Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T+
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Kata-kata kasar, Not BASHING, dll.
Character→ Sasuke, Sai, Naruto, Kiba: 25th
Neji: 26th
Shikamaru: 27th
Gaara: 23th
Hinata, Sakura, Tenten, Ino: 24th
Temari: 25th
Other Chara: -menyesuaikan-
If you don't like? So don't read! Happy reading all, please RnR.
Sugar Princess71 Present
.
.
.
"Shion?"
"Kupikir kau telah melupakanku Sasuke. Sebaiknya kita tidak berbicara di sini." Sasuke sangat terkejut namun dia dapat menyembunyikan dirinya dengan wajah datarnya dan membiarkan Shion membawanya ke suatu tempat.
"Duduklah, Sasuke. Sudah lama ya kita tidak bertemu." Shion tersenyum manis dan menundukkan dirinya di bangku taman.
"Apa dobe tahu mengenai ini?"
Shion mengerucutkan bibirnya, "Tak bisakah kau berbasa-basi setelah tujuh tahun lamanya tidak berjumpa?"
"Tidak, aku hanya berpikir sikap aneh Naruto berhubungan denganmu."
"Duduklah Sasuke dan hentikan tatapanmu yang menginterogasiku, aku akan menceritakan semuanya. Toh tidak ada gunanya juga aku menyimpan rahasia."
Sasuke langsung menundukkan dirinya di sebelah Shion. "Aku senang kau masih hidup," ucapnya untuk membuat Shion sedikit lebih rileks dan memang benar itulah kata hatinya yang terdalam karena bagaimanapun juga Shion adalah sahabat perempuan pertamanya.
"Terima kasih,aku juga senang melihatmu lagi Sasuke. Kau semakin tampan dan apakah kau sudah menikah dengan perempuan yang juga menyukai Naruto? Hahaha padahal kau seribu kali lebih tampan dari Naruto, tetapi pusat magnet orang-orang terdekatmu adalah Naruto."
Sasuke tidak menghiraukan gurauan Shion, dia hanya tersenyum lirih. Dirinya telalu bingung bagaimana harus menceritakan kisah hidupnya yang sudah diujung tanduk. Lagipula dirinya tidak ingin merusak pertemuan pertamanya setelah tujuh tahun tidak berjumpa dengan sahabat tercinta. Ya, Shion adalah sahabatnya yang paling setia mendengarkan curahan hatinya ketika masa dahulu dirinya senantiasa mengejar Hinata.
"Hn, kau sendiri masih menyukai Naruto?"
Shion memandang kosong pemandangan di depannya, taman yang indah tidak mampu menahan mata indahnya untuk memloloskan bulir-bulir air mata. "Aku jahat, Sasuke."
Sasuke hendak menyalahkan kata-kata Shion, namun Shion keburu memotongnya. Dia pun memutuskan untuk diam dan mendengarkan Shion bercerita. "Aku merasa jahat Sasuke karena diriku Naruto dan Sakura nyaris bercerai."
"Jadi, Naruto mengetahui keberadaanmu dan dugaanku mengenai dirimu adalah benar?"
Shion mengangguk lemah, "Sudah dua tahun Naruto mengetahui keberadaanku. Mungkin apa yang kau pikirkan tentangku adalah benar, Sasuke. Aku tidak bermaksud jahat pada mereka, sungguh, aku bahkan telah berusaha melupakan Naruto sejak tujuh tahun yang lalu." Shion tidak sanggup melanjutkan ceritanya, ia menundukkan kepalanya dan menangis lirih.
"Tenanglah, Shion, aku yakin kau tidak sepenuhnya salah atas hubungan renggang yang dialami Naruto dan Sakura." Sasuke menepuk-nepuk punggung Shion, berusaha menguatkan sahabatnya. "Aku sangat terkejut karena ternyata kau selamat pasca-kecelakaan dahsyat yang menimpamu dan keluargamu. Aku bersyukur Shion, dapat bertemu denganmu lagi dan kupikir begitu juga dengan Naruto. Jadi semua itu adalah lumrah dan kau …"
"Aku salah, Sasuke! Aku masih tidak bisa melepas Naruto meskipun aku telah mencoba berhubungan dengan lelaki lain. Kau tahu kenapa aku tidak pernah menunjukkan batang hidungku di hadapan kalian? Agar aku ikhlas menerima kenyataan bahwa Naruto bukanlah milikku lagi atau memang sebenarnya dia tidak pernah menjadi milikku."
Sasuke memeluk Shion dan berusaha meyakinkannnya untuk menerima kenyataan ini, "Kau harus ikhlas mengenai Naruto, Shion. Jikalau tujuh tahun yang lalu kau tidak mengalami kecelakaan dan berhasil bertunangan dengan Naruto. Apakah kau yakin Naruto akan memiliki hatinya untukmu? Tentu kau tahu bagaimana dia memandangmu dan Sakura saat awal kau kuliah di Konoha?"
Sasuke benar, itulah yang ada dalam benak Shion namun arogansi yang menguasainya membuatnya mencoba mengelak akan kenyataan itu. Shion tidak habis pikir, dirinya yang begitu mencintai Naruto sejak kecil bahkan direstui dan didukung oleh kedua orang tuanya juga orang tua Naruto harus kalah dengan seorang gadis yang baru mengisi kehidupan Naruto di masa SMA dan Kuliah. Sejujurnya Shion sangat menyesalinya, seandainya dirinya tidak masuk sekolah elit khusus perempuan di Iwagakure, mungkin dirinya tidak akan kehilangan Naruto. Ya, karena ketika itu saingannya hanyalah Hinata Hyuuga dan dirinya pun tahu bahwa Sasuke sangat tertarik dengan perempuan itu. Jadi dirinya begitu yakin, Naruto tidak akan pernah menyukai orang yang disukai sahabatnya. Namun Shion tidak pernah memprediksi kehadiran orang baru yaitu Sakura.
"Apa yang kau lamunkan Shion? Jangan kau pikir dirimu kalah finish ataupun start karena sejak awal Naruto hanya mengganggap dirimu sebagi adik perempuannya. Jadi, hadirnya Sakura ataupun kau senantiasa di sisinya pandangan Naruto tidak akan pernah berubah. Kau tahu Shion, apa yang Naruto ceritakan kepadaku di malam sebelum kalian bertunangan atau tepatnya di malam sebelum kau meninggalkan kami untuk sementara waktu?"
Shion menghapus jejak-jejak air mata di pipinya dan menolehkan pandangannya ke arah Sasuke seolah meminta kebenaran yang ada.
"Dia yang selalu bercanda, tiba-tiba berubah serius dan berkata kepadaku, aku sangat mencintai Sakura dan juga menyayangi Shion. Di antara mereka, Shion memang kukenal lebih dahulu sementara Sakura hanya sesaat. Aku pun berpikir lebih dapat mencurahkan hatiku untuk gadis yang lebih kukenal, maka aku tidak menolak atau membuat ulah terhadap pertunanganku besok karena kupikir dengan itu aku dapat lebih menjaga Shion. Sementara Sakura, detik ini pun walau aku dan dia tengah menjalani hubungan sebagai sesama kekasih, dia tidak pernah memandangku …"
"… aku tidak bermaksud menjadi pengecut, Sasuke, namun aku tidak memiliki pilihan. Kau tahu, pilihan apa yang kumaksud? Pilihan untuk menjaga dan menyayangi gadis cantik yang selalu kuanggap anak yang dilahirkan Kaa-san melalui Hana-sama, dia tidak boleh terluka atau berubah menjadi perempuan jahat karena posisinya yang terebut. Walau kenyataannya bukan terebut melainkan, diriku yang tidak meletakannya pada posisi itu."
Shion terkejut mendengarnya, matanya kembali berair dan dirinya menjatuhkan dirinya ke rumput Taman. "Begitu ya … jadi, kedatangannya bahkan dirinya yang kerap menginap hanya untuk menjagaku sebagai kakak terhadap adiknya?"
Sasuke terkejut dengan perkataan Shion, di memandang Shion dengan pandangan tidak percaya. Shion paham dengan sikap Sasuke yang meminta penjelasan. "Ya, sejak pertemuanku dengannya, dirinya memang kerap mengunjungiku bahkan menginap. Hingga aku menganggap dirininya mencintaiku dan tidak mau kehilanganku. Hanya saja aku bingung dengan sikapnya. Jika dia mencintaiku dan ingin kembali merajut pertunangan yang pupus, kenapa dirin kerap menceritakan istri dan anaknya ketika menemaniku dan bahkan dirinya menginap. Namun sekarang aku thu arti sikapnya, dia senantiasa menemaniku hanya melindungiku dan mungkin juga merasa bersalah karena tidak bisa memberikan hatinya padaku."
"Lupakan Naruto, Shion, biarkan dia bahagia dengan keluarganya dan kau pun harus belajar membuka hatimu untuk orang lain."
"Aku akan berusaha Sasuke dan aku pun akan menemui Sakura dan menjelaskan yang sebenarnya. Kurasa dirikulah yang sangat bertanggung jawab atas rusaknya hubungan mereka." Shion kembali menunduk, dirinya merasa bersalah kepada Sakura dan anaknya karena telah merebut orang yang berarti bagi mereka. Dirinya tahu kalau ia sangat egois karena telah membiarkan Naruto berada di sisinya dan bahkan kerap menghalangi kepergian Naruto dari sisinya.
Sasuke kembali merengkuh tubuh Shion yang bergetar, "Masih ada waktu untuk meluruskannya, kau tidak ingin kan, Naruto yang begitu kau cintai harus terpuruk? Aku memang jarang bertemu dengan Naruto karena dirinya kerap menghilang, namun terakhir kali aku bertemu dengannya dia mengatakan dengan sedih bahwa dirinya tidak ingin berpisah dengan Sakura." Shion hanya mengangguk dan kembali menangis di pelukan Sasuke.
XXX
"Karin, aku senang kau baik-baik saja. Terima kasih karena dirimu telah melahirkannya dengan selamat."
Karin hanya mendengus mendengar kata-kata yang dituturkan oleh Suigetsu. Hatinya gelisah luar biasa, dirinya takut kebohongan yang dipupuknya akan terbongkar. Karin sadar dirinya telah begitu kejam hingga membuat hubungan Sasuke dan Hinata nyaris kandas. Namun dirinya telah buta dengan cintanya kepada Sasuke bahkan ketika Suigetsu memberinya sebuah rencana atas kesalahan yang telah ia perbuat dengan pemuda berambut perak tersebut dan membuat Sasuke berada dalam posisi tersudut, dirinya rela asalkan dia bisa bersama Sasuke. Toh, dia akan mengubah alur yang dibuat oleh Suigetsu dan membuat Sasuke benar-benar berada dalam pelukannya.
Usahanya pun membuahkan hasil gemilang walaupun garis finish masih jauh dari jangkauan, namun Karin yakin dirinya akan menang. Ya, walaupun dirinya belum tentu berhasil merengkuh Sasuke tetapi setidaknya dia telah membuat wanita itu menjauh dari idolanya.
Terlebih lagi buah hatinya yang tengah digendong oleh Bapak biologisnya tidak menunjukkan warna rambut karena rambutnya yang tipis dan berwarna semu dengan kulit kepalanya sementara warna matanya seperti dirinya, tentunya hal ini tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi Sasuke. Lalu langkah selanjutnya, dia hanya harus memaksa Sasuke menceraikan Hinata dan menikahinya walau hanya sesaat. Tetapi hatinya tidak berhenti gelisah dan ia pun belum dapat memastikan apa yang membuatnya gelisah.
"Karin, aku mohon kita hentikan saja permainan ini. Aku janji akam bekerja dengan lebih baik untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak kita, selain itu aku juga berencana untuk menikahimu. Kau bersedia, kan?" Suigetsu yang masih menggendong putranya menatap lembut Karin dan berusaha meyakinkannya dengan tatapannya.
"Cih, apa aku bisa mempercayai orang sepertimu? Lagi pula di antara kita tidak ada cinta dan anak itu pun tercipta karena ketamakkanmu akan harta dan obsesiku terhadap Sasuke."
Suigetsu mengembalikan putranya kepada suster yang berjaga di depan pintu dan membiarkannya membawa putranya ke ruangan bayi. Suigetsu sangat bersyukur karena suster berambut hitam tersebut sangat menghargai privasinya dan Karin dengan tidak turut masuk ruangan ketika dirinya menemui Karin.
Suigetsu yang telah kembali di ruangan Karin menatapnya dengan seringaian, "Obsesi? Hm, jadi sedangkal itukah perasaanmu pada pria yang telah kau buat hancur?"
Karin terkejut dengan kata-kata yang diberikan Suigetsu kepadanya namun dia lebih memilih diam. Hatinya pun kembali bertanya, bagaimana sebenarnya posisi Sasuke di hatinya.
Suigetsu membelai rambut Karin kemudian mengecup keningnya, "Aku pergi dulu, kau tenang saja semua biaya persalinanmu biar aku yang bayar. Setidaknya jika kau masih tidak menganggapku, izinkan aku bertanggung jawab kepada putraku."
.
.
.
"Neji, bisakah aku bertemu dengan putriku?"
Neji benar-benar membenci pertanyaan ini, jika yang menanyakannya adalah pamannya. Dirinya berusaha menenangkan diri dan bersikap biasa agar pamannya tidak curiga dan terpaksa membohongi pamannya kembali. "Tidak sekarang, Paman. Lagipula Hinata tidak sedang di Konoha, dirinya tengah menemani suaminya menangani perusahaan Uchiha di Iwagakure."
"Hn, pantas aku gagal terus menghubunginya juga Sasuke. Lantas apa kau tahu nomor mereka yang dapat kuhubungi?"
Sebenarnya bukannya tidak dapat dihubungi, namun Neji sengaja memberikan nomor ponsel Sasuke dan Hinata yang tidak sebenarnya. Neji benar-benar harus memutar otak bagaimana cara menyimpan permasalahan yang terjadi padanya juga Hinata dari pamannya. Dia benar-benar lelah, jika saja dia bisa membiarkan pamannya tanpa pengawasan darinya, ingin sekali dia menemui Sasuke dan memakinya atas beban yang ditangguhkan kepadanya.
"Apan dia begitu sibuk, sudah sebulan lebih aku tidak berkomunikasi dengannya bahkan skype-nya tidak aktif."
"Sepertinya begitu Paman," Neji hanya dapat berkata sekadarnya.
"Neji kenapa rumah ini sepi sekali, di mana anak dan isrtrimu? Aku sangat merindukan Haru, cucuku yang pintar, dia pasti semakin pintar sudah setahun sejak natal kemarin dan aku tidak mengetahui bagaimana kabarnya. Kurasa aku harus pensiun dari mengurus Hyuuga corporation dan melimpahkan semuanya kepadamu, Neji. Aku ingin mengisi hari tuaku dengan anak-anak dan cucuku. Ah ya, apakah Hinata sudah mengandung?"
Neji meletakkan sendok dan garpunya dengan tergesa, dia merasa sarapan paginya menjadi ujung tombaknya mencium Neraka. Secemerlang apa pun otak yang ia punya, jika harus dihadapkan pada pamannya membuatnya cemas bukan kepalang.
"Ada apa, jika tersedak, minumlah."
"Ti … tidak, Ji-san, aku hanya terkejut karena melupakan janji untuk menjemput Tenten di rumah orang tuanya."
"Jadi dia sedang mengunjungi orang tuanya, kenapa aneh sekali bukankah ini tidak sedang liburan, bagaimana nanti jadwal sekolah cucuku?"
"Ji-san jangan khawatir, Haru kan memiliki darah Ji-san tentunya dia tidak akan mengalami kesulitan dalam sekolahnya. Lagi pula Tenten terpaksa pulang karena Okaa-san sedang sakit."
Hiashi semakin menunjukkan ketidak-percayaannya pada Neji, "Aneh sekali, bukankah Tenten yatim-piatu, jadi bagaimana bisa dia memiliki orang tua?"
SIAL!
Saking gugupnya, Neji melupakan fakta terpenting mengenai identitas istrinya. "Ah, apa Ji-san lupa, Tenten kan memiliki ibu panti yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri."
"Baiklah, setelah sarapan kau harus menjemputnya. Setidaknya penerbanganku dari Amerika ke Konoha harus menemui orang yang berarti dalam hidupku." Hiashi pun melanjutkan sarapannya dan tidak lagin memandang Neji dengan pandangan mengintimidasi ataupun melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
Tetapi hal itu tidak berarti membuat Neji kembali bernafsu makan karena dirinya kini harus memikirkan berbagai cara untuk membujuk Tenten kembali ke rumah. Membayangkannya saja telah membuatnya mati rasa. Itu lebih sulit dari pada mendapatkan proyek besar.
.
.
.
"Permisi, apakah ini kediaman Uzumaki?" Entah sudah ke berapa kali Shion berteriak dan memencet bel namun tidak kunjung ada jawaban. Hal ini sukses membuatnya lelah, dia pun memutuskan untuk menyelonjorkan kakinya di depan pintu rumah Uzumaki.
"Shion?"
Shion membuka matanya perlahan akibat seseorang yang memegang bahunya. Ketika matanya membuka sempurna, Naruto Uzumaki-lah pemandangan yang ia dapati. "Naruto?"
Cengiran khas dari pemuda yang dicintainya tidak mampu membuat Shion tertawa melainkan membuatnya semakin terluka karena ia tahu bahwa senyuman Naruto tak lebih ubahnya sebuah kebohongan. Shion berusaha berdiri dengan kedua tangannya dengan tidak mempedulikan uluran tangan Naruto. Walau kesulitan namun ia pun dapat berdiri juga, hal ini ia lakukan tidak bermaksud menyinggung Naruto melainkan berusaha bersikap sewajarnya di kediaman Naruto dan istrinya.
"Sudah sejak kapan kau di sini, kenapa tidak menghubungiku?" Raut kekhawatiran di wajah Naruto membuatnya tersenyum, setidaknya walaupun cintanya hanya dibalas dengan perasaan seorang kakak namun itu telah membuatnya bahagia luar biasa. Ya, bagaimanapun juga sekarang dirinya tidak mempunyai siapa-siapa hanya Naruto dan Sasuke-lah sosok keluarganya saat ini.
"Terima kasih sudah menghawatirkanku namun raut wajahmu yang seperti ini membuatmu terlihat jelek, tahu?"
Naruto hanya tertawa dan mempersilakannya masuk ke kediamannya. Sejujurnya sikap Naruto belakangan ini membuatnya semakin jatuh hati. Namun ia menepis semua pikiran konyolnya, setidaknya cukup sampai di sini sikapnya yang terus lari dari kenyataan.
"Maaf kalau rumahku berantakan, kau tahukan aku bukan tipe pria yang rajin dan bersih? Hehehe."
"A … apa? Di mana Sakura, kurasa dia wanita yang bersih dan pasti kediaman kalian akan begitu nyaman." Shion mendudukkan dirinya di sofa berwarna marun dan berharap pemikiran terburuknya tidak benar.
"Entahlah, aku tidak tahu di mana dia sekarang."
"Naruto, apa ini semua salahku?" Shion merutuki pertanyaan bodohnya, tentunya semuanya memang kesalahannya.
"Bukan, ada-ada saja kau ini." Naruto mengacak rambut Shion dan membuatnya berantakan. "Ngomong-ngomong dari mana kau tahu rumahku dan untuk apa kau kemari? Hm, kau begitu menyukaiku ya? Hehhe."
Ya, Naruto, Shion sangat mencintaimu bahkan dia terlalu menggilaimu. Namun dia berusaha untuk menahan perasaannya karena dirinya tahu hal itu hanya akan membuatmu semakin menderita.
"Aku hanya ingin bertemu dengan kawan-kawan lamaku, rasanya sudah sangat lama aku tidak berjumpa dengan mereka. Aku tahu rumahmu dari kartu namamu, apa kau tidak ingat perna memberikanny padaku?"
Lagi-lagi cengiran yang diberikan Naruto. "Kalau kau terus menunjukkan cengiranmu, bisa-bisa ikan pada mati." Shion berusaha bersikap senatural mungkin. "Ah ya boleh aku minta nomor ponsel Sakura? Aku sangat ingin bertemu dengannya."
Naruto tidak memberikan persetujuan dan penolakan, hal itu membuatnya bingung. Dirinya pun melirik Naruto dan betapa terkejutnya ia mendapati Naruto yang tertidur. "Kau pasti sangat lelah dengan masalahmu, kenapa kau tak mengatakannya padaku? Aku benar-benar merasa menjadi orang yang paling jahat."
.
Sakura terkejut mendapati pintu rumahnya atau lebih tepatnya pintu rumah suaminya terbuka. Sakura menjadi was-was dibuatnya, seingatnya kemarin sebelum ia meninggalkan rumahnya, ia telah mengunci rapat pintunya. Atau mungkin saja Naruto telah pulang, tetapi kenapa dia melupakan pintunya?
Sakura terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Naruto yang tertidur di sofa dan seorang perempuan tengah membersihkan rumahnya, Sakura nyaris saja berteriak dan memaki suaminya. Namun hal itu urung dilakukan karena perempuan itu membalikkan badannya, "Shion?"
Shion yang mendengar namanya dipanggil langsung memandang ke arah asal suara, melihat Sakura di depan matanya, ia langsung menghampiri dan memeluk Sakura. "Lama tidak bertemu."
"Shion, kau masih hidup? Oh, Kami, terima kasih!"
"Aku senang melihatmu Sakura, ah ya kudengar kau dan Naruto memiliki seorang anak, di mana anak kalian?"
Rasa bersalah menguasai Sakura, seharusnya bukan dia yang menjadi istri Naruto melainkan Shion. Ya, Naruto sempat menceritakannya dan meminta maaf kepadanya karena hampir bertunangan dengan Shion juga memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka. Sakura masih mengingat itu semua, ibrah dari kematian Shion adalah dirinya yang menyadari bahwa tidak ada lagi nama Sasuke di hatinya melainkan nama Naruto.
"Hei kenapa kau bengong, ada yang salah kah?" Shion tersenyum ramah ke arah Sakura. "Karena akhirnya aku dapat bertemu denganmu setelah sekian lama, maukah kau mengantarku ke kedai es krim yang paling enak? Rasanya aku rindu dengan es krim Konoha yang terkenal paling nikmat."
.
.
.
"Sasuke, bisa kita bicara?"
Sasuke sangat terkejut melihat Neji berdiri di depan halaman rumahnya, "Ada apa? Tumben sekali kau ke rumahku."
"Aku baru saja dari kantormu dan katanya sudah seminggu kau tak ke Kantor, aku pikir kau di rumah, ya walau kemungkinannya kecil. Lantas kenapa nomor ponselmu tidak dapat dihubungi?"
"Masuklah, Neji, kupikir aku masih memiliki kopi untuk menjamumu."
Neji memperhatikan rumah megah Sasuke dengan saksama dan mendapati betapa tidak terawatnya rumah megah ini. "Apakah ini kali pertamamu menginjakkan kakimu di rumah ini?"
"Kau sangat pintar kakak ipar, silakan nikmati kopi yang masih tersisa dan ada keperluan apa kau kemari?"
"Hanya ingin menyampaikan kabar kepadamu, semoga kabar ini bukanlah kabar buruk." Seketika kekhawatiran merasuki Sasuke, apakah kabar buruk ini berhubungan dengan istrinya. Terlebih kondisi Hinata memang tidaklah baik, dirinya menjadi begitu menyesal tidak berada di sisi istrinya. Namun mau bagaimana Hinata saja melupakan dirinya sebagai suami sahnya.
"Ini memang berhubungan dengan Hinata, namun kau tidak usah sepanik itu, kondisi Hinata kurasa baik-baik saja." Neji dapat melihat raut lega di wajah Sasuke. "Tetapi ini berkaitan dengan mertuamu."
"Maksudmu, Tou-sama sakit?"
Neji menggeleng dan menyeruput kopinya. "Ji-san saat ini telah berada di rumahku dan ia menanyakan Hinata juga dirimu. Rasanya tanpa kujelaskan panjang lebar, kau pasti tahu kan apa yang kumaksud?"
Sasuke menggangguk, dia menghela napas, rasanya beban berat semakin menimpa dirinya. Masalah demi masalah telah mengganggu kehidupan seorang Uchiha Sasuke. Tubuhnya kini menjadi lebih kurus dengan kelopak mata yang hitam, menandakan dirinya kurang makan dan tidur.
"Neji, apakah aku masih layak untuk Hinata?" tanyanya lirih.
Neji memandang intens Sasuke, seolah mencari maksud dari pertanyaan Sasuke. "Apakah kau mencintai adikku?"
"Sangat. Dia adalah permata yang paling berharga yang pernah kumiliiki juga semangat hidupku. Namun keegoisanku membuatku malah melukainya. Mungkin di antara setiap manusia yang hidup di muka bumi, akulah pria paling bodoh! Bayangkan saja, aku telah membuang seorang bidadari hanya untuk …"
Tes …
Tes …
Tes …
Neji benar-benar tidak menyangka menyaksikan pemandangan yang menghampiri netranya, di mana Uchiha Sasuke, pria yang kerap tampil dengan arogansinya kini begitu rapuh bahkan hingga menitikkan air mata. "Sasuke …"
Sasuke menengadahkan wajahnya menatap langit-langit, "Seharusnya aku terus bersamanya dan yakin bahwa suatu saat rumah tangga kami akan diberikan anak oleh Kami-sama. Namun aku terlalu bodoh dan larut dengan hawa nafsu hingga seperti ini …"
Neji diam seribu bahasa, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Neji menyadari, dirinya jauh lebih buruk daripada Sasuke. Setidaknya ketika Sasuke memutuskan untuk berselingkuh di belakng Hinata, Sasuke memiliki alasan kuat, sedangkan dirinya? Hanya rasa jenuh dan tertekan dengan kehidupan monoton yang membuatnya tega berbuat serong di belakang Tenten.
"Semog Kami-sama masih memberikan harapan untukmu dan untukku, ya? Sejujurnya aku hendak menemui Tenten dan memintanya kembali bersamaku, namun apa menurutmu aku layak, Sasuke?"
"Semoga saja, kita masih layak." Sasuke tersenyum lirih berusaha menguatkan dirinya juga sahabatnya.
"Aku senang kau tidak bersikap layaknya pria bertopeng dan mau mencurahkan isi hatimu, Sasuke."
"Kau juga Neji, ngomong-ngomong sudah lama ya kita tidak pernah berkumpul seperti ini. kira-kira bagaimana kabar teman kita yang lain ya?"
Kriukkkkkk~
Ugh, tampaknya suara indah yang keluar dari perut Sasuke telah sukses berhasil meluapkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang menyiksa. "Maaf." Neji hanya menampilkan seringaian meremehkan ke arah sahabatnya yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Ayo kita makan, kurasa perutmu harus diisi."
Perjalanan menuju restoran tidak memakan waktu lama, kini kedua pria tampan tersebut tengah memesan makanan di sebuah restoran fastfood. Sambil menunggu pesanan keduanya terlibat perbincangan ringan mengenai sepak bola kesukaan mereka. Keduanya tampak asyik membahas mengenai Arsenal dan juga Manchester United sebagai klub favorit mereka di liga Inggris. Sesekali Sasuke nampak memberikan penjelasan mengenai Manchester United yang tidak berada pada tiga besar klasemen.
Obrolan yang asyik membuat keduanya tidak menyangka makanan telah terhidang di meja makan mereka. Dua buah cola, fried chicken dan nasi ukuran jumbo juga beef burger ukuran double. Terbayang bukan bagaimana nafsu makan atau mungkin laparnya kedua pria tampan ini.
Sementara itu di seberang meja makan mereka tanpa mereka sadari Hinata dan Gaara tampak terlibat percakapan menarik. Sasuke dan Neji memang tidak menyadari kehadiran mereka dikarenakan keduanya baru datang berselang lima belas menit.
"Hinata-chan kamu mau pesan apa?"
"Emm … terserah Gaara-kun saja yang terpenting minumannya orange juice."
"Baiklah, kami pesan dua chese burger dan dua orange juice."
Pelayan kembali mengulang pesanan mereka dan menanyakan apakah terdapat tambahan, keduanya menggeleng dan pelayang pun meninggalkan meja makan mereka.
Gaara mengarahkan tangannya ke arah Hinata hendak membelai rambut Hinata, namun Hinata menahannya. "Apakah ada yang aneh, Gaara-kun?"
Terlintas sedikit kekecewaan di raut wajah Gaara atas tindakan Hinata namun ia berusaha bersikap biasa dan menunjukkan senyumannya yang menawan kepada Hinata. "Tidak ada, hanya saja hari ini kau terlihat sangan menawan."
Hinata tersipu mendengar penuturan Gaara, ia menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kanannya. "Kau berlebihan Gaara-kun."
Sebenarnya yang dikatakan Gaara tidaklah berlebihan, Hinata memang nampak menawan hari ini. Rambut pajangnya dia barkan tergerai dan poni panjang di kedua sisi wajahnya dijeit ke belakang dengan pita berwana putih bermotif bunga lavender. Ditambah dres putih bermotif bunga-bunga selutut dengan lengan bergelombang membuatnya tampak seperti peri musim panas.
"Aku tidak berbohong, kau memang sangat menawan layaknya bidadari, hime."
Hinata terkejut luar biasa dengan kenekatan Gaara mengecup tangannya, ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Gaara yang menyeringai penuh kemenangan.
Sasuke mendecih melihat raut kemenangan di wajah Gaara, ingin rasanya dia meninju wajah pemuda berambut merah tersebut. Namun Sasuke mengetahui dirinya tidak memiliki hak atas itu dan lagi Hinata tidak mengenalinya. Sasuke pun memilih untuk meminum colanya dan menatap kangit-langit berusaha mendinginkan kepalanyan yang ingin meledak.
Neji menyadari kegundahan yang dialami Sasuke namun dia memilih meneruskan makanannya dan tidak ikut campur. Sebenarnya Neji tidak tega melihat Sasuke seperti ini namun dirinya juga tidak ingin merusak kebahagiaan Hinata. Neji hanya bisa berharap baik Sasuke dan Hinata menemukan hal yang terbaik bagi keduanya. Dirinya pun semakin teringat Tenten, apakah pujaan hatinya, kini telah memiliki pujaan yang lain selain dirinya. Neji tidak berani mengambil kesimpulan, ia memutuskan untuk menghabiskan makanannya dan bergegas menemui Tenten.
"Sasuke apakah kau masih lama?"
Sasuke yang sedari tadi terfokus pada Gaara dan Hinata tidak menyadari Neji yang memanggilnya. Neji menepuk bahu Sasuke berusaha menyadarkan Sasuke dari lamunanya. "Apa?"
"Apakah kau masih lama?"
"Kau duluan saja, nanti aku yang bayar."
Neji mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalun pamit untuk keluar lebih dahulu. Sebelum dirinya benar-benat meninggalkan Sasuke, Neji memberikan pesan terhadap Sasuke, "Kau masih memiliki kesempatan Sasuke, pergunakanlah dengan baik. Kurasa Karin tidak benar-benar mengandung anakmu."
Hinata merasakan dirinya dipandangi oleh seseorang yang dia yakini bukan Gaara, ia pun menengokkan kepalanya ke segala penjuru restoran hingga lavender indahnya bertemu dengan oniks yang begitu ia kenal. "Sasuke-kun," gumamnya llirih.
"Hime kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak … em … etto, a … aku mau ke toilet, Gaara-kun."
Gaara menganggukan kepalanya, Hinata pun meninggalkan meja menuju toilet. Kepergian Hinata dari mejanya terekam baik di indera penglihatannya namun Sasuke memilih untuk tidak ambil peduli dan melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar makanannya.
Ketika kaki jenjangnya melangkahkan dirinya menuju pintu keluar, di hadapannya, Hinata melangkah menuju mejanya bersama Gaara, melihat Hinata di depannya dengan refleks Sasuke meraih pergelangan tangan Hinata. Dirinya teringat perkataan Neji beberapa saat lalu, Sasuke pun memutuskan untuk tidak melepas Hinata. Meskipun dirinya mengetahui hal ini adalah egois setelah apa yang ia lakukan terhadap Hinata, namun biarlah, dirinya hanya tidak sanggup membayangkan bagaimana kelamnya hidupnya tanpa Hinata. Sekitar satu bulan lebih dirinya tak bersama Hinata saja, bagaikan hidup di Neraka, bagaimana jika dia membiarkan Hinata lepas dari genggamannya?
Hinata terkejut mendapati tangan besar yang menahan tangan mungilnya namun dari rasa yang dihadirkan tanpa perlu menengok ke arah si pemegang tangannya, Hinata telah mengetahui bahwa Sasuke-lah pelakunya. Jantung Hinata berdegup tidak karuan dan ia berusaha mengontrolnya. "Maaf, apa saya memiliki kesalahan?"
Sasuke tersenyum mendengar suara merdu pujaannya,"Kau tidak tergagap denganku, tentu saja kau sangat mengenaliku, Hinata." Sasuke pun mengecup tangan Hinata, seolah berniat menghapus ciuman Gaara pada tangan Hinata. "Aromamu masih memabukkan seperti pertama kali kita berjumpa, aku suka."
Hinata benar-benar bingung bagaimana menyingkirkan tangan Sasuke darinya. Jika boleh jujur, Hinata memang sangat merindukan sentuhan suaminya, namun di lain sisi hatinya belum bisa menerima perselingkuhan Sasuke juga sikapnya yang begitu kasar. Hinata terus memandang tangan Sasuke yang menggenggam tangannya dan diam tak bergeming.
Pemandangan yang diciptakan Sasuke dan Hinata membuat pengunjung restoran senantiasa memandang ke arah mereka dengan tatapan penuh kekaguman. Sasuke dan Hinata nampak seperti artis drama yang menawan pemirsanya. Hal ini pun tak luput dari pandangan Gaara, rasa geram pun hadir di benaknya, ia pun melangkahkan kakinya menuju mereka.
"Hinata …"
Hinata tersentak kaget, ia langsung melepaskan genggaman tangan Sasuke dan berjalan menuju Gaara. Sasuke sangat tidak menyukai kehadiran Gaara yang menurutnya telah mengganggu momennya dengan Hinata.
"Jangan pergi, kumohon," lirih Sasuke.
Hinata menulikan indera pendengarannya dan kembali melepaskan genggaman tangan Sasuke lalu berjalan menuju mejanya. Kini tinggal Gaara dan Sasuke yang salling menatap dengan tatapan membunuh.
"Jangan dekati Hinata, dia milikku!"
Gaara menyeringai tidak suka mendengar pernyataan Sasuke, ditatapnya Sasuke dengan pandangan meremehkan. "Ya, aku tahu, tapi itu dulu, Uchiha Sasuke! Setelah kau menyakitinya, kau pikir dirimu masih memiliki hak atasnya?"
DEG!
Perkataan Gaara bagaikan sembilu yang mengoyak hatinya, Sasuke memegang dadanya dengan tangan kanannya sementara hidung dan mulutnya nampak berusaha mengatut napasnya. Bukannya Sasuke kehilangan kepercayaan dirinya ataupun takut terhadap Gaara, namun dirinya hanya menyadari kesalahannya.
"Kenapa kau terdiam? Benarkan apa yang kukatakan." Gaara kembali menyeringai dan berjalan meninggalkan Sasuke dengan penuh kemenangan.
"Maaf," lirihnya yang tentunya ditujukan kepada Hinata.
TBC
Kuharap fanfic ini masih layak untuk dibaca, terima kasih atas dukungannya.
Berhubung sejak beberapa chapter sebelumnya aku tidak sempat membalas review yang selalu memberiku semangat. Untuk itu, di chapter ke sepuluh ini aku akan membalas review di chapter 9. ;)
gothiclolita89 : Hehehe bisa jadi, bisa jadi ;)
LotuS-Mein319 : Semoga ini termasuk kilat…
Enrique : Terima kasih, aku akan berusaha untuk segera menamatkannya.
Roti bakar : Semoga yang para pria di fanfic ini alami cukup pedih untuk membalas sakit hati para wanita. Emm apakah sampai detik ini chara pria sudah mendapatkan pelajaran? Aku masih ragu untuk itu, mohon maaf.
.92: Ini next-nya, hehehe iyaa aku juga geregetan sama Sasuke. Khukhu silakan tampar Sasuke… #smirk
.777 : Iya, aku juga gak tega sama chara wanitanya, tapi kalo untuk cerai, hmm entahlah. Hehe
N : OH N! apa kabar? Aku merindukanmu ~ #peluk hehehe iyaaa, aku gabung di FP Gudang Fanfic SasuHina :D emm bisa kali kamu add fbku ;) sama, aku juga senang banget bisa liat kamum lagi.
Mocha: Ini lanjutannya
Guest : Ups sorry, kuharap ini tidak akan menjadi bertahun-tahun (lagi).
Altadinata : Ini sudah lanjut
Hinatauchiha69: Aamiin, setiap kebohongan pasti akan terbongkar ;) hehehe maaf adegan mereka belum banyak, aku lagi nyari timming yang tepat untuk full SasuHinaGaa karena beberapa pair lain masih harus diselesaikan masalahnya…
Hyou Hyouchiffer : hehhe makasih Hyou-chaaaan #peluk Iyaa, sepertinya sebentar lagi akan tamat, perhitunganku di chapter 15. Semoga saja berkurang dan tidak bertambah. :D
Luluk Minami Cullen : Maaf ya lama banget fanfic ini update aduh, maafin aku ya SasuHina-nya masih sedikit… soalnya aku lagi fokus ke masalah dulu nih, hehe, tapi tenang aku akan usahain romansa-romansa tetap hadir. :D
Renita Nee-chan : Iyaaa, ini sudah kuupdate :D Jangan bosan yaa ;)
Over all, big thanks for you ~ #mmuach :*
