"Tao! Jangan menarik-narikku seperti ini!" kata Tiffany yang kesal setengah mati sambil ikut berlari menyeimbangi langkah adiknya yang terburu-buru menuju salah satu studio TV. Ia tahu, ia memang tidak bisa mengelak dari aegyo adiknya.

"Tapi acaranya sudah dimulai sejak tadi, Jie!" rengek Tao.

"Salahmu sendiri yang tidak pulang lebih awal," sungut Tiffany.

Mereka berbelok masuk menuju ruang studio setelah Tao menunjukkan dua lembar tiket yang ia dapat dari Kris beberapa hari lalu. Karena kursi sudah penuh—terutama yang dibagian depan—mereka duduk di bagian pojok ruangan namun mereka masih bisa melihat wajah personil EXO dengan jelas.

"Memangnya kalau kau tidak datang tidak bisa, ya?" tanya Tiffany. Ternyata saat ini sedang ada jeda komersial, jadi mereka bisa melihat member EXO saling bercanda satu sama lain. Tao melambai pada Kris yang ternyata sedang tersenyum kecil padanya.

Tao sudah mengenal beberapa member EXO secara pribadi—selain Kris tentunya. Ada Chanyeol dan Luhan yang sudah ia kenal lama. Lalu baru-baru ini dia berkenalan dengan Kai melalui Sehun—menurut Tao, Kai dan Sehun sama. Keduanya kekanakan sekali.

"Bagaimana hubunganmu dengan Luhan?" tanya Tiffany sambil berbisik.

Tao menoleh. "Kami baik-baik saja. Sesekali saling bertukar sapa kalau bertemu. Hanya seperti itu." Tao nyengir. "Kurasa sekarang dia sedang dekat dengan Sehun karena beberapa kali Sehun bercerita padaku kalau dia menonton berdua dengan Luhan Jie. Kau pasti kaget kalau aku bilang aku dan Luhan Jie pernah berbelanja bersama."

"Permisa! Kembali lagi dalam acara Heart to Heart bersama saya pembawa acara Anda, Lee So Jung dan EXO sebagai narasumber kita!"

.

.

.

Kazuma House Production

Proudly present…

.

.

.

Me Prometa 2 : Years After

® 2013

.

.

.

Tao baru saja mengambil bubbletea yang ia beli dan ketika berbalik dikagetkan oleh sosok perempuan mungil berambut pirang sepundak yang kini sedang tersenyum padanya. "Hai, Panda."

Tao mengerjapkan matanya berulang-ulang. Ia tidak salah lihat atau dengar, kan? Tidak juga sedang berhalusinasi, kan? Tadi Luhan benar-benar menyapanya dengan suara seramah itu? Mimpi apa dia semalam? Rasanya Tao tidak bermimpi apa-apa.

"Ya! Jangan menatapku seperti itu!" hardik Luhan setelah ia juga mendapat milktea miliknya. "Kau sedang berkeliling di sini?" Tao mengangguk sebagai jawaban. "Dengan siapa?"

"A-aku sendiri saja. Habis kuliah," jawab Tao sedikit tergagap mengingat hubungan mereka sebelumnya tidak bisa dibilang baik. "Kau sendiri sedang apa? Tidak ada jadwal? Kata Wufan Ge, kalian sedang latihan untuk konser."

"Dia bercerita banyak padamu, ya?" tanya Luhan. "Iya, kami memang sedang latihan untuk konser. Tapi karena jadwalku masih nanti sore, aku ke sini dulu. Mau berkeliling?" tawar Luhan yang tanpa menunggu jawaban dari Tao sudah menarik tangan gadis berwajah seperti panda itu.

Mereka berkeliling pusat perbelanjaan. Tao merasa sedikit risih karena banyak sekali orang yang menatap ke arah mereka. Tentu saja orang-orang itu adalah fans Luhan yang sejak tadi mengikuti mereka. Luhan sendiri terlihat santai sekali dengan lingkungan sekitarnya.

"Jie," panggil Tao berhubung Luhan seumuran dengan Kris. "Kau tidak merasa risih dengan mereka?" bisik Tao sambil melirik ke belakang. Di luar toko, beberapa orang dengan kamera dan ponsel mereka mengarah pada Tao dan Luhan.

"Sudah biasa. Kau juga harus terbiasa kalau suatu hari Kris mengajakmu go public," jawab Luhan.

Tanpa Tao sadar, ia sudah larut dalam pembicaraan yang panjang dengan Luhan. Ternyata gadis itu tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya. Gadis itu cukup baik ditambah guyonan di sela percakapan mereka. Dia juga mau menjawab semua rasa ingin tahu Tao selama Kris menjadi leader EXO.

"Kris orang dengan pendirian yang kuat. Jadi kau tidak usah pusing-pusing memikirkan dia akan berpaling pada orang lain atau apa. Dia pasti hanya mencintaimu," kata Luhan ketika Tao bertanya tentang lawan main perempuan Kris dalam film terbaru lelaki itu. "Kalaupun dia berpaling darimu, pasti karena boneka-boneka yang menjadi anaknya," canda Luhan.

Luhan memberi tahu kalau ternyata Kris sering mendapat boneka-boneka dari fans dan sangat menyukainya sampai-sampai menganggap dirinya sebagai ayah boneka-boneka itu. Bahkan Kris melarang siapapun menyentuh bonekanya sembarangan, kecuali kalau Kris memang perbolehkan. Tipikal ayah yang overprotective.

"Kalau suatu hari kalian punya anak, kira-kira dia akan seperti itu juga tidak?" khayal Luhan.

"Masih terlalu jauh untuk itu, Jie," kata Tao sambil melihat-lihat tas yang dipajang. "Semuanya bisa saja terjadi." Ia menoleh pada Luhan yang berada di sudut lain toko. "Kalau dia lupa ingatan lagi, siapa yang tahu kalau dia masih ingat denganku atau tidak."

Luhan tertawa mengingat penyebab kecelakaan Kris yang menurutnya agak bodoh. Kan bisa saja lelaki itu meminta orang lain menyupirinya. "Oke, jangan katakan itu di depan Kris atau dia akan marah dan menganggapku telah meracunimu."

"Kau memang meracuniku," jawab Tao sambil tertawa.

.

.

.

.

.

"Mari kita bermain game sejenak. Tunjuk orang yang kalian rasa paling tepat," kata Sojung menyebutkan peraturan awal. "Di antara kalian, siapa yang paling menyebalkan?" Member EXO terlihat saling melihat satu sama lain. "Satu, dua, tiga."

"Kenapa aku?" tanya Kai pada dirinya sendiri ketika seluruh member EXO menunjuk ke arahnya kecuali dia yang menunjuk ke arah Luhan.

"Kau memang menyebalkan, Kai," kata Xiumin membuat Sojung bertanya kenapa. "Dia gemar sekali mengacak-acak dorm, terutama kamarku dan Kyungsoo. Selain itu perutnya benar-benar seperti lubang tanpa dasar. Dia selalu makan setiap saat. Anehnya dia tidak pernah gemuk," kata Xiumin.

"Semua menunjuk Kai-sshi, tapi kenapa Anda menunjuk Luhan-sshi?" tanya Sojung.

"Sebenarnya aku ingin menunjuk semuanya, tapi berhubung tanganku hanya dua dan hanya boleh memilih satu, aku memilih Luhan Noona karena dia yang paling suka memanggilku dengan sebutan Maknae. Aku tidak suka hal itu, tapi tetap saja dia lakukan berulang-ulang," adu Kai.

Sojung mengangguk-angguk mengerti. "Pertanyaan kedua. Siapa yang memiliki penghasilan tertinggi? Satu, dua, tiga."

Kali ini jawaban berbeda-beda. Xiumin, Suho, dan Kyungsoo menunjuk Chanyeol. Chanyeol, Luhan, dan Lay menujuk Kris. Kris dan Kai menunjuk Luhan. "Jadi penghasilan tertinggi adalah Chanyeol, Kris, dan Luhan? Kenapa?"

"Kupikir yang berpenghasilan tertinggi adalah Chanyeol karena dia bukan hanya menjadi penyanyi, tapi juga aktor, model, sekaligus penulis lagu," kata Suho.

"Chanyeol-sshi, kenapa kau memilih Kris?"

"Kris Hyung memang terlihat jarang muncul sendiri di TV. Paling hanya sebagai model dan sekali-sekali bermain film, tapi dia lebih senang bermain di belakang layar. Dia memegang saham perusahaan kami," kata Chanyeol membuat seisi studio kaget. "Sekitar sepuluh persen kalau aku tidak salah."

"Sepuluh persen? Benarkah? Itu cukup besar untuk perusahaan seperti SM Entertainment," ucak Sojung kaget. "Apa itu juga kunci kalian tetap bertahan di perusahaan? Karena leader kalian memegang saham di sana?"

"Tidak, dia memegang dua belas koma empat persen," ralat Lay. "Mungkin saja dia mencekoki komisaris lain untuk terus mempromosikan kami," candanya.

"Ayolah, siapa yang akan percaya dengan penghasilan dan pengeluaranku yang sama besarnya aku masih bisa membeli saham perusahaan sebesar itu?" tanya Kris akhirnya buka mulut. "Mereka hanya bercanda," sangkal Kris.

Luhan mulai bicara, "Lalu untuk apa kau ikut-ikutan RUPS kalau tidak memegang saham? Please, Duizhang kami yang super tampan, kau kira kami bodoh? Onew Oppa saja tidak ikut-ikutan RUPS seperti yang kau lakukan."

"Serius, aku tidak ikut RUPS. Itu hanya rapat biasa," Kris masih mengelak. "Harusnya kalian menujuk Luhan. Dia menjadi duta persahabatan China-Korea Selatan sejak dua tahun lalu. Tanpa bekerja capek-capek, dia tetap dibayar oleh negara."

Luhan mencibir. "Enak sekali mengatakannya, Duizhang. Kau pikir tidak capek bolak-balik China-Korea? Aku bisa dalam pesawat tiga kali bolak-balik dalam seminggu. Punggung dan kakiku pegal, tahu." Luhan tersenyum, "lagipula sepertinya tadi kita sedang membicarakan dirimu. Kenapa tiba-tiba kau membicarakan aku?"

Sojung tertawa. "Baru kali ini aku membawa acara dengan bintang tamu yang ramai seperti kalian."

"Karena kami memiliki tiga happy virus," kata Kyungsoo.

"Baiklah sepertinya akan sangat lama kalau kita membicarakan honor mereka. Bukan begitu Kris-sshi?" tanya Sojung, Kris pun mengangguk. "Jadi bagaimana kalau kita membicarakan gossip yang saat ini sedang panas? Kris-sshi bagaimana tanggapan Anda mengenai gossip terbaru Anda?"

Studio langsung bersorak ingin tahu, sementara Kris tertawa sambil menepuk dahinya. "Bisakah kita kembali ke pertanyaan awal. Aku akan jujur mengenai honorku."

"Tidak ada tawar-menawar Kris-sshi. Jadi siapa gadis beruntung itu?" tanya Sojung.

"Er… Sojung-sshi. Sepertinya kau harus meralatnya. Bukan sangat beruntung, tapi sangat sial. Duizhang itu koala. Kami yang harusnya merasa beruntung karena gadis itu," kata Xiumin setengah bercanda. Semua orang sudah tahu tentang hobi tidur Kris yang sangat aneh.

"Siapa gadis terpilih ini, Kris-sshi? Atau kau bisa menyebutkan ciri-cirinya."

"Perlu aku yang menjawab, atau kau ingin menjawab sendiri, Kris?" tanya Luhan karena lelaki itu tidak kunjung menjawab. "Dia perempuan tinggi, manis, dan seperti panda. Makanya Kris sering menyebutnya Panda daripada memanggil nama aslinya di depan kami."

"Kau pernah bertemu dengannya, Luhan-sshi?" tanya Sojung.

"Tentu saja," jawab Luhan, "kami sering bercerita bersama. Dia bilang kalau Duizhang dulu adalah tetangganya. Juga kebiasaan Duizhang yang bisa tidur di mana saja sampai terbawa sekarang," kata Luhan membuka aib Kris.

"Aku tidak pernah tahu kalau kalian berhubungan," kata Kris dengan dahi berkerut.

"Aaa… jadi gadis itu benar kekasihmu, Kris?" tanya Sojung membuat Kris sadar dia sudah kelepasan bicara. "O, ou… sepertinya kita mengalami masalah server yang terlalu pernuh karena banyaknya yang menonton via streaming. Kami minta maaf soal ini. Dan juga, waw… ada lima ratus mention yang masuk ke akun kami." Sojung menscroll layar tabletnya ke bawah. "Dari at Yoon Lima-tiga-empat. Duizhang, aku menangis semalaman saat tahu kau telah memiliki kekasih."

Kris di dorong oleh Kai yang menggodanya. "Kau parah, Duizhang, sampai membuat fans menangis."

"Yoon Lima-tiga-empat, uljimma. Meski aku telah memiliki kekasih, aku akan tetap mencintaimu," kata Kris disambut sorakan penonton.

"Apa tadi sebuah pernyataan tidak langsung?" tanya Sojung mencoba menggoda Kris. "Anda tidak takut dia akan marah padamu? Sepertinya dia juga berada di studio ini."

"Sebenarnya aku ingin membuat pernyataan langsung sekarang," kata Kris. "Aku, Kris, memang sudah punya kekasih. Dan kurasa aku sudah cukup dewasa untuk memulai kehidupan rumah tangga dengan kekasihku ini."

.

.

.

.

.

Tao termangu di tempatnya dengan mata melebar. Ia kaget dengan pengakuan Kris. Tiffany di sebelahnya sudah menyenggol-nyenggol lengannya sambil berbisik jahil. Tao yakin wajahnya pasti merah karena sekarang rasanya sudah sangat panas. Apalagi sekarang Kris sedang melangkah ke arahnya.

"Jie, eotteohke?" tanya Tao panik sambil memegang tangan Tiffany erat. Tangannya berkeringat. Dia belum berani untuk go public mengingat masalah yang sedang menimpah Kris akhir-akhir ini. "Jie, kita pergi saja, ya?"

Tiffany menahan tangan Tao agar tetap duduk. "Kau sudah tidak bisa pergi lagi. Percuma, mereka pasti tahu. Kris sudah tinggal beberapa langkah di depanmu. Terima saja," kata Tiffany.

Bisa Tao lihat Kris sedang tersenyum lembut ke arahnya. "Huang Zi Tao," sebut Kris yang pasti di dengar semua orang karena dia menggunakan mic untuk melafalkan nama gadisnya. Oh ampun, tangan Tao rasanya gatal ingin membungkam mulut sang rapper. "Maukah kau menikah denganku?"

Mata Tao membulat. Dunianya serasa terhenti saat itu. Dadanya sesak serasa tak bisa mengambil napas lagi. Ia ingin tertawa dan menganggap semua ini hanya lelucon garing Kris yang lain, tapi tidak bisa. Ia melihat ke sekelilingnya. Semua orang sedang menatapnya tanpa berkedip, begitu pula dengan kamera-kamera yang kini pasti menyorot wajahnya secara frontal.

"Ge… ini…" bisik Tao, "aku belum siap go public."

Kris berlutut di sampingnya sambil memegang kedua tangan Tao. Ya ampun, kenapa Kris harus bersikap seromantis ini padanya di depan umum, padahal kalau sedang berdua—Tao yakin— dia tidak sampai berlutut pada Tao. Dia tidak sedang akting, kan? Ini juga bukan sekedar bunga tidur, kan?

"I'm with you, okay? Just say yes for now," kata Kris sambil memandang mata Tao lembut.

"Am I have any other choice?" tanya Tao balik. "Of course yes."

Confetti langsung turun di studio tersebut. Fans yang berbesar hati menerima Kris bersama Tao langsung berdiri dan bertepuk tangan pada dua pasangan yang baru mengumumkan hubungannya pada publik. Namun tak sedikit juga fans yang menangis selain karena melihat adegan romantis secara live, juga tidak rela melepas Kris untuk gadis lain.

"Ya, pemirsa! Hari ini, tepat di acara Heart to Heart episode keseratus, Kris, leader EXO, mengumumkan hubungannya dengan gadis yang selama ini menjadi bahan perbincangan publik. Dengan ini saya, Lee So Jung, pamit undur diri. Kita bertemu di episode selanjutnya minggu depan. Annyeong!" ucap So Jung menutup acara.

Member EXO mendekat pada Kris dan memberi selamat pada dua sejoli yang baru saja mengumumkan hubungan mereka pada media. Mereka yakin di luar gedung sudah banyak wartawan yang menunggu Kris dan Tao dengan sejumlah pertanyaan mengenai hubungan asmara mereka.

Diam-diam, Suho yang berdiri di sebelah Lay memandang wajah kekasihnya yang malam ini terlihat bahagia dengan hubungan Kris dan Tao. Malam ini Lay memakai kemeja berwarna violet dan celana legging bermotif floral dipadu dengan sepasang stiletto. Sangat simple, tapi Suho tidak mengerti kenapa dia selalu terpesona dengan apapun yang dipakai Lay. Bahkan ketika gadis itu baru bangun tidur dengan rambut masih berantakkan dan wajah tanpa make up.

Ia meraih tangan kanan Lay, membuat gadis itu menoleh padanya. "Kenapa?" tanya Lay bingung kemudian melirik tangan mereka yang bertautan. "JunMyeon, kau tahu ini—"

"Kadang aku berpikir, kapan kita bisa berani seperti mereka," bisik Suho perlahan melepas tautan jemari mereka. "Maaf, aku kelepasan."

Lay mengerti apa yang dirasakan Suho saat ini. Kekasihnya sejak delapan tahun lalu itu pasti sudah capek dengan keadaan mereka yang seperti bayangan. Kau mungkin pernah berpikirkan semua bayangan ini juga menjadi nyata? Begitu juga mereka. Namun sering kali Lay merasa belum siap dengan hal itu. Ia merasa ia masih memiliki banyak mimpi yang belum dicapai.

Giliran Lay yang menggenggam tangan Suho. Ia tersenyum manis sampai dimple-nya terlihat. "… terima kasih sudah bertahan selama ini."

Kyungsoo menyeka air mata yang terkumpul di pelupuk matanya. Ia terharu melihat Kris dan Tao yang kini bisa menjalin hubungannya secara bebas dan bisa naik ke pelaminan. Tentu saja Kyungsoo merasa sedikit iri karena sekarang usianya sudah dua puluh tujuh tahun.

"Jadi, yang sekarang masih jomblo adalah Luhan Noona dan Chanyeol Hyung!" seru Kai ceria sambil merangkul dua orang yang lebih tua darinya itu. Kyungsoo ikut menoleh pada kekasihnya.

Ah, kalian belum tahu, ya? Kyungsoo akhirnya menerima Kai sebagai kekasihnya tiga tahun lalu ketika ia benar-benar telah melupakan perasaannya pada Chanyeol. Kini perasaannya pada Chanyeol hanya lembaran kisah di halaman lama bukunya yang telah usang. Hanya ada nama Kim Jong In yang menghiasi tiap lembaran baru kehidupannya.

Chanyeol dengan sangat ikhlas menjitak kepala Kai. "Mentang-mentang sudah punya pacar, kau seenaknya saja mengejek kami jomblo. Kyung, kau harus mengawasi Si Kkamjong dengan lebih ketat supaya tidak kurang ajar," adu Chanyeol sambil nyengir. Tentu saja dia takkan benar-benar marah diejek seperti itu.

Kai masih memegang kepalanya. "Kalau kau tidak putus dengannya, kita kan bisa mengerjai Luhan Noona yang memang jomblo sejati," kata Kai. Kemudian ia mulai sadar dengan senyum Chanyeol yang sedikit berubah. "Ah! Noona! Kuharap kau segera punya pacar! Jangan sampai kau jadi perawan tua!" Kai mengalihkan pembicaraan.

Poor Kai, dengan ringan hati Luhan menjitak kepalanya. "Kyung, boleh tidak aku menggoreng pacarmu yang paling hitam ini untuk jadi camilan di apartemenku? Rencananya aku dan Sehun mau nonton nanti malam," kata Luhan sinis.

Xiumin tahu-tahu datang menyenggol lengan Luhan. "Mau sampai kapan HTS-an? Cepat tentukan status. Di antara aku, kau, dan Kris, hanya kamu yang masih sendiri."

Luhan merangkul Xiumin. "Mama, kamu cerewet!" kata Luhan sambil mencubit pipi tembam teman satu line-nya. "Jong Dae-ya, apa kalau denganmu dia akan cerewet seperti ini?" tanyanya pada Jong Dae yang berdiri tak jauh dari mereka dengan Jong Min dalam pelukannya.

"Makanya, wajahmu jangan terlalu baby face. Nanti naluri keibuannya jadi sangat sensitif padamu," canda Chanyeol.

Luhan memutar mata karena kembali menjadi bulan-bulanan. "Terima kasih, Tiang. Semoga di antara kita, kau yang menikah paling terakhir."

"Jahat sekali kau, Xiao Lu!"

"Kurang ajar!"

.

.

.

.

.

"…Kevin Hyung dan Tao sebentar lagi naik pelaminan," gumam Sehun. Acara di TV sudah berganti dengan headline news. Namja berusia dua puluh enam tahun itu melirik ponselnya. "Sudah malam. Aku mau pulang. Kau juga, segeralah pulang, Noona," kata Sehun pada Baekhyun.

Gadis berwig cepak keunguan itu mengangguk. "Ya. Duluan saja, aku masih ingin makan sebelum melanjutkan latihan," kata Baekhyun kemudian melambaikan tangan pada Sehun yang sudah berlalu dengan managernya keluar.

Baekhyun menghela napas. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam artinya, sekarang sudah masuk tanggal 6 Mei, ulang tahunnya yang kedua puluh delapan. Tahun ketiganya melewati ulang tahun tanpa Chanyeol. Harusnya ia sudah terbiasa. Tapi ia tidak bisa benar-benar terbiasa dengan keadaan ini.

Baekhyun membuka cup ramen yang baru disodorkan managernya. Hawa panas dan gurih menggoda indra penciumannya. Ia meraih sumpit lalu mulai makan. Saat hendak memakan mie berwarna kuning itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi membuat ia harus menunda lidahnya mengecap mie tersebut.

Mata sipit Baekhyun dipaksa melebar saat melihat pesan yang masuk. Ia bahkan sampai mengucek-ngucek matanya, memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Namun pesan itu tetap tertera di layarnya, tidak berubah sedikitpun. Pandangan Baekhyun melembut, bibirnya melengkung tipis.

Jadi bukan hanya aku saja? Kau juga masih mengingatnya, Do Bi?

.

.

From: Park Do Bi

Receive two minutes ago

Saengilchukhahaeyo. Naneun dangsin-i modeun geos-eul dangsin-ege choeseon-eul dahagil balae.

.

.

.

.

.

Luhan memasuki apartemennya yang tentu saja terlihat gelap karena lampu belum ia nyalakan. Baru saja ia menutup pintu, ia melihat TV sudah menyala dalam kegelapan. Siluet seorang lelaki berdiri memunggunginya, menatap city light yang menjadi view apartemennya. Di meja sudah tersedia seloyang pizza dan beberapa botol soju.

Luhan meletakkan tasnya di sofa tanpa suara, kemudian mendekati sosok tersebut lalu meletakkan kepalanya di pundak lelaki itu. Luhan memejamkan matanya, menghirup aroma segar yang menguar dari tubuh lelaki berkaus putih tersebut. "Sudah lama?"

"Tidak juga, tapi masih cukup untukku mandi sebelum kau datang," kata Sehun sambil melirik Luhan. Tangannya bergerak mengelus rambut perempuan yang lebih tua empat tahun darinya itu. "Tadi aku melihat acaramu di TV."

"Lalu?" tanya Luhan.

Ia memutar tubuhnya sehingga Luhan kembali menegakkan tubuhnya. Tangan kanan Sehun mengelus pipi kiri Luhan. Tatapannya melembut. "Kau menungguku?" tanya Sehun.

Jemari Luhan meraba tangan Sehun di wajahnya, kemudian menggenggamnya erat. Ia menyamankan diri pada telapak tangan Sehun yang terasa hangat. "Menurutmu?" Matanya mengerling pada Sehun yang kini menatapnya dengan wajah datar.

Sehun menghela napas. "Iya?" jawab Sehun ragu. Luhan mengangguk. "Kenapa kau tidak pernah berkata terus terang? Kau terus membuatku bertanya-tanya, kau tahu? Itu menyebalkan." Sehun memanyunkan bibir sedikit, pertanda kesal.

Luhan senang sekali menggoda lelaki itu. Ia mencubit kedua pipi tirus Sehun. "Kau tetap seperti bocah biar sudah dua puluh enam tahun." Luhan tersenyum manis.

"Kau masih menganggapku sebagai bocah, Lu?" tanya Sehun memanggil Luhan dengan nama tengahnya tanpa embel-embel noona. Luhan sontak menurunkan tangannya karena nada bicara Sehun yang serius jauh lebih menyeramkan daripada semua film horror yang pernah ia tonton.

Luhan hanya diam sambil menunduk. Karpet berbulu putih yang melapisi ubin kayu di bawahnya terasa jauh lebih menarik daripada wajah Sehun saat ini. Lelaki itu sampai harus menggunakan tangannya untuk mengangkat wajah Luhan agar gadis itu mau melihatnya. "Jawab aku," suara Sehun lebih lembut. "Aku benar-benar ingin hubungan yang serius, Noona. Bukan hanya hubungan tanpa status seperti ini."

Akhirnya sederet kalimat itu meluncur manis dari mulut Sehun. "Noona, menikahlah denganku."

Luhan langsung menunduk dan mendekat pada kaca-kaca jendela yang menjadi pengganti dinding apartemennya. "Sehun, kau sadar, umurku tiga puluh dan kau dua puluh enam. Setidaknya kau masih punya waktu empat tahun berkarir sebelum ikut wajib militer. Kau masih punya kontrak yang—"

Sehun memeluk Luhan dari belakang dan menyamankan kepalanya di pundak Luhan. Gadis itu benar-benar tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mampu memejamkan mata sambil membiarkan airmatanya mengalir membasahi pipi putihnya.

"Kau terlalu banyak memikirkanku, Noona. Sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri."

"Bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu? Karena kau orang yang berharga di hidupku!" seru Luhan sambil berbalik menatap Sehun. Ia buru-buru menyeka air matanya. "… tanpa sadar, kau menjadi salah satu orang penting di hidupku, Oh Sehun. Kau terlalu banyak berkorban untukku."

"Bukan aku yang berkorban, Noona. Kita berdua sama-sama berkorban," Luhan mendongak. Sehun sedang tersenyum padanya. "Bukankah cinta sama dengan pengorbanan?"

Luhan harusnya tahu, lelaki yang dulu ia anggap sebagai bocah kini sudah menjelma menjadi lelaki dewasa yang memiliki pemikiran yang seimbang dengan dirinya. Bukan lagi remaja labil yang mengaruh perasaan sesaat padanya. Tapi seorang laki-laki yang berani ambil resiko dan berani berkomitmen.

"Xi Luhan, menikahlah denganku. Menjadi sahabatku untuk menemani hidupku sampai maut memisahkan."

Air mata Luhan kembali mengalir. Ia mengangguk sambil tersenyum bahagia. Ia berjinjit untuk mendekatkan bibirnya dengan Sehun. Kali ini ia yang akan memulai. Sebelum benar-benar saling bersentuhan, Luhan berbisik, "You looked like an old man."

Sehun tersenyum tipis. "Kuanggap itu pujian."

Akhirnya bibir mereka benar-benar bertemu. Melupakan pizza dan film mereka. Menikmati pergulatan bibir keduanya.

.

.

.

.

.

To Be Continue…

3.315 words

HAPPY 21st BIRTHDAY MAKNAE OH SE HUN!

Ciye yang dapet birthday message dari Miranda Kerr :*

I got overdose with you! Semoga tetap tumbuh tinggi. Tetep ganteng. Tetep unyu. Forever Young. Keep healthy! Part nyanyinya makin banyak. Comeback nya meledak! Terus world tour ke Indonesia. Hahahahaa~

Igeon OVERDOSE!

KYAAAAAA saya spazzing sama dance practice dan teaser mereka! KECE GILE. Lagunya cepet banget buat disuka. Dance nya juga. Teasernya juga. Asdfghjklkjhgfdsa.

Ah, saya pengen nanya. Dijawab, ya. Kalo misalnya salah satu FF saya terpaksa saya hapus karena satu-dua alasan, gimana?

Thanks to: meyy-chaan, jettaome, EXOST Panda, Kirei Thelittlethieves, raetaoris, coffe latte, onkey shipper04, lanarava6223, chenma, luhan8045, ParkDoMyeon Zi Tao, chanwonderful, Park Oh InFa FaRo, chindrella cindy, raul .sungsoo12, Reezuu Kim, Riyoung17, KIMJUNMONEY, bubblechanbaek, Mekkyyy, Park HanSoo, JjagNabil, dan semua yang sudah membaca, fave, alert. Jeongmal Gomawo~

Buat yang kelas 12, semangat ya hari Senin nanti ujian! God bless everything you learn.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

July 2, 2013

09.46 P.M.

Published at:

April 12, 2014

03.30 P.M.

Me Prometa 2 : Years After © Kazuma House Production ® 2013