Dan aku kembali lagi dengan fic yang luar biasa gak jelas ini dan sudah masuk chapter 10 menurutku sendiri ini cukup lumayan lah untuk fandom minoritas kayak begini jadi tak ada yang diherankan buat saya, ohhh btw aku lagi Maraton baca manga dari beberapa judul btw Manga yang adaptasi dari LN Cina lumayan bagus isinya pembalasan Dendam antar klan yang direndahin dan MCnya secara bertahap jadi Overpower itu cukup menghibur btw Haremnya Juga lumayan lah ohhh ya Rekomendasi buat yang suka genre Revenge (balas Dendam) terlebih berwarna yah itu hiburan tersendiri biar gak bosan lah baca Hitam putih terus ohhhh btw aku lupa mau bicara apa jadi lupakan.
Hmmmmm niat ngebales salah satu Anom, aku cuman kefikiran ajah dan belum ada minat buat jadi fic inggris terlebih banyak lumayan salah di bagian Grammar itu hanya sekedar Wacana saja jadi tak ada kepastian dan belum tentu aku laksanakan so, begitu deh.
.
...
.
- Tempat Saya
Dua orang berbeda Gender masih sibuk dengan urusan masing-masing membunuh Para Zombie meski hanya Lelaki saja yang banyak aktif bergerak sedangkan yang Gadis hanya memberi Support saja tapi, tetap saja ini Party Kelompok kecil meski hanya dua orang saja itu sudah cukup.
Meski sudah direncanakan untuk tidak bersuara tapi, tetap saja jumlah Zombie itu sangat banyak terkadang ada beberapa yang mendekat secara Random meski tak ingin melawan atau berbuat Gaduh itu tapi, jika situasi mendadak dan terkurung Pasukan Zombie sebanyak itu suka atau tidak suka mereka harus melawan meski menimbulkan Para Zombie lain mendekat hal itu mudah di atasi.
"Hei! Takagi-San tetap berada di belakang dan jangan terlalu jauh atau kau tak ingin tertinggal dan tergigit" Ucap Kohta dengan wajah yang sudah tertutup Darah dan dia tak merasa Gemetar atau seolah takut sekali akan hal tabu seperti ini "Aku tak tau kapan ini segera berakhir" Meski bajunya tertutup Darah tapi, tak terlalu jelas karena Jas Sekolah Fujimi berwarna Hitam.
"Jangan sok akrab denganku Bodoh! Aku ini Si Jenius yang luar biasa!" Ucap Saya dengan nada keras padahal lupa dengan idenya sendiri untuk tak berbuat kegaduhan dan seperti biasa sikap Sombong keluarga Besar muncul lagi "dan jika kau tanya aku kapan ini cepat berakhir? Singkirkan khayalan itu karena tak ada akhir yang bahagia disini"
Saya sendiri Juga tak begitu berharap banyak bakal ada yang kemari dan menyelamatkan Murid-murid yang masih selamat disini karena dia yakin Pemerintah hanya memprioritaskan Orang-orang yang terhormat dan terpandang mungkin dirinya akan selamat tapi, berbeda lagi untuk Orang-orang biasa semacam Takashi dan yang lain mereka tak ada harapan sama sekali kecuali jika mereka berjuang menyelamatkan diri masing-masing meski dirinya bukan tipe Pengkhianat dan memanfaatkan Orang lain.
Saya sendiri termaksud orang yang selamat karena status Ayahnya Seorang Mantan Jenderal sekaligus Politikus terkenal di wilayah ini tapi, dalam situasi buruk seperti ini menunggu bala bantuan sambil bersembunyi di Tempat aman itu sama saja dengan bunuh diri jadi, secara terpaksa dia harus ikut dan membantu mereka menghadapi Para Zombie meski dia enggan karena jijik tapi, ini memang harus dilakukan untuk kelangsungan Hidupnya.
"Aku tak yakin ada beberapa mereka yang selamat?" Ucap Kohta terlihat ragu karena selama Perjalanan tak menemukan orang-orang yang selamat meski ada tapi itu sudah tergigit Zombie dan sama saja bohong jika menyelamatkan mereka dan tak ada Guna.
"Kau terlalu berharap cemas dan banyak Pasrah keadaan" Balas Saya menunjukan wajah tak Peduli sama sekali meski dalam Hati cemas terhadap seseorang tapi, yang dicemaskan terkadang bersikap seenaknya dan itu benar-benar membuatnya jengkel sekali "mereka Pasti Pintar dan tau apa yang harus dilakukan tak seperti kau"
Memang benar selama mereka berjalan tak ada satupun Murid-murid yang selamat bahkan mereka sudah terinfeksi bukan berarti dia ragu ada yang selamat tapi, mengingat jumlah Murid yang jadi korban membuat rasa Percaya dirinya perlahan memudar dan dia hanya menggeleng keras untuk menghilangkan prasangka buruk itu.
"Kita tak berfikir lebih baik ke bawah saja daripada harus ke atas lagi?" Ucap Kohta memberi saran karena dia ragu bangunan bagian atas masih ada yang selamat "mungkin saja korban selamat saat ini sedang diluar dan mencari cara untuk kabur dari sini?"
"Kau ini Bodoh? Di Luar sangat mustahil sekali karena Jumlah Zombie lebih banyak daripada di Dalam" Jawab Saya kesal karena saran yang begitu absurd dan tanpa dasar yang jelas itu "meski bersembunyi tapi, kemungkinan mereka tergigit sudah sangat jelas dibandingkan yang berada di dalam" dia ragu jika ada yang selamat kalau di luar mengingat banyak sekali Zombie di sana.
"Tapi, aku Juga tak yakin ada yang selamat disini" Balas Kohta mengusap Wajahnya yang Penuh darah "meski begitu bukankah ini sama saja dengan bunuh diri jika kita ke atas? Karena Para Monster itu banyak?" dia Juga ingin segera keluar dari sini tapi, situasi ini. Jelas tak ada yang diuntungkan sama sekali.
"Hadeh! Kau ini, apalagi yang ada di bawah jelas sekali banyak daripada di atas" Saya hanya menghela nafas pasrah dengan Pikirkan Bodoh Lelaki Gendut itu bahkan terdengar konyol sekali untuknya "dan aku yakin yang lain saat ini Juga bergerak ke bawah dan ingin segera keluar dari sini"
"Jadi maksudmu kita hanya Perlu menunggu di bangunan ini? Dan setelah itu bergabung dengan mereka?" Tanya Kohta mulai mengerti dari Gadis Berambut Pink itu ucapkan "atau kita menunggu di tangga saja kalau aku boleh memberi saran?"
"Kurasa itu bukan ide yang tak begitu buruk juga" Balas Saya mengangguk setuju Rencananya adalah hanya menunggu di sekitar sini sambil berharap ada yang selamat dan membantu mereka karena agak Jijik jika harus berhadapan dengan wajah-wajah mengerikan itu "terlebih semakin banyak orang semakin besar kemungkinan kita bisa selamat dan keluar dari sini"
"Ohhhh! Kau sungguh Jenius Takagi-San!" Teriak Kohta memuji dengan mengacungkan jempol.
"Hmmmpp! Tentu saja aku Jenius" Ucap Saya dengan bangga meski terlihat sombong tapi, memang seperti itulah sifatnya.
!
Selagi mereka berbicara untuk rencana kabur, mereka tak sadar sudah berisik alhasil Para Zombie sudah mendekati mereka bahkan sangat dekat dan diperparah Posisi mereka yang agak menjauh sehingga harus terpisah oleh kerumunan Para Zombie yang terlihat Ganas itu dan itu benar-benar bukan yang mereka harapkan.
"Brengsek! Terlalu keasyikan ngobrol!" Teriak Kohta terlihat Agak Panik karena banyak Zombie yang mendekat kemari dengan brutal dia menghabisi mereka Semua secara satu persatu dan membor Mulut dan Mata mereka Hingga banyak Darah yang muncrat keluar "Hahahaha rasakan ini para Zombie bodoh!" dia tertawa Puas dan terlihat menikmati.
"Dasar Maniak Otaku yang bodoh!" Saya menggerutu kesal karena tingkah bodohnya disatu Sisi dia merinding Panik karena Para Zombie mendekatinya dan hal itu sudah mustahil baginya untuk menghabisi mereka Semua karena Senjata yang dia pegang kurang memadai sekali dan hanya sebagai Support "Ghhhh! Mereka tak Pernah ada habis sama sekali!" dia mencoba menghalau mereka tapi, mustahil yang ada Tongkatnya langsung Patah.
*Krakkkkk!
"Sialan! Menyingkirlah bangsat!" Teriak Kohta Panik melihat Gadis itu dalam Kondisi yang berbahaya sekarang tapi, dia masih sibuk menyelamatkan diri dari Para Zombie yang selalu datang tanpa henti seolah tak ada habis sama sekali "Arggghhh! Mereka benar-benar menjengkelkan!" dia masih kesal dan terus membunuh mereka dengan brutal.
Saya gemetar ketakutan bukan tanpa alasan karena dia saat ini berada situasi yang bisa dikatakan sangat buruk di kepung Para Zombie dari segala arah tanpa peralatan dan Senjata untuk melindungi diri sendiri bisa dipastikan riwayat hidupnya sebentar lagi akan hilang, matanya menunjukan seolah berharap ada yang menolongnya dalam situasi ini.
"Tetaplah bertahan sebentar lagi!" Teriak Kohta melihat Gadis itu mundur dengan wajah yang sudah dipastikan sangat takut, dia ingin membantu tapi, Para Zombie ini tak Pernah habis setelah dia hancurkan secara brutal.
"Hei! Pergi! Menjauh dariku Monster!" Teriak Saya ketakutan sekali dengan mahluk tanpa otak itu mendekatinya secara perlahan dan bersiap mengigit, dia tak ingin Pasrah dan berusaha bertahan "Aku bilang Pergi Menjauh dariku Zombie bangsat!" dia melemparkan sesuatu barang yang dia pegang ke arah Zombie itu namun hanya sebuah hasil yang sia-sia saja.
"Huh? Takagi?"
Sementara dua orang itu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. tak lama kelompok lain datang dari Saeko, Rei, Morita dan yang terakhir adalah Takashi tentu saja Kondisi Wajahnya Lelaki itu yang Paling buruk dan mereka saling berpapasan satu sama lain tapi, sebelum menyapa terdengar suara teriakan kencang dari Pojokan.
"MENYINGKIRLAH DARIKU!"
Semua mata tertuju Pada teriakan itu dan melihat Saya Takagi tengah melemparkan sesuatu barang ke arah Para Zombie dengan mata tertutup karena ketakutan meski terlihat itu tak berguna sama sekali ada Seorang Zombie yang berhasil menangkap kaki itu dan ingin mengigitnya Saeko bersiap untuk menolongnya tapi, ada sesuatu yang lebih cepat darinya sehingga diurungkan niatnya itu dan.
*Slashhhh!
*Crattttt!
Sesuatu yang sangat cepat dan tak terlihat bergerak sepersekian detik kemudian beberapa kepala berterbangan ke udara dengan darah yang keluar banyak dan Tubuh Zombie itu langsung tumbang orang-orang yang melihat disana cukup kagum setelah itu mereka melihat Takagi baik-baik saja dengan seseorang Laki-laki yang tak lain adalah Takashi.
"Wow! Itu keren Bro!" Teriak Morita yang Pertama kali Kagum, Immamura yang berada di sampingnya mengangguk setuju "kau Luar biasa cepat sekali!"
Saeko hanya tersenyum saja tanpa berbicara sama sekali, dia cukup bersyukur lega karena Lelaki itu baik-baik saja tanpa terluka meski Wajahnya agak aneh karena banyak darah tapi, dia yakin bahwa Lelaki Itu sudah menghabisi Para Zombie dan itu lumayan kuat Juga.
"Fiuhhh syukurlah kalian datang tepat waktu" Ucap Kohta bernafas lega karena bantuan datang disaat yang tepat sekali dan Juga dia terlihat sudah menghabisi mereka "aku benar-benar kerepotan tadi menghadapi mereka"
"Yah, kita Juga sedang bermasalah ketika di perjalanan" Jawab Takashi yang memiliki keluhan sama tentang ini Pandangan Matanya ke arah Gadis Berambut Pink itu yang masih bergetar ketakutan dan memeluknya dengan erat "tenang saja semuanya sudah aman disini dan aku melindungi dirimu sekarang" dia mengelus Kepalanya.
"Ta-tapi Pa-pakaianku kotor sekarang da-dan mama Pasti a-akan marah!" Jawab Saya dengan suara terbata Ekspresi wajahnya jelas menunjukan masih ada sebuah ketakutan dan tak lama dia memeluk Lelaki itu kembali dengan erat.
"Ssshhh! Semuanya sudah aman sekarang" Ucap Takashi memeluk Gadis itu dan mencoba menenangkannya.
"Ohhh, kau terlihat buruk sekali dengan cara itu?" Ucap Shizuka dengan wajah Polos meski kenyataan dia berniat meledek temannya.
"Ohhh! Diamlah kau takkan Pernah tau rasanya jika tak kau rasakan sendiri" Liona mendengus dengan ejekan itu yang dimaksudkan dengan Wajahnya yang tertutup darah dan itu tak bagus meski dirinya sudah tak Peduli lagi 'tapi, aku rasa masih bisa bersyukur karena masih ada yang selamat' dia tersenyum menatap Murid-murid disana.
"Kau lihat? Dia baik-baik saja jadi, tak usah khawatir" Ucap Hisashi menunjukan Lelaki itu dan terlihat tak ada luka sama sekali hanya Wajah saja berlumuran darah.
"Yeah, kau benar" Rei mengangguk setuju tapi, entah kenapa Hatinya terasa tak karuan dan tak menyenangkan ketika melihat Takashi menenangkan Takagi dengan cara seperti itu rasanya dia ingin mengganggu tapi, hubungan mereka sekarang bukan apa-apa lagi.
Saya kembali tenang setelah memeluk seseorang dan melihat ke atas Takashi dengan senyumannya memeluk erat tubuhnya dan tak lama.
*Bang!
*Duaghhhh!
Wajah Takashi seketika mencium tembok dengan sangat keras membuat orang-orang disana hanya Sweatdrop saja.
"Baka! Baka! Baka! Sialan kau! Bisa-bisanya Kau membuatku khawatir dan cemas berlebihan seperti itu!" Teriak Saya sangat kesal dan melepaskan Semua rasa marah, khawatir yang berlebihan dia pendam sedari tadi dan wajahnya memerah malu karena Takashi memeluknya 'Hah! Apa-apaan tadi, bagaimana bisa si Bodoh ini memelukku hmmpp!' dan sikap Sombong kembali muncul.
"Iya! Iya! Aku salah dan aku minta maaf" Ucap Takashi mengerang kesakitan dan mengusap Kepalanya dia lebih memilih menyerah daripada harus berdebat lebih lama dengan Gadis itu "ohhh ya jika Semua sudah berkumpul disini perkenalkan aku Takashi Komuro dari kelas 2B" dia membungkuk.
"Saya Takagi dari kelas 2B"
" Immamura dari kelas 2B juga"
"Kohta Hirano dari kelas 2B"
"Morita dari kelas 2C"
"Hisashi Igou dari kelas 2B"
"Rei Miyamoto dari kelas 2B"
"Yuuki Miku dari kelas 2C"
"Saeko Busujima dari kelas 3B"
"Liona Hayashi Guru Bahasa inggris dan MTK"
"Shizuka Marikawa Seorang Suster dari Ruang kesehatan"
'Beberapa dari mereka satu kelas denganku?' Batin Takashi yang melihat beberapa orang yang selamat dan dia cukup kenal dengan mereka.
"Takashi-Kun kita akan kemana?" Tanya Saeko menghampirinya dengan senyuman terlihat Saya cukup jengkel dengan nama Panggilan itu.
"Kita ke ruang UKS sebentar" Jawab Takashi.
"Kenapa?" Tanya Immamura balik.
"Istirahat dan membersihkan diri terlebih dahulu setelah itu kita kabur bersama-sama" Jawab Takashi melihat Kondisi mereka yang terlihat lelah dan ingin berhenti jika dipaksakan akan sangat gawat sekali "dan tenang saja Ruangan itu aman tak ada Zombie, aku menjamin karena sudah kesana"
"Baiklah"
.
.
.
.
.
- Ruang UKS
Sekarang mereka Semua terkumpul menjadi satu kelompok dan memgistirahatkan tubuh mereka setelah banyak bergerak dari menghadapi kematian yang selalu saja mendekat seolah tak ada habisnya sama sekali. Para Lelaki memilih Duduk santai mengisi tenaga tak Peduli dengan Darah di tubuh mereka sementara Para Wanita membersihkan Tubuh dan wajah mereka adapula yang mandi dulu.
Takashi hanya melihat sekeliling dia hanya tersenyum karena teman-temannya masih dalam keadaan selamat bahkan Duo mesum yang dia ragukan selamat saat ini berada di depannya tapi, tidak membahas hal ecchi karena terlalu lelah tapi, tetap saja mereka Punya keberanian untuk mengatasi Mahluk tak Punya akal ini.
"Kau tidak mandi terlebih dahulu Takashi?" Tanya Saya yang membasuh Rambutnya yang basah dengan handuk saat ini Gaya Rambut lurus Panjang dan terkesan lebih bagus "kau terlalu banyak keringat sekali" dia menunjuk Punggungnya yang basah sekali.
"Tidak usah lagipula kita belum keluar dari situasi seperti ini" Jawab Takashi menggeleng tapi dia melihat Gadis itu mengenakan Kacamata meski matanya tak minus sama sekali "aku tak Pernah tau, kenapa kau mengenakan Kacamata meski tak ada yang salah dengan matamu?"
"Yah, hanya menjaga Pandangan dan mata agar tak burem waktu terciprat darah" Jawab Saya mengikat Rambutnya kembali dan itu menjadi sebuah Pemandangan yang bagus saat seperti itu.
"Aku rasa itu manis untuk kau" Takashi sedikit memuji dan memang benar Gadis ini Cantik terutama waktu dia mengikat Rambut Pandangannya tak bisa berhenti berpaling.
"Ohhj, diamlah!" Saya memalingkan wajah ke arah lain dan sikap Tsundere Gadis itu kembali muncul.
Takashi hanya tertawa melihat Reaksi Gadis itu, dia tau Saya memang Cantik terlebih lagi Pintar meski tak tinggi tapi bentuk Tubuhnya yang bagus dan masih masa pertumbuhan itu cukup diminati Kaum Adam terlebih Ukuran Dadanya yang besar mungkin lebih besar dari Milik Rei, meski Cantik tapi dia belum berpacaran sama sekali karena tak ada yang berani mendekatinya karena Pada akhirnya ditolak terlebih status Ayahnya yang memiliki sifat tegas dan tak pandang bulu membuat orang-orang kembali mengurungkan niat untuk lebih dekat lagi.
"Hoyyy! Takashi coba kau lihat ini sebentar" Teriak Morita menunjuk sebuah Televisi.
Takashi Juga melakukan itu dan melihat Seorang Reporter yang tengah meliputi sebuah berita di sebuah jembatan dan sudah menduga bahwa situasi mengerikan ini sudah menyebar ke seluruh wilayah dengan sangat cepat seperti Cahaya dan Kondisi Tempat itu sudah tak terlihat damai lagi.
"Sebuah Wabah Virus yang tak diketahui telah menyerang Jepang Hingga Semua wilayah terkena efek dari Virus itu hingga membuat orang-orang menjadi Zombie yang tak berotak dan terus menyerang Para Warga yang masih selamat"
"Situasi seperti ini tak terjadi hanya di negara Jepang saja bahkan Semua Negara ikut terkena dampak Virus itu tapi, beberapa Negara berhasil mengatasi masalahnya dan kembali kondusif tapi, ada beberapa Negara yang belum mengatasi masalah ini"
"Hingga Pada akhirnya PBB mengeluarkan Amnesti untuk mengisolasi Negara yang masih terkena virus dan melarang orang-orang berpegian ke luar negeri karena dikhawatirkan akan membawa Virus lain ke Negara yang selamat"
"Dan Kondisi di Jepang sendiri masih dalam situasi berbahaya dan Pemerintah masih mencoba untuk menghentikan masalah ini disarankan untuk Para Warga agar berhati-hati dan jangan keluar rumah sembari mengunci Pintu yang rapat"
*Tuttt!
Takashi bisa melihat Ekspresi Reporter tadi yang banyak keringat di jidat dengan wajah antara cemas dan Gelisah, Tubuh yang sedikit gemetar dia tau orang itu ketakutan Juga dalam situasi ini dan ingin segera kabur tapi, dia tak bisa melakukan itu sendiri dan memilih bersama meski dia sendiri tak yakin dengan hal itu.
"Bagus, ini benar-benar menjengkelkan sekali" Immamura mengerang kesal setelah melihat berita itu yang dipastikan tak begitu bagus untuk mereka "kita seperti seekor burung yang terkurung di sangkar"
"Ini benar-benar Gawat sekali ternyata bukan hanya Jepang saja yang terkena dampak itu" Ucap Hisashi terlihat cemas Juga "terlebih mereka Pasti melarang kita Pergi dari sini dan beberapa Negara Juga melarang Penduduk asing masuk"
"Hahh! Persetan dengan Peraturan jika mereka melarang yang kita lakukan hanya mengendap meski dilarang tapi dalam situasi buruk seperti hal itu diperbolehkan" Morita terlihat kesal dengan berita tadi "terlebih masih ada beberapa Negara yang masih normal dan tinggal disana, aku benar Bro?"
"Benar, terlebih Negara ini sudah sangat kacau sekali, kecil kemungkinan akan selamat seperti Normal lagi" Takashi mengangguk setuju "dan Juga meski aku beracu Pada sebuah Film tapi, yang kita tau jika sebuah Negeri terinfeksi maka tak menutup kemungkinan bakal dijatuhi Bom Atom atau Nuklir untuk memusnahkan semua secara instan" dia khawatir dengan ini.
Rei mengangkat tangannya "tunggu, bukankah itu berlebihan? Seharusnya mereka menolong orang-orang yang masih selamat bukan memusnahkan mereka"
"Pemerintah tak mau melakukan hal absurd dan tak menguntungkan mereka lebih baik musnahkan saja terlebih Pasti ada yang bilang 'untuk sebuah Negara yang makmur dan normal memang harus ada sebuah pengorbanan' begitu" Ucap Takashi cukup jengkel tipe orang yang bersembunyi dibalik ketiak orang lain "kita akan Pergi bersama dari sini apapun itu yang terpenting tetap kompak dan kerja sama yang baik itulah yang diuntungkan"
"Jadi, tujuan kita adalah Pergi dari Negara ini dengan cepat Hingga jika suatu hari sebuah Nuklir dijatuhkan kesini" Ucap Saya yang terlihat normal lagi "dan akan lebih bagus jika menemukan petualang lain yang selamat dan kita keluar bersama-sama"
"Tapi, ini hanya Peringatan saja kita ketika bertemu dengan kelompok lain tak bisa percaya Mereka sepenuhnya karena tak ada yang tau niat mereka sesungguhnya" Ucap Hisashi cukup hati-hati dengan orang asing "apalagi Kondisi sekarang yang benar-benar sudah tak ada Peraturan lagi"
"Yeah, Niat buruk..." Guman Morita jika membayangkan Para Gadis yang disekap dan diperlakukan seenaknya oleh Om-om atau Paman bertubuh besar dan Gila sex ketika melihat Wanita muda 'hahhh! Aku rasa harus berhenti membaca itu meski omongan Hisashi terkadang ada benarnya juga' mungkin ini efek kebanyakan membaca Doujin genre Rape.
"Shizuka-Sensei dan Liona-Sensei kalian membawa kunci Mobil?" Tanya Takashi kepada Wanita yang masih single dan dijawab anggukan dari mereka.
"Tunggu kau Gunakan untuk apa?" Tanya Saya bingung.
"Kita Pergi dari sini dengan itu daripada berjalan sama saja dengan bunuh diri" Jawab Takashi menghitung Jumlah orang disini tapi, Wajahnya berubah menjadi kecewa "Arghhhhh! Sial masih kurang untuk Pergi Semua"
"Aku rasa kita bisa menggunakan Bus Sekolah jika ada kuncinya" Hisashi memberi usulan.
"Aku Ada!" Jawab Shizuka menunjukan Benda itu.
"Baiklah kita mulai sekarang dan Bersiap Pergi dari sini" Ucap Takashi membetulkan Pakaiannya "kalian Semua harus bersiap sekarang karena tak ada yang namanya kehidupan Kedua"
"Kau yang memimpin Tim ini Bro!" Ucap Morita mengangkat tangan "kita bantu kau dari belakang sebagai Support" teman di sampingnya mengangguk setuju.
"Dan satu hal lagi sebaiknya kita tak harus melawan Para Zombie itu dan cukup lewati mereka saja tanpa bersuara" Ucap Saya yang sudah hafal dengan Pola fikir mahluk itu "karena mereka buta dan cukup peka terhadap suara sekecil apapun"
"Okay!"
Mereka Semua kembali bergerak dan tiga orang Lelaki berada di depan, dua orang Lelaki di belakang untuk berjaga-jaga sementara Para Gadis di antara mereka karena saat ini mereka Para Gadis yang sangat rawan untuk terserang atau mudah Panik dan itu akan benar-benar mengacaukan rencana yang dibuat Takashi sendiri.
Dan sesuai intruksi mereka berjalan perlahan tanpa suara melewati Para Zombie itu yang tak menyadari kehadiran mereka meski jarak cukup dekat bahkan ada yang berjalan merangkak, Jongkok, dan adapula yang menempel ke tembok kayak cicak dan Semua itu dilakukan berbagai cara untuk menghindari kepanikan yang ada.
Semua Para Wanita mengikuti rencana yang dibuat dan tidak berniat untuk berteriak panik kecuali Miku yang masih gemetar ketakutan dan belum terbiasa dengan hal seperti ini, dia nyaris hampir berteriak kencang kalau saja Takashi tak langsung membungkam mulutnya dengan sebuah kain
Dan tak lama akhirnya kelompok mereka keluar dari bangunan Sekolah itu dan melihat Bus berwarna kuning terpakir disana dan itu tujuan mereka sekarang dan memang benar Jumlah Zombie di luar sangat banyak sekali Hingga tak terhitung.
"Cepat bergerak!" Teriak Kohta membiarkan Para Wanita maju terlebih dahulu sementara dia menjaga agar tak ada yang mendekat kemari.
"Sial! Tak kukira mereka sebanyak ini!" Ucap Hisashi yang cukup merinding melihat suasana yang sesungguhnya dia ikut berlari menjaga Para Wanita.
Morita mendengar teriakan minta tolong dari Seorang Gadis dan Matanya menoleh ke sekeliling dan melihat Targetnya yang dikepung banyak Zombie "Tunggu! Sebentar lagi Nona aku akan datang!" dengan insting alami Lelaki dia berlari kesana tak Peduli rintangan yang menghadang.
"Ayo bantu!" Teriak Takashi menyusul temannya itu dan Immamura Juga ikut.
Morita langsung menghajar mereka tanpa ampun dengan stick baseball Hingga Pecah dan menyemburkan darah segar, dia melihat Kedua temannya datang dan ikut membantu Takashi menyodok kepala mereka dengan sebuah sekop sementara Immamura menebas kepala mereka dengan katana.
Setelah mereka menghabisi Semua Morita melihat targetnya dan memang benar itu Seorang Gadis dengan Rambut berwarna Hitam sedang duduk disana dengan Tubuh gemetar ketakutan.
"Ayo! Ikut aku!" Teriak Morita menarik lengan Gadis itu tanpa ragu, dia sebenarnya ingin berkenalan dan melihat wajahnya tapi, sekarang bukan waktu yang tepat.
Morita terus berlari sambil menarik Gadis itu sudah dia duga banyak Zombie yang mendekat karena suara berisik tadi tapi, dia tetap berlari kencang dan melihat ke depan kawannya yang lain sudah masuk ke dalam Bus dan tak lama mereka berhasil masuk dalam keadaan selamat.
"Hahhh! Selamat untuk sekarang!" Morita menghela nafas Panjang setelah berlari sambil membawa beban.
"Ha! Ha! Hah! Lumayan juga" Immamura dengan nafas tersenggal karena banyak berlari.
"Yah, begitula" Jawab Takashi terlihat biasa saja karena sudah terbiasa dengan hal ini.
"Tunggu kami!"
Takashi melihat kelompok lain yang berlari ke arah mereka sedang di pimpin oleh Seorang Guru juga dan ternyata mereka memang masih ada yang selamat dan dia tak mengenali mereka meski masih satu Sekolah.
"Tunggu Sensei! Masih ada lagi!" Takashi menghentikan Perawat itu untuk segera jalan.
"Tunggu Takashi! Kau seharusnya tak membiarkan mereka masuk!" Ucap Rei yang Wajahnya terlihat berubah dan tak suka dengan kelompok baru "dan tinggalkan saja mereka disana"
"Dan kenapa kau melarangku? Bukankah semakin banyak orang semakin bagus?" Tanya Takashi balik dia ingin Gadis ini bersikap jujur "apakah ada sesuatu hal sehingga kau tak menyukai mereka?"
"Kau takkan Pernah mengerti!" Balas Rei yang memilih mengalah karena Lelaki itu keras kepala.
Takashi hanya mendengus dengan jawaban itu dan tak Peduli "jika kau tak Punya alasan yang bagus jadi, tak ada alasan bagiku untuk menerima Permintaan kau itu"
Dan tak lama mereka masuk ke dalam dan orang Dewasa itu berbicara "terima kasih banyak sudah menunggu"
"Kau akan menyesal telah membawanya!" Rei mengerang kesal dan menatap orang dewasa itu dengan nafsu membunuh tapi, Takashi sadar itu dan memilih diam saja.
"Sensei Jalan!"
"Baik!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Di Dalam Bus ( Perjalanan )
Dan sekarang Kondisi sementara aman terkendali selama mereka menggunakan Bus tak ada Zombie berani mendekat dan itu dimanfaatkan mereka untuk beristirahat meski mereka mencoba untuk tidur tapi tetap saja dengan Kondisi yang kurang baik akan tak nyaman sekali untuk tidur dan ngomong-ngomong Yang menjalankan Bus ini adalah Shizuka karena yang lain sudah lelah.
Kelompok Takashi semuanya beristirahat tapi, mata tetap terjaga Morita dengan Gadis yang dia tolong tertidur di pundaknya tentu saja Immamura sangat cemburu dengan hal ini karena dia satu-satunya lelaki di kelompok ini yang tak ditemani Seorang Gadis untuk Takashi mungkin tak usah dibahas karena di sisi kanannya Sensei berkulit Putih tengah tidur Pulas terlihat terasa damai sekali.
Takashi menoleh sekeliling mengecek tak ada yang tertinggal dan semuanya masih ada termaksud kelompok baru itu meski satu Sekolah dia tak begitu akrab sama sekali terutama Seorang Lelaki Dewasa, dengan Rambut Hitam Sedikit Gondrong, mengenakan Kacamata dan dia Juga Seorang Guru di Sekolah Fujimi yang bernama Shido Koji.
Sejak Awal Takashi sudah mulai tak suka dengan Guru itu karena kelakuannya yang menendang Seorang Murid ketika minta tolong, apalagi karakternya yang berbeda dari sifat asli, yang dia dapatkan dari Manaka membuatnya harus Hati-hati ditambah mantan Pacarnya Rei yang sama sekali membenci Guru ini karena suatu alasan yang tak Pasti tapi dklihat dari Caranya tak suka jika dia menolongnya dapat dipastikan bahwa Shido dan Rei mempunyai cerita masa lalu yang buruk.
Takashi mencoba tidur tapi tak terasa nyaman dan ketika melihat ke depan Para Gadis tengah menatapnya "Ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan Padaku?" dia menatap kursi sebelah kiri masih kosong.
"Hei! Takashi kau tak keberatan bisakah aku duduk di sampingmu?" Ucap Saya terlihat malu-malu berbicara dan sifatnya yang Tsundere kembali muncul.
"Komuro kalau kau mengizinkan aku ingin duduk disana" Ucap Yuuki lebih terang-terangan dan tak ada rasa malu.
"Aku tak masalah jika Takashi-Kun mengizinkan" Ucap Saeko dengan Wajah kalem seperti biasa.
"Bagus sekali Busujima, aku tau kau juga ingin duduk di samping Takashi" Balas Saya menyipitkan matanya dia tau Gadis Berambut Ungu ini memiliki perasaan ke si Bodoh Takashi.
"Kalian ini, kenapa tak rundingkan saja secara bersama" Takashi Sweatdrop melihat tiga Gadis bertengkar seperti anak kucing.
"KAU YANG TENTUKAN!" Jawab mereka bertiga kompak
Takashi hanya mendengus dengan secara terpaksa dia harus nurut matanya menatap tiga Gadis itu Saya terlihat dengan Ekspresi Tsundere dan agak mengancam sedikit, Yuuki hanya berharap dengan Ekspresi mata anak anjing, dan Saeko tersenyum kalem Penuh harap jika dirinya dipilih.
Takashi beralih ke arah lain ke dua temannya itu dan berharap meminta bantuan tapi Dua orang itu hanya mengacungkan jempol dan menyuruhnya untuk menyelesaikan sendiri dan itu benar-benar menjengkelkan karena tak ada yang berguna sama sekali tapi, muncul ide Ecchi di otaknya dan mungkin hanya ini satu-satunya cara.
"Baiklah, siapapun yang memperlihatkan Payudaranya kepadaku boleh duduk disini" Ucap Takashi dengan tegas, dan dua orang temannya langsung bangun ketika mendengar Hal mesum rasanya dia sangat ingin menjitak kepala mereka dengan Sekop untuk sekali saja.
"Apa..." Yuuki agak terkejut dengan Permintaan ini dan wajah blush.
"Kau tak serius bukan?" Ucap Saya dengan wajah memerah malu memang sih dia belum Pernah melakukan seperti ini tapi, di Tempat banyak orang rasanya agak malu.
"Kalau begitu tak boleh ada yang duduk di sampingku" Ucap Takashi karena hal yang mustahil para Gadis melakukan itu, dia mengerang sakit karena lehernya di cubit oleh orang di samping kanannya.
"Takashi"
Lelaki itu menoleh ketika mendengar suara lembut memanggilnya dia langsung Jawdrop ketika melihat Saeko Busujima dengan wajah kalem membuka kancing Baju Sekolah secara perlahan dia tak mengira Gadis itu akan melakukan hal yang memalukan seperti itu dan dia bisa melihat Payudaranya yang lumayan besar terbalut Bra Ungu.
Dan setelah itu Saeko membuka tali Bra dan menunjukan Dadanya kepada Takashi dengan wajah tersenyum malu, Lelaki itu sekarang bisa melihat jelas Tubuhnya yang luar biasa indah jadi tak heran banyak orang yang berkhayal tentang Gadis ini dan berharap bisa menjadi Pacarnya.
"Sudah cukup, kau boleh kembali memakai pakaianmu" Ucap Takashi sudah cukup Puas karena jika dibiarkan banyak mata jelalatan kesini "dan sekarang kau boleh duduk di sampingku"
"Baiklah!." Balas Saeko tersenyum dia memakai Pakaian kembali dan duduk di samping Takashi.
"Apa.." Yuuki tak percaya dengan hal ini, dia harusnya lebih berani lagi tapi, untuk sekarang memilih mengalah saja dulu.
"Tch! Ini belum berakhir Busujima" Saya mendecak kesal karena merasa tertinggal dan kalah dalam hal persaingan ini 'tapi, aku belum menyerah karena ini baru saja dimulai"
"Wow, Bentuk yang bagus dan sesuai dengan Tubuhnya" Komentar Immamura dengan Darah yang menetes dari Hidung, dia akhirnya bisa melihat moment yang sangat langka "tak heran jika dia Ketua Kendo yang Cantik, brengsek kau Takashi! Dia beruntung!" dia terlihat kesal.
"Hehehe kita beruntung karena bersahabat dengannya" Morita menyeringai dengan wajah bejat tapi, tangannya terasa sakit sekali "aku harap Gadis lain seperti itu" dia menoleh dan melihat Gadis yang di tolongnya sudah bangun dan menatapnya tak begitu senang, Langsung saja dirinya kembali duduk normal.
Rei hanya tersenyum saja melihat ini, dia cukup terkejut Juga dengan aksi Gadis Busujima itu jika dirinya memiliki hubungan baik dengan Lelaki itu mungkin sekarang dia akan ikut bersaing tapi, sekarang hal itu sangat mustahil sekali.
*Plak *Plak *Plak *Plak
Semuanya kembali normal dan tetap seperti biass terdengar suara Tepukan tangan dan melihat Sensei berkacamata dengan Ekspresi normal dan Semua Murid disana kembali Diam dan mencuekinya.
"Baiklah, bisakah kalian dengarkan aku" Ucap Shido dengan tersenyum ramah aktingnya benar-benar tak terlihat meski masih agak kaku "Busujima-San apakah kau Ketua dari kelompok ini?" dia menatap Gadis Ungu itu, sebenarnya dia ingin berkomentar tentang kejadian tadi dan memujinya tapi, itu sama saja dengan Pelecehan seksual dia tak ingin Kepalanya terpisah dari Tubuhnya sekarang.
"Tidak, ada yang namanya Ketua dari kelompok kita" Jawab Saeko menggeleng tetap memeluk erat lengan Takashi "kita Semua disini saling bekerja sama dan saling membantu satu sama lain" dia tak merasa curiga sama sekali.
"Kalau begitu aku akan berbicara sebentar" Ucap Shido dengan membungkuk Sopan tampak seringai lain di wajahnya "Baiklah, Semua karena situasi dan Kondisi sekarang kita terpaksa harus Pergi dari rumah kita dan melindungi diri dari Ancaman yang lebih mengerikan.." dia mulai berbicara Panjang.
"Saeko-san bisakah aku tangani ini sekarang" Ucap Takashi yang sudah sangat tak tahan dengan Rayuan menjengkelkan itu, dan Gadis itu mengangguk.
"Dan ketika kita seperti ini maka kita harus tetap bekerja sama dan membentuk sebuah Kelompok tapi, tak bagus jika tak ada yang memimpin orang-orang sebanyak ini dan mengatur mereka" Ucap Shido dengan rencananya yang busuk "maka dari itu aku akan menjadi Ketua di Kelompok ini yang setuju tepuk tangan" dan terdengar kencang tepukan tangan di belakang sebagai tanda kemenangan.
Takashi mengangkat tangannya "Maaf saja, Yah Sensei tentang Saeko-san sebenarnya aku Ketua dari Kelompok ini" dia sudah siap berargumen lagi.
"Ohhh, sungguh itukah kau Komuro-San?" Shido mengangkat sebelah Alisnya dengan wajah tak percaya "kenapa itu harus kau? Bukankah lebih baik jika kau serahkan Pada orang Dewasa yang berpengalaman seperti diriku ini untuk mengatur ini agar kalian selamat?"
"Ohhh, Sensei lupa satu Hal situasi seperti ini yang dibutuhkan adalah sebuah bukti nyata bukan Janji manis mungkin Semua Orang Pandai bicara tapi, ketika bukti nyata tak ada sama sekali, itu sama saja dengan membual" Balas Takashi menyeringai melihat Ekspresi Lelaki itu sedikit tertekan "dan Sensei Bicara soal pengalaman? Aku tak Yakin Sensei tau mengatasi Para Zombie selain berlari menyelamatkan diri?"
"Kau...!" Shido terlihat sangat kesal sekali dengan ucapan yang diremehkan itu seharusnya Lelaki ini yang terjebak tapi malah sebaliknya.
"Ohhh, dan Juga yang dibutuhkan adalah Sesuatu yang baru dan segar, Ingat Negara Amerika yang memiliki Presiden termuda di dunia? Mengapa dia bisa dipilih dan menang dari Orang tua yang lebih berpengalaman?" Tanya Takashi cukup membungkam Mulut Guru itu "karena orang-orang ingin sesuatu yang berbeda dan baru jika cara memipinmu seperti itu aku tak yakin bakal ada yang selamat dan bertahan?"
"Ohhh, jika begitu bukankah tak baik ada dua Ketua untuk satu tim?" Ucap Shido kembali tersenyum ramah meski palsu "dan Juga sudah ada yang mendukung aku jadi Ketua sedangkan kau tidak? Bukankah lebih baik ada yang mengalah dan tinggalkan Bus ini?" Jika dia biarkan Bocah itu bisa menjadi Batu Penghalang untuk rencananya yang asli dan Dia ingin menendang Bocah itu keluar dari sini.
Tapi tak lama terdengar suara nada Pembelaan Takashi.
"Takashi takkan Pernah meninggalkan Bus ini dan dia Ketua dari Kelompok ini" Ucap Saya dengan tegas, dia sudah tak tahan dengan tingkah menyebalkan Guru itu.
"Yah, aku setuju Takashi tetap disini" Sambung Rei jika harus memilih lebih baik Takashi daripada Guru brengsek itu dan dia tak ingin Lelaki itu Pergi.
"Maaf saja Sensei aku lebih mempercayai Takashi-Kun daripada kau" Ucap Saeko awalnya dia ingin netral tapi, ketika Guru itu berniat tak baik dia tak bisa diam saja.
"Aku setuju jika Takashi tetap disini" Ucap Hisashi mengangkat tangan meski hubungannya sekarang tak baik tapi, dia sudah mengenal Takashi Waktu SMP.
"Aku dan Gadis di sampingku setuju dengan Takashi" Ucap Morita sebagai sahabat dia takkan membiarkan Takashi kesusahan karena sikap bangsat Shido.
"Aku akan memilih Takashi saja" Ucap Immamura dan dia mengenal dekat dengan Takashi jadi wajar saja terlebih aksinya yang lumayan keren itu meski sedikit iri dengannya karena memiliki Harem.
"Uhhhmm! Maaf, aku ingin Takashi tetap disini" Ucap Kohta pelan sebenarnya dia ingin netral tapi, situasi seperti ini memaksanya ikut campur.
"Akan lebih bagus jika Komuro masih disini" Ucap Yuuki setuju, terlebih dia tak suka dengan Lelaki pandai bicara bukti Nol, ditambah dia sudah terselamatkan oleh Takashi dan Juga sangat Kagum dengan aksinya yang keren membantai Para Zombie itu.
"Hahh! Meski kita sudah berteman waktu kerja tapi, tetap saja aku tak setuju dengan sikap kau Shido lebih baik bocah ini tetap tinggal" Ucap Liona yang bangun karena pertengkaran kecil tadi dan terlebih dia belum bisa membayar Hutang Penyelamatan dirinya waktu itu "jadi, menyerahlah dan diam disana 10 suara lawan 8 itu sudah jelas bukan?"
"Kau sudah kalah brengsek!" Rei memberi Deathglare ke Guru yang sangat dia benci.
"Tckk!"
Shido hanya mendecak kesal dia tau sekarang sudah kalah dan Juga jika berniat Protes lagi maka tak menutup kemungkinan dirinya bakal keluar Bus secara Paksa dan Pemicu Semua Orang mendukung Bocah itu adalah Tiga Gadis itu yaitu Saeko Busujima, Rei Miyamoto, dan Saya Takagi yang memiliki keyakinan yang sangat kuat sekali dan terlebih Mata yang Bulat tapi tajam bukan karena Kepercayaan kuat melainkan sebuah Cinta Hingga mendorong mereka seperti ini.
Dan sudah jelas sekali dirinya Kalah, awalnya dia berniat menyingkirkan Bocah itu terlebih dahulu lalu berbicara merayu mereka untuk masuk ke dalam rencananya tapi, ternyata ini tak sesuai yang diharapkan dan dia kembali duduk tanpa bicara sama sekali.
'Ingat kataku Komuro ini belum berakhir' Batin Shido dengan tatapan Penuh dendam.
Takashi tersenyum dengan orang-orang yang membela dirinya dan dia akan membantu mereka sebisa mungkin dan dia harus lebih waspada lagi karena Shido tak mungkin bakal diam setelah ini jika ada kesempatan mungkin dirinya akan membunuh Guru itu sebelumnya dia harus bertanya Pada Rei tentang masalahnya.
Takashi merasa di tatap dan melihat ke kiri Seorang Siswa yang umurnya sama menatap ke arahnya dengan wajah tak suka sama sekali dan ciri-ciri Lelaki itu Rambut Pirang dengan Gaya Sisir ke belakang Rapi dan dia melihat Tag Namanya yaitu Tsunoda.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Takashi menatap tajam balik.
"Aku benar-benar tak menyukai kau sama sekali" Balas Tsunoda memberi Deathglare.
"Apa masalahmu bung! Aku tak pernah mengenalmu dan Juga tak Pernah mencari masalah dengan kau" Ucap Takashi cukup kesal dia tau situasi ini bakal terjadi baku hantam bukan berarti dia akan kalah dari Orang ini "berhenti bercanda situasi ini takkan habis jika tingkah menyebalkan kau!" tapi, dia tak ingin berbuat kekacauan sekarang.
"Aku benar-benar benci kau sekarang rasanya aku ingin memukulmu" Teriak Tsunoda semakin besar dan amarah matanya sangat jelas sekali.
'Mungkin karena Takashi memiliki Harem sedangkan dia brengsek' Batin Immamura berniat membantu tapi, Takashi sendiri bisa mengatasi itu, dia Juga melihat Mata Tsunoda yang dipenuhi dengan Api Cemburu.
"Dengar! Jangan cari masalah disini" Ucap Takashi berusaha tak berbuat onar.
"Arghhhj! Aku semakin benci kau!"
Tsunoda langsung berteriak dan menyerang, Takashi berniat menendang Wajahnya dan melemparkan paksa Orang itu tapi, sebuah Tongkat besar menghantam kepala Tsunoda dan membuat Lelaki itu mencium ke bawah dan ternyata itu Ulah Gadis Berambut Coklat dan mantan Pacarnya.
*Duaghhhh!
"Kau benar-benar menjengkelkan juga" Ucap Rei sangat kesal dengan tadi.
"Wah! Wah! Wah! Tehknik yang bagus" Ucap Shido tersenyum dengan tepukan tangan mengabaikan Deathglare dari Rei.
"Terima kasih" Ucap Takashi tersenyum kecil.
"Yah, tak masalah" Balas Rei tersenyum dia cukup lega karena nada bicara Takashi sedikit lembut mungkin ini sebuah Pintu untuk membuka lembaran baru dengan mantan Pacarnya itu.
Dan keadaan Bus kembali normal meski banyak Zombie di luar nyatanya jika mereka mendekat bakal dipastikan terlindas Oleh Bus besar itu dan beberapa saat kemudian Bus tiba-tiba berhenti tanpa sebab.
"Komuro Ada sebuah Besi Pagar dan tembok menghalangi Jalan" Ucap Shizuka berhenti mengendarai dan menanyakan muridnya "apa yang harus kita lakukan sekarang?"
'Tch! Menjengkelkan' Shido masih kesal dengan tadi dan Juga Perawat Sekolah itu lebih percaya pada bocah itu daripada dirinya maka jika dia tadi Protes atau semacamnya saat ini mungkin dirinya takkan ada di Bus.
Sudah Takashi duga perjalanan mereka sudah cukup jauh dan berhenti di sebuah Jembatan penghubung tapi, ini masih terhalang dan Matanya menoleh ke sekeliling dan dia sedikit ada ide sekarang untuk mengatasi ini
"Baiklah kita akan beristirahat di bawah Jembatan sekarang" Jawab Takashi meski Ide ini cukup riskan Juga untuknya saja, meski begitu terdengar nada Protes dari kubu sebelah "dan siapa yang setuju ikut aku"
"Apa kau tak bisa begitu seenaknya!"
"Kau tak bisa memustukan secara sepihak!"
"Bagaimana kalau ada Zombie yang mendekat!"
"Berhenti bercanda!"
"Terserah kalian mau ikut atau tidak tapi, memang ini rencanaku" Ucap Takashi sudah cukup muak dengan mereka dan berjalan keluar bus "dan Juga Rencana kalian dan Rencana aku berbeda jadi kita akan berpisah disini dan terserah kalian melakukan apapun itu dan aku tak Peduli" dan Kelompok yang mendukungnya ikut keluar juga.
"Dadah! Pecundang sampai Jumpa lagi!" Ucap Morita meledek dengan tangan melambai "ohhh, ya Jaga Bus itu baik-baik jangan sampai rusak karena Kepsek akan marah sekali"
Dan Pada akhirnya Kelompok Takashi dan Kelompok Shido berpisah dengan rencana mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
- Bawah Jembatan
Kelompok Takashi kini beristirahat di bawah Jembatan dan menyusun rencana mereka kembali Morita dan Immamura telah kembali dari Swalayan yang anehnya mereka santai saja seolah tak terjadi apapun dan adapula yang memilih tidur sekarang mereka kini berhadapan dengan Api unggun besar untuk memghangatkan diri.
"Aku cukup terkejut dengan ucapan dan aksimu tadi" Komentar Saeko yang Paling terkejut sendiri karena aksi dadakan tadi "tapi, aku rasa ini lebih baik daripada harus bersama mereka"
"Yah, aku juga" Sambung Yuuki menatap Lelaki "awalnya aku juga bingung tapi, aku tau Komuro sudah memikirkan hal ini sebelumnya"
"Yah, lebih baik seperti ini daripada harus bersikeras dengan Pendapat masing-masing" Balas Takashi jika menurutnya sebuah Kelompok sudah berbeda Faham maka dipastikan akan hancur sendiri terlebih dia tak suka dengan Otak sok mengatur Shido yang tanpa berfikir ke depan "dan Juga mereka mengenakan Bus itu sudah berbeda sekali dengan tujuan kita jadi, untuk apa bergabung lagi"
"Yeah, Guru itu terlalu misterius dan sulit di percaya" Immamura mengangguk setuju dan tujuan Kelompok mereka adalah keluar dari Negara ini "ngomong-ngomong soal itu yang aku lihat tadi Miyamoto sangat benci sekali dengan Shido memang ada apa?"
"Yeah, aku juga melihat hal itu sebelumnya ketika Miyamoto melarang Komuro untuk memberi masuk mereka" Sambung Yuuki menyadari itu Juga.
"Ahhhh, bukan apa-apa hanya masalah kecil saja, tak ada yang Perlu dijawab" Ucap Rei tak ingin masalahnya diketahui Orang lain tapi, teman-temannya memasang wajah sangat ingin tau sekali "uhmm! Guys! Tak usah seperti itu Juga kali..." dia tak bagaimana caranya menolak mereka karena Rahasia Pribadi miliknya sangat Sensitiv.
Takashi langsung memberi Pembelaan "hei! Hei! Hei! Kalian sudah hentikan mungkin suatu hari dia akan memberi tau sendiri jadi jangan dipaksa" dan semuanya kembali normal lagi tanpa Protes "yah, lebih baik kita makan makanan yang diambil oleh mereka karena Mubazir jika dibiarkan saja"
'Rei, ada apa denganmu?' Batin Hisashi merasa ada yang salah dengan Pacarnya selain itu Rei tak Pernah memberitahukan Rahasianya dan dia Percaya Gadis itu menyembunyikan sesuatu terlebih ketika Ekspresi wajahnya yang berbeda sekali ketika melihat Shido 'akan aku cari tau nanti'
"Ngomong-ngomong aku rasa Kelompok yang lain sudah Pergi dengan menggunakan Bus itu" Ucap Yuuki mendengar Suara mesin mobil.
"Dan Juga daerah sini cukup sepi bahkan ketika aku berkeliling tak menemukan satu Zombie sama sekali" Sambung Saeko
"Biarkan saja mereka tak usah dihiraukan toh, kita berbeda rencana dari mereka" Jawab Takashi tak begitu Peduli dengan nasib mereka "dan alasan tak ada apapun disini karena Pihak Tentara sudah kemari dan membasmi mereka buktinya Pagar besi dan tembok buatan itu jika tidak mungkin kita masih tetap berjalan"
"Ngomong-ngomong Morita bagaimana dengan Gadis itu?" Tanya Immamura kepada Lelaki Mohawk itu yang tengah mengobrol dalam Hati dia kesal karena keberuntungan belum memihak kepadanya "oiii! Bangsat! Berhenti membuat mataku jengkel!"
"Dia memang baik-baik saja hanya jiwanya masih trauma sedikit" Balas Morita yang tengah mencoba mengobrol dengan Gadis dan dia Juga mendengar keluhan dari temannya "Heyy! Bodoh! Kau sendiri yang harusnya menutup mata dan dilarang bicara" dia tersenyum meledek dan tampak Wajah kesal sekali dari Immamura.
Morita bisa melihat Gadis ini memang lumayan Cantik, dengan Rambut Hitam Panjang dan Poni ke bawah, dan tali Pita di kedua sisi Rambut, Matanya cukup unik sekali yang satu Biru dan yang satu lagi Ungu, Tubuhnya kecil dapat dia Pastikan Gadis ini adalah Adik kelas dan terlebih Ukuran Dadanya lumayan untuk umur segitu.
"Na-namaku Yoshino Kureha a-aku da-dari Ke-kelas 1A" Jawab Gadis itu meski agak terbata karena masih ketakutan.
"Baiklah Aku Morita dari kelas 2C dan tenang saja kau aman sekarang" Ucap Morita mengelus Rambutnya agar Gadis itu tenang dan dia menoleh kepala "hei, Takashi kau ada rencana? Karena kita tak bisa diam disini terus"
"Ada, dan tolong dengarkan karena aku ada dua rencana dan itu tergantung pengamatan kalian setuju atau tidak setelah aku jelaskan" Jawab Takashi serius semuanya diam mendengarkan "Pertama kita cari kendaraan lain yang sama seperti Bus memuat banyak orang dan yang kedua kita menginap di sebuah Rumah Hingga Pagi lalu fikirkan rencana lain yah, meski aku ragu yang Pertama tapi, ada yang mau bicara?" dia meminta Pendapat.
Hisashi mengangkat tangan "aku ingin tau kenapa kau sedikit ragu dengan rencana yang Pertama bukankah itu lebih bagus?"
"Memang Bagus tapi, kita tak tau keberadaan Bus itu terlebih lagi hari sudah menjelang malam dan semakin banyak Zombie yang berkeliaran akan Gawat Juga" Jawab Takashi cukup Pusing ketika memikirkan ini "dan meski hanya Hipotesis dariku tapi, ada beberapa Zombie yang aktif Pada malam hari dengan kata lain mereka akan Ganas dan Liar Pada waktu itu terlebih Senjata kita yang seadanya sangat memudahkan kita terbunuh"
"Yah, aku Pernah dengar Juga ada Zombie yang bergerak keluar Pada malam Hari sementara siang mereka sembunyi di Tempat Gelap" Ucap Kohta ikut Pembicaraan "dan memang waktu kita tak sedikit untuk mencari kendaraan dan akan habis mencari sebelum ketemu"
"Baiklah ada lagi?" Tanya Takashi.
Rei mengangkat tangannya "maaf soal ini tapi, kenapa kita harus menginap sebentar di sebuah rumah bukankah Para Zombie akan menyerang Juga?"
"Memang kedua rencana Itu berlaku untuk Zombie biasa dengan cukup mengunci Pintu yang rapat atau tak bersuara tapi, rencana yang Pertama ini takkan berlaku Untuk Zombie yang aktif Pada malam hari karena sekali terincar maka habis sudah" Jawab Takashi cukup waspada meski belum melihat mereka tapi, kewaspadaan tinggi adalah kunci ingin selamat "dan alasan kenapa rencana kedua aku pilih karena Zombie yang aktif Pada malam hanya suka Gelap dan mereka cukup Sensitiv sekali dengan Cahaya"
"Maka dari itu jika siang mereka akan bersembunyi di Tempat Gelap dan ketika malam akan keluar secara Kelompok" Sambung Kohta.
"Memang rencana itu cukup bagus tapi, yang jadi masalah aku saat ini adalah bagaimana caranya kita bisa ke seberang sana?" Tanya Saya cukup risau Juga mendengar Penjelasan tadi.
"Kita hanya berenang melewati sungai ini dan tenang hanya sedalam 4 Meter" Jawab Takashi tapi, ada sesuatu yang sedikit dia khawatirkan "ngomong-ngomong disini Semua ada yang bisa berenang?"
Para Lelaki mengangkat tangan dan Wanita hanya Saeko, Yuuki dan Rei sisanya mereka tak bisa berenang sama sekali.
"Bicara soal berenang apakah kau sudah tau Tempat yang akan kita inapi?" Tanya Immamura, Takashi hanya menggeleng membuatnya menjatuhkan diri ke bawah.
"Dan Juga adakah di antara kalian yang memiliki kenalan atau Sahabat yang memiliki Rumah di sekitar sini?" Tanya Takashi sebenarnya dia bisa saja masuk rumah siapapun tapi, itu cukup riskan jika ada Para Zombie di dalam rumah.
"Aku ada tapi, itu cukup jauh dan tak mungkin cepat sampai jika berjalan" Jawab Liona agak kecewa karena tak bisa membantu.
"Aku ada dia adalah sahabatku sewaktu SMA dan kita masih berteman sampai sekarang" Sambung Shizuka yang sudah bangun dari tidur "dan jaraknya tak terlalu Jauh dari Jembatan hanya terhalang 4 rumah dan Juga aku sering kesana ahhh! Dia bilang Juga aku boleh melakukan apapun dengan rumahnya"
Takashi menyeringai dengan tinju ke atas "Baiklah sudah diputuskan ayo berangkat!"
"Hoo!"
Dan semuanya mulai berenang secara perlahan melewati Sungai itu dan bagi yang tak bisa berenang mereka dituntun, Saya oleh Takashi, Yoshino oleh Morita, Shizuka oleh Saeko dan Rei, Liona oleh Hisashi dan Yuuki, sementara Kohta dan Immamura mereka hanya berenang sendiri dengan wajah melas karena tak ada Gadis yang meminta mereka membantu.
Kasihan!
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Di Bagian Kota lain
Terlihat sebuah Helikopter besar yang terbang dan dengan Senjata mesin mereka menembaki Para Zombie itu tanpa henti terlihat ditanah seperti Banjir darah dimana-mana dan Juga ditambah Peluru di dalam Senjata itu seolah tak terbatas sama sekali dan mereka memang benar-benar tewas.
Dan tak lama Helikopter itu mendarat dan seseorang yang turun terlihat Wanita berumur di atas 20, mengenakan Pakaian Agen Tentara khusus berwarna Hitam, Rambut Keriting Panjang berwarna Ungu dan Kulit Sawo matang meski begitu dia cukup memiliki daya Pikat.
"Aku rasa sebaiknya akan memulai itu dari sini, kalian Semua ikut aku"
"Baik!"
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Dan selesai pada akhirnya aku selesai meski cukup melelahkan juga tapi, ini demi kepentingan Reader yang setia membaca hahahaha ohhh ngomong-ngomong Aku skip Bagian Rei yang disandra di Pom bensin.
Pm
RnR
