~Pervert, but Why Is He Very Cool?~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T+ (untuk bagian hentainya )
Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)
Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Humor, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~
Summary :
Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!
Chapter 10
Apa yang akan diputuskan oleh Nagisa?
Membencinya … atau mencintainya?
Langkah kaki mulai terdengar di ruang makan yang sepi pengunjung tersebut.
Saa, kita lihat keputusannya.
Keputusan Nagisa yang akan menjadi ending fic ini.
~PBWIHVC~
"Mana Sensei?"
"Disana … !"
"Kejar dia!"
"Bunuh diaa!"
"Bakar diaa!"
"Goreng diaa!"
"Pudingkan dia!(?)"
"URYA!" Sang gurita terbang dengan kencang dari gerombolan kelas 3-E yang mengejarnya. Terbang sejauh mungkin dan mengelilingi hotel untuk membuat pusing kepala kelas 3-E.
Karasuma, dengan sigapnya menebar jaring di depan sang gurita terbang untuk menangkapnya.
"H-HUUAAA!" Suara sang gurita terdengar nyaring di sepanjang lorong yang langsung dikerumuni oleh kelas 3-E. Menusuknya dan menembaknya secara bergantian membuat suasana hotel tersebut cukup kacau.
"Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja!
Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja! Hampir saja!(?)" ucapnya setiap kali tusukan, pukulan atau tembakan tersebut nyaris mengenainya. Tidak hanya kelas 3-E, Karasuma beserta Bitch juga ikutan dari jauh
-10 menit kemudian-
"Haahhh... Hahh... "
Jangankan seluruh kelas 3-E, si target pembunuhan pun ngosh-ngoshan. Karasuma hanya menghela napas, sementara Bitch-sensei sudah kehabisan napas. Butuh napas dari Karasuma.
"Tapi … kau gila,Sensei! Menurut perjanjian kita, Sensei tidak boleh melukai kita, 'kan? Kau bawa kemana Karma dan apa yang kau lakukan padanya? Kenapa Nagisa bilang Karma sudah mati?! Gila, tiba-tiba sekali—"
"C-Chotto matte!" Koro-sensei panik. Apa tidak? Baru selesai diserbu dengan pisau dan peluru, sudah diserbu dengan pertanyaan...
"Btw, Nagisa dimana?"
Nakamura mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Gadis muda berambut biru itu tidak berada di kelompok tersebut.
"Hmm..." Nakamura tersenyum sendiri. Keputusan Nagisa …
BRUAKK! Dor! Dor! Dor!
"H-Huaaa!"
Dor! Dor! Dor! Dor!
"N-Nagisa...!"
Nakamura tersentak ketika mendengar nama "Nagisa". Dia … disini?
"Sensei … " Gadis muda itu muncul dengan dua senjata di kedua tangannya. Sarung pisau di kedua sisi pinggang, dan kantong yang berisikan peluru yang berada di belakang sarung pisaunya. Dengan tangannya yang mengacungkan pistol yang terus menerus melancarkan peluru.
"Chotto, Nagisa-san!" Koro-sensei semakin panik, sedangkan Nagisa terus melancarkan peluru sambil mengeluarkan hawa pembunuhnya yang khas di kelas 3-E.
Nakamura terdiam melihat Nagisa yang menyerang Koro-sensei.
Dengan ini, Nagisa menyatakan secara tidak langsung kepada Nakamura …
Bahwa dia membenci Karma?
~END~
[ ? POV]
Pintu kamar itu kubuka pelan. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan dengan kaki sedikit bergetar. Mataku menemukan … sebuah mayat di depan mataku.
Kulitnya putih, mulus. Bibirnya yang biasa merah kini pucat, memutih.
Aku masih ingat sekali terakhir kali kami bertemu. Badannya panas akibat demam, badannya dipenuhi peluh yang membanjiri tubuh kuatnya dan wajahnya yang merona merah juga sebab demam.
Kini, sebaliknya.
Perkataan Nakamura membuatku semakin bingung.
Tapi, aku pun tak percaya bahwa dia sudah tak ada.
"K-Kar … ma-kun."
Suaraku serak memanggil namanya, entah kenapa. Aku bahkan tak berani mendekati ataupun menyentuhnya.
Dia benar-benar mati? Aku pun tak yakin.
"K-Karma-kun, jangan mengabaikanku."
Kupaksakan tubuhku untuk bergerak mendekati mayat orang yang kubenci, walau takut. Kusentuh pelan lengannya, sangat dingin. Saraf autonomku bekerja dengan otomatis tanpa dibawah kehendak saraf sadarku. Bibirku kugigit pelan. Kugenggam tangannya dengan erat, merasakan dingin yang nyaris seperti es di Gunung Everst. Sebelumnya, detaknya sudah tak ada. Aku takut jika dia
Benar-benar mati.
"Karma-kun..."
Hatiku sakit, terasa perih. Aku sudah banyak melihat mayat yang bertubuh dingin, namun untuk pertama kalinya aku merasakan betapa perihnya melihat orang yang telah kehilangan nyawa. Perih... Sangat perih dan menusuk hatiku dengan tajam. Nafasku sesak. Rasanya ingin menangis. Kugenggam tangannya kuat. Tangannya mulai basah akibat air mataku. Mulutku tak mampu berkata-kata. Air mataku jatuh.
Aku menyukai Karma?
Tidak. Tidak perlu menggunakan tanda tanya, maksudku.
Aku menyukai Karma.
Walaupun dia menyebalkan dan mesum, itulah yang menyatukan kami. Air mata dan rasa sakit ini adalah buktinya.
Kumohon.
Jangan tinggalkan aku…
.
.
.
Aku tersentak kaget. T-Tubuhnya bergerak? T-Tunggu, kenapa?
Dengkurannya terasa. Kudekatkan wajahku. Napasnya terasa.
Hei, ini bukan sinetron-
(Cie, readers dan Nagisa kena troll)
"K-Karma-kun, bangun!" Kugoyangkan tubuhnya dengan kencang. PS yang sebelumnya dia mainkan kuambil. Kepalanya kupukul menggunakan PS tersebut. Hm, itu bukan sengaja,ya. Aku benar-benar kaget melihatnya masih hidup.
[Normal POV]
PLAKK!
"Woiy, sakit!"
Nagisa terkejut melihat reaksi Karma. Dia … masih hidup?
MATI SURI?!
"Karma-kun … masih hidup?" tanyanya masih dengan tatapan tak percaya. Karma–yang baru bangkit dari kubur– mengelus-elus kepalanya yang sedikit memerah akibat pukulan Nagisa.
"Cih, untung tak bengkak. Kau bertanya apa? Tentu saja aku masih hi—"
Ucapan Karma terpotong karena terkejut. Dia yang baru bangun dari sofa yang sempit itu langsung di serang oleh gadis yang menyambutnya tadi.
Bukan pisau karet yang selalu dia lemparkan.
Bukan peluru BB yang selalu dia tembakkan.
Bukan juga kalimat pedas ataupun ejekan yang selalu diucapkan.
Dan juga bukan PS yang baru saja dia gunakan untuk memukul kepalanya.
Melainkan sebuah PELUKAN HANGAT. Hanya untuknya.
HANYA untuk Akabane Karma
Karma membelalakkan matanya ketika merasakan kehangatan dari gadis yang telah lama dia sukai. Biasanya, dia yang memberikan ciuman atau apapun sejenisnya(?), namun kali ini sang gadislah yang memberikannya sebuah pelukan. Kehangatan tubuh Nagisa membuat Karma sedikit merona yang kali ini bukan karena demam.
"Yokatta..." gumam Nagisa pelan, namun terdengar jelas di telinga Karma. Karma mungkin sedikiy bingung, namun dia senang. Setidaknya, dia dinotis kali ini (T-T)
"C-Chotto,Nagisa-chan. N-Na–" Karma nyaris kehabisan napas akibat eratnya pelukan Nagisa. Ingin protes, namun tak jadi. Betapa hangat pelukan dan senangnya hati membuat dirinya terpaksa menahan sesaknya dada.
"Nagisa-chan, aku tidak apa-apa." Karma memegang kedua bahu Nagisa, namun tak ada respon dari Nagisa. Dia menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke dalam tubuh Karma. Karma merasakan sesenggukan dari Nagisa yang membuatnya terkekeh pelan.
"Menangis? Sampai segitunya … "
Nagisa terdiam, merona akibat malu. Dia ketahuan menangis akibat terlalu bahagia. "Diam."
Karma menyerah. Dia menepuk-nepuk kepala Nagisa pelan ketika merasakan sesenggukan dari Nagisa, mengelus-elus kepala Nagisa dengan lembut.
"Tanganmu... hik," Nagisa merona. Ketahuan banget dia menangis. "dingin..."
"Oh, ini? Dibawa si gurita ke Gunung Everst."
Nagisa terdiam. "Gunung Everst?"
Karma mengangguk.
"Dan kau menyetujuinya?"
"Dia membawaku secara tiba-tiba. Jangan salahkan aku."
Nagisa bersumpah akan membunuh guru tercintanya setelah ini. "Kupikir … kau mati..."
Karma terkekeh pelan. "Jadi, tampangku sudah seperti mayat, begitu?"
"Kulit dan wajahmu pucat. Dan tiba-tiba kau tak bergerak saat kita bicara." Karma terdiam dan berpikir sejenak. "Ah, itu?"
Karma memegang bahu Nagisa, berusaha menjauhkannya. Tapi, Nagisa masih tetap tidak ingin mengubah posisinya.
"Tetap seperti ini...hiks," Aduh, malunya. Sesenggukannya kedengaran lagi. "Aku tak ingin kau melihat wajahku."
"Tenang saja, wajahmu tetap manis walau menangis."
Sukses, Karma dapat pukulan tepat di dadanya.
"Ittai. Kalau kau ingin tahu, lirik ke arah samping kirimu."
Nagisa melirik ke arah kiri, sesuai dengan perintah Karma walau masih dalam posisi berpelukan. Dia tersentak. Dia melepaskan pelukannya dan mengambil 'sesuatu' yang ditunjukkan oleh Karma.
"N-Narkoba?" ucap Nagisa ketika menemukan sebuah obat.
Karma sweatdrop. "Sebejat-bejatnya dan semesum-mesumnya aku," Idih, dia ngaku dia mesum. "Aku tak akan pergi ke jalan yang gelap seperti narkoba, seks bebas atau geng motor. Palingan bertengkar dan menjahili orang."
Nagisa sweatdrop. "Jadi … ini obat apa?"
"Obat tidur. Gurita itu memaksaku meminumnya tepat sebelum kau masuk ke kamar."
Nagisa mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
Karma mengangkat bahu. "Entahlah... Efeknya masih terasa. Kepalaku sakit."
Mata Karma tampak sayu(?) membuat Nagisa sedikit panik. "K-Karma-kun, kepalanya yang sakit? Apa ada bagian lain? E-Eto, seperti ada yang terluka begitu?"
Karma menggeleng. "Tidak apa, Nagisa-chan. Aku baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum tipis.
Nagisa menatap Karma masih dengan tatapan cemas. Namun, sebuah julukan yang disebutkan oleh Karma di ceritanya membuat hawa pembunuhnya bocor keluar.
"Karma-kun, tubuhmu masih dingin. Bagaimana kalau kubuatkan teh hangat? Setelah itu, istirahat di kamar. Aku ingin melakukan 'sesuatu'"
Karma terkekeh pelan. Dia bisa menduga 'sesuatu' yang akan dilakukan oleh Nagisa.
"Silahkan..."
~PBWIHVC~
"Sensei~"
Tembakan kembali terjadi.
"Kau apakan Karma-kun,hm~?"
Senyumannya membuat seluruh kelas 3-E merinding.
"H-Hanya membawanya jalan-jalan ke Everst!" jawab si gurita dengan panik.
"Hanya? Sampai meminumkannya obat tidur. Kau ingin apakan dia?! Kalau dia benar-benar mati, bagaimana?! Sensei mau tanggung jawab?!"
Koro-sensei diam.
Kelas 3-E diam.
KaraIrina diam.
Author diam.
"N-Nagisa … marah nih ceritanya?"
"Berarti, dia sudah ke kamar Karma?"
Nakamura berteriak senang dalam hati.
"T-Tapi, dia tak mati, 'kan?"
"Kalau dia mati, bagaimana?! Kalau sebentar lagi dia mati gimana?! Obat tidur... Kau benar-benar Sensei bejat! Sensei macam apaan itu?!"
Aduh, Nagisa …
"Mana mungkin dia mati sebentar lagi, Nagisa..."
"Kalau dia mati, gimana?!" Dor! Sugino dapat tembakan peluru BB. "Kau ingin tanggung jawab?! Hoiy, jawab aku!"
"N-Nggak..." Sugino diam. Nagisa sudah kayak emak-emak PMS.
"I-Iya, Sensei minta maaf …" Bahkan si target pembunuhan tunduk padanya.
"Minta maaf ke Karma sana!"
Perintah Nagisa dituruti. Gurita itu berjalan pelan melewati Nagisa...
Dor!
"Cepat jalannya, dasar gurita!"
Koro-sensei langsung lenyap.
Kelas 3-E cengo.
"N-Nagisa … "
Nagisa terdiam melihat siluet sang guru yang terbang menuju kamar Karma. Terdiam... Diam...
Nakamura mencoba mendekati Nagisa. "H-Hm, Nagisa?"
"H-Hikss.."
Nangis.
Ok,dia nangis.
"E-Eh?!" Nakamura langsung menatap Nagisa. "K-Kenapa, Nagisa?"
"N-Nakamura... " Nagisa mengusap air matanya. "Aku menyukai Karma... B-Bagaimana ini?"
Nakamura diam. Mengedipkan mata beberapa kali, kemudian tertawa pelan.
"Syukurlah..." ujarnya lembut sambil mengelus pelan rambut Nagisa. 'Dapat OTP dan mainan baru... Khihihiiii'
Asem.
Dengan ini, kunyatakan …. Karyawisata kelas 3-E berakhir.
-SISI LAIN-
Slurp...
Dengan santainya, Karma menyeruput teh hangat buatan Nagisa. Teh itu nyaris muncrat akibat pintu yang tiba-tiba terbuka lebar.
"K-Karma-kun, rencanannya berhasil... Walau tadi Nagisa sudah seperti emak-emak PMS."
Karma terkekeh mendengar keluhan gurunya. "Aku benar-benar tak menyangka bahwa dia sampai menangis melihatku yang tidur akibat obat tidurmu, Sensei..."
"Menangis?" 'Yes! OTP baru!'
Karma mengangguk. "Terimakasih atas kerja kerasmu, Sensei~ Saat pulang nanti, akan kukirimkan satu kardus majalah bokep limited edition."
Sukses, mata gurita tersebut berbinar-binar.
~PERVERT, BUT WHY IS HE VERY COOL?!~
TO BE CONTINUE!
AKU DAPAT IDE! IDE! IDE!
Jadi,ini takkan kutamatkan dulu!
Next Chapter :
-KaruFemNagi : Malam sebelum pulang-
Fokus ke romance lho~
Balasan review :
Gery O Donut : Ke gunung Everst ada maksud terselubung:3 Udah apdet kok. Arigatou~
Alacrite: Ngakak? Bagaimana manah yah? Padahal aku tak memasukkab genre humor saat karyawisata:3 Arigatou~~~
Fanny Lim: Gomen... Aku ngga bisa buat panjang-panjang... T-T. Aku di Riau. Salam kenal-ssu~
Yuujin A: P-Panik? ... Kok tahu Karma pura-pura MATI?!
Arigatou dukungannya~
Boleh juga tuh... Oneshoot, isi ceritanya penyakit mesum Karma kambuh. Rate M sekalian /eiy
Tamu-san: Kiss? Peluk aja yah~
Arigatou sudah mereview~
Terimakasih atas dukungannya.
Sekian.
Salam,
Ivy-chan9 dan Mari-chan
