Four Season's
Chapter 10
"Aku tidak tahu apapun tentangmu, tapi kau selalu membuatku bergairah untuk menguak teka-teki yang kau berikan padaku."- Sungmin
"Jangan pernah menampakkan kelemahanmu pada kawan, karena hal tersebut bisa menjadi serangan telak jika dia berbalik menjadi lawan." –Eunhyuk
"Aku percaya pada teman-temanku, karena aku yakin mereka akan selalu disampingku dan mendukungku." – Ryeowook
"Aku takut untuk menerima, kau datang disaat aku telah terluka. Membuka kembali luka yang menganga dihatiku yang paling dalam."-Kibum
"Four Season's"
.
.
.
.
.
.
"hyungie~" panggil seorang namja berambut ikal pada orang yang dipanggil hyungie itu, yang kini sedang menatap pemandangan dari jendela, melihat rintik-rintik hujan yang kini sedang mengguyur kota Seoul.
"Yo Kyunnie~ kau sudah pulang?" tanya namja itu sambil memberikan senyuman yang sangat lembut dari bibirnya yang unik itu.
Namja yang dipanggil Kyunnie atau yang kita ketahui sekarang bernama Kyuhyun, mengerucutkan bibirnya kesal. Dia sangat marah pada sosok Hyung-nya itu yang memiliki umur setahun lebih tua darinya. Kyuhyun benar-benar ngambek padanya.
"Hyungie jahat!" serunya sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Namja itu tersenyum geli, dia benar-benar menyukai ekspresi dari namdongsaeng-nya itu. Benar-benar imut dimatanya. "Wae?" tanyanya pura-pura polos.
Kyuhyun memukul lengan namja itu dengan keras, sedikit membuantnya sedikit terhuyung kesamping. Sontak hal itu membuat Kyuhyun panic.
"Hyungie~ Gwechanayo?" tanya cemas.
Namja itu meringis menatap adiknya, ia tersenyum sambil mengelus kepala adiknya yang kini tingginya hampir menyamai dirinya. Dia mengangguk menenangkan, "Gwechana~"
"Hyungie sih, bikin Kyuhyun marah!"
"Wae?"
"Tentu saja karena hyungie tidak bilang-bilang akan kemari, eoh?"
Namja itu mengangguk-angguk, dirangkulnya adiknya itu sayang, "Habis Kyunnie sama sekali tidak menjengukku." Rajuk namja itu.
Kyuhyun terdiam, dia menundukkan kepalanya. "Bukannya tidak mau hyunggie, tapi tidak bisa~" lirih Kyuhyun.
Namja itu menatap Kyuhyun sendu. Dia tahu masalah yang terjadi antara adiknya itu dengan orang tuanya. Maka dari itu, dia lebih memilih untuk diam dan tidak membantu. Terlalu pengecut dengan masalah yang dihadapi oleh namdongsaengnya itu.
"Mian~"
Kyuhyun mengangguk, dalam sekejap wajah murung yang ditunjukkan oleh Kyuhyun itu berubah menjadi seringaian yang dibalas balik oleh seringaian namja yang dipanggil hyung itu.
"Lalu, bisakah Hyungie menceritakan sedikit pertualangan kakak kabur dari rumah sakit sekarang?"
"Hehe, aku mengelabui suster Huang untuk kemari. Aku bilang ingin ketaman dan saat dia lengah… aku langsung keluar dari sana dengan melompati pagar rumah sakit sana yang tidak seberapa itu." terang namja itu mengebu-ngebu.
Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar cerita dari hyungienya itu. Bisa dibayangkannya, sekarang pastilah para dokter dan suster disana kalang kabut mengetahui pasien VIP mereka kabur dari pengawasannya. Dan Kyuhyun membenarkan dengan pasti jika saat ini suster muda bermarga Huang itu akan diberikan sanksi atas kenakalan hyungienya itu.
"Wah, rumah barumu ini benar-benar suram Kyunnie~ benar-benar mencerminkan dirimu." Ujar namja itu tiba-tiba dan sangat blak-blakan.
Kyuhyun tersenyum maklum, "Tentu saja selain aku siapa lagi yang akan menyukai tempat seperti ini? Aku membelikannya dengan harga yang murah."
"Enak saja mengatai rumahmu yang keren ini. Siapa yang bilang tidak ada yang menyukai rumahmu ini? Aku menyukainya~"
Namja itu pun beranjak dari tempat itu, dijelajahinya rumah tanpa sekat dan dinding -benar tak habis pikir dengan apa yang dipikir namdongsaengnya itu. Bagaimana bisa kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur disatukan seperti ini? untung saja kamar mandinya tertutup, walau hanya ditutupi dengan sentuhan gorden saja.
Namja itu berdecak mengangumi interior rumah tersebut, disebelah kiri terdapat sebuah kamar tidur yang hanya terdiri dari kasur, lemari kecil, rak buku, dan meja belajar yang hanya terisi oleh laptop dan beberapa perangkat-perangkat lunak yang menghiasinya. Dan disamping kamar itu, langsung berhadapan dengan dapur yang dibatasi oleh sebuah mini bar yang dimana diatasnya tergantung gelas-gelas Kristal yang berkilauan dan mejanya yang berisi makanan-makanan ringan, berupa macam-macam cokelat dan biscuit. Namja itu menatap toples-toples yang berisi makanan itu lama.
Ditatapnya intens dapur tersebut dengan benar-benar khidmat, tidak ada yang khusus dari dapur tersebut, hanya peralatan dapur semestinya dan kulkas. Tanpa dikomando lagi, dibukanya kulkas itu dan mendesah kecewa, didalam kulkas itu hanya berisi beberapa minuman kaleng dan wine, mengingat adiknya itu yang menggilai minuman satu itu. sebenarnya, ia sebelas dua belas dengan namdongsaengnya itu. Namun, penyakit yang ia miliki membuatnya harus menahan hasrat untuk tidak mencicipi minuman itu.
Dia berjalan dari dapur itu dengan sedikit menatap tajam kearah Kyuhyun yang tersenyum remeh, ia tahu apa yang kini tengah dipikirkan oleh hyung-nya itu. "Tidak ada hyung. Kalaupun ada siapa pula yang mau memasakinya? Kau tahu sendiri kan bagaimana kemampuanku dalam hal itu."
Namja itu mencibir, lalu ia telusuri ruang tamu yang mencakup sebagai ruang keluarga itu. Temapt itu ditempati ditengah-tengah rumah. Posisinya benar-benar sangat strategis. Namja itu tahu jika sofa dan meja diruangan itu bukanlah benda-benda yang terlalu bermerk. Tapi karena tidak ada kesan khusus itulah membuat tempat itu enak dibuat sebagai tempat untuk bercakap-cakap. Dia menduduki sofa itu dan membuka chanel tv yang berada diseberang dapur. Dia membelakangi Kyuhyun yang kini tengah menatap hyungnya itu sendu.
"Terkadang, aku benar-benar iri padamu Kyunnie~" ujar namja itu tanpa menatap Kyuhyun.
"Hm." Kyuhyun hanya mengumam tak jelas, membalikkan badannya dan memandang pemandangan diluar yang lebih menyenangkan menurutnya.
"Saking irinya, sempat terpikir rasa ingin membunuhmu. Sayang, perasaan sayangku sebagai hyung membuatku urung melakukan itu."
"Aku tahu, karena aku juga merasakan hal yang sama."
Namja itu menolehkan badannya, "Kau membenciku?" tanya namja itu seperti mengejek.
"Saking bencinya, sempat terpikir rasa ingin mencekikmu sampai mati. Sayang, perasaan sayangku sebagai namdongsaengmu membuatku urung melakukan itu." jawab Kyuhyun sambil mencuri ucapan dari hyungnya itu.
Namja itu berjalan dan merangkul Kyuhyun dari belakang, "Benarkah? Apa yang kau benci dari tubuhku yang rusak ini Kyu?"
"Lalu apa yang kau irikan dari kehidupannku yang tak pernah dianggap ini Hyung?" balas Kyuhyun.
Namja itu menatap namdongsaengnya itu lembut, ia menenggelamkan wajahnya keceruk leher Kyuhyun. Mecari keamanan.
"Setidaknya aku bisa berpikiran dan bertindak bebas sepertimu, tanpa adanya ikut campur dari orang-orang itu. Aku ingin bebas Kyu, sepertimu~"lirihnya.
Kyuhyun tertawa dengan sangat keras, tawanya saat itu seperti mengejek. Wajah aslinya terbuka, dia memandang hyungnya itu tajam, setelah menyingkirkan tubuh hyungnya itu darinya. Dapat dilihatnya wajah shock itu yang detik berikutnya menjadi senyum kembali. Senyuman dengan topeng.
"Mwo? Bukannya harusnya aku yang iri Hyung? Setidaknya ka uterus yang selalu diperhatikan. Yang selalu dianggap anak emas. Sedangkan aku? Mereka menatapku seolah-olah telah melahirkan anak iblis. Aku bahkan diusir dari rumah~ apa salahku?" jerit Kyuhyun keras.
Namja itu terdiam, dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kyuhyun melihat itu dengan napas yang tersengal-sengal. Menatap hyungnya itu dengan bingung, "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dingin tanpa memangilnya dengan sebutan Hyung.
Namja itu memperlihatkan sebuah foto, dalam foto tersebut terdapat dirinya dan seorang yeoja yang tersenyum manis menghadap kamera. Kyuhyun menatap foto itu lama, terhinoptis dengan pemandangan yang dia lihat. Sesosok yeoja manis sekaligus cantik yang memamerkan senyumannya dari bibir merahnya.
"Nuguya?" tanya Kyuhyun penasaran, seakan-akan lupa jika sedetik yang lalu mereka sedang bertengkar. Namja itu tersenyum, ia mengelus kepala Kyuhyun-nya sayang. Ditatapinya adiknya itu dengan tatapan sayang bercampur benci menjadi satu. Entahlah hatinya sangat bimbang dengan keberadaan adiknya itu.
.
.
.
.
.
"Yeojachinguku, namanya Lee Sungmin. Dia adalah VINE ~"
.
.
.
.
.
Namja itu tersenyum lirih, dia menatap foto using itu lama. Tanpa sadar, tetesan-tetesan air mengalir dari pelupuk matanya. Masih teringat jelas, setelah mengatakan itu. Hyungnya pergi, bukan kembali kerumah sakit, bukan pergi ketempat orang-orang itu, dan juga bukan ketempat yeoja itu. Hyungnya itu pergi, pergi dari kehidupan mereka. Pergi tanpa jejak.
Dielusnya foto itu dengan sayang, perasaan sesal menguar dihatinya. Tak seharusnya ia mengucapkan kata-kata sekasar itu. Tak seharusnya ia mengeluarkan unek-unek yang selalu dia simpan itu. Tak seharusnya ia membuka topengnya sendiri didepan hyungnya itu.
"Kau dimana hyungie? Apa yang sedang kau rencanakan diluar sana?"
~"~
Yesung menatap langit-langit kamarnya kosong. Pikirannya kalut saat ini, ia benar-benar menyesali perbuatannya yang bodoh itu. Tidak seharusnya ia bertindak gegabah seperti itu. Tak seharusnya dia tergesa-gesa seperti itu. Dan lihatlah hasil dari perbuatan itu, bukan hanya kehilangan sosok yeoja dicintainya. Dia juga membuat yeoja terluka karenanya. Dia membuat status yang sangat rumit sekarang.
"Hhh, brengsek kau Yesung!" teriak Yesung keras, dia mengenggam sprei kasur itu kuat. Setetes air mata keluar dari matanya, dan ia mengigit bibirnya keras hingga berdarah. Ia kesal, ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia memukul-mukul kepalanya berkali-kali. Merutuki perbuatannya yang pabbo itu. Dia benar-benar kesal tanpa menyadari jika ada sosok yeoja berada diujung pintu kamarnya. Menatapnya tanpa berkedip.
"O-oppa~"cicit yeoja itu, sontak membuat Yesung menghentikan perbuatannya itu. Ditatapinya sosok itu dengan pandanga tak percaya.
"Kenapa kau ada disini?"tanya Yesung tak percaya. Yeoja itu tetap berdiri dengan takut-takut. Ia takut akan pandangan dingin yang diberikan Yesung padanya. Tapi, ia tetap memantapkan hatinya dan menghiraukan perasaan malu yang kini menghinggapinya. Ia pandangi wajah Yesung itu lembut.
"Bukannya kau sudah berjanji mentraktiku eskrim oppa? Aku menagih janjimu sekarang."
~"~
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Kibum kepada sosok yang sedari tadi terus berdiri didepan rumahnya sejak pagi.
Namja itu hanya tersenyum, memperlihatkan kedua dimplenya yang menggoda. "Kenapa? Tidak boleh?" tantangnya.
Kibum geram, ia tidak suka jika diganggu seperti ini. Apakah untuk hidup dengan tenang itu adalah sesuatu yang sulit? Mengapa namja didepannya ini selalu menganggunya? Apa salahnya?
"Tentu saja TIDAK, apa kau tidak tahu jika apa yang kau lakukan ini sama seperti penguntit?" sindir Kibum agar namja ini menyadari ketidaknyamananya.
"Oh, baguslah kalau begitu. Jadi, aku tidak perlu bersusah payah lagi untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Karena aku sangat yakin jika kau mengetahuinya." Balas namja itu yang tidak jera ataupun sakit hati dihina sedemikian rupa itu.
Kibum mengerang, ia benar-benar menyerah menghadapi tingkah namja aneh didepannya itu. Ia benar-benar tak habis piker dengan cara pikir namja itu yang terkesan menggelikan baginya. Suka? Dia pikir dengan apa yang ia lakukan sekarang, Kibum akan membalas perasaannya? Benar-benar bodoh!
"Bummie, sepertinya cuaca hari ini sangat mendukung untuk kencan, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajak namja itu tidak menyerah.
Kibum mendengus, ia tidak perduli jika cuaca hari ini cerah atau tidak. Yang penting baginya adalah memikirkan cara agar namja didepannya itu menghilang dihadapannya, hanya itu.
Tapi, sepertinya dewi fortuna memang ingin bermain-main dengan nasib yeoja cantik itu. Tanpa meminta persetujuan darinya. Dengan sekenanya, namja itu yang bernama Choi Siwon, langsung menarik pergelangan tangan Kibum dan pergi dari rumah kecil itu. Tanpa memperdulikan protesan dan bentakan yang keluar dari bibir semerah darah itu.
"Yakk, lepaskan aku kuda!" ronta yeoja cantik itu, mendengar panggilan yang diberikan oleh Kibum. Siwon langsung menghentikan langkahnya dan memandang Kibum kesal sambil mengembungkan pipinya, berupaya untuk aegyo.
"Yakk, kenapa kau memanggilku dengan sebutan hewan berkaki empat itu? Jelas-jelas aku lebih tampan dari hewan itu~"rajuk Siwon.
Kibum melongo, ayolah raut wajah Siwon kini terlihat lucu dimatanya. Bagaimana mungkin namja dewasa dan sewibawa Siwon, meski memiliki sisi egois dan kekanakan bersikap seperti itu. Hal itu langsung meruntuhkan image Siwon dimata Kibum ketika melihat ekspresi yang dikeluarkannya.
"Huahahaha, ekspresi macam apa itu? Kau pikir dengan aegyomu itu, kau menjadi terlihat imut? Hahaha, berkacalah Choi Siwon bahkan aegyo Kyuhyun terlihat lebih baik daripada itu."ejek Kibum tanpa bisa menghentikan tawanya. Ia benar-benar geli hingga memegang perutnya. Jujur saja, mulut Kibum terasa pegal sekali karena untuk pertama kalinya ia bisa tertawa selepas itu. Biasanya, dia hanya tersenyum tipis saja jika menanggapi hal-hal yang lucu dimatanya.
Melihat ekspresi yang dikeluarkan Kibum itu, sontak wajah Siwon memerah karena senang bercampur bahagia. Ia senang karena akhirnya Kibum mau berbicara dengannya tanpa adanya paksaan darinya dan dia tidak membentaknya seperti biasa, dan ia bahagia karena akhirnya dia bisa membuat yeoja didepannya itu memberikan ekspresi yang selama ini ia mimpikan tapi takut untuk membayangkannya. Tapi, prepesi itu menghilang dan menjadi sesuatu hal yang benar-benar indah. Kibum tersenyum, ah ani… lebih tepatnya tertawa. Ia tertawa untuknya, untuk Choi Siwon.
"Sudah dua kali aku melihatmu tertawa Bummie, kupikir aku tidak dapat melihatnya lagi dan menganggap yang pertama adalah sesuatu keajaiban dalam hidupku. Tapi, kali ini kau kembali tertawa untukku dan aku benar-benar merasakan kebahagian itu. Bolehkan aku berharap untuk satu itu, Bummie? Maukah kau tertawa hanya untukku?" ucap Siwon membuat Kibum terdiam, wajahnya memandang Siwon dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
~"~
"Bagaimana? Apa yang bisa kau dapat ketika melihat dari mereka?" Tanya seorang yeoja cantik yang memiliki tubuh bak model, membuat seluruh namja disana sesekali meliriknya. Membayangkan jika yeoja itu menjadi miliknya. Sayang, teman didepannya itu juga tidak kalah memesonanya darinya dengan setelan casual menghiasi wajah orientalnya.
"Hmm, aku pikir ketiga temannya itu bukanlah masalah yang sulit. Akan tetapi, aku benar-benar tidak bisa mendekatinya. Lebih tepatnya tidak punya cela karena penjagaannya benar-benar ketat. Aku tidak tahu jika disampingnya, ia memiliki kedua anjing yang benar-benar buas!" terang namja tampan itu sambil menyeruput kopi hitam yang ia pesan itu.
"Kedua namja itu bernama Kim Donghae dan Cho Kyuhyun."jawab yeoja cantik itu.
Dahi namja itu berkerut, "Kyuhyun? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" namja itu melirik yeoja itu meminta jawaban.
"Apakah kau lupa? Jika si 'VINE' memiliki adik yang seperti duplikatannya. Adik yang selalu mengikutinya dan sangat membencinya." Yeoja cantik itu menyeringai, mata pandanya menyipit dan tenggelam dalam eye smile yang ia cipta itu. Benar-benar cantik sekaligus menyeramkan.
Mata namja itu melotot kaget, seakan tidak percaya. "Jadi… maksudmu Cho Kyuhyun adalah adiknya? Astaga, bukankah itu adalah hal yang sangat merepotkan? Kau tahukan jika itu bisa saja menganggu rencana kita?"
"Tenanglah Kris, aku sudah menanyakannya pada VINE dan ia bilang tidak apa-apa, selama kita tidak mengacau rencananya."
"Hmm, lalu bagaimana dengan Kim Donghae itu? Apakah kau juga mengetahui siapa dia?" Tanya namja tampan bernama Kris itu.
Yeoja cantik itu menggeleng, tapi tiba-tiba saja ia merasa geram dan tanpa sadar mengenggam cangkir ditangannya hingga retak. "Aku tidak tahu siapa dia, tapi dia berhasil mengacaukan system yang kubuat dengan susah payah itu seperti membalikkan telapak tangan."
Kris menatap sosok didepannya itu menyeringai. "Jadi kau tertarik dengan namja itu, Tao-er~"ucapnya menatap sosok yeoja didepannya itu yang sedang menggeram marah.
"Tentu saja, aku benar-benar tertarik hingga ingin menghancurnya!"desisnya tajam.
To be continued
