Hai minna, author balik lagi nih, bareng chap 10 :) mood author buat nulis bener-bener hilang nih entah kemana, yare-yare~~ ("-_-)

tapi karena udah janji, yah harus semangat lagi..

buat para reviewers khususnya buat para senpai, thanks dah review, n salam kenal juga.. dan juga thanks buat pembaca setia fict ini dan tak lupa pula buat silent readers yang masih di silent(?). heheh, maaf nggak bisa bales satu-satu.. author sebenarnya lagi mau buat laporan praktikum tapi malah buat fanfic akhirnya kena jitak sama temen kelompok, dikiranya serius bikin laporan malah serius ngetik fiksi.. bwahahahaha,, maaf deh buat temenku yg unyu-unyu.. dan juga happy reading buat para readers sekalian. ^_^


something about you

by ishikawa ayica

Disclaimer: Naruto selalu punya Masashi Kishimoto-sensei ^_^

Pairing: sakura & sasuke

Warning: gaje, and pastinya kalau kurang berkenan jangan dibaca ^_^


BUG!

"HINATAAAA, LARIIIIIIII!"

Hinata segera membuka matanya saat tidak di rasakan sakit menghampirinya, namun yang didapatinya adalah-

"aaarrgggghhh,, bocah sialan! Matakuuuu!"

Brug, Brak, Brugh

Mata Savage tersebut telah di butakan oleh naruto yang nekat nelempar gelang yang telah dipecahkannya sebelum ini, dan akibatnya pecahan dari gelang tersebut melukai kedua bola matanya.

'Benar-benar gelang yang hebat! Bahkan bisa mengenai wujud transparan seperti itu, kalau saja tidak berkaitan dengan Hinata, mungkin aku akan menganggap aku tengah berlari dalam mimpi sekarang, yah walau capeknya benar-benar nyata' bathin Naruto.

"Nice, Naruto!" seru Sakura.

Sakura yang terdekat dengan Hinata segera membantu Hinata yang telah berkeringat dingin dengan nafas yang tersengal-sengal, menggenggam tangan Hinata dan memberi syarat bagi sahabat-sahabatnya untuk bersembunyi di balik batu gunung terbesar yang di tunjuk olehnya yang kebetulan berada dekat dengan mereka saat itu, sementara Savage masih menghancurkan sekelilingnya karena kebutaan yang dialaminya.

"Argggh, Jangan fikir dapat lari dariku, Hime!"

Sementara Sakura dan yang lainnya telah bersembunyi di balik batu

"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir

"Ti-tidak ah ap-apa, Naruto-kun, Arigatou" balas hinata yang masih mengatur nafas dan mengendalikan rasa takutnya.

"Bagaimana sekarang?" tanya Neji.

"Hinata, apakah kau sanggup berlari lagi?" tanya Sasuke yang mendapat deathglare dari Sakura.

"Tentu saja ayam! Kau mau datang dengan suka rela padanya dan menyerahkan Hinata dengan alasan Hinata tidak sanggup berlari? Ck, alasan yang bagus untuk membunuh Hinata juga membunuhku." Bukan Hinata yang menjawab malah Sakura yang menjawab pertnyaan konyol Sasuke menurut Sakura.

"Bukan begitu, jidat! Sudah diam dan dengarkan rencanaku kalau kalian mau selamat." Seru sasuke yang masih membalas deathglare Sakura. *Deathglare apa Loveglare(?) nih.. ciye..ciye.. ihhuy*

"Sudahlah, aku masih sa-sanggup berlari kok, Sasuke"

"Bagus! Sekarang kita lari berpasangan, dengan rentang jarak yang tidak terlalu jauh, dan kau Hinata, kau harus berlari berpindah-pindah dari pasangan satu ke pasangan lain, kalian mengerti maksudku kan?" tanya sasuke

"Ya, kami mengerti" sahut Sakura, NejiTen, SaIno, NaruHina bersamaan.

"Bagus, sekarang... Lari!" seru sasuke yang membuat semuanya kalang kabut, pasalnya tidak di putuskan siapa yang akan berpasangan dengan siapa, dan Sasuke yang mencetuskan rencana ini malah lari terlebih dahulu dengan menggandeng Sakura, jadinya mereka berlari dengan asal gandeng atau memang refleks karena saat itu orang yang mereka pikirkan adalah orang yang saat ini mereka gandeng.

Brak! Suara pohon tumbang terdengar lagi, membuat mereka berlari melewati kaki-kaki besar milik Savage. Sasuke bersyukur saat naruto membuat Savage itu buta, ternyata semua anggota tubuh lainnya yang dapat memunculkan kepala juga telah mengalami kebutaan total. Sehingga Savage mengikuti mereka dari baunya saja. Lebih tepatnya aroma keabadian milik Hinata.

"Kalian fikir bisa menghalangiku?! Sayang, aku berusaha lembut pada temanmu hime, tapi kau membuat keputusan bodoh dengan melindunginya, bahkan bekerja sama dengan sesamamu, kau harusnya tau sejak awal kalian berbeda, dan kau harusnya tau kau akan kehilangan lagi. Bwahahahahaah, khuhuhuhu.. akan ku nikmati saat-saat kematian para rekanmu."

Tawa nista Savage membahana setelahnya, membuat Sakura brsedih lagi dan secara tidak sadar mengepalkan tangannya erat sehingga Sasuke yang saat ini menggandeng tangan Sakura harus menahan sakit akibat genggaman Sakura yang menguat.

"Jangan dengarkan dia. Seperti itulah cara musuh menjatuhkanmu, fisik tidak bisa maka mental sasaran selanjutnya. Aku tau kau gadis yang kuat, cukup kuat hingga kau mampu melewatinya seorang diri sampai saat ini. Bodoh jika kau menyerah saat seperti ini." Kata Sasuke pada sakura dengan senyuman tipis dan masih berlari.

"Arigatou, Sasuke... Kun." Sakura tersenyum memandang Sasuke yang ikut tersenyum ke arahnya. Saling pandang sampai tiba-tiba Savage telah berada di belakang Hinata yang di gandeng oleh Naruto. Naruto segera berlari menuju pasangan lari SasuSaku saat Savage mengejar pasangan NejiTen yang ada di sebelah kiri dari SasuSaku dan NaruHina, melempar 1 gelang ke arah kiri mereka sehinga gelang pecah terbentur pohon dan benar saja Savage mengikutinya. Sementara SaIno yang ada di depan mengintruksi agar mereka menambah laju kecepatan berlari.

"Sialan kau, Teme! Kau belum tentukan pasangannya dan malah membawa Sakura-chan kabur. Cih. Untung saja aku dan Hinata selamat." Cerca naruto pada Sasuke yang di balas senyuman 'maaf' Sakura dan Sasuke yang masih berlari dengan tenang.

"Su-sudahlah, na-naruto-kun, simpan energimu nanti, kita masih harus berlari" kata Hinata menengahi dengan nafas yang limit.

"MAU MEMBODOHIKU SAMPAI KAPAN HIME..? Aku datang padamu, bwahahahhahhaha." Seru dan tawa Savage mendekati hinata lagi. Hinata dan Naruto kembali berlari menuju arah SaIno dan SasuSaku, Sasuke melempar gelangnya kebelakang, yang sialnya hal itu tidak berpengaruh lagi pada Savage.

"Sial. Dia tau rupanya." Umpat Sasuke.

"Mungkin dia itu jelek, tapi dia tidak bodoh sasuke, aku tau cepat atau lambat pasti akan begini jadinya, tapi lihat. Kita telah mencapai kuil. Ayo masuk!" kata Sakura yang di ikuti anggukan setuju Sasuke. Masuknya kekuil, aura kematian telah sangat pekat, Sakura dan kawan-kawan segera berlari menuju belakang kuil yang akan jadi tempat pemakaman/pembakaran mayat (ituloh kayak di film-film india, apa sih namanya..? author bego nih!) yang telah di hadiri oleh banyak orang, mungkin sanak saudara. Dan disinilah mereka tengah berada di antara kerumunan orang yang menangis.

Hosh, Hosh, Hosh, Hosh.. butuh beberapa menit bagi semuanya untuk mengendalikan nafas yang tesengal karena berlari dan juga ketakutan. Cukup lama terdiam dan akhirnya ino bertanya atas keterlambatan sakura yang memang datang paling akhir bersama sasuke, beberapa menit lalu.

"Lama sekali, jidat. Sekarang bagaimana?" tanya Ino yang telah mengontrol nafasnya.

"Diamlah pig. Aku tidak tau." ketus Sakura yang kesal karena ditanya seperti itu oleh ino plus panggilan sayangnya. Dan sepertinya pasangan ini tidak menyadari hanya genggaman merekalah yang tidak terlepas sama sekali. (Hoy, Sasuke, lepasin tuh tangan si saku, maunya lo, kesempatan dalam kesempitan) *Chidori*

"Hitam sekali auranya, apa memang seperti ini, Sakura?" tanya Tenten

"Biasanya tidak sehitam ini, mungkin karena ada 3 mayat makanya sepekat ini aura kematiannya." Jawab Sakura.

"Bukan waktunya untuk terkesan, sekarang harus bagaimana?" tanya Sai

"Kau benar, Sai. Tapi lihat, Savage itu berhenti mengejar." Kata Neji yang sedari tadi tidak menemukan keberadaan Savage tersebut.

"Ya, dia berhenti mengejar tapi kita tidak bisa berhenti berlari. Lihat ke atas!" seru Naruto. Semuanya melihat kearah yang dimaksudkan oleh Naruto dan mendapati Savage tengah terbang berputar bagai elang yang mengincar mangsanya.

"Ba-bagaimana ini..?" tanya Hinata yang mulai panik.

"Tenang, kita akan aman... untuk saat ini." Jawab penuh ragu dari Sasuke.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggunya turun." Kata Sakura

"Bagaimana kalau dia tidak mau turun hingga semuanya selesai..?" tanya Neji.

"Kita buat dia turun, kata Sakura."

"Caranya..?" tanya Tenten dan Ino bersamaan.

"Hinata, pecahkan semua gelang yang tersisa didekatmu saat obor dinyalakan pada mayat ke 3. Kau mengerti?" tanya Sakura yang mendapat anggukan dari Hinata. Yang tersisa adalah gelang Sakura, Tenten, Ino dan Sai yang tidak di pecahkan di berikan pada Hinata. Dan tepat saat obor ketiga dinyalakan pada mayat terakhir, Hinata segera memecahkan gelang tersebut, dan benar saja aura Hinata menembus lapisan aura kematian hingga sampai pada Savage. Aura besar ini tentu saja mampu membuat Savage trun mendekati Hinata.

"Hinata! Pindah!" seru Neji.

Mereka segera menyebar mendekati mayat yang sedang dibakar dan saat Savage turun, segera saja dia tenggelam dalam aura kematian. Memmbuatnya meronta semakin gila karena aura kematian termakan olehnya.

"Arrghhh.. Kalian membuatku memakan aura busuk ini. Sayang sekali aku masih bisa menghirup auramu gadis kecil. Gadis kecil, ayo kemari." Panggil Savage yang mulai mendekati Hinata lagi. Sementara Hinata tengah begetar mendapati Savage menuju kearahnya berdiri.

"Tenang Hinata, biarkan dia mendekat. Semakin dekat semakin pekat aura kematiannya, biarkan dia memakan semuanya." Kata Sakura tiba-tiba yang menenagkan Hinata.

"Tapi lihat Sakura, dia masih mendekat. Apakah aura kekuatan Uchiha yang membuatnya masih bisa tahan menghirup aura kematian sepekat ini?" tanya Neji yang di beri anggukan setuju oleh Sai, menoleh pada Sakura dan kemudian menoleh pada Savage lagi.

"Kalau seperti itu, apa yang harus kita lakukan, Sakura?" tanya Tenten yang saat ini tengah di peluk Ino yang ketakutan bersembunyi dibelakang punggungnya.

"Sial! Aku lupa tentang aura kekuatan itu, ceh. Siapa juga orang lemah yang tidak menjaga auranya baik-baik." Cerocos naruto yang membuat Sasuke menggeram kesal disampingnya.

BLETAK!

"Teme! Apa yang kau—

"Diam, atau ku jadikan kau tumbal untuk makhluk didepan itu, Dobe!" potong Sasuke cepat saat Naruto mencoba memprotes jitakan Sasuke padanya.

"Diamlah kalian berdua! Aku rasa dia tidak akan tahan dengan aura itu, meskipun ia memiliki aura Uchiha, tapi aura itu telah berada padanya selama 400 tahun lebih. Aku rasa, 400 tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat sebuah aura memudar, terlebih lagi yang memiliki aura adalah mahluk tanpa raga sepertinya." Kata Sakura.

Semuanya masih memperhatikan Savage yang celingak celinguk mencari aura Hinata, seperti sedang bermain petak umpet, bedanya mangsanya tidak bersembunyi namun berdiri di depan Savage beberapa puluh meter yang tertutupi aura kematian, sesekali mereka mendengar Savage menggeram karena terlalu lama menghirup aura kematian, sementara para mangsa menunggu dengan was-was. Ino yang semakin memeluk lengan kiri Tenten, Neji dengan raut cemasnya menatap Hinata. Hinata dengan raut ketakutan dan keringat yang membanjiri wajahnya. Sakura yang masih menunggu dengan cemas akan hasilnya. Sasuke yang tidak terdefinisikan. Naruto yang sesekali menjambak rambutnya frustrasi dan Sai yang terlihat seperti menahan pipis. Sebelum mereka melihat raut Savage menyeringai sambil berkata—

"Aku datang, hime. Gadis kecil. Khukhukhukhu." Tawa Savage membuat ekspresi Sakura dan kawan-kawan menegang.

"Cih, Sial!" Seru Sasuke.


TBC lagi yah pemirsaa.. :D wkwkwkkwkw

sampai jumpa di chap depan, nih temen kelompok dah mau ngamuk.. wkwkwk..

biarin deh kena jitak yang penting jangan lupa review yaah,, bye-bye..

salam sayang *Gubraaak!*

_Ishikawa Ayica_