Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 9
%^Give Up^%
Semi final Winter Cup sudah di depan mata, lelah karna pertandingan kemarin seolah menguap begitu saja saat Tipp Off Semi Final antara Rakuzan vs Shuutoku dan Seirin Vs Kaijo dimulai. Pertandingan pertama adalah Rakuzan melawan Shuutoku. Pertandingan yang menarik juga menegangkan karna Rakuzan merupakan lawan yang kuat. Penonton mendapatkan sajian pertandingan yang menguras decak kagum juga teriakkan semangat hingga pertandingan berakhir dengan Rakuzan sebagai pemenang.
Selanjutnya pertandingan antara Seirin Vs Kaijo. Kali ini Tetsuya bermain sebagai Starter selama 5 menit pertama dan ditarik mundur karna kondisinya yang tak memungkinkan untuk bermain lebih lama. Tak kalah dengan pertandingan Shuutoku melawan Rakuzan, pertandingan Seirin Vs Kaijo juga tak kalah menarik. Kedua tim tak ada yang mau mengalah, bahkan adu kecepatan juga teknik menjadi pemicu keinginan untuk tak segera menyelesaikan pertandingan ini. Namun, tentu saja setiap pertandingan akan ada pemenang dan ada pula yang kalah, Kaijou harus mengakui jika Seirin memang tim yang kuat karna berhasil mengalahkan mereka sebanyak 2 kali.
"YEAAAHH! Kita msuk final!" Teriak Seirin semangat. Riko dan Momoi saling berpelukkan dan melompat senang karna mereka berhasil masuk ke babak final, Tetsuya juga ikut larut dalam kesenangan, tapi karna pusing menyerangnya ia hanya tersenyum menatap teman – temannya.
"Yosh! Kita rayakan ini di rumahmu Kagamin, aku dan Riko – Senpai yang belanja" Ucap Momoi.
"Baiklah, aku akan menyiapkan dapur dan peralatan bersama yang lain" Kagami menyetujui.
"Ano, boleh aku tak ikut?" Seluruh mata tertuju pada si surai Baby Blue.
"Heh? Kenapa Akashi?" Tanya Hyuuga.
"Aku merasa lelah seharian ini, Captain. Jadi aku akan pulang lebih cepat, Tanaka-san juga sudah menunggu" Jelas Tetsuya dengan kepala yang merasakan pusing.
"Baiklah, kami mengerti. Lebih baik kau istirahat, besok adalah pertandingan final kita" Hyuuga memberi izin.
"Haii" Tetsuya menganggukkan kepalanya, kemudian menatap ke arah Momoi. "Momoi-san, besok adalah pertandingan terakhir dan setelah pertandingan, aku harap permintaanku kemarin sudah selesai dan antarkan lusa nanti" Momoi yang mengerti apa yang dimaksud Tetsuya mengangguk semangat.
"Un, akan ku buat sebagus mungkin dan sudah ku siapkan semua yang ingin kau tunjukkan untuk Nii-sanmu, Tetsu-kun" Momoi tersenyum senang.
"Arigatougozaimasu, kalau begitu, Jya ne" Tetsuya berpamitan dan bergegas menuju keluar Gym. Di sana Tanaka sudah berdiri disamping mobil berwarna hitam yang biasa menjemputnya. "Ayo kita pulang Tanaka-san, aku sangat lelah"
"Baik, Tetsuya-sama" Tetsuya masuk ke dalam Mobil dan menyenderkan punggung serta kepalanya pada sandaran mobil. Kepalanya terasa berdenyut hebat dan berimbas pada perutnya yang sudah terasa mual.
"Tanaka-san, katakan pada Mabuchi untuk menyiapkan ramen hangat untukku. Ntah kenapa aku merasa tubuhku tak enak" Ucap Tetsuya sembari memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing.
"Sebaiknya Tetsuya-sama menemui Shintarou-sama untuk Check Up kesehatan dan membeli vitamin yang biasa anda minum" Tetsuya menggeleng cepat.
"Aku hanya akan merepotkan Shintarou-Nii, Tanaka-san. Sei-Nii menyuruhku untuk melakukan segalanya sendiri, lagi pula Shintarou-Nii sedang sibuk" Elak Tetsuya.
"Wakatta, kalau begitu kita Check Up di tempat lain bagaimana? Besok adalah pertandingan penting untuk Anda, Tetsuya-sama. Anda harus dalam keadaan fit untuk bisa menang dan menyusul saudara anda yang lain" Nasihat Tanaka.
"Daijoubu desu, aku sudah menyiapkan strategi bersama Seirin untuk mengalahkan Rakuzan nantinya. Aku juga sudah memperhitungkan resikonya nanti" Tetsuya terdiam sejenak, "Hasil yang memuaskan pasti memiliki Resiko yang tinggi juga kan, Tanaka-san?" Mata Tanaka membulat besar melihat sebuah senyuman terpampang dari bibir sang tuan Muda dengan bibir pucatnya yang putus asa. "Pertandingan besok akan menjadi hadiah terbaik untuk Sei-Nii dan akan ku pastikan dengan hadiah itu, Sei-Nii akan kembali seperti semula." Tetsuya menghela nafas dengan senyuman yang masih mengukir disana. "Aku tak akan mengecewakan Sei-Nii, Tanaka-san"
Tanaka membalas ucapan itu dengan anggukan juga senyuman, ia bisa merasakan jika Sang tuan muda mulai berubah menjadi lebih bertanggung jawab bahkan menampakkan sebuah sifat yang dewasa walau harus merasakan tekanan dan tuntutan menjadi sempurna sebagai anggota Akashi. Samar – samar Tanaka dapat melihat jika Tetsuya tak henti – hentinya memijat pangkal hidung dengan mata yang tertutup, ia tau apa yang dirasakan sang Tuan muda mengingat beberapa hari yang lalu ketika Tetsuya melakukan hal sama, tak lama kemudian ia jatuh pingsan. Beruntung dengan penanganan yang telah disiapkan, Tetsuya kembali ke kondisi semula walau tak sempurna.
Tanaka yang telah terbiasa mendampingi Tetsuya kemanapun saat ia masih kecil, bahkan semasa kepala keluarga Akashi itu masih hidup, ia sudah bisa mengantisipasi setiap keadaan yang akan Tetsuya alami. Terluka, pusing, pingsan, demam tinggi, Flue bahkan seburuk apapun keadaan Tetsuya, Tanaka telah mengerti bagaimana cara menanganinya, terlebih Kakak kedua- Shintarou- telah menyiapkan peralatan medis khusus yang bisa digunakan para Maid untuk menangani Tetsuya ketika ia tak ada di rumah. Seluruh Maid telah diajarkan bagaimana memberikan pertolongan pertama pada Tetsuya berdasarkan gejalanya, jadi tak akan ada yang panik tapi malah sebaliknya, mereka akan tenang karna telah ada persiapan sebelumnya.
Pukul 19:00 Tanaka dan Tetsuya telah sampai di rumah, Sesuai dengan permintaan Tetsuya, Semangkuk ramen lengkap dengan bahan pelengkap sudah tersedia di meja makan. Tak luput segelas air putih juga segelas Susu Vanilla juga sudah tersedia. Tetsuya sendiri sudah membersihkan tubuhnya kemudian mengganti pakaiannya menjadi piyama berwarna Biru muda bergaris. Ia segera duduk di meja makan yang besar namun kosong, jika sang kakak ketiga – Atsushi – tau apa yang ia makan sekarang, Tetsuya pasti akan di ceramahi. Tak hanya itu sang kakak keempat – Daiki – dan kelima – Ryouta – akan segera mengganti makanan yang tersaji itu.
Tetsuya mengambil sumpit dan bersiap makan, matanya menatap makanan itu penuh selera tapi saat masuk ke mulut, yang ia rasakan hanya pahit. Tak ingin mengecewakan para Maid yang sudah bersedia membuatkannya makanan, Tetsuya memakannya perlahan – lahan hingga habis satu mangkuk. Baru saja ia akan meneguk segelas air putih, perutnya terasa berputar dan membuatnya ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya saat itu juga. Seketika itu juga Tetsuya berlari menuju wastafel di kamar mandi dekat dapur, tak peduli dengan beberapa pelayan yang ia tabrak karna terburu – buru.
"Tetsuya-sama?" Gumam Para pelayan yang heran dengan tingkah buru – buru sang tuan muda.
Begitu sampai di toilet, Tetsuya segera memuntahkan segala isi perutnya di sebuah wastafel dengan kaca besar di sana. Aroma aneh menguar disana dan memaksa Tetsuya semakin banyak mengeluarkan isi perutnya. Keringat dingin sudah membanjiri dahi juga pelipis Tetsuya, kepalanya pun semakin terasa berat saja. Tetsuya terus mengeluarkan isi perutnya hingga habis dan menyisakan cairan kuning yang pahit di mulut. Setelah selesai, ia menghidupkan keran air untuk mencuci mulutnya dan membiarkan benda yang di keluarkannya itu hanyut terbawa air. Tubuhnya benar – benar terasa lemas, bahkan tenagapun tak tersisa lagi. Begitu ia membuka pintu Toilet, Tanaka dan Mabuchi sudah berada di depan pintu.
"Daijoubuka, Tetsuya-sama?" Tanya Mabuchi khawatir.
"Daijoubu desu, hanya mual. Mungkin asam lambungku sedang naik" Jelas Tetsuya yang masih lemas dengan tangan yang menopang di dinding.
"Mau saya antarkan ke rumah sakit?" Tanya Tanaka.
"Iie desu, Tanaka-san. Aku baik – baik saja, efek kelelahan memang selalu seperti ini" Alasan klise namun juga terselip kejujuran karna setiap ia lelah atau baru saja melakukan hal yang berat, Tetsuya akan mengeluarkan isi perutnya seperti itu.
"Kalau begitu, kami antar ke kamar" Ucap Mabuchi dan mendapat anggukkan dari Tetsuya.
Dengan bantuan Mabuchi dan Tanaka, Tetsuya berjalan perlahan – lahan menuju kamar dan berbaring di ranjang King Sizenya. Selimut tebal kini sudah membungkus tubuhnya yang – menurut penglihatan Tanaka maupun Mabuchi – semakin kurus. Bukan tanpa alasan mengatakan seperti itu, Piyama yang biasanya terasa pas di tubuh remaja mungil itu, kini terlihat kebesaran padahal dengan ukuran yang sama. Wajah Tetsuya yang putih pucat juga semakin terlihat pucat bahkan seolah tak terlihat peredaran darah mengalir disana.
"Sebaiknya anda istirahat Tetsuya-sama, jika anda butuh sesuatu, anda bisa memanggil kami berdua"Ucap Mabuchi yang membungkuk hormat kemudian meninggalkan kamar Tetsuya bersama Tanaka yang mengikuti di belakang.
Dari luar Mansion Akashi, seorang pria dengan pakaian serba hitam memperhatikan segala macam aktifitas yang ada dikediaman keluarga Akashi. Menilik dan meneliti jika para penjaga yang ada mengetahui jika Camera CCTV mereka telah dibobol secara paksa. Setelah merasa aman, pria itu mengeluarkan ponsel Flipnya dan mengirimkan sebuah E_mail.
'Persiapan selesai'
Sementara itu di tempat lain, seorang pria duduk diam di depan layar dengan ukuran 40 inchi yang penuh dengan kotak – kotak berisi aktifitas yang terekam melalui camera CCTV. Sangat jelas melihat segala kejadian di sebuah ruangan yang katanya tak bisa di tembus tapi itu hanyalah bualan. Pria itu tertawa senang saat matanya menatap tingkah seorang pria bersurai Baby Blue yang berlari dengan menabrak sekitar kemudian masuk ke dalam Toilet. Tak henti di situ, ketika si pemuda terlihat lemas dan di bantu untuk menuju ke kamarnya, Pria itu semakin keras tertawa bahkan sampai terbahak – bahak.
"Rencanaku berhasil" Seringainya. "Besok aku akan mengatakan, Check Mate padamu. Akashi Seijuurou"
_ooOOOoo_
Pertandingan Final antara Seirin Vs Rakuzan telah dimulai, Seirin benar – benar kewalahan dengan serangan juga pertahanan dari Rakuzan. Tentu saja mereka kewalahan, '3 raja tak bertahta' menjadi lawan yang benar – benar tangguh. Menembus pertahanan mereka tidaklah mudah, terlebih kartu as mereka saat ini tak bisa digunakan. Momoi sudah memberitahu sebelumnya jika Rakuzan memiliki kekuatan yang luar biasa, terlebih Mibuchi Reo yang dengan mudahnya membuat pelanggaran dengan 4 Point. Para pemain Seirin juga dibuat kewalahan dengan Drible dari Hayama Kotaro dan kekuatan Nebuya Eikichi di bawah Ring juga sungguh luar biasa. Salah satu teman Tetsuya saat Sekolah dasar dulu juga menjadi lawan yang tangguh – Ogiwara Shigehiro.
Quarter pertama terlewati dengan selisih yang tidak terlalu jauh, namun mereka harus menarik sang Captain untuk keluar lapangan karna sudah melakukan 4 kali pelanggaran. Quarter kedua tak ada perubahan yang berarti bahkan sedikit memburuk karna selisih angka menjadi 14 Point. Permainan juga semakin kacau karna Kagami tak bisa menahan emosi dan mengakibatkan pemain lain menjadi kehilangan konsentrasi. Riko berfikir keras untuk bisa membuat permainan Seirin menjadi lebih tenang, tapi apa daya hanya satu orang yang bisa diandalkan.
'Tidak, aku tidak bisa mengandalkan Akashi-kun. Dia tak akan bisa bertahan hingga babak kedua nanti, kondisi tubuhnya semakin lemah dan hanya bisa bermain selama 5 menit dan tidak lebih. Bagaimana ini?' Fikir Riko dengan perasaan gelisah.
'Ini situasi yang sulit, jika memasukkan Tetsu-kun sekarang ini akan berdampak buruk, tapi jika tidak? Ini akan menjadi beban berat untuk Seirin.' Fikir Momoi. Seolah tau apa yang di khawatirkan Manager juga pelatih, Tetsuya menghela nafas untuk menenangkan diri.
"Coach, Momoi-san" Dua wanita itu memalingkan wajah ke arah Tetsuya. "Aku tau batas kemampuanku, tapi izinkan aku mulai bermain 5 menit terakhir di Quarter ketiga" Pinta Tetsuya.
"Tidak, tidak. Kau tak boleh bermain sebelum Quarter ke 4 dimulai. Kau hanya bisa bertahan 5 menit, Akashi-kun" Tetsuya sudah tau jika sang pelatih akan berkata demikian, dengan senyuman polosnya ia menjawab.
"Daijoubu desu, aku sudah tau sampai dimana batasku. Lagi pula aku sudah memiliki rencana"
"Rencana? Masaka?" Momoi melebarkan matanya saat ia menyadari apa yang akan dilakukan Tetsuya.
"Nani? Nani?" Riko tak mengerti menatap bolak balik kearah Tetsuya dan Momoi.
"Tetsu-kun, itu terlalu beresiko. Kita bisa kehilangan banyak pemain dan resikonya tinggi" Momoi tidak setuju dengan rencana yang akan Tetsuya lakukan.
"Tenang saja Momoi-san, ini juga untuk melatih semuanya dalam menghadapi tekanan. Bukannya saat di Teiko kita pernah mengalaminya?"
"Tapi Teiko memiliki 100 pemain, tapi ini berbeda dengan Seirin yang hanya memiliki 11 pemain Reguler, Tetsu-kun!" Suara Momoi sedikit meninggi.
"Tak apa, akan ku pastikan mereka bertahan sampai 5 menit sebelum Quarter ketiga selesai"
"Cotto Matte, aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan. Bisa jelaskan padaku?" Riko yang merasa tak mengerti segera bertanya untuk memperjelas maksud dari pembicaraan Momoi dan Tetsuya.
Segera Tetsuya menjelaskan rencana yang akan dilakukannya saat babak kedua dimulai. Rencana yang ia lakukan adalah terus – terusan memasukkan 3 pemain kelas 1 untuk membuat pertandingan menjadi lebih tenang, dan berdasarkan intuisi Momoi, ketiga orang itu hanya bisa bertahan selama 1 menit 30 detik, selebihnya mereka akan kehilangan tenaga karna gugup juga tekanan yang diberikan di lapangan. Ketiga orang itu bertugas untuk membuat yang lainnya berfikir jernih walau resikonya mereka akan kehilangan tim reguler dibangku cadangan sebagai pengganti jika ada pemain yang cidera. Ketika saatnya tiba, Tetsuya akan masuk dan mulai membuat peluang untuk memperkecil ketinggalan Score yang dibuat.
Benar saja, rencana mereka berjalan dengan sukses. Perkiraan Riko mengenai kondisi tubuh Tetsuya yang hanya bisa bertahan selama 5 menit itu memang benar, terbukti di akhir Qarter ketiga, Tetsuya sudah merasa kehilangan tenaga, tapi disisi lain, tak ada yang bisa menggantikannya karna seluruh pemain cadangan telah dimainkan dan sudah banyak kehilangan tenaga. Koganei yang harusnya bisa menggantikan Tetsuya, kini juga sudah tak bisa berbuat apa – apa karna ia juga kelelahan dan resiko terakhir yang diambil Seirin adalah memasukkan Hyuuga yang sudah terkena pelanggaran sebanyak 4 kali.
Pertandingan semakin memanas terlebih perang Zone telah dimulai, Kagami berhasil masuk ke Zone lebih dalam dan berhasil membuka gerbang kedua. Permainan yang cukup melelahkan, tak hanya untuk Kagami tapi keempat pemain lainnya yang tanpa disadari dapat merasakan Zone yang tengah Kagami masuki. Pertandingan berakhir dengan 3 Point yang dibuat Hyuuga dengan meniru salah satu gerakkan Mibuchi yang menghasilkan 4 Point. 1 Point terakhir mereka gunakan untuk membuat Buzzer Beater hingga kemenangan sudah ada ditangan mereka.
"Pemenang Winter Cup tahun ini adalah, Seirin!"
Teriakkan penonton juga kemeriahan akhir pertandingan membuat senyuman bahagia di wajah Tim Seirin. Kiyoshi langsung menggendong Riko ke atas sedangkan Momoi lebih memilih memeluk Tetsuya yang penuh dengan keringat walau baginya masih terasa aroma vanilla yang menguar disana. Terbiasa menghirup aroma Vanilla yang khas dengan senyuman kemenangan, tapi kali ini Momoi merasakan hal yang berbeda. Tetsuya membalas pelukkannya, bahkan ia bisa merasakan jika kepala Tetsuya bersandar di bahunya.
"Tetsu-kun?" Tanyanya dan dapat di dengar oleh Momoi.
"Sebentar saja, kepalaku terasa pusing" Bisik Tetsuya dan mendapat anggukkan dari Momoi.
"Un. Daijoubuka?" Tetsuya mengangguk dan perlahan melepaskan pelukkannya. Momoi menatap sendu pria yang ia sukai dari duduk dibangku sekolah menengah pertama itu. Wajahnya yang pucat tertutup keringat, walau samar tapi pucatnya kali ini lebih dari yang biasanya.
"Tenang saja, tadi itu sudah cukup membuatku merasa lebih baik." Tetsuya memberikan sebuah senyuman dan menepuk puncak kepala Momoi.
"Berbaris!" teriak wasit yang memberikan isyarat untuk berbaris.
"Arigatou Gozaimasu" teriak kedua tim dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari penonton.
Pemberian penghargaan untuk para pemain dimulai, Kaijou menerima thropy juara k 4, Shuutoku 3, Rakuzan 2 dan terakhir Seirin mendapatkan juara pertama. Sebuah piala besar mereka angkat tinggi dan sebuah medali sudah ada didada mereka. Tak luput anugrah untuk pemain terbaik dan tak pernah di duga sebelumnya ternyata di dapatkan oleh pasangan Cahaya dan Bayangan dari Seirin. Sungguh, itu merupakan penghargaan tambahan yang tak pernah terfikirkan oleh Tetsuya sebelumnya. Setelah selesai, mereka langsung membersihkan tubuh dan bersiap pulang.
"Ma, kita rayakan ini besok. Aku akan mencari tempat yang tepat untuk merayakan kemenangan kita di Winter Cup. Akan ku pastikan kali ini kita akan merayakannya dengan makanan yang mewah" Riko memberikan sebuah hadiah dengan antusias tinggi dari pemain.
"Yosh! Besok kita akan makan besar" Teriak trio kelas satu.
"Coach, Gomen sepertinya aku akan melewatkan perayaan itu" Tetsuya menginterupsi.
"Oi, kenapa kau tak ikut teme?! Kau salah satu bintangnya, Baka!" Teriak Kagami dengan perempatan merah muncul didahinya.
"Aku ada acara lain Kagami-kun, besok adalah ulang tahun Sei-Nii jadi aku tak bisa datang" Jelas Tetsuya dan sudah pasti mereka memaklumi keluarga sempurna itu.
"Hm.. baiklah, mungkin kita undur juga tak masalah" Riko memberikan sedikit ekspresi kecewanya.
"Tak perlu, kalian bisa merayakannya. Nanti akan ku buatkan acara Barbeque di rumah untuk perayaan kedua" Seketika binar – binar mata senang tergambar di wajah tim Seirin.
"Hounto desuka?" Hyuuga tak percaya, dan Tetsuya menjawab dengan anggukkan. "Sugoii-na, kau dengan mudahnya mengadakan pesta seperti itu" Hyuuga masih tak percaya.
"Ma, tak usah difikirkan Hyuuga, lagi pula kita sudah menang dan pantas untuk dirayakan" Akhirnya pemain Seirin pun berteriak kegirangan karna mereka akan mendapatkan dua kali pesta perayaan keberhasilan mereka.
"Sebaiknya pulang, cuaca semakin dingin" ucap Kagami yang di benarkan oleh yang lain.
"Kalau begitu, bisa kalian duluan saja? Ada yang ingin ku bicarakan dengan Momoi" merasa namanya disebut, Momoi menatap ke arah seseorang yang menyebut namanya.
"Tetsu-kun?" Dahi Momoi mengernyit.
"Oi Teme! Aku yakin sebentar lagi turun salju, lebih baik kau pulang. Kau itu—" Celotehan Kagami mendadak terhenti saat Izuki membekap mulutnya.
"Kalau begitu, Jya Ne. kami tak mau ketinggalan kereta" Izuki mengalihkan perhatian dengan anggota lain yang menyeret Kagami untuk menjauh.
"BAKAGAMI! Kau memang tak tau situasi!" gerutu Riko dan Kagami yang otaknya masih setetes itu pun hanya bisa memasang wajah bodoh.
Seirin berjalan menjauh dari Gym meninggalkan Momoi dan Tetsuya berdua, walau sudah jauh celotehan Riko dan jawaban Bodoh dari Kagami masih terdengar. Momoi dan Tetsuya yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Tanpa sadar, kini tempat itu hanya berisikan mereka berdua ditemani malam yang tidak terlalu cerah karna mungkin salju akan turun malam ini.
"Ne, Tetsu-kun. Apa yang ingin kau bicarakan?" Tetsuya memalingkan wajah ke arah gadis dengan surai Pink lembut itu. Ia memberikan sebuah senyuman dan menarik tangan gadis itu untuk berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Kita cari bangku di dekat sini dulu" Tanpa menjawab Momoi mengikuti langkah Kaki Tetsuya, tepat di taman kecil dekat Gym, terdapat bangku panjang dan sebuah stan penjual minuman hangat. Tetsuya membelinya 2, satu untuk Momoi dan satu untuk dirinya. "Minumlah, kau pasti kedinginan"
"Arigatou" Jawab Momoi pelan dengan semu merah sudah menghias dipipinya. "Jadi, apa yang ingin kau katakan Tetsu-kun?"
"Ini" Tetsuya menyerahkan medali juga sertifikat beratas namakan nama dirinya 'Akashi Tetsuya' sebagai pemain terbaik. "Ini adalah bagian terakhir yang sudah ku kumpulkan, aku ingin besok kau sudah menyiapkan semuanya. Tapi sebelum kau memberikannya pada Sei-Nii, aku ingin kau berkunjung ke rumah. Aku ingin melihat bagaimana kau membungkusnya"
"Kau tak percaya padaku, Tetsu-kun?" Tanya Momoi Ragu.
"Iie, aku sangat percaya padamu Momoi-san. Aku hanya penasaran, seperti apa bentuk hadiah yang akan ku berikan nanti. Lagi pula, aku yakin jika kau yang membuatnya itu akan menjadi sesuatu hal yang indah" Wajah Momoi semakin memanas, ugh, apa yang Tetsuya katakan saat ini benar – benar membuatnya Malu.
"a-aku akan membuat yang terbaik, Tetsu-kun" ucapnya semangat.
"Arigatougozaimasu" Tetsuya memberikan sebuah senyuman, ia melirik benda bulat yang melingkar manis di tangan kirinya. "Hmm, aku akan mengantarmu pulang Momoi-san. Aku yakin kereta sudah berangkat dari tadi, tunggulah sebentar lagi bersamaku disini. Aku yakin Tanaka-san sebentar lagi sampai"
"I-itu tak masalah, a-aku senang bisa bersamamu disini, Tetsu-kun" Momoi mengatakan jujur. Baru beberapa saat ia mereka duduk berdua sembari menyesap minuman hangat yang tadi di beli, perlahan – lahan salju turun dan menyebabkan udara semakin dingin.
"Salju?" Gumam Tetsuya.
"Kireii na" mata Momoi menatap ke arah turunnya salju yang begitu lebat dan sesekali tersangkut di helaian rambutnya yang panjang. Tetsuya melihat itu dan ia tak menampik jika gadis yang ada di sebelahnya terlihat begitu cantik. Sedikit bergidik saat udara menghembus, Momoi tanpa sadar bergumam kecil. "D-dingin" Buru – buru Tetsuya melepaskan syal yang melekat di lehernya dan melingkarkan ke leher Momoi.
"Ini akan membuatmu sedikit hangat" ujar Tetsuya.
"Tapi, kau lebih butuh Tetsu-kun. Kau –"
"Aku sudah lebih baik Momoi-san, lagi pula sebentar lagi Tanaka -san datang dan di dalam Mobil jauh lebih hangat"
Momoi kehabisan kata – kata untuk mengekspresikan kebahagiaan hatinya. Tak berapa lama terlihat Mobil hitam berhenti tepat dihadapan mereka, Seorang pria paruh baya keluar dari sana dan membungkukkan badan sebagai permintaan maaf. Tanpa buang waktu, Tetsuya dan Momoi segera naik ke Mobil dan bersiap untuk pulang. Seperti biasa, Tanaka sudah mengerti rute pulang mereka ketika sang gadis ikut masuk. Sudah pasti Tetsuya akan menyuruh Tanaka untuk mengantar Momoi terlebih dahulu. Setelah mengantar Momoi, barulah mereka bergegas pulang. Namun, Tanaka bisa melihat sebuah keganjilan dari ekspresi wajah sang Tuan muda.
"Tetsuya-sama, Daijoubuka?" Tak ada jawaban dari Tetsuya, Tanaka melirik dari kaca mobil, ia bisa melihat Tetsuya memegang kepalanya dan wajahnya semakin pucat. Tak ingin membuang waktu, ia langsung menaikkan kecepatan mobilnya. Begitu sampai di depan pintu rumah, Tanaka memanggil sang Tuan muda. "Tetsuya-sama, kita sudah sampai."
"…" Tanpa menjawab, Tetsuya yang merasakan kepalanya terasa berat segera bangkit dan mencoba turun sendiri. Baru beberapa langkah, Tetsuya langsung ambruk dengan tubuh yang menyentuh lantai.
"TETSUYA-sama!" teriak para Maid begitu melihat sang Tuan muda jatuh pingsan sesaat setelah keluar dari mobil, tanpa banyak bicara lagi, Tanaka segera mendekat dan merasakan suhu tubuhnya yang abnormal.
"Mabuchi, bawa Tetsuya-sama ke kamar, yang lain siapkan pengompres demam dan pertolongan pertama untuk demam" mengerti dengan perintah Tanaka, Semua yang ada di situ mengangguk paham.
Tetsuya segera dibawa masuk kedalam kamar, pakaiannya segera di lepas karna sudah lembab terkena salju yang mencair. Kompres penurun demam juga segala hal yang di butuhkan saat Tetsuya terserang demam juga sudah disiapkan. Atas permintaan Tetsuya sendiri, para Maid juga Mabuchi ia suruh keluar dan meninggalkan dirinya bersama Tanaka saja. Mata Tetsuya terpejam karna menahan pusing yang mendera, jika ia membuka mata, maka apa yang ia lihat berputar dan sudah pasti ia mengeluarkan isi perutnya.
Tanaka senantiasa disamping sang tuan muda, membantu Tetsuya membersihkan sisa muntah dibibirnya, mengganti kompresan juga tak jarang Tanaka membantu menyelimuti tubuh Tetsuya. Termometer menunjukkan 38,5 derajat. Ini masih demam biasa karna biasanya lebih parah, untuk saat ini Tanaka masih bisa bernafas lega saat Tetsuya perlahan – lahan menutup matanya walau nafasnya masih menderu.
"Tanaka-san" panggil Tetsuya dan Tanaka mendengarnya.
"Haii, Tetsuya-sama" jawab Tanaka sembari duduk disamping ranjang tuan mudanya.
"Tetaplah disini, jangan tinggalkan aku"
"Tetsuya-sama"
"O.. Ne.. gai" bisik Tetsuya lemah dan tangannya mencari kehangatan dari tangan Tanaka. Tanaka melihat itu dan menggenggam tangan Tetsuya lembut.
"Haii, saya tak akan kemana – mana tuan muda" selesai mengatakan itu, Tetsuya langsung tertidur lelap dengan tangan yang masih menggenggam tangan Tanaka. Jujur saja, untuk pertama kalinya semenjak Tetsuya ditinggal kedua orangtuanya, ia merasa sakit sendirian dan wajar jika ia tak ingin ditinggal oleh Tanaka.
"Sei – Nii" Igou Tetsuya dalam tidurnya. Tanaka mampu menangkap rasa rindu berkecamuk dalam diri Tetsuya, sudah 6 bulan ia tak pernah bertemu dengan kelima kakaknya. Semua sibuk dengan urusan masing – masing. Pergi pagi, pulang larut dan sama sekali tak pernah berjumpa dengan Tetsuya, walau terkadang mereka berpas –pasan, tapi tetap ada kesan tak peduli disana.
Sementara itu, seseorang sudah tertawa terbahak – bahak karna ia berhasil melancarkan rencananya. Di sudut matanya terdapat sedikit airmata dengan perut yang terasa keram karna tawa yang ia buat meledak. Sungguh, ini adalah hal baik untuknya saat melihat orang yang menjadi kartu Asnya telah tumbang. Tinggal menunggu waktu saja hingga Bom waktu meledak dan ia akan berteriak.
"Tsk, aku kira dengan kekalahan si mungil itu akan mudah mengatakannya, tapi…" Tawa liar terdengar di ruangan yang cukup besar itu. "Ini lebih dari cukup. Check Mate, Akashi Seijuurou! Kartu As yang jadi targetku sudah tumbang dan tinggal menyusul yang lain" di depan pria bersurai merah yang selalu saja terlihat angkuh.
_ooOOOoo_
Malam semakin larut, suhu kota Tokyo juga semakin mendingin bahkan salju mulai terlihat menumpuk dijalanan kota itu walau hanya beberapa jam berlalu. Lima pria dengan surai berbeda warna yang juga berada di berbeda tempat tapi masih dalam satu situasi yang sama. Duduk diam dari balik meja maupun di balik balkon sembari menatap ke langit yang hitam kelam dengan butiran salju yang turun secara perlahan. Ada yang tersenyum kecil, ada pula yang menatap dengan sendu juga beberapa terlihat menatap penuh lelah.
"Haah.. membosankan-ssu" Gumam si surai Kuning yang masih berdiri diam dari balkon hotel. Tak peduli dengan dingin yang menusuk kulit, bahkan piyama yang ia kenakan juga terasa basah karna salju yang mencair terkena di bajunya. "Tetsuya-cchi, kau sedang apa sekarang? Dan bagaimana pertandingan Winter Cup-mu? Aku tak bisa melihat karna pemotretan hari ini begitu banyak-ssu. Pekerjaan sebagai pilot yang menjadi impianku juga terasa berat karna belum waktunya untukku bisa mengendalikannya sendiri" Si surai kuning mendesah pelan dan mengeluarkan layar ponselnya, terlihat wallpapernya foto dirinya bersama saudara – saudaranya yang tersenyum. "Aku ingin pulang" Gumam si surai kuning –Akashi Ryouta -.
Tak beda jauh dengan keadaan si surai kuning – Ryouta – si surai Navy Blue – Akashi Daiki – juga terlihat mengusap kasar rambutnya karna frustasi dengan kasus – kasus yang saat ini ia tangani. Tumpukkan dokumen yang harus ia baca, belum lagi penghafalan mengenai wajah – wajah kriminal yang masih dicari. Lelah, Stress bahkan jenuh mendominasi perasaannya saat ini. Sekali lagi pria itu mengusap kasar rambutnya dan menghiraukan tumpukkan dokumen yang harus ia baca. Pandangan pria itu tertuju pada jendela luar yang menampakkan butiran salju halus, ntah kenapa, warna putih itu mengingatkannya pada si mungil Baby Blue yang berkulit putih pucat.
"Tetsu…" Gumamnya lirih, "Kapan aku bisa menghabiskan waktu bersamamu? Adik kesayangku." Bibir tipis itu melengkung ke bawah dengan mata yang sayu juga lelah. "Aku merindukan kalian" Gumamnya ketika mengingat bagaiman kebersamaannya bersama lima saudara – saudaranya.
Di sisi lain, Pria bersurai ungu – Akashi Atsushi – tengah menatap malas ke arah restoran yang tak pernah sepi meski udara semakin dingin dan malam semakin larut. Sungguh, walaupun orang – orang yang memenuhi restorannya merupakan kalangan bangsawan juga kalangan atas. Desahan lembut keluar dari bibirnya, sejenak pandangannya menatap keluar resotoran dengan jendela besar yang menampakkan pemandangan luar kota Akita. Salju yang turun tak hanya terlihat putih bersih, tapi sesekali terlihat terpantul dari cahaya lampu yang menjadikannya indah.
"Akita selalu cepat tertutup salju, apa Tokyo juga sudah tertutup salju ya?" Gumamnya sendiri dengan nada malas namun tetap terselip kerinduan disana. "Sudah seminggu aku kembali ke Akita tanpa pamitan ke Tetsu-chin" Bibirnya melengkung ke bawah. "Hm~~, aku jadi merindukan Tokyo jika mengingat Tetsu-chin. Kapan aku bisa bertemu dengannya juga yang lain?" Atsushi sekali lagi menghempas nafas berat dan beranjak untuk membantu para Chef di dapur.
Lain hal dengan keadaan Atsushi yang disibukkan dengan restoran yang ramai, Si surai Hijau – Shintarou – sedang memijat pangkal hidung dengan mata yang sedikit memerah akibat kurang tidur. Beberapa bulan belakangan ia mendapat tugas operasi Pasien juga presentasi untuk membimbing calon – calon dokter yang akan bekerja di rumah sakitnya cabang Hiroshima. Setiap jam yang ia lewati serasa berat untuknya, ruangan pribadi yang biasanya berisi obat – obatan kini penuh dengan tumpukkan berkas dan tambahan sebuah lemari berisi Lucky Item yang biasanya ia letakkan di rumah, tapi karna waktu yang terbatas, ia tak sempat pulang – bahkan rumah keduanya sekarang adalah ruangan pribadinya di rumah sakit.
"Haah… sudah berapa bulan aku tak memeriksa keadaan Tetsuya, Nanodayo" Gumam Shintaro mengingat – ingat terakhir kali ia mengecek kesehatan adiknya itu. "kalau ku ingat lagi, mungkin sudah lebih dari 4 bulan. Apa dia baik – baik saja?" Shintarou menaikkan kacamata yang sama sekali tak melorot. "Ma, semoga dia baik – baik saja. Besok aku akan pulang dan memeriksa keadaannya, lagi pula ini hari terakhir dia bertanding di Winter Cup. Aku harap kesehatannya tak menurun seperti tahun – tahun sebelumnya, Nanodayo" Shintarou kembali membaca data kesehatan pasien yang ia rawat.
Di pusat kota Tokyo, pria bersurai merah – Akashi Seijuurou – tengah tersenyum puas setelah melihat akhir pertandingan Winter Cup yang dimenangkan oleh Seirin. Ia tersenyum puas melihat hasil pertandingan terlebih adiknya itu berhasil menyamakan kedudukan kelima kakaknya saat seumurannya. Tak hanya berhasil memenangkan pertandingan Winter Cup, tapi Seijuurou juga mengetahui jika kegiatan Festival gabungan antar Sekolah juga mendapat persetujuan dengan pihak yang bersangkutan. Senyuman kemenangan semakin lebar menghias bibirnya saat melihat laporan keuangan yang semakin hari semakin meningkat bahkan perusahaan yang ada di Kyoto yang awalnya diambang kehancuran kini berkembang jauh lebih pesat.
"Akashi memang sempurna dan tak akan ada kecacatan selama aku terus menjadi panutan untuk keberhasilan mereka. Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya, kalian akan tetap menjadi sempurna selama ikut apa yang ku perintahkan" Seijuurou tersenyum miring. "Teruslah seperti ini dan tak akan ada celah untuk Haizaki Shogo menghancurkan apa yang telah menjadi kesempurnaan keluarga Akashi"
Beda hal dengan kelima kakaknya, Tetsuya meraskan tubuhnya menggigil hebat dengan nafas yang menderu. Kepalanya terasa berat dan bila ia membuka mata, maka pandangannya akan berputar dan berujung dengan mengeluarkan isi perut. Semakin malam larut dan udara semakin dingin, semakin rasanya tubuh Tetsuya yang lelah kini bertambah lelah bercampur tak nyaman. Keringat dingin terus mengalir di pelipis juga dahinya, sementara tubuhnya bergetar hebat. Tanaka masih setia mendampingi sang tuan muda yang terlihat pucat pasi padahal beberapa saat yang lalu tertidur dengan tenang.
"Tetsuya – sama, lebih baik kita ke rumah sakit atau paling tidak menghubungi Shintarou-sama" Nasihat Tanaka, Tetsuya yang antara sadar dan tidak ia menggeleng.
"Aku tak mau Tanaka-san, aku baik – baik saja" Tanaka menghembus nafas dan masih berusaha membujuk tuan mudanya itu.
"Tapi Tetsuya-sama, keadaan anda sama sekali tak baik walau sudah diberi pertolongan pertama" Tetsuya masih menggeleng.
"Aku baik – baik saja, ini hanya karna udara terlalu dingin" elaknya padahal menurut Tanaka ruangan itu sudah lebih hangat, terlebih pemanas ruangan sudah hidup ditambah tubuh Tetsuya berselubung selimut tebal.
"Baiklah, jika besok keadaan anda semakin memburuk, saya akan membawa anda ke rumah sakit untuk dirawat" Tetsuya masih saja menggeleng.
"Iie, besok aku akan kembali seperti semula" Masih keras kepala, Tetsuya terus – terusan menolak ucapan Tanaka.
"Tetsuya – sama…" Belum selesai Tanaka berbicara, tangan Tetsuya terulur dan menggenggam tangan kanan Tanaka.
"Tenang saja Tanaka-san, selama Tanaka-san disampingku, aku akan baik – baik saja" Dengan mata yang tertutup dan nafas yang menderu, Tetsuya menggenggam erat tangan Tanaka. "Jangan pergi dan tetap temani aku, aku takut sendirian Tanaka-san"
Tanaka mengalah, ia tahu kalau tuan mudanya itu kesepian dan membutuhkan seseorang saat keadaannya seperti ini. Sudah hampir 6 bulan lamanya setelah titah si surai merah yang menuntut untuk menjadikan kelima adiknya sempurna dan menjadi pemenang. Selama itu pula, Tetsuya melakukan segalanya sendirian dan memberikan beban pada tubuhnya yang sudah jelas tak bisa lelah. Berulang kali Tetsuya tumbang bahkan terserang demam ringan, tapi dengan cekatan para Maid, Mabuchi dan Tanaka memberikan pertolongan hingga keadaannya membaik.
Tapi untuk kali ini, sepertinya Tanaka harus angkat tangan karna keadaan Tetsuya sudah 3 hari terakhir memburuk. Di mulai dari jarang makan, seringnya mengeluarkan makan malam dari perutnya, belum lagi jadwal yang ia susun selalu padat dan yang membuatnya semakin tak sanggup adalah Tetsuya sudah hampir 1 bulan tak meminum vitamin yang biasanya diberikan oleh Shintarou – sang kakak kedua. Tetsuya juga sudah tak Check Up kesehatan selama 3 bulan belakangan karna sibuk mengikuti kejuaraan. Dengan lembut Tanaka mengelus surai Baby Blue lembut hingga si pemilik terbuai dalam mimpi kembali. Tetsuya sendiri menikmati elusan itu dan perlahan – lahan mulai memasukki alam mimpi walau nafasnya msih menderu.
"Tou…-san… Kaa…-san.. Nii…-san" Igau Tetsuya saat ia terbuai dalam mimpi dengan tubuh yang menggigil.
"Aku tau Tetsuya-sama merindukkan mereka, tapi tuan dan Nyonya telah tenang disana sedangkan Kelima tuan muda lainnya tengah berada di luar kota. Cepatlah kembali sehat, mungkin saat ulang tahun Seijuurou – sama 2 hari lagi kalian akan berkumpul" Ucap Tanaka mencoba membuat Tetsuya lebih tenang.
Terbukti, Tetsuya sekarang mulai tenang dan tak mengigau lagi. Tangannya yang tadi menyentuh helaian rambut Tetsuya kini tertempel di dahi untuk mengukur suhu tubuh Tuan mudanya. Tak ada yang berubah, bahkan terasa lebih panas. Dalam hati Tanaka berharap waktu lebih cepat berlalu dan membawa sang Tuan muda ke rumah sakit. Tanpa sadar, Tanaka tertidur di dalam kamar Tetsuya dan terbangun saat mata hari menyingsing.
Hal pertama yang Tanaka lihat adalah Tetsuya yang masih berbaring di ranjang tempat tidur dengan dahi yang mengerut juga keringat yang sudah membanjiri tubuhnya. Tangan kanannya masih tertaut dengan tangan Tetsuya, jelas terasa suhu badan yang tinggi menguar dari kulit putih pucat yang kian pucat. Dengan sebelah tangan yang bebas, Tanaka mengambil Termometer dan mengukur suhu tubuh Tetsuya.
"40,5? Kami-sama, ini sudah terlalu tinggi" segera Tanaka beranjak keluar, ia bermaksud untuk menghubungi Shintarou jika Tetsuya dalam keadaan sakit dan demam tinggi hampir 41 derajat. Baru saja akan menelpon, terdengar suara bel pintu di rumah itu. "Siapa yang datang sepagi ini?" Gerutunya, dan saat seperti itu pula para pelayan sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Buru – buru Tanaka mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Ohayogozaimasu, Tanaka-san." Sapa seorang gadis bersurai merah muda.
"Ah Momoi-san, aku fikir siapa yang datang sepagi ini" Momoi menampakkan sebuah senyuman.
"Tetsu-kun ada di rumah Tanaka-san? Aku membawa pesanannya" Momoi menunjukkan sebuah kotak besar dengan bungkus berwarna merah dan pita berwarna Baby Blue berhias bintang berwarna hijau, kuning, ungu dan Navy Blue.
"Ah, Tetsuya-sama memang ada di rumah, tapi ia sedang demam dan akan segera di bawa ke rumah sakit" jelas Tanaka dan membuat wajah Momoi yang semula ceria berubah menjadi cemas.
"Tetsu-kun, demam?"Tanaka mengangguk. "B-Boleh aku melihatnya?" Belum lagi Tanaka menjawab, Teriakkan seorang Maid mengalihkan perhatiannya.
"TETSUYA – sama!" Begitu mendengar teriakkan dari salah seorang Maid, Tanaka berlari kencang menuju kamar Tetsuya diikuti Momoi di belakangnya.
Dari jauh ia bisa melihat jika Maid itu panik setengah mati terlebih beberapa Maid lainnya ikut mengerubungi kamar itu. Mabuchi juga terlihat membantu, mata Tanaka membulat saat melihat Nafas Tetsuya yang memburu dengan tangan yang mencengkram erat dadanya. Matanya terpejam dengan wajah yang pucat pasi, buru – buru Tanaka mendekat.
"Tetsuya-sama, Daijoubuka?" Tanyanya setengah panik.
"I-It-tai" Lirih Tetsuya dengan wajah yang pucat dan nafasnya semakin sesak.
"Mabuchi, siapkan Mobil. Kita akan membawa Tetsuya -sama ke rumah sakit dan yang lain siapkan alat bantu pernafasan di kamar Shintarou-sama" Tanpa menjawab, Mabuchi segera berlari keluar untuk menyiapkan mobil sementara itu Maid lainnya disuruh menyiapkan keperluan untuk Tetsuya. Kini pandangan ke arah Momoi yang masih mematung, "Nona Momoi, aku butuh bantuanmu" Momoi mendengarnya dan mengangguk.
Dengan Cepat Tanaka menggendong Tetsuya dan berlari keluar menuju mobil yang sudah di siapkan oleh Mabuchi. Momoi yang mengekor di belakang dengan langkah buru – buru juga khawatir dan seorang Maid membawa tabung oxygen yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sesampainya di depan mobil, Momoi segera masuk untuk membantu agar Tetsuya merasa nyaman dan tenang selama di bawa ke rumah sakit walau ia terus – terusan mencengkram dadanya karna kesulitan bernafas padahal mulut dan hidungnya sudah tertutup alat bantu oxygen. Dalam pangkuannya, Momoi bisa melihat nafas Tetsuya yang tersengal juga rasa sakit yang ia rasakan dalam diam.
"Bertahanlah, Tetsu-kun"
To Be Continue...
Yo,, Genki desuka? Gomen lian telat update, ada kegiatan perjusami (perkemahan jum'at, sabtu, minggu) jadi gak bisa update.. Ini ajah belum sempat edit,, jadi kalau ada kata2 yang rancu bin absurd lian mohon maaf.. dan Lian yakin 100% ada typo bertebaran seperti benih menyakitkan mata... T_T
Yosh,, Lian mau balas Comment dulu...
deagitap : Niatnya sih mau masukkin Hanamiya, tapi kan yang jadi musuh masih Haizaki, jadi pakenya tim Fukuda.. Dan, SAia jujur, gimana cara bikin Sei-chan jadi serem bin Absolut seperti iblis bergunting merah?! SAiaa pusingggg... (Mojok cakar dinding). makasih udah kasih saran. Lian terima dan akan lian pelajari.. ^^
ChintyaRosita : Arigatougozaimasu... Iya, Lian akan update secepatnya, tergantung waktu dan Quota saia yang terbatas... ^^
shawoldita : Okeeeh,, ini udah update.. Arigatou-na...
Dewi15 : emang tuh, dia nyebelin, makasih udah review.. ^^
hanyo4 : Doumo... Xixixixi,, emang Momoi kan FBI yang tak dianggap.. hehehhehe.. Lian cuma ngikutin karakter MOmoi yang bisa tau semua data tentang pemain basket termasuk pelatihnya. jadi yah, Otomatis Momoi tau semua tentang Haizaki termasuk nomor sepatu+nomor rekening(?). Etto, pendek yah? padahal itu udah 5000+ wordnya lho.. Hehehehehee.. Makasih udah mampir dan Review.. ^^
Mitsuki Izumi : I-Itu,, ehm.. gimana yah jelasihnya. Kalau soal penyakit, ntar deh Lian kasih tau di Chapter 10. Makasih udah review and mampir..
fraukreuz67 : Gak kenapa - kenapa.. cuma pingsan karna kelelahan.. ^^ udah update untuk minggu lalu m(._.)m
Lian update tiap Jum'at koq.. ^^
: Belum Klimaks, masih ada konflik - konflik lagi yang lainnya.. Sabar yah... ^^
CeiCuyaCelamanya : cup, cip, ccup. jangan nangis yah.. ni aku kasih Maiubo (Nyolong punya Atsushi).. Konfliknya banyak dan bikin esmosi(?) juga.. sabar - sabar.. di Chapter 11 ada karakter baru yang masuk.. ^^
MaknaExo : Ha? di buat makin menderita? (mikir keras).. Okeh, LIan bisa bikin lebih angst lagi daripada ini.. ^^ OIa,, kami gak Login yah? Hm... untuk karakter baru, masih di Chapter 11 koq.. Heheheheh ^^
: Okeeh,, Tungguin terus yah.. ^^
Guest 1 : Siipp,,, kita akan bikin konfliknya lebih banyak.. ^^
Hikari Sakura : Kalau soal itu, ini belum seberapa koq.. masih ada lain - lainnya.. tunggu ajah.. ^^
Blackcrows1001 : Tetsu sadar koq, tapi hubungan keluarga dan pertemanan itu gak bisa di satukan.. yah intinya sih, Keluarga Akashi itu keluarga terhormat yang kehidupan mereka tu berbeda.. jadi gak sembarangan yang bisa masuk.. ntar dijelasin gimana keluarga Akashi itu... Sabar yah..
nurhazizah :Okeeh... ^^
rizkyanne : SIaaappp.. (^_^)
: Iya,, Lian lanjutin koq.. (*_*)v
Sri Silvi Wahyu : Updatenya gak lama koq,, Tiap hari jum'at.. jadi gak perlu ribet liat tiap hari.. Ini agak telat karna Lian ikut kegiatan Perjusami, jadinya gak bisa update..
Caxocy : Hahahahag,, soal itu kamu gak perlu khawatir.. Minggu depan semuanya tau apa yang terjadi sama Tetsu-kun.. ^^ puas deh baca untuk chapter selanjutnya... ^^
Hmm... udah semuanya kah? Makasih yah udah pada nunggu.. Lian mau edit + Ngetik untuk Chapter selanjut - selanjutnya..
Sampai Jumpa di Chapter 10 : Lose!
