Naruto : Masashi Kishimoto-san
SHARINGAN : Namikaze Asyifa
Pairing : SasufemNaru
Rating : T
Genre : Supranatural (maybe) and Hurt/Comfort
Warning : berupa cerita gaje, alur super cepat, typo(s), sedikit OOC, fem!Naru, OC, etc…
Summary :
Naru pergi, akibat ulahnya yang bodoh. Dan Sasu tidak tahu bahwa wanitanya telah melahirkan anaknya. Disaat ia telah bertemu dengan wanitanya, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya kembali. Ia juga harus menyingkirkan teman Naruto yang menaruh hati pada wanitanya. Tapi tenang, si kembar akan menjaga kaasannya sampai kembali ke pelukkan tousannya. Lalu bagaimana dengan nasib Itachi?
A/N :
Uchiha Sasuke : 25 tahun
Uzumaki Naruto : 24 tahun
Uzumaki Izuna, Uzumaki Yuki : 6 tahun
Sabaku no Gaara : 25 tahun
.
.
/DON'T LIKE, DON'T READ\\
.
.
.
Seminggu setelah kabar keberadaan Kyuubi yang disampaikan oleh Sasuke, aura Itachi mulai terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya. Terlihat lebih cerah walaupun tidak secerah Naruto dan Yuki tapi cukup cerah untuk ukuran seorang Uchiha. Sangat cerah. Selain itu, ia lebih sering menyebarkan senyum menawannya yang kadang-kadang membuat bungsu Uchiha merasa kesal sendiri karena salah satu korban dari feromon Itachi adalah Naruto, matenya.
Itachi terus menunggu kedatangan Kyuubi ke Jepang walau itu belum pasti terjadi. Tapi ia sangat yakin kalau Kyuubi, lovenya, kitsunenya pasti kembali ke tanah kelahirannya. Jepang. Kembali ke pelukannya dan berubah marga menjadi Uchiha. Uchiha Kyuubi. Kedengarannya sangat cocok, bahkan Itachi pasti akan tersenyum-senyum sendiri dengan pemikirannya.
Jika Naruto bisa membuat Sasuke gila. Maka hanya Kyuubilah satu-satunya perempuan yang bisa membuat sulung Uchiha yaitu Uchiha Itachi gila.
Saat ini, entah yang keberapa kali, Itachi berkunjung ke kediaman Iruka. Hanya untuk menunggu kedatangan Kyuubi yang masih samar-samar. Ditemani dengan Sasuke yang masih belum mendapatkan jawaban dari Naruto, Itachi dan adiknya itu melangkahkan kakinya memasuki rumah sederhana tempat sementara Naruto dan kedua buah anaknya bernaung sampai kemudian akan berpindah ke mansion Uchiha.
Sesaat setelah memasuki pekarangan rumah Iruka, Sasuke melihat sebuah mobil lain yang tengah terparkir di halaman rumah Iruka. Sayangnya, Sasuke sangat tidak menyukai keberadaan mobil itu beserta dengan pemiliknya, siapa lagi kalau bukan Tuan Panda Berambut Merah. Sasuke terlalu sibuk kalau hanya untuk mengingat nama pemuda merah itu, jadi menurut Sasuke julukan itu lebih tepat.
Sejak lima hari yang lalu, Gaara memang tidak pernah absen untuk tidak mengunjungi rumah Naruto. Setelah mengetahui kalau Naruto belum terikat pernikahan dengan ayah biologis Izuna dan Yuki, Gaara semakin gencar untuk mendapatkan cinta Naruto. Dan itu berhasil membuat Sasuke uring-uringan.
Izuna dan Yuki sediri, tentu tidak tinggal diam. Mereka berusaha menyingkirkan Gaara dengan caranya sendiri. Izuna semakin sering berlatih menggunakan kekuatan matanya untuk menakut-nakuti Gaara. Begitu pula dengan Yuki, ia sangat dingin kepada Gaara. Kadang-kadang ke-dingin-an Yuki bisa membuat Itachi yang tak sengaja lewat bergidik ngeri. Namun sayangnya, itu semua tidak berhasil membuat Gaara mundur.
Tak ayal, perang dinginpun terjadi antara Gaara dengan Sasuke berserta Izuna dan Yuki.
Sayangnya, Naruto tidak pernah mengetahui hal itu. Yang Naruto ketahui hanyalah Gaara berkunjung karena ingin bernostalgia sedang Sasuke datang untuk menemani Itachi menunggu kedatangan Kyuubi. Naruto menganggap Izuna semakin sering berlatih hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tidak baik, ia bisa menolong keluarganya. Dan Yuki yang berubah menjadi dingin karena beberapa hari ini Naruto tidak membuat ramen.
Tidak peka!
"Tousaaan," melihat kedatangan Sasuke, Yuki berlari-lari dari dalam rumah untuk menyambut kedatangan ayahnya dengan pelukkan.
Greep!
"Yuki kangen tousan, Izuna -nii juga begitu," Yuki bergelayut manja pada Sasuke.
Sasuke mengacak-acak rambut Yuki dan tersenyum tipis. Ia kemudian menggendong Yuki di punggungnya. "Dimana niisanmu?" tanya Sasuke sambil berjalan memasuki rumah meninggalkan Itachi yang masih berdiam diri di dalam mobil.
"Niisan berada di halaman belakang, sedang menyalurkan amarahnya mungkin."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Karena beberapa hari ini kaasan selalu asik sendiri dengan Gaara-jisan. Dan itu membuat kaasan jarang memperhatikan kami," Yuki mempoutkan bibirnya merasa sebal dengan tingkah Naruto belakangan ini yang jarang memperhatikan mereka dan lebih memilih berbincang dengan orang yang dipanggil Sasuke Tuan Panda Berambut Merah.
Langkah Sasuke terhenti, ia benar-benar tidak menyukai pemuda merah itu. Dan Sasuke lebih tidak menyukainya lagi karena Naruto lebih mementingkan Gaara dari pada anaknya. "Kita buat kaasanmu menyesal karena telah mengabaikan kakakmu dan kamu," Sasuke menampilkan smirk andalannya.
"Caranya?"
.
..
Dari ruang tamu di rumah Naruto, terdengar gelak tawa dari dua manusia yang terus bercanda tenpa mengenal waktu. Gaara dan Naruto sedang mengenang masa sekolah mereka yang sangat menyenangkan. Sepertinya membuat Naruto melupakan waktu adalah perkara yang sangat mudah untuk Gaara.
Namun sepertinya ada yang aneh, sejak kedatangannya tadi siang, ia tidak melihat Sasuke. Apa pemuda itu sudah menyerah mendapatkan Naruto? Tidak mungkin. Pasti rival Gaara dalam memperebutkan Naruto mempunyai rencana. Rencana licik.
"Ohh.. astaga Gaara kau masih mengingatnya. Aku yakin Bakoro-sensei sangat malu saat itu," tawa Naruto kembali terdengar membelah keheningan diantara mereka.
"Yaahh… siapa yang bisa melupakan wajah Bakoro-sensei yang sangat merah saat itu."
Kembali mereka berdua tertawa seakan-akan hanya ada mereka di dunia ini. Sampai tak sengaja iris sapphire Naruto melirik jam dinding yang berada di ruangan tersebut. Mata Naruto terbelalak lebar mengetahui bahwa ia menghabiskan banyak waktu untuk berbincang-bincang dengan Gaara.
"Astaga… sudah hampir empat jam kita ngobrol," pekik Naruto.
Gaara mengalihkan pandangannya ke jam dinding yang bergambar rubah itu. "Benar juga,"
"Kenapa teme tidak mengingatkanku yaa?" tanya Naruto sedikit sebal. Biasanya memang Sasuke yang mengingatkan Naruto kalau berbincang terlalu lama dengan Gaara kecuali hari ini. "Apa si teme itu tidak datang?" tanyanya lagi. Entah kenapa Naruto merasakan kekecewaan atas ketidak datangan Sasuke.
"Entahlah~ sebaiknya aku pulang dulu. Ini hampir malam."
"Ahh iya. Hati-hati di jalan," pesan Naruto.
Gaara mengangguk singkat sebagai balasannya. Ia kemudian keluar rumah dengan Naruto yang mengantarkannya sampai pintu depan.
Setelah kepergian Gaara, Naruto seperti merasa ada yang aneh dengan rumahnya. Terlihat sangat suram, tidak ada pertengkaran Izuna dan Yuki yang selalu membuat rumah ini ramai.
Naruto ternganga. Ia baru sadar jika ia tidak melihat Yuki dan Izuna sejak tadi. Astaga… bagaimana bisa ia mengabaikan mereka berdua. Naruto mengumpat dalam hati atas kebodohannya.
Ibu dua orang anak itu berlari memasuki rumah, memanggil-manggil nama Izuna dan Yuki. Namun sayang, tidak ada satupun dari anaknya yang menyahut. Kemana perginya Izuna dan Yuki? Pikir Naruto. Ia menggeledah setiap ruangan yang ada di rumah itu, namun hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan anak-anaknya.
Naruto memasuki kamar Izuna dan Yuki, ini adalah ruangan terakhir yang belum digeledahnya. Dan hasilnya sama saja dengan ruangan lain. Nihil. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Pandangannya mulai kabur karena terhalang air mata yang mengumpul. Dan jatuh, Naruto menangis dalam diam. Otaknya mulai berpikir hal yang tidak-tidak.
Bagaimana kalau Izuna dan Yuki diculik?
Bagaimana kalau mereka diculik oleh om-om mesum?
Bagamana kalau Izuna dan Yuki diculik oleh psikopat gila?
Bagaimana kalau-
"TIDAAAAK," Naruto berteriak tidak jelas kala pemikirannya mulai memikirkan hal-hal yang sangat tidak mungkin.
Dan saat itu Naruto mendapati dua buah kertas memo di atas meja belajar anaknya, Naruto mengambilnya dan mulai membacanya.
Kaasan, maaf kalau kaasan tidak menemukan kami di rumah. Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk melakukan ini… tapi sepertinya memang ini yang terbaik. Sejak kedatangan Gaara-jisan lima hari yang lalu, kaasan jadi sering mengabaikan kami dan akan kembali memperhatikan kami setelah tousan menegur kaasan. Maafkan kami kaasan… jika kaasan lebih mementingkan Gaara-jisan, kami pergi dari rumah. Kami sayang kaasan.
Uchiha – Uzumaki Yuki
Isakkan pelan terdengar dari mulut Naruto. Ia sadar memang ini salahnya, ia jadi sering mengabaikan Izuna dan Yuki sejak kedatangan Gaara. Entah Gaara yang salah atau dirinya yang salah. Tetap saja kedua anaknya telah pergi. "Hiks… hiks… gomennasai."
Tak sengaja mata sembab Naruto melihat kertas memo lain yang belum sempat ia baca. Ia meletakkan memo dari Yuki dan mengambil kertas memo yang Naruto percayai dari Izuna.
Hn…
Uchiha – Uzumaki Izuna
TWITCH!
Kening Naruto mengernyit. Ia pikir Izuna akan meninggalkan memo yang berisi curahan hati seperti Yuki. Tapi pada kenyataannya? Hanya dua huruf khas Uchiha dan namanya sendiri yang tertera dalam memo tersebut. Bisa-bisanya Izuna seperti itu. Mungkin jika dalam suasana yang tepat, Naruto akan menjitak kepala Izuna agar sifat dingin turunan Sasuke bisa hilang. Tapi sayangnya…
Naruto menghela nafas panjang.
…Izuna tidak berada di sampingnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Izuna, Yuki, kalian dimana?" lirih Naruto.
.
..
"Tadaima," suara lantang dan sedikit campuran lesu milik Iruka menyadarkan Naruto dari kesedihannya dan penyesalannya.
Buru-buru Naruto menghampiri Iruka yang Nampak sangat kacau. Mungkin karena masalah pekerjaan, pikir Naruto. "Ah~ Okaerinasai," jawab Naruto dengan nada yang tak kalah lesu. Walau samar-samar, Iruka masih bisa melihat mata Naruto yang …sembab? Sepertinya Naruto habis menangis. Yaa… karena pada dasarnya Naruto baru saja menangis.
"Kau menangis? Apa yang terjadi?" tanya Iruka khawatir sambil mengusap-usap lembut surai pirang Naruto.
"Hiks…" tak tahan lagi membendung air mata yang keluar kedua matanya, Naruto menangis di depan Iruka dengan kedua tangan yang mencoba menutup wajahnya. "Hiks… jisan, hiks.."
"Ada apa? Ceritakanlah," ujar Iruka masih dengan nada lembut yang bisa menenangkan hati setiap orang yang mendengarnya. Kecuali untuk Naruto. Iruka membawa Naruto ke sofa yang ada dan mendudukannya.
"Jisan.. hiks… aku yakin hiks.. setelah ini… hikss.. jisan pasti hikss.. membenciku," Naruto menanggapi perkataan Iruka disela-sela ratap tangisnya.
Iruka tidak mengerti. Alasan apa yang bisa membuat Iruka membenci Naruto? Naruto adalah keluarganya, satu-satunya harga yang paling berharga kenapa pula ia harus bersusah payah membenci Naruto?
"Memangnya ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari pria berkuncir itu, Naruto menyerahkan dua kertas memo yang ditinggalkan oleh Izuna dan Yuki dengan tangan yang gemeteran.
Iruka mengernyitkan keningnya, tetapi ia tetap menerima memo yang diberikan Naruto. Masih dengan tampang kebingungan, Iruka membaca kedua memo tersebut. Dan wajahnya kini menjadi… entahlah sangat menakutkan untuk dilihat.
"Izuna dan Yuki pergi dari rumah. Itu yang membuatmu menangis?" tebak Iruka setelah selesai membaca kedua memo tersebut. Raut wajahnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, intinya Iruka sangat kecewa pada Naruto.
Naruto mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk takut. Ia siap jika Iruka akan memarahinya.
Menghela nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya, Iruka menatap Naruto yang tertunduk. "Apa yang kau rasakan? Apa kau menyesal mengabaikan anak-anakmu?"
"Y-ya jisan,"
"Bagaimana kalau kedua anakmu kembali? Apa kau akan mengabaikan mereka lagi?"
Naruto menggeleng. "Ti-tidak jisan. A-aku tidak akan mengabaikan Izuna dan Yuki."
"Kau tahu-" Iruka memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Masalah pekerjaan membuatnya stress dan sekarang ditambah dengan menghilangnya Izuna dan Yuki. "-Kyuubi sudah tiba di Jepang."
Naruto terbelalak. Ia tak menyangka kalau seseorang yang selama ini menyayanginya telah sampai di negaranya, Jepang. "K-Kyuu-nee, sudah sampai di Jepang?"
Iruka mengangguk singkat. "Mungkin beberapa menit lagi ia sampai ke sini."
Tanpa menunggu lama lagi, sekitar lima menit menunggu terdengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah Iruka. Naruto yang menduga kalau yang datang adalah Kyuubi memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Ia tidak ingin Kyuubi melihat wajahnya yang kusut. Karena itu Naruto memutuskan untuk menghindari Kyuubi sementara waktu. Paling tidak sampai wajahnya kembali terlihat segar tanpa ada jejak-jejak air mata. Dan membasuh wajahnya mungkin pilihan yang tepat.
Berbeda dengan Naruto yang kabur ke kamarnya, Iruka bergegas membukakkan pintu berniat menyambut salah satu anggota keluarganya yang sudah sangat lama tidak pernah bertatap muka.
"Tadaima."
Dan suara yang sudah sangat-sangat lama tidak didengarnya kembali terlantun. Sungguh Iruka sangat bahagia sekarang. Walaupun bukan saudara kandung, tetapi Iruka sangat menyayangi Kyuubi dan juga Naruto. Ia menganggap bahwa Kyuubi dan Naruto adalah anaknya. Anaknya yang berharga.
Pintu telah terbuka, menampilkan wanita dewasa yang sangat cantik. Surai merah ke-orange orange-annya diikat tinggi. Kulitnya yang putih bersih. Mata ruby tajam yang entah kenapa terlihat sangat berkilau. Tubuhnya yang proposional menjadi poin plus untuk wanita yang memiliki sifat garang tersebut.
Cantik…
Sangat cantik…
"Okaerinasai," jawab Iruka bahagia.
Kyuubi menghampiri Iruka dan memeluknya erat, melepas rindu akibat tidak pernah bertemu beberapa tahun.
.
..
Kyuubi telah menata pakaiannya di kamar yang Iruka siapkan jauh-jauh hari sebelum kedatangannya ke Jepang. Dan sekarang wanita yang kata Iruka memiliki keganasan yang sama dengan ibu Naruto a.k.a Kushina itu tengah membersihkan diri di bawah guyuran air yang keluar dari shower di kamar mandi tersebut.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Kyuubi telah keluar dari kamarnya. Ia memang tidak suka memakai make up yang terlalu over. Hanya bedak tipis dan lipgloss sebagai make up diwajahnya jika sedang berpergian. Tetapi wajahnya akan terlihat alami tanpa polesan bahan-bahan kimia jika Kyuubi sedang ada di rumah. Seperti saat ini.
Iruka yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga menoleh ke arah Kyuubi yang baru datang. Dan tanpa menunggu perintah Kyuubi langsung membantu Iruka menyiapkan makan malam.
"Ne jisan,Naruto dimana? Keponakanku juga? Sepi sekali," tanya Kyuubi.
"Nanti jisan ceritakan. Sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Aku yakin kau pasti belum mengisi perutmu," Iruka sedikit mengalihkan topic.
Meski sedikit aneh dengan sikap Iruka yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, Kyuubi mencoba menepis sikap aneh Iruka dari pikirannya. Ia lebih menuruti ucapan Iruka untuk mengisi perutnya yang sejak kedatangannya ke Jepang belum terisi makanan apapun. Sekaligus juga untuk melepas rindu atas rasa masakan Jepang.
.
..
"Tok…tok…tok…" suara ketukan pintu membuat Naruto sadar dari lamunannya tentang keadaan Izuna dan Yuki. Wajahnya sudah terlihat lebih segar dibanding satu setengah jam yang lalu. Walau tak bisa dipungkiri kalau mata dengan iris sapphire jernihnya masih terlihat sembab.
"Siapa?" tanya Naruto. Beruntung suaranya tidak berubah serak karena habis menangis.
Hening… tak ada jawaban dari pertanyaan Naruto yang terbilang sangat mudah itu.
"Siapa?" tanya Naruto lagi. 'Tidak mungkin hantu 'kan?' batin Naruto mulai ngawur.
"Kyuubi,"
DEG!
Jantung Naruto berdegup kencang mendengar suara asing seorang wanita. Ia belum siap… belum siap bertemu dengan Kyuubi, tapi ia harus menemuinya sekarang. Dengan langkah perlahan ditambah ragu-ragu, Naruto melangkahkan kakinya, memutar knop pintu yang sebelumnya membuka kuncinya terlebih dahulu. Tentu saja Naruto melakukan semua itu dengan gerakan perlahan. Mencoba membuat Kyuubi bosan menunggu sampai akhirnya pergi dari depan kamarnya.
Ini aneh, sungguh…. Semua ini terasa aneh dan janggal. Kyuubi dan Naruto sudah lama tidak pernah saling bertatap muka. Padahal diantara mereka, hanya Kyuubi saja yang sudah mengenal Naruto, sedangkan Naruto sendiri tidak mengenal Kyuubi. Memang… dulu saat Naruto masih kecil mereka saling kenal, saling menyayangi dan saling mengasihi. Tetapi itu dulu… dulu saat Naruto masih kecil, sedangkan sekarang ia sudah dewasa, memiliki dua orang anak pula. Belum lagi masalah yang dihadapinya sejak tujuh tahun yang lalu, sejak Sasuke melakukan hal yang yang tidak senonoh terhadapnya.
Jadi, adakah yang bisa memberinya suatu alas an mengapa ia harus ketakutan bertemu dengan Kyuubi?
"Kenapa lama sekali?" omel Kyuubi sambil berkacak pinggang di hadapan Naruto.
"…"
"Aku tidak menyangka kau membutuhkan waktu 10 menit hanya untuk membuka pintu," cercanya lagi yang hanya ditanggapi dengan diamnya Naruto.
"Sampai kapan kau akan diam terus?"
"A-aku-"
Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Kyuubi terlebih dahulu menyeretnya keluar kamar menuju ruang makan sambil mengomel tidak jelas, 'Apa ini sifat neesan? Galak, tidak suka dibantah, dan menyeramkan. Wajahnya memang cantik. Rambutnya juga hampir sama seperti milik kaasan' batin Naruto sambil memeperhatikan Kyuubi yang masih mengomel. Tanpa sadar naruto menyinggungkan senyuman tipis begitu sadar kalau Kyuubi memiliki sifat yang hampir sama dengan Kushina.
Mereka menghampiri Iruka yang tengah menunggu kedatangan Kyuubi dan Naruto. "Kenapa lama sekali?' tanya Iruka pada keduanya.
"Itu karena si bodoh ini sangat lamban. Aku jadi heran selama ini apa yang dimakan oleh bocah ini sampai-sampai membuatnya menjadi selamban siput?" ketus Kyuubi mengejek.
"Tentu saja ramen 'ttebayou. Apalagi?" jawab Naruto tak mau kalah.
"Pantas saja lamban. Makanannya saja banyak lemak dan tidak sehat. Bocah ini lamban pasti karena terlalu banyak lemak dalam tubuhnya."
"HEII…. Jangan menghinaku," sungut Naruto. emosinya sedang dipancing rupanya.
"Kalau begitu,… " Kyuubi menaruh banyak sayur yang Iruka buat dalam piring Naruto. "Makan ini semua sampai habis."
Mata Naruto terbelalak begitu melihat tumpukan sayuran berwarna hijau di atas piringnya. "Aku tidak suka semua ini. Akan aku makan kalau ada ramen 5 porsi maka semua sayuran ini juga akan habis. Jadi sekarang lebih baik buatkan aku ramen."
Kyuubi menggeleng pelan. "Tidak… tidak… tidak… kau harus makan sayuran dan kurangi makanan berlemak. Nanti kau gemuk."
"AKu tidak mau. Selama ini aku makan ramen dalam jumlah banyak juga tidak terjadi apa-apa dalam tubuhku. Aku tidak jadi gemuk karena ramen. Jadi,… Iruka-jisan tolong buatkan aku ramen ya~ ya~ ya~" rayu Naruto pada Iruka.
"Turuti saja Kyuubi, Naruto. tidak ada salahnya kau mengurangi jatah makan ramenmu hari ini," putus Iruka tanpa bisa dibantah.
"Ck. Jisan sam saja," protes Naruto tidak memerdulikan Kyuubi yang tengah tersenyum sarat akan kemenangan padanya.
"Cepat habiskan makan malam kalian. Setelah ini kita akan ke villa Uchiha," ucap Iruka.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Kyuubi terbatuk karena tersedak saat minum. Dan ini terjadi karena ucapan Iruka. "Apa? Ke-ke villa Uchiha?" tanya Kyuubi terkaget-kaget setelah berhasil menyembuhkan batuk sementaranya.
"Ya, setelah ini kita akan ke villa Uchiha," Iruka kembali menegaskan penjelasannya.
"Memangnya kenapa kita harus kesana?" tanya Naruto dengan mata yang sedikit menyipit tajam.
Well… dia masih memiliki rasa marah pad bungsu Uchiha itu.
"Tadi, Mikoto-san memberitahu jisan kalau Izuna dan Yuki berada di villa mereka."
"Ba-bagaimana bisa Izuna dan Yuki berada di sana?" tanya Naruto penasaran.
"Mungkin saja saat kau sedang bersama dengan Gaara, Sasuke membawa kedua putranya pergi," terka Iruka.
Mata Naruto terbelalak, ia kecolongan. Seandainya saja ia tidak terlarut dalam obrolannya dengan Gaara pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Izuna dan juga Yuki tidak perlu pergi villa Uchiha. Sebenarnya bukan masalah jika kedua putra-putrinya itu mengunjungi villa Uchiha ataupun menginap di villa tersebut. Tapi… masalahnya adalah-
"Kenapa si teme tidak memberi tahuku kalau Izuna dan Yuki akan ikut bersamanya? Setidaknya harus minta izin terlebih dahulu," gerutu Naruto kesal sambil mengunyah makan malamnya beringas. Berharap bahwa yang ia kunyah adalah si teme, pantat ayam, yang punya sharingan.
Sama halnya dengan Naruto, Kyuubi juga turut membelalakkan matanya. "Apa aku juga harus ikut ke villa Uchiha?" tanya Kyuubi. Raut kekhawatiran tersirat dengan jelas di wajah Kyuubi.
"Tentu saja. Jisan tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di rumah," jawab Iruka tanpa memperhatikan wajah Kyuubi yang semakin jelas gurat kekhawatirannya.
Kyuubi tidak bisa menyalahkan Iruka. Pamannya itu tidak tahu kalau ia memiliki masalah dengan sulung Uchiha. Tapi juga tidak mungkin baginya untuk menceritakan semuanya –alasan mengapa ia meninggalkan Konoha. Belum lagi ada seseorang yang sampai detik ini Kyuubi sembunyikan eksistensinya karena suatu alasan. Tapi…. astaga ia baru tiba di Konoha baru beberapa jam yang lalu. Tapi kenapa ia harus bertemu dengan pemuda yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu secepat ini?
"Kyuu-nee," panggil Naruto membuat wanita bermbut merah itu tersentak –tersadar dari lamunannya.
"Ah.. ada apa?" tanya Kyuubi gugup.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Iruka cemas disusul dengan anggukan kepala dari Naruto.
"A-aku tidak memikirkan apapun. Ah… sebaiknya kita cepat selesaikan makan malamnya agar tidak terlarut mengunjungi villa Uchiha," kata Kyuubi sambil memulai memakan malamnya yang belum tersentuh. Sebenarnya perkataan Kyuubi bermaksud mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap jika harus menceritakan masa lalunya yang hampir sama dengan Naruto. Selain itu, ia juga belum siap untuk menambah beban Iruka. Cukup hanya dia dan Kami-sama saja yang tahu. Lagi pula ia cukup bahagia kalau hanya 'dia' saja yang menemaninya. Ia –Uzumaki Kyuubi tidak akan pernah membutuhkan Uchiha Itachi.
.
..
Ting tong…
Iruka berserta kedua keponakannya yang berdiri di belakangnya telah sampai di villa Uchiha. Beruntung mereka di suruh langsung memasuki kawasan villa, jadi tidak perlu menunggu di luar kawasan villa yang mewah tersebut.
CKLEK!
Pintu di depan ketiganya terbuka menampilkan sosok perempuan paruh baya berambut hitam dengan senyum ramah yang terpampang di wajah ayunya, Uchiha Mikoto. Istri dari Uchiha Fugaku itu membuka pintu lebar-lebar ketika mengetahui siapa tamunya.
"Sudah datang rupanya. Masuklah… semuanya sudah menunggu," sambut Mikoto ramah.
"Arigatou MIkoto-san," ucap Iruka tak kalah ramahnya.
Tanpa sengaja iris onyx milik Mikoto bertrubukan dengan iris ruby milik Kyuubi. Kyuubi hanya terpaku di tempat ia hanya menunduk, tidak berani menatap ibu dari mantan sahabatnya. Dan ia baru sadar kalau Mikoto kini telah berdiri tepat di hadapannya. Menangkup kedua sisi pipinya dan menatapnya intens membuat Kyuubi sangat, sangat ingin melarikan diri.
"Kyuubi. Benar kau Kyuubi?" tanya Mikoto sedikit ragu. Beruntung Iruka dan Naruto sudah masuk ke rumahnya dan mencari kedua cucunya sehingga mereka tidak mungkin bisa melihat adegan pertemuan antara Kyuubi dengan Mikoto.
"N-ne, basan," jawab Kyuubi dengan gugup.
GREP!
Mikoto langsung memeluk Kyuubi erat takut jika teman Itachi dulu hilang lagi atau bisa di katakan menyebunyikan diri lagi. "Basan~"
"Astaga Kyuubi~ kemana saja kau ini. pergi begitu saja tanpa pamit. Menghilang selama bertahun-tahun tanpa member kabar. Kamu pikir kami ini siapa?"
"Gomennasai."
"Kau tidak tahu betapa kehilangannya kami. Belum lagi Itachi, dia seperti orang gila selama ini."
Itachi? Seperti orang gila? Hanya karena dia pergi tanpa pamit? Tapi, buat apa dia seperti itu? Seharusnya yang menjadi hila itu dirinya. Yang menjadi korban Itachi itu dirinya, bukan orang lain. Mungkin jika saja Itachi tidak melakukan hal 'itu' padanya dulu, pasti sekarang Kyuubi tertawa terbahak-bahak jika melihat Itachi gila. Tapi sayangnya, Kyuubi sekarang membenci Itachi. Tidak mungkin dirinya akan bersikap sama seperti dulu jika bersama Itachi tidak mungkin.
"Kaasan, kenapa lama sekali? Yang lain sudah menungg-"
Nafas Kyuubi tercekat. Pria itu, pria yang dulu menyandang sebagai sahabatnya sekarang berada di depannya.
"Itachi~"
Sama halnya dengan Kyuubi, Itachi juga merasakan hal yang sama. Wanita yang ia rindukan kini berada di hadapannya –lebih tepatnya berada di pelukan ibunya. Wanita yang ia cintai, kini sudah kembali.
"Kyuubi~"
TES!
.
..
TBC
A/N
Haii… #lambaitangan maaf up date nya super duper lelet hehe #ketawagaring maaf ya~~~~~ emm.. ada yang nunggu fic ini? *readers : TIDAK!* oh ya sudah….. kabuuuuuurr #dilemparkelaut
Okey~ okey~ okey~ Syifa minta maaf karena up datenya kayak siput berjalan. Tapi sungguh di duta Syifa sibuk mikirin bantara, UTS + UKK, pameran, pemantapan dewan, belum lagi UH yang banyak. UH satu muncul yang lain ikut nyusul, jadi gak sempet nulis fic ini.
Ide buat nulis fic ini hilang entah kemana, makanya saya hibernasi dulu dari fic ini. maaf ya~ Syifa yakin gak ada yang mau maafin Syifa, tapi berhubung lagi puasa jadi mau gak mau harus mau dong #maksa
Dan thanks buat yang udah ngingetin Syifa lewat review maupun lewat PM makasih ya buat Namikaze Otorie dan Riena Okazaki, maaf janjinya fic ini up date bulan April eh malah molor sampai bulan Juli. Maaf ya~ maaf….
Dan thanks buat kritikannya, akan Syifa perbaiki secepat yang Syifa bisa~~
Rencanya fic ini selesai di chap ini, tapi sepertinya fic ini selesai di chap depan.. aduh sekali lagi maaf ya, Syifa memang author yang mengecewakan :'(
Sampai jumpa~
