Four Brothers

Remake The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka.

Character(s): Oh Sehun, Lu Han, and EXO members.

Pairing: SehunxLuhan, slight! Chanbaek and SuLay

Rating: T

Genre: Romance, Family, Drama, lil bit Humor, Yaoi

[Warn!] Bahasa amburadul, typo(s), boyxboy, dll.

I own nothing but this fanfic! Semua milik Tuhan Y.M.EEXO teteup milik SM.

Enjoy!

Chapter 10: The Confession.

Hari ini, Luhan masuk rumah utama sedikit lebih pagi, tepatnya setelah Subuh. Biasanya, ia baru akan ke rumah itu setelah tidur lagi sejenak, tapi kali ini ia begitu bersemangat untuk mencoba resep baru yang semalam ia unduh di internet.

Rumah itu masih sepi dan gelap, jadi Luhan berjingkat masuk, berusaha untuk tidak membuat suara. Luhan sedang membuka pintu kulkas untuk mencatat bahan apa saja yang masih tersedia saat mendengar suara pintu dibuka. Luhan memutar tubuh, lalu melihat Sehun muncul dari kamarnya diiringi berkas cahaya, membuat ilusi seperti Gandalf yang baru dipromosikan jadi Penyihir Putih.

"Pagi," sapa Luhan dengan suara berbisik, sambil melambaikan daun bawang yang sudah layu.

Sehun cuma memberinya tatapan mengantuk sebelum melengos ke arah kamar mandi. Mungkin harusnya Luhan menyapanya dalam bahasa peri.

Tak berapa lama, Sehun keluar. Luhan baru menyadari kalau Sehun sudah siap dalam setelan training -nya. Selama tinggal disini, tidak pernah sekali pun Luhan melihat kepergiannya untuk jalan pagi.

Mendadak, Luhan mendapat ide.

"Sehun-ah," panggil Luhan, membuat Sehun yang sedang memakai sepatu mendongak. "Aku ikut jalan pagi, ne?"

Sehun menatap Luhan horor. Tanpa menunggu jawaban, Luhan segera melesat ke paviliun untuk memakai hoodie dan sepatu. Setelah beres, ia kembali ke rumah utama, tapi Sehun sudah pergi.

Suara pagar yang berderit membuat Luhan segera berderap keluar. Sambil merapikan surai madunya yang berantakan, Luhan menyusul Sehun yang sudah duluan berjalan menyusuri jalanan. Luhan mengikuti dan mengamatinya dari belakang dalam diam.

Luhan senang melihat Sehun yang tidak memakai masker dan bisa menghirup udara pagi dengan bebas seperti ini. Sehun memang mengidap asma yang cukup parah. Luhan pernah sekali membuatnya masuk rumah sakit setelah memberinya kabar tentang Ziyu yang terserang maag. Asmanya kambuh begitu dia berlari.

Karena hal itu (dan, ahem, beberapa hal lain), Luhan jadi merasa bersalah padanya. Luhan ingin membantunya sebisa mungkin, juga ingin menjadi akrab dengannya sebagaimana dengan tiga saudaranya yang lain.

Tanpa terasa, Luhan sudah mengekori Sehun hingga ke luar jalan XOXO, menyusuri kawasan sekitar Universitas Yonsei. Luhan baru menyadarinya saat melihat kampus Peternakan Universitas Yonsei. Sehun menyebrang tanpa menunggunya, lalu berbelok ke arah perpustakaan kampus.

"Mau ke mana, Hun?" tanya Luhan, yang memang tidak tahu alur jalan paginya. "Kamu biasa jalan sampai mana?"

"Lembah," jawab Sehun, membuat Luhan manggut-manggut. Selama berkuliah di Yonsei, Luhan tidak pernah benar-benar masuk ke Lembah. Paling-paling, ia cuma lewat di depannya.

Setelah melewati kampus Hukum dan Filsafat, mereka sampai di jalan masuk Lembah Yonsei yang tampak sepi. Luhan mengikuti Sehun menuruni lembah, lalu mengamati sekitar. Selain mereka, di sana hanya ada sepasang orangtua yang berjalan santai sambil menggerak-gerakkan tangan dan seseorang yang sedang mengajak jalan golden retriever-nya.

Sehun berhenti di tengah lapangan basket, lalu mulai melakukan gerakan-gerakan pemanasan. Berhubung Luhan jarang olahraga, Luhan menirunya dengan kagok. Sendinya berderak-derak nyaring, tapi Sehun sama sekali tidak terganggu dan hanya melakukan apa yang mungkin dilakukannya setiap hari.

Setelah selesai senam ringan selama lima belas menit, Sehun akhirnya memutar tubuh, lalu kembali melangkah mendaki jalan masuk lembah yang tadi. Luhan membuntutinya lagi sambil memijat lengan kanan bagian atasnya, berharap Sehun sudah selesai dengan acara jalan paginya dan berniat pulang. Walaupun tadi Luhan cuma meregangkan sedikit ototnya, tapi sepertinya ada yang salah urat.

Sehun tahu-tahu berhenti, lalu menoleh ke arah Luhan. "Mau kukenalin sama temen-temenku?"

Luhan melotot. Sehun punya teman? Ini baru berita.

Begitu Luhan mengangguk, Sehun berbelok ke suatu tempat dan membuka sebuah pagar besi. Ini mencurigakan. Dia tidak bermaksud mengajakku melihat got, kan?—batin Luhan curiga.

Walaupun begitu, Luhan tidak menanyakannya dan ikut berbelok masuk ke balik pagar. Sehun menyapa seorang pria beruban yang sedang duduk di bangunan serupa pos jaga tak jauh darinya, yang balik menyapanya dengan ramah. Luhan ikut mengangguk kepada ahjussi itu. Ahjussi itu balas mengangguk sambil menyunggingkan senyum.

Tepat pada saat Luhan mau bertanya apa ahjussi itu yang dia maksud sebagai teman (itu akan menambah poin kesuramannya), Sehun membalik badan, lalu mengedik ke kanan Luhan. Luhan menoleh ke arah yang ditunjuknya, lalu membelalak saat melihat pemandangan di depannya.

Belasan rusa dengan punggung berbintik putih balas menatap Luhan ingin tahu dari balik pagar besi. Beberapa dari mereka asyik mengunyah rumput, sisanya tidur di semacam gazebo di ujung kandang. Luhan memang tahu kalau Yonsei memiliki beberapa binatang, tetapi ia tidak tahu kalau letaknya begitu dekat dengan fakultasnya! Apa saja sih yang ia lakukan di kampus ini?

"Neomu kiyowo!" seru Luhan, sambil menunduk untuk mengamati rusa-rusa itu dari dekat. Walaupun hari belum begitu terang, Luhan bisa melihat mata mereka yang bening dan mengerjap dengan penuh semangat.

"Nih." Sehun menyodorkan sejumput rumput, yang Luhan terima dengan senang hati. Luhan lalu mengulurkannya melalui pagar, yang segera dikunyah oleh rusa-rusa itu. Luhan terkikik, geli sekaligus takut jarinya akan ikut termakan.

"Yang cokelat di sebelah sana Rusa Jawa." Sehun menunjuk kandang di samping, lalu mengedik yang sedang makan di tangan Luhan. "Yang ini Rusa Totol. Asalnya dari India."

Luhan menggangguk-angguk imut, akan berusaha mengingat info tersebut.

Selama beberapa saat, Luhan asyik memberi makan teman-teman Sehun. Ketika ia menoleh, Sehun sudah tidak ada di sampingnya. Sehun tampak berjalan ke arah pos ahjussi tadi. Jadi, Luhan bangkit, melambai ringan ke arah para rusa, lalu menyusulnya.

Ahjussi tadi mengerling ke arah Luhan. "Yeoja-chingu mu, Sehun?"

Luhan menyangka Sehun akan membantahnya dengan keras, tapi namja tampan itu cuma tersenyum simpul seraya terus melangkah. Ahjussi itu terkekeh, mengambil topi dari mejanya, lalu memakainya sambil berjalan ke arah Luhan.

"Baru kali ini Sehun datang sama orang lain." Dia memberi tahu, lalu berjalan melewati Luhan ke arah pagar.

Sebenarnya Luhan heran dengan reaksi Sehun tadi (dia tidak mungkin tidak paham kalau ahjussi itu menyangka Luhan pacarnya, plus Luhan itu namja), tapi Luhan tetap mengikutinya, sampai dia akhirnya berhenti di depan sebuah kolam besar yang menyerupai danau. Luhan pernah melihat danau ini sekilas kalau sedang menuruni lembah ke arah kampus, tapi tidak pernah benar-benar menjejakkan kaki disini. Sekarang, melihatnya terbentang di depannya, airnya yang biru tua tampak tenang dikelilingi pohon rindang, Luhan jadi takjub sendiri.

Luhan menghela napas sambil berjongkok, memperhatikan semacam kotak sarang burung yang tertancap di tengah danau. Luhan menoleh ke arah Sehun untuk untuk bertanya mengenai tempat ini, tapi terpaku sejenak begitu melihat Sehun berdiri dengan mata menerawang, kedua tangannya masuk ke saku celana training.

"Kamu sering ke sini?" tanya Luhan.

Sehun terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab, "Kalau lagi banyak pikiran."

Luhan menatapnya ingin tahu. "Sekarang lagi banyak pikiran?"

Pandangan Sehun sejenak turun, tapi dia kembali menatap lurus dan cuma bergumam sambil mengangguk kecil.

"Masalah apa?" tanya Luhan lagi, benar-benar penasaran walaupun cukup yakin tidak akan bisa membantunya.

Mata Sehun bergerak-gerak gelisah. "Masalah yang aku sendiri belum paham."

Lagi-lagi, Luhan dikejutkan oleh sisi Sehun yang ini. Ada masalah di dunia ini yang dia tidak pahami? Luhan sebenarnya ingin bertepuk tangan, tapi tangannya saat ini sedang lumayan sibuk.

"Sehun-ah," kata Luhan sambil menggaruk kening. "Nggak bermaksud menghina tempat pelepasan stres kamu, tapi...banyak nyamuk."

Luhan sadar kalau dari tadi tubuh mungilnya terasa gatal-gatal, tapi ia pikir itu karena ia belum mandi. Namun, setelah sembarang menggaruk dan menemukan darah di jemarinya, Luhan tahu kalau ia sedang dikerubungi nyamuk ganas.

Walaupun demikian, Luhan masih tak tahu kenapa Sehun tampak santai-santai saja. Sehun pun sepertinya memikirkan hal yang sama, karena dia melirik Luhan dengan tatapan raja kepada rakyat jelata, seolah mempertanyakan kaum Luhan biasa mandi tanpa campuran kelopak bunga lavendel.

Tahu-tahu, matanya melebar ke arah kaki Luhan. Luhan mengikuti arah pandangnya, lalu membelalak saat melihat sekompi semut rangrang sedang memanjati sepatunya dengan giat. Ada apa sih dengan danau ini?

"AAAAKK!" Luhan segera bangkit berdiri, lalu mengibas-ngibaskan kaki dan menandak-nandak untuk mengusir semut itu. Saat sedang melakukannya, Luhan menginjak tali sepatunya sendiri dan dengan segera kehilangan keseimbangan. Tubuh mungilnya melayang bebas ke arah danau.

Hal terakhir yang Luhan lihat sebelum tercebur adalah ekspresi datar Sehun. Pada saat ia sudah berada di dalam danau pun, rautnya tak berubah. Ia yang sibuk megap-megap.

"Tenang!" sahut Luhan sambil mengibaskan tangan. "Aku bisa renang, Hun! Tenang!"

"Kamu yang tenang," tukas Sehun, membuat Luhan tersadar. Luhan tahu cara berenang. Luhan hanya terkejut. Selain itu, danau ini juga ternyata tidak dalam-dalam amat.

Setelah akal sehatnya kembali, Luhan mengayuh ke tepian, ke arah Sehun yang tangannya masih di saku celana training. Karena tepi danau itu terbuat dari tembok yang agak tinggi, Luhan kesulitan mengangkat dirinya sendiri. Berkali-kali, ia kembali terjatuh ke air.

Setelah beberapa lama mengawasi perjuangan Luhan, Sehun akhirnya mendesah dan mengulurkan tangannya juga. Luhan menatap tangan kurus itu, lalu meraihnya, menyangka bisa naik dengan bertumpu pada berat badannya. Namun, yang terjadi adalah, malah Sehun yang terbawa beban berat badan Luhan. Tanpa ampun, dia tercebur ke samping Luhan.

Luhan sudah siap menertawakan kejadian itu begitu Sehun muncul ke permukaan. Akan tetapi, detik berikutnya, dia segera kembali tenggelam. Serta-merta, rasa geli Luhan langsung lenyap dan digantikan oleh panik yang hebat.

"Sehun!" sahut Luhan ngeri.

Namun, Sehun tidak langsung merespons panggilan Luhan. Jantung Luhan seperti melorot ke kaki. Sehun tidak bisa berenang dan ini artinya, mereka sedang berada dalam situasi gawat darurat.

Tahu-tahu, kepala bersurai kelam Sehun kembali muncul. Luhan segera menarik jaket training-nya, lalu mengangkat tubuhnya. Sehun akhirnya sadar kalau danau itu dangkal dan dia bisa berdiri pada kakinya sendiri, tapi dari tubuhnya yang gemetar hebat, sepertinya dia panik. Luhan menoleh ke sekeliling untuk minta bantuan, tapi teringat kalau ahjussi tadi sedang pergi.

Saat sedang mengendarkan pandangan, Luhan melihat tepian yang lebih rendah beberapa meter di sampingnya dan Sehun. Jadi, dengan sisa-sisa kekuatannya, Luhan membawa Sehun ke sana.

Begitu menemukan tempat berpijak, Luhan menjejakkan kakinya disana sambil menghela Sehun naik. Sehun mendorong tubuhnya sendiri dengan susah payah, merangkak di lantai semen, lalu terduduk di samping Luhan.

Dia menyugar rambutnya yang basah, sehingga Luhan bisa melihat wajahnya yang pias. Bibir tipisnya pun ikut pucat. Sehun mencoba bernapas, tapi napasnya pendek-pendek. Sebentar saja, dia sudah terbatuk-batuk hebat.

"Sehun..." gumam Luhan, sekarang benar-benar takut.

Sehun merogoh sakunya, mencari-cari sesuatu. Luhan langsung sadar kalau dia mencari inhaler-nya, tapi dia tak bisa menemukannya. Secepat kilat, Luhan menoleh ke arah danau. Inhaler itu terapung disana.

Tanpa perlu berpikir dua kali, Luhan segera menceburkan diri lagi, lalu berenang ke arah alat itu dan meraihnya. Kemudian, ia membawanya kembali ke arah Sehun yang masih megap-megap. Sehun segera meraih alat itu, mengocoknya, lalu memasukkannya ke mulut. Berikutnya, dia menekan bagian atas dan bawah alat itu secara bersamaaan dan menghirupnya dalam-dalam.

Sehun memejamkan mata, berusaha untuk bernapas normal. Sementara itu, Luhan menatapnya dengan jantung berdebar kencang, dalam hati berharap Sehun akan baik-baik saja.

Ketika akhirnya napasnya mulai teratur, Sehun membuka mata. Dia lalu melirik Luhan, yang sepertinya sudah berlinang-linang. Luhan tidak tahu sejak kapan ia mulai menangis. Mungkin sejak asma Sehun kambuh, atau bahkan sejak dia tercebur dan tidak segera muncul.

Melihat kondisi Sehun yang membaik, Luhan mulai terisak tanpa kendali. Di luar kesadarannya, Luhan meraih dan memeluk tubuh kurus Sehun erat-erat, lega setengah mati. Luhan tahu kalau ia baru saja berusaha membunuhnya untuk kali kedua.

Selama beberapa saat, Sehun membiarkan Luhan menangis di pelukannya. Namun, tahu-tahu saja, dia mendorong kepala Luhan menjauh sehingga membuat Luhan melepaskan diri. Lagi-lagi, Sehun tampak kesakitan; napasnya kembali pendek-pendek, kali ini malah disertai bunyi ngik yang membuat ngilu.

Buru-buru, dia meraih inhaler-nya, sekali lagi menghirup isinya dalam-dalam. Setelah tenang, dia mendelik Luhan tajam. Kalau matanya pisau, mungkin Luhan sudah tercacah.

"Mianhae, Sehun-ah." Luhan tiba-tiba teringat pandangan serupa yang Sehun keluarkan ketika dia dirawat di rumah sakit beberapa minggu lalu. "Mian."

Luhan sudah pasrah Sehun akan kembali mengusirnya seperti saat itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Sehun hanya mendesah berat, lalu kembali menerawang ke arah danau sambil menjambak rambut. Entah apa yang dipikirkannya.

Luhan harap, Sehun tidak sedang menyusun rencana untuk membunuhnya.

...

"Huatsyiii!"

Luhan menggosok hidung bangirnya dengan tisu, lalu merapatkan jaket. Gara-gara tragedi danau lembah Yonsei tadi pagi, seharian ini ia mengigil. Untungnya, ia dan Sehun berhasil pulang tanpa membuat curiga siapapun, karena pada saat itu tak ada siapa-siapa di ruang tengah.

"Kamu lagi pilek, Lu?"

Suara Ibunya membuyarkan lamunan Luhan. Barusan, Meili, ibunya, menelepon ke rumah Keluarga Oh, berhubung Luhan belum punya ponsel pengganti semenjak yang lama rusak. Oh, dan Luhan sudah memberitahu orang tuanya semua tentang pekerjaannya dan empat bersaudara itu. Ayahnya, Hangeng, sempat shock berat, tapi karena ditenangkan dan dijelaskan oleh Suho dan anak kesayangan mereka (Luhan dan keempat bersaudara itu bertemu orangtua Luhan yang sedang berkunjung ke Korea), dia bisa mengerti dan memberi izin Luhan untuk sementara tinggal di rumah empat bersaudara itu. Sementara ibunya, Meili, sepertinya santai-santai saja asalkan empat bersaudara itu tidak mengapa-apakan Luhan. Akhirnya, mereka setuju Luhan bekerja dan tinggal di rumah itu, asalkan Luhan mengerjakan skripsinya selama satu semester. Satu lagi, ayah Luhan akhirnya mendapatkan pekerjaan.

Luhan hampir kena serangan jantung saat tahu ibunya menelepon, karena yah, ia tidak pernah menelepon kecuali situasinya benar-benar gawat. Namun, ternyata ia hanya mengabarkan kalau baru saja mengirim uang saku ke rekening Luhan. Kalau saja Luhan tidak terlalu sibuk menahan bersin, mungkin ia sudah menangis terharu. Keluarganya ternyata sudah benar-benar berubah.

"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat dulu ya," kata Meili lagi.

Andai saja bisa begitu. Masalahnya, Luhan punya makan siang untuk dibuat. Walaupun demikian, Luhan tidak mengatakannya kepada ibunya karena ibunya pasti akan menyampaikan kepada Ayahnya, dan ayahnya akan membuat drama mengenai diri anak sulung kesayangannya yang kembali dipekerjakan di rumah ini.

"Arraseo, eomma," kata Luhan. "Sampein sama Appa, gomawo, gitu."

"Ne, nanti begitu dia pulang, eomma sampein. Udah ya, Lu, nggak enak sama pamanmu."

Baiklah. Ternyata beliau menelepon dari rumah paman Luhan. Beberapa hal memang tidak berubah.

Setelah menutup telepon, Luhan bergerak ke arah dapur dan lanjut mengiris bawang sambil berusaha untuk tidak membuatnya terbang karena bersinnya. Ziyu sudah duduk di sofa, sibuk dengan laptop, menyetel lagu "*Gom Se Mari" keras-keras. Tadi di sekolahnya, seorang anak menyanyikan lagu "*Rice Song (Bap Song)". Jadi, dia merasa tertantang untuk mencari lagu lain yang lebih sulit.

Satu jam kemudian, semangkuk *Mapo Dubu dan *Gyeran Mari jadi. Saat Luhan sedang membawanya ke meja makan, pintu depan terbuka. Sehun muncul, disusul oleh Suho. Sepertinya, mereka pulang bersama lagi. Kadang, kalau waktunya tepat, Suho akan sengaja melewati sekolah Sehun dan menunggunya keluar supaya Sehun bisa hemat ongkos bus.

"Yuk, makan," ajak Luhan, disambut anggukan bersemangat Suho. Chanyeol pun muncul dari kamar kedap suaranya, seolah punya sensor kata 'makan'. Ziyu juga sudah melepaskan diri dari laptop dan mengamati Mapo Dubu buatan Luhan dengan saksama.

Saat makan siang pada khususnya, kakak-beradik ini memang jadi seperti pengungsi. Luhan maklum, berhubung jam makan siang keluarga ini lebih telat daripada keluarga kebanyakan. Ini karena mereka punya kebiasaan makan bersama dan saling menunggu.

Akan tetapi, ada satu orang yang tidak pernah kelihatan semangat-semangat amat. Luhan mengerling Sehun, yang masih bergeming beberapa meter dari meja makan, menatapnya lama. Seperti Luhan, dia juga mengenakan jaket. Dia bahkan tetap berangkat ke sekolah setelah mengalami pagi terburuk dalam sejarah.

Tahu-tahu, Luhan bersin lagi. Semua perhatian segera teralih kepadanya.

"Sakit, Lu?" tanya Suho, tampak khawatir. "Butuh ke dokter?"

"Ani. Cuma pilek sedikit," kata Luhan, membuat ekspresi Suho berubah lega. Kelewat lega sih, sebenarnya.

"Minum obat, Lu." Ziyu menyahut. Luhan sudah mau menggangguk penuh haru, tapi Ziyu menambahkan, "Aku nggak mau ketularan."

Selain keluguan, sikap kurang ajar agaknya juga menurun secara genetis.

Suara derak kursi yang digeser membuat Luhan menoleh. Luhan mengamati Sehun yang duduk sambil meletakkan bukunya ke meja tanpa mengatakan apa-apa. Melihat kebisuannya ini, Luhan menggigit bibir. Tadi pagi, sesaat sebelum masuk halaman, Sehun bilang Luhan tak perlu memberitahu apapun kepada saudara-saudaranya. Bukannya Luhan punya nyali untuk melakukannya, sih...

Sehun tahu-tahu menoleh ke arah Luhan. Dia menatapnya, tapi tidak dengan sorot tajam yang seharusnya dia lakukan terhadap orang yang sudah dua kali melakukan percobaan pembunuhan. Tatapannya ini lebih terasa...apa ya. Luhan ingin mengatakan 'hangat', tapi tentu saja, itu gila.

Sepertinya barusan ia mendengus, karena semua orang menoleh serentak ke arahnya dengan dahi mengerut. Luhan buru-buru berdeham, duduk, lalu menyumpit nasi dan mulai makan siang.

Setelah lima belas menit yang cukup menegangkan (tak seperti biasa, Ziyu mendominasi pembicaraan dengan celotehan tentang Jesper, anak yang menyanyikan "Rice Song (Bap Song)" yang dianggapnya sebagai rival), makan siang berakhir. Luhan bilang menegangkan karena selama itu pula, Sehun tidak membaca bukunya dan malah mengunci pandangan padanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Luhan harus berusaha keras memaksa otot kerongkongannya untuk menelan nasi dalam keadaan itu.

Barangkali, ini cara baru Sehun untuk menunjukkan kemarahan level tinggi: tatap saja terus-terusan, sampai dia mengaku salah. Setelah ini, sepertinya Luhan harus minta maaf lagi kepadanya, sambil bersujud kalau perlu.

Luhan sedang berjalan ke dapur, hendak meletakkan piring-piring kotor ke bak cuci saat tak sengaja melihat ke luar jendela. Mendung tampak sudah menggelayut. Jadi, Luhan memutuskan untuk mengangkat jemuran terlebih dahulu sebelum mencuci piring. Luhan meletakkan piring-piring itu di bak, lalu segera melangkah ke halaman belakang.

Selagi menarik jemuran, pikiran Luhan mengembara. Apa harusnya ia mengatakan soal tadi pagi kepada Suho, Chanyeol, dan Ziyu? Karena bagaimanapun juga, mereka adalah saudara-saudara Sehun. Luhan perlu meminta maaf kepada mereka karena lagi-lagi membahayakan nyawa Sehun. Kalau mereka tidak menerima permintaan maafnya, Luhan harus maklum. Sehun kan ada di depannya—HAH?

"HUA!" jerit Luhan, begitu menemukan wajah—tampan—Sehun di antara seragamnya yang tergantung. Baju-baju di pelukan Luhan melorot dan hampir jatuh ke tanah kalau ia tidak segera berjongkok.

Sehun tidak bereaksi atas teriakan Luhan. Malah, dia melepas jepit jemuran dan menarik seragamnya dengan santai. Luhan sendiri masih melongo, terlalu kaget dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba.

Ketika akhirnya yakin kalau dihadapannya ini memang Sehun, Luhan bangkit sambil menebak-nebak motif kemunculannya. Mungkin dia mau mencekikku dengan kawat jemuran? Lalu nanti dia akan mengatakan kepada saudara-saudaranya kalau aku mengalami insiden saat mengangkat jemuran?—Luhan menebak-nebak dalam hati, parno sekaligus takut.

"Aku udah tahu masalahnya," kata Sehun kemudian.

"Eh?" sahut Luhan. Ia belum menyelesaikan hipotesisnya, jadi ia menjaga jarak darinya.

"Masalah yang tadi pagi kubilang," kata Sehun lagi. "Aku udah tahu."

"Ah..." gumam Luhan, walaupun masih merasa agak waswas. "Apa masalahnya?"

Sehun tidak langsung menjawab. Angin dingin mulai berembus, menerbangkan daun-daun kering dan baju-baju yang tergantung di antara mereka berkelepak. Rambut Sehun ikut tertiup, membuat Luhan bisa melihat jelas kedua mata sipitnya yang memancarkan sorot yang tadi ia bilang itu: hangat. Namun, lagi-lagi, itu hal yang gila. 'Hangat' adalah kata sifat terakhir yang bisa tercantum di dalam daftar karakteristik seorang Oh Sehun.

"Aku suka kamu."

Oh, begitu.

Tunggu. Mwo?!

"HA?!" sahut Luhan. Mungkin barusan Sehun mengatakan hal lain—sesuatu yang oleh angin dikaburkan menjadi sesuatu yang khayali.

"Kamu denger, kan," tandasnya, kemudian lanjut menarik lepas jemuran yang tersisa, seolah barusan hanya mengomentari cuaca.

Luhan termenung beberapa saat, mencoba memutar ulang kata-kata Sehun tadi. Berhubung ia sering melamun, ia tidak bisa sepenuhnya mempercayai pendengarannya. Namun, sebanyak apa pun Luhan putar, 'aku suka kamu' yang dikatakan Sehun secara kelewat kasual tadi terus menggema.

Karena kata-kata itu begitu lucu dan sulit dipercaya, Luhan tertawa keras-keras. Namun, begitu Sehun meliriknya judes, Luhan mengatupkan mulut dan balas menatapnya ngeri. "Kamu nggak mungkin serius."

Sehun mengerutkan dahi. "Memang aku pernah nggak serius?"

"Pernah, waktu aku pertama kali telepon ke rumah ini," kata Luhan, entah kenapa bisa mengingatnya. Mungkin karena itu satu-satunya candaan Sehun yang pernah ia dengar.

"Ah." Sehun sepertinya juga masih ingat soal 'melamar kakak saya' itu.

Selama beberapa saat, Luhan lanjut terperangah sementara Sehun terus mengangkati jemuran seperti tak ada yang terjadi.

"Geundae...wae?" tanya Luhan lagi, benar-benar tidak paham.

Sehun menatap ke arah lain, tampak sungguh-sungguh berpikir. "Mollaseo. Teori psikologi mungkin bisa menjelaskan. Mungkin *Plato. Tapi, aku belum belajar."

Luhan yakin sekarang tampangnya tampak dungu dengan mata dan mulut terbuka lebar serta otot pipi jatuh. Plato...?

"Yah, cuma mau ngomong itu." Sehun menghampiri Luhan, lalu menumpuk baju yang tadi diangkatnya ke atas baju-baju yang sedang Luhan peluk. Setelah melirik sang pemuda bersurai madu sekilas, Sehun berlalu begitu saja ke rumah utama.

Sepeninggalnya, Luhan terlongong-longong, menatap nanar deretan jepit jemuran warna-warni yang berputar-putar di kawat tertiup angin. Titik-titik air hujan mulai turun, tapi Luhan bergeming di tempatnya, belum bisa berpikir jernih.

Yang barusan itu apa?!

.

.

.

To be Continued...


*Gom Se Mari & Rice Song (Bap Song): Lagu anak-anak di Korsel.

*Mapo dubu: Tumis tahu ala Korea.

*Gyeran mari: Telur gulung korea.

*Plato: seorang ilmuwan dari Yunani.


*tarik napas panjang* *embuskan lewat mata* (?)

Yeay. Ini akhirnya selesai juga. Yeaaay. (authornya lagi nggak semangat -_-)

Duh, ada yang mau mijetin ini bahu nggak? Dibayar deh, 500 perak #ditabok huhu lagi bokek TwT

OKE AKHIRNYA SEHUN CONFESS KE LUHAN. LEH UGHA (?) Maap kalo nggak memuaskan, karna ini remake, harus ngikutin alurnya ugha :'v

Yang berharap ada chanbaek, neomu neomu mian. Kayaknya Cuma dikit deh. Soalnya si bebek (maafkan daku baekhyun ganteng) cuma kadang-kadang kan berkunjung ke rumah 4 kam—bersaudara itu. apa harus saya hapus tag chanbaek nya? Haha. *nangis di pojokan*

Salam HHS dari Ann, makasih.


So...mind to RnR? :3