Main Cast : |EXO |

Other Cast : SHINee

Genre : Fantasy, Friendship

Rate : T+

Disclaimer : Semua cast disini bukan milik saya. Saya disini hanya meminjam nama mereka. Fict ini hasil murni peresan otak saya dan saudara saya yang terinspirasi dari suatu sumber.

Summary : Mengabaikan sebuah firasat hingga berujung kekacauan. Tidak ada cara lain kecuali menuntaskan semua ini. Temukanlah mereka sebelum mereka yang lain menemukannya.

Warning : OOC, Typo(s) bertebaran, penggunaan EYD gak tepat, cerita abal dan pasaran, narasi mendominasi, alur lambat, imajinasi terbatas dan seadanya, membuat anda merasa pusing dan mual.

Don't Like Don't Read!

Happy Reading…..

~O.O~

Malam dingin yang penuh gemerlap, angka sembilan berkedip di ujung ponsel Baekhyun. Berpasang kaki menemani langkah Baekhyun menyusuri keramaian kota yang tak pernah mati.

Tangan Baekhyun mendorong lebih dalam sebuah note yang terselip di saku jaketnya. Terima kasih pada sepupunya yang mengancam jika tidak mau menurutinya. Jadilah Baekhyun harus pergi ke supermarket besar yang cukup jauh dari rumahnya, meninggalkan tugas sekolah yang selesai setengah.

Baekhyun membubuhkan sebuah tanda untuk catatan kecil dalam hidupnya. Sekedar penghibur dirinya sekaligus penegasan bahwa masih ada hal menyenangkan yang ia peroleh.

Dalam tiap ayunan langkahnya, Baekhyun mengulang kembali kilasan memori yang ia rekam. Sebuah perhelatan besar yang mempertemukan mereka. Sebuah konsep pagelaran besar untuk mempertebal jalinan kerja sama ketiga daratan yang berbeda. Racikan akbar dari beberapa kreator ternama yang ditopang oleh pihak-pihak yang membantu kelancaran acara.

Sebuah konsep yang memadukan berbagai sektor dan jenjang usia. Dimana tiap klasifikasi mempunyai waktu dan tempat tertentu sesuai kesepakatan yang disetujui. Memberikan kesempatan untuk menunjukkan hasil kerja keras yang sekian lama telah dipersiapkan dengan matang dan terinci dengan rapi.

Sebuah panggung takkan pernah luput dalam sebuah perhelatan. Sebuah tempat dengan batas tegas yang mampu menghidupkan bermacam pertunjukkan yang tidak terbatas.

Baekhyun, Kyungsoo dan juga Jongdae berada pada kegelapan yang berada disekitarnya. Di bawah tata lampu berkilau tepat menyorot pada mereka. Ibarat bintang yang berkelip pada malam yang tak berhias gemerlap.

Suara keras musik berdentum menusuk telinganya. Mengalunkan melodi-melodi yang mengiringi suara merdu menghanyutkan dalam sebuah balutan emosi. Ketiganya menjadi pusat setiap pasang mata.

Diawali dengan lantunan sendu yang mampu menyentuh relung yang paling dalam. Menyulut sebuah rasa hingga menenggelamkan setiap hati yang meresapi dalam perasaan terdalam. Tak ayal bulir-bulir Kristal pun akan berhambur tanpa sadar.

Sambutan meriah diterima saat musik berhenti berputar dan layar di belakang ketiganya tak lagi memutar sebuah gerak yang turut mengiringi.

Puluhan pasang mata masih terpaku pada mereka. Beberapa untai kata terucap dan musik kembali dimainkan setelahnya.

Tepuk tangan bergema dalam riuhnya teriakan yang mengudara. Hentakan-hentakan musik memulai sebuah cerita baru dalam suasana yang lebih meriah. Menarik setiap pribadi untuk ikut menggerakkan tubuh atau anggota gerak mereka.

Euphoria yang menyatukan setiap sisi kehidupan yang berbeda. Semua berbaur dan melebur menjadi satu balutan yang serasi. Melenyapkan tiap batas tak terlihat yang selalu menyelubungi.

Decak kagum dan pujian tak hentinya terlontar dari tiap-tiap bibir yang bergumam.

Suara-suara merdu mengalun dalam ketukan yang penuh semangat. Bersamaan dengan iringan gerak tubuh yang sesuai dan seirama dengan hentakan musik. Menciptakan sebuah keindahan tersendiri dalam kolaborasi yang membangkitkan gemuruh rasa yang membuncah.

Detik dan menit terbunuh tanpa seorang pun yang menyadari kehadirannya. Hentakan musik silih berganti berdentum. Sampai pada detik akhir ujung pertunjukkan.

Mereka keluar dalam riuh tepuk tangan dan sorak sorai yang menyulut perasaan bahagia hingga menyentuh ujung langit.

Baekhyun tak akan sedikit pun menyesal atas semua peluh dan waktu yang diluangkannya untuk mempersiapkan semua itu jika melihat hasil yang dirasa bisa membayar semua itu.

Namun, akan selalu ada hal yang tetap tidak sejalan dengan keberhasilannya. Baekhyun sangat jauh dari kata tenang dan bebas selama ia masih tinggal di bawah atap yang sama dengan keluarga angkatnya yang begitu senang merecoki dengan pekerjaan asisten rumah tangga.

Tidak ada sebuah mobil atau uang lebih bagi Baekhyun untuk mempermudah pekerjaannya. Butuh 40 menit melelahkan untuknya bisa menyentuh pintu kaca tempat tujuannya.

Daftar barang beterbangan di depan matanya. Satu per satu barang berpindah ke tangan. Satu benda terakhir dan Baekhyun bisa kembali sebelum tengah malam.

Baekhyun tersentak, sebungkus ramen luruh dari tangannya dan jatuh bebas ke lantai. Sorotan cahaya selama satu detik seperti lampu muncul dari telapak tangannya, menyorot tepat ke wajahnya.

Memandang kembali dan telapak tangannya kembali normal. Dua orang gadis berbincang di sudut. Seorang anak kecil berlarian di depan Baekhyun dan beberapa wanita paruh baya memilih dalam diam.

Tak ada yang menyadarinya.

Detik selanjutnya keranjang belanja Baekhyun membentur lantai, terguling hingga memuntahkan isinya. Semua pasang mata memandangnya heran. Kedua telapak tangan Baekhyun terasa panas. Kemerahan seolah ada bara api di balik permukaan kulitnya.

Baekhyun bergerak gelisah. Ketakutan menjalari setiap titik bagian dirinya. Kepalanya berputar mengamati sekitar.

Satu kilatan lain memancar dan ia semakin panik. Keringat mengalir bak air sungai membanjiri seluruh tubuh Baekhyun.

Dua detik dalam jebakan kegelisahannya. Kedua telapak tangan Baekhyun menyala terang kebiruan sepenuhnya. Begitu mencolok di bawah pendar lampu kekuningan tempat itu.

Seorang wanita merasa terpanggil dan justru membuat Baekhyun semakin kehilangan kejernihan berpikir. Gerakan cepat dan jaket yang dikenakannya melilit kedua tangannya.

"Kau baik-baik saja, nak?" wanita itu hanya berjarak tiga langkah dari Baekhyun.

Alih-alih menjawab, Baekhyun membawa kakinya mencari jalan keluar secepatnya. Kain jaket tak cukup mengurangi pendar cahaya yang berkilat di sekitar tangannya.

Tak peduli orang-orang akan menganggap Baekhyun kurang waras atau baru saja kabur karena ketahuan mencuri, ia terus berlari. Satu hal yang pertama terpikir olehnya adalah bersembunyi.

Kedua tangannya yang panas masih menyala terang. Malam yang dingin tak sedikit pun dirasa oleh Baekhyun yang hanya mengenakan kaos hitam berlengan pendek.

Baekhyun menghilang di balik pintu toilet di ujung persimpangan. Cahaya kebiruan memenuhi bilik sempit itu. Menguasai pandang mata sipit Baekhyun yang perlahan memburam, menampilkan jutaan guratan warna yang mambaur.

Baekhyun menutup rapat kedua matanya.

Dadanya naik turun seiring degup jantungnya yang makin berpacu. Samar-samar sebuah suara mengetuk pendengarannya.

"Bernafaslah perlahan. Tenang." Sebuah tangan memegang lembut telapak tangannya yang bergetar. Menarik nafas dalam, Baekhyun mengatur ritme nafasnya perlahan.

Lambat laun Baekhyun mendapat kembali penglihatannya. Sketsa wajah yang buram di depannya. kelopak matanya berkedip makin cepat memperjelas pandangannya.

Pemuda itu tersenyum pada Baekhyun, membentuk lengkungan sabit pada matanya.

Menarik dan menghembuskannya teratur. Kecemasan dan rasa takutnya menguap bersama hembus nafasnya. "Baekhyun?" Orang itu menyebut namanya.

"Ada apa denganku?" masih terselip nada gelisah dalam kalimat Baekhyun. Cahaya masih menyala terang di tangannya. "Bagaimana menghentikannya hyung?" desak Baekhyun sedikit geram.

"Cobalah untuk tenang. Pikirkan untuk menghentikannya." Pemuda itu mengangguk guna meyakinkan Baekhyun.

Menarik nafas dalam-dalam. Rasa panas di tangannya menghilang perlahan seiring cahaya yang kian padam dari telapak tangannya.

"Jinki hyung…." menuntun Baekhyun keluar bilik dengan mata siaga mengamati sekitarnya. Baekhyun menyeka peluh yang senantiasa mengalir di wajahnya. "Apa itu tadi?" rasa penasaran masih memenuhi benaknya untuk kembali bertanya.

"Kau akan tahu jika membutuhkannya."

Satu jawaban singkat dari Jinki. Baekhyun mencibir tak suka, menyudahi rasa ingin tahunya dan tidak ada waktu untuk memperbincangkan pertemuan mereka yang tidak terencana.

Baekhyun memaksa kembali ke pusat perbelanjaan dan Jinki ingin menyeretnya entah kemana. Hari semakin mendekati tengah malam tapi tak mengurangi hiruk pikuk suasana kota.

"Baiklah. Setelah itu kau ikut aku." Ucap Jinki dengan tegas. Baekhyun mengangguk senang. "Ayo." Serunya lagi.

Kedua pasang kaki tak sempat melangkah lebih jauh. Seorang pria berdiri menatap mereka dengan mata tajam berkilat merah dan raut wajahnya datar.

Baekhyun mengembangkan senyum dimana Jinki melebarkan matanya.

"Paman Junghoo!" Jinki mencekal lengan Baekhyun yang berusaha mendekat pada sosok pria itu. "Ada apa? Dia menolongku tempo hari." Jinki menggeleng dan menggumam 'Jangan' tanpa suara. Meremas lengan Baekhyun seiring sikap Baekhyun yang makin keras kepala.

Jinki membawa Baekhyun mundur selangkah ketika Junghoo mendekat. Tanpa banyak bicara, Jinki menyentak tangan Baekhyun berbalik. Menyeretnya untuk berlari secepatnya.

Baekhyun yang tidak mengerti akan situasi melayangkan protes, berusaha melepaskan tangannya dan menahan tubuhnya. "Kenapa kita harus lari, hyung?"

Jinki menoleh ke belakang sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun. "Kau akan tahu nanti." Lagi, jawaban menggantung yang makin membuat Baekhyun gemas tapi ia menyerah dan mengikuti langkah Jinki tanpa ingin kembali bertanya.

Membuat jarak semakin lebar, Baekhyun mengambil tiga detik waktunya untuk menoleh ke belakang dan ia sedikit paham akan pernyataan Jinki sebelumnya. Pria itu bukan lagi pamannya yang ia kenal dulu.

Junghoo tak sedikit pun beranjak dari tempatnya. Sebelah sudut bibirnya terangkat dan jemari tangan kanannya memetik tiga kali. Enam ekor kucing Persia yang menghias sebuah papan iklan di ujung jalan perlahan menembus perangkapnya menjadi sosok yang hidup.

Seekor mahkluk layaknya manusia serigala bertubuh besar dengan moncong panjangnya yang meneteskan liur ke ujung taringnya. Satu kuku tajam mencuat dari masing-masing punggung tangannya yang kehitaman.

Dengan mata tajam yang menyala, makhluk itu melesat cepat ke segala arah. Teriakan terdengar dan para pejalan kaki yang menikmati suasana malam berlarian panik mendapati seekor monster buas yang keluar dari papan iklan.

Monster itu menerjang setiap orang yang menghalangi jalannya. Jinki mengeluarkan sebuah senjata laras panjang yang terselip di balik mantelnya. Menembakkan peluru setelah bidikannya dirasa tepat.

Baekhyun berlari di depan dan Jinki semakin gencar memuntahkan pelurunya. Dua diantaranya lenyap setelah Jinki menyarangkan tiga pelurunya pada setiap monster.

"Baekhyun! Berpencar!" Baekhyun menoleh. Jinki menjatuhkan pilihan berbelok ke kiri di persimpangan besar dimana tiga monster mengikutinya.

Kekacauan terjadi saat lampu persimpangan berubah merah. Teriakan dan suara klakson bersahutan meramaikan malam. Puluhan pasang kaki turut menyulitkan langkah Baekhyun untuk menjauh dari dua monster di belakangnya.

Mengambil jalan menyilang, Baekhyun melompati sebuah bangku di pinggir trotoar. Melibatkan dirinya dalam keramaian deretan mobil yang terjebak oleh pendar lampu berwarna merah di ujung jalan.

Baekhyun memilih jalan sempit celah antar mobil yang bersisian. Melompati kap sebuah mobil dan berlari di atas satu mobil berpindah ke mobil lain.

Kuku tajam hampir menusuk bahu Baekhyun dan berakhir melubangi atap sebuah mobil dimana sepasang kekasih berteriak histeris. Menyebabkan beberapa mobil lain ringsek karena monster itu melompat di atasnya.

Baekhyun merosot lewat kaca mobilnya, berguling di atas kap dan terjatuh karena hilang keseimbangan. Lengan kirinya sedikit tergores. Baekhyun meringis karena perih yang dirasa. Ia sampai di ujung persimpangan yang lengang.

Kesempatan digunakan Baekhyun untuk kabur saat ia berhasil menahan monster itu. Nafasnya memendek dan putus-putus serta kedua kakinya semakin berat untuk melangkah. Di sebuah lorong yang terang, setiap lampu penerangan pecah ketika Baekhyun melewatinya.

Baekhyun memandang ragu pada kedua telapak tangannya sebelum menarik nafas dalam dan menghembuskan lewat mulutnya. Dua cahaya kebiruan muncul dari kedua tangan Baekhyun dan melaju cepat tanpa terelakkan tepat mengenai monster itu yang kemudian hilang menjadi kepulan asap hitam.

Baekhyun belum sempat bernafas lega saat satu monster lain melompat di depannya. cukup dekat saat kuku tajam hampir menusuk kepalanya dan berakhir beradu dengan lantai. Ia berguling ke belakang lalu melompat ke kanan menghindari hujaman sang monster.

Serangan light yang ia layangkan menahan pergerakan mahkluk itu. Menggeliat karena panas serta mencakar udara dengan brutal.

Sial bagi Baekhyun mendapati seekor monster lain muncul dari ujung lorong yang berbeda. Anjing besar berkepala dua menggeram menampakkan taring tajamnya. Melesat cepat ke arahnya.

Berada di sudut yang terhimpit, tangan Baekhyun mulai berkeringat dan gemetar. Energinya menguap cepat dan ia kehilangan ritme serangannya.

Belum sempat anjing kepala dua itu menerjang Baekhyun, seekor serigala yang muncul dari belakang monster yang ia serang lebih dulu membuat anjing besar itu terseruk membentur lantai.

Tatapan mata sayu Baekhyun membelah kegelapan. Monster hitam itu kembali berdiri susah payah. Baekhyun bangkit menutup kedua matanya. Satu tarikan nafas dalam dan menahannya sejenak.

"Aaaaaaagghhh!" dua tangan Baekhyun terarah pada monster itu. Cahaya kebiruan besar menghambur melingkupi tubuh sang monster yang memekik keras. Satu menit berselang serangan Baekhyun mereda bersama lenyapnya monster besar itu.

Baekhyun jatuh lemas dengan kedua lutut dan tangan yang menyangga berat tubuhnya. Keringat mengalir layaknya bulir air hujan. Ia meraup udara sebanyak ia bisa, mengembalikan sedikit tenaganya yang menguar.

Ada sedikit kekaguman pada dirinya sendiri saat itu.

Baekhyun menyarangkan serangan cahayanya bertubi pada monster anjing raksasa. Serigala itu mengunci pergerakan lawan dan Baekhyun berniat melayangkan kembali serangannya sebelum mata keabuan itu menatap Baekhyun tajam.

Mencoba menelaah apa yang coba disampaikan oleh mata itu dalam beberapa detik yang terhapus. Mengangguk paham, ia berbalik menyusuri sisa lorong yang gelap dan pertarungan kembali hidup.

Baekhyun berbelok ke kiri untuk menemukan jalan yang akan mengantarnya pada sosok Jinki. Detik kemudian ia tersadar bahwa itu akan membuang waktunya sementara ia tidak tahu kemana Jinki membawa langkahnya.

Jam yang melingkar di tangannya menunjukkan tengah malam. Baekhyun memutar mata sipitnya yang lelah ke sekitar. Mengintip kemungkinan akan kehadiran makhluk lain yang mungkin ingin menyapanya lagi.

Di saat seperti ini Baekhyun membiarkan pikirannya berkelana. Merumuskan beberapa kemungkinan yang membuat paman yang dikenalnya seolah hilang dalam jerat sosok bayangannya sendiri.

Baekhyun tersadar kembali saat sederetan nomor asing berkedip tak sabar di ponsel meneriakinya.

"Baekhyun!" sebuah suara berteriak tepat di telinganya setelah Baekhyun menekan layarnya.

Ia menjawab ragu dengan kening berkerut. "Ini aku. Jinki." Helaan nafas terdengar dan Baekhyun merespon dengan gumaman lirih sebelum matanya melebar. "Jinki hyung, dari mana….."

"Tak usah banyak bertanya dulu. Kirimkan posisimu dan sembunyilah sebelum aku datang." Sambungan terputus sebelum Baekhyun sempat menyuarakan kalimatnya. Jemari lentiknya menari lincah di atas layar ponselnya. Mencari sebuah sudut guna melewatkan puluhan detik yang akan menyeret Jinki.

Dalam usahanya, Baekhyun memungut anak anjing miliknya tanpa ingin memutar otak untuk menerka bagaimana hewan mungil itu bisa sampai padanya. Ia terkejut mendapati noda kemerahan melukis bulu putihnya yang bersih.

Jinki datang menyeretnya setelah Baekhyun selesai membebat luka di tubuh anjing kecilnya. Menggendong erat anjingnya sementara Jinki menghentikan sebuah taxi yang melintas.

Jinki mengisyaratkan Baekhyun untuk masuk lebih dulu lalu memastikan tak ada tanda-tanda kehadiran musuh. Menoleh ke kiri dan kanan, Baekhyun hampir menyentuh engsel pintu belakang taxi jika saja Jinki tidak mendorong tubuhnya hingga tersungkur di trotoar.

Jinki menilik melalui pantulan kaca hitam mobil, menghindar ke belakang dari sebuah kepalan tinju yang sebelumnya hampir mengenai Baekhyun. Berakhir dengan kaca pintu belakang pecah dan pengemudi taxi memacu kendaraannya menghindari perkelahian.

Jinki melayangkan tendangannya, menghalangi Junghoo mendekati Baekhyun namun dengan mudahnya Junghoo menahan kakinya dan memutarnya ke samping. Jinki terbanting membentur aspal yang keras.

Tujuh laba-laba besar seukuran bola basket melompat dari balik tubuh Junghoo. Cukup untuk menyulitkan dan menyibukkan Jinki selagi ia mengurus Baekhyun.

"Baekhyun! Lari!" menghempaskan laba-laba yang merambati kakinya, Jinki benar-benar mengutuk tingginya rasa kepedulian Baekhyun terhadap orang lain dari pada dirinya sendiri. "Aku bisa mengurus mereka. Cepatlah!" teriaknya saat melihat Junghoo membalikkan tubuhnya pada Baekhyun.

Mengabaikan seruan dari Jinki, Baekhyun mengarahkan kepalan tangannya dan menggantung dalam genggaman Junghoo yang begitu mudah membaca pergerakannya.

Junghoo memelintir tangan Baekhyun ke belakang. Ia berteriak merasakan gemertak sendi tulangnya yang beradu. Dan rasa sakit semakin senang menghinggapinya saat tempurung lutut Junghoo menyentak punggungnya begitu kuat.

Baekhyun ambruk dengan sebelah tangan menumpu tubuhnya. Satu tendangan lain bersarang di pinggang kanannya. Baekhyun terpental cukup jauh. Junghoo benar-benar tak memberinya kesempatan untuk melawan.

Junghoo sudah berada di samping Baekhyun yang mengerang di atas trotoar. Menarik baju bagian depan Baekhyun, Junhoo menghadiahkan beberapa pukulan di wajah Baekhyun.

Saat itu Baekhyun menyadari satu hal. dia bukan lagi paman yang ia kenal. Dengan raut wajah dingin dan angkuh serta tatapan mata yang kosong, hanya penuh oleh satu ambisi untuk melenyapkan.

Pegangan pada baju Baekhyun terlepas saat Jinki memukul belakang kepala Junghoo. Satu serangan lain dari Jinki tapi Junghoo lebih dulu menghentak perut Jinki. Ia terpental dan bergulir di udara sebelum membentur pohon.

Satu tendangan sangat kuat bersarang di perut Baekhyun hingga ia terseret jauh di atas trotoar disusul serangan gumpalan hitam bertubi yang menghujam dadanya. Bahkan light nya terlalu lemah untuk menahan serangan itu.

Darah segar berhambur dari mulut Baekhyun. Mengalir ke ujung dagunya hingga ke leher dan mengotori bajunya. Baekhyun terkulai lemah dengan mata tertutup. Dadanya serasa terhimpit dinding tak kasat mata.

Baekhyun masih terbatuk dan memuntahkan darah. Mengintip melalui celah matanya dimana disisi lain Jinki menghujani Junghoo dengan lesakkan peluru dari pistol yang ia bawa.

Tak ada perubahan pada tubuh Junghoo. peluru-peluru itu tak sedikit pun melukai tubuhnya. Seringai tercetak pada wajah Junghoo.

Satu gumpalan hitam besar yang keluar dari tangan Junghoo kembali menuju Baekhyun yang coba melawan dengan light-nya yang bahkan tidak lebih besar dari bola tenis meja. Baekhyun memejamkan matanya pasrah tapi ia tak merasakan apapun hingga ia memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.

Seekor serigala berwarna putih datang seperti seorang malaikat. Jinki tiba di dekat Baekhyun. Membantunya berdiri dan memapahnya menuju sebuah motor yang entah ia dapat darimana.

Menyeka darah di wajah Baekhyun. Jinki membawa Baekhyun sejauh dan secepat ia bisa dengan beberapa kali ledakan di sekitar laju motornya, membuat Jinki hampir kehilangan keseimbangan dan pegangan tangan Baekhyun terlepas.

Ia tidak tahu sejauh mana Jinki membawa motornya. Baekhyun terlalu lelah dengan rasa sakit yang hinggap di tubuhnya untuk sekedar menerka keberadaan mereka.

Memilih sebuah kursi taman yang panjang sebagai pembaringan Baekhyun, Jinki meninggalkannya sejenak dan kembali dengan sebotol air mineral. Noda-noda darah tak lagi berbekas di wajah Baekhyun. Perban membalut goresan yang membentang di tangan Baekhyun.

"Light-mu lah yang memanggilnya….kurasa." ujar Jinki memandang prihatin keadaan Baekhyun.

Mata sayu Baekhyun berkedip lemah. Bercak kemerahan yang cukup pekat terlukis dengan jelas di dadanya. Luka dalam yang memaksa Baekhyun harus bersusah payah hanya untuk mengisi satu tempat di paru-parunya.

"Kuharap kau cukup mengerti apa yang kini kau hadapi." Jinki membantu Baekhyun duduk di sampingnya. Memegangi dadanya, Baekhyun mengangguk lemah.

Suara dering ponsel Baekhyun bergemuruh. Ia mengintip ketika Jinki mengangkat panggilan dari Victoria. Mata Baekhyun membola ketika ia mendapati seseorang dengan pakaian hitam disuatu sudut, yang mana Jinki masih berbincang di telepon.

Memandang pada mereka datar. Sebuah mata pisau yang nampak dari belakang tubuhnya berkilat terang di bawah cahaya penerangan. Baekhyun ingin sekali mengeluh mengapa ia tak diberi beberapa detik lagi untuk bernafas lega.

Lelaki itu mulai mengayun langkah. Baekhyun memutar otaknya cepat. Ia butuh jeda untuk lari bersama Jinki.

Jinki hampir melempar ponsel Baekhyun ketika bocah itu menggeser tubuhnya dan mengeluarkan light dari tangannya. Mengingat kondisinya yang lemah, tak satu pun serangannya tepat pada sasaran.

Semuanya terbang secara acak tak beraturan. Lampu-lampu pecah tak jauh dari sosok itu. Bahkan Baekhyun hampir mengenainya jika lelaki itu tidak bersembunyi di balik tembok.

Menarik lengan Jinki, ia berjalan terhuyung. Dan Baekhyun merasa hari itu tak ada satu keberuntungan pun yang menyertainya.

Serangan badai menerpa mereka. Kedua tubuh itu terhempas cukup jauh. Baehyun tidak bisa memastikan dimana Jinki berada. Hanya teriakannya yang terdengar olehnya.

Baekhyun berguling cepat ke sisi lain. Jika tidak pastilah mata pisau yang berkilat itu menusuk kepalanya. Tubuhnya yang lemah begitu menyulitkan. Baekhyun bisa jelas melihat wajah geram lelaki itu.

Berada di atas perut Baekhyun. Mengangkat tinggi pisau di tangannya. Mengarahkan ke dada kirinya. Baekhyun menahan ayunan pisau itu dengan kedua telapak tangannya. Perlahan ujung pisau itu mendekat dan Baekhyun tak yakin bisa menahan lebih lama lagi.

Baekhyun akan membayangkan wajah kedua orang tuanya yang sedang tersenyum jika pisau itu mengoyak jantungnya.

"BAEKHYUN! BAEKHYUN! Arghh!" erangan frustasi Jinki terasa memilukan. Mewarnai malam yang sunyi dan dingin.

"Kau…."

"TIDAK! TIDAK!" teriakan Jinki semakin keras terdengar. Baekhyun tersenyum memejamkan matanya. "BAEKHYUN!"

"Selamat tinggal, hyung."

"Ugggrrhhh!"

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

**…..**

Untuk kesekian kalinya terima kasih atas segala respon yg dberikan para reader smua. Untuk setiap review, fav maupun follow nyh….sya bales nyh lewat PM yha…

Sya sadar ini jauh dri kata baik. Tpi mau ngrubah konsep kok males muter otak lgi. Aku msh ngerasa kurang banget dan msh trus blajar.

Fict ini full action bener dah….sy lgi usaha keras buat ngebut ngetik lanjutan nyh biar cpet kelar.

Matur nuwun sanget : Chaochaofmariditha, Laychen love love 2 , PANDAmuda, DeerTari, pinoya, Liana D.S, gichan98shin, rafiz sterna, dn smua yg tdk nampak di permukaan.

C.U next chapter