"Iya saya keluarganya dok. Ada apa dengan Sasuke dok? Kenapa dengan dia?" Tanya Sakura tidak sabaran. Tampak dokter di depannya itu menghela nafas berat.
"Kita harus segera mencarikan pendonor untuknya secepat mungkin karena..."
"Tunggu dulu dok," potong Sakura cepat. "apa maksud dokter, pendonor? Siapa yang membutuhkan pendonor dok?"
Dokter itu tampak mengerutkan dahinya bingung. "Ya pendonor. Tuan Sasuke membutuhkan pendonor secepatnya untuk penyakit tulang sum-sum belakangnya."
Sekatika Sakura membeku mendengar penjelasan dokter yang berada di depannya itu. Gadis itu tampak seperti patung yang tidak bernyawa bahkan ketika dokter memanggil namanya berulang kali ia tidak menghiraukannya. Ia terlalu syok, ia sangat shock mendengar bahwa Sasuke mengidap penyakit sum-sum tulang belakang. Teringat kembali ketika ia menemukan banyak obat dalam tas Sasuke. Itu alasannya, tapi sejak kapan? Sejak kapan Sasuke mengidap penyakit leukimia. Pikiran itu berkecamuk dalam kepalanya. Mengapa ia tidak tahu bahwa Sasuke sakit dan kenapa Sasuke menyembunyikan sakitnya dari dirinya. Pertanyaan itu terus berputar-putar dalam otaknya tapi nyatanya pertanyaan itu tidak ada yang bisa dijawab oleh dirinya sendiri. Hingga akhirnya Sakura tidak bisa mempertahankan kesadarannya ia pun jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Drama, family, Romance, Hurt comfrot
Pairing: NaruSaku, SasuSaku, SasuHina, Naruhina, KakaIno.
Warning: AU, OOC, kata-kata tidak baku, gaje, abal,Typo (nongol mulu)
Don't like don't read~!
.
.
.
Summary:
Sakura dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit. Haruskah dia memilih setia kepada tunangannya Sasuke atau justru memilih bersama Naruto yang notabennya adalah calon suaminya di masa lalu.
"Aku tak memaksa kau memilihku Sakura-chan"/ "kau harus bersamaku"/ "bisakah kau memberikannya kepadaku Nee-chan"/ "kau harus memilih salah satu di antara mereka Sakura"/semua itu membingungkannya.
.
~Happy Reading~!
.
Aku memilih setia
.
chapter 10
.
''Kau mencintaiku, nyata atau tidak nyata?"
Sakura tersenyum mendengar pertanyaan yang berulang-ulang kali yang di ucapkan kekasih pirangya itu. Sakura yang tengkurap di atas ranjang Naruto, menaruh dagunya diatas lengannya menatap mata biru Naruto yang duduk dipinggir ranjang dengan dagu yang juga ditaruh dilengannya. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tentu saja nyata Naruto-kun." Sakura mengedipkan matanya satu dengan nakal.
Naruto mendengus dengan wajah yang memerah sedangkan Sakura tampak menyeringai lebar. Tampaknya ia berhasil menggoda cowok yang berada di depannya itu. Masih dengan seringainya Sakura menarik leher pemuda nomor satu dihatinya itu dan mencium bibir Naruto dengan lembut. Tampak Naruto kaget dengan aksi kekasihnya itu tapi hanya sebentar, setelah itu ia pun membalas kecupan itu dengan tidak kalah lembutnya.
.
"Sakura!"
Sakura membuka matanya yang terasa berat. Suara sayup-sayup yang di dengarnya membuatnya tersadar dari alam mimpinya. Perlahan mata emerald itu setengah terbuka, kemudian menutup lagi, lalu memaksa untuk terbuka lagi. Pertama kali yang Sakura lihat adalah warna langit ruangan yang bernuansa putih yang dia ketahui bukan warna langit kamarnya. Warna langit kamarnya adalah berwarna pink.
"Syukurlah kau sudah sadar Sakura-chan."
Sakura memandang orang yang berbicara dengannya. Pria berambut raven lurus sepanjang bahu yang diikat dan memiliki ketampanan yang sama dengan orang yang di sayanginya. Uchiha Itachi. Tampak pemuda itu memandang khawatir padanya.
"A...aku di...di mana?" Tanya Sakura dengan lidah yang terasa kelu sekali untuk berbicara.
"Kau dirumah sakit Sakura," jawab Itachi.
"Kenapa?"
"Ssstttt, sudah lah Sakura. Sebaiknya kau istirahat dulu dan jangan memikirkan apa-apa sekarang."
Sakura terdiam. Tiba-tiba saja kepalanya terasa nyeri. Ia berusaha berpikir, mengingat-ingat apa yang terjadi padanya hingga terbaring di rumah sakit. Kemarahan Sasuke padanya hingga membuat pemuda itu pingsan dan akhirnya ia membawa Sasuke ke rumah sakit hingga ia mendengar dari dokter bahwa Sasuke mengidap penyakit leukimia, membuatnya syok dan pingsan seketika.
Sakura menghela napas lalu menatap samping kirinya ada tiang besi putih untuk menggantung tabung infus disana. Di bawah tabung itu ada selang kecil guna mengalirkan air infus ke dalam nadi tangan kirinya. Lalu tiba-tiba saja Sakura kembali merasakan nyeri tak terkira dalam tempurung kepalanya. Seperti ada ratusan paku yang menancap di sana. Ia berusaha menahan sakitnya dengan memejamkan mata dan otot rahang yang menegang. Hingga akhirnya ia pun tak kuat menahan sakitnya dan mengaduh kesakitan, meskipun lirih.
"Ada apa Saki? Apa yang kau rasakan?" Tanya Itachi khawatir. Pemuda itu langsung berdiri dari tempat duduknya ketika melihat Sakura yang merintih kesakitan.
Sakura mernggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, aku tidak apa-apa Itachi-ni."
"Kau yakin?" Tanya Itachi lagi bernada tak yakin.
Sakura menganggukkan kepalanya lagi. "Hmmm, tidak apa-apa," Ucapnya sambil mencoba merilekskan otot rahangnya yang menegang.
Itachi menghela napasnya lega. Lalu ia duduk di sisi ranjang Sakura sambil mengusap rambut bersurai pink gadis itu dengan lembut. Gadis yang terbaring lemah di hadapannya itu sudah dia anggap adik sendiri.
.
"Pasti kau ingin menayakan sesuatukan Sakura?" Tanya Itachi memulai pembicaraannya setelah terdiam beberapa saat. "Dan ini tentang sakitnya Sasuke kan?" Sambungnya lagi. Dengan lemah Sakura menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan ucapan Itachi.
Itachi menghela nafasnya berat lalu tangannya yang besar mengenggam tangan Sakura yang mungil ditangannya. Mengelus lembut tangan yang dingin dan pucat itu mencoba memberi sedikit kehangatan.
"Tapi sebelum aku menceritakan tentang Sasuke, bolehkah aku bertanya satu hal padamu? Dan tolong jawab jujur," Ucap Itachi.
Sakura menganggukkan kepalanya lagi.
"Apa kau telah mengingat masa lalumu. Maksudku ... Apa ingatanmu telah kembali?"
"Ya." Jawab Sakura serak.
"Dan pertunanganmu bersama Sasuke..."
"Aku sudah ingat semuanya Itachi-Ni" potong Sakura cepat. "Termaksud pertunangan bohongku sama Sasuke-kun." Tiba-tiba raut wajah Sakura berubah seperti orang yang ingin menangis. Tapi gadis itu mencoba menahan sekuat tenaganya.
"Maaf. Maaf sudah membohongimu Sakura." Itachi menundukkan kepalanya menyesal. Sakura hanya memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia meremas tangan Itachi pelan membuat Itachi mendongak menatap Sakura.
Sakura tersenyum lemah. "Tidak, tidak apa-apa Itachi-Nii." Sakura berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Tidak ada yang perlu di maafkan."
Itachi tersenyum. "Maaf," ucapnya lagi. Sakura hanya tersenyum. Dan tiba-tiba ia teringat dengan Sasuke lagi.
"Ada apa dengan Sasuke-kun, Itachi-nii? Kenapa dia menderita..."
"Leukimia. Ya dia menderita penyakit leukimia Saku-chan." Sakura terdiam memandang Itachi dengan rasa bersalah.
"Ini bermula dari 4 tahun yang lalu." Itachi pun memulai ceritanya. "Saat itu Sasuke pulang dari rumah sakit sehabis mengambil hasil pemeriksaan kesehatannya. Saat itu ia sangat syok dengan hasil diagnosa dokter yang mengatakan bahwa dia mengalami leukimia(kanker darah). Dia mengendari mobil sendiri saat itu hingga dia lepas kendali, ia melajukan mobilnya tanpa melihat sebuah mobil melintas di depannya dan akhirnya menabrak mobil yang kebetulan dikemudikan oleh ayahmu. Saat itu aku tidak ada, karena saat itu aku sedang berada di luar kota sedang mengadakan seminar. Maka dari itu ketika mendengar Sasuke tabrakan aku langsung ke Tokyo. Sesampainya disana aku melihat Sasuke yang terus mengenggam tanganmu dan terus-terusan meminta maaf padamu. Bahkan ketika diruang ICU, ia terus menunggumu." Itachi menghela napasnya sejenak lalu memandang Sakura yang tampak serius mendengarnya. lalu ia pun melanjutkan kembali ceritanya.
"Sasuke sangat terpukul sekali saat mengetahui bahwa orang tuamu tidak bisa diselamatkan. Dan yang lebih parah sakit pada kepalamu dialah penyebabnya. Saat itu juga Sasuke tidak pernah berhenti meminta maaf kepadamu saat dirimu koma. Bahkan Sasuke tidak memikirkan kesehatannya yang saat itu perlu komoterapi.
''Berbulan-bulan lamanya Sasuke terus menunggumu hingga kau terbangun. Dan saat kau terbangun, kau lupa siapa dirimu. Saat itulah Sasuke berbohong dan mengatakan bahwa kau adalah tunangannya kerena dia tidak ingin membuatmu sedih dan kesakitan karena mengingat siapa dirimu dan terlebih kematian orang tuamu."
.
Tes
Tes
Tes
Air mata yang ditahanya sejak tadi kini turun sudah. Apa yang di dengarnya dari mulutnya Itachi membuat hatinya sakit. Dia tidak bisa menyalahkan Sasuke yang membuat orang tuanya meninggal. Bahkan jujur ia tidak marah hanya saja ia merasa kasihan terhadap Sasuke. Tampak pemuda itu baru saja melewati masa-masa yang sulit. Pasti berat menjalani hidup dengan rasa bersalah yang sangat besar.
"Maafkan dia Sakura. Maafkan Sasuke yang sudah..."
"Tidak." Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada yang perlu dimaafkan Itachi-nii. Semua itu sudah berlalu. Hiks, justru aku... Aku... Kasihan pada Sasuke-kun. Pasti berat menjalani hidupnya yang selalu dihantui rasa bersalah."
Sakura terisak hebat. Gadis itu sengungukan membuat Itachi tidak tega melihatnya. Dengan sekali rengkuhan Itachi membawa kepala Sakura ke dadanya. Memeluk gadis itu dengan erat. Sedikit menyesal karena dia yang menyebabkan Sakura menangis seperti itu.
"Maaf Sakura-chan." Bisik Itachi sama terlukanya dengan Sakura.
.
"Ini." Itachi menyodorkan minuman hangat ke arah Sakura ketika gadis itu telah selesai dengan tangisnya. Sakura mendongak lalu menerimanya.
"Terimakasih Itachi-nii."
Itachi hanya mengangguk dan menepuk kepala gadis itu pelan. Lalu ikut meminum minuman hangatnya bersama Sakura. Itachi memandang ke arah jendela rumah sakit. Rupanya hari telah sore. Ia tidak menyadarinya karena sibuk menenangin Sakura yang terus menangis. Bahkan sisa tangis gadis itu masih ada. Terlihat matanya yang masih sembab dan sedikit bengkak.
Hingga beberapa menit pun berlalu. Dan Itachi tampak berbicara lagi.
"Ada yang harus ku beritahu padamu Sakura-chan."
Sakura menatap Itachi dengan dahi berkerut.
"Sum-sum tulang belakangmu cocok dengan Sasuke."
0o0o0o0o0o00o0o
Tap
Tap
Tap
Naruko berlari sepanjang koridor rumah sakit dengan sedikit tergesa-gesa. Ia tidak memperdulikan orang yang ditabraknya dan memandang aneh ke arahnya. Yang penting saat ini gadis itu hanya akan mendatangi seseorang yang kebetulan satu rumah sakit ditempatnya berada. Bahkan dia tidak meperdulikan seorang pemuda berambut nanas yang sedari tadi mengejar dan memanggil-manggil dirinya.
Grebbb
"Tunggu Naruko!"
"Apa-apaan kau Shikamaru, lepaskan aku." Naruko mencoba melepaskan cengkraman dari tangan pemuda tersebut. Tapi sayang pemuda itu tidak mau melepaskannya justru makin mempererat cengkraman tangannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu."
Naruko memandangnya sengit. "Kau tidak bisa menghentikanku Shikamaru. Hanya dia satu-satunya yang dapat menyelamatkan Nii-chan."
"Aku bilang TIDAK BOLEH!" Bentak Shikamaru kasar. Bahkan kali ini suaranya cukup nyaring dan mengundang seluruh perhatian orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Naruko menepis tangan Shikamaru kasar lalu memandang garang pemuda pemalas itu.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak membolehkanku menemuinya," Balas Naruko tak kalah nyaringnya.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu meminta bantuan kepada wanita sialan itu. Kau tidak tahu apa yang sudah orang tuanya lakukan terhadap Naruto dulu."
"Aku tahu Shikamaru, aku tahu. Tapi hanya dia yang bisa menyelamatkan hidupnya Nii-chan. Nii-chan membutuhkan pendonor secepatnya. Tidak kah kau mendengar penjelasan Gaara tadi. Nii-chan tidak bisa menahan lebih lama lagi," Ucap Naruko terdengar putus asa. Gadis itu menyandarkan badannya ke dinding dan membiarkan badannya merosot turun. Air matanya kini mulai membasahi pipinya yang putih. Shikamaru menghela napas lalu berjongkok di depan Naruko yang tengah menangis.
"Kita harus memintannya Shikamaru. Kita harus meminta agar dia mau mendonorkan sum-sum tulangnya untuk Nii-chan. Aku tidak mau kehilangan Nii-chan."
"Aku tahu Naruko. Tapi aku tidak mau gadis itu mendekati Naruto lagi. Aku tidak mau Naruto tersakiti lagi gara-gara perempuan itu."
"Shikamaru?"
"..."
"..."
"..."
Naruko dan Shikamaru terdiam ketika mendengar seseorang memanggil nama Shikamaru.
"Ada apa dengan Naruto."
Shikamaru menoleh ke samping kirinya memandang seorang gadis yang hanya berjarak beberapa meter dengannya dengan tatapan benci. Bisa dilihat dari rahangnya yang mengeras dan tangannya yang mengepal erat. Shikamaru bangkit dan langsung menarik Naruko menjauh tempat itu. Tapi Sakura sudah lebih dulu menghampiri Shikamaru dan menarik tangannya.
"Ada apa dengan Naruto?" Kali ini Sakura bertanya dengan suara yang tegas. Shikamaru menghempaskan tangan Sakura kasar lalu memandang perempuan itu sinis tapi Sakura tidak memperdulikannya. Baginya saat ini adalah memastikan keadaan Naruto baik-baik saja karena tadi ia sempat mendengar pembicaraan Naruko dan Shikamaru yang membahas keadaan Naruto yang memburuk.
"Kau tidak perlu tahu," Ucap Shikamaru dingin. Lalu pemuda itu tampak ingin pergi dari sana tapi sekali lagi Sakura mengcengkram tangan Shikamaru kali ini cukup kuat dan kasar.
"Aku tidak perduli kau membenciku Shikamaru, aku hanya mau menanyakan keadaan Naruto tidak lebih."
Keduanya saling memandang dengan sengit. Naruko yang melihat hal itu segera menarik tangan Sakura yang mencengkram tangan Shikamaru. Sakura memandangnya bingung ke arah Naruko.
"Aku melakukannya untuk Nii-chan," Ucap Naruko yang lebih diperuntukkan ke Shikamaru. Dan Shikamaru hanya bisa diam memandang kepergian dua gadis di depannya itu. Shikamaru mengepalkan tangannya erat lalu meninju dinding rumah sakit dengan kuat. Tidak memperdulikan akibat rasa sakit yang akan dia rasakan setelahnya.
"Mondukusai!"
.
Naruko memasuki sebuah ruangan dimana kakaknya terbaring tidak sadarkan diri. Ia mendekati kakaknya dengan Sakura berdiri tak jauh dari belakangnya.
Naruko memandang kakaknya sedih. "Ini usaha terbaik yang bisa aku lakukan untukmu Nii-chan, Nii-chan tahukan aku membencinya dan berharap Nii-chan tidak akan bertemu dengannya lagi, tapi Nii-chan memaksaku untuk membawanya kesini dan menaruh semua harapanku padanya, jika Nii-chan tetap menolak bangun, itu berarti Nii-chan benar-benar menyia-nyiakan semua usahaku." Setelah mengucapkan hal itu Naruko langsung keluar sambil menangis.
Setelah kepergian Naruko, Sakura mendekat pada Naruto yang terbaring lemah dengan banyak peralatan yang menempel di tubuhnya. Sakura memandangnya pilu.
"Aku tahu kau kuat." Sakura memulai pembicaraannya meski ia tahu Naruto tidak akan mendengarnya. "Kau yang ku kenal bukan orang yang pantang menyerah, jadi jangan hanya penyakit menjijikan ini mengalahkanmu," ucap Sakura sedikit meninggikan suaranya. Marah. Sakura ingin membuka saluran pernapasan Naruto namun tidak jadi.
"Jika kau mati, aku tidak akan pernah memaafkan diriku dan aku juga tidak akan pernah memaafkanmu. Aku mencintaimu tetapi bagaimana bisa kau begitu kejam mengirimku ke neraka seperti ini? Melihatmu mati." Tampak Naruto menggerakkan tangannya sedikit.
"tidakkah kau merasa bodoh seperti ini?"
Naruko berbalik dan memarahi Sakura," kenapa kau menghinanya," Ucap Naruko marah masih dengan air mata berlinang. Namun Gaara membela Sakura yang saat itu baru saja datang untuk memeriksa Naruto, ia mengatakan Sakura tidak menghina Naruto. Naruko terdiam.
"Aku tahu kau hanya ingin menghukumku dengan kematianmu, tetapi kau sangat bodoh, karena bila kau mati, aku tidak akan takut, kau tau itu..." Sakura menghela napasnya sejenak yang terasa sesak di dadanya. Air matanya kini mulai turun. "Kau selalu bilang ke padaku bahwa kau tidak akan pernah kalah dengan penyakit itu. Kau selalu bilang penyakit itu tidak akan membuatmu mati dengan mudah. Jadi ... Aku mohon..." Sakura terisak. "Aku mohon bertahanlah sebentar, bertahanlah sebentar lagi selagi menungguku memungkinkan untuk mendonorkan tulang belakangku untukmu. Jadi aku mohon bertahanlah untukku," Ucap Sakura kemudian meninggalkan Naruto. Tanpa disadari Naruto meneteskan air matanya.
Sedangkan Naruko yang mendengarnya terbelalak kaget. Dia lalu memandang Gaara di sampingnya. Gaara menganggukan kepalanya. "Dia tadi mendatangiku, dia memutuskan untuk mendonorkan tulang belakangnya untuk Naruto. Dan... ingatannya telah pulih kembali."
Naruko hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Gaara. Ia tidak menyangka Sakura telah kembali ingatannya dan yang lebih mengejutkannya lagi gadis itu akan mendonorkan tulang belakangnya untuk Naruto padahal dia belum ada bicara apa-apa dengannya. Gadis itu lalu masuk mengantikan posisi Sakura berada di samping Naruto. Ia Lalu berbisik pelan ditelinga kakaknya. "Cepatlah bangun Nii-chan. Semua akan baik-baik saja setelah Nii-chan bangun." Lalu dengan pelan Naruko menghapus air mata Naruto yang turun membasahi pipi pemuda itu.
"Dan aku merelakan Nii-chan bersamanya. "
.
.
.
.
Sakura tahu dari tatapan pemuda di depannya itu menatapnya kecewa. Tapi tidak ada yang bisa Sakura lakukan saat ini selain meminta maaf karena tidak bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Sasuke.
"Gomen Itachi-nii aku tidak bisa melakukannya," ucapnya dengan rasa bersalah.
Itachi menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa Sakura. Aku tahu berat bagimu menentukan siapa yang harus kau donorkan. Apapun keputusanmu aku mengikutinya," Ucap Itachi. "Aku tahu saat ini Namikaze-san lah yang lebih membutuhkan donor secepatnya karena memang dia yang paling parah dari Sasuke karena leukimianya sudah menyebar kemana-mana."
Sakura menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling mengenggam erat.
"Apa... Apa aku tidak bisa memberikan sumsumku untuk dua orang sekaligus?" Tanya Sakura.
Itachi mengelengkan kepalanya. "Tidak bisa Sakura. Memberikan sum-sum sekaligus dua menurut hukum itu dilarang. Kau hanya boleh mendonorkan sumsum tulang belakang untuk satu orang setiap satu tahun sekali," Jelas Itachi. Sakura yang mendengarnya hanya bisa menghela napas kecewa.
"Tenang saja Sakura. Sasuke masih bisa bertahan setahun menunggumu untuk pencangkokan berikutnya."
"Apa benar. Itachi-nii tidak membohongiku kan." Tanya Sakura berharap.
"Tentu saja," jawab Itachi. Tapi Sakura tahu Itachi berbohong padanya. Sasuke tidak akan bertahan. Dia tahu itu, tapi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.
0o0o0o0o0o0o0o0o
Hari telah berganti malam dan disinilah Sakura berada, berduaan dengan Naruto di ruang rawat inapnya. Sakura duduk dikursi disamping ranjang Naruto sambil menggenggam tangan pemuda tersebut. Sedangkan tangannya yang satunya lagi dia gunakan untuk menjelajahi wajah tampan Naruto. Setelah sekian lama terpisah baru kali ini ia dapat menyentuh Naruto seperti ini lagi. Sepasang alis yang tidak terlalu tebal dan gelap, lekukan pipinya, garis hidungnya, dan rongga di dasar lehernya dan terakhir sampai ke bibirnya. Bibir yang lembut dan penuh, ia bisa merasakan embusan napas Naruto yang menghangatkan kulit jarinya yang dingin.
Teringat kembali di ingatannya empat tahun yang lalu ketika orang-orang suruhan ayahnya menghajar Naruto hingga babak belur karena tidak merestui putri kesayangannya bersama pemuda berpenyakitan. Memisahkan dirinya dengan pemuda dicintainya dengan cara yang tragis. Betapa hancurnya hatinya saat mengingat itu semua. Ia tidak bisa menyalahkan atau membenci kedua orang tuanya. Tapi ia tidak bisa juga memaafkan mereka. Tapi kini samua itu hanya masa lalu. Kedua orang tuanya telah tiada. Ia hanya berharap kedua orang tuanya tenang di atas sana.
"Maafkan aku," bisik Sakura pelan. Lalu mendekati Naruto dan mencium bibir pemuda itu dengan lembut.
Lalu tampak bulu mata Naruto bergerak pelan dan lemah. Dan akhirnya sepasang mata biru laut itu terbuka memandang Sakura dengan sayu. Tampak pemuda itu masih dipengaruhi oleh obat-obatan hingga hanya membuka matanya sedikit.
"Hei Saki."
"Hei Ruru."
"Senang bisa melihatmu disini." Sakura tersenyum manis dan makin mempererat genggaman tangannya di tangan Naruto.
"Aku akan selalu bersamamu. Jadi aku mohon cepatlah sehat dan aku bisa menyelamatkanmu."
Naruto hanya menganggukkan kepalanya lemah dan ikut membalas genggaman tangan Sakura. Lalu dengan pelan Naruto menarik tangan Sakura ke atas dan disandarkannya di pipinya di punggung tangan Sakura. Ia bisa merasakan tangan halus Sakura yang menempel di pipinya. Lalu ia mengucapkan satu kalimat yang membuat dada Sakura terasa hangat. "Tetaplah bersamaku."
Sebelum kesadarannya menghilang Naruto sempat mendengar suara Sakura yang terdengar lirih, tapi meskipun begitu ia tidak bisa benar-benar mendengarnya.
"Setelah menyelamatkanmu, aku akan menyelamatkan Sasuke. Jadi aku mohon semakin cepat kau sadar akan semakin cepat juga aku menyelamatkan Sasuke-kun, Naruto. Karena hidup Sasuke tidak akan bertahan lama."
0o0o0o0o0o0o0
Sakura merasakan ada yang menguncang-guncang bahunya pelan. Saat itu Sakura tertidur nyenyak di samping ranjang Naruto yang tidur di ranjangnya. Gadis itu tertidur dengan beralaskan tangan Naruto sebagai bantalnya. Naruto belum bangun, tapi jemarinya masih bertautan dengan jemari Naruto. Sakura lalu menoleh dengan leher yang terasa kaku dan ia melihat siapa yang menguncang badannya. Terlihat Naruko tak jauh darinya sedang menunduk memandang Naruto dan dirinya dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Berbaringlah di sofa, Nee-chan. Aku akan menjaganya sekarang," ucap Naruko.
Sakura hanya mengangguk dan tersenyum lembut ke arah Naruko. Sebelum ia beranjak dari duduknya. Sakura sempat mencium dan mengelus kepala Naruto yang memakai topi rajutan dengan sayang lalu berbisik pelan, "Aku akan segera kembali." Setelah itu ia pun beranjak dari kursinya. Ia tidak langsung berbaring tapi ia pergi ke kamar mandi yang ada disitu terlebih dahulu. Ia merasa perlu sedikit membasuh mukanya lalu pergi mencari makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan habis itu baru ia akan beristirahat kembali.
Setelah Sakura pergi Naruko lalu duduk di kursi samping ranjang Naruto menggantikan Sakura menjaga Naruto. Beberapa saat lamanya Naruko hanya terdiam sambil memandang wajah kakaknya yang masih pucat. Tapi berbeda dengan yang kemarin-kemarin, wajah kakaknya yang sekarang kini terlihat lebih berwarna dan bahagia. Mungkin karena hadirnya Sakura disisi kakaknya lagi makanya pemuda itu menemukan kembali semangat hidupnya. Ya hanya Sakura bisa membuat kakaknya semangat kembali. Walau masih sedih melihat kakaknya berdua dengan Sakura tapi ia sudah mengiklaskannya. Baginya saat ini adalah kebahagiaan kakaknya.
"Dia sudah sadar."
Naruko menoleh ke belakang ketika seseorang berbicara ke padanya. Ia tersenyum. "Gaara," Ucapnya.
"Selamat pagi."
"Hmm. Pagi."
"Apa dia sudah siuman?" Tanya Gaara lagi.
"Bilang Sakura-ne, tadi malam Naruto-ni sudah siuman walau sebentar." Gaara mengangguk lalu ia segera memeriksa kondisi Naruto.
"Bagaimana keadaan Ni-chan, Gaara?" Tanya Naruko ketika Gaara sudah selesai memeriksanya.
"Saat ini kondisi Naruto sudah cukup stabil tinggal tunggu dia sadar, 2 atau 3 hari lagi kita akan segera mengoperasinya."
Naruko menghela napas lega. "Syukurlah," Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Gaara segera mengelus kepala Naruko dengan lembut.
"Tenang saja, kakakmu kuat. Seperti kata Sakura-san dia tidak akan mudah mati begitu saja."
Naruko tertawa pelan ia lalu mengusap sedikit air matanya yang keluar di ujung pelupuk matanya lalu ia tersenyum lembut ke arah Gaara.
"Terimakasih Gaara."
"Hm sama-sama."
.
.
.
.
Sakura memasukan koin di mesin penjual minuman otomatis di rumah sakit lalu memilih minuman yang akan diminumnya, hingga beberapa saat minuman itu pun turun ke bawah dan dia bersiap-siap untuk mengambil minuman tersebut tapi seseorang sudah terlebih dahulu mengambil minuman tersebut lalu menyerahkan kepadanya.
Sakura mendongakan wajahnya. "Terima..." Ucapannya seketika terhenti. Lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu melihat siapa yang berada di depannya.
"Shikamaru!"
"Hn."
Sakura terdiam, ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Shikamaru yang menatapnya datar. Sekarang ia tahu kenapa dulu Shikamaru membencinya saat pertama kali bertemu setelah kejadian 4 tahun yang lalu. Ia tidak menyalahkan Shikamaru yang membencinya justru ia memang pantas dibenci.
"Kau ingin makan."
Sakura mendongak menatap Shikamaru bingung.
"Aku juga ingin makan. Kalau mau kita bisa sama-sama," Ucap Shikamaru. Sakura menganggukkan kepalanya pelan.
"Boleh." Untuk pertama kalinya Sakura melihat Shikamaru tersenyum padanya ya walau senyum itu tipis sangat tipis malah tapi Sakura memang melihat Shikamaru tersenyum padanya.
Shikamaru berjalan terlebih dahulu sedangkan Sakura berjalan dibelakangnya sambil tersenyum lega. Setidaknya hubungan persahabatannya dengan Shikamaru bisa diperbaiki kali ini.
.
Disinilah Sakura berada, disebuah kantin dirumah sakit bersama Shikamaru. Mereka berdua menikmati sarapan mereka dengan diam. Sesekali Shikamaru menatap Sakura sejenak lalu memulai makannya lagi. Sakura pun menyadari sikap Shikamaru yang menatapnya terus. Jadi gadis itu memilih berbicara terlebih dahulu.
"Maaf. "
Shikamaru terdiam menghentikan gerakan tangannya yang ingin memasukan makanan kedalam mulutnya lalu menatap Sakura dengan dahi berkerut. Sedangkan Sakura memilih menunduk sambil memainkan makanannya dengan sendok.
"Maaf untuk kejadian 4 tahun yang lalu. Saat orang tuaku..." Ucapannya terhenti sejenak lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Tiba-tiba saja tenggorokan Sakura tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu kau sangat marah padaku dan kedua orang tuaku. Dan mungkin kau sangat membenciku. Aku memang pantas dibenci, aku ..." Sakura terdiam, ia lalu mencari kata-kata yang tepat untuk di ucapkan namun tidak bisa.
Shikamaru yang hanya mendengarkan hanya menatapnya datar lalu menghela napas berat. "Kau tahukan sampai kapanpun aku gak bisa memaafkanmu dan juga orang tuamu."
Sakura tersenyum sedih. Ia tahu Shikamaru akan berkata seperti itu. ia tahu dirinya tidak akan mudah untuk dimaafkan setelah apa yang terjadi.
"Tapi aku juga ingin berterimakasih padamu." Sakura mendongakkan kepalanya menatap Shikamaru dan ia melihat Shikamaru yang menyeringai ke arahnya. "Terimakasih kau mau mendonorkan sum-sum tulang belakangmu untuk Naruto dan rela menghentikan pengobatanmu. Aku sangat menghargainya."
Sakura tersenyum. "Hmm. Sudah seharusnya aku melakukannya. Karena aku tidak akan membiarkan orang yang ku sayangi mati."
.
.
.
.
.
TBC
A/N;
sebelumnya mau ngucapin makasih banyak yang sudah nunggu fict ini. terimakasih dan maaf gak bisa balas satu-satu. tapi aku mau membalas beberapanya ya.
ada yang bilang bahwa judulnya mesti ku rubah. dari awal dari pertama fict ini bersumarry tentang sakura harus memilih setia sama siapa, tunangannya sasuke atau naruto calon suaminya di masa lalu. jadi kalau pada akhirnya sakura milih naruto aku rasa itu fine ja. jadi aku gak mesti harus ganti judul di saat fict ini mau kelar. :) ingat aku garis bawahi ya biarpun judul fict ini diambil dari lagu bukan berarti fict ini harus berakhir seperti di lagunya fatin yang lebih memilih cowoknya pertama.
untuk beberapa flame , maaf senpai kalau salah satu adegan ada yang mirip dengan fict author yang lain. saya bener-bener gak tau, dan aku minta maaf kalau memang mirip. jujur aku hargai kok senpai-senpai yang di atasku. justru fict ini terinspirasi dari film korea summers desire. dan kalau memang senpai mau komplain bisa gunakan akun biar enak bicaranya. kalau memang senpai adalah seorang admin. aku rasa seorang admin tidak akan melupakan akun dan paswordnya.
dan nyata atau tidak nyata itu kuambil dari buku hunger games 3
sekian cuap-cupnya, so bisa minta riview untuk chap ini :)
salam cherry
