Chapter 10: Terima Kasih (Bagian 3)
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~
Halo lagi! Akhirnya sampai juga di chapter terakhir untuk arc ini, penuh perjuangan memang, soalnya ini pertama kali saya buat fict memakai sistem arc atau plot terpisah. Saya mau curhat sedikit, sebagai author, kalian pasti ngerti saat-saat dimana ide mengalir dengan deras bukan? Udah punya satu cerita, eh tanpa disangka ada cerita lain yang tergambar di kepala dan entah kenapa kita mau banget merealisasikan cerita tersebut hingga akhirnya menelantarkan cerita yang sedang berjalan. 'Nah, saya merasa seperti itu, tiba-tiba kepikir ide baru buat cerita, dan berita baiknya (iya kalau ini berita baik) saya kembali ke genre fantasy XD
Tapi, saya udah komitmen sejak awal menjadi author di FFn, saya gak bakal buat cerita baru kecuali yang berjalan sudah selesai. Jadi, yah, akhirnya masih tersimpan sebagai angan-angan, nikmati saja yang sudah ada dulu XD
Langsung mulai aja ya!
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
Hari pagi.
Aku sudah tidak bisa menahan rasa ini lagi...
Aku ingin melihatnya...
Aku ingin ada disampignya lagi...
Aku ingin berjumpa dengannya lagi...
Aku ingin bisa bersama dengannya...
Pagi ini aku akan pergi ke rumah sakit tempat Aria dirawat. Miku dan Rin mengajakku dari kemarin, sudah lama malah, sejak dua hari lalu aku berhenti mengunjungi Aria, Miku dan Rin sudah mulai menanyakan alasan kenapa aku berhenti mengunjungi Aria. Awalnya mereka tidak terlalu banyak bertanya, tapi seiring waktu terus berjalan, mereka makin menanyakan dan menanyakan alasan dariku lagi dan lagi.
Bahkan dari kemarin pagi, mereka tidak henti-hentinya menarik tanganku dengan paksa agar aku mau pergi. Aku tidak membuka mulutku sama sekali, tidak satu incipun. Mereka juga berkata kalau Aria tidak mengatakan apa-apa tentang diriku selama mereka mengunjungi Aria.
Aku yakin, mereka bahkan tidak diberitahukan kalau dalam waktu dekat Aria akan kembali ke negaranya. Sakit memang, setiap memikirkan kalau dia akan pergi tanpa mengatakan apa-apa. Memilukan, aku tidak bisa berkata hal lain kecuali kata itu.
Aku baru mengenalnya belum lama ini, dia perempuan yang agak aneh. Pertemuan pertama kami sangat tidak berkesan sama sekali. Aku tidak pernah bisa melupakan saat itu, aku babak belur dan tidak bisa berjalan karena nyeri di sekujur tubuhku. Saat aku mencoba bangun untuk yang kesekian kalinya, akhirnya aku menyerah, saat itulah dia datang dengan wajah datarnya.
Akhirnya aku mengerti, kenapa dia berwajah datar, dia tidak percaya padaku... Dia tidak mempercayaiku sedikitpun saat itu. Lebih tepatnya dia takut denganku...
Aku juga awalnya tidak terlalu ingin berhubungan dengan orang lain, apalagi orang yang banyak menarik perhatian seperti Aria, aku berpikir 'Kalau aku kenal dengannya, bukannya kehidupanku tidak akan tenang lagi seperti sebelumnya?'.
Pikiranku yang seperti itu, tetap membuatku menolak untuk mengenalnya. Tapi, dia yang pertama menyapaku, dia menanyakan 'hei, apa yang sedang kau lakukan?' kepadaku.
Awalnya aku marah, aku sedikit kesal, apa dia tidak punya mata apa?! Dia menanyakan hal seperti itu kepadaku yang sedang babak belur, parahnya dia bahkan menatapku tanpa ekspresi sama sekali. Aku berani taruhan, Aria pasti merasakan hal yang sama, dia juga tidak terlalu senang mendekatiku, aku hanya bisa mengatakan... Dia pasti berjudi, dia berjudi dengan menyapaku dan membaca bagaimana sifatku, aku yakin dia mempertaruhkan harga dirinya untuk berhadapan denganku... Di sisi lain, aku merasa pertemuan kamu adalah 'takdir'.
Lucu bukan? Aku dan dia tidak terlalu mempercayai takdir, lantas kenapa semua yang kami lakukan serasa seperti takdir?
Kami berbicara ringan, walau awalnya suasana hening seperti kolam tanpa ikan. Aku orang yang pertama membuka suasana, tapi... Argh! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Kumohon jangan buat aku ingat hal itu!
Ehm... Kembali ke topik, lupakan saja hal itu, lupakan saja aku yang gugup mengajak bicara seorang seniman tanpa ekspresi... Tunggu? Apa barusan aku memberitahu kalian?! Argh... Abaikan saja!
Seiring jalannya waktu, dia membuka hatinya, apa dia juga merasakan sesuatu yang lebih pada diriku? Iya, dia bahkan mengajakku kencan. Tapi, bodohnya aku... Aku hanya makin menyakitinya...
"Nii-chan! Ayo berangkat! Aku tidak mau membuat Aria-chan menunggu!"
"Tunggu sebentar!"
Kita sudahi saja sesi sedih-sedihan ini, aku akan menghampirinya, aku akan menyemangatinya, dan aku akan melepasnya dengan senyuman... Ya, melepasnya dengan senyuman...
XOXOX
"Mana Miku?" Aku menanyakan Rin di jalan.
Aku dan Rin berjalan berduaan, Miku sepertinya sudah berangkat duluan, atau mungkin dia tidak menjenguknya kali ini.
"Miku-nee? Miku -nee berangkat duluan." Ucap Rin. Benarkan, dia berangkat duluan.
"Tunggu, sejak kapan kau memanggil Miku dengan sebutan kakak?" Tanyaku.
"Memanggil Miku-nee dengan –san terdengar tidak enak, kita berdua sudah kenal lama dengannya, tidak sopan rasanya tetap memanggilnya seakan orang asing, terlebih lagi dia sudah seperti keluarga. Memanggilnya –chan juga terdengar tidak sopan, Miku-nee lebih tua dariku. Jadi, aku memutuskan memanggilnya kakak."
Aku manggut-manggut dengan perkataan Rin.
Brrr...
Perasaan apa ini?
Apakah ini... APAKAH INI RASA TAKUT KEHILANGAN FIGUR ADIK YANG SUDAH BERSAMAKU SELAMA INI?! SIAL! AWAS KAU MIKU KALAU SAMPAI MEREBUT RIN!
Ehm... Sepertinya siscon ku kambuh, tapi tidak buruk juga... Kesampingkan hal tidak jelas yang baru saja aku pikirkan.
"Nii-chan bawa apa?" Tanya Rin padaku.
Aku menyadari tanganku kosong, oh iya, masa' mau menjenguk tidak bawa suguhan?
"Ah, aku tidak bawa apa-apa, mau mampir ke toko kue sebelum ke rumah sakit? Aku akan belikan kamu Brioche nanti." Ucapku, merayu Rin.
"Nggak, aku mau cupcake aja."
"Iya deh, iya..."
Saat kami berdua mulai mempertegas langkah kami, teleponku berbunyi, siapa menelpon sepagi ini?
'Halo?'
'Len?'
Miku? Kenapa dia menelpon?
'Len...'
Suaranya bergetar.
'Len... Len... Len...'
Ada yang tidak beres.
'Tenang! Katakan dengan jelas apa yang terjadi!'
'Aria... Aria...'
Aria... Ada apa dengannya?
'Aria sudah...'
Apa dia... Apa dia ma─ Tidak mungkin!
'Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak! Dia tidak akan mati! Dia tidak akan meninggalkan kita dengan cara seperti itu!'
Aku langsung menutup telepon setelah berteriak dengan kencang, meraih tangan Rin yang bingung dengan apa yang terjadi, aku berlari dengan kencang sambil menarik Rin dengan kasar. Aku tidak percaya! Aku tidak akan percaya kalau Aria meninggalkan kami semua dengan cara seperti itu!
Nafasku tidak karuan, temponya sangat berantakan. Keringat ku mengucur deras antara khawatir dan lelah. Mataku sudah sangat berat, aku bahkan tidak kuat menahan mataku untuk melihat apa yang tengah terjadi di hadapanku, aku tidak kuat melihat realita yang sudah menamparku sangat keras.
.
.
.
Ting!
Suara pintu lobby rumah sakit yang terbuka terdengar jelas, aku yang sedang terengah-engah masih memegang tangan Rin dengan erat, bahkan aku meremasnya.
"Nii-chan... Sakit... Sakit nii-chan..."
Saat dia merintih, aku langsung melepas tanganku dengan terkejut, aku melihat Rin yang memegang telapak tangannya yang tadi aku genggam dengan tangannya yang lain, dia seakan kesakitan.
Aku menatap nanar Rin, maaf... Bukan maksudku menyakitimu, tapi... Tapi... Ada hal yang lebih penting yang harus didahulukan...
"Rin... Mungkin situasi yang akan terjadi nanti akan menyakitkan, tapi aku tolong, tahanlah."
Aku mengatakan itu kepada Rin, Rin yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa mengangguk. Aku menggenggam tangannya lagi, kali ini dengan lembut. Kami berjalan pelan menuju kamar tempat Aria dirawat. Aku tidak bisa berlari di dalam rumah sakit, itu bisa menganggu pasien yang lain.
Berjalan dengan langkah berat, aku mulai menghampiri Miku yang terduduk lemas di kursi dekat dengan pintu kamar Aria di rawat. Langkah kaki kami bergema saking sepinya lorong, membuat Miku menolehkan pandangannya kepada kami.
Melihat mata Miku yang redup, aku langsung menghampiri Miku dengan cepat, memegang pundaknya dengan kasar, meminta penjelasan.
"Miku! Aria... Aria! Jangan bilang Aria sudah..."
"Iya..." Jawab Miku.
Jantungku seakan berhenti.
Tidak mungkin...
Tidak mungkin...
Ini tidak mungkin terjadi...
.
.
.
"Jadi begitu."
Suasana hening di antara kami, setelah mendengarkan penjelasan Miku, aku sepertinya sudah salam paham. Aria sudah pulang, dia tidak meninggalkan kami seperti yang aku pikirkan, dia hanya kembali ke negaranya. Walau rasa lega mulai menyelimuti diriku saat mendengar Aria tidak kenapa-kenapa, tapi rasa itu sirna saat aku mendengar kalau Aria sudah pulang tanpa mengatakan apa-apa.
"Ini... Ini hanya terlalu cepat..."
Miku mulai memicingkan matanya padaku.
"Sepertinya kau mengetahui sesuatu, Len."
Aku menghela nafas, aku tidak perlu menyembunyikan apapun.
"Aku sudah mengetahuinya, kalau Aria akan pulang, itu alasan kenapa aku tidak mau menemuinya."
"Dan kau menyembunyikan hal itu dari kami?"
"Hah? Memang kenapa? Kalian juga tidak untung kalau kuberitahu." Jawabku tak acuh.
BRUAK!
"JANGAN BERCANDA!"
"KENAPA KAU MARAH?! AKU MENGATAKAN HAL YANG BENAR!"
Miku menarik kerahku dan mendorongku ke tembok dengan keras, aku tidak sempat mematahkan dorongannya karena gerakannya terlalu tiba-tiba.
"KENAPA KAU TEGA MENYEMBUNYIKAN HAL INI DARI KAMI?!"
"MEMANG APA UNTUNGNYA KALAU KALIAN TAHU?!" Ucapku dengan beteriak keras.
Lorong tempat kami berteriak mulai bergema karena terlalu sepi, Rin tidak mengatakan apapun, dia masih menatap aku dengan tatapan takut. Yah, sudah lama aku tidak semarah ini kepada Miku.
"KAU BODOH!" Teriak Miku.
"KAU YANG BODOH!" Balasku.
"JANGAN MEMBALIKKAN PERKATAANKU!"
"KAU YANG DIAM!"
"BERANINYA KAU MENYEMBUNYIKAN KENYATAAN SENDIRIAN!"
"MEMANGNYA KALAU KAU TAHU, KAU AKAN MELAKUKAN APA?! TIDAK AKAN ADA BEDANYA! ARIA AKAN TETAP PERGI! DIA AKAN TETAP PERGI! TIDAK ADA GUNANYA KALIAN MEMBUJUKNYA! AKU SAJA TIDAK BISA, APALAGI KAU!"
"MEMANGNYA KAU TAHU APA?! KAMI BAHKAN BELUM MENCOBA APAPUN KARENA DIRIMU! BRENGSEK!"
"AKU!" Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, menatap sendu ke bawah, aku tidak berani menatap mata Miku.
"Aku hanya takut, kalau kalian akan berpikir pesimis dan akhirnya tidak menjenguk Aria lagi." Aku memelankan perkataanku dan memberitahukan isi perasaanku yang sebenarnya.
"Aku orang yang brengsek kan?"
Aku hanya bisa mengatakan itu sebagai penutup, tidak ada gunanya melanjutkan percakapan ini, perkelahian ini tidak akan mengarah kemanapun. Selagi kami saling menghujat satu sama lain, Aria sudah semakin jauh dan jauh. Sama saja bukan? Kami hanya bisa berkelahi atau mungkin melakukan hal lain seperti berdiam diri... Hanya itu saja pilihan yang kami ─Lebih tepatnya, aku miliki.
Aku tidak bisa melakukan apapun, aku lelaki lemah... Aku hanya seorang pengecut, aku bahkan tidak bisa mengajak seorang wanita yang─
PLAK!
Eh?
"Kau mencintainya bukan?"
Miku? Dia menamparku?
"Kau tidak ingin dia pergi bukan?"
Ya... Entah ini cinta atau bukan, tapi aku tidak ingin dia pergi seperti ini...
"Kau ingin bisa bersama dia selama mungkin, walau hanya lebih lama satu detik..."
Ya... Aku ingin lebih lama bersama dengannya, Aria...
"Walau akhirnya dia pergi, kau tidak ingin berpisah dengannya tanpa mengatakan apapun, benar bukan?"
Ya... Aku tidak mau hal itu...
"Lantas, kenapa kau masih di sini, berdiam diri seperti keong di sini!"
"Kejar dia! Peluk dia! Katakan padanya 'Kembalilah!' dengan kencang di hadapan semua orang!"
Tapi... Tapi...
"Aku... Aku tidak punya rasa seperti 'cinta' kepada Aria..."
Miku dan Rin tampak terkejut dengan perkataanku, tapi kemudian mereka berdua tersenyum dan menatap satu sama lain.
"Oleh karena itu, kau tidak bisa melepas rasa sayangmu padanya kepada hal yang bernama 'cinta' karena dia sahabatmu! Benar bukan? Dia sahabatmu yang paling berharga dan kau tidak mau menghancurkan hubungan itu!"
Aku mendongakkan kepalaku.
"Sa... Sahabat?"
"Iya! Sahabat!" Ucap Miku dengan senyuman lebar.
"Miku-nee benar! Kau pasti bisa mengejar Aria-chan, nii-chan!" Teriak Rin, memberi semangat juga.
Apa itu benar? Aku menganggap dia sahabatku? Hal yang selama ini aku impikan untuk ada disampingku, menemaniku dan bisa mengerti sepenuhnya tentang diriku... Tapi... Kami hanya bisa bertengkar─
"Jangan pikirkan masalahmu dengannya! Pikirkanlah bagaimana perasaanmu selama bersama dengannya!" Ucap Miku.
"Aku... Aku senang... Bersamanya..."
Miku agak sedikit tersenyum kecut, tapi dia tetap mendorongku.
"Kalau begitu kejarlah dia!"
DEG!
Lalu semua itu terbayang,di suatu pagi yang cerah, Aria ada di sebuah kursi roda, tangannya masih menari di atas kanvas yang ada di hadapannya, ketika aku melihatnya dari balik pintu, senyuman merekah dari wajahnya... Sangat hangat, tapi juga sangat menyedihkan... Walau cuma bayangan, tapi itu tetap berputar di kepalaku seperti kabut yang gelap, menghantuiku, memberiku kesan apakah dia akan terus seperti itu selama hidupnya, berulang kali lumpuh dan lumpuh dengan sedikit harapan tentang masa depan yang tidak pernah satu orangpun janjikan kepadanya?
"Aku juga sahabatmu! Aku akan selalu mendukungmu! Lui juga sahabatmu! Kami bertiga menganggapmu sama!" Ucap Miku.
Kau? Lui? Aku kira, kalian hanya menganggapku 'teman' semata... Jadi, apa benar? 'Sahabat' itu sehangat ini?
Aku berdiri tanpa mengatakan apa-apa, tapi mataku menatap dengan tegas. Apakah aku tega meninggalkan Aria tanpa harapan? Tentu saja tidak!
"Naiklah kereta dari stasiun dekat sini, berhentilah di stasiun Tokyo di Marunouchi! Dari sana berlarilah dengan sekuat tenagamu!"
PRAK!
Sudut siku-siku saling bersentuhan di dahiku.
"Kau menyuruhku lari 14 km dari stasiun?! Apa kau gila?!"
"Kau yang gila! Aku sudah memberikan jalur tercepat, menaiki bus pasti akan macet! Siang adalah waktu sibuk! Pesawatnya mungkin akan berangkat siang ini, semua pemberangkatan dimulai dari jam 10.30 siang."
Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berbalik badan dan berlari, aku tidak akan mengeluh lagi! Dia benar! Kalian semua benar! Tidak ada sahabat yang meninggalkan satu sama lain!
"Jangan lupa sampaikan salam dari kami!" Teriak Miku, itu pasti!
Berlari menuju stasiun terdekat, aku menerobos pintu kereta yang baru akan berangkat... Aku berhasil masuk! Tunggu aku Aria, aku akan menjemputmu!
XOXOX
"Apa nona sudah siap?"
Dua orang itu berjalan didampingi beberapa orang berbadan besar, orang-orang di sekitar mereka merasa sedikit risih dan juga agak takut.
"Iya, ayo kita pergi, Cul."
Kedua orang itu ─Aria dan Culnoza menyelesaikan percakapan mereka, pesawat berangkat dalam setengah jam lagi, yang dinaiki Aria adalah pesawat pribadi, jadi pemberangkatannya lebih cepat 1 jam dari pesawat yang lain.
"MINGGIR! BIARKAN AKU LEWAT!"
Dan suara itu terdengar─
"Suara itu..."
"ARIA!"
"Cul! Percepat langkah kita, dorong kursi rodaku lebih cepat!"
"Tapi nona, orang yang memanggil nona adalah─"
"LAKUKAN SAJA!"
Culnoza mendorong Aria lebih cepat, meninggalkan si pemanggil yang memanggil Aria tadi. Ketika Aria melihat ke belakang, Aria bisa melihat wajahnya... Ya... Wajah kakak kelas tercintanya yang terhadang oleh orang-orang bertubuh besar di belakang Aria.
Len... Dia berhasil mengejar Aria.
"TUNGGU ARIA! AKU TIDAK PEDULI KAU MEMBENCIKU SAMPAI KE UBUN-UBUN! TAPI TOLONG! DENGARKAN AKU! DENGARKAN AKU WALAU HANYA SATU KATA!"
Len merengek dengan wajah penuh keringat dan warnanya sangat merah, hanya dengan melihat saja Aria tahu kalau Len sudah memaksakan dirinya berlari untuk bisa mengejar Aria... Aria tahu itu.
Aria menunduk, dia mengisyaratkan Cul untuk berhenti. Memutar kursi rodanya dengan tangannya sendiri, dia mendongakkan kepalanya yang sudah dibanjiri dengan air mata.
"Kenapa kau datang?"
"Untuk mengantar kepergianmu."
"Kenapa kau datang?"
"Untuk mengucapkan 'Sampai jumpa lagi!' kepadamu."
"Kenapa kau datang?!"
"Karena kau sahabatku yang sangat berharga!"
DEG!
Aria makin menundukkan kepalanya, sampai pada tingkat kalau dia bisa saja jatuh kapan saja, isakan tangisnya mulai terdengar makin keras dan keras, dia menggigit bibirnya sendiri sangat dalam sehingga itu bisa mengeluarkan darah kapan saja.
"Belum cukupkah kau menyakitiku?!"
"Aku... Aku tahu, aku masih tidak mengerti perasaanku sendiri kepadamu! Tapi apakah kau tidak kira kalau perpisahan seperti ini menyakitkan?! Bagaimana dengan Rin dan Miku?! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka kau tinggal begitu saja?!"
"Dan senpai, apa senpai tidak memikirkan bagaimana perasaanku yang terus dibohongi oleh orang yang aku sukai?!" Itu benar, Len sudah menyakiti Aria, itu faktanya.
Len terdiam sejenak, dia menghampiri Aria, mengangkat jari kelingkingnya.
"Ayo kita buat janji." Ucap Len.
"Apa? Janji? Kita berdua sudah bukan anak kecil, senpai. Senpai tahu kalau tidak ada orang yang bisa menepati janjinya dengan orang yang dia benci."
Len tidak menghiraukan perkataan Aria dan menarik kelingking Aria untuk dikaitkan dengan kelingkingnya sendiri.
"Percayalah Aria, keajaiban itu selalu ada."
"Aku tidak percaya lagi pada keajaiban." Ucap Aria dengan dingin.
Len menarik tidak hanya kelingking Aria, dia juga menarik tangan Aria. Aria yang kaget akhirnya tertarik dengan lemah, dia membuat Aria berdiri.
Aria yang tidak tahu apa yang ingin Len lakukan, memberontak. Tangannya mengibas-ngibas keras seakan ingin melepaskan tautan tangannya dengan Len. Len tidak bergeming sedikitpun, tangannya tetap memegang Aria kuat, hingga akhirnya Aria bisa sedikit tenang, dengan tangan gemetar, Len melepas Aria, dan semuanya terjadi begitu saja...
"Bagaimana bisa?"
"Aku sudah bilang kan? Bahkan keajaiban bisa terjadi di saat kau sedang berdiri."
Aria berdiri dengan kedua kakinya yang saling bergetar, air mata Aria merembes keluar, dia tidak bisa berkata apapun lagi.
"Aku... Aku..."
"Aku akan mengikuti pencalonan ketua OSIS! Kembalilah, dan kau bisa menjadi anggota OSIS! Kau ingin punya banyak teman bukan?! Berusahalah bersamaku! Aku percaya kalau kau menginginkannya dari dalam hatimu! Cepatlah kembali, singkirkan penyakit itu, berjalanlah layaknya orang sehat dan tersenyumlah saat menghadapi ku nanti!"
Aria membelalakkan matanya, ditemani angin yang sejuk dari arah landasan pesawat, Aria mengangguk dalam diam dan dia kembali duduk di kursi rodanya. Mereka pergi, Aria dan Cul pergi, punggung mereka mulai menghilang dalam keramaian, Len hanya bisa terjatuh lemas, dia akhirnya bisa mengatakan apa yang bisa membuat Aria mau bersemangat kembali.
"Oh iya!"
"RIN DAN MIKU TITIP SALAM BUATMU!" Teriak Len.
'Dasar senpai telmi.' Pikir Aria, Aria sedikit tertawa di kejauhan.
Perpisahan mereka tidak disertai air mata rindu atau kenangan yang romantis, tapi mereka sudah mematrinya, mematri janji di dalam hati mereka untuk bisa bertemu lagi apapun taruhannya...
XOXOX
FUWAHH! Akhirnya, arc ini bisa selesai!
Pasti bingung, kok akhirnya gini? Baca lagi aja ke bawah, saya iseng motong fict biar kalian kesal sama saya dengan pikiran "Ini author ganggu aja orang lagi baca" XD
.
.
.
Check this out!
XOXOX
Tiga minggu sudah berlalu, sudah seminggu semenjak aku mencalonkan diri.
"Len! Bersiaplah! Pagi ini kita akan mengadakan kampanye!" Ucap Miku.
"Nii-chan! Jangan tidur sama main game terus! Kita harus bergegas!" Ucap Rin setelahnya.
"Ya ampun, aku memang yang mengatakan padamu akan ada pemilihan ketua OSIS baru, tapi tidak aku kira kau sebahagia dan seantusias ini..." Ucap satu suara lagi, iya, itu suara Lui.
Sekarang sudah saatnya, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan ini semua, walau lawanku adalah si Kaito...
Keluar dari kamar, aku menyambut pagi dengan tenang dan juga penuh semangat, aku menyapa mereka bertiga yang tadi memanggilku. Lui dan Miku mulai datang pagi kerumahku untuk merencanakan cara agar aku bisa terpilih menjadi ketua OSIS, bahkan Miku sudah ingin mengadakan konser untuk bisa mendukungku secara penuh di sekolah, idol memang menakutkan.
"Oh iya, bagaimana kabar'nya'?"
"Oh, 'dia'? Entahlah, aku tidak pernah lagi mendengar kabar dirinya."
"Nii-chan! Awas sausmu tumpah!"
"GYAA!"
"Dasar bodoh! Hahahahahahaha!"
Makan pagi kami disertai dengan senyum dan tawa, sudah lama aku tidak merasakan kehangatan dari keramaian di rumahku.
Aku juga masih memikirkan 'dia', bagaimana yang keadaannya? Aku harap dia bisa menjaga janji yang kita buat.
Aku berdiri dari kursiku, berjalan pergi tanpa berkata apa-apa.
"Nii-chan? Mau kemana?"
"Cari udara segar." Jawabku dengan singkat atas pertanyaan Rin.
Harum musim semi masih bisa tericum dengan sangat pekat di hidungku, tanpa sadar, musim ini sudah berjalan begitu lama. Setelah ini masih ada musim panas, musim gugur dan musim dingin yang menungguku.
Aku mengunjungi tempat-tempat secara acak, aku hanya mengikuti kemana arah kakiku berjalan. Menerawang ke atas langit, wajah itu terbayang lagi di dalam kepalaku... Wajah Aria yang tersenyum.
Sudah agak lama memang, walau tidak terlalu lama... Apakah dia sudah bisa terlepas dari penyakitnya? Apa dia bisa menepati janjinya? Mungkin, lebih tepatnya, apakah aku bisa menepati janjiku? Apa mungkin... Dia mungkin berkata benar, janji hanya untuk anak kecil.
Mataku terpejam menyambut semilir angin dan suara gemerisik dedaunan, hingga akhirnya suara itu terdengar di telingaku.
"Senpai, aku pulang."
Aku berbalik, dan hanya bisa tersenyum lembut.
XOXOX
"Keajaiban bukanlah sesuatu yang kau tunggu untuk datang, tapi sesuatu yang kau tunggu untuk ciptakan."
XOXOX
Akhirnya selesai beneran!
Kita akan mulai arc baru minggu depan! Yeah! Kok kesannya kayak chapter ini udah chapter terakhir aja ya? Apa cuma saya yang merasa kayak gitu?
Balas anon review, ada juga review yang masuknya ke chapter 1, saya jawab sekalian di sini ya ^^
-To reviewer named hardy:
Halo! Kok berasa kayak gak asing sama nama kamu ya? Kayaknya pernah muncul di fict yang lain? Ya, pokoknya saya senang kalau kamu bisa senang dengan fict ini ^^
Terimakasih ya atas pujiannya juga, saya tersanjung T_T
Makasih ya udah review~ Ini udah lanjut~
-To reviewer named ryuucha:
Wahahahaha! Ngenes ya Arianya? Saya nistain dia di sini! XD #PLAK
Hmm... LenAria ya? Saya sih sebenarnya gak mau memasukkan romance berat di sini, makanya saya nggak ngasih tahu apakah akan ada truepair atau nggak... Bisa aja ada LenRin juga XD (Plak! Incestnya kambuh!)
Ada typo ya? Saya nggak teliti lagi T_T
Hmm... Apa saya kenal anda? Bingung sendiri nih... Saya nggak cenayang sih, kalau dipaksa cenayang, nanti cenayangan lagi (gentayangan maksudnya) #PLAK #Maksa
Iya, updatenya seminggu sekali~
Makasih ya udah review~
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
