Author Notes :

Yahoo! Kita berjumpa lagi, readers!

Seperti apakah pesta ulang tahun untuk Orihime di Las Noches ini?

Let us see!

Please enjoy this new chapter of OCD, and don't forget to review!

Disclaimer :

Kalau aku yang bikin Bleach, itu opiniku semata.

Kalau Tite Kubo yang bikin Bleach, itu baru fakta!


Chapter 10

Unexpected Surprise

Para Espada mungkin tidak pernah menduga bahwa sebuah pesta ulang tahun akan sesulit ini. Sehari menjelang tanggal 3 September di dunia manusia, kesibukan mulai terlihat di ruangan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan. Walaupun Szayel adalah Espada yang ditunjuk oleh Gin sebagai koordinator dekorasi, Espada yang lain mau tak mau juga harus membantu Octava Espada itu.

"Yammy dan Nnoitra, tolong kalian sampirkan kain itu dari ujung sini sampai sana…" suara Szayel terdengar dari ruangan kaca tersebut.

Cero dan Quinto Espada, sebagai Espada yang memiliki ukuran tubuh di atas Espada lain, otomatis mendapat tugas untuk membantu menghias dekorasi ruangan di bagian yang sulit dijangkau. Ulquiorra dan Zommari membantu Szayel menghias meja dan kursi. Hallibel dan Starrk pergi untuk berkonsultasi dengan Arrancar di bagian dapur. Barragan dan Aaroniero pergi ke dunia nyata sesuai dengan permintaan Szayel, mencari tanaman asli. Grimmjow mengurusi bagian dancefloor.

Orihime sebagai bintang utama, sampai sekarang tidak tahu menahu mengenai rencana pesta kejutan itu. Seminggu belakangan ini Ulquiorra tetap menjaganya seperti biasa, namun tidak lama. Cuatro Espada itu selalu pergi setelah Orihime selesai sarapan dan hanya mengobrol dengannya pada malam hari sebelum gadis itu pergi tidur.

"Ulquiorra, aku paling tidak ahli dalam hal begini," Zommari mengeluh sambil menghias meja makan bertaplak putih dengan bunga mawar imitasi.

Ulquiorra menghela nafas. "Kamu pikir aku ahli dalam hal ini, Zommari?" Sudah kesekian kalinya jari Ulquiorra tertusuk ujung jarum.

Espada berkulit gelap itu menghela nafas panjang. "Apa boleh buat… karena Aizen-sama hanya menginginkan para Espada yang mengurus pesta ulang tahun ini."

Cuatro Espada hanya mengangguk pelan.

"Yammy! Jangan kamu tarik sekuat itu! Kainnya bisa robek!" Nnoitra berteriak.

"Aku tidak menariknya terlalu kuat, Quinto!" Yammy tidak terima.

Espada berambut pink menggelengkan kepalanya. "Sudahlah… tidak perlu protes satu sama lain. Acaranya besok."

Nnoitra dan Yammy terus melanjutkan menghias ruangan walaupun gerutuan terus meluncur dari mulut mereka.

Satu jam kemudian, Segunda dan Novena Espada kembali dengan membawa bunga yang sangat banyak. Ulquiorra dan Zommari yang tugas menghias meja dan kursinya sudah selesai, kali ini harus merangkai bunga-bunga tersebut.

"Bagaimana cara melakukannya?" Aaroniero yang berwajah Kaien bertanya sambil mengambil setangkai mawar.

Barragan mengangkat bahu. "Jangan tanya aku."

"Kemarin Hallibel mengajariku. Seperti ini," Ulquiorra memberi tahu tiga Espada di dekatnya cara merangkai bunga.

Zommari ternyata cepat mengerti dan mencoba untuk merangkai, walau hasilnya tak seindah yang diharapkan. Septima Espada itu cukup puas dengan karyanya.

Starrk dan Hallibel masuk ke ruangan itu. Melihat empat Espada sedang sibuk merangkai bunga, Hallibel pun bergabung dengan mereka untuk membantu pekerjaan tersebut. Hallibel, sebagai perempuan tentu jauh lebih terampil dari Espada lainnya.

Starrk tidak mengerti cara untuk merangkai bunga sehingga memilih untuk membantu Grimmjow. Espada berambut biru itu baru saja mencoba mendengarkan berbagai macam musik yang kiranya akan digunakan untuk dansa besok.

"Bagaimana, Grimmjow?" tanya Starrk.

"… Gin-sama meminta padaku agar menyediakan musik slow untuk blues time. Aku pernah melihat manusia melakukannya di dunia nyata, dan Aizen-sama langsung menyetujui ide dari Gin-sama itu," jawab Grimmjow.

Pikiran Starrk melayang. "Slow? Blues time?"

"Kata Aizen-sama, itu gerakan yang menarik. Espada pasti menyukainya," Grimmjow mengacak-acak rambutnya lalu menekan tombol 'On' pada video yang entah darimana dia dapatkan, "… seperti ini."

Musik slow terdengar dari video itu. Musik yang pelan namun… entah mengapa memberikan kesan damai.

"Musiknya tidak buruk," Starrk berkomentar.

Grimmjow mengangguk. "Selera Aizen-sama memang bagus."

Jika kesepuluh Espada ditugasi Aizen untuk menghancurkan Soul Society, mungkin dalam dua jam juga sudah cukup. Menghias ruangan untuk pesta, ternyata memakan waktu enam jam. Ini akan jadi pengalaman tak terlupakan bagi barisan terdepan Aizen tersebut.


Selama seminggu terakhir ini Orihime merasakan ada sesuatu yang aneh dari para penghuni Las Noches, terutama dari para Espada dan Aizen serta dua anak buah loyalnya, Gin dan Tousen. Mereka seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari Orihime. Ulquiorra, walaupun tiap malam masih menyempatkan diri untuk mengobrol dengan gadis itu, tidak pernah memberitahu Orihime tentang apa yang telah terjadi. Cuatro Espada itu hanya mengatakan kalau sikap aneh yang dirasakan pemilik Shun Shun Rikka itu hanya sekadar pikirannya saja.

"Ini sudah waktu tidurmu, Orihime. Selamat malam," Ulquiorra berdiri dari sofa putih tempat dia dan Orihime mengobrol lalu beranjak ke pintu kamar Orihime.

"Umm… i-iya. Selamat malam Ulquiorra…" jawab Orihime. Jujur, gadis itu masih penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Akan tetapi melihat sikap Ulquiorra yang tetap pada pendiriannya untuk mengatakan bahwa semua ini hanya perasaan saja, gadis itu tidak bertanya lagi.

Tepat di depan pintu kamar, Ulquiorra membalikkan mukanya pada gadis itu. "Orihime?"

"Hmm?" jawab Orihime.

Ulquiorra tersenyum kecil. "Sampai besok." Espada bermata emerald itu kemudian menutup pintu.

Mata abu-abu Orihime melebar. Tadi adalah pertama kalinya Ulquiorra mengatakan 'sampai besok' pada Orihime. Dua kata itu sepertinya menandakan kalau Ulquiorra… sangat menanti datangnya esok hari.

'Mana mungkin,' Orihime buru-buru mengenyahkan pikiran itu.

Gadis berambut orange itu merenggangkan tubuhnya dan menguap. Sekarang memang sudah waktu tidurnya, tak heran jika dia mengantuk. Dipandanginya bulan dari balik jendela berteralis besi di kamarnya.

'Walaupun bulan itu selamanya berbentuk bulan sabit, tetap saja indah.'

Orihime kemudian menutup matanya setelah berbaring di sofa putih.


Ulquiorra membuka pintu kamarnya. Besok adalah hari ulang tahun Orihime, sekaligus saat dimana pesta kejutan untuk gadis itu akan dilaksanakan. Walaupun pesta itu akan dilaksanakan setelah senja, Cuatro Espada itu harus tidur cepat hari ini, mengingat besok pasti masih ada agenda yang harus dilakukannya seputar acara.

Mata emeraldnya melebar saat mendapati ruangan miliknya ternyata tidak kosong.

Semua Espada jelas-jelas berada di ruangan ini sekarang. Di ruang baca sekaligus ruang tamu berjendela besar itu. Starrk, Hallibel dan Aaroniero duduk di sofa miliknya. Zommari dan Barragan berdiri di dekat jendela kamar Ulquiorra, mereka berdua memandangi bulan yang bersinar menerangi padang pasir Hueco Mundo. Szayel sedang membaca salah satu buku milik Ulquiorra di depan rak buku. Yammy, Grimmjow serta Nnoitra duduk di lantai. Kamar Ulquiorra sejatinya rapi saat Cuatro Espada itu pergi meninggalkannya untuk memberi makan Orihime, namun saat ini kamarnya sangat berantakan.

"Apa maksudnya ini?" Ulquiorra bertanya datar, mata emeraldnya mengamati seluruh ruangan lalu jatuh pada gulungan kertas dan pita yang berserakan di karpet hijaunya.

"Kami tidak bisa membungkus kado," jawab Zommari tenang.

"Dan?" Ulquiorra berjalan mendekati rekan-rekan Espadanya.

"… bukankah lebih baik kita membungkus kado bersama-sama?" Aaroniero menjawab dengan wajah polos Kaien.

Ulquiorra menghela nafas. "Lalu mengapa harus di kamarku?" Ulquiorra ingin tidur sekarang, soal membungkus kado, dia sudah membungkus kado miliknya kemarin malam.

"Jangan pelit begitu, Emospada! Kamarmu yang paling nyaman dari semua kamar Espada, jadi kami memilih untuk mengurusi masalah membungkus kado itu di sini!" Grimmjow menjawab pertanyaan Cuatro Espada itu.

"Ini kamarku," Ulquiorra berkata dengan dingin. Kesal bukan main melihat Grimmjow yang sekarang membaringkan tubuhnya di lantai kamar Ulquiorra yang berkarpet hijau dengan santai, seakan-akan kamar ini adalah kamar miliknya sendiri.

"… bukankah kamu cukup terampil, Ulquiorra? Ajarilah Espada yang lain," Hallibel tiba-tiba berkata.

"Setahuku kamu yang paling terampil di antara kita semua, Hallibel." suara Ulquiorra tampak sedikit kesal.

"Memang iya, tapi jarang-jarang kita bisa berkumpul seperti ini, jadi apa salahnya jika kamu membantuku mengajari mereka?" mata hijau cerah Tercera Espada itu memperlihatkan kegembiraan.

"Ayolah, Ulquiorra!" Nnoitra kali ini yang berbicara, "… kalau sampai besok Aizen-sama melihat kadoku yang tidak rapi, pasti dia akan menceramahiku seusai acara!"

Memang benar. Aizen sangat cinta kerapian. Penguasa Hueco Mundo itu memang tidak mempermasalahkan soal tata cara membungkus kado, akan tetapi Aizen tentu tidak akan puas jika melihat Espada-Espada kesayangannya tidak berlaku 'elegan' untuk acara besok.

"Aku tidak terampil dalam hal seperti ini," Barragan akhirnya mengakui kelemahannya sendiri.

Zommari dan Aaroniero mengangkat tangan. "Aku juga."

Melihat tiga rekan Espada mengakui kelemahan mereka, Starrk dan Yammy juga mengangkat tangan namun tidak berkata apa-apa. Idem.

"Szayel, bagaimana denganmu?" Ulquiorra bertanya pada Espada berambut pink yang sedang asyik membaca buku.

Ditutupnya buku tebal yang sedang dibacanya daritadi. "Kadoku sudah kubungkus dengan rapi dan kuletakkan di dalam freezer."

Ulquiorra tidak mempermasalahkan jawaban Octava Espada itu walaupun terdengar janggal di telinganya. Dengan berat hati, Ulquiorra kemudian mengangguk.

"Baiklah, kubantu kalian. Hallibel dan Szayel, bantu aku."

Puas dengan jawaban Cuatro Espada, ketujuh Espada yang belum membungkus kado mereka, mengambil kertas kado serta pita dan memulai 'pekerjaan' mereka malam itu.


Tanggal 3 September yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Ulquiorra tetap seperti Ulquiorra yang biasanya, pura-pura tidak tahu tentang hari penting ini. Orihime, dengan polosnya tentu saja menganggap hari ini akan menjadi hari yang biasa seperti seminggu sekarang ini.

Orihime baru saja menyelesaikan makan siangnya. Ulquiorra hanya memandangi gadis itu tanpa berkata apapun, membuat gadis berambut orange itu sedikit bingung.

"A-ada apa, Ulquiorra?" tanya Orihime sedikit malu-malu karena mata emerald itu tidak juga berhenti memandanginya.

"… hari ini kamu tidak perlu makan malam di ruangan ini, Orihime." Ulquiorra menjawab dengan datar.

"Apa malam ini Aizen-sama ingin makan malam bersamaku?" gadis berambut orange itu menebak.

Ulquiorra menggeleng. "Tidak."

Sekarang jawaban itu membuat Orihime semakin bingung. "Lalu… mengapa tidak makan di sini…?"

"Nanti kamu akan tahu," Cuatro Espada itu berkata dengan singkat lalu berbalik pergi, meninggalkan Orihime sendiri di kamarnya.

'Ulquiorra hari ini… sedikit berbeda. Ada apa dengannya?' pikir Orihime.

Ulquiorra berjalan menyusuri koridor di Las Noches. tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Jika melihat Orihime, dia bisa merasakan sesuatu dalam dirinya seakan berteriak dan memintanya untuk mendekati gadis itu, lebih dan lebih. Ini emosi yang aneh. Emosi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Lubang Hollownya kian hari kian menyiksa diri Arrancar pucat itu. Lubang itu sekarang selalu terasa hangat apabila pikiran Ulquiorra mulai tertuju pada pemilik Shun Shun Rikka itu. Dia sering mendapati dirinya tersenyum sendiri jika mengingat saat-saat dimana dia dan Orihime sangat dekat.

'Apa mungkin aku tertarik pada gadis itu? Lucu,' pikir Ulquiorra, kemudian senyum tipis mengembang di bibirnya.

"Kamu tersenyum? Duh, sepertinya Las Noches akan runtuh sebentar lagi," kata suara seseorang yang tiba-tiba muncul di sebelahnya.

Ulquiorra menghela nafas. "Grimmjow."

Espada berambut biru itu menyeringai. Grimmjow tidak pernah melihat Ulquiorra tersenyum seumur hidupnya. Pemandangan yang baru saja dilihatnya tadi sungguh membuatnya terkejut.

"Memikirkan orang yang berulang tahun hari ini?" godanya.

Mata emerald Ulquiorra melebar.

Grimmjow menyeringai. "Berarti aku benar."

Ulquiorra melangkah maju meninggalkan Grimmjow, tapi Sexta Espada itu makin senang dengan sikap Ulquiorra saat ini. Cuatro Espada itu menghindar?

"Hei, jawab aku, Ulquiorra!" Grimmjow melangkah dengan cepat, mencoba mengiringi langkah cepat Ulquiorra.

Ulquiorra menghela nafas. "Tentu saja tidak."

Alis Grimmjow terangkat. "Apanya?"

"… jawaban pertanyaanmu tadi," Ulquiorra kemudian bersonido pergi.

Espada bermata emerald itu terpaku di tempatnya. Kesal bukan main karena Cuatro Espada itu meninggalkan jawaban yang membuatnya tidak puas.

"Cih, dasar munafik. Aku tahu kamu memiliki perasaan tertentu untuk Pet-sama, Emospada." Grimmjow menggerutu.

Tiba-tiba bola lampu bersinar di otaknya.

'Aha. Kalau begitu nanti malam pasti seru.'


"… apa ini?" Orihime bertanya pada Arrancar pelayan yang datang ke kamarnya.

Sebuah gaun one shoulder berwarna kuning gading selutut, lengkap dengan high heels tujuh senti berwarna emas, senada dengan gaun yang ada di hadapannya sekarang.

"Gin-sama meminta anda memakai gaun dan sepatu tersebut untuk acara malam ini," jawab Arrancar pelayan itu.

'Gin-sama?' Orihime terkejut mendengar nama pengirim dua barang tersebut. Pertama, dia menduga Aizen-lah yang memberikan ini untuknya. Mendengar nama mantan kapten divisi ketiga Gotei 13 itu, Orihime menjadi bingung. Ada apa gerangan…?

"Khusus untuk malam ini, silahkan Orihime-sama mengenakannya."

Orihime mengangguk. 'Apabila memang harus, aku tidak punya pilihan lain.'

Sebenarnya, rencana awal adalah membiarkan Orihime sendiri yang pergi ke ruang pesta. Itu bukan masalah mengingat gadis itu sudah hafal jalan menuju tempat Aizen. Cuatro Espada, entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa khawatir dan kemudian dia meminta pada Aizen agar dirinya diizinkan untuk menjemput dan mengantarkan Orihime ke tempat pesta itu. Aizen menyetujui karena penguasa Hueco Mundo itu berpendapat bahwa seorang putri, sudah selayaknya diberi pengawalan menuju 'istana'.

Ulquiorra sudah berdiri di pintu besi familiar menuju kamar Orihime. Diketuknya pintu tersebut.

"Orihime, aku masuk."

Pintu terbuka dan Orihime sudah berdiri di tengah ruangan. Mata emerald Ulquiorra tidak berkedip saat melihat gadis berambut orange itu. Dia mengenakan gaun malam yang sangat… duh, Ulquiorra tidak bisa berkata apa pun. Gaun itu sungguh serasi untuknya. Espada keempat itu memaki dirinya sendiri saat menyadari bahwa lubang Hollownya, kali ini berdenyut cukup keras.

"Umm… Ulquiorra? Mengapa melihatku seperti itu…? A-apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Orihime, khawatir. Selama mengenakan gaun kuning gading itu Orihime merasa kalau gaun itu tidak pantas untuknya. Gaun itu terbuat dari kain sutera terbaik dan gadis seperti dia… apa pantas untuk mengenakannya?

Sadar dengan apa yang telah dilakukannya, Ulquiorra segera mengalihkan pandangannya. "Tidak ada yang aneh. Gaun itu…"

'Pasti tidak cocok!' Orihime menundukkan kepalanya.

"… cocok untukmu," jawab Ulquiorra.

Orihime merona merah saat Ulquiorra… memujinya?

"T-terima kasih," gadis itu hanya bisa berkata demikian.

"Ikut denganku, Orihime." perintah Ulquiorra datar.

Orihime berjalan mendekati pintu, namun saat gadis itu baru akan menginjakkan kaki untuk melangkah keluar, tiba-tiba Ulquiorra melingkarkan lengan kanannya di pinggang Orihime. Mata abu-abu gadis itu melebar. Tidak pernah Ulquiorra menyentuhnya seperti ini… Oh Tuhan, wajah Orihime mulai memerah lagi.

"Aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan sejauh itu dengan menggunakan sepatu hak tinggi, Orihime. Lebih baik bersonido," suara Ulquiorra terdengar dekat sekali. Gadis itu mengangkat kepalanya, sehingga mata mereka bertemu.

Orihime tidak bisa bergerak. Mata emerald itu seakan menariknya.

"Tutup matamu. Jangan membuka matamu sebelum aku menyuruhmu membukanya," Ulquiorra berkata lagi. Orihime mengangguk lalu menundukkan kepala dan menutup kedua matanya.

Lengan Ulquiorra sedikit gemetar saat menyentuh pinggang Orihime. Cuatro Espada itu memang pernah menyentuhnya lebih dari ini, saat menggendong gadis itu. Waktu itu Ulquiorra tidak gemetar sama sekali, namun sekarang…

Mengapa?

Cuatro Espada mengenyahkan pertanyaan yang berteriak di kepalanya itu, kemudian bersonido ke ruangan Aizen.


"Kamu boleh membuka matamu sekarang," kata Ulquiorra.

Gadis berambut orange itu membuka matanya. Ruangan itu gelap gulita. Apa Ulquiorra benar-benar telah membawanya ke ruangan Aizen? Seingat gadis itu, ruangan tersebut sangat indah, penuh kaca dan dia bisa melihat padang pasir Hueco Mundo serta bulan yang bersinar. Namun, mengapa sekarang… semuanya gelap gulita?

"Ulquiorra?" Orihime mulai panik dan tangannya mencoba mencari Cuatro Espada itu, namun dia tidak bisa menemukannya.

Ini sungguh tidak lucu.

Kegelapan. Tidak ada yang lain selain itu.

"Jangan bercanda!" Orihime berteriak kesal. Bayangkan saja, dirinya disuruh mengenakan gaun dan sepatu hak tinggi dan sekarang dia dikurung dalam kegelapan?

Tiba-tiba kegelapan itu pecah berkeping-keping bak kaca dan Orihime melihat… banyak kunang-kunang. Kunang-kunang? Di Hueco Mundo?

Gadis itu bisa melihat bulan sabit besar yang bersinar di luar sana, menerangi padang pasir Hueco Mundo di waktu malam. Sangat indah.

Mata abu-abunya melebar saat melihat Ulquiorra berjalan menghampiri dirinya. Dia memegang sebatang lilin di tangannya. Orang biasa pasti akan berteriak histeris melihat 'penampakan' seperti itu. Ulquiorra adalah sosok yang pucat, jika dia hanya diterangi sebatang lilin seperti sekarang ini… sungguh seperti… hantu? Namun Orihime tidak takut.

Gadis itu ingin menangis. Ternyata sejak tadi Ulquiorra berada di dekatnya, namun tidak menjawab panggilannya dan sekarang justru memegang lilin dan menghampirinya seakan tidak ada sesuatu yang terjadi, padahal Orihime sangat ketakutan.

"… hari ini tanggal 3 September, bila di dunia manusia." Ulquiorra melangkah menghampiri Orihime.

"L-lalu… ada apa dengan i-ini semua?" Orihime bingung, Ulquiorra telah mengatakan sesuatu yang tidak bisa dicerna dengan mudah oleh otaknya.

Ulquiorra tersenyum kecil, namun cukup untuk membuat wajah Orihime memerah. Sekarang Cuatro Espada itu berdiri tepat di hadapannya. Mata emeraldnya memandang lurus pada mata abu-abu Orihime.

"Selamat ulang tahun ke-17, Orihime."

'Ulang tahun?' Orihime tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Tiba-tiba lampu menyala. Kunang-kunang di ruangan itu sontak menghilang kemudian musnah menjadi kepingan kaca yang sekarang beterbangan ke satu arah. Orihime memandangi peristiwa itu. Pecahan-pecahan kaca tadi lalu bermaterialisasi menjadi suatu bentuk zanpakutou.

Pemilik zanpakutou itu berdiri di atas tangga spiral di ujung ruangan. Senyum yang menawan menghiasi bibirnya.

"Selamat ulang tahun, Orihime." Aizen berkata ramah kemudian menyarungkan kembali Kyoka Suigetsu-nya.

"A-Aizen-sama?" Orihime terkejut.

Kemudian satu persatu Espada muncul dengan sonido mereka. Kesembilan Espada yang baru muncul tersebut berdiri di tengah ruangan. Shinigami berambut perak dan berkulit hitam juga bershunpo muncul. Gin mengeluarkan senyum rubahnya, yang untuk pertama kalinya, tidak menakutkan bagi Orihime.

"Surprise~!" kata Gin santai.

Mulut Orihime menganga. Kejutan… untuknya? Ulang tahunnya?

Orihime berjalan menghampiri mereka semua, Ulquiorra berjalan di belakang Orihime dengan masih memegang lilin. Aizen turun dari tangga spiralnya.

"Ada yang bisa memberitahuku… apa yang-" Orihime tidak tahu harus berkata apa.

"Kami mengadakan pesta untuk ulang tahunmu, Orihime-chan!" jawab Shinigami berambut perak yang tadi tersenyum itu. "Oh, Ulquiorra! Kemarikan lilinnya! Hallibel, mana kue tart-nya?"

Begitu Hallibel meletakkan kue tart mungil itu di tangan Gin, Ulquiorra meletakkan lilin yang semula berada di tangannya tadi di tengah-tengah kue tersebut. Cuatro Espada itu mengeluarkan Bala miliknya, sehingga tiba-tiba lilin itu langsung memisahkan diri menjadi tujuh belas bagian dan jatuh dengan teratur mengitari kue bundar tersebut. Ulquiorra lalu menyalakan ketujuh belas lilin tadi menggunakan cero dari ujung jarinya.

"Selamat ulang tahun, Orihime…!" Gin tersenyum lagi.

Aizen yang sudah berdiri di samping Gin, tersenyum pada gadis itu.

Orihime menoleh dan memandang kesembilan Espada di hadapannya. Yammy tertawa, memperlihatkan gigi putih besarnya pada Orihime. Starrk mengangguk, demikian pula Barragan. Hallibel tersenyum di balik kerah jaketnya yang tinggi. Nnoitra menyeringai pada Orihime. Grimmjow mengangkat kedua alisnya, seakan menyuruh gadis itu agar segera meniup lilin. Zommari mengangguk pelan. Szayel tersenyum kecil. Aaroniero dalam wajah Kaien, mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum. Tousen, tentu saja tanpa ekspresi tetapi dia mengangguk.

Pemilik Shun Shun Rikka itu menoleh pada Cuatro Espada di sebelahnya. Ulquiorra menatapnya bingung.

"Mengapa memandangku? Bukankah seharusnya kamu meniup lilin kue ulang tahunmu?" Ulquiorra tersenyum kecil.

Mata abu-abu Orihime tergenang. Dia terharu. 'Keluarga' barunya… menyiapkan kejutan yang tidak pernah terpikir olehnya sama sekali.

Gadis itu mengangguk. Kemudian bersiap-siap akan meniup lilin.

"Happy birthday to you…"

Orihime menoleh pada pemilik suara itu. Grimmjow. Wajah Sexta Espada itu memerah karena dia tidak pernah menyanyi sebelumnya. Mata sapphirenya memandang Orihime, sedikit malu.

"Happy birthday to you…" sekarang Yammy, Starrk, dan Szayel ikut bernyanyi.

"Happy birthday…" suara Nnoitra, Zommari, Aaroniero dan Tousen ikut mengiringi suara-suara sebelumnya.

"… happy birthday…" Hallibel, Gin dan Ulquiorra melanjutkan syair dengan suara mereka.

"Happy birthday, dear Orihime..." Aizen menutup lagu 'Happy Birthday' itu dengan suara baritonnya.

Orihime tidak tahu harus berkata apa sekarang. Dia tersenyum namun air matanya membasahi pipinya. Gadis itu membuat permintaan, suatu ritual yang selalu dilakukan seseorang yang berulang tahun sebelum meniup lilin kue ulang tahunnya.

Ditiupnya ketujuh belas lilin itu dengan satu tiupan panjang. Ketiga belas orang di ruangan kecuali Gin yang sedang memegang kue dengan kedua tangannya, sontak bertepuk tangan.

"Terima kasih…" Orihime berkata pelan, air matanya masih mengalir.

Hallibel menghapus air mata Orihime dengan sapu tangannya. Mata hijau cerahnya tampak bahagia.

"Sama-sama, Orihime. Sekali lagi, selamat ulang tahun," Hallibel tersenyum.

Ini akan jadi ulang tahun yang tak akan terlupakan bagi Orihime.


Setelah selesai meniup lilin, sekarang adalah saat yang 'menegangkan' bagi para Espada. Pemberian kado ulang tahun. Jika Orihime terbukti tidak menyukai kado yang mereka berikan, sudah bisa dipastikan bahwa Aizen akan menceramahi Espada yang tidak beruntung itu mengenai 'selera' mereka tentang kado.

Orihime duduk di sofa yang terdapa di ruangan besar tersebut.

"Oke! Saatnya untuk membuka kado!" Gin tampak antusias.

Orihime tersenyum kecil. Apakah gerangan kado yang diberikan oleh 'keluarga' barunya?

Pertama-tama, tentu saja dari Aizen. Penguasa Hueco Mundo itu memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Orihime membuka kotak tersebut. Kado dari Aizen?

Di dalam kotak itu ada sebuah kunci berwarna emas. Mata abu-abu Orihime memandang Aizen dengan bingung.

"Itu kunci kamar barumu, Orihime. Setelah pesta malam ini, kamu tidak perlu menempati kamar di menara keempat itu. Aku sudah menyiapkan kamar baru untukmu di menara kelima ini," jawab Aizen sambil tersenyum.

Kamar baru? Oh Tuhan…

"Terima kasih, Aizen-sama!" Orihime sangat senang bisa mendapatkan kamar baru, namun dari lubuk hati terdalamnya, dia merasa sedikit sedih karena di kamar miliknya dulu… terdapat banyak kenangan bersama… Ulquiorra.

Sekarang Gin melangkah maju, namun tidak ada apapun di tangannya.

"Gin-sama, dimana kado milik anda?" Yammy bertanya, penasaran.

"Kadoku sudah dikenakan oleh Orihime-chan. Gaun yang cantik, bukan? Serasi dengan sepatunya juga," jawab Gin santai. Senyumnya santai.

Mata Orihime berbinar. Gaun indah ini adalah kado ulang tahunnya? Orihime masih tidak bisa mempercayai kalau Shinigami berambut perak di hadapannya ini ternyata sangat murah hati.

"Gin-sama, terima kasih! G-gaun pemberian anda…. sungguh indah. Terima kasih!" Orihime menganggukkan kepalanya, penuh hormat.

"Sama-sama, Orihime-chan!" Gin lalu tertawa kecil. Ternyata usahanya memilih gaun untuk gadis manis seperti Orihime terbayar dengan reaksi dari pemilik Shun Shun Rikka itu. Gin sampai harus ke dunia nyata dengan menggunakan gigai buatan Szayel, menghabiskan waktu berjam-jam mengitari pusat perbelanjaan di kota Karakura. Untunglah Orihime menyukainya.

Tiba-tiba sebuah kotak berwarna putih disodorkan tepat di depan Orihime. Tousen, tanpa nada berkata, "Selamat ulang tahun."

Orihime tersenyum kecil. Sebuah sunglasses vintage. Tampaknya sunglasses itu cukup mahal…

"Aku harap kamu menyukainya, karena Gin membantuku memilihkannya." Tousen berkata lagi.

Memang, Tousen dan Gin pergi ke dunia nyata bersama untuk mencari kado untuk Orihime. Shinigami buta itu tentu tidak bisa melihat desain dari sunglasses pemberiannya. Masalah memilih desain dia menyerahkan pada Gin, karena Tousen tahu, selera Shinigami berambut perak itu tinggi.

"Terima kasih, Tousen-sama! Sunglasses ini sungguh bagus! Aku tidak pernah memiliki sunglasses seindah ini!" Orihime berkata riang.

Sunglasses itu bertahtakan kristal Swarovski di pinggirnya. Orihime semakin yakin kalau harganya mahal.

Tousen mengangguk. 'Untunglah Orihime menyukainya, karena Aizen-sama juga bisa menceramahiku kalau gadis itu tidak menyukai kado pemberianku,' kata Tousen dalam hati.

Aizen kemudian duduk di sebelah Orihime. Jemari panjangnya membelai lembut rambut orange Orihime, membuat wajah gadis itu memerah. Aizen memang tidak pernah sungkan atau malu dalam menunjukkan kasih sayangnya untuk putri Las Noches itu.

"Ini baru hadiah dari para Shinigami, Orihime. Mari kita lihat apa hadiah yang diberikan para Espada untukmu," kata Aizen.

Ulquiorra merasakan sesuatu yang aneh saat melihat sikap Aizen terhadap Orihime itu. Entah mengapa, terasa sesak. Grimmjow, instingnya mengatakan kalau saat ini pasti Cuatro Espada yang sering adu mulut dengannya itu akan merasakan perasaan aneh. Mata sapphire Grimmjow memandangi Ulquiorra kesal saat mendapati kalau Arrancar pucat itu tidak menampakkan perasaan aneh yang diyakini Grimmjow sedang melandanya saat ini dan Ulquiorra tetap setia pada topeng tanpa ekspresinya.

'Emospada… sampai kapan kamu mau tetap pada pendirianmu dan tidak jujur? Mengesalkan,' kata Grimmjow dalam hati.

Orihime mengangguk mendengar perkataan Aizen.

'Tibalah saat yang menegangkan… Apalagi Aizen-sama duduk di sebelah Orihime,' Aaroniero bergumam dalam hati.

'Semalam Tia sudah membantuku membungkus kado ini… duh, semoga saja tampilannya tidak buruk,' Starrk berdoa dalam hati.

"Oke, siapa yang ingin memberikan kado terlebih dulu?" Gin bertanya pada kesepuluh Espada di dekatnya.

Barragan memberanikan diri untuk memberikan kadonya terlebih dahulu. Diberikannya sebuah silinder berukuran sedang bersampul emas pada pemilik Shun Shun Rikka itu. Barragan tanpa ekspresi namun sebenarnya, Segunda Espada itu sedikit berdebar-debar. Aizen tersenyum kecil melihat penampilan kado dari Espada senior itu. Orihime membuka silinder tersebut. Mata abu-abunya berbinar.

"Wah…! Barragan-san! Ini… cantik sekali!" Orihime berteriak senang.

Sebuah tiara sesuai ukuran kepala Orihime. Jika dibandingkan, desain dari tiara itu mirip dengan sisa topeng Hollow berbentuk mahkota yang ada di kepala Barragan, hanya saja ukurannya lebih kecil dan terdapat… bentuk heksagonal seperti Shun Shun Rikka miliknya.

"Terima kasih, Barragan-san! Aku suka sekali!" Orihime kemudian mengenakan tiara itu di kepalanya. Benar, sangat cocok. Gadis itu seakan seorang ratu sekarang.

Barragan menghembuskan nafas lega, kemudian mengangguk dan mundur.

Kali ini Zommari yang memberikan kadonya pada Orihime. Kado itu dibungkus seperti permen dan dihias pita berwarna ungu. Saat Orihime menyentuhnya, terasa… lunak?

Setelah dibuka, ternyata kado itu berisi sebungkus potpourri. Wangi lavender memancar dari bungkusan tersebut. Orihime merasa rileks.

"Aku berharap itu bisa membuatmu lebih menikmati meditasimu, Orihime…" Zommari bergumam pelan. Gadis berambut orange itu tersenyum.

"Aku suka wanginya. Terima kasih, Zommari-san!" jawab Orihime.

Aizen mencium potpourri di tangan Orihime itu. Septima Espada itu benar. Aroma lavender bisa membuat orang rileks.

"Seleramu bagus, Zommari." Aizen memuji Espada berkulit gelap itu.

"Terima kasih, Aizen-sama." Zommari kemudian mengangguk dan mundur.

Yammy yang tidak tahan dengan rasa tegang karena menanti pendapat Aizen mengenai kadonya, langsung maju menghampiri Orihime dan Aizen sambil menyodorkan kado darinya. Kado itu cukup mungil jika dibandingkan dengan telapak tangan Yammy yang besar.

Orihime tertawa kecil melihat penampilan kado itu. Yammy membungkusnya cukup rapi dan manis, karena oleh Cero Espada itu diikatkan sehelai pita berwarna pink. Aizen sedikit terkejut karena kata 'rapi' dan 'pink' benar-benar tidak sesuai dengan Yammy.

"Kamu membungkus kado ini sendiri, Yammy?" Shinigami berambut coklat itu bertanya pada Yammy.

"D-dengan sedikit bantuan dari yang lain, Aizen-sama." Yammy akhirnya mengaku.

"Kalian semua membantu Yammy untuk menghias kadonya?" Aizen bertanya pada sembilan Espada yang lain.

Nnoitra menepuk dahinya. 'Duh, Yammy! Seharusnya kamu tidak mengatakannya!'

"T-tidak, Aizen-sama. Bukan seperti itu," Yammy buru-buru menjelaskan, "… kemarin malam kami bersepuluh membungkus kado kami… bersama-sama… di kamar Ulquiorra!"

'Aduh, Yammy! Mengapa kamu mengatakannya pada Aizen-sama?' Grimmjow mengacak-acak rambut birunya.

"… di kamar Ulquiorra? Oh, aku baru tahu kalau kamar Cuatro Espada menjadi tempat yang nyaman untuk kalian berkumpul," Aizen berkomentar.

Orihime tersenyum kecil. Kamar Ulquiorra memang nyaman, apalagi kalau malam hari. Pemandangan dari kamar berkarpet hijau tua itu sungguh indah.

"Sebenarnya Hallibel, Ulquiorra dan Szayel-lah yang membantu tujuh Espada lain dalam membungkus kado, Aizen-sama. Kami tidak terampil," Yammy menambahkan penjelasannya.

Mata abu-abu Orihime melebar. Jika Hallibel dan Szayel membantu Espada yang lain, itu masuk akal, tapi… Ulquiorra membantu yang lain? Gadis itu tidak bisa membayangkan sosok Ulquiorra yang menggunting kertas kado dan menghias kado milik tiap Espada dengan pita berwarna-warni. Bagaimana wajah Cuatro Espada saat itu?

Aizen tertawa kecil. Gin mengeluarkan senyum rubahnya.

"Ternyata sepuluh Espada bisa bekerja sama dalam hal seperti ini, Aizen-sama. Ini sungguh menyenangkan!" Gin berteriak senang.

Aizen mengangguk. "Ternyata kalian semua bisa menjadi kompak dalam hal seperti ini. Aku bangga pada kalian."

Jarang-jarang Aizen memuji mereka seperti ini. Barisan terdepan Aizen itu sedikit merasa bangga akan pujian pencipta mereka itu.

"Terima kasih, Aizen-sama. Umm, Orihime? Kamu bisa membukanya sekarang," Yammy berkata lagi.

Orihime membuka kado dari Yammy tersebut. Sebuah vas kecil, bentuknya tidak seperti vas karena asimetris di beberapa bagian. Di permukaannya terdapat bentuk aneh, yang gadis itu yakin adalah cetakan dari ibu jari Yammy.

"Aku membuatnya sendiri, karena terlalu bersemangat… ibu jariku tercetak di situ," Yammy memelankan suaranya. Sebenarnya memalukan untuk mengakuinya tapi kalau sudah begini, bukankah lebih baik menceritakannya semua saja?

"Suerte…?" Orihime membaca tulisan yang ada di permukaan vas itu.

"Kamu tahu arti kata 'Suerte', Orihime?" Aizen bertanya pada gadis berambut orange di sebelahnya.

Orihime menggeleng.

"Itu bahasa Spanyol, artinya 'keberuntungan'." Aizen menjawab sambil tersenyum. Ternyata Cero Espada bisa memberikan kado seunik ini, buatan tangan pula.

"Wah, kado ini sungguh unik, Yammy-san! Terima kasih, aku menyukainya!" Orihime tersenyum juga. Melihat senyum gadis itu, Grimmjow dan Ulquiorra merasakan sesuatu yang menggelitik.

Setelah Yammy, Szayel si maniak pengetahuan memberikan kado miliknya. Kotak panjang bersampul coklat dan berpita emas. Orihime bisa merasakan air liurnya hampir menetes saat membuka kado dari Octava Espada itu. Sekotak Assorted Praline Chocolate dengan berbagai ukuran.

"Aku bisa menjamin kalau coklat itu tidak akan meleleh walaupun tidak diletakkan di dalam freezer. Coklat tersebut hanya akan meleleh pada suhu di dalam rongga mulut, dan rasa manisnya akan bertahan lama saat kamu memakannya, Orihime." Szayel terdengar sangat bangga akan kadonya. Kado itu adalah penemuan terbarunya yang memakan waktu tiga hari.

Orihime memakan salah satu coklat tersebut. Rasanya benar-benar enak.

"Aizen-sama, anda mau?" gadis berambut orange itu menawarkan Shinigami berambut coklat yang duduk di sebelahnya.

Aizen mengangguk pelan, lalu Orihime menyuapi penguasa Hueco Mundo itu. Mata emerald Ulquiorra melebar melihat Orihime yang sedang menyuapi Aizen dan dirinya merasa… kesal saat dia melihat Aizen menjilat jari telunjuk Orihime yang terkena coklat.

"…rasa coklat ini jauh lebih enak dibandingkan coklat yang dulu kamu berikan padaku, Szayel." kata Aizen.

Szayel tersenyum puas. "Terima kasih, Aizen-sama. Aku masih memiliki banyak persediaan coklat itu di laboratorium. Jika anda berkenan, aku akan memberikannya pada anda juga."

"Ah, terima kasih, Szayel. Tentu aku menginginkannya."

'Szayel memang bukan penemu biasa. Menyenangkan!' pemilik Shun Shun Rikka itu tersenyum kecil.

"Terima kasih kadonya, Szayel-san! Aku sangat menyukainya!" kata Orihime. Szayel menaikkan kacamatanya, puas.

Starrk lalu melangkah maju. Primera Espada itu menyerahkan kado miliknya. Kado itu hanya dibungkus oleh kertas coklat berpita coklat pula. Kado itu juga lunak, tapi ukurannya cukup besar. Apa ini?

Begitu dibuka, kado itu ternyata sebuah bantal. Bukan, sebuah cushion. Ada lukisan mini Las Noches di sarungnya. Bantal itu jelas buatan tangan, tetapi yang menarik perhatiannya adalah lukisan itu.

"Starrk-san, bantal ini unik sekali! Apa kamu menjahitnya sendiri?" Orihime bertanya kemudian memeluk cushion barunya itu.

"… tidak. Ti, umm… Hallibel yang membantuku. Aku tidak ahli dalam jahit-menjahit. Lukisan Las Noches itu, aku yang membuatnya…" jawab Starrk, dengan nada mengantuk seperti biasanya.

"Ini berseni tinggi, Starrk." Penguasa Hueco Mundo di sebelah Orihime memuji Primera Espada itu.

"Ah… terima kasih, Aizen-sama, atas pujiannya. Itu bukan seberapa dibandingkan dengan kado dari yang lain," jawab Starrk.

"Aku suka cushion pemberianmu, Starrk-san! Terima kasih!" Orihime berkata dengan senang.

Starrk tersenyum kecil lalu mundur dan menguap, seperti biasa.

Aaroniero menyerahkan kado pemberiannya. Novena Espada itu tidak tahu apa yang harus diberikan pada seorang gadis, jadi dia hanya bisa memberikan…

"Topeng Hollow yang sangat lucu!" Orihime menjerit senang.

Topeng Hollow itu berukuran sebesar wajah Orihime. Warnanya tidak putih pucat namun berwarna-warni, layaknya topeng yang dikenakan saat festival topeng. Sungguh terkesan etnik dan sama seperti kado dari Starrk dan Yammy, ini murni buatan tangan.

"A-apa kamu menyukainya?" Aaroniero bertanya. Jantungnya berdebar-debar.

Orihime mengenakan topeng itu di wajahnya. Gadis itu jadi terlihat sangat lucu. Aizen tertawa kecil, demikian pula Gin.

"Bagaimana, Aizen-sama? Gin-sama? Topeng dari Aaroniero-san sangat lucu, bukan? Menggemaskan!" Orihime lalu melepas topeng itu.

"Aku setuju, Orihime-chan. Topeng itu sangat lucu," Gin masih tertawa.

"Benar kan? Hehehe… Aaroniero-san, seharusnya kamu membuatkanku yang ukurannya lebih besar lagi, agar aku bisa menempelkannya di dinding kamar…" Orihime terkikik pelan.

Mendengar putri kesayangannya tertawa, Aizen menjadi senang. "Kamu lulus, Aaroniero. Hentikan gemetar di tanganmu itu, oke?" Aizen tersenyum lagi.

Ternyata dari tadi tangan Aaroniero gemetar, dan Aizen menyadarinya. Wajah Kaien milik Aaroniero sontak memerah malu. "Ba-baiklah, Aizen-sama."

Untunglah Orihime menyukai kado pemberiannya. Aaroniero sungguh bersyukur.

Nnoitra menyerahkan sebuah bungkusan bersampul merah. Ukurannya kira-kira dua puluh senti dan tidak lebar. Kado apa ini?

Quinto Espada itu memberikannya sebuah pisau. Di gagangnya terdapat batu… sapphire?

"Karena kupikir kamu membutuhkan sesuatu untuk melindungi diri selain… jepit rambutmu itu, Pet-sama…" Nnoitra berkata pelan, bingung apa yang harus dikatakan sebagai latar belakang pemberian kado tersebut.

Pisau itu jauh dari kesan benda tajam dan lebih terlihat sebagai kerajinan tangan. Batu sapphire di tengah-tengah gagang pisau itu yang menarik perhatiannya.

"Kamu membuatnya sendiri, Nnoitra?" tanya Aizen.

Nnoitra menggeleng. "Ini milikku pribadi, Aizen-sama. Sudah sangat lama. Hanya kuhias sedikit," jawab Nnoitra.

"… batu sapphire ini?" Orihime bertanya.

"Dulu ada yang mengatakan padaku kalau batu sapphire adalah batu keberuntungan orang yang lahir di bulan September, jika di dunia manusia," Nnoitra mendengus pelan. Sebenarnya orang yang memberitahunya tentang keunikan batu sapphire adalah mantan Tercera Espada, Neliel. Arrancar berambut hijau itu pernah bercerita padanya tentang jenis-jenis permata.

"Nnoitra?" Aizen memanggil Espada jangkung itu, dan membuyarkan Nnoitra dari lamunannya.

"Ya, Aizen-sama?" Nnoitra menjawab panggilan Aizen, dan memaki dirinya sendiri karena sempat-sempatnya dia memikirkan rivalnya itu.

"Orihime menyukai kadomu. Aku berterima kasih," kata Aizen. Mata coklatnya tidak berbohong.

Nnoitra mengangguk. Untung saja Aizen tidak memarahinya karena dia telah memberikan Orihime sebuah benda tajam.

Setelah Quinto Espada itu mundur, giliran Tercera Espada yang maju.

"Ini untukmu, Orihime. Selamat ulang tahun," kata Espada berambut pirang itu.

Kado dari Hallibel, dibungkus oleh kotak kecil berwarna biru muda. Orihime tertawa kecil melihat isi dari kotak itu.

"Kamu menyukainya? Aku membuatnya sendiri," kata Hallibel.

"Aku suka sekali! Kalung ini sangat cantik!" Orihime berkata senang.

Kalung itu terbuat dari kerang. Pemilihan bentuk dan warna kerang yang digunakan Hallibel sungguh sangat baik. Kerang-kerang tersebut berwarna warni dan Hallibel memberikan beberapa butir mutiara di tengah-tengah kalung panjang tersebut.

"Kalung yang sangat cantik, Hallibel." Aizen memuji satu-satunya perempuan dalam pasukan Espada miliknya itu.

Hallibel mengangguk. Tidak rugi dia menghabiskan semalam suntuk untuk mengerjakan kalung itu.

Tinggal Grimmjow dan Ulquiorra yang belum menyerahkan kado mereka. Grimmjow memandangi Ulquiorra, menyuruh agar Espada pucat itu memberikan kadonya terlebih dahulu. Sexta Espada itu muak melihat Ulquiorra yang tanpa ekspresi. Ulquiorra hanya menghela nafas.

"Kamu terlebih dahulu, Grimmjow. Aku terakhir saja." Ulquiorra berkata dengan datar.

"Cih, mengapa tidak kamu saja, Ulquiorra? Aku tahu kamu ingin memberikan kadomu untuk Pet-sama!" Grimmjow membalas.

"… nanti kamu akan tahu mengapa," jawab Ulquiorra lagi.

Grimmjow hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah maju. Kado pemberiannya dibungkus oleh kertas kado bergambar kucing. Orihime tertawa, entah darimana Grimmjow mendapatkan kertas kado seperti itu.

"… Ulquiorra yang memaksaku menggunakan kertas kado itu, jika tidak mau menggunakannya, dia tidak mau membantuku membungkus kado," Grimmjow, seakan-akan bisa menjawab pertanyaan Orihime.

Aizen mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Cuatro Espada yang kaku itu punya selera humor juga.

"Lucunya!" Orihime memeluk kado pemberian Grimmjow itu.

Sexta Espada memberikannya boneka kucing… dan yang membuat gadis berambut orange itu gemas adalah warna boneka itu, biru. Benar-benar Grimmjow.

"Aku suka kadomu ini, Grimmjow! Lucu sekali!" Orihime berteriak senang.

"Syukurlah kamu menyukainya, Pet-sama." Grimmjow menyeringai.

"Kamu membuatnya sendiri, Sexta?" Aizen bertanya.

Wajah Grimmjow memerah. "H-Hallibel membantuku juga… ini belum seberapa."

Grimmjow berbohong. Hallibel memang membantunya, Tercera Espada itu mengajarinya menjahit bersama-sama dengan Starrk namun berbeda dengan cushion dari Starrk yang murni dijahit oleh Hallibel, boneka kucing itu murni buatan Grimmjow. Jahitannya memang tidak begitu rapi dan karena Grimmjow tidak begitu terampil, wajah kucing yang semestinya gembira malah terlihat seperti sedang di sakaratul maut.

Pemilik Shun Shun Rikka itu tertawa karena ini. Benar-benar Grimmjow.

"Terima kasih kadonya, Grimmjow. Aku akan meletakkannya di samping bantalku," pipi Orihime memerah.

Grimmjow bisa merasakan perutnya geli. Duh, ada apa ini?

"Ulquiorra? Tinggal kadomu," Gin berkata dengan nada santai.

Espada pucat itu melangkah dan memberikan kadonya untuk Orihime. Sebuah kotak bersampul hijau, benar-benar Ulquiorra. Mulut Orihime menganga melihat barang yang ada di dalam kotak itu.

"Ini…" Orihime berkata pelan, masih takjub akan barang yang ada di tangannya sekarang.

"Ini sandrose Hueco Mundo, Orihime." Ulquiorra tanpa ragu menyebut nama gadis itu, membuat alis coklat Aizen terangkat.

"Sandrose? Wah, Ulquiorra! Bunga itu langka!" Szayel berteriak di belakangnya.

Ulquiorra mengangguk. "Memang iya, tapi saat aku pergi ke padang pasir beberapa hari yang lalu… ternyata tidak sulit untuk menemukannya," jawab Ulquiorra.

'Cih, Emospada. Ternyata ini alasanmu ingin memberikan kado di akhir sesi?' Grimmjow memutar bola matanya.

"Itu bunga yang unik," Barragan yang dari tadi diam bak patung tiba-tiba berbicara, "… coba kamu letakkan di bawah cahaya bulan."

Orihime meletakkan bunga itu di bawah cahaya bulan. Sekarang warna pasir dari sandrose itu berkilauan, gabungan dari ketujuh komposisi warna pelangi. Tak lama lalu berubah menjadi perak dan emas lalu kembali normal ke warna pasir. Mata abu-abunya berbinar. Ini sungguh indah.

Ulquiorra ternyata meletakkan sandrose langka itu di dalam resin, namun warna bunga itu tetap berubah-ubah seiring terkena cahaya bulan. Espada keempat itu mengawetkan bunga tersebut.

"… kamu menyukainya?" suara Ulquiorra terdengar lembut.

"Aku tidak menyukainya, Ulquiorra…" jawaban Orihime mengejutkan seluruh orang yang ada di ruangan penuh kaca itu.

Mata emerald Ulquiorra melebar mendengar jawaban Orihime. Semua orang pasti tertegun dengan keindahan bunga langka itu, tetapi Orihime tidak menyukainya? Ulquiorra tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar.

"Orihime…?" Aizen menjadi bingung. Penguasa Hueco Mundo itu yakin seratus persen kalau putri Las Noches itu pasti akan berkata kalau dia menyukai kado dari Ulquiorra.

"Aku tidak menyukainya…" Orihime berkata lagi. Jujur, itu membuat Ulquiorra sedikit kecewa.

"…hadiahmu ini, aku tidak hanya menyukainya, Ulquiorra. Aku sungguh jatuh cinta dengan sandrose pemberianmu ini!" Orihime mengakhiri perkataannya.

Nnoitra tertawa. "Ya ampun, Pet-sama! Kamu mengejutkan kami semua!"

"Orihime-chan… kamu berhasil membuatku terkejut, selamat." Gin tertawa kecil.

Mata emerald Ulquiorra sekarang memandang mata abu-abu Orihime yang memancarkan kebahagiaan itu. Gadis itu tidak main-main dengan perkatannya barusan. Orihime menyukai, bukan… dia jatuh cinta dengan kado pemberiannya…

"Terima kasih, Ulquiorra." Duh, senyuman itu lagi! Ulquiorra positif kalau wajahnya mulai memerah sekarang.

Aizen tentu terkejut dengan reaksi Ulquiorra ini. Tidak pernah sebelumnya Espada pucat itu… seakan salah tingkah seperti sekarang ini.

'Menarik,' pikir Aizen.

"Lain kali katakanlah langsung kalau kamu menyukai kadoku, jangan seperti tadi." suara rendah Ulquiorra sontak membuat senyum di bibir Orihime kembali mengembang.

"Hahaha… tentu saja Ulquiorra!" jawab Orihime.

Gin bertepuk tangan lalu tersenyum rubah. "Karena semua kado sudah dibuka, sekarang adalah saat yang kita nantikan…"

Grimmjow berteriak senang. "Yeah! Pesta!"


Chapter 10 selesai! Lumayan panjang ya?

Amee : Aku juga mau dikasih surprise kayak gitu pas ultahku bulan depan, Ijen!

Aizen : Minta memang gampang ya. Coba jadi yang bikin surprise. Repot.

Amee : Ijen pelit!

Orihime : Bener-bener 'Unexpected Surprise' lho, Author! Walaupun OOC, aku seneng banget!

Ulqui : Aku dapet peran penting di chapter ini ya, Author?

Amee : Yoa, Ulqui-kun sayang! Gak cuma sekarang aja lah, kamu kan tokoh utama!

Ulqui : * merinding saat Author manggil dia 'sayang' *

Grimmy : Sialan si Emospada! Kucing, kucing, kucing… *menggeram kesal*

Ulqui : Itu kerjaannya Author, Sexta. Kalau mau protes ke dia aja.

Amee : * udah minggat *

Orihime : Yah, udah pergi dia…

Gin : Well, readers.. ini baru sebagian dari rencana mantap untuk ultah Orihime-chan!

Orihime : Hee? Masih ada lagi?

Grimmy : Party!

Ulqui : *menghela nafas* Semoga chapter selanjutnya lebih baik…

Grimmy : Amin!

Ulqui : Akhir kata, jangan lupa review ya. Gracias. *tersenyum tipis*