Midnight Talk
By Arianne794
Lu Han (GS) / Oh Se Hun
Romance, General
Short-Fic/T
Warn : This is GenderSwitch!Lu. Don't like Don't read. Purely tribute for my lovely big-sist, who was going to Japan, right on my birthday, *cry, person who also gave me this plot. Hhh, nappeun yeoja.
.
.
.
Buat seseorang yang merasa pernah memberikan plot ini. Ini tambahan buat kamu selain Secretary Lu. :"(
Summary : (10th) (Tribute for someone) Slice of Life. Midnight Talk, coffe-chocolate, ring. HunHan. GenderSwitch.
.
This is My OWN FanFic!
Do Not Copy Without Credit Nor Do Plagiarism!
.
27 tahun. Itu adalah umur di mana seorang lelaki mencapai kematangannya. Dengan berbekal surat kelulusan S2 dari Harvard dengan sabetan IPK sempurna, mengantarkannya ke kursi salah satu gedung pencakar langit Seoul di mana ia menyematkan plang lisensi pribadi atas bakat arsiteknya. Butuh segelontor uang dalam jumlah nol banyak untuk mendapatkan jasa tangan emasnya, begitulah. Sehun jadi teringat kalimat Ayahnya dulu saat ia hendak berangkat ke luar negeri untuk mengenyam pendidikan S2nya; semua akan mudah jika engkau berpendidikan tinggi dan mampu memanfaatkan potensimu. Well, itu benar.
Setidaknya, hal itu jugalah yang membawanya kepada keberuntungan lain. Siapa sangka gadis cantik yang tak sengaja ia tabrak saat keluar dari ruang rektor Harvard di hari pertamanya menjadi salah satu orang dari sebagian kecil orang-orang terdekatnya? Gadis cemerlang berdarah China yang saat itu disibukkan dengan kuliah S2 semester mudanya—ia terpana saat tahu gadis itu 3 tahun lebih muda darinya. Lu Han namanya. Bukan gadis pertama yang membuatnya berdebar; bukan pula gadis dengan aura magis seperti mantan kekasihnya dari Paris sana; bukan pula gadis yang membuat seluruh persendian lelaki leleh hanya saat ia melintas dengan pesona dewasanya; melainkan gadis pertama yang semilir aromanya mampu membuat Sehun lemas, gadis pertama yang mampu membuat Sehun merasakan kehangatan yang mirip dengan kehangatan ibunya. Gadis sederhana, yang membawa mimpinya ke fakultas Art and Science.
Hubungan mereka berjalan manis, sama dengan pasangan-pasangan muda lainnya. Mungkin beberapa saat mereka melewati masa diam karena beberapa masalah; yang memasang rekor terlama sampai terhitung setengah tahun adalah ketika Sehun mengutarakan keinginannya untuk melihat Luhan berada dirumah saat ia pulang kerja. Tentu saja itu menyentil Luhan. Namun pada akhirnya, Luhan mendatangi Sehun dan setelah memberikan ciuman terdalam selama hubungan mereka; Luhan mengatakan ia akan mengikuti semua kemauan Sehun. Gadis itu memberi kuasa penuh masa depannya kepada Sehun.
Dan ya, Sehun yang kala itu tengah diliputi segala keegoisan dan kediktatorannya meleleh seperti cokelat yang ditemper. Kesungguhan yang terpancar dari mata Luhan sanggup menyentuh hati terdalamnya; membuatnya sempat menangis memalukan di pelukan Luhan yang terkekeh manis saat itu.
Luhan kini menjadi dosen pengajar di salah satu universitas negeri yang reputasinya cemerlang. Mereka belum menikah. Hanya komitmen tak tertulis yang mereka pegang teguh sampai sekarang. Sehun berpikir, Luhan masih muda dan ia pikir karir mereka masih punya banyak waktu; lagipula mereka masih muda. Hubungan mereka berjalan hitungan tahun tanpa ada kejenuhan yang digadang-gadang sebagai momok bagi pasangan seperti mereka—dan Sehun sangat bersyukur akan itu.
Cklek!
Suara itu mengalihkan Sehun dari pekerjaannya dan membuatnya menoleh ke arah pintu ruang kerjanya. Di mana Luhan tengah berjalan setengah terpejam dengan piyama yang lumayan berantakan seperti rambutnya; namun samasekali tak mengacaukan kecantikannya di mata Sehun.
"Ini tengah malam, Luhan. Kenapa kau kesini?" tanya Sehun setelah melirik jam dinding yang terlihat remang karena ruang kerjanya ini hanya diterangi lampu meja.
"Katakan itu pada dirimu, Sehun; tidakkah kau bisa mengerjakannya esok hari? Demi Tuhan aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau memelukku sepanjang malam." Gerutuan panjang Luhan ia sambut dengan kekehan pelan.
Pekerjaan Luhan akhir-akhir ini memang cukup menguras tenaga serta waktunya; membuat intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang. Yah, ini sudah menjadi resikonya dan ia tak bisa memprotes. Pun ia sering meninggalkan Luhan karena pekerjaannya, seperti saat ini. Luhan menyempatkan diri pulang ke apartemennya dan ia malah sibuk dengan pekerjaannya. Sungguh, kalau itu Sehun mungkin ia akan ngambek berhari-hari.
"Sehun jangan melamun." Kata Luhan saat menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Sehun. Sehun mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Luhan yang tertelungkup ke meja itu, lantas menyingkirkan pekerjaannya. Luhan selalu bisa menjadi alasan.
"Kau ingin kembali tidur?" tanya Sehun pelan. Luhan menggeleng tanpa suara, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Sehun yang tengah tersenyum hangat.
"Besok aku libur," katanya, "jadi tidak masalah jika aku menemanimu sepanjang sisa malam." Sehun melebarkan senyumannya. "Mau aku buatkan kopi?" tawarnya dan Luhan langsung mengangguk. Setelah itu ruang kerja Sehun senyap karena Sehun melangkah keluar.
Luhan mengedarkan pandangannya begitu ia merasa familiar dengan suasana ini; suasana apartemen yang mereka bagi saat kuliah dulu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama ditengah malam menjelang dini hari saat tugas-tugas akhir mulai menumpuk dan siang hari mereka habiskan untuk bolak-balik dosen pembimbing. Mengobrol kesana kemari tanpa topik jelas yang nyatanya mampu sedikit meringankan lelah serta menerbitkan senyum di belah bibir masing-masing.
"Memikirkan apa?" Luhan terkejut mendengarnya, lalu ia menggeleng pelan. Tak lama bibirnya mengerucut saat menerima mug couple mereka yang bercorak putih-biru itu dari Sehun. Matanya mendelik ke arah Sehun yang sudah duduk.
"Apa?" Sehun bertanya dengan senyum menyebalkannya.
"Aku selalu saja tertipu; harusnya aku membuat sendiri agar bisa benar-benar meminum kopi, bukan coklat panas ini!" Luhan berkata sengit pada Sehun yang sudah mulai meminum kopinya.
"Kopi tidak baik untuk kesehatan, terlebih di tengah malam begini." Komentarnya ringan dan Luhan mencibir. "Lalu kenapa kau meminumnya?" kesal Luhan. Sehun menyeringai lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan.
"Karena kalau aku sakit ada kau yang merawatku, sedangkan kalau kau yang sakit, aku akan ikut sakit karena rasa khawatirku." Katanya. Luhan mencibir lagi namun kali ini dengan senyuman. "Egois sekali." Sehun mengedikkan bahunya.
"Setidaknya ada siratan 'aku tidak mau kau sakit' disana; harusnya kau bilang itu manis, Luhan." Kata Sehun. Luhan mengulum bibirnya. "Hanya kau yang terang-terangan membongkar rayuanmu sendiri, Sehun... Kau sekali."
"Tapi kau suka, kan?" Sambar Sehun cepat. Luhan terkikik manis.
"Well," katanya, "suka sekali." Dan Sehun tak dapat menahan tawa kecilnya.
"How about your work? Apakah mahasiswamu membuat masalah?" tanya Sehun.
"Nope, mereka baik-baik saja kecuali bagian rayuan mereka, some of them I mean." Jawab Luhan tenang dan jawaban itu membuat Sehun tegak.
"Aku 24 dan mereka 21; apa yang kau harapkan, hmm?" Sehun mendengung mendengarnya. "Kau tidak perlu menekankan bagian umurnya, Luhan... Menyinggung sekali."
"Mereka hanya 3 tahun dibawahku, tidak seperti kau dengan semua gadis-wanita-ahjumma yang mendekatimu! Oh, gadis-gadis SMA labil dan ahjumma-ahjumma yang menggodamu itu." Luhan sedikit menyengit di akhir kalimat. Ia memang sering mendapati Sehun digoda banyak perempuan dari berbagai rentang umur; dan itu sangat membuat Luhan tidak nyaman.
"Tapi yang aku cintai hanya satu; gadis 24 tahun yang sering merajuk seperti anak kecil. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa hanya ia yang aku cintai." Sehun menyeringai menyebalkan saat mengatakannya.
"Aku?" tanya Luhan polos. Sehun mendekatkan wajahnya dan berkata tepat di depan bibir Luhan. "Ya, kau... Siapa lagi, huh?"
Luhan tertawa lembut mendengarnya. Sehun bukan lelaki romantis sebenarnya, namun kata-kata sederhananya selalu bisa membuat Luhan tersipu. Luhan kembali menyesap coklat panasnya kemudian ia mendecak; ia ingin aroma kopi yang memenuhi rongga mulutnya. Lalu ia menyeringai tipis sambil meletakkan mugnya saat sebuah pikiran jahil terlintas dipikirannya; sedikit bermain-main tidak masalah kan?
"Oppa..." Sehun langsung tersedak. "Aku mau minum kopi... Ya?" Luhan melanjutkan kalimatnya dengan nada manja dan menggemaskan yang hanya ia tampilkan ketika Sehun 'ngambek' atau ketika ia menginginkan sesuatu namun Sehun tidak mengijinkannya.
Sudut bibir Sehun berkedut, ingin tersenyum melihat tingkah Luhan. Oh oh oh... Lihat lihat... Gadis yang sangat ia cintai itu tengah menangkupkan tangannya di depan dada sambil mengerjapkan kelopak matanya.
"Aku kalah... Aku kalah..." Sehun langsung menyodorkan mug kopinya yang masih tersisa banyak itu ke Luhan yang kini tersenyum lebar.
"Yeay! Terimakasih, Oppa~" kata Luhan lalu langsung menyesap kopinya. Hhahh, ia mendesah puas saat aroma kopi menyeruak kedalam rongga mulutnya. Lalu tak lama ia menangkap gestur Sehun tengah terkekeh pelan sambil memijiti hidung mancungnya.
"Kenapa?" tanyanya geli. Sehun hanya menggeleng pelan lalu menatap Luhan dengan senyumannya.
"Kau," kata Sehun, "aku selalu kalah saat kau memanggilku Oppa dengan nada seperti itu. Sungguh Luhan, itu membuatku tergelitik."
Luhan tersenyum kekanakan.
"Dan kurasa itu 'tergelitik' yang menyenangkan." Kata Luhan. Sehun mengangguk mengiyakan. Lalu saat Sehun meraih mug cokelat panas dan sekilas memperhatikan corak birunya; tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sehun lantas meletakkannya dan membuka laci meja kerja sebelah kirinya. Saat terbuka Sehun tersenyum tipis melihat tatanan laci itu tak berubah tatanan barangnya, bahkan ada sedikit lapisan debu tipis disana.
"Kau tidak pernah membuka laci ini?"
"Tidak. Kau tidak mengijinkannya dan aku membersihkan seluruh apartemen kecuali laci itu." jawab Luhan.
"Padahal aku berharap kau merasa sangat penasaran dan diam-diam membukanya." Kata Sehun. Luhan mengernyit. "Aku memang penasaran, tapi aku tak mau melanggar privasimu. Memangnya ada apa di sana?"
Sehun mengambil sesuatu berwarna biru gelap elegan dari dalam laci itu dan menutupnya, lalu memperlihatkan isinya kepada Luhan. Luhan hampir menjatuhkan mugnya melihat apa yang tengah diperlihatkan Sehun.
"I-ini..."
"Ya, ini cincin yang ingin kau beli di Paris liburan tahun lalu. Tapi kau tidak memberitahuku setelah melihat harganya." Kata Sehun. Luhan menatap berulang-ulang antara Sehun yang tersenyum lembut dan sepasang cincin emas putih elegan di dalam kotak beludru biru itu.
"Kau menyukainya?" tanya Sehun. Luhan mengangguk kacau dengan air mata yang sedikit meleleh. "Bagaimana bisa aku tidak menyukainya?"
"J-jadi, bagaimana? Kau menerimaku?" tanya Sehun sedikit terbata, ia merasa gugup saat ini. Bisa terlihat dari wajahnya yang sedikit memerah.
"Memangnya kau menanyakan apa?" Sehun melongo tak percaya pada Luhan yang kini tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
"Oh astaga, aku sudah mau mati menunjukkannya padamu dan kau malah menggodaku? Aku kira kau akan menangis bahagia dan langsung memelukku... Aih, Luhan..." Sehun berkata frustasi dan menyembunyikan wajahnya ke meja. Luhan tertawa melihat tingkah menggemaskan Sehun yang sangat jarang ia lihat ini.
Luhan bangkit mendekati Sehun. "Sehun..." kata Luhan. Sehun mengerang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. "Apa?"
Luhan meraih tangan Sehun yang menutupi wajahnya dan mendapati wajah Sehun lebih merah dari sebelumnya. "Kau gugup melamarku begitu?" tanyanya setengah geli. Sehun mengangguk pasrah. "Aku gugup, aku takut. Aku takut kau kecewa karena aku tidak romantis, tapi saat pikiran ini terlintas aku tak bisa menahan diri..."
Luhan naik ke pangkuan Sehun dan langsung mengalungkan tangannya ke leher kokoh Sehun. Sehun menatapnya dengan satu alis berjengit. "Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu?" Luhan menggeleng sambil tetap tersenyum sumringah.
"I do... I will... Apapun jawaban yang kau inginkan dipikiranmu, anggap aku telah mengatakannya." Kata Luhan. Sehun terkekeh tak percaya. "Baiklah baiklah... Jadi, kapan?" Luhan membuat gestur berpikir yang membuat Sehun menggeram tak tahan.
"Awal musim panas." Kata Luhan. "Hmm, kau mau bulan madu di pantai?" Sehun meletakkan tangannya dipinggang Luhan dan meremasnya sensual. Sedangkan Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun.
"Wanna some? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama." Bisik Luhan tepat di depan bibir Sehun. Sehun menyeringai tipis sebelum mendekatkan pinggang Luhan dan menyatukan bibir mereka. Sehun menyesap belah bibir atas Luhan dan Luhan melakukan hal yang sebaliknya. Mereka terus bergerak mencari posisi ternyaman. Saat Sehun menelusupkan lidahnya dan mencicipi aroma kopi-coklat di rongga mulut Luhan, gadis itu tersentak kecil lantas meremas tengkuk Sehun.
Sehun melepaskan tautan itu setelah mengecupnya mesra. Matanya berkabut melihat wajah sayu dari gadis yang sedang dipangkunya ini, terlebih dengan bibir yang basah.
"Should we finish this midnight talk and go to the bed?" bisik Sehun diperpotongan leher Luhan sambil menyesapi aroma Luhan yang menggeliat resah. "What for?"
Sehun menjauhkan wajahnya dan tersenyum mesum pada Luhan. Namun anehnya Luhan malah mengulas senyum jahilnya.
"Do something to redeem my desire?"
Luhan terkikik sambil menggelengkan kepalanya. Sehun berjengit mengantisipasi apa yang tiba-tiba melintas dipikirannya. Ini pernah terjadi dengannya beberapa kali, jika ia sedang dilanda gairah dan Luhan malah terkikik ceria, itu berarti—
"Aku ubah pikiranku. Aku mau tidur dan kau harus memelukku sepanjang sisa malam. Memeluk dalam artian normal dan tak ada 'sentuhan mengambang'."
—oh tidak. Sehun mengerang tak percaya.
"Astaga, kau mempermainkan aku?" Luhan mengangguk tanpa dosa. Luhan kembali terkikik melihat wajah mengenaskan Sehun dan memeluk leher Sehun lebih erat; Sehun takkan berani memaksanya, sekalipun Luhan tahu teman Sehun di bawah sana sudah mulai bereaksi.
"Sudah lama aku tidak tidur di pelukanmu Sehun, kalau kau lupa..." katanya sedikit mengeluh. Dan mau tak mau Sehun tersenyum mendengarnya.
"Hmm... Aku tak akan memaksamu." Gemas Sehun lalu menggigit kecil ujung hidung bangir Luhan. Sehun membawa Luhan ke gendongannya dan mereka berjalan menuju kamar utama di apartemen itu.
"Sehun..."
"Hmm?"
"Karena kau sudah bersikap baik, bagaimana kalau 'sarapan' pagi?"
"Oh, Luhan, aku tidak akan melepaskanmu besok pagi!"
"Aku tidak berniat melepaskan diri kok."
Satu ciuman tercipta sebelum keduanya menutup kelopak mata dalam keadaan berpelukan erat.
.
END
.
(Pojok curhat, tidak perlu dibaca)
"Kayanya keren banget kalau kita 'midnight talk' sama pasangan kita, terus tiba-tiba dilamar gara-gara hal kecil. Akhh, Ana, aku ada plot, kamu buatin yaaa… Slice of life, HunHan, terus mereka blablababla…"
I remember when 'excited' you still thinking crazy 'bout HunHan, between your dmnsht exam and whatever.
Neo nappeun yeoja! Why did you let me know from another one?!
(P.S. Sepertinya apriltaste akan update besok siang. Ditagih huhuhu… l**********n juga, tehe. Besok banyak yang bakal update. Saya update sendirian, besok tidak ada waktu. :")
.
Anne, 2017-08-19
