Title: "PLEASE DON'T"
Main pair: EXO KaiSoo-Kai-DO.
Words: 9K
.
.
.
dan sebenernya gue ngga ngerti ini cerita apaan karena udah cerita lama yang di edit-edit ulang. wkwk xD
Hyung, aku pulang minggu depan!
Jongin sudah tidak sabar dengan kepulangannya ke Korea hari ini. Sudah lebih dari empat tahun ia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sendiri. Ia merindukan suasana Korea, mulai dari makanannya, hingga ramainya jalanan disana. Berjuang di negeri orang juga tidak semudah yang ia kira. Walaupun begitu, sekarang ia bisa kembali dengan kesuksesan di tangannya.
Ia menunggu kedatangan kedua kakak lelakinya di bandara saat ini. Dengan sedikit gerutu yang keluar dari mulutnya, ia masih setia menunggu dua Kim—Kim Junmyeon dan Kim Jongdae—yang ia yakini sedang berada di jalan sekarang. Kedua kakak lelakinya adalah orang yang paling berjasa untuknya. Mereka berdua rela bekerja hanya untuk mewujudkan mimpi Jongin menjadi seorang penari opera. Dan ketika semua sudah tercapai, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan apapun yang kedua kakak lelakinya inginkan saat ini.
"Jonginnie!"
Jongin mendongakkan kepala dan mendapati dua kakak lelakinya berlari ke arahnya, "Hyung!"
"Maknae-ya," Jongdae mengacak-acak rambut Jongin, "Kau sudah dewasa sekarang! Akhirnya kau pulang juga!" serunya dan memeluk Jongin erat-erat.
"Aku merindukan kalian," Jongin tertawa kecil, "Ayo kita pulang ke rumah!"
"EH?" Junmyeon tertawa kecil, "Ke rumahku? Atau ke rumah Jongdae?"
"Maksudnya? Aku tidak mengerti—"
"Kami tinggal terpisah, Jongin-ah," Jongdae tersipu, "Kami tinggal bersama pasangan kami masing-masing."
Dumbfounded.
Jongin menggelengkan kepalanya, "Baiklah-baiklah. Aku kembali ke apartment lama kita saja. Kalian tidak menjualnya, 'kan?"
Junmyeon dan Jongdae tertawa, "Tentu tidak, Maknae. Kami tahu kau akan kembali. Kami sudah mempersiapkan apartment lama kita untukmu. Untuk adik yang selalu menjadi adik kecil kami."
Ucapan Junmyeon membuat Jongin tersipu. Memang perbedaan usia antara Junmyeon dan Jongin lumayan jauh; sekitar enam tahun. Sedangkan dengan Jongdae ia berjarak empat tahun. Maka dari itu Junmyeon dan Jongdae selalu memperlakukan Jongin seperti adik kecil yang masih mengompol ketika tidur malam; dan seorang adik kecil yang masih membutuhkan bantuan ketika harus menyikat gigi ketika pagi hari.
Perjalanan pulang sangatlah menyenangkan. Jongin tak henti-hentinya terkesima dengan perubahan Seoul saat ini. Seingatnya, tidak banyak gedung-gedung tinggi disana. Bahkan taman dimana ia sering gunakan untuk bermain ketika kecil sudah berubah menjadi sebuah apartment mewah. Banyak perubahan; tidaklah buruk menurutnya. Dan semoga tidak ada yang berubah dari kehidupannya setelah ini.
"Kita sampai!" seru Jongdae yang membuka apartment lama mereka.
"Akhirnya," Jongin menjejalkan dirinya di sofa di ruang tengah mereka, "Aku harus menunggu berjam-jam untuk ini."
"Kau bisa beristirahat setelah ini. Aku dan Jongdae harus kembali bekerja," Junmyeon menenggak air dari lemari es nya, "Jika kau ingin ke tempat dimana aku tinggal, kau hanya perlu naik dua lantai di atas ini. Jongdae ada tiga lantai dari sini—dengan nomor belakang yang sama."
"Kalian masih pada gedung yang sama? Tidak kreatif," Jongin mengejek, "Sudah sana, pergi! Bekerjalah untukku! Aku butuh makan," ia terkikik.
Jongdae mendelik, "YA! Sekarang uangmu sudah lebih banyak daripada kami—"
"Bullshit. Kalian direktur di sebuah perusahaan besar. Jangan berusaha membohongiku. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bohongi dengan tidak menancapkan stick pada game console kita—"
"Kata seorang penari opera yang sudah berkeliling dunia," sindir Jongdae, "Kau masih ingat kejadian itu rupanya."
"Iya, karena kau selalu menjahiliku, Hyung. Sudah sana pergi!"
Dengan sedikit keributan, kedua kakak lelakinya pun pergi meninggalkannya sendirian. Tenang. Batinnya seraya merebahkan dirinya di sofa ruang tengahnya. Badannya serasa remuk saat ini. Panas; hingga ia harus membuka kaosnya agar terasa lebih segar. Padahal ia sudah menyetel pendingin ruangan dengan suhu terendah. Lagipula saat ini memang musim panas, jadi wajar jika ia merasa panas. Dibiarkannya dada bidang itu terumbar kemana-mana. Toh ia sedang sendiri.
Badannya sudah banyak berubah. Sekitar empat atau lima tahun lalu, ia masih bertahan dengan badan yang kurus kering. Sekarang, disaat ia sudah mengenyam banyaknya porsi latihan untuk pementasan, badannya sudah berbentuk. Apalagi dengan kulitnya yang lebih coklat jika dibandingkan warga Korea pada umumnya. Ia bangga, karena ia menganggap dirinya eksotis; seksi.
Ia berdiri di depan lemari es yang terbuka. Panasnya udara membuatnya ingin telanjang saja. Pemikiran itu membawanya menuju kamar mandi dan menyalakan shower dengan air dingin dari sana. Rambut merah mudanya ia biarkan dibasahi air yang mengalir. Ini menenangkan pikirannya sejenak. Tidak terasa jika ia merindukan semua yang ada di Korea; bahkan air dinginnya sekalipun. Hal kecil seperti ini membawa seluruh kenangan masa kecilnya bersama kedua kakak lelakinya.
Dengan celana pendek dan wifebeater hitam yang terpasang di badannya, ia menjelajahi dapur setelah selesai mandi. Di atas kepalanya ada sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih meneteskan air dari sana. Ditelitinya seluruh bagian dari dapur tempat tinggalnya. Terkadang ia tersenyum kecil ketika melihat bahan makanan yang ada. Ia menyadari kenyataan bahwa kedua kakak lelakinya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik; bahkan hingga menyediakan teh dan ramyun kesukaannya.
Disaat ia sedang sibuk dengan bahan makanan yang ada di dapurnya, ia mendengar bel pintu apartment nyaberbunyi.
"Coming!" serunya seraya melangkahkan kakinya dengan malas.
Ia membuka pintu itu. Dan kemudian ia mendapati seorang perempuan berdiri disana. Cantik. Menurut Jongin begitu. Matanya yang bulat memandang Jongin tanpa dosa. Bibirnya yang berbentuk hati tersenyum kecil pada Jongin—dan cukup membuat jantung Jongin berhenti sejenak. Rambut hitamnya ia biarkan terurai. Badannya yang mungil—dan kontras dengan Jongin yang tinggi—membuat Jongin ingin melindunginya walaupun dari debu sekalipun. Kulitnya apalagi. Perempuan itu punya kulit berwarna pucat dan mungkin akan terlihat seperti kopi dan creamer jika dibandingkan dengan kulit Jongin. Hanya dalam waktu sepersekian detik, Jongin bisa meneliti itu semua. Dan itu lebih dari cukup.
"Hmm, mencari siapa?" tanya Jongin kikuk.
"Oh," perempuan itu tersadar akan keperluannya, "Junmyeon Oppa menyuruhku untuk mengambilkan ponselnya yang tertinggal disini."
"Junmyeon Oppa?" tanya Jongin tidak mengerti.
Perempuan itu tertawa kecil, "Perkenalkan," ia mengulurkan tangannya dan disambut genggaman tangan Jongin, "Do Kyungsoo. Aku… tinggal bersama—"
"AH! Kau—ah, aku mengerti," Jongin yang masih berkutat dengan handuk di kepalanya tertawa paksa, "Masuklah, Noona. Oh, apakah aku harus memanggilmu Noona? Karena aku pikir—"
"Kau harus memanggilku Noona."
Hening.
Entah apa yang dirasakan Jongin saat ini. Belum ada tiga menit ia bertemu dengan Kyungsoo—perempuan itu—tapi ia merasakan kekecewaan yang luar biasa setelah mengetahui bahwa perempuan yang ada di hadapannya itu adalah pasangan dari kakak tertuanya, Junmyeon.
"Jadi, apa aku bisa masuk?" ucap perempuan itu seraya tertawa lembut.
Jongin tersadar dari lamunannya, "Oh—tentu! Masuklah," ia akhirnya berjalan di belakang Kyungsoo, "Kau tentu sudah familiar dengan tempat ini, 'kan?"
"Hmm," ia bergumam setuju, "Aku sempat tinggal disini selama sebulan mungkin? Aku sudah tidak ingat."
Jongin berusaha mencari dimana ponsel kakak lelakinya, "Dimana ponselnya? Aku tidak tahu dimana—"
Kyungsoo menghampiri Jongin yang sedang sibuk mencari di lemari buku yang terletak di sudut ruangan tersebut, "Ada di dapur. Kau ini. Apa kau tidak tahu jika kakakmu kemari?" tanyanya yang kemudian mengambil ponsel Junmyeon yang ada di atas lemari es.
"AH—aku lupa jika dia kesana," Jongin masih berusaha mengeringkan rambutnya, "Ngomong-ngomong, kalian sudah tinggal bersama sejak kapan?"
"Enam bulan yang lalu? Aku sendiri lupa," Kyungsoo mengamati dapur Jongin, "Sepertinya kakak-kakakmu tidak mengubah banyak hal disini. Kau menyukai ini?" ia mengangkat teh yang ada disana, "Aku juga—kau tidak bertanya, ya? Hmm, aku hanya ingin berbasa-basi saja—tapi sepertinya itu tidak penting," gumamnya.
Jongin tertawa kecil, "Kau lucu sekali, Noona. Oh—aku belum mengenalkan diriku secara lengkap. Aku Kim Jongin, 24 tahun, seorang penari di opera. Noona sendiri?"
"Do Kyungsoo, 25 tahun, seorang penulis novel. Aku sudah mendengar banyak hal tentang dirimu. Kau lebih dewasa dari yang kukira."
"Dewasa dan berwajah tua itu beda tipis," Jongin tertawa, "Maaf jika aku sepertinya sok kenal atau apa tapi—tidak ada salahnya untuk mengenal calon kakak iparku, 'kan?"
Kyungsoo mengangguk dengan senyum manis yang terpapar disana. Senyum yang berhasil membuat pipi Jongin memerah karena malu. Ia sudah lupa kapan merasakan hal tersebut. Mungkin dua atau tiga tahun yang lalu. Dengan Taemin, perempuan yang menjadi partner nya di sebuah opera ketika masih ada di Perancis. Tapi sekarang, mungkin wajah Taemin saja ia lupa. Toh Jongin tidak ingin mengingatnya; perselingkuhan Taemin lebih dari menyakitkan untuknya.
"Kau mau minum teh? Aku akan membuatkannya untukmu," Jongin mengambil sekotak teh dari tangan Kyungsoo, "Ceritakan padaku bagaimana kalian bisa bersama. Itupun jika kau mau menceritakannya," ujar Jongin yang mulai sibuk disana.
"Minseok Unnie mengenalkan Junmyeon Oppa padaku. Minseok Unnie itu partner Jongdae. Mereka tinggal bersama juga jika kau ingin tahu."
"Aku sudah tahu. Agak mengejutkan. Sekian tahun tidak bertemu, mereka sudah tinggal bersama pasangannya masing-masing. Hanya aku yang akan sendirian… kesepian," Jongin tertawa kecil, "Menyedihkan sekali."
"Kau tidak punya pasangan? Hei—mana ada perempuan yang menolak seseorang sepertimu? Seseorang yang masih muda tapi sudah mapan. Lagipula kau pasti juga orang yang baik."
"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ini untukmu," Jongin menyerahkan secangkir teh pada Kyungsoo dan duduk di hadapannya, "Aku tidak sebaik yang kau kira. Ah, apa kalian tidak ada keinginan untuk menikah?"
Kyungsoo tersedak, "Menikah?" ia menatap Jongin dengan mata yang memerah, "Itu terlalu cepat. Lagipula aku belum—ah, lupakan!"
"EH? Apa? Kenapa kau tidak meneruskannya? Apa ada yang salah dengan kakakku?
"Ti—tidak! Sama sekali tidak! Kakakmu lebih dari ekspektasiku sebelumnya. Baik, bahkan sangat baik, tampan, dan mapan. Itu sesuai dengan apa yang aku inginkan," ucapnya dengan rona merah di pipinya.
Jongin tertawa kecil, "Dia sangat dewasa, huh? Apa dia orang yang romantis? Aku pikir dia orang yang kaku dan pemalu."
"Romantis? Mungkin," ia berusaha mengingat-ingat sesuatu, "Dia orang yang sangat dewasa. Seperti apa yang kau katakan tadi. Dia orang yang sangat bertanggung jawab juga."
"Aku senang jika kalian bisa menikah nanti. Jadi aku punya tempat untuk meminta makanan jika aku sedang malas memasak," ia terkekeh.
"Kau—tidak akan kembali ke Perancis?"
"Nope. Aku akan menetap di Korea untuk sementara waktu. Dua atau tiga tahun mungkin? Aku baru saja melamar sebagai seorang koreografer untuk opera-opera dan drama musikal yang diadakan di Korea. Karena sekarang sepertinya banyak idol yang beralih profesi sebagai aktor drama musikal," Jongin menyesap teh nya, "Lagipula aku sedang bosan untuk ada di depan layar. Jika rasa bosanku hilang, aku akan kembali menjadi penari opera lagi."
Kyungsoo mengangguk sebagai persetujuan dari kata-kata lelaki yang ada di hadapannya, "Kau berbeda sekali dengan kedua kakakmu."
"HM?" Jongin mengerutkan alisnya, "Maksudmu?"
"Kau berbeda. Kau tidak menyukai apa yang dimaksud dengan aturan dan berjalan dengan kemauanmu sendiri."
"Kenapa kau mengatakan hal tersebut?" tanya Jongin antusias.
"Kakakmu sering menceritakan tentang kepribadianmu yang out-of-the-box. Seperti mengejar impian sebagai penari. Disaat semua orang ingin menjadi pebisnis ataupun tenaga medis, kau malah bekerja sebagai pegiat seni."
Jongin terkekeh, "Berbeda bukan berarti harus keluar dari jalurnya. Lagipula aku memang selalu mengerjakan apa yang aku mau. Yang penting aku menghasilkan hal yang sama, 'kan?"
Kyungsoo terkagum dengan jawaban yang diberikan Jongin. Mungkin apa yang dikatakan Junmyeon benar; tapi belum sepenuhnya benar. Jongin juga melebihi ekspektasinya. Bahkan melebihi dari perkiraan maksimalnya. Lelaki yang lebih muda darinya itu ternyata lebih dewasa dan menjawab semua keingintahuannya dengan tenang.
DRRT—DRRT.
"Oh?" Kyungsoo mengangkat panggilan di ponsel Junmyeon, "OPPA! Ah—iya, aku sedang bersama Jongin sekarang. Aku akan membawa ponselmu pulang setelah ini. Hmm, cepat pulang!"
Setelah menutup panggilan tersebut, Kyungsoo kembali mengalihkan perhatiannya pada Jongin, "Dia selalu begini. Mudah sekali melupakan sesuatu."
"Hyung baru saja menelepon?" Kyungsoo mengangguk, "Tagihan telepon kantornya bisa membengkak kalau dia melupakan barang-barangnya setiap hari," ia terkekeh.
Perempuan itu tertawa kecil, "Baiklah, aku akan kembali ke lantai 14. Pekerjaanku sedang menunggu," ia melangkah menuju pintu dan diikuti Jongin di belakangnya, "Senang bisa mengenalmu, Jongin-ah," serunya ceria.
"Senang juga bisa berbincang denganmu, Noona."
.
.
.
Hidup Jongin selama seminggu ini lebih dari membosankan. Pekerjaannya baru bisa dimulai sekitar sebulan lagi. Setiap hari ia hanya menghabiskan waktunya dengan latihan menari, bermain game, tidur, makan, dan menonton televisi. Sahabatnya, Sehun dan Chanyeol, masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Terlebih Chanyeol; karena lelaki bertelinga lebar itu sudah mempunyai satu orang anak dari partner nya, Byun Baekhyun—padahal mereka belum menikah.
"Membosankan," keluhnya yang kemudian membenamkan dirinya di ranjang.
Ia mengotak-atik ponselnya, dan menghasilkan sesuatu yang nihil. Melakukan selca? Ia sama sekali tidak bisa melakukan itu dan cenderung menghancurkan wajahnya yang tampan itu. Bermain game? Semuanya sudah selesai. Sesekali ia melakukan chatting dengan sahabatnya tapi itu juga tidak menghilangkan rasa bosan.
OH! Ada yang datang! Batin Jongin ketika mendengar bel tempat tinggalnya berbunyi.
"OH? Noona?" tanya Jongin ketika melihat Kyungsoo disana.
"Hei," Kyungsoo mengangkat beberapa kotak di tangan kanannya, "Makan siang?"
Jongin tertawa kecil, "Masuklah. Kebetulan aku belum makan sedari pagi."
"Kau sama sekali tidak makan? Kau bisa sakit jika terus-terusan begitu," Kyungsoo berjalan menuju dapur dan mengeluarkan semua makanannya disana, "Makanlah. Kau bisa memakan semuanya."
"Whoa, terima kasih. Ini bukan porsi untukku saja, Noona. Kau juga harus makan."
"Tentu. Aku akan makan juga. Selamat makan," ucapnya.
"Kau memasak sebanyak ini untuk dirimu sendiri? Rakus," sindir Jongin.
"OH—" Kyungsoo tersenyum kecut, "Sebenarnya ini untuk Junmyeon Oppa. Tapi… sepertinya dia terlalu sibuk untuk makan siang bersamaku. Jadi… aku putuskan untuk makan bersamamu saja."
Jongin bingung. Ia mendengar nada kecewa dari mulut Kyungsoo. Nafsu makannya yang semula memuncak pun menjadi hilang seketika. Apalagi ketika melihat senyuman paksa dari perempuan yang ada di hadapannya itu membuat Jongin menjadi tidak tega.
"Kalau Hyung tidak bisa makan siang bersamamu, bawa saja kemari. Kau tahu sendiri seseorang yang kesepian sepertiku—kau bisa menyelamatkanku dari kelaparan, Noona."
Kyungsoo tertawa kecil, "Kau ini, bisa saja. Bagaimana? Maaf jika ini tidak enak atau—"
"YA! Ini enak. Aku sudah lama tidak makan makanan rumahan seperti ini. Biasanya aku keluar dan makan di restoran. Kau harus tahu betapa buruknya aku ketika di dapur."
Lagi-lagi perempuan itu tergelak, "Jangan-jangan kau bisa menghancurkan dapur jika dibiarkan disana."
"AH—" Jongin berusaha menelan makanannya, "Aku sudah pernah melakukan itu. Dapur di apartment ku di Perancis hampir terbakar. Untung saja dulu Taemin—ah, lupakan."
"Taemin? Hmm, mantanmu, huh?" goda Kyungsoo.
"Iya, Noona. Orang yang sudah meninggalkanku demi Choi Minho atau siapalah itu. Menyebalkan sekali. Tidak kusangka menjadi korban perselingkuhan itu sangat sakit."
"Kasihan sekali," Kyungsoo menjulurkan tangannya dan mengusap-usap rambut Jongin, "Jangan sedih, hm?"
"Hei—aku bukan anak kecil. Lagipula itu sudah lama terjadi. Aku saja sudah lupa bagaimana wajah Taemin."
"Ih, benarkah? Aku tidak yakin—"
Ponsel Kyungsoo berbunyi.
"Sebentar," ia mengangkat ponselnya, "Halo? Ah—iya, Oppa. Pulang terlambat? Baiklah, aku akan membeli makan malam diluar nanti. Hmm—"
Jongin mengerutkan alisnya. Ia tahu jika Junmyeon baru saja menelepon. Raut wajah kecewa Kyungsoo terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Ia tidak tahu mengapa Junmyeon, kakak lelakinya, tidak bisa menyempatkan diri untuk pulang lebih dulu. Mungkin pekerjaannya padat. Pikir Jongin begitu. Tapi jika dilihat dari tanggapan Kyungsoo, tentu Junmyeon tidak melakukan ini hanya sekali. Atau mungin Jongin berkesimpulan lebih cepat dari biasanya.
Kyungsoo meletakkan teleponnya, "Well—"
"Makan malam saja denganku."
"EH? Maksudnya?"
Jongin meletakkan sumpitnya, "Aku bilang makan malam saja bersamaku. Junmyeon Hyung pulang terlambat, 'kan? Makan saja denganku. Kita bisa keluar atau—kau mau memasak disini?"
"Jongin-ah, aku—" ia menghela nafasnya, "Baiklah. Aku akan memasakkan makanan untukmu."
"Tapi aku tidak ada bahan makanan," Jongin tertawa dengan bodohnya.
Lagi-lagi ia menghela nafas, "Anak kecil. Aku harus membeli dulu kalau begitu."
"Aku ikut!"
Perempuan itu tertawa, "Kau benar-benar seperti anak kecil yang ingin ikut ibunya berbelanja."
.
.
.
Menyenangkan.
Jongin mengakui bahwa kebersamaannya bersama Kyungsoo menyenangkan. Perempuan itu lucu. Dan itu membuat Jongin gemas. Apalagi matanya yang bulat itu selalu melengkung layaknya bulan sabit ketika tertawa. Juga tingkahnya yang dewasa-tapi-manja itu membuat Jongin ingin merengkuhnya saja.
Sejenak Jongin tahu ini keliru. Jongin tahu ini salah. Walaupun hanya dua kali bertemu, Jongin sudah merasakan banyak kecocokkan diantara mereka berdua. Ketika berjalan bersama, mereka menyadari banyaknya kesamaan di setiap topik yang dibicarakan, mulai dari jenis musik, makanan, genre film, bahkan hal kecil seperti kebiasaan menginjak bagian belakang sepatu.
"Ibuku benar-benar tidak menyukai kebiasaanku itu. Bahkan pernah suatu hari ibu membuang sepatu kesayanganku hanya karena bagian belakangnya hancur."
Jongin tergelak, "Kau pembangkang sekali," ia mengangkat belanjaan mereka, "Padahal hampir semua sepatuku juga begitu. Jongdae Hyung sangat sebal jika aku meminjam sepatunya dan berakhir dengan bagian belakang yang terlipat. Aku bahkan masih ingat bagaimana reaksinya ketika aku mengembalikan sepatunya. Kacau," ucapnya.
"Kyungsoo?" sapa seseorang yang berpapasan dengan mereka.
"Oh! Seulgi-ya! Lama tidak bertemu denganmu!"
"Hei," wanita itu memeluk Kyungsoo, "Aku merindukanmu."
"Hmm—aku juga. Sudah lebih dari setahun kita tidak bertemu. Kapan kau kembali?"
"Dua minggu yang lalu," ia mengalihkan perhatiannya pada Jongin, "Ini? Eii—kau sudah ada yang punya, hm?"
"Ini—sebenarnya dia—"
"EH! Tidak usah malu, Soo. Kau selalu begitu."
"Dia—"
Jongin mengulurkan tangannya, "Kim Jongin. Adik dari calon suami Kyungsoo Noona."
"Noona? Ah—maafkan aku, aku pikir kau," Seulgi tertawa kikuk, "Jadi awkward, huh? Maafkan aku."
"Kau! Makanya jaga mulutmu itu. Cerewet," sindir Kyungsoo.
"Kau mengenalku dari dulu, Soo. Seharusnya kau tahu itu."
Jongin mengikuti kemana pun Kyungsoo pergi. Setelah berpisah dari Seulgi mereka melanjutkan apa yang menjadi tujuan awal. Jongin hanya mendorong kereta belanjaan mereka dan membiarkan Kyungsoo memasukkan apapun yang ia butuhkan nanti. Sesekali Jongin mengembalikan barang yang sekiranya mahal dan menggantinya dengan barang yang ditempeli produk bonus yang gratis tanpa sepengetahuan Kyungsoo. Jahil. Bukan Jongin namanya jika tidak jahil.
Perjalanan kembali menuju apartment Jongin dipenuhi dengan gerutuan Kyungsoo karena barang-barang yang dinginkannya menghilang. Dan itu membuat Jongin semakin gemas. Lelaki itu memberikan pembelaan tentang sesuatu yang lebih ekonomis. Jika sudah begini Kyungsoo mengatakan bahwa kualitas bahan makanannya akan mempengaruhi masakannya nanti. Tapi perdebatan mereka berakhir dengan kalimat 'Aku yang membayar semuanya—' dari Jongin.
"Kau. Menyebalkan," gumam Kyungsoo.
"Aku ambil itu sebagai pujian," goda Jongin.
"Bisa tidak mengalah denganku sekali saja? Sedari tadi kau menggodaku terus-menerus."
"Bukannya kau lebih tua dariku? Harusnya kau yang mengalah."
"Anak kecil."
Jongin tergelak, "Iya, Mama."
Kyungsoo menghela nafasnya sembari mengeluarkan semua belanjaannya dan menaruhnya di lemari es. Sempat ia tercengang ketika mendapati lemari es itu kosong dan hanya menyisakan tiga botol cola dan satu botol besar air mineral saja.
"Pantas saja kau tidak makan apapun," sindirnya.
"Aku takut jika menyimpan bahan-bahan mentah akan busuk nanti. Kau tahu sendiri aku tidak bisa memasak."
"Jadi, apa saja yang kau makan selama seminggu ini?"
"Delivery? Atau ramyun?"
"Tidak sehat."
"Kau bisa memasakannya untukku, Noona. Gampang, 'kan?"
"Lama-lama aku seperti asisten rumah tanggamu saja."
Jongin tertawa terbahak-bahak, "Aku belum menikah. Aku belum punya rumah tangga. Atau kau ingin membangun rumah tangga bersamaku saja?" Hening. "Lupakan saja apa yang baru saja aku katakan," ia melangkah menuju kamarnya, "Aku mengganti pakaianku dulu!"
Bodoh! Batin Jongin seraya mengetuk-ngetukkan kepalanya perlahan di tembok kamarnya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa mengucapkan hal tersebut. ia benar-benar menyesal. Bahkan sekarang ia yakin jika suasana di antara mereka akan canggung. Ia yakin begitu. Walaupun tanpa Jongin ketahui bahwa ada semu merah terpapar di kedua pipi Kyungsoo saat itu.
"Jongin-ah!" seru Kyungsoo dari luar.
Jongin yang masih terdiam di kamar pun tersadar, "HM? Apa, Noona?" jawabnya.
"Aku pulang dan mandi dulu, ya? Aku akan kembali jika sudah selesai!"
"OH! Iya! Kau bisa pergi!"
Lelaki itu merebahkan badannya di ranjang. Ia tidak mengerti, baru dia bertemu Kyungsoo dua kali, tapi mereka akrabnya bukan main. Sejenak Jongin berpikir karena selama ini ia tidak punya kakak perempuan. Apalagi dengan jarak yang hanya setahun—seperti dia dan Kyungsoo. Tapi ketika membayangkan kakak lelakinya menikah dengan Kyungsoo, punya anak darinya, dan ia harus menyaksikan itu semua—Oh no. Hati Jongin berkata jika tidak akan ikhlas. Tapi, mereka baru bertemu dua kali. Benar-benar baru dua kali.
Jongin melangkahkan kakinya keluar. Ia mendapati kantong belanjaannya sudah kosong dan semuanya sudah tertata rapi. Bahkan beberapa di antaranya sudah dipersiapkan untuk makan malam mereka.
Lelaki itu mendudukkan dirinya seraya menenggak susu pisang yang baru ia beli tadi. Penuh perjuangan; karena Kyungsoo menganggap Jongin childish. Lelaki itu melamun, lagipula tidak ada hal lain yang bisa dilakukan sekarang.
Papkon gateun kkochipi jeo nopi narayo~
Saranghanda malhamyeon nan jeongmal nogayo~
"EH?" Jongin menyadari ada bunyi ponsel disana, "Ponsel Noona?"
Dilihatnya siapa yang menghubunginya, Junmyeonnie.
"Halo, Hyung?" Jongin mengangkat sambungan ponsel tersebut.
'Jongin? Kyungsoo bersamamu? Kenapa ponselnya bisa di tanganmu?'
Crap. Jongin tidak tahu harus berkata apa. Berkata jika mereka makan siang bersama? Mengakatan bahwa mereka berencana makan malam berdua? Atau mengatakan bahwa mereka baru saja keluar berdua?
"AH—tadi Kyungsoo Noona mengantarkan makan siang untukku. Aku tidak tahu jika ponselnya tertinggal. Untung saja kau menelepon," jawabnya beralasan.
'Oh… pantas saja. Mungkin nanti dia akan mengambilnya ke tempatmu. Bilang saja jika aku meneleponnya nanti.'
"Okay, kapten. Siap!"
Jongin menutup telepon tersebut. Aku sudah berbohong. Iya, 'kan? Ia mengulang-ulang kalimat itu dibenaknya. Tapi sedikit pembelaan di otaknya. Toh tadi Kyungsoo benar-benar mengantarkan makan siang untuknya, 'kan? Lagipula terlalu cepat jika Jongin menyimpulkan ini keliru. Mungkin saja Kyungsoo dekat dengannya karena ingin lebih mengenal dirinya sebagai adik dari calon suaminya.
Tak beberapa lama, bel apartment Jongin berbunyi.
"Coming!" serunya seraya berlari membukakan pintu.
"Maaf jika lama. Aku harus mencuci rambutku terlebih dulu. Bahkan ini masih basah," ia menunjuk handuk yang masih bersarang di kepalanya, "Aku tidak ingin kau menunggu—"
"Masuklah, tugasmu sudah menunggu, Noona," ia terkekeh, "Ah, ponselmu tertinggal. Hyung baru saja menelepon. Aku mengangkatnya."
Kyungsoo menghentikan langkahnya, "Kau—kau mengangkatnya?"
"Hmm," Jongin bergumam, "Aku bilang jika kau baru saja mengantarkan makan siang untukku. Aku tidak berbohong, 'kan?"
"AAH—benar," ia mengangguk, "Sepertinya aku harus menelepon dia nanti. Atau aku biarkan dia meneleponku. Aku takut jika mengganggunya."
"Apa dia benar-benar sibuk?" tanya Jongin seraya mendudukkan dirinya di meja makan.
"Hmm," Kyungsoo mengangguk dan memulai kegiatannya di dapur, "Dia benar-benar seseorang yang gila kerja."
Jongin mengangguk dan sesekali bergumam mengiyakan perkataan Kyungsoo. Ia mengenal baik kakak pertamanya itu. Ambisius. Mungkin itu kata-kata yang tepat untuknya. Jongin orang yang sama, tapi setidaknya Jongin tahu porsi dan apa yang harus diperbuat agar tidak merugikan banyak pihak.
"Beberapa minggu ini dia jarang pulang tepat waktu. Bahkan aku sudah terbiasa dengan itu," Perempuan yang sedang mengiris sayurannya itu tertawa kecil, "Masih beruntung jika ia pulang dan meneleponku begini. Biasanya aku harus membuang makan malam hanya karena ia tidak pulang semalaman."
"Dia tidak memberikan kabar padamu?"
"Hmm," Kyungsoo menghela nafas, "Terkadang, jika sedang hari libur, ia lebih memilih untuk berkumpul dengan rekan-rekan bisnisnya. Dan aku hanya menghabiskan waktu sendirian di rumah. Aku juga tidak mungkin pergi ke tempat Minseok Unnie karena Jongdae ada di rumah. Terkadang aku iri dengan mereka. Jongdae dan Minseok Unnie sama-sama sibuk tapi mereka bisa berkumpul jika hari libur tiba, sedangkan aku? Memang pekerjaanku bisa dikerjakan di rumah, tapi meskipun aku di rumah tapi aku tidak bisa berkumpul dengannya," ia terdiam sejenak, "Tunggu, kenapa aku bercerita padamu? Kau pasti tidak ingin tahu, 'kan?"
Jongin tertawa kecil, "Tenang saja. Aku akan mendengarkan ceritamu. Aku lebih mengenal Junmyeon Hyung. Jadi mungkin aku akan memberimu saran untuk menghadapinya."
"Paling tidak sebelum kau bekerja aku bisa bercerita padamu, iya 'kan?"
"Kau bisa bercerita padaku kapan saja, Noona," Jongin melangkahkan kakinya dan berdiri di samping Kyungsoo, "Kita sama-sama kesepian, hm?"
"Mungkin? Kau sendiri, kenapa lebih memilih sendirian begini? Aku yakin pasti banyak gadis yang menyukaimu."
"Banyak yang mengantri malah," Kyungsoo mendelik ke arahnya, "Aku serius, Noona. Bahkan salah satu idol di Korea secara personal memintaku menjadi koreografernya. Tapi aku menolak."
"Kenapa begitu? Bukannya itu kesempatan bagus?"
"Tidak mau. Aku yakin wanita yang seperti itu pasti murahan. Aku serius juga tentang hal ini."
Mereka berbincang dengan santainya. Beberapa kali mereka tertawa jika ada lelucon yang diutarakan Jongin. Entah, jika candaan Jongin biasanya dikatakan receh oleh kakak lelakinya, maka Kyungsoo sebaliknya, ia bisa tertawa terbahak-bahak karena itu.
"Jongin-ah, bisa kau lepaskan handuk yang ada di kepalaku? Tanganku kotor," ucap Kyungsoo.
"Kau ini," Jongin mulai meraih handuk itu, "Seharusnya kau mengeringkan rambutmu dulu. Bahkan ini masih basah."
"Biarkan, nanti akan kering dengan sendirinya."
"Sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan berusaha mengeringkan rambutmu."
Jongin mengacak-acak rambut hitam Kyungsoo disaat perempuan itu sedang sibuk dengan bahan makanan yang ada di hadapannya. Jongin sendiri tidak mengerti mengapa melakukan itu. Baru dua kali mereka bertemu, tapi kecanggungan diantara mereka menguap begitu saja. Jongin tidak bermaksud melakukan itu, tapi mereka benar-benar nyaman satu sama lain. Jadi tidak ada salahnya, 'kan?
Berjam-jam mereka sibuk disana. Dengan tawa yang mengudara di ruangan itu. Percakapan mereka yang awalnya hanya menyangkut kehidupan sehari-hari sekarang sudah mengarah tentang perasaan masing-masing. Kyungsoo menceritakan bagaimana hubungannya dengan Junmyeon, dan Jongin menceritakan masa lalunya dengan Taemin.
"Ah," Kyungsoo meletakkan sendoknya, "Sepertinya aku harus menelpon Junmyeon Oppa."
"Hmm, aku khawatir jika dia berpikir bahwa aku tidak menyampaikan pesannya."
Kyungsoo mengangguk dan mulai mencari-cari nama Junmyeon disana, "Halo?"
Jongin masih mengunyah makanannya dan melihat perempuan yang ada dihadapannya itu sedang sibuk dengan ponselnya. Awalnya ia tidak peduli, tapi ketika alis wanita itu berkerut, ia mulai memperhatikannya.
"Maaf, Oppa. Aku benar-benar tidak tahu jika kau sibuk—" ia tercekat, "Hmm, maafkan aku sudah mengganggu," ucapnya yang kemudian menutup sambungan telepon tersebut.
"Kenapa?" tanya Jongin.
"Tidak apa-apa," ia tersenyum kecil.
"Hei, kau sudah berjanji untuk bercerita padaku, Noona."
Perempuan itu menghela nafasnya, "Ini bukan yang pertama kalinya. Bahkan aku sudah lupa berapa kali aku melakukan hal yang sama," ia menenggak air yang ada di hadapannya, "Aku tidak mengerti betapa bodohnya aku. Sudah tahu jika dia sibuk, tapi tetap saja tidak belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya."
"Maksudnya?"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Junmyeon Oppa baru saja membentakku di telepon karena aku meneleponnya ketika dia masih sibuk. Bukan membentak sih, tapi lebih ke… menyindir? Hmm, semacam itulah. Aku saja yang bodoh karena tidak bisa tahu kapan dia sibuk atau tidak."
"Hei, itu bukan salahmu."
"Tapi aku—"
"Seharusnya dia berterima kasih padamu. Kau mau memperhatikannya disaat kau mungkin juga stres dengan deadline novelmu itu," Jongin tersenyum lembut, "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Karena menurutku itu bukan salahmu. Dia saja yang terlalu mencintai pekerjaannya."
"Tapi, Jongin—"
"Ini," Jongin menyodorkan selembar tisu pada Kyungsoo, "Hapus air matamu itu. Kau ini lucu, ya? Menangis, tapi bibirmu mengerucut seperti ikan. Kau bilang aku anak kecil? Meh. Apa perlu aku beri kau cermin?"
"Aku tidak seperti anak kecil!"
"Benarkah?" goda Jongin.
"Tidak. Pokoknya tidak!"
"Baiklah, aku mengalah padamu, Gadis Kecil," Jongin menyodorkan udang ke depan mulut Kyungsoo, "Say ah," Kyungsoo melahapnya, "Anak pintar," goda Jongin seraya mengusap-usap rambut Kyungsoo.
Perempuan itu tertawa kecil, "Terima kasih," ia berhenti sejenak, "Daddy."
.
.
.
Sudah seminggu belakangan Jongin tidak kesepian lagi. Ia lebih banyak menghabiskan harinya bersama Kyungsoo, karena wanita itu lebih sering makan siang di apartment nya—bahkan terkadang makan malam jika Junmyeon tidak pulang tepat waktu. Dan jika begitu, mereka menghabiskan sore dengan sekadar berbincang atau menonton film berdua. Tidak jarang Kyungsoo akan tidur siang di tempat Jongin—sekitar tiga kali.
Siang itu Jongin ingin mengajak Kyungsoo makan di restoran yang sudah diincarnya beberapa hari belakangan. Toh ia tidak tahu harus mengajak siapa kecuali Kyungsoo. Setelah itu ia mungkin akan mengajak Kyungsoo berjalan-jalan atau ke arcade. Jongin benar-benar bosan di rumah sepertinya.
"Coming!" teriak Kyungsoo dari dalam.
Setelah dibuka pintunya, Kyungsoo membelalakkan mata karena melihat Jongin berpakaian rapi, "Jongin? Aku baru saja akan turun—"
Jongin memegang pundak Kyungsoo dan mendorongnya, "Ganti bajumu," ia melihat Kyungsoo mengerutkan alisnya, "Kita akan berjalan-jalan! Kita makan di luar!"
"Dalam rangka apa—"
"SSH," ia meletakkan jarinya di bibir Kyungsoo, "Tidak perlu memberikan pertanyaan. Ganti bajumu! Kita tidak punya banyak waktu! Chop chop!"
Walaupun Kyungsoo masih bingung dengan apa yang dimaksud Jongin, tapi ia melakukannya. Ia mengganti pakaiannya dan segera menemui Jongin yang duduk di sofanya dengan santai.
"Sudah? Ah, cantiknya," Kyungsoo mendelik ke arah Jongin, "Ayo kita berangkat!"
"Kemana?"
"Hmm, lihat saja nanti!"
Perjalanan itu tentu menyenangkan. Tidak pernah ada momen yang tidak menyenangkan di antara mereka. Tawa tidak pernah terlepas di setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka. Adorable. Bahkan sekarang tatapan mereka terkadang membuat masing-masing merasa malu-malu.
Sekarang Jongin tidak segan untuk mengusap rambut Kyungsoo lebih lama. Kyungsoo menyukai itu. Ia merasa jika bersama Jongin akan lebih nyaman. Apalagi Jongin sendiri agak protektif padanya. Suka mengomel jika Kyungsoo begadang, dan suka mengomel jika Kyungsoo makan malam dengan porsi sedikit. Kyungsoo bilang Junmyeon tidak suka jika berat badannya berlebih. Tapi Jongin membantahnya dengan mengatakan bahwa Kyungsoo akan tetap cantik seperti apapun keadaannya. Dan Jongin mencetak skor untuk hal ini; karena Kyungsoo akhirnya menuruti apa yang Jongin katakan.
"Kita sudah sampai!"
"Kita makan disini? Ini mahal, Jongin-ah."
"Bisa-bisanya melakukan protes terhadap harga disaat aku yang akan membayar semuanya," Jongin menyipitkan matanya dan melirik Kyungsoo, "Aku bercanda, Noona. Ayo masuk."
Lelaki itu meraih tangan Kyungsoo dan menyeretnya masuk. Ini hal yang biasa sekarang. Bergandengan tangan menjadi hal yang wajar. Lagipula, seorang adik laki-laki akan terasa wajar 'kan jika melakukan hal ini kepada kakak perempuannya?
Mereka melakukan hal yang wajar. Hal yang wajar menurut mereka sendiri. Seperti bergandengan tangan, berpelukan, dan menyandarkan kepala di bahu salah satunya disaat film di televisi serasa membosankan. Wajar menurut mereka juga seperti ketika Jongin memeluk Kyungsoo dari belakang disaat perempuan itu sibuk memasak di rumah keduanya—apartment Jongin. Selama seminggu menghabiskan waktu bersama, semuanya terasa wajar. Mungkin bisa dibilang Kyungsoo hanya akan pulang disaat waktu tidur malam tiba atau ketika Junmyeon akan pulang ke rumah.
Seminggu mungkin terlalu cepat. Tapi kesamaan di setiap cerita dan pendapat membuat mereka dekat lebih cepat jika dibandingkan orang-orang lainnya. Yang mereka tahu semuanya menyenangkan. Bahkan kebohongan yang mereka buat juga terasa menenangkan. Kyungsoo terutama. Ia lebih sering mengatakan pada Junmyeon bahwa ia makan di rumah sendirian disaat ia berada di pelukan Jongin. Awalnya canggung, tapi semua berubah menjadi wajar.
Seperti sekarang, dengan senyum yang tidak terlepas dari wajah mereka, Jongin dengan semangat menyodorkan makanan ke mulut Kyungsoo. Ini wajar. Mereka sudah melakukan ini berulang kali. Disaat Kyungsoo menerima makanan itu, maka Jongin akan mengusap pipi perempuan tersebut. Sangat wajar. Dan menurut mereka ini lebih dari benar.
Amugeosdo saenggakhaji ma,
Neon amu maldo kkeonaejido ma,
Geunyang naege useojwo…
"Kau mengganti nada deringmu?" Jongin mengambil ponsel Kyungsoo yang ada di sakunya.
Kim Junmyeon is calling.
"Junmyeon Hyung menelepon," ujar Jongin seraya menyerahkan ponsel itu pada Kyungsoo.
"Biarkan saja," perempuan itu masih sibuk dengan makanannya, "Jangan diangkat. Biarkan dia mengira aku sedang tidur siang atau apa," ucapnya santai.
"Kau," Jongin meletakkan ponsel itu dan tertawa kecil, "Benar-benar nakal."
"Semua karenamu, Kim Jongin," goda Kyungsoo yang kemudian terperangkap di bawah rengkuhan Jongin.
Mereka membiarkan ponsel itu berbunyi berulang kali. Mereka tidak peduli. Dan mereka menganggap semuanya benar. Ini lebih dari benar. Semuanya benar.
Gyeote meomulleojullae,
Naege yaksokhaejullae?
Son daemyeon naragalkka buseojilkka,
Geopna, geopna, geopna…
.
.
.
Junmyeon tidak pernah tahu. Ia pikir semuanya masih sama saja. Ia masih melihat Kyungsoo yang biasanya. Kyungsoo yang setiap pagi membangunkannya dan menyiapkan semua untuknya. Lelaki itu tidak pernah tahu jika setiap siang Kyungsoo akan berlari ke pelukan adiknya dan membiarkan dirinya terperangkap disana. Junmyeon terlalu sibuk untuk mengamati perubahan-perubahan itu. Bahkan ia tidak menyadari jika namanya bukan lagi Junnie atau Junmyeonnie. Hanya Junmyeon saja.
Junmyeon terlalu sibuk dengan dunianya. Ia terlalu mencintai pekerjaan yang membuat dirinya lupa jika—dulu—Kyungsoo selalu menunggu kepulangannya. Ia tidak pernah mengetahui jika Kyungsoo sering menghabiskan waktunya sendirian. Ia tidak pernah tahu jika Kyungsoo selalu membuang makan malam yang sudah disiapkan karena ia selalu berkata bahwa akan makan malam di kantor saja. Ia tidak pernah tahu jika Kyungsoo selalu menyiapkan bekal makan siang untuknya karena ia tidak pernah mendengarkan dan melihat ke arah meja makan. Ia tidak pernah tahu bahwa Kyungsoo pernah menunggunya di ruang tengah dengan baju yang rapi hanya karena Junmyeon pernah berjanji untuk makan malam bersama—bahkan hingga tertidur di ruang tengah. Dan ia tidak pernah tahu jika Kyungsoo menangis karena Junmyeon sama sekali tidak ingat dengan ulang tahunnya.
Sekarang Junmyeon juga tidak pernah tahu jika Kyungsoo selalu menyebutkan nama adiknya disaat mereka bersama. Ia tidak pernah menyadari jika nama Jongin berubah menjadi Jonginnie dalam waktu singkat. Ia tidak pernah tahu jika Kyungsoo lebih sering mengikat rambutnya disaat Junmyeon lebih menyukai rambutnya yang terurai. Ia juga tidak sadar jika suatu malam Kyungsoo memakai baju Jongin ketika tidur bersamanya.
Kyungsoo sadar jika Junmyeon dan Jongin berbeda. Junmyeon adalah orang yang akan meminta maaf dari Kyungsoo jika Kyungsoo marah walaupun Junmyeon tidak melakukan kesalahan padanya. Sedangkan Jongin akan membiarkan Kyungsoo meredakan kemarahannya dan membiarkan suasana menjadi dingin agar bisa membicarakan masalah mereka. Junmyeon adalah pria yang akan memberikan apapun seperti uang, barang-barang yang mahal, bahkan mungkin apapun yang disebutkan Kyungsoo akan dibelikan saat itu juga. Berbeda dengan Jongin yang lebih memberikan waktu pada Kyungsoo walaupun sedang tidak bersamanya. Jika Jongin pergi untuk bekerja, maka ia akan menyempatkan untuk sekadar mengirim pesan atau menelepon. Yang berbeda hanyalah waktu. Bukan yang lain lagi.
Hari itu mereka memutuskan untuk makan malam bersama—dengan Jongdae dan Minseok juga. Dengan semangat Junmyeon mengajak semuanya. Apalagi ia baru saja mendapatkan promosi dari jabatannya. Maka dari itu, ia benar-benar menyempatkan waktu untuk makan malam bersama.
"Kyungsoo-ya! Ayo kita berangkat!" ajaknya pada Kyungsoo.
"Semua akan datang, Oppa?"
"Hmm! Aku juga meminta Jongin datang walaupun aku tahu dia sedang super sibuk. Aku dengar dia akan mengajak teman kencannya hari ini."
"Te—teman kencannya?" tanya Kyungsoo tidak percaya.
"Hmm," Junmyeon menyisir rambut Kyungsoo dengan jari-jarinya, "Rasanya waktu begitu cepat. Baru kemarin aku mengajaknya bermain bersama, ternyata sekarang dia sudah dewasa."
"Ahh," Kyungsoo mengangguk perlahan. Ada yang salah dengan dirinya. Ingin rasanya ia bertanya pada Jongin siapa teman kencannya saat ini—karena Jongin tidak menceritakan siapa. Kyungsoo menduga salah satu dari rekan kerjanya di opera, tapi selama mereka bersama Jongin tidak pernah membahas hal tersebut.
Kyungsoo duduk dengan perasaan yang tidak tenang. Ia berusaha tertawa dengan candaan Jongdae, tapi ia tidak bisa. Ini familiar; ini seperti double date yang sering ia lakukan dulu. Sekarang? Untuk mencari waktu saja susahnya bukan main—Junmyeon maksudnya.
Tak beberapa lama Jongin datang. Tapi lelaki itu datang sendirian. Tidak seperti yang dikatakan Junmyeon sebelumnya. Kyungsoo lega, tapi tidak terlalu. Karena bisa saja teman kencan Jongin tidak bisa datang karena alasan lain.
"Maaf aku terlambat," Jongin duduk dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya, "Aku baru saja selesai latihan," ucapnya.
"Kau belum mandi? Gross," sindir Jongdae.
"Aku benar-benar tidak ingin melewatkan makan malam ini, Hyung. Seharusnya latihan belum selesai tapi aku menyelesaikannya lebih dulu karena ada janji dengan kalian semua," ia tertawa kecil, "Aku bukan orang yang suka melupakan janjinya."
Niat hati Jongin untuk menyindir Junmyeon, tapi Junmyeon tidak merasa. Tidak peka. Itu juga yang membedakan antara Junmyeon dan Jongin. Jika Junmyeon tidak pernah peka dengan sekitarnya, maka Jongin akan sangat peka walaupun hal yang sangat kecil.
Berkali-kali Jongin menyeka keringatnya. Musim panas sama sekali tidak menolong. Ia sedikit tersiksa karena keringatnya tidak berhenti mengalir. Bahkan ia sudah menghabiskan tiga botol air mineral dingin—dan itu tidak membantu sama sekali. Baju dan sweatpants nya sudah terlampau basah, tapi ia tidak punya waktu untuk menggantinya karena tahu sudah terlambat.
"Aku—aku ke kamar mandi sebentar," pamit Kyungsoo.
Jongin mengikuti kemana arah Kyungsoo pergi. Sedari tadi matanya tidak bisa teralih dari perempuan itu. Apalagi Jongin baru tahu jika Kyungsoo memotong poninya; dan itu membuat Jongin semakin gemas. Pakaian Kyungsoo hari ini juga berbeda, mungkin karena Junmyeon menyuruhnya memakai pakaian yang seperti itu. Jongin tahu kakak lelakinya adalah seseorang yang pemilih, dan Jongin juga tahu bagaimana selera kakak lelakinya tersebut.
Neoneun nae destiny,
Nal kkeuneun gravity,
Gogaereul dollil suga eobseo,
Nan neoman bojanha~
Noona~ is calling…
"EH?" Jongin terkejut.
"EHEEEY—Noona? Siapa itu?" goda Jongdae.
"A—aku akan menjawabnya dulu, Hyung," Jongin berlari menuju kamar mandi.
Entah, radar Jongin langsung mengarahkannya kesana. Di tempat tersebut Jongin mendapati Kyungsoo sedang berdiri di depan kamar mandi dengan wajah yang bosan. Di tangannya terdapat sebuah handuk kecil. Ketika melihat Jongin, ia segera melambaikan tangannya.
"Kemarilah," Jongin mendekat ke arah Kyungsoo, "Kau sangat lelah, hm?"
"YA! Apa yang kau lakukan?"
"Aku? Aku hanya ingin menyeka keringatmu saja. Apa aku salah?" tanyanya dengan polos.
"Junmyeon Hyung bisa marah jika kita begini—"
"Aku tidak peduli," ia tersenyum lembut, "Aku merindukanmu, Jonginnie. Kau sangat sibuk akhir-akhir ini."
Lelaki itu menghela nafasnya kuat-kuat. Dengan segala usahanya ia mencoba untuk bertahan. Tapi senyum dan puppy eyes itu meruntuhkan segalanya. Ia mengakui jika merindukan Kyungsoo juga. Akhir-akhir ini ia hanya bisa menelepon atau sekadar bertukar pesan. Mungkin mereka baru akan bertemu jika Jongin mendapat libur. Dan disaat itu, Kyungsoo akan menghabiskan harinya di tempat Jongin walaupun hanya untuk bercengkerama saja.
"Aku juga," Jongin memeluk Kyungsoo sebentar, "Kembalilah ke tempat makan, Soo."
"Soo? Aku suka itu," ucap Kyungsoo dengan ceria, "Tunggu, kau sudah punya teman kencan?"
"EH? Tidak! Siapa yang mengatakan hal tersebut?"
"Junmyeon Oppa," Kyungsoo menghela nafasnya, "Kau tidak pernah menceritakan itu padaku."
Jongin tertawa kecil, "Tidak ada, Soo. Aku hanya bercanda padanya. Eh—kau cemburu, hm?"
"Tidak akan pernah!"
"Mengaku saja!" goda Jongin.
"Terserah kau saja," Kyungsoo memeluk Jongin lagi, "Yang jelas aku merindukanmu. Bahkan aku merindukan bau keringatmu ini."
"Dasar," Jongin mengusap-usap rambut Kyungsoo lembut, "Kembalilah kesana. Aku akan menyusul nanti," ucapnya yang dijawab anggukan dari Kyungsoo.
Kyungsoo kembali dengan perasaan yang lebih baik. Ia menyisipkan senyum di setiap langkah kakinya. Memeluk Jongin serasa mengangkat semua rasa stresnya pada ide novelnya yang stuck di tengah jalan. Menghirup wangi aqua di tubuh Jongin sudah menenangkan pikirannya. Ia tidak mengerti mengapa merindukan Jongin seperti ini, bahkan disaat Junmyeon meninggalkannya dengan segala macam kesibukannya, ia tidak pernah begini.
Perempuan itu kembali mendudukkan dirinya di samping Junmyeon yang sibuk dengan ponselnya. Ah, mungkin rekan kerjanya lagi. Kyungsoo tahu jika dengan naiknya jabatan Junmyeon, maka pria itu akan semakin sibuk. Ia tahu; tahu akan semua resiko yang akan di dapatkan nantinya. Kyungsoo senang ketika tahu Junmyeon bisa mencapai targetnya, tapi ia juga kecewa karena ia akan semakin sulit memperbaiki hubungannya. Padahal jauh di dalam hatinya, ia sedang bernafas lega; karena ia bisa menghabiskan waktu dengan Jongin lebih lama.
"Ini—" Junmyeon mengerutkan alisnya.
"Kenapa, Oppa?" tanya Kyungsoo polos.
"Ah—tidak. Bukan apa-apa," jawabnya.
Ini… parfum Jongin. Kenapa Kyungsoo—bukan, ini hanya perasaanku saja.
Tanpa Junmyeon ketahui, dugaannya benar. Tanpa Junmyeon ketahui jika Kyungsoo mengikuti gerak-gerik Jongin ketika Jongin kembali. Tanpa Junmyeon ketahui jika Jongin dan Kyungsoo saling bertukar pandangan; bahkan senyum. Dan tanpa Junmyeon ketahui, Kyungsoo menggenggam tangan Jongin disaat ia mengusap rambut perempuan itu lembut. Iya, Junmyeon tidak pernah tahu.
.
.
.
"Aku harus pergi ke Jepang minggu depan. Bisakah kita pergi bersama? Mungkin kau bisa memanfaatkannya sebagai liburan," tanya Junmyeon pada Kyungsoo yang tidur di sebelahnya.
"Berdua?"
"Tidak, aku akan mengajak Jongin, Jongdae, dan Minseok juga. Bagaimana?"
"Boleh," Kyungsoo mengangguk, "Pasti akan menyenangkan."
"Oh, aku akan bersama sekretarisku nanti, tidak apa 'kan?"
"Yixing? Tentu saja. Aku tahu kau pasti membutuhkannya saat disana nanti," Kyungsoo menguap, "Mari kita tidur, Oppa. Aku sudah mengantuk."
Junmyeon mengangguk dan tersenyum pada Kyungsoo. Kecewa. Mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Masih ingat dibenaknya dulu Kyungsoo benar-benar marah ketika Junmyeon membahas sesuatu tentang Yixing, sekretaris pribadinya. Junmyeon dan Yixing memang dekat, sangat dekat sehingga sempat menimbulkan skandal di kantornya. Tapi Junmyeon tidak peduli, ia dan Yixing hanya sebatas rekan kerja; itu saja.
Lelaki itu akhirnya mulai menyadari perubahan Kyungsoo. Jika biasanya Kyungsoo akan sensitif ketika ia mengucapkan nama Yixing, maka sekarang Kyungsoo biasa saja; bahkan memperbolehkan Yixing untuk pergi bersama. Junmyeon berusaha meyakinkan dirinya bahwa Kyungsoo berubah karena kesibukannya yang sangat mencekik itu. Maka dari itu ia mengajak Kyungsoo pergi untuk memperbaiki apa yang menurutnya ganjil.
.
.
.
Hari itu pun tiba. Dengan semangatnya mereka berenam pergi menuju Jepang. Di sepanjang perjalanan menuju penginapan yang sudah mereka sewa, Kyungsoo hanya sibuk dengan ponselnya dan membiarkan Junmyeon menyetir mobil. Sesekali ia terkikik ketika melihat pesan yang baru saja masuk. Junmyeon curiga; pasti. Tapi ia tidak pernah tahu jika Kyungsoo bertukar pesan dengan lelaki yang duduk di barisan paling belakang, Kim Jongin.
Sayangnya, Junmyeon tidak pernah berniat untuk bertanya siapa yang ada di balik senyum Kyungsoo. Ia selalu berpikir bahwa mungkin itu teman lama atau bahkan mungkin kakak laki-lakinya. Ia selalu berusaha untuk berpikir positif; dan semoga saja ia bisa bertahan dengan itu.
Jongin mendapatkan kamar sendiri. Tentu ia tidak mungkin tidur bersama Yixing—apalagi Kyungsoo. Ia menikmati musim panas di Jepang. Menyenangkan karena bisa melarikan diri sebentar dari penatnya pekerjaan yang makin lama makin mencekik.
Ia berdiri di balkon tempatnya ia akan tidur. Sebatang rokok yang menyala ia hisap sesekali. Ia membiarkan dadanya terpapar sinar matahari tanpa tertutup sehelai kain pun. Rambut merah mudanya terlihat berantakan karena ia baru saja menjejakkan diri keluar dari jeratan ranjangnya. Banyak pikiran yang menggelayuti otaknya saat ini. Seperti ide yang harus diberikan untuk pertunjukan; tentang asisten koreografer nya yang mendekatinya dengan agresif; dan yang paling mengganggu, tentang Kyungsoo.
Ia menyadari jika ia sama saja dengan Taemin. Tapi ia tidak bisa mencegah hal ini karena semuanya datang begitu saja. Lagipula ia berdiri disaat yang tepat. Disaat Kyungsoo sedang benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar, Jongin pun menawarkan pundaknya. Sesaat ego nya membiarkan dirinya menyalahkan Junmyeon yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, tapi hatinya selalu berkata bahwa Jongin sendiri adalah iblis yang berwujud malaikat. Ia seorang malaikat, karena berhasil membuat Kyungsoo tersenyum ketika Junmyeon mengacuhkannya. Tapi ia seorang iblis yang secara perlahan-lahan menghancurkan kakak lelakinya sendiri.
Tok, tok, tok!
Jongin menoleh dan mematikan rokok yang ada di tangan kanannya. Ia segera bergegas untuk membuka pintu kamarnya. Ketika ia membuka pintu tersebut, ia mendapati hal yang tidak menyenangkan disana.
"Soo? Ada apa?" tanya Jongin kebingungan.
"Bolehkah aku bersamamu hari ini?" ia berusaha mengatur nafasnya, "Hari ini saja—"
"Masuklah," Jongin menggiring Kyungsoo untuk duduk di ranjangnya, "Ada apa?"
"Junmyeonnie—maksudku Junmyeon Oppa," ucapnya yang diselingi dengan air yang mengalir di pipinya.
"Hmm? Atur dulu nafasmu," Jongin menyeka air mata itu berkali-kali, "Katakan padaku. kau mau minum? Aku akan mengambilkannya untukmu—"
Belum Jongin melangkahkan kakinya, Kyungsoo sudah menggapai tangannya, "Tidak perlu. Dengarkan aku dulu," Jongin mengangguk, "Oppa—aku pikir dia akan menghargai semua usahaku. Maksudku, untuk apa dia mengajakku jika aku sepenuhnya diacuhkan? Bahkan dia tidak menanggapi semua pertanyaanku dan hanya sibuk dengan dokumen-dokumen bodohnya itu. Aku sudah berencana untuk mengajaknya makan malam tapi dia malah menuduhku mengganggu konsentrasinya. Jonginnie, aku—"
"Maaf," ucap Jongin yang sekarang membenamkan Kyungsoo dipelukannya, "Menangislah jika kau mau. Aku akan mendengarkan semua yang kau keluhkan saat ini."
"Jonginnie…" bisik Kyungsoo lemah.
Jongin hanya menderum lirih. Sesekali ia mengusap rambut perempuan tersebut. Ia membiarkan posisinya seperti itu lebih dari setengah jam hingga Kyungsoo benar-benar tenang. Ia sadar jika ia bukan siapa-siapa disini. Ia hanya sekadar benalu yang memanfaatkan sebuah pohon yang hampir saja layu.
"Soo?"
"Hmm?"
Jongin melepas pelukannya, "Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi ini sangat menggangguku. Sebenarnya kau menganggap aku sebagai apa? Adik? Tempat bercerita? Teman? Atau hanya sekadar tempat sampah?" ia menghela nafasnya, "Maaf jika aku bertanya pada saat yang tidak tepat."
"Beri aku waktu."
"Maksudnya?" tanya Jongin tidak mengerti.
"Beri aku waktu untuk memutuskan seberapa berharganya dirimu untukku. Mungkin aku sudah tahu jawabannya tapi aku masih belum yakin," ia memeluk Jongin sekali lagi, "Bantu aku."
"Apa?"
"Bantu aku untuk menghilangkan Junmyeon dari otakku. Kau hanya perlu sedikit usaha. Mungkin tinggal tiga atau empat langkah saja. Lagipula perjalanan kita sudah terlalu jauh. Dan kita tidak mungkin untuk kembali ke tempat semula."
.
.
.
Jongdae sudah menaruh kecurigaannya. Disaat mereka sedang bersama, Kyungsoo akan terlihat gelisah jika Jongin tidak terlihat. Dan ekspresinya akan berubah lega jika Jongin sudah datang. Ia berusaha berpikir positif. Ia menduga jika Jongin dan Kyungsoo memang dekat, tapi bukan seperti hubungan yang sedang mereka jalani saat ini.
Kecurigaan Jongdae terbukti ketika suatu malam ia melihat Jongin menunggu seseorang di taman depan penginapan mereka. Ia sempat terkejut ketika melihat Kyungsoo yang tiba-tiba datang dan memeluk Jongin. Awalnya Jongdae ingin mengikuti mereka, tapi ia rasa bukan waktu yang tepat untuk dilakukan saat itu juga.
"Jongin?" sapa Jongdae pada Jongin yang sedang merokok di salah satu bangku taman disana.
"Oh, Hyung!" ia mendongakkan kepalanya, "Ada apa? Kau tidak tidur?"
Jongdae tertawa kecil, "Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Adik Kecil," ia mengerutkan alisnya, "Kau merokok?"
"Hmm," Jongin menghembuskan asap rokoknya, "Ini membantuku mengurangi sedikit stres yang aku alami, Hyung. Kau mau?"
"Tidak, tidak perlu," Jongdae tertawa kecil, "Jongin-ah, bolehkah aku bertannya sesuatu?"
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Kim Jongdae sedang berusaha serius padaku? Daebak!" Jongin tertawa terbahak-bahak, "Apa, Hyung?"
"Berjanjilah untuk menjawabnya dengan jujur," Jongin mengangguk dan terkekeh, "Kau dan Kyungsoo… ada apa di antara kalian?"
Ekspresi Jongin berubah tegang seketika. Rokoknya yang dipegangnya langsung ia tancapkan ke asbak agar mati saat itu juga. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri belum siap untuk mendapatkan pertanyaan seperti ini.
"Jongin, jawab aku," ujar Jongdae serius.
Jongdae yang seperti ini sangat menakutkan bagi Jongin. Karena biasanya Jongdae sangat playful dan tidak bisa serius sama sekali. Jika Jongdae sudah berbicara dengan nada yang seperti itu, berarti masalah itu bukan menjadi masalah yang bisa dipermainkan.
"Hyung, aku—aku dekat dengannya."
"Seperti? Seperti aku dengan Kyungsoo, atau seperti Junmyeon Hyung dengan Kyungsoo? Karena kau pasti tahu dimana perbedaannya—"
"Seperti Junmyeon Hyung dengan Kyungsoo," jawab Jongin yang memotong perkataan Jongdae.
Jongdae menghela nafasnya, "Di antara banyak wanita yang ingin bersamamu, kenapa kau memilih Kyungsoo, huh? Jongin-ah, Kim Junmyeon adalah kakakmu sendiri. Kakak yang mau memperjuangkan hidupmu agar kau bisa meraih apa yang kau mau. Kenapa kau malah mengkhianatinya begini? Kau tahu sendiri jika mereka mungkin akan menikah sebentar lagi. Tapi—"
"Tapi Kyungsoo tidak pernah bahagia dengan Junmyeon Hyung. Lalu, apa aku salah jika aku berusaha menggantikan posisi Junmyeon Hyung? Tidak, 'kan? Toh Kyungsoo tidak menolak dengan apa yang aku berikan padanya."
"Dengar," Jongdae menatap Jongin dengan alis yang mengerut, "Aku tidak ingin kau menghilangkan kepercayaan Junmyeon Hyung padamu. Pikirkan semuanya baik-baik. Pilihlah, antara persaudaraan kita, atau hanya karena wanita. Jika Junmyeon Hyung sudah mengorbankan hidupnya untukmu, kenapa kau tidak bisa membalasnya? Kalahkan ego mu Jongin-ah. Tidak semua yang kau mau harus kau dapatkan," ucapnya yang kemudian pergi.
Jongin tahu jika Jongdae sedang emosi. Lelaki itu memang bukan orang yang suka meledak ketika emosi, tapi lebih melakukan taktik apa yang dilakukan agar lawan bicaranya takluk. Seperti Jongin saat ini. Ia lebih memilih diam dan tidak membalas pernyataan kakak lelakinya. Sejujurnya ia sedang memikirkan apa yang dikatakan Jongdae. Mungkin Jongdae benar, ia terlalu menuruti ego nya. Tapi ia tidak sepernuhnya benar, karena Jongdae tidak pernah berada di posisi Jongin selama ini.
.
.
.
Tiga bulan setelahnya tidak banyak berbeda. Kyungsoo tetap menghabiskan waktunya dengan Jongin. Karena Jongin memilih untuk mempertahankan ego nya saat ini. Tiga bulan setelahnya, mereka sudah menyatakan perasaan mereka masing-masing. Tiga bulan setelahnya, mereka sudah membagi keluh kesah mereka. Tiga bulan setelahnya, Jongin sudah bisa mengecup bibir Kyungsoo dengan bebas. Tiga bulan setelahnya, Jongin bisa mengekang Kyungsoo dengan dayanya. Tapi tiga bulan setelahnya, masalah kembali datang.
Hari itu, seperti biasanya, Jongin menghabiskan waktu di rumah karena pertunjukkan balet yang ia kerjakan koreografi nya sudah sukses dilaksanakan. Kali ini ia mendapat bonus besar—walaupun ia tetap makan ramyun jika malas kemana-mana.
Ketika sedang bersantai di ranjangnya, bel apartment nya berbunyi. Ia tersenyum, karena ia tahu siapa yang datang siang hari begini.
"Coming!" serunya dengan semangat.
"Hei!" Kyungsoo mengecup pipi Jongin kilat, "Makan siang!"
"Masuklah. Aku sudah menunggumu sedari tadi."
Rutinitas kembali mereka jalani. Duduk berdua di meja makan, memakan makan siang mereka, dan bercengkerama. Ini sudah lebih dari menyenangkan bagi mereka berdua. Kyungsoo sendiri sepertinya sudah lupa akan masalahnya dengan Junmyeon, karena ia sekarang memilih untuk tidak peduli. Dengan Junmyeon yang pulang terlambat, maka ia akan semakin senang. Karena kesempatan bersama Jongin akan lebih besar.
Seperti biasanya, mereka duduk di depan televisi dan menonton acara kesayangan mereka. Lagipula Kyungsoo sudah terbebas dari pekerjaannya, dan tinggal menunggu editor menyelesaikan hasil kerjanya. Kehidupan mereka memang terbebas dari kendala-kendala yang menyita waktu, sehingga bisa menghabiskan hari berdua lebih lama.
"Soo," ucap Jongin yang meletakkan dagunya di pucuk kepala Kyungsoo.
"Hmm,"
"Bagaimana jika Junmyeon Hyung mengajakmu menikah?"
Kyungsoo menolehkan kepalanya dan menatap Jongin lekat-lekat, "Kau tidak ingin memperjuangkan aku lebih dari ini?"
"Bukan begitu. Tapi Junmyeon Hyung adalah kakak lelakiku. Bahkan dia yang membuat aku bisa seperti ini. Aku hanya," Jongin berusaha menghindari tatapan Kyungsoo, "Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa."
"Padahal sekarang secara tidak langsung kau membuatnya kecewa."
"EHEEEI—kenapa kau malah begitu?" Kyungsoo tergelak, "Aku sedang serius kau malah bercanda!" seru Jongin yang akhirnya mencubit pipi Kyungsoo habis-habisan.
Menyenangkan.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Karena mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang datang.
"Jongin-ah, apa Kyungsoo—"
"Hyung!" Jongin berdiri dari tempat duduknya, "Aku bisa jelaskan semuanya—"
Junmyeon tertawa kecil. Ia tidak meledak. Ia tidak ingin berteriak. Pada ia baru saja melihat Jongin sedang memeluk Kyungsoo dengan eratnya. Itu menyakitkan. Tapi ia bisa menahan semuanya.
"Aku sudah menduga semua ini," Junmyeon masih berdiri di tempatnya, "Aku sudah tahu ini terjadi. Aku hanya—" ia tercekat, "Aku hanya tidak percaya kau melakukan ini padaku, Jongin-ah. Kau adikku, adikku yang paling aku banggakan. Adikku yang ingin aku perjuangkan jalan hidupnya. Tapi, tapi kau malah begini."
"Hyung, aku—"
"Apa pengorbananku kurang padamu? Aku sudah berusaha menggantikan peran ayah dan ibu di keluarga kita, tapi kau—Jongin-ah, kenapa kau melakukan ini di belakangku, hm?"
"Hyung, aku," Jongin berusaha mendekat ke arah kakak lelakinya, "Aku minta maaf—"
"Itu bukan salahmu, Jongin-ah. Ini salahku," Kyungsoo angkat bicara, "Aku yang memintamu untuk melakukan semua ini," ia menghadap ke arah Junmyeon, "Ini juga salahmu. Kenapa kau mempertanyakan aku disaat aku bersama orang lain? Kemana saja kau selama ini? Bersenang-senang bersama Yixing? Iyakah?"
"Kyungsoo-ya, aku—"
"Lupakan, Oppa. Aku lelah harus berpura-pura di hadapanmu. Sudah lama aku mengenal dirimu, tapi aku tidak mengenalmu sepenuhnya. Karena kau tidak pernah memberikan aku waktu untuk mengenalmu. Sedangkan Jongin melakukan itu semua. Maafkan aku, Oppa. Ini bukan salah Jongin, karena dia hanya korban disini. Ini salahku dan salahmu," ia menghela nafasnya, "Mungkin kita harus menyelesaikannya."
"Maksud—maksudmu?" tanya Junmyeon tidak mengerti.
"Semuanya. Antara kau dan aku, Oppa."
"Kenapa kau mengorbankan aku? Aku yang seharusnya berada di posisimu tapi kau malah mengakhiri semuanya? Kau bercanda—"
"Tidak, Oppa. Sama sekali tidak," Kyungsoo mendekatkan dirinya ke arah Junmyeon, "Jika kau masih menginginkan semuanya, aku ingin bertanya suatu hal padamu. Hal yang seharusnya kau tahu."
"A—apa?"
"Apa kau ingat, besok adalah hari apa?" tanya Kyungsoo.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti."
"Apa kau tidak mengingatnya, hm?"
Junmyeon mengerutkan alisnya, "Aku tidak tahu—"
"Aku beri kau kesempatan untuk mengingatnya, Kim Junmyeon."
.
.
.
Keesokan paginya, Junmyeon mendudukkan dirinya di ranjang. Ia tidak mendapati Kyungsoo disana. Padahal malam sebelumnya mereka masih bersama. Karena Junmyeon berusaha meyakinkan Kyungsoo untuk kembali dan meminta maaf padanya. Ia kecewa pada Jongin, tapi ia sadar jika dirinya sendiri yang bodoh disini.
Ia mencari Kyungsoo di tempatnya ia tinggal. Tidak ada siapapun. Di dalam hatinya ia yakin jika pasti Kyungsoo ada di tempat Jongin. Ia sadar jika ia kalah dari pertandingan ini. Lagipula sudah sewajarnya ia kalah, karena dia sendiri yang memberikan kesempatan Jongin untuk menang.
Masih ingat di benaknya, kemarin, Jongin menangis dan menyesali perbuatannya. Tapi Junmyeon terlanjur kecewa. Meskipun begitu Junmyeon tidak bisa berbuat apapun karena Kyungsoo jelas-jelas berpihak pada Jongin meskipun Jongin mendorongnya. Tapi jika dilihat lagi, Jongin tidak ada usaha untuk menghindar dari Kyungsoo. Ia tidak mengerti, bukannya seharusnya dia yang menjadi korban disini? Kenyataannya, ia malah menjadi tersangkanya.
Mungkin dengan begini ia menyadari kesalahannya. Sekarang Junmyeon ingat betapa banyaknya hal yang ia lewatkan. Ia baru menyadari jika ia sudah menyia-nyiakan banyak kesempatan bersama Kyungsoo. Ia tahu jika Jongin menggantikan perannya disini. Disaat ini Junmyeon tahu jika ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan perkataan Kyungsoo sebelum tidur tentang sikapnya selama ini sudah membuatnya tercengang. Apalagi jika mengingat bahwa Kyungsoo sering menunggunya hanya untuk sekadar makan atau sekadar menceritakan harinya. Ia tidak bisa melakukan itu, tapi Jongin berhasil melakukannya.
Semua hal yang diucapkan Kyungsoo benar. Bahwa ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia bahkan baru tahu jika Kyungsoo sering membuang makan malam disaat ia dengan cueknya mengatakan bahwa akan makan malam di kantor saja. Ia baru tahu jika Kyungsoo pernah menunggunya semalaman hanya karena Junmyeon sudah berjanji untuk makan malam bersama. Ia juga baru tahu jika ia pernah melupakan ulang tahun Kyungsoo dan memilih untuk pergi menemui rekan bisnisnya di kantor tanpa berusaha mengingat sedikitpun.
Junmyeon berjalan menuju lemari es untuk mengambil air minum. Menangis membuatnya haus. Kepalanya pening. Ia ingin beristirahat lebih lama. Mungkin dia akan tidur sebentar dan akan mencari Kyungsoo nanti jika badannya sudah lebih baik—tanpa sadar Junmyeon tidak punya usaha untuk mencari dimana Kyungsoo sekarang.
Disaat ia sedang duduk di meja makan dan menenggak air minumnya, ia menemukan sebuah kertas disana.
Oppa, aku minta maaf.
Aku pergi tanpa membicarakan ini terlebih dulu.
Jongin kembali ke Perancis dan aku ikut dengannya. Mungkin ini terkesan terburu-buru, tapi sebenarnya aku membujuk Jongin untuk pergi bersamanya. Aku tidak pergi dari masalah, tapi aku ingin menemani Jongin agar dia bisa melalui masalahnya.
Maaf, aku tidak bisa melanjutkan apa yang kita mulai, Oppa.
Aku sudah terlalu lelah menunggumu untuk menyadari apa yang sudah kau lakukan, Oppa.
Mungkin perminta maafan ku tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan, tapi aku mohon jangan membenci Jongin. Karena semua ini aku yang memulai. Aku yang meminta Jongin untuk menemaniku kemana pun dan mendengarkan setiap keluh kesahku.
Sekali lagi aku minta maaf, Oppa.
Maaf karena aku meninggalkanmu.
Maaf karena sudah mengecewakanmu.
Maaf karena sudah membuat persaudaraan kalian tidak seperti sebelumnya.
Maaf karena sudah membuat Jongin terpengaruh akan semua yang aku katakan.
Maafkan aku, Oppa.
Aku benar-benar minta maaf.
By the way, happy anniversary, Junmyeon Oppa.
Ah—maaf, ini menjadi kado perayaan kita untukmu.
Kyungsoo.
Junmyeon tercengang. Ia baru ingat jika hari ini harusnya menjadi hari jadi mereka yang kedua. Ia tidak pernah berusaha untuk mengingat hari jadinya. Bahkan jika tidak membaca surat itu, Junmyeon tidak akan ingat. Ia menyesal. Sangat menyesal. Tapi ia bisa menerima itu, walaupun sebenarnya itu benar-benar sakit.
Ia mengambil ponsel yang ada di kamarnya. Dengan nafas yang masih tercekat karena tangis yang menjadi, ia mencari sebuah nama di antara semua nama di kontaknya. Ketika sudah menemukan nama itu, ia menekan salah satu tombol disana.
"Halo?" Junmyeon menghirup nafasnya dalam-dalam, "Yixing-ah, bisakah kau ke tempatku sebentar saja? Aku membutuhkanmu."
.
.
.
END.
