"Lama sekali," gerutu Karin begitu ia keluar dari pintu lift. Di lantai ini hanya ada dua ruangan pegawai, satu ruangan miliknya, satu untuk Karin. Park Hoon dan satu orang lagi memiliki meja khusus di depan pintu ruangannya. Sebuah sofa juga disiapkan untuk menampung tamu jika ada janji kunjung dengannya. Tapi hari ini, sofa itu sedikit kurang beruntung karena sepertinya Karin sudah duduk gelisah di sana selama berjam-jam. "Rapat sudah selesai sejam yang lalu, kemana saja kau, brengsek."

Oh Sasuke selalu benci dengan mulut comberan itu, meski harus diakui itu ampuh untuk beberapa situasi.

"Ada apa?" Sasuke masih dengan mode tenang dan santainya, "Kau menerima tamu tanpa persetujuanku?"

Karin memutar matanya mendengar pertanyaan itu. Sekali gerakan ia menyeret Sasuke menuju ruangannya.

"Park Hoon pastikan tidak ada yang mengganggu Sasuke sampai ku izinkan. Mengerti?"

"Siap." ucap Park Hoon sambil meluruskan badan dan memberi tanda hormat ala militer.

"Bagus." ucap Karin sambil menutup pintu ruangannya dengan tergesa.

"Kau tidak bilang kalau punya anak selain Keanu,"

Sasuke berjengit dengan sebelah alis terangkat mendengar kalimat Karin. Tatapannya tajam dengan pandangan menolak. Ia baru saja menghadapi klien yang duduk diam bak tembok es. Butuh keahlian khusus untuk membaca apa keinginannya, dan begitu sampai di kantor, tiba-tiba harus mendengar kabar yang nyaris membuatnya sport jantung. Yang benar saja.

"Dia ada di ruanganmu. Astaga, aku tahu kau tampan Sasuke, tapi aku bisa mati kalau terus-terusan menerima kejutan macam ini."

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Apa lagi? Anak itu tentu saja," desis Karin tak sabar. Ia berputar cepat di tempat duduknya, menghadap Sasuke dengan tatapan kaget, "Tunggu, kau yakin tidak ada lagi selain Shion yang... yah, kau tau maksudku."

Sasuke mendengus melihat ekspresi meremehkan Karin. Ia hanya mengedikkan bahu.

"Entahlah."

"Oh sial. Sudah kuduga,"

Sasuke bangkit dari duduknya saat dirasanya Karin tak cukup mampu membuatnya mengerti apa yang terjadi. Lagipula perempuan itu hanya mengomel tak jelas sejak tadi.

"Mau kemana kau?"

"Menemuinya, tentu saja," ucap Sasuke sambil membuka pintu ruangan Karin, "Aku harus memastikannya sendiri. Kau tahu, Uchiha tidak mudah diklaim." sebuah smirk jumawa dihadiahkannya pada Karin yang hanya mendengus sebal.

"Dasar sombong."


"Sarada?"

Remaja tanggung yang tengah asik menatap keluar jendela itu menoleh cepat mendengar namanya disebut. Ia tersenyum begitu mendapati siapa yang datang.

"Paman," sapanya sambil beringsut mendekati Sasuke, "Apa kabar?"

"Baik," jawab Sasuke tanpa meninggalkan pandangan herannya dari Sarada. Ia berjalan menuju sofa di tengah ruangan, sarada mengikutinya dari belakang. "Bagaimana kau tahu aku di sini."

"Kau cukup populer," ucap Sarada tanpa beban. Pandangannya menginspeksi seluruh ruang kerja Sasuke dengan teliti, "Aku suka ruanganmu, sangat terkontrol."

Sasuke tersenyum tipis mendengar opini Sarada. Tentu saja itu benar, ia sudah berubah jadi perfeksionis sejak berhasil bangkit dari kehilangan ibu gadis itu. Oh tidak, jangan lagi tentang Sakura.

"Jadi, ada hal apa mencariku?"

Sarada mengedikkan bahu enggan. "Entahlah, sekadar memastikan, mungkin?"

"Memastikan?" Sasuke menatap Sarada tajam, "Apa Sakura tahu kau menemuiku."

"Tidak," Sarada menyeruput teh di depannya, mungkin Karin yang menyiapkannya tadi. "Aku bilang akan menemui teman kemahku."

Keduanya kembali terdiam. Sasuke bingung harus mengatakan apa. Sejujurnya ia benar-benar ingin memeluk Sarada sekarang. Ada sesuatu dalam gadis itu yang terus menariknya mendekat. Ia seperti berharap sesuatu yang mustahil. Sesuatu yang ia sendiri bahkan takut untuk mengucapkannya.

Sarada sendiri tampak gelisah dengan terus terusan memainkan ujung bajunya.

"Paman, apa kau percaya kalau ada orang yang sangat mirip di dunia ini?"

"Entahlah."

"Kalau kebetulan sama?"

"Aku tidak tahu."

"Memiliki gesture yang mirip?"

"Mungkin saja, tapi aku tidak pernah melihatnya kecuali kalau mereka berhubungan darah."

"Lalu menurutmu, apa kau dan aku-," Sarada menghentikan ucapannya, matanya lurus menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya. Nafasnya terasa mencekat, "-mirip?"

M-I-R-I-P. Sasuke tidak tahu berapa kali kata itu terputar di kepalanya. Kedua mata hitam di depannya memang benar-benar seperti fotocopy miliknya. Sasuke juga bisa melihat mata yang sama pada Keanu dengan sorot lebih kekanakan. Matanya masih belum meninggalkan jelaga hitam Sarada saat tiba-tiba ia mengingat bisikan Madara -sang kakek- sesaat sebelum menghembuskan nafasnya, Seorang Uchiha dibuktikan melalui matanya. Dunia Sasuke berputar cepat, kenangan demi kenangan kembali menyeruak. Sakura, malam panas mereka, pernikahan sakura, kepergian Sakura, Sakura, sakura, sakura. Bagaimana-

"A -ayah?"

Mata Sasuke berembun tiba-tiba, tubuhnya bergetar. Dadanya sesak karena jantungnya bekerja tak sesuai irama. Ia tahu, ia merasakannya. Bodohnya dia selama ini hanya memikirkan kemungkinan itu. Harusnya sejak pertemuan mereka ia sudah bisa mengambil kesimpulan. Sarada lebih dari sekadar anak cinta pertama yang masih di cintainya. Sarada lebih dari itu.

"Sarada."

Ini bukan pertemuan yang diharapkannya. Ia ingin moment yang lebih layak untuk bertemu dengan puterinya. Sesuatu yang bisa mereka kenang bersama setelah sekian tahun terpisah. Sesuatu yang manis, seperti hal-hal yang disukai Sakura.

"Jangan menangis, Ayah."

Pada akhirnya, dia hanyalah seseorang yang gagal dalam banyak hal. Gagal mempertahankan Sakura -dulu-, gagal mempertahankan harapan Keanu, gagal mengenali puterinya sendiri.

"Sarada, maafkan aku."

"Tidak papa," Sarada berujar kalem, ia mengangsurkan sebuah saputangan putih dengan bordir bunga sakura di sudutnya, "Aku juga tidak merasa yakin."

Sasuke mengusap airmatanya dengan tangan, tak ingin membuat saputangan Sarada basah. Lagipula, ia sungguh tak layak dengan itu. Sarada kembali memasukkan saputangannya ke dalam tas saat dilihatnya Prodigy Uchiha itu lebih mempercayai tangannya untuk menyeka airmata.

Ruangan sunyi untuk waktu yang cukup lama. Sasuke dengan pikirannya yang berkecamuk, dan Sarada dengan kebingungannya menempatkan diri. Tadinya ia tidak ingin to the point mengenai hubungan mereka. Hanya saja, ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya berbicara di luar apa yang sudah direncanakan. Ia benar-benar menyesalinya sekarang. Ia tidak ingin hubungannya dengan paman Sasuke berubah canggung tiba-tiba.

"Apa-," Sasuke menghentikan kalimatnya, menelan saliva dan mengatur kembali deru nafas yang sedikit mencekik"-aku boleh memelukmu?"

Sarada bangkit dari duduknya lalu membuka kedua tangannya sedikit. Ia tidak berkata apapun, bahkan menganggukpun tidak. Tapi Sasuke cukup yakin kalau gadis itu tak keberatan.

"Terimakasih," Sasuke segera bangkit lalu menenggelamkan Sarada yang hanya setinggi dadanya, "Aku tahu aku adalah ayah yang buruk, aku bahkan tidak mencarimu setelah pertemuan itu,"

Sarada hanya diam. Sebelah pendengarannya memperhatikan ucapan Sasuke, sebelah yang lain mendengar degup jantung sang ayah yang jauh dari kata tenang.

"Aku tidak tahu bagaimana aku menebus semua ini, maafkan aku," ucapnya lirih, "Maafkan aku, anakku."

Sarada mengangkat sebelah tangannya untuk menepuk pelan punggung sang ayah, "Tidak papa Ayah, itu tidak masalah."

Sasuke melepaskan pelukan mereka, memperhatikan wajah tenang Sarada. Airmuka anak itu sungguh berbeda dengan dirinya yang terlihat kusut dan kalut. Ia tertawa konyol setelahnya, bukan tertawa terbahak hanya jenis yang layak untuk mentertawakan diri sendiri.

"Ada apa?" Sarada mengangkat sebelah alisnya heran. Bagaimana tidak heran kalau dua detik yang lalu Sasuke masih menangis bak aktor melodrama dan sekarang tertawa aneh seperti itu. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak," jawab Sasuke cepat, masih dengan tawanya. Kali ini diselingi gelengan kepala seolah ia tak mempercayai sesuatu. "Kurasa aku terkena karma. Aku seperti berada di posisi ayahku saat aku memutuskan meninggalkan rumah," Ia membimbing Sarada duduk kembali, kini mereka duduk bersisian, "Aku melihat bahunya bergetar, itu adalah pertama kalinya seumur hidupku. dan aku melenggang santai seperti sedang mengikuti fashion show,"

Sarada mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dimana benang merah cerita itu dengan kondisi mereka sekarang.

"Ya, ya. Kasus kita memang berbeda, sayang." Sasuke meminum teh Sarada hingga tandas, ia benar-benar butuh asupan cairan sekarang, "Tapi perasaan orangtua sepertinya memang selalu sedikit berlebihan jika menyangkut anak-anaknya."

"Apa kau sedang membahas masalah umur?" Sarada berujar tak yakin, "Aku pernah membacanya, saat seseorang menua, perasaannya jadi lebih sensitif. Tapi kau masih cukup muda, kurasa."

Sasuke tertawa -lagi. Hari ini entah sudah berapa kali ia tertawa. Ia tidak ingat kapan sebahagia ini sebelumnya. Diacaknya rambut Sarada pelan. Keduanya berbincang sejenak hingga Sasuke menyadari sesuatu.

"Tunggu," Sasuke menautkan kedua alisnya, ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. "Apa Sakura yang memberitahumu?" tanyanya penuh minat, tapi sesaat kemudian ia menggeleng cepat, "Tidak, tidak. Itu tidak mungkin."

"Aku mendengar mereka membicarakannya," gumam Sarada pelan, ada nada menyesal tersirat di dalamnya, "Mama dan Otousan."

"Aa-, Neji." gumam Sasuke tanpa sadar. Ingatannya kembali memutar pertemuan terakhir mereka di selatan Konoha. Ia yang bajingan, berusaha merusak kemenangan Neji dengan memberitahukan hal konyol mengenai Sakura. Sesuatu yang terus disesalinya. Setelah pertemuan itu dan kabar menghilangnya mereka Sasuke baru menyadari, ia sudah menghancurkan Sakura dengan tangannya sendiri.

Keduanya tiba-tiba terdiam dalam suasana canggung.

"Ayah,"

Sasuke menoleh, dilihatnya tatapan Sarada fokus pada cangkir teh yang kini tak berisi.

"Aku menyayangimu," gumamnya, "Aku juga cukup senang mengetahui kalau ayahku sekeren dirimu,"

Sasuke mendengus mendengar Sarada yang berniat melucu.

"Tapi-," Sarada menoleh padanya, kedua manik hitamnya bertemu dengan Sasuke, "Aku tidak ingin ada orang lain tahu,"

Sasuke tiba-tiba merasa ada dynamit yang siap meledak, sekelebat rasa nyeri muncul secepat kilat. Ini adalah perasaan yang mengingatkannya pada kejadian sepuluh tahun silam. Sesuatu yang membuatnya nyaris gagal berjalan hingga saat ini.

"Pertemuan ini, cukup kita saja."

Sasuke yakin, ia sedang di hukum sekarang.


tbc

chapter ini adalah chapter yg paling tidak saya suka. saya merasakan miss di dalamnya. entahlah. seperti ada yang kurang. saya sudah berusaha merekonstruksi ulang, tapi tidak berhasil. tolong maafkan saya. *bow