~My Lovely Guardian.~
Chapter X
Disclaimers = Naruto © Masashi Kishimoto
My Lovely Guardian © Viviankiba
KibaHinata , Saiino, someoneino
Warning: OOC, OC Typos, Gaje
Genre: Friendship, Hurt/comfort, Romance, Family
Rate: T
Please R&R
Prolog
Neji menutup telefonya tanpa berkata apa apa.
"Apa yang terjadi?" Hiashi bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya Hyuuga klan Bawah itu langsung mengambil kunci mobil dan melesat pergi dengan sedan miliknya itu.
. . .
Sementara itu….
"Ino-chan,ada apa?" kata seseorang kearah Ino yang sedang menangis di bangku taman Konoha.
"Sai-Kun, Jawab aku dengan jujur." Kata Ino smbil menghapus air matanya.
"Kau kenapa?" Sai mendekat dan duduk disamping Ino.
"Sai-kun, apa kau…" belum sempat meneruskan kata katanya, Sai menarik Ino dalam pelukanya "tenanglah!"
Ino mendorong tubuh sai menjauh darinya.
"Ada apa Ino? Sai bertanya.
"Kenapa kau pergi ke Amegakure waktu itu." Tanya Ino tegas.
"Aku, tentu aku kesana untuk bisnis." Jawab sai cemas.
"Kau yakin bukan untuk melarikan diri bersama kekasih gelapmu. yang sekaligus kau merebutnya dari kiba."
"Ino-chan, itu tidak mungkin." Kata sai membela-diri
"jangan bohong! Aku sudah tau semuanya." Ino bangkit dari duduknya.
"Dari mana kau tau semua itu?" Tanya Sai.
"ga penting dari mana aku tau. Yang penting kita sekarang putus!" Kata Ino yang kemudian menangis dan berlari.
Terus berlari hingga ia tidak menyadari ada seseorang didepannya.
BRUUUK….
BACK to Neji.
"Tenten, bagaimana keadaan Hinata."Kata Neji setelah menemukan tunangannya tersebut.
"Entahlah sekarang sedang diperiksa dokter. Hiks, hiks" kata tenten yang masih terisak.
" Kau tenang saja Hinata pasti akan baik baik saja. Kau tunggu disini dulu. Ada sesuatu yang harus ku selesaikan. Kabari aku kalau ada perkembangan." Setelah menjelaskan Neji langsung melesat pergi.
.
.
.
"Tenten, Bagaimana keadaan Hinata?" Tanya Hikari tiba-tiba.
"Maaf, Hikari-basan, ini salah saya." Jawab Tenten.
"Salah kamu? Maksudnya apa?" Hikari mulai marah.
"Bukan apa apa." Kata Neji yang tiba-tiba muncul dari belakang Tenten. "Hinata kecelakaan. Dan sekarang sedang diperiksa dokter, kita tunggu saja hasilnya."
"Kenapa bisa kecelakaan." Emosi Hikari mulai meluap.
"Ini musibah." Jawab Neji singkat. "Tenten-chan, tolong belikan minum ya! Aku haus."
"Baik Neji-kun." Jawab Tenten seraya permisi.
.
.
.
Back To Ino….
"Aduuh" Ino duduk sambil memegangi sikunya yang sakit.
"Nona, maafkan saya. Saya tidak sengaja." Kata seseorang yang ditabrak Ino.
"Ti-tidak seharusnya saya yang minta maaf. Saya yang menabrak Anda." Jawab Ino yang sekarang berdiri dan membungkuk meminta maaf.
"Sama-sama saya juga minta maaf" orang itu balas membungkuk. "sepertinya Anda terluka." Sambungnya.
"Tidak ini tidak apa apa. Ini cuma luka kecil." Jelas Ino.
"Sepertinya sakit ya, Anda sampai menangis begitu." Kata orang itu begitu melihat mata ino yang masih berkaca kaca.
"Ah…" Ino terkejut.
"Sini biar saya obati." Orang itu menarik tangan Ino dan menempelkan plester luka di siku Ino.
"Terima kasih"
"Sudahlah. Oh ya Namaku Shikamaru Nara." Katanya sambil menjabat tangan Ino.
"Saya, Ino Yamanaka. Senang berkenalan dengan Anda. Shikamaru-san."
"eemm, sebagai permintaan maaf, gimana kalau kau ku traktir makan malam di kantin rumah sakit. Kebetulan aku lagi ga ada pasien dan jangan ditolak ya." Tawar shikamaru sekaligus memaksa.
Ino menerima tawaran dari dokter Shikamaru. Senyum mengembang dari bibir Ino.
"Begitu lebih cantik," Ino terkejut dengan pujian Shikamaru.
Merekapun pergi ke AYAME FOOD COURT.
.
.
.
"Ino-san, terimakasih sudah mau makan malam bersamaku."
"Bukannya, kau yang memaksa Shika-sensei."kata Ino sambil cemberut,
"Sensei? Jangan panggil aku seperti itu." Kata Shikamaru sambil meninju pelan bahu Ino.
"Ih, sakit tau…" Ino ngambek.
"Sini aku obati deh. " Shikamaru menggoda Ino. "Ngomong ngomong, apa ada yang marah kalau aku ajak kau makan seperti ini?"
"Tidak tentu saja tidak.!" Jawab Ino dengan nada tinggi.
"Eits, jangan marah gitu lah… Aku kan cuma tanya. Ngomong ngomong kau kesini jenguk seseorang ya?"
"Nggak, aku nganterin temanku. Aku malah belum tau keadaannya." Jawab ino sambil menyantap Takoyaki yang telah tersaji.
"Siapa? Mungkin dia salah satu pasienku." Tanya Shikamaru.
"Kiba Inuzuka."
"Ohh, Kiba-chan, dia baik baik saja."
"Shikamaru-san, Kiba-san pasienmu?"
"Tentu, aku harus menanganinya dia kan adikku."
"Adik?"
Shikamaru menceritakan bahwa 20 tahun yang lalu, terjadi perampokan yang membunuh ayah dan ibunya. Kemudian dia diangkat anak oleh keluarga Inuzuka. Namun, dia tetap menggunakan nama Nara sebagai Klannya agar Klan tersebut tidak hilang. Shikamaru dan Kiba sudah seperti saudara kandung sendiri.
Malam itu Ino dan Shikamaru, menghabiskan malam berdua dan Shikamaru juga mengantarkannya pulang ke rumah.
.
.
..
Dokter Shizune keluar dari kamar Hinata. Naruto langsung menanyakan keadaan Hinata.
"Kalau Hinata bisa sadar hari ini juga itu bagus, tapi kalau tidak itu akan memperburuk keadaannya." Jelas Shizune. "kalau kalian mau menjenguknya silahkan saja. Tapi kami akan pindahkan ke ruang VIP dulu."
"VIP?" Tanya Hikari terkejut.
Shizune permisi, sambil menyuruh perawat untuk memindahkan Hinata, keruang yang dimaksud.
.
.
.
"Neji-kun, bagaimana keadaan Hinata-chan?" Tanya tenten setelah menyerahkan minuman dingin untuk Neji.
Neji menjelaskan semuanya seraya duduk dan menegak minumanya.
"Siapa yang memasukannya ke kamar VIP? Kau tau kan kita lagi bangkrut sekarang!"bentak Hikari.
"Neji, tenten apa ini ulah kalian?" Hiashi ikut bertanya.
"bukan ojii-san. Saya hanya membawanya kesini dan hinata dibawa ke IGD lalu neji-kun datang. Urusan kamar saya tidak tahu sama sekali." Jawab Tenten ketakutan.
Neji menjelaskan bahwa ini semua usul Tsume-bachan. Sebelumnya Neji ke kamar Kiba dan menjelaskan semuanya. Lalu Tsume menawarkan untuk menanggung semua biaya perawatan Hinata. Kebetulan bisnis Tsume yang ada di Amerika sudah kembali membaik sedikit demi sedikit. Jadi untuk membayar perawatan KIba dan Hinata bukan merpakan kesulitan yang besar.
"Dasar sombong sekali dia." Ketus Hiashi.
"Jangan begitu, bukan kah Tsume teman baik kalian. Dan Hinata menyukai anaknya kan?" jelas Minato.
Semua yang ada disana hanya diam. Mereka pergi ke kamar Hinata untuk menjenguknya.
~Skip time~
Fajar sebentar lagi menyingsing, Namun, hinata belum juga menunjukan tanda-tanda akan siuman. Keluarga Uzumaki masih ada disana. Kali ini ditambah Hanabi yang diantar oleh pak Lee. Hikari menangis takut kalau Hinata tidak segera bangun.
"Hinata-chan, bangunlah…." Isak Hikari.
"Bersabarlah" kata Hiashi.
"Tenten-chan, kau pulang saja duluan, Biar pak Lee yang antar." Tawar Neji.
"Tidak, Neji-kun. Aku masih mau disini."
"Baik kalau begitu aku ga akan memaksa, Aku akan keluar sebentar" Neji melepas jaketnya dan memakaikannya pada Tenten.
"Hinata-chan. Ayo bangunlah, kami semua mengkhawatirkanmu." Kushina membela rambut indigo Hinata.
"Aku- aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan kita Hinata, Kau senangkan? Tidak, bukan. Aku akan membatalkannya kalau kau segera sadar. Dan aku akan rela melepasmu bersama Kiba. Kau dengar aku kan? Jadi bangunlah Hinata." Kata putra tunggal Minato tersebut sambil tersenyum.
JGLEEK.
Seorang dokter datang ke kamar Hinata. Dia mulai memeriksa keadaan Hinata dengan teliti. Begitu selesai dokter itu langsung diserang dengan pertanyaan yang sama dari semua orang yang ada disana. Yaitu bagaiman keadaan Hinata. Ia memulai penjelasannya dengan hati hati. Ia tidak mau membuat keluarga itu shock karena keadaan Hinata sekarang.
"Maaf, Hnata sekarang mengalami koma. Kami sudah berusaha sebaik-baiknya. Tapi sekarang kita hanya tinggal menunggu keajaiban saja. semoga Hinata bisa bertahan"
"Apa?" Hikari langsung shock mendengar hal tersebut. Ia pun jatuh pingsan.
"Hikari-bachan!. Teriak Tenten panic.
Hiashi langsung membaringkannya di tempat tidur yang disediakan khusus. Dan dokter tersebut memeriksannya. Setelah selesai dokter yang diketahui bernama shizune itu, minta izin untuk pamit.
.
.
.
Skip time~
Waktu menunjukan pukul 9.00 PM. Satu hari telah berlalu Hinata masih dalam komanya. Neji yang meminta izin untuk mengantarkan Tenten pulang belum juga kembali. Sedang Kushina sudah pulang tadi siang. Begitu pula dengan Hanabi dan pak Lee.
Jgleeek
Pintu kamar Hinata dibuka. Neji Hyuuga muncul dari balik pintu. Diikuti pemuda yang mengenakan baju pasien RS Konoha Pusat.
"Kiba-san?" semua yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah Kiba. "Siapa yang menyuruhmu datang kesini?" emosi Hikari memuncak.
"Saya yang suruh, baa-san." Jawab Neji tegas. Hikari bangun dari tempat duduknya dan mengusir Kiba pergi. "Pergi kau dari sini!"
"Tunggu jangan seperti itu, Hikari san!" Minato menambahkan. "Bukannya keluargannya yang membayar semua perawatan Hinata. Nanti bisa-bisa dia mencabut semua keputusannya"
"Tidak apa-apa, Ojii-san. Saya tidak akan mencabut penanggungan biaya ini. Jadi kalian tenang saja. Hikari-bachan. Saya hanya minta waktu lima menit saja. saya mohon." Kata Kiba sambil menatap sosok Hinata yang masih terbaring di ranjang.
"Baiklah, tapi hanya 5 menit saja."
Kiba berjalan menuju ranjang Hinata diikuti Neji yang sejak tadi memegangi Infus Kiba, digantungkannya infuse tersebut pada tiang infuse Hinata dan Nejipun menjauh dari sana, memberikan ruang untuk Kiba dan Hinata.
Kiba meraih tangan Hinata. Digenggamnya tangan seseorang yang tulus dicintainya tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menggengam tangan Hinata erat-erat. Menundukan kepalanya dan meletakkan dahinya di punggung tangan Hinata. Hanya Hikari yang menghitung menit demi menit waktu yang dia berikan. Hikari membuka mulutnya mengingatnya bahwa waktunya tinggal satu menit lagi. Kiba masih tidak bersuara hingga Hikari memberitahunya bahwa wahkunya telah habis. Kiba berdiri dari duduknya dan perlahan ia meletakkan tangan Hinata kembali.
"Jangan pergi!" terdengar suar lembut, lemah dan sedikit serak.
"Hinata-chan?" Semua orang menoleh kearah sumber suara itu.
" Jangan pergi!" pinta nya lagi sambil terus menggenggam tangan Kiba.
"Aku mau, aku ingin. Tapi aku hanya meminta waktu 5 menit dan sekarang waktuku sudah habis" Kata Kiba sambil memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan Hinata.
"Sebenarnya aku sudah bangun dari menit pertama sejak Kiba-kun menggengam tanganku," Kata Hinata menaikan volume suaranya.
"Aku sudah tahu." Jawab Kiba singkat.
"Kau sudah bangun Hinata-chan? Tapi kenapa kau diam saja dan tidak membuka matamu?" Tanya Hikari yang langsung berlari kearah Hinata.
"Aku terus menutup mataku dan berharap agar waktu berhenti. Tapi itu sia-sia kan?" Kini airmata nya mulai berjatuhan.
"Dari mana kau tau itu Kiba padahal Dia tidak bicara sedikitpun sejak kau sadar?" Tanya Naruto.
"Tentu saja aku tau, aku merasakannya." Jawab Hinata terisaak.
Hikari berusaha menghapus airmata Hinata namun tangannya ditahan oleh Hinata. Kiba berjalan menjauh dan menuju pintu. "Jangan pergi!" suara seseorang menghentikan langkah Kiba namun kali ini bukan suara Hinata, tapi suara Hikari. Kiba menoleh.
"Aku memutuskan untuk memberimu waktu lagi, kemarilah!." Kata Hikari. Tanpa pikir panjang Kiba segera berbalik dan segera menuju ketempat hinata. Dan menghapus air mata Hinata."Berapa lama? Kaa-san memberi waktu untuk Kiba-kun?" Tanya Hinata kesal.
"Seumur hidupnya. Seumur hidup Kiba. Dia boleh dan harus mendampingi mu." Kata Hikari sambil tersenyum.
Hinata dan Kiba terkejut dan mengedarkan pandangan mereka keseluruh orang yang ada disana meminta persetujuan. Semua orang yang ada disana mengangguk setuju termasuk Naruto.
~THE END~
An Author Note:
To : All Lovely Reader.
Arigato udah mau baca FF buatanku. Arigato juga buar semua reviewer. Maaf kalau masih banyak typos, n ceritanya aneh banget, juga gomen buat yang suka Sai, atau SaIno lover. Gomen juga karena baru bisa Update. Tapi ini langsung ku update smuanya kok. Maaf juga ceritanya jadi kaya' sinetron, trus tokohnya KIBAHINA terus di 2 FF yang ku buat tapi aku emang suka ma Kiba Inuzuka n Hyuuga Hinata. But ARIGATO MINNA~SAN.
Sincerely yours
Author
Vivian Kiba
