Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Pairing : NaruHina

.

.

.

Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan rambut panjang wanita itu. Air mata mengalir tak bisa ia tahan. Kedua tangan mengepal erat menyalurkan betapa sakitnya melihat objek yang tengah disaksikan.

Sedangkan Shion yang merasakan pelukannya dibalas tersenyum bahagia dibalik dada bidang Naruto. Ia merasa jika pria itu membalas perasaannya.

'Tidak... dia bukanlah Naruto yang aku kenal'

Hinata melangkah mendekati mereka berdua yang seolah-olah terbuai dengan dekapan masing-masing.

"Naruto-kun" ucapnya setenang mungkin.

Mendengar bahwa disini bukan hanya mereka berdua Shionpun melepaskan pelukannya dan menengokan kepala melihat Hinata.

"A...ahhh Hyuga-sama" ujarnya terbata-bata. Namun Hinata sama sekali tidak mengubrisnya dia terfokus menatap kearah Naruto.

"Mau apa kau kesini? Kau mengganggu acaraku saja" kilah Naruto.

Plakk! Satu tamparan sukses mendarat dipipi tannya membuat Naruto sedikit tersadar dengan apa yang ia perbuat.

"Apakah kamu senang melakukan hal itu dan membuatku menderita?" Geram Hinata.

Seraya memegang pipinya yang memerah Naruto beranjak dari duduknya dan menghadap Hinata dengan seringaian kembali tercipta disana.

"Yahh aku senang. Bagaimana apakah kau merasakan sakit setelah menyaksikan ini dengan kedua mata kepalamu? Dan itulah yang aku rasakan ketika kalian berdua menyatakan fakta itu. Dasar penipu."

"SUDAH CUKUP. AKU MUAK DENGANMU. KAU TIDAK MEMBERIKANKU KESEMPATAN UNTUK BERBICARA... DENGAR YA AKU SAMA SEKALI TIDAK SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN. AKU SAMA SEPERTIMU DITIPU OLEH TOU-SANKU SENDIRI" setelah mengatakan hal itu Hinatapun pergi dari sana. Sedangkan Shion hanya terdiam tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

Reaksi Naruto? Ia hanya berekspresi datar entah apa yang ia pikirkan saat ini.

"Narito-kun?" Ucap Shion lembut.

"Jangan ganggu aku" balasnya dan berlalu meninggalkan Shion sendirian dengan beberapa pertanyaan sudah memenuhi pikirannya.

.

Malam kembali menjelang semua pekerja kantor telah pulang kerumah masing-masing. Tapi Hinata tidak pulang kediamannya melainkan ke sebuah apartemen yang baru saja ia beli. Ia terlalu kecewa dengan sikap Tou-sannya Hinata memutuskan lebih baik pindah dari rumah daripada harus melihat Tou-sannya yang membuat hidupnya jadi seperti ini. Alasan apa yang membuat Tou-sannya itu sampai tega menyembunyikan kebenaran itu.

"Naruto-kun no bakaaaa" gumamnya dengan air mata sudah kembali mengalir disana.

Ingatan kembali lagi pada kejadian tadi sore yang ia saksikan sendiri tepat didepannya.

"Apakah sakit yang ia rasakan seperti ini?" Lanjutnya lagi seraya memegang dada.

Brughh! "Hah~ aku tidak mengetahui apapun" ujarnya menghempaskan tubuh diatas kasur, menerawang jauh kelangit-langit kamar memikirkan akan seperti apa hari-harinya nanti dengan seseorang yang telah berubah.

.

Naruto sudah tiba di apartemen ia tengah melamun memikirkan ada apa sebenarnya dengannya. Apakah ia sudah bersikap dengan sewajarnya? Apakah ia telah melukai wanita itu?

"Aarrgghhhhh kuso... aku sudah tidak perduli lagi. Lebih baik aku pergi saja dari pada berada disini terus" ucapnya dan berjalan mencari koper.

Setelah Naruto mendapatkan koper, iapun langsung mengemas beberapa baju dan barang-barangnya yang akan ia bawa. Entahlah dia akan pergi kemana yang jelas ia sudah memutuskan untuk meninggalkan segala kenangan yang telah tercipta di kota Konoha ini.

Setelah selesai mengepak semua barang-barang Narutopun langsung pergi keatas kasur dan membaringkan tubuh lemasnya disana.

Kelopak mata itu terpejam menyembunyikan sapphire indah miliknya. Namun itu sama sekali tidak bisa membuat dirinya benar-benar terlelap tidur.

Tangan tan itu mengelus pelan sisi ranjang yang minggu lalu seseorang tertidur disana. Menjaganya serta merawatnya penuh kasih.

"Aarrrgghhhh kenapa aku tidak bisa tidur" geramnya dan duduk ditepi kasur.

Ingatannya kembali pada saat dimana Hinata ada disana juga kejadian tadi sore membuat wanita itu kembali mengalirkan air mata didepannya lagi dan hal itu diakibatkan olehnya. Bukankah Naruto pernah mengatakan bahwa ia sangat membenci wanita yang dicintainya menangis? Dan hari ini bahkan ia melakukan hal yang sangat menyakitkan untuk wanitanya itu.

"Sudahh... dia memang pantas mendapatkannya" brugghh! Ia pun kembali mencoba tidur dan mengenyahkan segala ingatan tadi.

.

.

.

Pagi menjelang, Hinata sudah berada dikantornya untuk mengurus beberapa perhiasan baru. Memang ini masih sangat pagi bahkan pekerjanya belum ada satupun yang datang, Hinata sengaja datang ke kantor sebelum yang lain ia tidak ingin melihat seseorang yang telah melukainya, disebabkan karna tempat pria itu bekerja tepat ada didepan ruangannya.

Jam terus bergulir dan gini sudah menandakan pukul 10:30. Wanita itu sedikit heran karena tidak mendapati sekertarisnya untuk memberitahukan jadwal untuk hari ini. Hinata memang tidak ingin bertemu dengannya namun ia juga harus profesiaonal dalam bekerja. Hinata tidak mau urusan pribadi mengganggu mereka.

Tokk... tokk... tokk... "masuk" ujarnya setelah mendengar pintu ruangan diketuk. Sayangnya itu bukan sekertaris yang ia tunggu-tunggu melainkan wanita musim semi datang kesana.

"Ya ada apa Sakura?" Tanyanya setelah Sakura tepat berada didepannya.

"Saya ingin menyerahkan ini" menyodorkan sebuah amplop kecil pada Hinata.

"Apa ini? Kamu mau mengundurkan diri?" Heran Hinata melihat surat yang tertulis 'pengunduran diri' itu.

"Tidak ko. Lihat saja sendiri isinya" balas Sakura kembali kedalam mode biasa tidak formal seperti tadi.

Dahi Hinata mengkerut, perasaannya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi. Ssrrrttttt! Suara surat yang ia buka. Ia pun membawa isi surat dan membacanya.

Sedetik kemudian lavender itu membulat tak percaya dengan apa yang ia baca "ke...kenapa dia bisa mengundurkan diri?" Lirihnya menatap Sakura penuh tanya.

"Tadi dia datang kesini dan memintaku untuk menyerahkannya. Aku bilang kau saja yang menyerahkannya tapi dia tidak menjawabku dan pergi begitu saja. Tapi aku rasa dia akan pergi kesuatu tempat karna aku melihat dia membawa sebuah koper"

"Apakah kamu tahu kemana Naruto akan pergi?"

Ya surat pengunduran diri itu memang dari sekertarisnya, Uzumaki Naruto. Tadi sekitar pukul 09:45 pagi Naruto datang ke tempat Sakura bekerja. Meminta wanita itu untuk menyerahkan suratnya.

"Gomen. Aku sama sekali tidak mengetahuinya" sesal Sakura.

"Ahh baiklah. Arigato, kembali bekerja"

Sakura menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan Hinata.

Brughh! Hinata mendaratkan punggungnya kesandaran kursi. Menerawang jauh kelangit-langit ruangannya "sekarang apa lagi? Apakah kamu benar-benar akan meninggalkanku?" Gumam Hinata lirih tak percaya dengan apa yang ia terima.

.

Sedangkan orang yang membuat wanita itu bingung kini tengah berada dalam perjalanan entah akan kemana.

Naruto POV

Sebenarnya aku masih belum menemukan akan kemana tujuanku, yang jelas aku ingin pergi saja dari Konoha. Aahh bus ini mengarah ke Suna. Kota yang pernah aku kunjungi tempo hari. Mungkin lebih baik aku tinggal sementara saja deh disana.

Siapa sih yang terus-terusan menelponku? Ku merogoh ponsel yang berada disaku jas kananku. Aku lihat disana sudah banyak panggilan masuk darinya. Kenapa dia menghubungiku? Ohh mungkin surat pengunduran diriku sudah sampai padanya.

Ya aku memang memutuskan untuk keluar saja dari perusahaan itu. Dari pada aku masih disana dijadikan robot oleh mereka dan terbayang-bayang akan sakit hati ini lebih baik aku keluar saja mencari pekerjaan lain diluaran saja aku yakin masih banyak perusahaan yang akan menerimaku.

Tanganku menghapus semua kontak dan panggilan darinya. Aku terlalu muak akan dirinya. Namun ada 1 pesan masuk dari wanita lain akupun membuka dan membacanya.

'Naruto-kun kamu kemana ko sekarang tidak masuk? Apakah terjadi sesuatu padamu?' Itulah isi pesan singkat yang wanita itu kirimkan padaku, siapa lagi jika bukan Shion? Perawakan mereka memang hampir sama namun entah kenapa aku rasa mereka berbeda. Apa lebih baik aku bersama dia saja? Toh dia bilang dia mencintaiku bukan kemarin?

'Aku baik-baik saja. Aku sudah keluar dari kantor. Dan aku kini dalam perjalanan menuju suatu tempat' balasku membalas pesan darinya. Entah kenapa aku sangat ingin melakukan hal ini. Perasaan cinta dan benci menjadi satu, aku sudah tidak bisa merasakan apapun lagi. Biarkanlah semua mengalir bagaikan air. Biarkanlah Tuhan yang memberikan skenario hidup untukku sampai mendapatkan ending yang terbaik.

.

Disisi lain wanita yang pesannya dibalas oleh Naruto tersenyum dengan senangnya seolah ia mendapatkan lotre hari ini.

"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tanya Shizuka yang khawatir dengan temannya itu.

"Tidak ko. Aku hanya lagi senang saja" jawabnya acuh tak acuh. Shion memang memendam perasaan itu seorang diri. Shizuka bahkan Akiko yang terbilang dekat dengannya tidak mengetahui hal itu. Jadi pantas saja ketika Shion tersenyum seraya memandang ponsel Shizuka merasa khawatir.

'Aku yakin dia tengah jatuh cinta' ekspetasi Shizuka terus saja memandang Shion yang masih memainkan ponsel miliknya.

Hinata berjalan kearah mereka mencari seseorang yang sangat ia butuhkan kali ini. Hinata rasa salah satu dari mereka mengetahui dimana keberadaan Naruto.

"Shion-san bisa kita bicara sebentar?" Ucap Hinata membuat kedua wanita tadi terkaget melihat kedatangan Hinata.

"Ahh Hyuga-sama" ucap mereka berbarengan seraya membungkuk hormat.

"I...iya Hyuga-sama ada perlu apa dengan saya?" Gugup Shion melihat ekspresi dingin Hinata. Ia masih teringat dengan kejadian kemarin dimana ketika dirinya dan Naruto berpelukan tepat didepannya, namun Hinata sama sekali tidak menghiraukan dirinya akan hal itu. Apakah sekarang Hinata akan mengintrogasinya? Itulah yang sekarang ada dalam benak Shion.

"Ayo ikut saya" ujar Hinata, berlalu dari sana.

.

Sesampainya mereka diatap kantor yang menjadi tujuan Hinata dari awal kini keduanya saling berpandangan. Tatapan Hinata menatap intens wanita yang kini berdiri didepannya.

"Apakah kamu tahu dimana Naruto berada?" Tanya Hinata langsung ke inti pembicaraan.

"A...aku tidak tahu sama sekali Hyuga-sama" bohong Shion. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan jika dirinya sempat berbalas pesan sebelum Hinata mengajaknya bicara? Bisa-bisa ia kena sembur.

"Benarkah? Baiklah aku hanya ingin mengatakan hal itu saja" lanjut Hinata lagi dan pergi meninggalkan Shion dengan penuh kekhawatiran.

"Hahh~" Shion terlihat begitu lega "ternyata dia hanya menanyakan hal itu saja aku kira dia akan menginstrogasiku. Hihihi gomen ne Hinata aku membohongimu. Kita bersaing sehat saja, ne" gumam Shion menyeringai melihat punggung Hinata yang semakin menjauh.

Langkah kaki itu terasa berat menerima semua kenyataan yang tak habis pikir akan seperti ini.

Sakura yang melihat Hinata berjalan dengan lemas segera menghampirinya "Hinata" teriaknya membuat wanita itu terdiam dan menoleh "Sakura... ada apa?" Tanyanya lesu.

"Kamu tidak apa-apa?" Kembali Sakura bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.

Hinata menggeleng dengan senyum kecut dibibirnya.

'Aku yakin ini gara-gara si kuning itu' batin Sakura geram "kalau begitu lebih baik kamu pulang saja ya biar aku antar" tawar Sakura, namun di tolak begitu saja oleh Hinata "tidak aku benar tidak apa-apa ko. Aku kembali bekerja saja ya" ucapnya pergi meninggalkan Sakura.

"Baru saja beberapa jam si kuning itu pergi meninggalkannya dan separuh nyawa Hinata sudah hilang? Aahhh benar-benar gawat. Bagaimana jika Hinata tidak bertemu lagi dengannya? Aku yakin dia akan seperti mayat hidup. Aku harus bertindak" gumamnya dan kembali ke tempat kerja mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

.

Naruto sudah sampai di kota pasir itu. Kota yang tentunya sangat berbeda dengan Konoha. Disana setiap mata memandang hanya ada hamparan pasir, kaki jangkung itu terus melangkah mencari apartemen untuk tempat tinggal. Dengan membawa koper besar orang-orang meyakini jika dirinya pendatang baru.

Tatapan itu menangkap sebuah bangunan menjulang tinggi 15 meter dari tempat ia berdiri "ketemu aku yakin itu apartemen" gumamnya seraya berjalan kesana.

Setelah beberapa jam mengurus administrasi untuk menyewa salah satu kamar diapartemen ini iapun berjalan menuju tempatnya.
Cklekk! Pintu dibuka menampilkan ruangan yang asing baginya. Naruto masuk untuk memberesakan barang-barang yang ia bawa.

"Yoshh membuka lembaran baru" teriaknya penuh semangat.

.

Sakura kini terlihat tengah menunggu seseorang disalah satu cafe dekat kantor. Sudah hampir 25 menit ia menunggu akhirnya orang yang ia tunggu telah tiba.

"Gomen, aku telat" ujarnya duduk didepan Sakura.

"Tidak ko, aku juga baru datang" balasnya tersenyum begitu manis.

"Jadi ada apa Sakura?" Tanyanya langsung.

"Kau tahu si kuning itu pergi dari sini. Bahkan ia mengundurkan diri dari kantor" jelas Sakura membuat pria didepannya nampak terkejut.

"Benarkah? Kamu tidak berbohongkan?"

"Benar, aku tidak berbohong Sasuke-kun" ya benar dia memang tengah bertemu dengan kekasihnya. Sakura memutuskan jika mereka berdua bekerja sama mungkin Naruto dan Hinata akan kembali bersama walaupun ia tahu jika hubungan mereka belum bisa berada dalam satu ikatan.

"Lalu bagaimana dengan Hinata? Masalah awalnya seperti apa sampai bisa seperti ini?" Sasuke nampak penasaran.

"Hinata terlihat sangat menyedihkan. Awalnya..." Sakura menjelaskan bagaimana Naruto tidak sengaja mendengarkan pembicaraan antara Hiashi dan Hinata yang membeberkan suatu fakta yang membuat Naruto sakit hati, menuduh Hinata seorang penipu sampai Naruto mengundurkan diri dan pergi dari Konoha berambas buruk bagi Hinata.

"Ternyata Hinata sangat mencintainya ya. Dasar baka mengambil keputusan dalam keadaan emosi." Geram Sasuke "kita harus mencarinya dulu"

"Ya benar, kita harus membantu Hinata.

"Hn."

.

.

.

Ini sudah berjalan hampir 1 bulan lamanya. Kemanapun Hinata mencari tak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaannya. Hinata hanya ingin menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dalam menyembunyikan fakta itu. Hinata ingin Naruto tidak membencinya.

Benar apa yang dikatakan Sakura tempo hari dan bagaimana keadaan Hinata sekarang. Ya dia seperti mayat hidup. Wajah yang semula selalu berseri kini terlihat kusam. Dan itu membuat Sakura yang setiap hari melihat Hinata bekerja keras dalam mencari Naruto selalu merasa kasian dan juga khawatir. Sakurapun tahu jika Hinata sudah tidak tinggal lagi dengan Tou-sanya Hiashi.

Tapi untungnya tidak berdampak pada pekerjaan. Hinata meyakini jika selagi ia menyibukan diri ingatan tentang Naruto sedikut berkurang. Namun setelah pekerjaannya selesai ingatan itu kembali lagi membuat ia seakan menjadi gila.

"Hinata" ucap Sakura lembut datang keruangan Hinata.

"Hmm" senyum lemah Hinata.

Brughh! Sakura memeluk Hinata erat. Ia tidak sanggup melihat Hinata yang seperti ini. Lebih baik melihat Hinata yang arogan dan selalu bersikap dingin.

"Hinata apakah kamu akan seperti ini terus? Sudahlah Hinata lupakan dia"

Hinata mendorong Sakura pelan "tidak aku tidak bisa melupakannya. Aku hanya ingin menjelaskan padanya bahwa aku bukanlah seorang penipu" ucap Hinata tersenyum rapuh pada Sakura.

"Sudah ya aku akan mencarinya lagi" ucapnya dan berlalu dari sana.

"Ini semakin buruk saja" ucap Sakura dan berlalu juga dari sana.

.

"Sasuke-kun bagaimana ini? Aku tidak tega melihat Hinata yang setiap harinya selalu terpuruk" lesu Sakura saat kekasihnya datang.

"Si baka itu ya, baiklah akan coba aku hubungi dia"

Tutt... tttuuuttt... ttuuttt... klik!

'Moshi-moshi'

"BAKAAAAAA. KAU DIMANA HAH?"

'A..aahh teme ada apa ini? Tiba-tiba menghubungiku dan berteriak seperti itu'

"Kau sudah melanggar janjimu. Apakah kau tidak mencintai dia lagi? Kau tahu dia prustasi sekarang, setiap hari mencarimu kemana-mana"

'Ohh penipu itu? Aahhh aku senang mendengarnya. Kau tidak usah cape-cape memarahiku seperti itu aku berniat untuk melupakannya'

"KUSOOOO BAK_"

'Sudah ya. Jaa'

Klik! Panggilan diputus begitu saja.

"Bagaimana Sasuke-kun?" Tanya Sakura penasaran.

"Dia sudah berubah. Dan juga dia akan melupakan Hinata"

"Apa? Dia sudah gila, bagaimana bisa dia berkata seperti itu sedangkan Hinata disini tengah sibuk mencarinya sampai melupakan segalanya" geram Sakura mengepalkan kedua tangan.

.

Hinata masih saja membanting stir mobil kesana kemari mencari sosoknya yang sudah hilang selama hampir 1 bulan. Ini sudah 3 jam berlalu sejak ia keluar dari kantor.

Hari sudah menjelang sore, keringat muncul di dahinya seolah ia tengah menahan sakit yang teramat sangat. Alasannya bukan lain karena penyakit maghnya yang selalu kambuh. Ya dia melewatkan lagi sarapan pagi dan makan siangnya. Hinata memang tidak sempat mementingkan dirinya sendiri ia lebih memprioritaskan untuk mencari Naruto sampai ketemu.

"I...ittaiiiii" gumamnya seraya meremas bagian sakit didalam perutnya. Sedangakan salah satu tangannya lagi memegang stir.

"A...aku seper...ngghhh...tinya tid...ak bisa menahan... aarrrgghhhh... nya lagi"

Hinata membanting stir begitu saja bermaksud untuk memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Namun sayang seribu sayang sebuah mobil yang tengah melaju kencang didepan tidak terlihat dalam pandangannya sehingga...
Brughh! Pranggggggg! Mobil mereka saling beradu menimbulkan sebuah kecelakaan.

Satu mobil terlihat lebih parah. Sang pengemudi sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dikepalanya mungkin diakibatkan oleh sebuah benturan. Terlihat asap mengepul disana. Semua orang yang tengah berada disana langsung berlarian untuk menyelamatkan mereka.

"Cepat hubungi ambulance" teriak seorang pria.

"Ha'i" dan seseorang yang lain menyanggupinya untuk menghubungi ambulance.

"Bukankah ini..." kaget orang yang menyelamatkan sang pengemudi.

.

Kkrriingg...! Suara telpon diruangan Sakura berbunyi. Beruntung ia ada ditempat jadi ia langsung menjawabnya.

"Moshi-moshi Hyuga Corp disini"

'...'

Sedetik kemudian mata emerlad itu terbelalak lebar, mulutnya sedikit menganga tak pecaya dengan apa yang baru saja ia dengar "ha'i saya akan segera kerumah sakit" setelah menutup telpon Sakura langsung menyambar tas dan berlari untuk keluar dari sana.

'Kau akan mati Naruto. Aku tidak akan memaafkanmu' batinnya penuh dengan emosi.

Tbc...

Bagaimana minna? Gomen jika tidak sesuai dengan kalian hehehe tapi apapun itu makasih banyak yang masih setia membaca fic hyugana. Jika berkenan silahkan reviews ya ^^/ ^^v :D

reksaa234 : hehe iiya gomen ne :) sudah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews ^^

JustNaruHinaAndKibaTamLover : wkwkwk iya nih gomen ne jadinya melenceng :D arigato udah ngereviews ^^

febrianzawira : hehehhe iya gomen gomen :D mudah-mudahan konflik mereka tidak akan lama ko hanya mencairkan suasana baru aja :D :D udah lanjut semoga suka ^^ arigato udah ngereviews ^^

magendrik : udah lanjut :D arigato udah ngereviews ^^

piupiuchan : wkwkwk iya gomen ne :D udah lanjut semoga suka ya :) arigato udah ngereviews ^^

isabellastefani64 : hehehe arigato ne, gomen gomen udah dibikin baper :D udah lanjut semoga suka ^^ arigato udah ngereviews ^^

Helena Yuki : hehehe iya dia memang sialan :D :D udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews ^^