Croire

.


Jadi Wonwoo sudah mendeklarasikan bahwa dirinya terima untuk menjadi omega meskipun dia sendiri tidak tahu akan menjadi apa dirinya nanti, mengesampingkan pandangan stereotipnya selama ini. Namun tekad yang sudah ia bangun kuat jatuh secara tak terduga. Hati Wonwoo sudah mati, dan dia tidak dapat merasakan apa-apa lagi.

Meanie and other SEVENTEEN member, a bit of other member group nor actor.

M for sexual content and languange.

Fantasy, drama, romance, angst.


Chapter 10: Croire

.

Yang pertama Wonwoo lakukan setelah Jungkook pergi dari apartemen adalah ia berakhir dengan minuman keras. Sebenarnya ia bukan seorang posesif dalam menjaga adik, tetapi mengingat dirinya dan sang adik pernah terpisah beberapa tahun menimbulkan rasa tanggung jawab dalam dirinya terus bertumbuh. Belum lagi ia merasa bersalah karena mengharuskan Jungkook beberapa malam setiap bulan untuk menginap di kamar Soonyoung agar tidak terganggu akibat heat Wonwoo, sungguh kakak macam apa dia ini?

Satu orang yang Wonwoo sayangi pergi lagi merupakan satu-satunya hal paling terakhir yang Wonwoo inginkan terjadi. Ia tidak tahu kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi setelah kesadarannya terenggut oleh beberapa gelas alkohol. Dan Wonwoo menjamin dapat menoleransi risiko apa saja yang menghampirinya akibat tindakan konyol yang ia buat setelah terjerat akan nikmatnya mabuk minuman keras selama ia menikmati proses itu. Hal yang ia ingat terakhir kali adalah ia berjalan membawa botol beling menyusuri setiap jalan raya yang ia temui. Lalu semuanya gelap.

.

Wonwoomencengkram kepalanya kesakitan, ia pernah merasakan menghantam batang pohon atau terantuk kapak tumpul yang ia gunakan untuk permainan tetapi nyeri di kepalanya saat ini jauh lebih hebat. Setelah menyadari bahwa ia mengenakan pakaian yang terakhir kali bukan dipakainya serta terbangun di ruangan asing yang sama sekali tidak dikenalinya, maka Wonwoo dengan linglung beranjak.

Ia melangkah menuruni kasur dan mencari segelas air demi kerongkongannya yang kering, namun limbung seakan seluruh dunia berkonspirasi untuk menumbuk otaknya dan menyatukannya dengan tanah pada saat itu juga. Hampir kehilangan keseimbangan seseorang menangkapnya dan Wonwoo mulai merasakan guncangan lain di tubuhnya yang mendera. Ia meringis tertahan namun cukup indah untuk disembunyikan.

Ia mengumpulkan segala tekad untuk memahami keadaan sekitar. Semua hal di sekitarnya terasa benar-benar asing, namun lengan yang menahan pinggulnya saat ini terasa familiar. Ketika mendongakkan wajahnya demi melihat tuan-lihai-penangkap ia menenggak ludahnya kasar yang sebenarnya imaji. Wonwoo ingin menyemburkan apapun dari dalam mulutnya tetapi itu tidak kunjung terjadi karena isinya saat ini benar-benar kering. Ia mundur perlahan dan bertumpu pada kasur, kemudian duduk untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.

"Kau baik-baik saja? Apa perlu aku pijat atau kau ingin bercerita lagi?" Kata seseorang itu.

Wonwoo memijat keningnya yang pening dan memejamkan mata erat-erat, masih berusaha untuk memahami keadaan. Sebelum pria di hadapannya menawarkan hal-hal lain Wonwoo mengangkat tangannya untuk menghentikan tawaran-tawaran manis lainnya.

"Dimana aku sekarang?" Ia bertanya risau.

"Kamar sewaan dekat pantai, kau yang bilang sendiri ingin ke pantai?" Orang itu bersidecak, ia mengenakan celana pendek putih dan kemeja bunga-bunga yang norak.

"Tetapi bukan berarti kau harus menurutinya, Kim Mingyu." Wonwoo terbangun dan mendorong Mingyu. Ia berdiri menghadap jendela demi menemukan sepercik cahaya mentari di sana yang sedari tadi terhalang oleh tubuh besar Mingyu. "Dan bagaimana kau menemukanku? Apa kau semacam stalker dengan obsesi aneh?"

Mingyu mengerutkan dahi. "Jangan bilang, kau benar-benar tidak mengingat kemarin?" Mingyu melangkah mendekati Wonwoo meski ia terlihat acuh dan masih membelakanginya juga merapatkan baju handuk yang ia kenakan.

"Apa? Apa semalam kau menari striptis? Karena sungguh aku bersyukur tidak dapat mengingatnya." Ujar Wonwoo asal.

Mingyu mengusap wajahnya kasar. "Seharian kemarin, kau benar-benar tidak ingat?"

Wonwoo berbalik menemukan Mingyu dengan wajah terheran. "Apa?"

Mungkin beberapa detik ke depan Wonwoo akan melamun demi menantikan flashback semalam yang ia harap sungguh terjadi. Terlalu banyak yang dilakukannya kemarin. Ia minum bergelas-gelas martini, ditambah beberapa botol alkohol yang lain setelah itu berdansa untuk meringankan pikirannya.

"Kau menghampiriku yang sedang dalam perjalanan pulang malam itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena sepertinya kau mabuk kau datang dan tiba-tiba menciumku di tempat sehingga teman-temanku mempersilahkan ku mengerjakan tugas terpisah. Kau sedang menangis saat itu ngomong-ngomong. Lalu kau tidak berhenti bercerita, berharap menjadi penjaga pantai tetapi keadaan fisikmu tidak mendukung. Makanya aku membawamu kemari. Kau juga tidak dapat berhenti menyalahkan dirimu atas kepergian Jungkook, well dia hanya pindah 5 blok darimu.

Yang disayangkan yaitu kau tidak dapat melepas botol alkoholmu walaupun sudah kosong, setelah berhasil ku buang kau bolak-balik ke supermarket untuk membeli berkaleng-kaleng beer. Lalu kita berdua bertukar cerita dan minum di trotoar sampai dini hari. Aku cukup menggila karena tiba-tiba saja kau heat. Aku berlari mencari toko obat dan membeli suppressant, dan kau tidak dapat berhenti menciumku juga menggodaku, you are the king of foreplay." Mingyu terkikik dan Wonwoo meninju bahunya tidak main-main. "Tapi aku akui kau sungguh hebat. Meskipun kau berakhir tertidur 20 jam setelahnya. Dan beer lagi. Oh ya sekarang hari Minggu."

Wonwoo tidak menggubris. "Bagaimana pestanya?" Isak Wonwoo. Ia melewatkan pestanya. Yang pertama karena mabuk, yang kedua karena heat. Yang ketiga karena ia dan Kim Mingyu berada di tempat asing.

"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu mengkhawatirkan pestanya. Prioritasku saat ini adalah keadaanmu."

Wonwoo menundukkan wajah karena malu. Bukankah sejak awal selalu ia yang berdiri keki? Tetapi kini Wonwoo yang menghampirinya dan meminta Mingyu agar ia mengisi celah di sela rasa stressnya yang melanda.

"Hyung, selamat ulang tahun." Mingyu mengangkat wajah Wonwoo dengan telunjuknya yang tertekuk hanya demi menemukan raut bersalah di sana, tetapi Mingyu membalasnya dengan tatapan teramat lembut. "Biar bagaimanapun walaupun kau mabuk sambil heat, hangover seharian tidak mengingat quality time kita. Tetapi yang aku ketahui; kau akan mengingat itu dan pasti, menurutmu pengalamanmu menghabiskan waktu denganku akan kau sebut istimewa. Kau mencintaiku."

Wonwoo merotasikan matanya malas. Rasanya watak kepercayaan diri akut Kim Mingyu muncul lagi. Bukan sensasi kupu-kupu menggelitik menagihkan yang muncul dalam perut Wonwoo akibat ucapan Mingyu, ia malah merasakan asam lambungnya naik dari cara Mingyu berbicara. Ya berlebihan.

Apa yang akan Wonwoo lakukan sebagai pria acuh yang suka sekali mengabaikan perasaan orang lain tetapi harus memiliki alpha dengan tingkat kepercayaan diri yang menakutkan?

"Aku lapar dan merana. Aku berpikir dapat bergantung padamu demi seporsi makanan daripada berharap kepada nyamuk malaria di kamar ini okay?" Wonwoo merenggut dengan suara sarkatik khas miliknya, mengusap perutnya sambil menatap Mingyu ganas. Tetapi yang dilakukan pertama oleh Mingyu adalah maju selangkah dan memeluknya dari belakang. Meski Wonwoo terlihat tenang pertamanya dan hanya melemparkan tatapan jengkel penuh kewaspadaan, akhirnya karena risih ia menepis lengan Mingyu. "Apa yang kau lakukan?" Bentak Wonwoo keki.

"Mengucapkan selamat pagi kepada omegaku." Jawabnya.

Wonwoo menggumam untuk beberapa saat. "Kau tidak serius, yang aku rasakan hanya nyeri di kepalaku bukan leherku." Wonwoo terkekeh disengaja, bahkan terdengar dibuat-buat.

"Mau bagaimana lagi?" Tekan Mingyu. Bersamaan setelahnya ia mengusap perut Wonwoo lagi dengan lembut.

"Apa perasaanku saja atau kau sedang meraba perutku sejak tadi?" Wonwoo bertanya sedikit tersentak, matanya bulat penuh amarah, ia melangkah kemudian menghadap Mingyu.

Mingyu terduduk pada kursi meja rias dan menahan tangannya di dengkul. "Aku ingin anak laki-laki." Kemudian tersenyum simpul.

Wonwoo menyipitkan matanya tidak mengerti. Ia baru bangun dan mengalami hangover parah kemarin seharian dan pagi ini, dan nama terakhir dalam list harapannya muncul begitu saja.

"Jangan bilang kau tidak pakai pengaman?"

Mereka berdua terdiam, menghayati ekspresi tenang Mingyu yang sulit dibaca.

"Kita bahkan tidak melakukannya."

"A-Apa?"

"Masih tercetak jelas di otakku reaksimu setelah aku melecehkanmu malam itu. Kau sangat terluka dan aku mengerti, aku menghormatimu Jeon Wonwoo."

Wonwoo menatap Mingyu berkaca-kaca, lalu ia mengangguk.

"Terimakasih sudah memahami aku."

.

Setelah seminggu insiden mabuk-mabuk dan keluar kota tanpa diketahui siapapun hanya berdua dengan Kim Mingyu, ia membiarkan anak itu masuk ke dalam relungnya. Menghabiskan banyak waktu dengan cerita-cerita konyol untuk kemudian ia sesali pada malam harinya. Mingyu yang menarik dan tak mau menyerah, serta Wonwoo yang terbujuk meski terlampau sulit. Mereka berdua cocok dipasangkan.

Keduanya bertemu di banyak tempat. Berkali-kali berjalan berdua di taman kota bercerita banyak sekali tentang keseharian mereka, pula perbincangan apa saja atau sekadar berinteraksi ringan di beberapa bagian sudut di kampus. Sayangnya berakhir dengan pertengkaran besar pada pertemuan di akhir pekan saat Mingyu menyatakan satu kalimat yang dicerna sepihak oleh Wonwoo tanpa mau menghadapi wajah itu lagi.

Wonwoo habis pikir. Tawaran Kim Mingyu membuatnya gila. Ia mengatakan akan mencobamembangun keluarga bersama Wonwoo. Yang membuatnya terdengar gila adalah karena ia mengatakan akan mencoba membangun keluarga bahkan sebelum mengklaim Wonwoo. Bukankah dibutuhkan kemauan kuat dan itikad yang mantap?

.

Mingyu baru saja mengisi kuesioner seperti biasanya dan memilih mengeluarkan catatan ketimbang menyelesaikan urusan dunianya.

"Seseorang mengacaukan persamaanku." Cebiknya yang lebih terlihat seperti mengambek. Ia membanting buku catatannya dan memandang Seokmin yang tersenyum penuh makna.

"Setidaknya persamaanmu selesai, kini kau bisa menunjukkan bahwa quark bebas secara asimtosis pada energi2 besar, keren kan?"

Mingyu menatap Seokmin tanpa minat. "Keren jika aku yang memecahkannya. Cukup, aku akan makan, dan jangan menyentuh barangku tanpa seizinku!"

Mingyu memasukkan catatannya kembali ke dalam tas kemudian menyentuh pesanannya. Karena demi apapun, jika seseorang tidak memecahkan persamaan itu maka Mingyu akan lupa total bahwa ia telah memesan carbonara—iya ini masih jam dua belas di siang hari, mungkin dia sedang ingin—sejak satu jam yang lalu.

Tetapi ada satu topik yang membuat Seokmin penasaran(dia selalu penasaran ngomong-ngomong). Pagi ini Mingyu mendadak muncul di kelas pagi mereka. Kemudian fakta bahwa Mingyu yang tidak terlihat pun terendus kabarnya saat pesta seminggu lalu tetiba muncul dan mengundang ia untuk berhipotesis.

Wajah cerah dan mood yang menyenangkan, semua orang sudah menduga bahwa Mingyu baru saja melakukan sesuatu yang tidak biasa.

"Jadi, kemarin itu bagaimana?" Kalimat pembuka, Seokmin terlanjur basah menangkap Mingyu yang kelewat fokus pagi ini.

Mingyu agak bergumam kecil. "Cukup menyenangkan." Katanya seraya melirik Wonwoo yang baru saja melewati mereka. Wonwoo berhenti tepat di meja panjang dan membaca buku menu.

"Cukup menyenangkan? Aku yakin pasti sangat menyenangkan. Pupilmu membesar tiap kali memandangnya yang artinya, kau tertarik padanya secara seksual—di samping ada kemungkinan kau juga pecandu heroin...uhuk." Seokmin terbatuk akibat sanggahan yang dilayangkan Mingyu beserta tinju di perutnya.

"Cukup atau sangat tak ada skala objektif untuk menggambarkan variasi dari menyenangkan. Kenapa bertanya?"

Seokmin melahap makan siangnya kemudian mendapati omega Mingyu beberapa meter dari jarak mereka berdua. "Wonwoo memandang kemari tetapi lebih tepatnya ke arahmu karena secara teknis kau alphanya. Dia mengajakmu bercinta."

Mingyu memutar matanya malas. "Bila kau memasang elektroda di otak tikus dan memacu orgasmenya ia akan mendorong benda itu sampai mati karena kelaparan. Ya Tuhan, dia sedang membaca buku menu apa kau buta?"

Seokmin mendadak tuli dan menahan pipi Mingyu. "Dengar, kita tidak butuh jadi ilmuwan saraf untuk mengerti proses biokimia seks, dopamin di otak kita dilepaskan ke sinaps-sinaps yang menyebabkan 'kesenangan' yang aku singgung tadi. Kalian sedang berbunga-bunga."

"Dia sedang lapar."

"Perbedaan antara Wonwoo dan tikus adalah kita tidak memasang elektroda di otaknya, jadi dia bisa menahan lapar. Oh, dia sedang memanggilmu menggunakan kontak mata, pekalah sedikit!" Katanya seraya menendang Mingyu dari kursinya.

Mingyu berjengit pasrah mengumpat pada Seokmin hingga berakhir menghampiri Wonwoo kemudian memeluk pinggangnya dari belakang.

"Umm, apa yang kau lakukan?" Wonwoo masih memegang buku menu.

"Hanyaaa-memperpanjang keintiman? Um hey! Kau mau menyelinap ke dalam laboratorium radiasi dan berbagi siraman dekontaminasi?"

Wonwoo berpikir untuk beberapa saat. "Untuk seseorang yang tidak mengerti fisika, seharusnya aku mendapat nobel karena panggilan seksualmu itu."

"Untuk seorang alpha yang terhalang kebutuhannya, dan kau omega yang sangat keras kepala, kita berdua harusnya tau siapa yang lebih layak mendapatkan penghargaan."

"Lucu sekali."

Mingyu bersidecak. "Mau bagaimana lagi? Kita sudah berpacaran, kau adalah omegaku. Kau tahu aku adalah pria yang bergairah dan impulsif" Kemudian ia duduk di sebrangnya.

Wonwoo tertawa dibuat-buat. "Aku tidak merasa aku adalah omegamu. Kau saja yang menganggapnya demikian." Wonwoo angkat kaki dan menghilang dari pandangan Mingyu.

Mingyu menatap Wonwoo dengan lontaran rasa tidak percaya.

Wonwoo tidak peduli walaupun tahu dirinya keterlaluan. Karena terukir jelas di hatinya rasanya dikuasai, rasanya terlena, rasanya pasrah pada kukungan sang alpha tetapi pada akhirnya ialah yang merana karena dicampakkan. Ia memilih untuk menjadi dirinya yang lain, yang kuat dengan fondasi jelas bahwa dirinya tidak mudah dimanfaatkan. Ia tidak ingin didominasi. Wonwoo berpikir ia akan seperti itu.

.

"Itu wajar. Di Amerika, kami seperti itu." Terang Jisoo.

Hari itu Wonwoo memilih menghabiskan waktu di kafe sekitar kampus. Namun ia mendapati Jisoo dan memilih bergabung.

"Seperti itu apanya?"

"Maksudku, di mana letak kesalahan dari Mingyu yang mencoba melamarmu? Well dia sudah sering melamarmu walau berakhir kau yang selalu menolak. Kalian telah berpacaran selama satu tahun—mengesampingkan frekuensi perkelahian kalian yang terus meningkat." Jisoo menarik napas. "Kita sudah cukup umur. Bisakah kau dewasa sedikit lebih cepat?" Jisoo berjengit heran.

"Salah karena dia mengatakan akan MENCOBA membangun keluarga." Desaunya sambil mengaduk ramen yang tidak lagi memiliki bentuk. "Apa maksudnya aku harus punya anak dulu, baru dia mau berhubungan serius denganku?"

Jisoo hendak protes. "Hey-hey, aku menjadi pembawa karangan bunga di pernikahan orangtuaku."

"Jadi kau lahir saat mereka berpacaran, lalu mereka baru menikah setelah kau beberapa tahun?"

"Saat itu ibuku sedang hamil adikku."

Wonwoo bersender malas di kursi. "Aku lupa budaya di kota itu bebas." Wonwoo menggelengkan kepala turut simpati. "Dengar, kultur di desaku dan di sini berbeda okay? Kami seharusnya tidak berhubungan seks dengan bebas dan mencoba membangun keluarga, tetapi kami dituntut menjunjung tinggi harga diri dengan menjaga kesucian masing-masing hingga bertemu dengan mate yang tepat lalu membangun keluarga secara matang."

Terdengar bunyi dentingan besi yang beradu. "Bagaimana dengan, kebutuhanmu?—"

Wonwoo merotasikan matanya malas. "Itu tidak penting!" Ia mendengus kasar. "Yang seharusnya aku khawatirkan adalah masa laluku, keadaanku saat aku menerima berpacaran dengannya tanpa kesadaran penuh—tidak menimbang resikonya terlebih dahulu. Jum'at malamnya aku seperti orang dewasa gila yang menenggak berliter-liter alkohol dan baru tersadar di hari Minggu dan aku yang sudah resmi berpacaran dengannya."

"Astaga tidak akan ada resiko! Maksudku, tetap ada tetapi hubungan macam apa yang tidak memiliki resiko? Wonwoo, dia alphamu dan kau memang sudah sepatutnya menerimanya. Kau tidak bisa membantah itu." Jisoo menatap Wonwoo nanar.

Sementara Wonwoo hanya menatap lantai yang seribu kali lebih menarik dibanding percakapan memusingkan.

Wonwoo merasakan usapan halus di bahunya. "Dengar, semua orang melakukan kesalahan. Cobalah bertahan sebentar, aku punya firasat baik." Bujuknya dan dijawab gumam setuju meski terkesan bimbang diluncurkan oleh Wonwoo.

.

Sudah dua jam Mingyu berdiri di depan pintu apartemen Wonwoo sambil menggumamkan bermacam nada. Wajahnya bersinar, matanya menyipit dan sisi dari masing-masing bibirnya ditarik ke atas menciptakan lengkung busur yang memesona. Ia telah mengatakan kepada Wonwoo akan mampir ke apartemennya dengan modus membunuh waktu. Mingyu agak kesal karena beberapa hari ini Wonwoo dengan sengaja menghindarinya.

"Wonwoo-ya aku tahu kau di dalam sana. Omega tidak akan pernah dapat bersembunyi dari alphanya. Aku mencium aroma manismu jelas dari sini. Setelah masuk aku akan langsung menerkammu." Selorohnya menghadap cctv interphone di samping pintu Wonwoo.

Sunyi tetap luruh melanda.

Mingyu menyanggahkan tubuhnya menggunakan lengan di balik pintu. Ia sudah berjam-jam di koridor atau di luar. Wajahnya pasi dengkulnya keram, ia tidak dapat merasakan jemarinya. Jelas saja karena ia sudah sangat kedinginan.

"Ayolah setelah semua yang kau lakukan padaku." Ia beracting memeluk dirinya sendiri. Walaupun sesungguhnya ia benar-benar kedinginan.

Sembari bicara kepada angin seseorang menepuk punggungnya sehingga Mingyu tersentak.

"Sedang apa bro?" Itu Hoshi. Pria itu menyapanya terlampau kasual. Merupakan sosok paling terakhir di dalam list yang ingin ditemuinya. Mingyu bersidecak lalu menyender pada pintu. Menilik visual Soonyoung dari kepala hingga ke kakinya. "Perlu bantuan?"

Bersamaan dengan itu, tanpa basa-basi Soonyoung menuju interphone apartemen Wonwoo dan mengetikkan kode. Terdengar bunyi klik dan pintu terbuka. Mingyu memasang wajah takjub kemudian menatap Soonyoung tidak percaya. Kenapa seseorang yang selalu ia curigai datang membantunya?

"Bro?" Dengung Mingyu memasang ekspresi terharu mengangkat tangannya.

"Bro!" Dengan seluruh jiwa, Soonyoung menerima genggaman tangan Mingyu lalu mereka berpelukan. Khidmat. Tenang. Erat. Berjabat tangan bukan gaya Soonyoung. Dia memilih berpelukan.

Tunggu dulu, ini tidaklah benar! Monolog Mingyu. Kenapa Soonyoung bisa mengetahui kode apartemen omeganya dibandingkan dirinya? Alphanya? Ah sudahlah. Otak kompetitif Mingyu sedang dalam mode tumpul. Yang ingin ia lakukan pertama kali setelah memasuki ruangan itu hanyalah menghukum omeganya. Dengan caranya sendiri.

Setelahnya Mingyu segera menapaki ruangan itu tetapi ia tidak dapat menemukan apapun di sana. Setelah melangkah lebih dalam, ia menemukan punggung sempit membelakanginya sempurna seperti memang sengaja menghindarinya.

"Ini salah, hubungan kita ini salah." Katanya menghadap pada balkon.

Dari sebrang ruangan, di daun pintu kamar Mingyu memperhatikan sosok rapuh Wonwoo. Teramat ringkih, seperti meminta perlindungan padanya padahal seseorang di sana bersikeras menyatakan sebaliknya—persetan!

Asumsi Kim Mingyu saat ini, Wonwoo sudah berdiri di sana sejak ia datang. Terlihat dari jemarinya yang kaku, dan kulit leher yang terlihat pasi. Dengan sweater kebesaran yang Mingyu yakini ia sedang mencoba menenggelamkan aromanya dalam-dalam di sana. Di sini, di belakang dirinya, Mingyu dengan penuh dosa mengancam Wonwoo dengan kata-kata tak pantas diiringi tawaran-tawaran tak masuk akal yang bertentangan dengan paham Wonwoo.

"K—" Mingyu terlalu kehabisan kata-kata untuk memahami Wonwoo. Apa Wonwoo baru saja mencoba bunuh diri dengan berjemur di tengah hawa dingin yang kering? Membiarkan dirinya dehidrasi? "Kau bisa mati kedinginan!" Mingyu berlari lalu memeluk Wonwoo.

Terlampau terkejut. Ia meraih pinggang Wonwoo lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mingyu menatap wajah Wonwoo yang memerah seperti habis menangis. Tetapi kering. Saat itu, Mingyu dapat melihat pancaran harapan yang sangat tipis muncul dari binar kedua netra Wonwoo. Menatap lurus menuju obsidiannya seakan mencoba mengatakan sesuatu.

Bola mata Wonwoo tidak bergerak signifikan. Dan Mingyu hanya dapat mengerjap panik. Mingyu buru-buru menarik pergelangan tangan Wonwoo dan membawanya menuju dapur yang lebih hangat. Ia menatap pemuda pucat itu yang masih melemparkan tatapan kosong. Ia membiarkan Wonwoo duduk di salah satu kursi kemudian dia menyalahkan kompor untuk memasak air hangat. Karena dispenser lama sekali bekerjanya jika dayanya baru dinyalakan. Setelah membuat minuman hangat instan yang kebetulan tersaji kemasannya di atas meja ia menyodorkannya kepada Wonwoo melupakan fakta dirinya juga kedinginan. Wonwoo tidak buru-buru meneguknya ia hanya menggenggam cangkir itu dan menimbang-nimbang akan meminumnya atau tidak.

"Kenapa kau berpikir untuk melanjutkan hubungan ini?" Isak Wonwoo dengan perasaan kalut. Terdengar seperti akan menangis akibat suaranya yang bergetar.

Tersentak, Mingyu mengatur napasnya mencoba memasang ekspresi sedatar mungkin. "Apa maksudmu? Kau menerima ajakan pesta dariku ingat? Meskipun kita gagal datang." Terhenti sejenak.

"Aku hanya menerima ajakan ke pesta, lalu kita bisa memulai hubungan kita secara perlahan setelahnya. Bukannya berakhir keluar kota, ke laut entah apalah, dengan aku yang tidak mengingat apa-apa."

"Kenapa tiba-tiba kita membahas ini, itu sudah berlalu sayang."

"Seharusnya kita tidak pergi."

"Kau menyalahkan aku mengenai omong kosongmu tentang penjaga pantai dan kau yang menggodaku semalaman, tidak, seharian penuh padahal aku mencoba mati-matian untuk tidak menyentuhmu!?"

"Kau tahu aku tidak sadar, aku minum banyak alkohol karena stress. Bersamaan dengan itu aku, kau tahu? Heat dan itu menambah ketidak sadaranku."

"Dan kau menyalahkanku? Astaga selama ini aku berusaha untuk memberimu space dan privasi. Kamu seharusnya yang paling tahu betapa sengsaranya aku menahan semua ini selama setahun penuh untuk mengurung alpha dalam diriku!" Teriaknya. "Kau pasti berpikir menyesal telah menerimaku, dan menyalahkan keadaan saat itu benar?"

"Bukan begitu, hanya saja, aku belum siap. Kau sendiri yang mengatakan ingin mencoba membangun keluarga bersamaku. Jangan bercanda! Aku punya masalah sendiri yang sedang aku coba untuk selesaikan." Mengusap wajahnya kasar. "Tolonglah mengerti."

Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Ia mengobservasi Wonwoo dengan matanya yang tajam. Kepalanya mendadak panas ia merasakan desiran aneh itu, yang tertanam di dalam otaknya sejak lama yang rasanya ingin sekali ia muntahkan sejak dulu pada omeganya. Wonwoo dan segala kalimatnya, seluruh perkataan yang mencuat dengan lancar dari bibir omeganya.

Sejak awal Mingyu sudah mencoba menoleransinya meski sulit sekali dan itu menusuk dadanya. Meski ia muak, tetapi menyerah bukan gaya seorang Kim Mingyu. Ia tahu setiap orang memiliki masa lalu kelam dan masalah yang mengakibatkan trauma. Tetapi bukan berarti ia harus menebar kebencian pada siapapun yang ditemuinya. Seperti yang omeganya lakukan saat ini.

Ia menarik kasar tangan Wonwoo dan mencium bibirnya ganas. Tangannya yang lain meremas rambut Wonwoo kemudian menyatukan wajah mereka lebih dalam. Suara lidah yang beradu terdengar sadis ditambah kecipak saliva yang merana entah milik siapa tidak tahu akan dikemanakan. Wonwoo menahan desahannya sementara Mingyu menggumam tidak jelas dan semakin menjadi-jadi di sana.

Wonwoo mencengkram bahu alphanya erat, mencoba mendorong tetapi tidak bisa. Mingyu menelisipkan jemarinya di sela sweater Wonwoo dengan kurang ajar. Wonwoo hanya terisak dalam pasrah. Mengikuti permainan Mingyu. Sampai ia membutuhkan oksigen, Wonwoo memukul dada Mingyu sekuat tenaganya kemudian Mingyu melepas pagutan mereka dan bersitatap sejenak. Wonwoo menatap saliva yang tersambung di mulut keduanya. Menyimpan keberatannya yang lain dalam kepalanya di samping fakta Mingyu akan memojokkannya lebih jauh.

"Apa menurutmu aku bercanda?" Mingyu bicara menggunakan nada baritonnya. Dengan napas tertatih yang terdengar begitu seksi.

Sementara Wonwoo, ia tidak ingin mengerti atau mau tahu. Tetap pada pendapatnya sendiri. Hingga akhirnya ia menatap tajam mata Mingyu.

"Kau tidak tahu seberapa girangnya aku ketika kau mendatangiku mengucapkan kata ya untuk ajakanku ke pesta dansa. Kemudian sehari sebelum pesta mengajakku pergi jauh ke tempat yang kau sebut favorit lalu menceritakan impian kita masing-masing di trotoar seperti tunawisma. Atau kau dan aku yang menikmati angkasa di hari kedua karena kau merengek terus kepadaku katanya kau ingin sekali bercinta denganku tetapi sebenarnya akulah yang berjuang di sana mengabaikanmu lalu berakhir dengan kau yang tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu harus menganggap itu manis sekali atau aku yang ingin sekali menangis karena kau tidak mengingat momen yang kita habiskan bersama." Terang Mingyu.

"Apa salah aku meminta satu hal yang sangat kramat sebagai pasangan tetapi kau anggap sebagai bercandaan?"

Wonwoo mengerdip. "A-apa, kau serius?" Sang omega meraih bahu alphanya untuk bertumpu kemudian setelah berhasil ia raih Wonwoo tidak dapat menjelaskan perasaan apa yang muncul di dalam dadanya. Dia serius mengenai aku. hanya satu-satunya kalimat yang berdengung dalam kepalanya.

Ia merasa dirinya sangat bodoh dan egois sekali. Saat Mingyu dan jutaan kesabarannya memikirkannya, mementingkannya, ia justru terus-terusan bersikap tidak peduli. Wonwoo benar-benar brengsek tidak membiarkan Mingyu menyelesaikan kalimatnya sebelum-sebelum ini. Dan pertemuan malam ini serta penjelasan yang diutarakan Kim Mingyu, alphanya berhasil meluluhkan isi kepalanya mengenai prinsip.

Wonwoo berusaha bernegosiasi di dengan pikirannya, sementara Mingyu tersenyum meneduhkan memerhatikan omeganya. Ia menyisir rambut Wonwoo menggunakan jemarinya. Karena jujur saja, ia tampak tidak terawat bahkan poninya memenuhi dahinya sehingga terlihat mengganggu jadi Mingyu merapikan sebisa mungkin.

Tanpa menghiraukan pergerakan tangan Mingyu, wajah Wonwoo memanas dan ia meraih secangkir cokelat di atas meja yang sudah sejuk kemudian menenggaknya tergesa-gesa. Sentuhan Mingyu di pipinya rasanya seperti surga. Wonwoo rela mati seperti ini saja dari pada kemungkinan ke depannya ia dan Mingyu akan dihadapkan berbagai masalah sebagai pasangan. Untuk saat ini, ia sangat senang! Omeganya memekik ria menyambut dengan hangat sang alpha.

Wonwoo bersandar pada kursi dengan Mingyu bersimpuh di sampingnya, mengusap bibir Wonwoo dengan lembutnya setelah menjilat jempolnya dengan salivanya sendiri. Dan Wonwoo hanya dapat tersenyum gugup memandangnya.

"Jadi, sekarang bagaimana?" Wonwoo pertama kali bicara setelah merenung beberapa saat dalam kebahagiaan dirinya. Dalam diam bermain-main dengan cangkir di hadapannya namun sesekali melirik mata Mingyu. "Kenapa, kau belum mengklaimku?" Wonwoo bertanya tidak siap, terdengar bergetar.

Mingyu tersenyum lembut. "Setelah aku pertemukan orangtuaku dan orangtuamu, acara pertunangan, lalu aku akan mengklaimmu tepat saat itu juga."

Wonwoo tersenyum simpul. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi berjuta guratan warna merah akibat rasa tersipu. Ia menatap kakinya dan mengkaitkan jari-jari kakinya karena gugup.

"Apa kau, apa keluargamu tidak keberatan dengan omega pria? Sepertiku..."

"Tenang saja, tenang saja." Katanya seraya mengusap bahu Wonwoo teramat lembut, lalu menempelkan kepala Wonwoo di dadanya yang bidang. "Tenang saja..."

Wonwoo membenamkan kepalanya di ceruk leher alphanya, meskipun kalimat pria itu tidak menjawab rasa ingin tahunya.

.

Tidak jelas apa yang tengah ia rasakan. Sesaat setelah Mingyu menyatakan keseriusan dirinya atas hubungan mereka, Wonwoo tidak dapat membuat bibirnya berhenti untuk melengkung seperti busur. Yang ia tahu, perasaan ini pernah ia dapatkan bersama dengan Soonyoung dulu—ini namanya adalah jatuh cinta. Hanya saja, entah kenapa lebih banyak emosi tercurahkan di sini. Jika dulu bersama Soonyoung hanya ada tertawa jenaka saja, bersama Mingyu Wonwoo merasakan lebih banyak.

Padahal Wonwoo sudah menghabiskan satu tahun bersama alphanya, hanya saja dengan unsur tidak pasti. Ia berprasangka bahwa Mingyu siap kapan saja meninggalkannya, bersamaan dengan itu ia tetap menjaga hatinya mati rasa terhadap hal-hal manis yang telah Mingyu berikan kepada Wonwoo—dan gilanya nyaris satu tahun lamanya. Wonwoo dan segala trauma akan orang-orang di sekitar, luka dalam di hatinya, yang terus bersarang di sana bersama rasa sakitnya yang lain, anehnya ia jaga dan tak ingin ia buang. Tetapi Mingyu di sampingnya, menggenggam tangannya erat dan menyalakan lilin harapan pengabulan untuk Wonwoo menghadapi segalanya lagi.

Mungkin terlonjak senang adalah hal yang terlalu dilebih-lebihkan, tetapi Wonwoo merasa itu perlu dilakukan. Tiap kali Mingyu datang bersama rangkaian bunga dan batangan cokelat, kemudian mereka yang menghabiskan malam berdua di apartemennya, Wonwoo berpikir semuanya sempurna karena dewa telah pertemukan ia dengan alphanya secara cepat. Padahal dulu ia yang paling anti terhadap hal-hal berbau romantis, seseorang atau alpha yang berada di sekitarnya. Tetapi kini tidak berlaku bagi Mingyu. Secara terjun bebas orang itu memeloroti akal sehat Wonwoo, membiarkan ia kebas memikirkan semalaman kencan seperti apa lagi yang akan mereka habiskan bersama esok harinya.

Secara harfiah? Kencan yang benar-benar kencan. Mereka pergi ke taman bermain di pagi hari hingga sore, Mingyu yang rela berlari-lari sebelum menaiki bus pukul 9 untuk membeli obat anti mabuk agar Wonwoo kuat menikmati wahana, mereka yang berjalan-jalan santai di sore hari sambil bersenandung ria, memamerkan wajah lelah masing-masing lalu diakhiri malamnya dengan menonton film di TV dan sebuah ciuman ringan afeksi rasa sayang.

.

Mingyu menghormati Wonwoo, meski ia harus menekan hasratnya sebagai seorang dominan. Ia tahu Wonwoo akan mengatakan siap bila ia siap. Jadi Mingyu akan bersabar, ia ingin agar omeganya nyaman dan aman bersisian dengannya. Wonwoo telah menafikkan segala kecamuk dalam pikirannya mengenai hal-hal yang bertentangan dengan Mingyu. Ia akan menerima Mingyu perlahan, karena dulu Wonwoo hanya tahu tersakiti dan bersiap untuk disakiti.

Seperti pagi ini, di akhir pekan ia datang lagi menampangkan senyum mautnya yang berkali-kali membuat Wonwoo dapat luluh. Alphanya sekali lagi membawakan rangkaian bunga yang akan siap menggantikan bunga di kamarnya yang telah layu karena dipajang selama seminggu. Bunga yang bermacam-macam. Dan Wonwoo tidak ingin mengambil pusing kuis bunga dari jenis apa sajakah itu. Ia ingin segalanya hanya berjalan lancar. Apa saja yang Mingyu bawakan untuknya, Wonwoo akan berusaha untuk menyukainya.

Bukan berarti setiap yang diberikan Mingyu kepada Wonwoo ia tidak menyukainya. Hanya saja jika itu menyangkut hal-hal feminin, Wonwoo sebenarnya hanya agak kurang paham. Bagaimanapun gender Wonwoo adalah pria, dan ia dididik sebagai pria. Mengenai di luar sana Mingyu pernah bercinta dengan siapa atau atas alasan apa, yang pastinya mereka semua adalah wanita karena dari Mingyu memperlakukan omeganya Wonwoo merasa dirinya adalah makhluk paling rapuh sedunia karena ia memperlakukan dan menyikapi Wonwoo demikian lembut seperti seorang wanita. Mingyu tidak merasa seperti itu tentu saja, ia hanya beranggapan bahwa Wonwoo adalah omega dan omega perlu diberi kenyamanan. Wonwoo tidak terbiasa mendapatkan perilaku manis dari orang-orang di sekitarnya. Ia hanya paham protokol sosial yang harus dipenuhinya mengenai menyapa, berbasa-basi dan selesai. Tidak ada lagu manis atau untaian lembut kalimat pengantar tidur—sebelum Mingyu melakukan itu untuknya setahunan terakhir ini.

Wonwoo terbiasa bangun di tengah malam karena serangan panik, takut kapan saja Mingyu meninggalkannya secara tiba-tiba seperti orang-orang sebelumnya. Sebagaimana ayah-ibunya yang lembut padanya mendadak secara halus menawarkannya tinggal di kota dengan fasilitas nyaman tetapi benar-benar memutus kontak mereka, atau ketika semasa sekolah menengahnya selama enam tahun ia menjadi bual-bualan karena dianggap cacat, atau terakhir kali yaitu ketika Soonyoung dan Jihoon kedua orang yang sebenarnya sangat dicintainya bermain di belakangnya. Segala hal berimbas pahit bagi Wonwoo. Yang ia tahu pengalaman buruk selalu mendatanginya dan setelah mengamati setahun lebih, Mingyu tidak dapat ia kategorikan sebagai salah satu dari orang-orang yang telah memperlakukannya demikian.

Mingyu sendiri terlampau rapuh untuk mengikrarkan sebuah ingkar jika Wonwoo boleh berpendapat, ia dapat melihat kesungguhan di balik iris hitamnya yang menukik dan menyesatkan akal sehat Wonwoo entah untuk berapa lamanya tiap kali secara tidak sengaja ia memandangnya.

Mingyu lebih dari sekadar membantunya. Ia memperbaiki apa yang pernah retak dalam diri Wonwoo.

Kepercayaan.

Maju secara perlahan adalah langkah paling ampuh untuk menyembuhkan segala perih di hatinya. Dengan cara demikian, Mingyu dapat meraih Wonwoo meski ia tahu Wonwoo sendirilah yang akan memutuskan kemana langkah yang akan membawa mereka berdua. Wonwoo tidak tahu harus bersyukur dengan cara apa lagi. Ia terlalu bahagia mengatakan Mingyu telah melamarnya sebagai kekasih. Di jari manisnya dan jari manis Mingyu sudah terpasang cincin kembar perak untuk merayakan pertunangan. Tidak di depan orangtua mereka. Wonwoo telah bercerita mengapa ia begitu tertutup padahal ia telah berpacaran selama satu tahun dengan Mingyu, ia hanya mengatakan hubungan keluarganya terlampau rumit ia harus diasingkan ke kota yang penduduknya dikenal heterogen dibandingkan di desa di mana seorang omega pria masih tabu. Ia tidak menceritakan seluruh permasalahannya, bahwa dirinya cacat, well Wonwoo lagi-lagi belum siap bung.

Mingyu turut bersedih tetapi sama sekali tidak menyalahkan keluarga Wonwoo, ia paham dan sebentar lagi akan turun tangan menyelesaikan masalah ini—menurut pikirannya. Ia hanya berpikir akan menularkan kebencian kepada Wonwoo jika berkomentar hal jelek tentang orangtua Wonwoo. Jadi yang Mingyu lakukan hanya mengusap punggung tangan Wonwoo lembut dan membisikinya kalimat-kalimat menenangkan.

"Kau adalah omega yang paling kusayangi. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, orang-orang dulu berpikir mungkin kamu memang tidak layak ada. Tetapi setelah bersamaku kamu akan mengerti bahwa sebenarnya kamu adalah seseorang paling beruntung di dunia karena memiliki satu-satunya alpha yang paling memujamu. Kamu memiliki aku di sisimu. Jangan pernah sungkan mengeluh, jangan lelah bercerita dan jangan bosan menangis di pundakku." Mingyu mengatakan itu hampir setiap malam di mana Wonwoo merasa dirinya tidak berdaya, tidak dibutuhkan dan tidak terobati akibat serangan panik yang melandanya habis-habisan. Padahal sudah ada Mingyu di sampingnya tetapi bayang-bayang masa lalu tetap tidak ingin pergi dari dirinya.

.

Homesick.

Itu menurut psikiater. Tahun depan Wonwoo akan menghadapi skripsi jadi Mingyu berakhir membawa Wonwoo konsultasi kesehatan agar omeganya lulus dengan hasil terbaik. Tetapi Wonwoo tidak bisa pulang. Ia dicegah. Sesuatu menguncinya. Ia ingin sekali pulang, menuju terasnya di mana ia menghabiskan waktu bermain robot-robotan di sana, atau pantai terdekat desanya desas-desus di mana gua adat berada. Tempat semua ritual dapat dibelokkan, tempat di mana kau dapat merubah takdirmu. Wonwoo mendapati cerita-cerita semacam itu dari teman-teman semasa kecilnya yang ia masih penasaran akan yang dimaksud cerita tersebut. Tetapi sekali lagi, Wonwoo hanya dapat berdiam diri. Bahkan mulutnya terkunci dan setiap frasa yang akan ia luncurkan demi mengatakan perihal tetang kampung halaman tak pernah disebut secara jabar.

"Siapa yang membayar sewa apartemenmu?" Tanya Mingyu suatu kala.

Wonwoo tersadar dari lamunannya, ia mengalihkan pandangannya dari televisi dan menatap mata Mingyu. "Sudah dibelikan sejak dulu, saat aku pindah."

Maka Mingyu hanya akan mengangguk-anggukkan kepalanya untuk kemudian mengalihkan pembicaraan.

Mingyu tidak ada bosannya menemani Wonwoo yang-tidak-gila atau ketika penyakit di tengah tidurnya kambuh. Ia akan menjerit tiada henti, padahal Wonwoo sendiri tidak tahu apa yang ia takutkan. Bukankah selama ini perhatiannya, seluruhnya telah dialihkan sejak kemunculan Kim Mingyu. Hal pertama yang ia lakukan ketika membuka mata di pagi hari adalah meraih note di meja di samping ranjang demi menemukan pesan manis yang Mingyu berikan padanya.

Jangan lupakan sarapan. Atau aku yang akan melahapmu.❤

Mingyu berkunjung dengan frekuensi yang tak terbaca. Ia terbilang hampir setiap Wonwoo berada di apartemennya maka Mingyu akan berada di sana juga. Di kampus pun pula. Mingyu akan lebih dulu menyapa. Selanjutnya baik Mingyu maupun Wonwoo akan mencium satu sama lain dengan lembut, tetapi sangat ringan. Orang-orang di sekitar kampus sudah mengenal mereka kental, pacaran anak kecil yang membuat mereka gemas setengah mati. Padahal mereka adalah fatedmate dan sudah bertunangan tetapi tidak satupun dari keduanya mengkonfirmatif telah bercinta. Tidak ada yang memaksa agar mereka bertindak lebih jauh. Orang-orang itu jadi jatuh cinta sendiri dengan cara mereka berpacaran. Suci dan antik. Unik dan rumit.

.

Mereka merayakan satu tahun hari jadi mereka lagi. Jadi secara teknis mereka telah bersama nyaris dua tahun. Jadi kedua insan itu kini memiliki tekad kuat untuk bersama lebih mantap. Hanya tinggal menunggu lulus kuliah, karir yang matang lalu keduanya bersatu. Bertepatan ketika melamar Wonwoo, orangtua Mingyu datang. Ayahnya melanglang buana di eropa mengurus bisnis sementara ibunya bekerja tetap sebagai psikiater di Amerika. Jadi satu kesempatan langka ketika orangtua Mingyu sedang berada di Seoul maka keduanya memanfaatkan kesempatan untuk bertemu fatedmate anak mereka. Ibu Mingyu sangat perhatian padanya, ia mengetahui seluk beluk mengenai Wonwoo dari Mingyu, Wonwoo tidak pernah tahu ketika ia tertidur Mingyu akan selalu melapor pada ibunya segala hal tentang dirinya. Dan tentang dirinya yang kesulitan tidur di malam hari karena merindukan kampung halaman serta orang-orang yang disayanginya. Ibunya menjamin dengan terapi hipnotis Wonwoo akan dapat mengingat kampung halamannya hanya saja itu memiliki resiko jadi Mingyu maupun Wonwoo okay saja berpegang sebentar pada penyakit itu daripada Wonwoo yang terkena imbas. Lalu ayahnya, Wonwoo awalnya takut sekali untuk bertemu karena dari yang ia dengar, seorang pebisnis hanya menyukai sesuatu yang sempurna dan mereka memiliki otak yang cerdik yang hanya menuntun pada kesuksesan. Tetapi malam sebelumnya Mingyu menjelaskan ayahnya sama sekali tidak seperti demikian, buktinya Mingyu diizinkan menggeluti jurusan yang disukainya fisika dan meraih cita-citanya, daripada berkutat dengan vokasi atau administrasi serta ekonomi—terdengar bisnis sekali bukan? Dan jujur saja ayahnya Mingyu adalah orang yang sangat menyenangkan. Ia seperti telah bertemu dengan jutaan jenis orang jadi tidak ada kecanggungan sama sekali di sela pertemuan mereka. Ayah Mingyu tidak berhenti bercerita mengenai masa kecil Mingyu yang dipenuhi kecerobohan serta Mingyu yang baru berhenti mengompol di usia 7 tahun—Mingyu secara cepat menyembunyikan wajah di antara kedua lengannya dan Wonwoo tangkap itu hal yang menggemaskan. Ibunya membawakannya banyak barang juga makanan untuk dapat memperbaiki resah dalam kepalanya. Bahkan ia memberikan surel kerjanya agar Wonwoo dapat terhubung padanya secara online dibandingkan kontak ponselnya yang sering kali ia abaikan.

Jujur saja Wonwoo sangat bersyukur. Kini ia memiliki orang-orang yang dapat ia sayangi sekali lagi. Dan yang membuat ia mengerti lainnya, orangtua Mingyu dapat menerima omega pria seperti dirinya karena mereka telah lama menetap di eropa di mana mereka memiliki masyarakat yang beranekaragam yang pastinya lebih unik dari pada di Seoul. Jadi Wonwoo sekali lagi mengucap syukur dan entah mengapa tidak dapat mengalihkan pandangannya dari objek di hadapannya. Mingyu yang kelewat ceria, mungkin?

Fin
.

Words: 5.628


Fict ini seperti cerita horror yang membayangi tidur aku. Aku memutuskan untuk mengakhiri croire sampai di sini, mungkin tanggung dan belum apa-apa bagi kalian. Bagi kalian yang sudah baca atau lupa, akan aku jelaskan permasalahan cerita.

Jadi si Wonwoo ini krisis kepercayaan, croire artinya percaya. Trauma yang diakibatkan perilaku orang-orang di sekitarnya membuat Wonwoo tidak bisa percaya apapun, tapi Mingyu sudah menyembuhkan traumanya.

Oke ceritanya belum selesai, seharusnya ada tahap mating dan pertemuan dengan orangtua Wonwoo tapi itu sudah belok dari masalah kepercayaan. Kalau ada kesempatan, aku akan bikin sequel.