A Late Story

LOVE IN THE PALACE

.

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

(I.O.I Sohye as Jeon Hye)

.

.

Genderswicth

Joseon Era

.

.

.

"Ibunda…" Wonwoo berdiri untuk menyambut kedatangan Ibu Suri Yoon ke paviliun-nya. Berdiri dengan bantuan tubuh Mingyu disampingnya yang menopang.

Kehamilan Wonwoo memasuki bulan kedelapan. Perutnya membesar dengan sehat. Namun tubuh Wonwoo menjadi mudah lelah dan tidak dapat banyak beraktifitas.

Hari ini Mingyu menemaninya di kediamannya karena masa hukuman Wonwoo juga yang membuat Wonwoo tak dapat keluar dari istana.

Sejujurnya ia merindukan Jungkook dan Byeo. Namun demi melaksanakan hukuman ia rela terkurung di dalam istana.

"Ibunda… ada perlu apa datang kesini?" Mingyu duduk kembali setelah memastikan Wonwoo duduk dengan baik.

"Apa aku harus memiliki alasan dahulu sebelum menemui menantu dan calon cucuku?" Ibu Suri Yoon duduk dengan anggun didepan pasangan Raja dan Ratu tersebut.

"Tentu saja tidak, Yang Mulia Ibu Suri. Senang sekali mendapat kunjungan dari Ibunda. Aku tidak merasa kesepian sekarang." Wonwoo tersenyum. Ia sudah merasa cukup bahagia bisa tetap berada di sisi orang-orang yang sangat menyayanginya.

"Mingyu, kembalilah ke ruanganmu. Biar ganti Ibunda yang akan menemani Wonwoo." Ibu Suri Yoon menatap Mingyu. Sedangkan yang ditatap sibuk bermain dengan jemari sang istri yang bersandar di bahunya.

"Tidak, Ibunda. Aku ingin menemani Wonwoo seharian ini. Aku harus keluar istana besok dan tidak bisa bertemu untuk sehari semalam." Mingyu merengut keberatan. Ia harus pergi ke pertanian di selatan Jeondo besok selama sehari semalam. Itu sebabnya ia menyempatkan diri bersama Wonwoo hari ini.

"Kalian benar-benar pasangan yang tidak bisa terpisahkan."

.

.

.

"Apa ini? Kenapa ada gurita kering di makanan Yang Mulia Ratu? Bagaimana bisa pekerjaanmu seceroboh ini?" Wonwoo mengerutkan dahinya. Ia baru saja berbaring setelah Mingyu dan Ibu Suri Yoon pergi dari paviliun-nya. Namun suara teriakan Seungkwan di depan membuat ia terusik.

"Ada keributan apa, Boo?" Wonwoo berdiri berpegangan pintu ruangannya kemudian menatap Seungkwan sedang memarahi seorang dayang istana.

"Maaf, Yang Mulia. Anda jadi terusik. Aku hanya sedang memeriksa makanan yang akan di suguhkan pada anda. Tapi menemukan gurita kering di makanannya. Sepertinya terjadi kesalahan." Wonwoo sedikit melirik kearah dayang yang Seungkwan marahi. Wajahnya terlihat pucat karena takut.

"Sudah. Jangan di persulit. Mungkin bahan makanannya tertukar dengan milik Raja. Aku akan makan lauk yang lain. Bawa masuk.. em.. kamu yang bawa masuk." Wonwoo menunjuk dayang dapur istana yang sedari tadi menunduk.

Sang dayang berseragam rapih itu tersentak kaget.

"Masuklah. Yang Mulia Ratu sudah memerintahmu." Seungkwan menambahi. Sang dayang terlihat panik. Tergambar jelas bahwa ia sedang takut mendapat hukuman dari sang Ratu atas kesalahannya.

Wonwoo duduk bersilah menunggu makanannya datang. Memang sudah masuk waktu makan malam. Itu juga yang membuat Mingyu dan Ibu Suri Yoon pamit pergi dari kediamannya tadi.

"Duduklah. Temani aku makan.." Sang dayang yang mempersiapkan hidangan Ratu itu mendongak sebentar kemudian menunduk lagi dengan cepat. Ia terkejut dengan kata-kata ratunya.

"Yang Mulia, mohon ampuni kecerobohanku."

"Duduklah…" Ucap Wonwoo lagi selagi menyumpit lauk makanan ke nasinya.

Sang dayang melirik ke arah Seungkwan yang berdiri di dekat pintu ruangan. Meminta saran untuk ia bisa menuruti permintaan Ratu. Seungkwan mengangguk memberi isyarat bahwa dayang tersebut harus menuruti perkataan Ratu. Duduk dan temani Ratu makan.

"Sudah berapa lama kau jadi dayang istana?" Wonwoo melirik kearah sup yang kata Seungkwan terdapat gurita keringnya. Berada tepat di depan sang dayang. Sedikit dijauhkan dari jangkauannya.

"Sudah tiga tahun, Yang Mulia." Gadis itu menjawab dengan sedikit takut. Masih menunduk tak menatap ratunya.

"Dimana pertama kali kau bertugas?" Wonwoo melanjutkan makan. Namun tetap bertanya tanpa menatap si gadis.

"Dapur istana…"

"Berarti sejak awal kau sudah ditugaskan di dapur istana. Aku tidak tau bagaimana kau bisa ditugaskan mengolah makananku hari ini. Tapi seluruh istana sudah tau bahwa aku tidak bisa makan semua makanan laut." Wonwoo meletakkan sumpitnya dan mengakhiri makan di suapan ketujuh.

Bukan karena ia marah atau tidak suka dengan makanannya. Tapi memang sejak kehamilannya ia hanya bisa makan sedikit.

"Sepertinya bahan makanannya tertu-"

"Meskipun Raja, Ibu Suri dan Raja terdahulu bisa dan suka makan makanan laut, mereka hanya akan makan makanan segar. Bukan gurita kering." Wonwoo kini menatap lurus pada sang dayang.

Seungkwan yang mendengar seluruh percakapan juga tersentak kaget. Benar. Seharusnya gurita kering sama sekali tidak ada didaftar bahan makanan keluarga kerajaan.

"Itu…"

"Tegakan kepalamu!" Wonwoo menaikan nadanya agar terdengar tegas. Dayang tersebut dengan ragu menaikan kepalanya. Namun pandangan matanya tetap tak berani menatap ke Wonwoo.

Wonwoo mengernyit menatap wajah sang dayang. Ingatannya berputar ke masa lalu. Gadis ini mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya. Senyum dan sorot mata itu benar-benar membawa Wonwoo ke kejadian lalu.

"Katakan apa tujuanmu."

"Yang Mulia, aku…"

"Katakan saja."

"Aku adik kembar seorang gadis yang diculik bersamaan dengan anda, Yang Mulia. Seluruh negeri sudah tau kisah dari Yang Mulia Ratu korban penculikan itu. Dan waktunya bersamaan. Aku.." Gadis itu dengan ragu mulai bercerita. Ya. Ia memiliki tujuan sendiri dengan mencari perhatian sang Ratu.

Ia tidak berniat melukai sang ratu dengan memberinya gurita kering karena ia tau itu dapat berbahaya untuk diri sang ratu. Ia hanya butuh berbicara berdua dengan wanita nomor satu negeri ini.

"Jeon Seo punya saudara kembar?" Wonwoo mengernyit heran. Wajah dayang itu memang mengingatkan Wonwoo pada Jeon Seo, teman seperjuangannya di hutan perbatasan dulu. Tapi seingatnya Seo tidak membahas sama sekali bahwa ia kembar.

"Ya. Kami bersaudara kembar. Apa Yang Mulia Ratu mengenalnya? Kalian berada di penyekapan bersama kan, Yang Mulia?" dayang tersebut terlihat antusias dengan percakapannya bersama Wonwoo.

Wonwoo tersenyum.

"Siapa namamu?"

"Hamba Jeon Hye, Yang Mulia." Gadis kembaran Seo itu tersenyum dan sudah mulai terbiasa bertatap muka dengan Wonwoo.

"Kau sama beraninya dengan Seo. Sama-sama bersuara lantang dan cantik. Ia begitu ceria dan suka sekali bernyanyi." Wonwoo bercerita sambil tersenyum.

Ingatannya kembali pada masa dimana ia terjebak bersama Jeon Seo di hutan perbatasan. Meskipun lelah gadis itu tetap ceria dan berusaha bersemangat.

"Anda mengenal dengan baik kakakku, Yang Mulia. Tapi bagaimana bisa?" Hye menatap Wonwoo dengan pandangan heran. Di kisah yang beredar Wonwoo berhasil kabur segera setelah penculikan. Dan hanya selamat seorang diri. Sangat tidak mungkin Wonwoo bisa tau sifat Seo jika dalam waktu begitu singkat mereka bertemu.

"Aku keluar penyekapan bersama Seo. Dan kami menghabiskan hari bersama di hutan lebat perbatasan.." Wonwoo mulai bercerita setiap kejadian yang ia alami bersama Seo.

"Yang Mulia.."

"Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan Seo. Sungguh aku sangat kehilangan dia. Aku berusaha mencari keluarga Seo untuk menyampaikan pesannya. Tapi sama sekali tidak memiliki petunjuk aku harus kemana. Maafkan aku, Hye." Wonwoo menatap Hye dengan sendu. Menggenggam tangan dayang dapur istana itu dengan erat.

Ia tulus meminta maaf. Dan berjanji membalas kebaikan Seo pada keluarganya.

.

.

Seminggu setelah insiden gurita kering, Wonwoo dan Hye menjadi lebih dekat. Hye sering mengunjungi Wonwoo untuk sekedar menemaninya merawat tanaman di belakang paviliun. Atau menemani Wonwoo makan masakan yang ia buat.

Mereka berhubungan baik. Wonwoo berjanji akan menemui orang tua Hye dan Seo saat masa hukumannya sudah usai.

.

"Gyu, bisakah aku menobatkan seorang Dayang Istana Istimewa?" Wonwoo menuangkan secangkir teh hijau di gelas Mingyu. Mereka sedang duduk di taman di dekat paviliun Raja. Mingyu baru saja kembali dari kunjungan ke kuil besar di desa Wangriyeol pagi ini. Jadi mereka menghabiskan waktu bersama.

"Dayang Dapur Istana itu?" Wonwoo mengangguk. Ia sudah menceritakan semua tentang Seo dan Hye yang sekarang jadi dayang istana. Dan ia berniat memberikan hadiah untuk membalas semua kebaikan Seo dan Hye.

"Aku tidak keberatan. Itu juga akan membantumu meringankan tugas sebagai Ratu. Apalagi sebentar lagi kau akan melaksanakan persalinan." Mingyu tersenyum pada Wonwoo. Memuji kebaikan hati sang ratu yang sama sekali tidak melupakan balas budi meski ia sudah memiliki tahta saat ini.

"Terima kasih, gyu. Aku mencintaimu."

.

.

"Yang Mulia, aku pikir ini berlebihan. Anda bisa memberikan banyak hadiah, harta atau apapun itu pada dayang itu. Tapi menobatkannya menjadi Dayang Istana Istimewa… itu berlebihan, Yang Mulia." Seungkwan duduk berhadapan dengan Wonwoo. Mereka baru kembali dari menobatkan Jeon Hye menjadi Dayang Istana Istimewa.

"Apanya yang berlebihan, Boo. Aku hanya menobatkannya. Itu juga agar ia membantuku mengurus pekerjaan Ratu. Dan sebagai balas budi." Wonwoo memijat kakinya yang mulai terasa pegal. Namun Seungkwan mengambil alih memijat kaki sang Ratu.

"Yang Mulia pernah mendengar kan ada Dayang Istana Istimewa yang jadi Selir?" Wonwoo menoleh pada Seungkwan. Kenapa pelayan kepercayaannya berbicara tentang Selir disaat seperti ini.

"Apa maksud dari ucapanmu, Seungkwan?"

"Setelah Yang Mulia menobatkan Dayang Jeon menjadi Dayang Istana Istimewa, bisa saja ia dekat dengan Yang Mulia Raja dan ya.. Selir." Wonwoo terdiam. Berusaha mencerna setiap perkataan Seungkwan.

Benar. Mingyu belum memiliki Selir satupun. Ia percaya Mingyu setia dengannya karena selama ini terbukti begitu. Tapi tidak menutup kemungkinan Mingyu akan menobatkan Selir untuk mendampinginya kelak. Raja bisa saja melakukan hal itu. Bahkan untuk lebih dari satu Selir. Raja berkuasa atas hal itu.

"Hye terlihat cantik dan anggun meski ia dari rakyat jelata dulunya. Dan itu membuat aku juga khawatir, Yang Mulia." Seungkwan menatap ratunya sendu. Ia begitu mengerti cinta diantara Raja dan Ratu begitu kuat. Begitu saling percaya. Dan begitu saling memahami.

Namun siapa yang tau apa yang ada dipikiran seorang lelaki. Apalagi seorang raja berkuasa.

"Aku sangat mempercayai Mingyu." Ya. Hanya itu yang dapat Wonwoo pegang.

.

"Mingyu.." Wonwoo mencoba bangkit dari tidurnya saat Mingyu mengunjunginya petang ini.

"Kau baik-baik saja, sayang?" Mingyu membantu Wonwoo untuk duduk kemudian menopang tubuh Wonwoo.

Seharian Wonwoo tidak keluar kamarnya karena terserang pusing yang amat sangat.

"Aku hanya kelelahan. Kehamilanku cukup besar karena mengandung dua janin sekaligus. Untung ada Dayang Istimewa Jeon yang membantuku melakukan pekerjaan." Wonwoo duduk sambil memeluk tubuh tegap suaminya. Menyalurkan rasa cinta lewat sebuah pelukan.

"Kau bekerja sangat keras meskipun kau sedang hamil, sayang. Terima kasih untuk minuman herbal yang kau titipkan pada Dayang Istimewa Jeon. Aku sudah meminumnya." Wonwoo menegang. Terkejut akan kata-kata yang Mingyu ucapkan.

Tadi sore saat bersama Hye, Wonwoo memang berbicara tentang kebiasaannya mengirim minuman herbal ke kediaman Raja saat Raja sedang sibuk. Tapi ia sama sekali tidak menyuruh ataupun memerintah Hye melakukannya terhadap Mingyu.

"Ia bisa melakukan pekerjaan dengan baik." Wonwoo mendesahkan nafas sejenak. Berusaha berpikir positif. Mungkin Hye berinisiatif sendiri karena melihat keadaan lemah Wonwoo saat ini.

"Aku bermalam disini ya, Won?" Mingyu mengecup lembut pipi sang istri. Tersenyum saat melihat rona merah menjalar pada pipi berisi Wonwoo.

"Kau selalu saja meminta ijin. Aku istrimu. Kediamanku adalah milikmu juga. Jadi silahkan bermalam kapanpun kau ingin. Tapi.. Maaf malam ini aku tidak bisa melayanimu, gyu." Mereka bertatapan. Mingyu paham arti kata melayani yang Wonwoo ucap.

"Yah. Padahal aku merindukanmu. Haruskah aku menobatkan Selir untuk menggantikanmu sementara kau mendekati persalinan?" Mingyu tersenyum jenaka. Namun Wonwoo menatapnya dengan pandangan sendu.

Apa yang barusan Mingyu ucapkan?

"Sayang, aku bercanda sungguh. Tidak ada niatku sedikitpun untuk berpaling ke wanita lain. Aku akan setia bersamamu. Sungguh." Wonwoo menerjang Mingyu dengan sebuah pelukan erat. Mengenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.

Ia ingin percaya. Namun setiap perkataan Seungkwan tempo hari membuatnya begitu takut.

Ia patut takut. Karena Mingyu seorang pria. Dan seorang Raja.

.

.

Hari ini tubuh Wonwoo sedikit membaik. Ia pergi ke kuil istana untuk berdoa agar persalinannya dalam waktu dekat berjalan lancar. Ditemani Seungkwan dan pelayan lain ia berdoa dan mencoba menenangkan dirinya.

Banyak ketakutan yang menghinggapi Wonwoo akhir-akhir ini. Dari takut akan persalinan yang tidak lancar. Takut akan jenis kelamin bayi dalam perutnya. Juga ketakutan akan isu selir yang kini berhembus di istana.

Sungguh ia begitu tidak tenang.

"Yang Mulia, bukankah itu Dayang Istimewa Jeon?" Wonwoo berhenti saat Seungkwan membisikkan sebuah kalimat tanya padanya.

Mata Wonwoo menuju kearah pandang Seungkwan.

Saat hendak kembali dari kuil. Wonwoo menatap dua sosok manusia itu. Mingyu dan Jeon Hye. Meskipun dikawal banyak pelayan. Mata Wonwoo tetap tertuju pada Mingyu dan Hye yang bercengkerama dengan baik.

Saling menatap dan melempar senyum.

Wonwoo berjalan lagi. Kali ini bukan kearah paviliun-nya. Melainkan menghampiri Mingyu dan Hye.

"Apa aku melewatkan sebuah cerita?" Wonwoo mencoba tenang dibalik senyumnya.

"Yang Mulia Ratu.." Hye menunduk hormat kemudian menggeser dirinya membiarkan Wonwoo mendekat pada Mingyu.

Wonwoo melirik sebuah bungkusan di tangan Hye. Kemudian beralih menatap Mingyu.

"Kau baru selesai dari perjamuan istana, gyu?" Wonwoo mendekat kearah Mingyu. Ia tidak ingin terlihat agresif. Namun ego wanitanya menginginkan ia melakukan sesuatu yang akan menunjukkan Mingyu adalah miliknya.

Wonwoo tersenyum sambil menggenggam lengan Mingyu.

"Ya, sayang. Aku akan ke perpustakaan untuk bertemu ayahmu. Namun bertemu dengan Dayang Istimewa Jeon yang sedang menuju kediamanmu. Kau baru kembali dari kuil?" Wonwoo memejamkan matanya mendapat sebuah usapan lembut di rambutnya lewat jemari sang Raja.

Ya. Raja adalah miliknya. Karena ia adalah seorang ratu. Ratu Won. Hanya Ratu Won.

"Hamba tadi datang ke paviliun Ratu namun mereka menyuruhku kembali saat Yang Mulia sudah kembali dari kuil. Aku ingin memberikan hadiah pada anda, Yang Mulia." Hye menyerahkan bungkusan berkain cokelat itu kepada Wonwoo.

"Apa ini, Hye?" Wonwoo meraihnya tanpa curiga.

"Ibuku menitipkan sebuah jimat untuk Yang Mulia Ratu. Kata ibu, itu jimat untuk melancarkan persalinan. Semua calon ibu apalagi untuk persalinan pertama akan meminta jimat ini pada pendeta di kuil di desa Balhwa." Hye menjelaskan dengan tetap menjaga senyumnya dihadapan sang Raja dan Ratu.

"Jimat itu bisa kau gunakan, Won. Bukankah kau merasa tidak tenang menunggu persalinanmu? Semoga ini bisa menjadi jimat kelancaranmu." Mingyu menambahi. Dalam hati ia memuji niat baik Jeon Hye untuk sang ratu.

"Baiklah. Aku akan menyimpan ini. Kalau begitu aku akan kembali ke kediamanku. Aku butuh istirahat." Wonwoo memeluk Mingyu sekilas sebelum meninggalkan Hye yang berjalan kembali ke kediamannya dan Mingyu yang melanjutkan perjalanan ke perpustakaan istana.

"Ahhh.. Perutku.. Seungkwan.. Ya tuhan. Ini sungguh sakit." Wonwoo membungkuk memegangi perut besarnya meski baru beberapa langkah beranjak.

Mingyu mendengar rintihan itu kemudian berlari menghampiri Wonwoo. Wonwoo menjatuhkan bungkusan jimat yang ada ditangannya untuk meremas perut besarnya. Berusaha menahan nyeri yang melanda kandungannya.

"Ratu Won! Kau baik-baik saja?" Mingyu dengan sigap menopang tubuh Wonwoo.

"Jangan-jangan ini waktu persalinan." Seungkwan jadi ikut panik saat mendengar Ratunya merintih kesakitan.

Mingyu dengan sigap menggendong tubuh Wonwoo kemudian membawanya ke paviliun ratu. "Cepat panggil tabib istana!"

Seungkwan melirik kearah tempat Ratu, Raja dan Dayang Istimewa Jeon tadi berkumpul. Bukankah tadi Dayang itu masih disini? Seharusnya ia juga mendengar teriakan Ratu dan berlari menghampiri.

.

"Anda yakin mau melakukan ritual ilmu hitam ini, Nyonya?" Seorang cenayang berbaju putih bersih bertanya memastikan.

Seluruh negeri sedang was-was menunggu persalinan sang Ratu. Menanti kelamin sang keturunan yang akan meneruskan tahta jika ia seorang pria.

"Kita harus melakukan ini. Bayi Ratu tidak boleh lahir. Mereka harus mati agar Raja tidak mendapat keturunan dari Ratu Won." Seorang yang dipanggil Nyonya menyeringai. Ia juga telah mengenakan hanbok putih untuk melakukan ritual pemujaan. Sebuah ritual ilmu hitam untuk pembunuhan.

.

.

.

A Late Story

.

.

.

Selagi noona masih dalam mood nulis, ini akan dibuat agak panjang.

Gapapa kan?

Meskipun responnya tidak sebagus DTA, tapi noona sangat suka fiksi ini. Jadi akan terus dilanjutkan sebisanya.

.

Kim Noona

Tue, 20th Dec 2016