Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Sehun | Xiumin | Luhan | Kyungsoo | Kyuhyun | Suho | Lay | Kai | Baekhyun | Taemin |
Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery
Rated : T
Author : BabyMingA
.
BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!
.
.
.
.
:BabyMingA:
.
EXOST
Inspired by : Kamichama Karin
By : Koge Donbo
.
:Chapter 10:
.
.
.
Miyoung merasakan firasat buruk ketika bunga mawar yang ia pegang mati kemudian menghitam. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kebun dan semuanya sama. Tanaman mawar itu mati semua begitu juga dengan tanaman di sekelilingnya.
Ia mengadahkan kepalanya ke langit. Langit tampak gelap dan aura tidak mengenakan mulai ia rasakan.
"Ini mengerikan," rasanya ia menggigil ketakutan melihat apa yang terjadi.
.
.
.
.
.
Tao melepaskan tautan tangannya dan dia terduduk di atas lantai kayu. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak menggigil dan memandang takut Taemin dengan mata yang berlinang air mata.
Taemin menatapnya dengan senyum lebar dan berjongkok di hadapan Tao yang seperti ketakutan. Taemin mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Tao dengan perlahan.
"Kita bertukar sekarang".
Taemin seperti mengambil alih seluruh kesadarannya. Pandangan Tao perlahan-lahan mulai buram dan hal terakhir yang ia dengar adalah saat suara Sehun yang memanggilnya.
.
.
.
Sehun melihat Tao bersama dengan pria cantik asing. Tao berjongkok sementara pria itu— Taemin, memegangi kepalanya sambil tersenyum mengerikan. Sehun menambah kecepatan langkahnya dan dengan sigap ia menangkap tubuh Tao yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tao! Hei, kau kenapa?" Sehun menepuk-nepuk pipi Tao yang dingin.
"Intercambiamos y no estamos unidos," ucap Taemin.
Sehun menatap tajam Taemin. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Waktunya sudah tiba. Kami akan kuat dan kalian akan lemah. Dia—" Taemin menunjuk Tao, "kami adalah satu yang terpisah".
Sehun tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan oleh pria berambut kuning itu. Tapi, setidaknya dia menangkap satu hal mendengar apa yang diucapkan Taemin. Ia menatap Tao dalam. Badannya sangat dingin, sampai-sampai Sehun seperti memegang es batu.
"Apa jangan-jangan—" Sehun menggantung kalimatnya saat pemuda cantik itu tidak ada lagi di hadapannya. Ia mengeratkan rengkuhanya pada tubuh Tao, "apakah dia Kronos?"
.
.
.
.
.
.
Kris mengepalkan tangannya dan matanya yang tajam mengunci sosok Kyuhyun yang berdiri angkuh di hadapannya. Ia menangkap dua sosok lainnya di belakang Kyuhyun.
Kai dan Baekhyun.
Kyuhyun menyeringai. "Kau datang juga kemari?" ia membuka pembicaraan.
Rahang Kris mengeras. Ia matian-matian menahan agar tidak membakar jimjjibang ini. "Apa yang kau lakukan?"
Kyuhyun bersidekap. Ia memandang remeh sosok Kris yang mudah sekali tersulut emosi. "Memangnya apa yang ku lakukan?"
Chanyeol mengetahui keadaan akan sangat buruk. Ia melirik sekilas dua pria di belakang Kyuhyun. Salah satu dari pria itu adalah orang yang dia temui di meja respsionis. Chanyeol tak menyangka kalau pria cantik itu adalah teman dari Kyuhyun.
"Kris, sebaiknya kita mencari Tao dulu. Sudahlah; ini tempat umum dan jangan banyak bicara," Chanyeol mengenggam pergelangan tangan Kris, tapi langsung ditepis oleh pemuda pirang itu.
"Aku yakin, mereka sengaja merencanakan acara ini, Chan. Mereka membawa Kronos!"
"Tapi yang terpenting adalah kita mengetahui keberadaan Tao di tangan bocah albino itu!" Chanyeol menaikan nada suaranya.
Kris menghela nafasnya untuk mengatur emosinya. Betul juga apa yang dikatakan pemuda yang terkadang idiot itu. "Baiklah."
Kris membalikan badannya bersama Chanyeol. Tapi, saat akan maju dua langkah, sebuah anak panah yang bercahaya menghadang mereka. Chanyeol dan Kris membelalakan matanya dan berbalik.
Pandangan Chanyeol mengarah pada sosok pemuda cantik yang di tangannya ada panah bercahaya. Chanyeol mengamati wajah keduanya dengan seksama.
"Oh, Tuhan! Aku baru ingat!" Chanyeol melirik Kris, "mereka yang menjadi bodyguard Choi Siwon waktu itu dan…" ia mengalihkan pandangannya pada sosok Kai, "…yang menyerang kita waktu itu Kris."
Tangan Kris mengepal erat, sedangkan Kyuhyun tertawa di tempatnya.
"Kau terkejut Kris?" Kyuhyun melirik kanan kirinya. "Ngomong-ngomong, mereka itu adalah…
Exost."
Sebelum Kris dan Chanyeol bereaksi, Kai mengeluarkan pedangnya dan Baekhyun sudah bersiap lagi dengan panahnya. Kai dan Baekhyun saling berpandangan lalu mengangguk. Dengan kekuatan teleportasinya, Kai sudah berdiri di belakang Kris dan Chanyeol, lalu menghunuskan pedangnya di antara mereka. Kris dan Chanyeol langsung memisahkan diri mereka, lalu kabut tebalpun menutupi mereka.
"Sial! Mereka sengaja memisahkan kami," dengus Kris.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tao menerima air putih yang diberikan oleh Sehun. Ia baru saja sadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu dengan kepalanya yang benar-benar pusing dan tubuhnya yang terasa lemas.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Sehun pelan.
Tao memijat keningnya, "kepalaku terasa tertimpa batu dan seluruh tubuhku lemas."
Sehun mengangguk dan menempelkan tangannya di kening Tao untuk memeriksa suhu tubuh si Huang. Ia terdiam sebentar.
Kami adalah satu yang terpisah
Seketika ucapan bocah cantik bernama Taemin itu terngiang di otaknya. Ia menatap Tao dalam. Sehun cukup prihatin akan kondisi Tao ke depannya. Tidak akan ada yang menduga kalau Huang Zitao akan menjadi begitu lemah secepat ini.
"Sehunnie, apa ada yang salah?"
Sehun mengerjap dan menggeleng. "Tidak ada apa-apa." Sehun mencium kening Tao dengan lembut. "Kau harus kuat, okay?"
Tao mengerjap kemudian mengangguk. Sehun itu baik. Hanya saja, dia terlalu kekanakan dan sifatnya yang 11-12 dengan Kris. Tapi, Tao cukup senang. Hidupnya lebih berwarna, daripada dulu bersama bibinya.
"A…ah!"
Sehun menjauhkan wajahnya dan memperhatikan Tao. Pemuda panda itu kembali mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Sehun menepuk-nepuk pipi Tao panik.
"Tao, hei kau kenapa?" tanyanya mulai cemas.
Tao meremas rambutnya dan menggeleng lalu beberapa detik kemudian Tao terdiam. Pandangannya kosong. Sehun semakin panik dengan kondisi Tao yang sekarang. Dia mengguncang-guncang tubuh Tao, tapi tak memberikan respond apapun.
"Astaga, kau kenapa Tao?"
OMFG! Apa yang bisa Sehun lakukan sekarang? Dia bukan ahli medis ataupun yang lainnya.
"Kris…" lirih Tao.
Sehun menoleh. Tiba-tiba saja Tao menangis masih dalam pandangannya yang kosong.
"Chanyeol gege…"
Sehun menangkup wajah Tao dan mengelap air mata di wajah Tao dengan ibu jarinya. Barulah kali ini Tao memberi respond dengan balas memandang manik mata Sehun.
"Sehun," panggil Tao pelan. "Aku merasakan mereka berdua dalam bahaya." Tao meremas tangan Sehun dan matanya menunjukan permohonan, "ku mohon, cari mereka di sekitar sini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tao menatap lirih ke arah pintu yang tertutup. Sehun baru saja keluar untuk menuruti permintaannya. Mengucapkan itu, tentu saja Tao memiliki alasan. Tapi ia tidak tahu mendapatkan penglihatan darimana. Tiba-tiba saja kepalanya sakit dan seketika rohnya di tarik keluar.
Tao seperti berada di suatu tempat di jimjjilbang ini dan melihat Kris dan Chanyeol yang sudah penuh luka dan nampak kelelahan.
"Mereka akan baik-baik saja, kan?"
.
Sekali lagi Kris mengarahkan cambuknya ke arah Kyuhyun yang dengan mudahnya menghindar. Kris sudah mengetahui kenapa Kyuhyun bisa sekuat itu dan dirinya bisa selemah ini secara tiba-tiba.
Chronos dan Cronos sudah bertukar.
Ctak!
"Fufufufu, kau salah lagi Wu Yifan?" Kyuhyun menginjak tanpa merasa kepanasan cambuk milik Kris.
Nafas Kris memburu. Ia menggenggam pegangan cambuknya dan berusaha menariknya dari injakan kaki Kyuhyun. "Damn it!"
Kyuhyun terkekeh dan menyingkirkan kakinya sehingga Kris terdorong ke belakang. "Kau terlihat lelah. Apa kau sudah menyerah?"
"Diam kau!"
"Okay aku akan diam." Kyuhyun duduk di atas lantai kayu jimjjilbang itu dengan posisi kaki bersila. Tangannya ia lipat di depan dada dan pedangnya ia pangku. "Ngomong-ngomong, bagaima kau melihat ini?"
Kyuhyun menjetikan jarinya dan kembali kabut yang sangat tebal melingkupinya. Kris tidak bisa melihat apa-apa, sampai matanya terbelalak ketika melihat siluet hitam yang tiba-tiba berubah menjadi pemandangan yang benar-benar membuat amarahnya sampai ke ubun-ubun.
"Tao!"
Kris mencoba bergerak untuk menghampiri Tao, tapi rasanya tubuhnya kaku sekali, kakinya tak bisa digerakan. "Tao!"
Ia melirik ke ke dua kakinya dan tangannya. Ada sesuatu yang mengikatnya, tapi tak kasar mata.
Tao menoleh ke arahnya. Wajah pria manis itu sudah penuh dengan lebam dan pakaiannya benar-benar tidak bisa dikatakan layak lagi. Tubuhnya sudah berlumuran darah, bahkan Kris bisa melihat kaki kanan Tao berada di sisi lain tubuhnya. Di dekat Tao ada dua ekor foe.
"Kris, tolong aku…"
Kris yakin, Tao pasti sudah benar-benar ketakutan dan kesakitan. Seharusnya ia berada disana.
"Tao, ku mohon bertahanlah."
"Hiks… sakit Kris, sakit."
Lalu satu foe mendekat ke arah Tao dan menunjukan kukunya yang panjang dan hitam. Foe itu meletakan kukunya di bawah leher Tao yang memasang wajah pasrah, tapi masih penuh dengan ketakutan.
Tao menatap Kris dengan penuh kekecewaan.
"Kau jahat Kris. Kenapa kau hanya diam dan tidak menolongku?"
Foe itu mulau menusukan jarinya secara perlahan ke leher Tao.
"Tao! Tao! Bukan itu mak— TAO!"
Crassshhh
"Kris!"
Tiba-tiba saja gambaran mengerikan itu menghilang dari hadapannya dan digantikan dengan seseorang berkulit putih pucat yang berlari ke arahnya.
Oh Sehun.
Kris mendudukan tubuhnya yang terasa lemas setelah dia melihat bagaimana sadisnya 'kematian' Tao. Ia mengepalkan tangannya dan mengucapkan kalimat-kalimat makian untuk dirinya sendiri.
"Kris! Apa kau baik-baik saja?" Sehun berdiri di hadapannya.
"Oh Sehun, dimana Tao?" Kris mendesis.
"Tao? Dia berada di kamarku," Sehun memasang wajah bingungnya. "Memangnya kenapa?"
Kris menatap tajam Sehun. Kabut di sekelilingnya sudah menghilang dan Kyuhyun sudah tak terlihat lagi keberadaannya.
"Bodoh! Kau bodoh Oh Sehun!" Kris berteriak. "Kenapa kau meninggalkannya? Dia… dia…"
Sehun tersenyum meremehkan. "Kau mudah sekali ditipu, yah?"
Kris terperangah, "maksudmu?"
"Kau berada di kabut ilusi ciptaan Kyuhyun tadi." Sehun berkacak pinggang, "lagipula aku tidak sebodoh itu meninggalkan Tao dalam keadaan sendirian. Aku memasang dindin penghalang."
Kris menghembuskan nafasnya lega. Demi Tuhan, dia ingin mati rasanya melihat bagaimana Tao tewas dengan kepala yang nyaris putus dari lehernya.
Beberapa detik berselang, Kris menyadari ada yang kurang dan dia baru sadar kalau Chanyeol masih bertarung dengan dua anak buah Kyuhyun lainnya.
"Kita harus mencari Chanyeol."
.
.
.
.
.
.
.
.
Srak
Pedang yang digunakan Kai memotong beberapa helai rambut Chanyeol yang mencoba menghindar.
Tap
Nafas Chanyeol terengah-engah. Dia sudah kelelahan dan dua Exost di hadapannya terlihat baik-baik saja. Chanyeol mengelap sudup bibirnya dengan ibu jarinya yang berdarah.
"Muro de fuego," Chanyeol menaruh telapak tangannya di lantai dan anak panah Baekhyun langsung terpental ketika dinding api melindungi Chanyeol.
"Hah… hah… hah…" Chanyeol mendudukan tubuhnya untuk mengambil nafas. Badannya sudah sampai pada batas maksimal, dan sialnya… kedua Exost yang menjadi musuhnya kali ini masih terlihat baik-baik saja.
Hanya ada bekar terbakar lengan baju milik Baekhyun yang mengenai beberapa senti kulitnya.
"Sial! Pasti mereka sudah sangat terlatih."
"Oi, Park Chanyeol!"
Chanyeol langsung mengepalkan tangannya mendengar suara nyaring orang yang memegang anak panah itu— Baekhyun. Seseorang yang tadi ia temui di resepsionis yang menurutnya sangat manis, ternyata adalah musuhnya.
"Apa yang kau inginkan?" Chanyeol menggeram.
"…yang kami inginkan?"
Tap
Tap
"Bagaimana kalau… membunuhmu?" kali ini suara Kai.
Kai menghunuskan pedangnya, tapi sia-sia. Ia terpental dua langkah ke belakang.
"Membunuhku?" Chanyeol tersenyum sinis, "kita ini sama-sama Exost. Jika Exost tidak ada dua belas orang…" ia menarik nafas panjang. "dunia akan hancur, jika Eris dibangkitkan oleh Jack."
Kai tertawa.
"Dunia hancur?" suaranya terdengar miris. "Bahkan bagiku dunia sudah hancur. Kenapa tidak sekalian dihancurkan saja, huh?!" Kai nyaris berteriak, tapi dengan cepat Baekhyun menenangkannya.
"Kai, sudah. Kau sudah terlalu berbicara banyak," Baekhyun memejamkan matanya. "Dua Exost lainnya sudah datang mendekatdan kita harus segera pergi."
Kai menatap tajam dinding api yang melindungi tubuh Chanyeol. "Kau bersembunyi dan terlihat sangat memalukan Park Chanyeol!"
Kai menggenggam tangan Baekhyun dan detik berikutnya tubuhnya menghilang bersama tubuh Baekhyun.
Perlahan-lahan dinding api Chanyeol juga ikut menghilang dan memunculkan tubuh tinggi Chanyeol yang kelelahan dan bisa dikatakan babak belur. Tak menunggu lama, Kris dan Sehun datang dengan setengah berlari menghampirinya.
"Chanyeol! Kau tidak apa-apa?" Kris berjongkok di hadapan Chanyeol dan memperhatikan kondisi tubuh Chanyeol.
"Mereka benar-benar berniat membunuhku," ia melirik Sehun dan mengisyaratkan untuk membantunya berdiri.
Sehun dengan cekatan membantunya.
"Kau kacau sekali."
"Yeah…" Sehun memapah tubuh tinggi Chanyeol menuju kamarnya, dimana sedang ada Tao yang beristirahat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekali lagi Tao menggigit bibir bawahnya meskipun Kris dan Sehun sudah membentaknya untuk tidak melakukan itu. Di hadapannya, Chanyeol sedang diobati oleh Sungjong yang sengaja ditarik dari acara makan siang yang hanya dijaga oleh Minho.
"Apa yang kalian berdua lakukan sehingga babak belur seperti ini?" Sungjong akhirnya bersuara setelah menempelkan plester kecil di sudut bibir Chanyeol.
Semuanya saling bertatapan— kecuali Sungjong.
"Eum, mereka… mereka berkelahi memperebutkan celana dalam. Iya, mereka berkelahi karena itu," celetuk Tao yang disambut dengan keterperangahan orang-orang di sekelilingnya.
Tao menatap takut-takut Kris yang wajahnya sudah memerah.
"Iyakan, Kris?"
Kris melotot, "hn."
"Ya ampun!" Sungjong memekik. "Kalian benar-benar kekanakan, yah!"
Pria yang menjadi roommate nya Sehun itu menutup kotak obat dan menggelengkan kepalanya. "Sudah. Masih banyak yang harus aku kerjakan."
"Thanks. Kau ikut club kesehatan tidak sia-sia, kan?"
Sungjong mendengus, "aku tidak percaya aku dimanfaatkan oleh salah satu pangeran sekolah."
Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Ngomong-ngomog, kenapa ada Kris dan Chanyeol sunbae di sini?"
"Eum… itu tidak apa-apa."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kris dan Chanyeol lebih memilih untuk pulang lebih dulu dengan membawa Tao. Seharusnya Tao beristirahat, tapi dia tidak mau dan memilih berbicara dengan Kris di kamar pemuda pirang itu untuk pertama kalinya.
Duduk bersebelahan dengan kediaman selama lima belas menit terakhir.
"Kau seharusnya beristirahat," akhirnya Kris yang memulai pembicaraan di antara mereka.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," Tao menoleh ke arah Kris.
"Apa?"
Ia memejamkan matanya secara perlahan lalu menghela nafasnya panjang. "Aku bertemu dengan aku yang lainnya. Maksudku… kau mengerti, kan?"
Kris terdiam sambil melihat mata Tao yang juga membalas tatapan matanya.
"Dia mengatakan apa saja?"
"Aku bertukar dengannya. Berarti… aku sudah melemah, kan Kris? Itu berarti jika aku melemah, kau dan lainnya juga akan melemah. Iya, kan?"
Kris diam.
"…itu kenapa kau dan Chanyeol luka-luka sepert ini. Kau berniat melindungiku."
Mata Tao berkaca-kaca.
Dia tidak boleh menangis dan terlihat lemah. Dia harus kuat.
"Aku tidak ingin jadi lemah, Kris. Aku juga ingin menguasai kekuatan ku se—"
Ucapan Tao terpotong, ketika Kris menempelkan bibirnya tanpa aba-aba. Tao hanya terdiam. Beberapa detik kemudian, Kris menjauhkan wajahnya. Wajahnya masih datar tapi tatapannya melembut.
"Kris…"
"Beristirahatlah. Kau jangan terlalu banyak memikirkan apapun."
Tao menggeleng. Ia mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Kris.
"Berjanjilah kalau kau akan melindungiku dan semuanya."
Awalnya Kris merasa ini konyol. Tapi pada akhirnya, ia mengaitkan jari telunjuknya dan tersenyum kecil. "Aku berjanji. Aku berjanji akan melindungimu dan semuanya."
"…lalu berjanjilah kau tidak akan mati."
Kris diam.
"Kenapa diam? Apa kau—"
"Aku berjanji tidak akan mati."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Wu Yizi, dengarkan mama."
"Iya, Ma?"
"Apa kau merindukan papa mu?"
"Papa…" anak kecil berumur empat tahun itu mengangguk. "Ya!"
Orang yang dipanggil mama itu tersenyum, kemudian ia berlutut di hadapan sang anak.
"Berikan ini…" ia melepas cincin di jari manis tangan kirinya, "dan juga ini, Sayang," kemudian ia mengeluarkan sepucuk surat dari saku jaketnya.
"Aku harus berikan ini pada siapa?"
"Hari ini tepat satu tahun kematian papamu— Kris Wu," sang mama memeluk anaknya dengan erat dan matanya mulai berkaca-kaca, "…dia tewas karena bibit chaos yang tertanam di jantungnya pada pertarungan melawan Eros saat itu, Sayang.
Sayangnya kita semua telat menyadari itu."
"Yizi akan menceritakannya pada orang itu."
Dia— Huang Zitao dimasa depan menatap anaknya dengat wajah yang sudah basah. "Kau akan bertemu papa. Temui Huang Zitao dan Kris Wu dan bilang padanya…
Tolong ubah masa depan."
.
.
.
.
.
.
_TBC_
*Haiyyaaa… Sorry for late post~
Akhirnya chap depan Yizi dan Chenchen akan muncul huwahahahaha…
Last, mind to review?
.
.
.
-next update : Chocolate!
