Disclaimer: nggak usah pake disclaimer-disclaimer-an! *digetok Masashi Kishimoto*
Pairing: Following the last chappie
Warning: ini cuma footnote / Epilog-nya aja ya, soale saya masih ngerasa kurang gitu.
Yak, seperti yang sudah saya bilang, ini cuma FOOT NOTE!
Karena saya masih merasa ada 'kejanggalan' antara judul ama ending... jadi saya buat tambahannnya. Dikit banget, kok! Nggak sampe duaribu karakter.
Bagi yang keberatan saya ngasih footnote alias epilog, yasud. sabodo *dilempar sendal*
here it is! ^o^
Epilog : Clear
"Gaara-senpai!" panggil Sakura dengan nafas terengah-engah.
Yang dipanggil menoleh. "Ada apa?"
Sakura memerah. "Ngg. Ano... soal... eh, soal... yah... S-senpai tahu, kan? Hehe," ia meringis.
Gaara tertawa. "Soal tadi malam?" ia tersipu. Sakura mengangguk.
"Sakura," kata Gaara tiba-tiba. Batinnya berpikir keras. Bilang apa nggak? Iya apa nggak?
Dengan mengesampingkan segala resiko yang ada - diteriakin satu sekolah, diketawain Sasuke habis-habisan - oke, bilang! dengan mental pejuang 45 (?) Gaara...
Ia menghela nafas. "Aishiteru, Sakura-chan."
...
...
"Hah?" Sakura melongo.
Gubrak!
"Kamu nggak denger barusan aku ngomong apa?" Gaara sweatdrop.
"Nggak."
*Gaara pundung*
"GOTCHA!" tawa Sakura tiba-tiba. Ia mengecup pipi Gaara tiba-tiba, dan melesat kembali ke kelasnya. "Aku juga cinta Senpai! Jaa!" lambainya dengan - seperti yang Sasuke pernah bilang sebelumnya - childish.
Gaara tersenyum tipis. "...Sakura."
-oOo-
. . Di situlah ia, di bawah pohon ceri.
. Seperti pasangan patung, satu di atas cabang, sedangkan yang satu lagi duduk di rerumputan.
Hinata terduduk di atas rerumputan basah, bersandar di batang pohon ceri tempat ia bermain lempar tangkap ceri (?) dengan Sasuke dulu.
Dulu.
Ia tersenyum getir.
Gadis itu memunguti satu persatu bunga ceri berwarna putih yang berjatuhan di atas rumput, membersihkannya di air empang yang bersih dan sejuk dan memandangi keindahannya. Putih, lembut, tapi rapuh. Seperti Hinata sendiri.
Pluk!
Sebuah ceri jatuh ke atas hidungnya. Hinata memungut ceri itu dan melahapnya hingga tandas. Tau amat yang ngelempar kalau ia lagi laper.
Pluk!
Oke, untuk yang satu ini, Hinata nggak mungkin memakannya juga. Kenapa ceri-ceri itu bisa jatuh tepat di atasnya? Meskipun ia merasa di untungkan juga karena ceri-ceri yang jatuh itu kebanyakan ceri merah yang besar dan sudah matang.
Ia mendongak ke atas.
"Sasuke-s-senpai?" Hinata tercekat.
Di situlah ia, Sasuke... di atas cabang pohon ceri tertinggi. Menampung beberapa ceri matang di telapak tangan kirinya, dan sejumput ceri matang di tangan kanannya. Wajahnya cool dan... jenaka?
Sasuke menyeringai, seolah menantang Hinata untuk memanjat cabang pohon ceri ini juga, tidak peduli gadis itu bisa atau nggak. Hinata membalas senyum menantang itu dan dengan lihai memanjat satu persatu cabang, dan memilih cabang yang berseberangan dan sama tingginya dari cabang milik Sasuke untuk tempat duduknya.
"Lo suka, kan?" tanya Sasuke sambil melempar sebutir ceri lagi pada Hinata. Gadis itu bisa menangkapnya dengan mudah dan menjejalkannya ke dalam mulut.
"Ya, aku sedang lapar," jawab Hinata dengan mulut penuh.
Sasuke tersenyum tipis. Kemudian, matanya tertuju pada apa yang dikenakan Hinata di lehernya.
Ah. Kalung itu.
"Hinata?" tanya Sasuke.
"Ya?"
"Gue punya... pasangan kalung lo."
Hinata menghentikan kunyahannya. Ia melepas kalung miliknya dan menatapnya dalam. Hanya kalung sederhana, berbandul persegi mungil bertuliskan huruf S.
S. Sasuke Uchiha.
Ia memerhatikan saat cowok pantat ayam itu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja sekolahnya. Seuntai kalung. Berbandul persegi mungil yang bertuliskan huruf H.
H. Hinata Hyuuga.
Cowok itu meringis. "Hah. Lihat, hurufnya tertukar. Punya gue H dan punya lo S."
"Hinata-Sasuke," jawab Hinata tanpa ditanya. Matanya membulat dan wajahnya kembali merah padam. "Ah."
"Aneh," timpal Sasuke.
Hinata menatap kalungnya bingung. "Aku ketemu kalung ini dulu... 10 tahun lalu," gumamnya.
Sasuke ikut-ikutan menatap kalungnya, atau kalung siapapun itu. "Aku juga."
"K-kenapa bisa kebetulan begini?" tanya Hinata ngeri.
"Jangan-jangan kalung setan," gelak Sasuke sambil pasang muka horror (?). Hinata tertawa dan mendekap mulut Sasuke, seolah menyuruhnya agar diam lebih lama.
"Kita... buang saja kalung ini," katanya. Sasuke - yang mulutnya dibekep Hinata - mengerutkan kening.
"Buang?"
"Buang. Iya, buang," Hinata mengangguk. "A-aku rasa mereka yang dulu mempunyai kalung ini juga kemudian membuangnya - sepertinya."
Sasuke memutar matanya. "Itulah kenapa kalung ini bisa nyasar di semak-semak."
Hinata tersenyum. "Dan ada di antara tuts-tuts piano."
"Buang?"
"Buang."
"Satu."
"Dua."
"TIGA...!"
Kalung itu terlempar jauh, satu ke arah utara, dan satu lagi ke arah selatan. Hinata dan Sasuke tersenyum tipis, seolah sudah melakukan sesuatu yang berguna. Padahal, yang ia lakukan hanya melempar dua untai kalung.
Dan semoga saja, orang yang ketimpuk kalung itu nggak marah pada mereka.
-oOo-
"Ciee... ada pasangan baru, nih!"
"Ehm, ehm..."
Hinata blushing, sementara Sasuke bikin wajah 'pengen-banget-nimpuk-Gaara-pake-kumbang' (?). Asli gedek banget!
"Pa-pasangan apa?" tanya Hinata makin blushing.
Sakura nyengir. "Aaah, bilang saja. Udah jadian sama Sasuke-senpai, kan?"
Hinata membulatkan mata. "Nggak!"
Ah, tumben suaraku kenceng, pikir Hinata dengan polosnya.
"Kalau kalian nggak pacaran, Sasuke, kenapa waktu prom nite kalian kabur BARENGAN?" interogasi Gaara sambil pasang muka penguasa.
"Perasaan lo aja kali," jawab Sasuke malas.
Sejujurnya, Hinata masih punya setoples ceri pemberian Sasuke. Kalau ia membawanya sekarang, ia pasti sudah menimpuk Gaara dan Sakura dengan ceri. Buat nutupin blushing tingkat akutnya.
"Kalau kalian nggak pacaran, Gaara-senpai, kenapa tangan kalian pegangan begitu?" balas Sasuke sengit. Merujuk pada Gaara dan Sakura yang sekarang gelagapan dan melepas kedua tangan mereka yang - sengaja atau tidak - saling menggenggam.
"Karena gue mau," jawab Gaara seenak udelnya (?).
Mereka berempat sejenak diam, mencari-cari alasan untuk perang mulut antara kubu SasuHina dengan GaaSaku. Hingga akhirnya...
"Sasu, kalung konyol lo itu mana?" tanya Gaara, menyadari bahwa Sasuke nggak lagi memain-mainkan kalung di tangannya, seperti yang biasa cowok raven itu lakukan.
"Hina-chan, kalungmu itu mana?" tanya Sakura, menyadari bahwa leher Hinata sekarang kosong, bersamaan dengan Gaara.
Gaara dan Sakura saling berpandangan. "Kalung?"
Tiga, dua, satu!
"CIEEEEE...!"
Seperti permintaan readers, ini Aya kasih footnote/epilog/ apapun namanya. ^w^ maaf pendek, emang sengaja dibikin pendek *digetok*
ruki: emang nggak ngebahas tentang kalungnya, soale Aya mau serius ke percintaan *aseek* dulu. tapi ini udah ada "hint"-nya, hope you read it ya.
sora: tenang, dah ada hint kok di sini ^w^b
simba: endingnya masih bikin penasaran? *ngejedotin kepala ke tembok* moga aja footnote bisa jadi ending yang pas ^w^
Review, minna! ^w^
eh, bagi yang nggak ngerti hint-nya ada di mana *gubrak* gini deh:
# [maybe] dua kalung itu milik dua pasangan berinisial S dan H yang kemudian dilempar ke random place, ke mana aja yang penting jadi *digetok*
# bayangin aja siapa pasangan di naruto yang berawalah S dan H, selain Sasuke dan Hinata ^w^
.
.
/*-Forgive me, Minna! Aya tau fict ini masih jauh dari sempurna! =w="-*/
