuatu, Kangin-ah"
"Apa itu?"
Hankyung mengeluarkan suatu benda dari balik kantung jas nya. "Ini" ucapnya sambil memberikan benda itu pada Kangin.
Kangin mengerutkan keningnya dan menerima benda itu dari tangan Kangin. "Ini dompet Sungmin"
Hankyung mengangguk kecil. "Aku menemukan dompet itu di lokasi penabrakan. Dan benda itu yang membuat ku menyesal telah berniat untuk membunuh Sungmin"
"Kenapa?"
"Karena foto itu" tunjuk Hankyung pada foto di dompet Sungmin.
"Ini foto keluarga ku saat usia Sungmin masih 4 tahun. Apa yang membuat mu menyesal?" tanya Kangin masih tidak mengerti dengan Hankyung.
"Ya.. foto itu.. foto Sungmin kecil.. yang membuat ku merutuki diriku sendiri telah berencana melenyapkan orang yang telah menyelamatkan ku di masa lalu.."
DEG..
Kangin semakin tidak mengerti dengan ucapan demi ucapan yang dilontarkan Hankyung padanya. "Apa maksudmu Sungmin kecil yang telah menyelamatkan mu di masa lalu?"
Hankyung menarik nafas nya dan membuangnya secara perlahan. Ia pun mulai menceritakan kejadian itu pada Kangin.
Flashback
"Berikan koper itu!" Bentak salah seorang berbadan kekar dengan jaket hitam yang dipakainya kepada namja berwajah oriental yang tengah meringis kesakitan karena tangan nya diremas kuat oleh lelaki kekar itu.
"Tidak! atas dasar apa aku memberikan koper ku pada mu?!" balas namja berwajah oriental yang diketahui bernama Cho Hankyung itu dengan sengit.
"BRENGSEK!"
BUGH..
"Argghhhh" Hankyung merasa perutnya terasa nyeri setelah diberi pukulan.
"Sekarang serahkan koper itu atau ku buat kau mati detik ini juga." Ucap namja bertubuh besar itu sembari mengeluarkan sebilah pisau dari saku jaket hitamnya.
Hankyung bergidik ngerik ketika melihat pisau itu. "Ku mohon.. jangan…" lirih Hankyung.
Namja bertubuh besar itu berdecih. "Jika ingin selamat cukup serahkan koper itu dan akan kulepas kan kau. Mudah bukan?"
Hankyung bimbang, koper itu berisi modal untuk menambahkan investasi perusahaan nya yang sedang terkena masalah. Jika ia memberikannya maka perusahaan nya terancam untuk gulung tikar sedangka ia mempunyai seorang istri dan anak lelaki yang masih berumur dua tahun. Mau dikasi makan apa keluarganya jika ia menyerahkan uang itu. Tapi jika tidak.. maka nyawa nya lah taruhannya. Jadi ia harus mengambil keputusan yang mana.
"CEPAT..!" bentak namja bertubuh besar itu sembari mengayunkan pisaunya.
"Ahjussi berhentttiiii"
BRUGG…
Anak kecil itu dengan tiba-tiba datang dan mendorong tubuh namja bertubuh besar itu dengan sangat kuat hingga tersungkur dan pisau di tangannya pun terlepas. Namja kecil berusia sekitar empat tahun itu berlari menuju tempat di mana pisau itu tergeletak dan mengambilnya lalu ia hanyutkan di selokan kecil yang tak jauh dari tempat nya.
"Heh… anak kecil pergi kau.. jangan sampai aku bermain kasar dengan mu" gertak namja bertubuh besar itu.
"Ayo sini Minnie gak takut ahjussi jelek week" tantang namja kecil itu sambil menjulurkan lidah nya mengejek.
Sementara Hankyung hanya cengo melihat keberanian bocah itu melawan namja yang jauh lebih besar darinya.
"Jangan lakukan itu anak kecil.." larang Hankyung.
"Tidak mau… ahjussi itu jahat dan harus dihukum.. kata appa.. orang jahat itu harus dihukum" namja kecil tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Aiisshh kau hanya menghambat rencana ku saja" dengan segera namja bertubuh besar itu bangkit dan menghampiri bocah kecil itu.
Sedangkan bocah kecil itu berjaga-jaga, ia menelusupkan tangannya ke kantung seragam sekolah yang ia kenakan. Rupanya bocah kecil itu mengambil sebuah pensil yang ujungnya sangat tajam, lalu ia genggam dan menyembunyikan di balik badannya. Sementara itu, namja bertubuh besar itu semakin dekat ke arahnya, bocah kecil itu tidak gentar sama sekali.
Ia siapkan pensil yang tengah digenggamnya itu.
"Arrggghh" jerit namja bertubuh besar ketika dengan cepat bocah kecil itu menyerangnya dan menusukan ujung pensil itu ke arah tangan namja bertubuh besar.
"Dasar bocah sialan!" dengan menahan sakit ditangannya akibat tusukan pensil dari bocah kecil itu, namja bertubuh besar segera bangkit kembali dan mendorong tubuh bocah kecil itu sangat kuat hingga tubuh bocah itu tersungkur.
"Ahhhh" ringis si bocah kecil ketika ia tersungkur di tanah dengan beberapa luka lecet di sekitar lengannya.
"Mau menangis eoh? Menangis lah dan segera pulang" ejek namja bertubuh besar itu.
Hankyung ikut meringis ketika melihat bocah kecil itu nampak menahan sakit di kedua lengannya, ia pun melangkah mendekati bocah itu dengan panik. "Hey.. sudah lah nak.. aku akan mengurus nya sendiri. Segeralah pulang sebelum kau terluka lebih parah lagi" ujar Hankyung.
Namja bertubuh besar itu sepertinya jengah dengan pemandangan di depannya. Dengan tak berprikemanusiaan, namja bertubuh besar itu segera menendang tubuh Hankyung hingga kembali tersungkur. Bocah kecil itu terkejut, ia menatap marah pada namja bertubuh besar itu.
"Ya ahjussi jahat yang jelek! Minnie kasi tahu.. appa Minnie adalah seorang kepala polisi Seoul jadi jangan macam-macam" ancam bocah yang menyebut dirinya Minnie itu.
"Kau mengancam ku? dasar bocah bodoh. Kau fikir aku percaya?"
"Lihat ini" Minnie pun mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi seseorang.
Hankyung dan namja bertubuh besar itu terkejut, hebat sekali bocah sekecil itu sudah memegang sebuat ponsel.
"Halo… appa.. ada orang jahat di sini yang pukul-pukul… hu'um.. di dekat taman yang sering Minnie main.. ajak juga ahjussi polisi yang lain appa.." adu bocah kecil itu dengan lucunya. Hankyung terkikik geli mendengar gaya bicara bocah itu yang sangat lucu.
"Mana? Mereka tidak datang… yang kau telpon itu siapa.._"
Belum selesai namja bertubuh besar itu bicara, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Namja bertubuh besar itu panik dan gelisah.
"Sial kau bocah" namja bertubuh besar itu lari luntang lantung meninggalkan Minnie dan Hankyung di taman itu.
Tak lama kemudian suara sirine itu berhenti.
Hankyung yang melihat kejadian itu sangat bingung. Kenapa suara sirine itu berhenti sedangkan ia tidak melihat satupun mobil polisi di sekitarnya.
"Kau benar-benar menelpon polisi?" tanya Hankyung.
"Eoh?" bocah itu menoleh ke arah Hankyung dan mengerjap lucu. "Tidak kok.. ini ponsel mainan, lihat ini" ujar bocak itu sambil memperlihatkan ponsel yang ternyata hanya mainan nya saja.
Hankyung melongo, "Lalu sirine tadi?"
Bocah itu mengerjap lagi lalu tersenyum dengan manisnya. "Itu alarm jam makan siang Minnie, hehehh"
Hankyung menggelengkan kepalanya, sangat menakjubkan ketika keajaiban mendatangi dirinya lewat bocah itu. Dirinya selamat karena bantuan bocah yang bahkan belum genap lima tahun.
"Terima kasih.. kau anak yang sangat baik, coba kalau tadi kau tidak datang dan menolong ku mungkin aku sudah menjadi mayat di tangan orang tadi."
"Kata appa, kalau orang butuh bantuan kita harus menolongnya." Jawab bocah itu.
"Tapi kau terluka, apa sakit?" tanya Hankyung.
Bocah manis itu menggeleng, sebenarnya ia berbohong, kedua lengannya sangat lah perih akibat bergesekan dengan tanah sewatu terdorong tadi. "Ahjussi lukanya" ujar bocah manis itu sambil menunjuk luka di wajah Hankyung yang tidak terlalu besar yang masih dialiri darah itu.
"Ini tidak apa-apa" sanggah Hankyung.
Bocah manis itu menggeleng, "Sebentar ahjussi" bocah manis itu berlarti ke arah tasnya yang tidak jauh dari tempat itu, ia mengeluarkan beberapa barang, Hankyung tersenyum kecil melihat kelucuan bocah manis itu, mendadak dirinya merasa rindu terhadap anaknya yang berada di rumah.
Bocah manis itu kembali dengan sebotol airputih dan plester luka ditangannya. Ia pun membuka tutup boto air itu dan membasahi tangannya, lalu ia usapkan dengan pelan pada luka di wajah Hankyung.
"Aw" Hankyung meringis ketika tanpa sengaja tangan bocah itu menekan lukanya.
"Tahan sedikit ahjussi" selesai dengan pembersihan luka nya, bocah manis itu membuka bungkus plester luka itu dan menempelkan pada luka yang telah ia bersihkan.
"Cha… sudah selesai" ujar bocah manis itu dengan riang.
Hankyung yang gemas melihat tingkah bocah itu langsung memeluknya dengan erat. "Siapa nama mu?"
"Ahjussi bisa panggil Minnie"
Hankyung mengernyit heran. "Minnie? Manis sekali.. semanis wajah mu" ujar Hankyung sambil mencubit pelan pipi gembul bocah itu. "Tapia apa kau yakin luka di lengan mu tidak apa-apa?"
Sungmin menggeleng lagi dan kemudian mendengus. "Manis lagi.. semua orang yang Minnie jumpai selalu bilang begitu."
"Memang itu kenyataan nya." balas Hankyung. "Kau tahu? Setelah kejadian tadi aku jadi punya keinginan"
"Keinginan apa ahjussi?" tanya bocah manis itu.
"Aku punya anak laki-laki yang mungkin lebih kecil usia nya dari mu. Kelak setelah dewasa nanti ahjussi ingin anak ku menikahi mu"
Bocah manis itu mengerjap bingung, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Hankyung padanya. "Menikah itu apa?" tanya nya polos.
Hankyung tersenyum. "Menikah itu.. kau dan anak ku menjadi sepasang suami istri."
"Eumm seperti eomma dan appa?" tanya nya lagi.
"Iya.. apa kau mau?"
Bocah manis itu mengangguk semangat.
"Kau tidak keberatan? Anak ku namja dan kau juga namja" Hankyung ingin memastikan, pasalnya ia tahu pikiran anak kecil mungkin masih suci, dan ia dapat memastikan bocah manis itu tidak terlalu mengerti maksudnya.
"Eomma Minnie juga namja"
Hankyung terkejut mendengar penuturan bocah manis itu, tapi setelahnya ia tersenyum itu mengartikan bahwa bocah manis itu mengerti.
"Ahjussi?"
"Hm?"
"Minnie pulang dulu ya… ini sudah waktu nya Minnie makan." Bocah manis itu mengambil tasnya dan menggendongnya.
"Sudah mau pulang ya? Baiklah.. tapi sekali lagi terima kasih atas pertolongan mu.." ujar Hankyung lembut.
"Oh ya.. ahjussi, nama anak ahjussi siapa?" tanya bocah manis itu.
"Kyuhyun.. Cho .. kelak kau harus menikah dengan anak ku." ulang Hankyung sambil mengacak pelan rambut bocah manis itu.
"Minnie pulang ya ahjussi.. pai.. pai…" pamit bocah manis itu sambil melambaikan tangan kecilnya.
Hankyung tersenyum, entah kenapa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Senyum bocah itu benar-benar membuatnya gemas. Tidak salah kan.. dirinya mengambil keputusan secara sepihak untuk menjadikan bocah itu sebagai calon menantu nya.
"Malaikat kecil penolongku.." gumam Hankyung.
Sementara itu bocah manis yang sedang berjalan menuju rumah nya itu memasang raut wajah berfikir yang sangat lucu. "Tadi nama anak ahjussi tadi siapa ya.. eummm kyu… kyu… siapa? Aisshh Minnie lupa.." bocah manis itu mengacak kecil rambutnya.
Flashback end.
Kangin terus memperhatikan dengan seksama cerita Hankyung. Ia sungguh tidak menyangka ternyata Sungmin telah terlebih dahulu bertemu dengan Hankyung.
"Saat aku melihat foto di dompet itu, aku yakin sekali bocah manis itu adalah Sungmin.. aku benar-benar menyesal.. sangat amat menyesal.. karena dengan teganya aku menghilangkan nyawa istrimu sedangkan anak mu bahkan telah meyelamatkan nyawa ku waktu itu. Kau boleh menghukum ku.. aku mengingat kata-kata Sungmin kecil mu bahwa orang jahat harus dihukum.. maka dari itu hukum aku, Kangin-ah.."
Kangin terdiam. Lalu setelah itu menepuk punggung Hankyung pelan. "Istri mu bahkan telah berkali-kali meminta maaf pada ku. Aku telah memaafkan semuanya, masa lalu adalah masa lalu, yang perlu kita lakukan adalah memikirkan hari ini dan masa depan.." ujar Kangin bijak.
Hankyung tidak dapat membendung air matanya. Ia menyesali perbuatannya di masa lalu, menghancurkan kehidupan sebuah keluarga yang bahkan mereka adalah orang yang sangat baik. Penyesalan memang selalu datang terakhir bukan?
"Kau lihat lah Kyuhyun.. aku ingin melihat Sungmin.. nanti akan ku jenguk putra mu. Aku belum pernah melihat wajah putramu.. pasti sangat tampan kan? Selama ini Sungmin hanya menceritakan saja."
"Terima kasih" tutur Hankyung.
Ddrrtt.. ddrrttt…
Hankyung mengangkat panggilan telepon untuknya. "Yeoboseo"
"Tuan Hankyung, kami telah menangkap anak buah Kang Junho, tapi sepertinya Kang Junho kabur. Dan kami sedang mengumpulkan bukti untuk menjebloskan Kang Junho beserta anak buahnya ke dalam penjara"
"Carilah bukti secepatnya. Usahakan Kang Junho dan anak buahnya mendapat hukuman seberat-beratnya"
Setelah itu, Hankyung bergegas menuju ruang rawat Kyuhyun.
.
.
~000oo000~
.
.
(Other side)
Sungmin perlahan membuka matanya. Ia terheran mendapati dirinya di tempat yang entah di mana. Mata foxy nya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia sendirian.. ke mana semua orang? Apa yang terjadi? Batin nya berkecamuk.
"Appa" panggil Sungmin namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Hyukjae-ah.. Donghae-ah.."
Tetap tidak ada sahutan.
"Kyuhyun-ah.." panggilnya lagi.
"Minnie-ah"
Sungmin segera mencari sahutan namanya. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu.
"Eomaaaa" teriak Sungmin dengan keras.
"Eomma di sini sayang."
Sungmin terpaku melihat sosok yang tampak begitu nyata di hadapannya. Ia memelankan langkahnya menuju sosok yang dipanggil nya eomma itu.
Langkahnya semakin dekat.
GREP..
Sungmin memeluk erat tubuh sang eomma yang sangat ia rindukan. Selama ini Sungmin hanya menemui eomma nya dalam mimpi itupun belum sempat ia memeluknya sosok itu langsung hilang, tapi saat ini.. ia bisa memeluk Jungsoo, bahkan jungsoo membalas pelukannya dengan hangat.
"Anak eomma kenapa ke sini?"
"Entah.. Aku lupa kenapa bisa ke sini.. eomma bogoshippo"
"Eomma juga merindukan mu sayang.. kau sangat manis.."
"Issh eomma.."
Sungmin sangat bahagia. Walaupun ia tidak tahu mengapa bisa di sini. Seingatnya ia tertabrak dan saat itu Kyuhyun juga memeluknya lalu setelah itu ia tidak tahu.
"Aku ingin di sini eomma"
"Lalu bagaimana dengan appa mu? orang-orang yang mencintai mu di dunia sangat banyak.. di sini sangat sepi"
Sungmin menatap Jungsoo. "Ini di mana? Surga kah.."
Jungsoo mengangguk.
Tubuh Sungmin menegang, ia tidak percaya akan tempat ia berpijak sekarang ini. Apa dia benar-benar telah mati?
"Ming.."
Sungmin dan Jungsoo terkejut akan kehadiran seseorang di antara mereka. Sungmin membulatkan matanya ketika ia tahu siapa orang itu.
"Kyuhyun-ah?" ujar Sungmin tidak percaya.
Kyuhyun berlari ke arah Sungmin dan menarik lengannya membawa Sungmin ke dalam pelukan seorang Cho Kyuhyun.
"Untuk apa kau ke sini?"
"Biarkan dulu seperti ini, Ming.. aku benar-benar merindukan mu" Kyuhyun terus memeluk erat tubuh yang lebih rendah darinya itu.
"Tapi_"
Jungsoo tersenyum lembut kepada Kyuhyun dan juga Sungmin. Ia bahagia ketika mengetahui bahwa anak nya telah ada yang mencintai selain dirinya dan juga Kangin.
"Kenapa kau juga ada di sini.. dan siapa itu Ming?" tanya Kyuhyun.
"Aku tidak tahu kenapa bisa ada di sini.. itu eomma ku.."
Kyuhyun terkejut. Eomma? Bukankah eomma Sungmin telah meninggal, tapi kenapa sosok di depannya itu begitu nyata.
"Ini di surga Kyuhyun-ah.. bagus kan.." ujar Sungmin sambil tersenyum.
Benarkah ini yang namanya surga? Kyuhyun benar-benar takjub. Lalu apakah dirinya dan Sungmin telah tiada di dunia nyata, maka dari itu mereka berdua dipertemukan di sini?
"Baguslah.. dengan begitu kita berdua bisa hidup bahagia di sini selamanya. Jauh dari orang-orang yang ingin mencelakai kita."
Sungmin menggeleng. Tiba-tiba Sungmin menarik tengkuk Kyuhyun, dirinya sedikit berjinjit untuk menyentuh bibir tebal itu.
Ciuman yang cukup singkat.
"Tempat mu bukan di sini" ujar Sungmin.
"Apa maksudmu, Ming?" tanya Kyuhyun heran, matanya seolah meminta penjelasan pada Jungsoo yang sedari tadi hanya tersenyum.
Saat itu juga ia melihat lingkaran putih sangat bersinar tepat di depan matanya.
Sungmin tersenyum. "Kau harus ke sana" titah Sungmin sambil menunjuk lingkaran putih itu.
"Tidak mau.. aku ingin di sini bersama mu"
"Tidak bisa Kyu.. aku ingin di sini menemani eomma" Sungmin menggenggam tangan Kyuhyun mencoba meyakinkan. "Pergilah.."
"Kalau aku pergi kau juga harus ikut bersama ku, Ming.."
"Aku tidak bisa menjamin itu, Kyu. Kembalilah"
Tanpa menunggu keputusan Kyuhyun, Sungmin pun mendorong tubuh Kyuhyun untuk masuk ke dalam lingkaran putih itu. Kyuhyun masih sempat melihat senyum Sungmin yang tampak begitu indah dan lembut. Senyuman itu pertama kalinya ia saksikan.. walaupun Sungmin sering menunjukan senyumnya. Tapi senyuman yang terakhir kali Kyuhyun lihat itu adalah senyuman yang sangat mempesona yang pernah Kyuhyun lihat dari seorang Lee Sungmin.
.
.
.
Apa arti senyuman Sungmin itu?
.
.
.
TBC
Kok jadi gini ya? #nunjuktulisandiatas
Haduhh otak saya lagi gak bisa diajak mikir.. maaf bila chapter ini mengecewakan.. semoga nggak yaaa…
Pada nebak siapa yg ketabrak kan… udah kejawab di chap ini.. ada yg nebak sungmin.. ada yg nebak Kyuhyun, dan ada yg nebak mereka berdua selamat. Tapi kalau ada yg nebak mereka dua-duanya ketabrak.. selamatttt… tebakan anda benar #tebarconfetti #digatakreaders
ammyikmubmik: hankyung gak dekat sama kangin kok dear… Kangin taunya Heechul aja itupun mereka gak terlalu dekat.. Hankyung gak setuju sama Sungmin karena Kangin-appa sungmin- dulu adalah saingan berat Hankyung.. mereka berdua memperbutkan salah satu tender dan Kangin lah yang mendapatkan tender.. dan untuk kesekian kalinya gara-gara kalah saing.. cho corp mengalami masalah lagi. Dan hankyung berkesimpulan bahwa Kangin lah yang membuat perusahaan nya mengalami kerugian besar karena dalam pikiran Hankyung 'coba aja kang corp gak ikut memperebutkan tender pasti cho corp lah yang mendapatkannya dan tidak mengalami kerugian yang sangat besar' kira-kira gitu fikiran hankyung. Gitu dear.. ^^
Special thanks for: (chap 9)
Cho MeiHwa, henlicopter, chkyumin, zaoldkyu, Ami Yuzu, Cho Adah Joyers, gyumin4ever, ammyikmubmik, zagiya joyers, bunnyblack FLK 136, abilhikmah, Kim Yong Neul, delimandriyani, hayjj, ShinJiWoo920202, reiasia95, Guest, 5351, Chika sparkyu, granialav, Guest, fariny. *Hug
Gomawo review nya… *bow ^^
SEE YOU AT NEXT CHAP~
