Mii:"AHOI, MINNA!!
Ruki:"Bused, kok dah apdet? Perasaan kemaren baru apdet dah -.-"
Mii:"Iya dong! Demi menebus rasa bersalah Mii gara-gara seminggu telat apdet XP"
Ruki:"ckckck, eh, gue nggak di bikin yang aneh2 di sini kan?"
Mii:"Kagak, tenang ajalaahh."
Ruki:"Ya udah dari pada banyak basa basi lagi.."
Mii+Ruki:" RnR yaaa "
Disclaimer:
Bleach © Tite Kubo
My Icy Prince © Mii Saginomiya
Chapter 10
Because of Me
"HITSUGAYA!!!"Teriak Rukia ketika melihat sosok yang menyelamatkan dirinya tersebut. Ia meletakkan kepala Toushirou yang sudah bersimbah darah ke dalam pangkuannya.
"Hitsugaya… Bukalah matamu! Kumohon!!"Tangis Rukia semakin menjadi-jadi. Air mata Rukia pun bercampur dengan darah segar Toushirou. Orang-orang yang melihat adanya kecelakaan pun segera mengerubungi Rukia dan Toushirou dan bergegas membawa Toushirou ke rumah sakit terdekat.
Rukia tersandar di pintu UGD tempat Toushirou di larikan. Air matanya tidak henti-hentinya keluar, lalu ia pun meringkukkan badannya sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang mungil itu.
"Hitsugaya.. maaf, gara-gara aku kau jadi seperti ini. Aku sungguh menyesal karena tadi telah memukulmu. Anda saja waktu itu aku bisa menahan emosiku. Dan andai saja sewaktu itu aku tidak berlari, pasti kau tidak akan seperti ini,"kata Rukia dengan air mata yang masih mengalir dari mata violetnya tersebut.
"Kuchiki-san!" Tiba-tiba, ada seseorang perempuan yang berlari dari ujung koridor rumah sakit menuju kearah Rukia.
"Kuchiki-san, bagaimana keadaan Shiro-chan? Ah, kau kenapa menangis, Kuchiki-san?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Momo.
"Hina.. mori." Rukia secara tiba-tiba memeluk sahabatnya tersebut. Momo yang tidak tahu apa-apa, mengelus-elus rambut Rukia untuk menenangkannya.
"Sudah Kuchiki-san, aku yakin Shiro-chan bisa selamat! Kau jangan menangis seperti ini, kalau Shiro-chan tahu, pasti dia juga akan sedih,"hibur Momo yang masih memeluk Rukia. Rukia pun melepaskan pelukannya dari Momo.
"Hinamori, kau…"
"Ya, aku sudah tahu kok hubunganmu dengan Shiro-chan. Aku juga yakin, kau pasti menyayanginya kan, Kuchiki-san?"Kata Hinamori sambil tersenyum ramah.
"Hinamori… Aku menyayanginya… Dan aku ingin melihat dia bahagia. Tapi gara-gara aku, dia jadi seperti ini! Aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku sendiri!"Caci Rukia kepada dirinya sendiri.
"Sudah, Kuchiki-san. Memangnya, kenapa Shiro-chan bisa seperti ini?"
"Ceritanya panjang.. Pokoknya, dia menyelamatkanku ketika aku hampir di tabrak oleh truk.. Tetapi malah dia yang tertabrak.. Mengapa tidak aku saja!!!" Kata Rukia dengan sangat menyesal dan kesal sambil memukul dengan keras lantai tak berdosa yang ada di bawahnya (*masa di atas??).
"Begitu ya.." Hinamori pun berdiri, dan tersungging sebuah senyuman pahit pada bibir mungilnya tersebut.
"Apakah kalian teman dari anak ini?"Tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD tersebut.
"Saya teman dekatnya dan ini…" Kata Momo menggantungkan kalimatnya. Sebenarnya, ia ingin bilang di lanjutan kalimatnya, 'orang yang di sukainya' tetapi tidak jadi, karena takut Rukia akan semakin depresi.
"Saya temannya dok. Saya tadi sudah menelepon orang tuanya dan sebentar lagi akan sampai ke sini,"kata Rukia ketika dokter itu akan berbicara lagi. Ia sudah hafal, pasti di saat seperti ini, seorang dokter akan bertanya, 'Kalau begitu, di mana orang tuanya?' maka itu, Rukia segera menjawabnya karena tidak mau mengulur-ulur waktu lagi.
"Bagaimana dengan keadaannya sekarang dok? Dia baik-baik saja, kan?"Tanya Momo. Sekarang, terlihat wajah cemas di wajahnya.
"Keadaannya kritis dan sampai sekarang belum sadarkan diri,"Jelas dokter itu yang sukses membuat lutut Rukia lemas.
"Kuchiki-san, yang kuat! Pasti Shiro-chan akan.. segera sadar.."Kata Momo dengan air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya.
"Hinamori.. Kau sungguh naïf.. kau menyuruhku untuk kuat, tapi kau sendri juga ikut menangis…" Rukia juga tidak ada henti-hentinya mengeluarkan air matanya. Kedua sahabat itu pun berpelukan lagi dan menangis bersama.
Rukia diam-diam memasuki ruang rawat Toushirou yang berada di ruang khusus yang jauh sekali dari keramaian. Karena sekarang bukan waktunya jam besuk, ia nekat saja berlari menuju kamar rawat Toushirou. Untung saja penjagaan di sekitar sana tidak terlalu ketat.
"Hitsugaya, kau baik-baik saja kan?" Tanya Rukia yang mengambil kursi untuk duduk di samping Toushirou.
"…"
"Ah, aku membawakan semangka untukmu! Ku dengar dari Hinamori, kalau kau suka sekali dengan semangka ya?"
"…"
"Dan setelah kau keluar dari sini, aku akan memasakkanmu ama-natto kesukaanmu. Walaupun mungkin aku akan sangat di bantu oleh Nemu, ehehe.."
"…"
Rukia mengambil sikap duduk yang lebih serius. Ia memandang lembut wajah Toushirou yang terlihat sangat damai tersebut.
"Tetapi, kapan kau akan membuka matamu, Hitsugaya?" Kata Rukia lirih. Dua minggu sudah kecelakaan tersebut terjadi, tetapi Toushirou masih tetap menutup kedua kelopak matanya.
"Kau tahu? Gara-gara aku terlalu mencemaskanmu, rencana rekaman suaraku jadi di undur? Aku menjadi tidak tenang kalau kau tidak berada di sampingku…"Rukia menundukkan kepalanya. Ia mengamati terus tangan Toushirou yang terpasang dengan kabel infus yang terhubung dengan kantung yang berada di atas Rukia.
"Cepatlah sadar, Hitsugaya.. Aku sangat merindukanmu!" Tangis Rukia mulai pecah. Bulir-bulir bening menuruni wajahnya yang sangat sedih tersebut. Ia menggenggam telapak tangan Toushirou, seperti memberikan kekuatan padanya untuk segera membuka kedua matanya. Ia sungguh tidak sabar lagi untuk melihat kedua mata emerald yang sangat di sukainya tersebut.
"Hnnn…" Toushirou membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Pandangannya masih kabur karena sudah lama tidak melihat dunia luar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan merasakan tangan sebelah kanannya terasa begitu hangat. Ketika ia melirik kearah tangan sebelah kanannya, ia tersenyum tipis. Ia ingin sekali membelai dengan lembut rambut dari sosok yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya tersebut. Tetapi, ia seperti tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan hal itu. Menggerakkan jari-jarinya saja sangat sulit.
Rukia mengangkat sedikit kepalanya dan mengucek-ucek kedua matanya. Secara perlahan, ia berdiri dari kursi yang di ambilnya dan mengambil dompetnya ketika melirik kearah jam.
"Sudah jam segini! Aku bisa-bisa di marahi Nii-sama kalau sampai pulang telat!" Kata Rukia yang sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari sana. Tetapi, ia melihat kea rah Toushirou terlebih dahulu. Kelopak matanya masih tertutup rapat. Rukia tersenyum kecil dan berbisik ke telinga kanan Toushirou.
"Besok aku akan ke sini lagi. Kalau kau ingin memakan ama-natto lagi, cepatlah buka kedua matamu, Hitsugaya."Rukia melihat kearah Toushirou lagi, dan tersenyum untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi dari tempat itu. Ketika memastikan bahwa Rukia sudah pergi, Toushirou membuka perlahan kedua matanya dan tersenyum lembut.
'Dasar, kau memang selalu seperti itu, Rukia,'Ucap Toushirou dalam hati.
"Kuchiki-san, kau hari ini tidak pergi menjenguk Shiro-chan?"Tanya Momo ketika mereka berada di apartemen Orihime.
"Ah, sehabis dari sini, aku langsung ke rumah sakit kok untuk menjenguknya,"kata Rukia dengan senyum.
"Dasar kau, Kuchiki. Kau memangnya sudah jadian ya dengan Toushirou?" Tanya Tatsuki yang membuat Rukia memerah.
"Ti-tidak! Aku hanya teman biasa dengannya!"
"Oh ya?"Goda Tatsuki yang membuat Rukia mulai mengerucutkan bibirnya.
"Ahaha, aku hanya bercanda kok, Kuchiki! Jangan memasang tampang seperti itu dong." Orihime dan Momo yang juga berada di situ pun tertawa melihat wajah Rukia yang sedang cemberut seperti itu.
"Hahaha, aku ambilkan minum dulu ya? Kalian tunggu di sini!"Kata Orihime dengan riangnya dan berlari kecil menuju dapur.
"Hahh, aku berharap, kali ini Orihime tidak memasukkan bahan-bahan yang aneh ke dalam air minum kita nanti,"Kata Tatsuki ketika Orihime sudah tidak terlihat lagi wujudnya.
"Memangnya, bahan-bahan seperti apa?"Tanya Momo polos.
"Kau tidak tahu sih, Hinamori! Pada setiap makanan, ia pasti selalu menaruh bahan yang aneh-aneh! Misalnya saja waktu itu, Ia memasak ikan bakar dengan susu kental manis,"jelas Tatsuki yang mulai membayangkan bentuk dan rasa makanan itu.
"Dia juga pernah memasukkan mayonnaise pada sirup strawberry!"Imbuh Rukia, tidak mau kalah berbagi pengalaman.
"Lalu, sup ayam dengan selai nanas!"Tambah Tatsuki.
"Terus, spaghetti dengan meises dan kecap!"Kata Rukia.
"Nasi goreng dengan teh celup!"
"Ayam goreng dengan cuka!"
"Kue kecil dengan bahan jahe dan sambal!"
"Coca cola dengan kecap!"
"Hei Kuchiki, kau lihat Hinamori?"Tanya Tatsuki pada Rukia.
"Tidak, bukannya tadi dia di sini ya?" Kata Rukia sambil menunjuk tempat Momo duduk tadi.
"Ah, teman-teman, maaf, tadi aku baru saja dari luar."Terlihat Momo masuk kembali ke ruang tamu Orihime.
"Kau kenapa, Hinamori? Kau tidak enak badan?"Tanya Rukia yang melihat wajah Momo yang pucat.
"Ah, tidak. Tadi aku hanya hampir muntah ketika membayangkan rasa dan rupa makanan-makanan yang kalian bicarakan, jadi tadi aku berlari keluar, takut kalau aku akan muntah sungguhan di sini. Mendadak, aku jadi eneg sendiri,"jelas Momo tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"GOMEN, HINAMORI!" Kata Rukia dan Tatsuki serempak. Momo yang bingung dengan kelakuan kedua sahabatnya ini, hanya ber-sweatdrop-ria.
"Maaf teman-teman, tadi airnya habis, jadi baru aku isi ulang,"kata Orihime yang baru saja keluar dari dapur rumahnya sambil membawa nampan berisi 4 gelas air putih. Tatsuki, Rukia, dan Momo memperhatikan dengan seksama air yang akan di minum oleh mereka. Hanya untuk memastikan, airnya aman atau tidak.
"Kalian kenapa melihat gelasnya seperti itu?"Tanya Orihime ketika melihat kelakuan para sahabatnya itu.
"Tidak, tidak ada apa-apa kok Inoue,"jawab Rukia yang mulai meneguk perlahan air putih pemberian Orihime tersebut.
"Ahaha, baiklah kalau be.."
'PRANG'
Ketika Orihime ingin mengambil gelas miliknya tersebut, tidak sengaja ia menyenggolnya sehingga gelas itu pecah berkeping-keping dan meninggalkan pecahan beling yang sangat berbahaya.
"Orihime, kau tidak apa-apa? Kau sungguh ceroboh sekali,"kata Tatsuki sambil geleng-geleng kepala melihat kecerobohan Orihime.
"Inoue-san, biar aku bantu."Momo mulai memunguti beberapa pecahan beling yang berserakan tersebut.
"Tidak usah, Hinamori-san. Nanti kau terluka,"kata Orihime yang mulai bangkit berdiri secara perlahan agar tidak terkena pecahan-pecahan beling tersebut.
"Aku baik-baik saja kok, aww!!" Momo merasakan jarinya sakit karena memegang sebuah pecahan beling. Ketika ia membalikkan jarinya, ia melihat darah segar miliknya keluar. Semakin lama, semakin banyak. Keringat dingin pun keluar dari tubuhnya.
"Hinamori-san, daijoubu? Aku ambilkan plester dulu, kau tunggu di sini ya,"kata Orihime yang mulai panik dan mencari di mana ia meletakkan kotak P3Knya.
"Ti-tidak usah, Inoue-san.. Ah, aku pulang dulu ya, teman-teman."Momo segera bangkit berdiri dan berlari keluar dari apartemen Orihime.
"Hinamori!"Teriak Rukia yang juga berlari mengejar Momo. Momo terus berlari dengan nafasnya yang menderu, tetapi, di belakangnya ada Rukia dengan nafas yang masih stabil dan masih berlari mengejar Momo.
"Hinamori! Cotto mate!"Teriak Rukia ketika sedikit lagi tangannya dapat meraih pundak Hinamori.
"Kuchiki-san, aku mohon, jangan ikuti aku!" Teriak Momo kepada Rukia yang tinggal sedikit lagi dapat meraih pundaknya.
PUK
"Hinamori! Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba berlari seperti itu? Dan lukamu harus segera di obati, kalau tidak…" Ucapan Rukia terhenti ketika melihat darah di salah satu jari Momo mengalir dengan derasnya.
"Astaga! Ada apa dengan lukamu, Hinamori? Kalau hanya tergores biasa, pasti tidak akan mengeluarkan darah sebanyak ini!" Kata Rukia dengan paniknya sambil memegang lengan Momo.
"Ku mohon, Kuchiki-san, biarkan aku pergi…"Kata Momo dengan wajah yang menunduk.
"Hinamori.. Tolong jelaskan, ada apa denganmu?" Rukia memandang tajam mata hazel Momo. Seakan mencari sesuatu dari sana.
"Kuchiki-san.. sebenarnya aku…"Ucapan Momo terhenti ketika ia merasa kepalanya sangat pening. Perlahan ia jatuh tidak sadarkan diri.
"Kuchiki-san, ada apa dengan Hinamori-san? Kenapa bisa jadi seperti ini?"Tanya Orihime cemas ketika ia baru saja datang ke rumah sakit.
"Entahlah… Tapi, tadi aku melihat luka di jarinya sangat parah. Darahnya tidak mau berhenti dan mengalir terus. Mungkin dia pusing karena kekurangan darah. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan Hinamori.."Jelas Rukia.
"Ini semua.. karena kesalahanku.. Gara-gara aku memecahkan gelas beling itu, Hinamori-san jadi seperti ini,"kata Orihime yang mulai menangis.
"Sudah, jangan menangis, Orihime. Menangis itu tidak ada gunanya. Lebih baik kita berdoa dan menunggu dokternya keluar dari pada kau menangis terus seperti itu."Tatsuki berusaha menenangkan Orihime, sedangkan Rukia dengan tidak sabar menunggu sang dokter keluar dari ruang UGD, ruangan yang sama ketika Toushirou dilarikan ke sana setelah peristiwa tabrakan itu.
"Ah, apakah kalian teman dari anak ini?"Tanya sang dokter kepada mereka semua.
"Iya, kami teman-temannya!"Kata mereka serempak.
"Bagaimana dengan keadaan Hinamori-san, dokter?"Tanya Orihime yang berusaha menghapus air matanya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian, ayo masuk ke ruanganku."Dokter itu menuntun mereka bertiga untuk masuk ke ruang kerjanya. Setelah sampai, dokter itu duduk di bangku putarn miliknya.
"Begini.. Apakah kalian semua tahu penyakit apa yang di idap pasien Hinamori?"Tanya sang dokter dengan serius.
"Penyakit? Memangnya dia terkena penyakit apa? Dia tidak pernah memberitahukannya pada kami,"kata Tatsuki.
"Iya, memangnya ada apa dengan Hinamori-san, dok?"Tanya Orihime dengan cemas.
"Pasien Hinamori…" Dokter itu menundukkan kepalanya sesaat. Lalu memandang mereka bertiga lagi. "Positif terkena Hemofilia."
Perkataan dokter yang terakhir itu membuat mata mereka bertiga terbelalak lebar.
"Hemofilia? Maksud anda, salah satu penyakit yang cukup mematikan itu? Penyakit yang kalau kulit kita tergores atau terluka dan darahnya sudah keluar, maka akan sulit untuk di hentikan?" Tanya Rukia masih dengan keterjutannya.
"Ya. Maka itu, tadi pasien Hinamori sempat pingsan karena telah kehilangan darah yang cukup banyak,"jelas pak dokter.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"Tanya Tatsuki.
"Darahnya sudah mulai bisa sedikit berhenti. Tetapi masih tetap mengalir, hanya saja tidak sebanyak tadi."
"… Tetapi tadi anda bilang, kalau Hinamori sudah kehilangan darah cukup banyak? Kalau begitu, bisakah saya mendonorkan darah untuknya?"Kata Rukia yang menyebabkan 3 orang lain yang ada di sana menatapnya.
"Bisa saja, tapi yang saya takutkan, kalau darahnya sudah di donorkan, nanti malah akan mengalir keluar lagi. Kita hanya bisa berserah pada Tuhan saja. Atau tidak, kita bisa membawanya ke perawatan yang lebih baik di luar negeri,"kata sang dokter yang membuat mereka bertiga tertunduk lesu.
"Hitsugaya, apakah kau tahu tentang penyakit yang di idap Hinamori? Aku takut kalau ada apa-apa dengannya.. Tadi tangannya tergores dan darah yang keluar dari jarinya tersebut tidak mau berhenti.. Kalau sekarang sih sudah mulai berhenti. Hanya saja aku takut kalau dia tergores lagi… Kau cepat sadar ya, banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Ya sudah, aku pulang dulu ya, ja nee, Hitsugaya!" Kata Rukia panjang lebar setelah sekalian menjenguk Toushirou sehabis memastikan Momo sudah sadarkan diri.
"Hinamori.. Ada apa denganmu.."Kata Toushirou pelan ketika Rukia sudah pergi dari kamar rawatnya.
"Tadaima, Nii-sama, Hisana-nee,"Sapa Rukia yang melihat kedua orang yang merupakan keluarganya tersebut sedang terduduk di ruang tamu.
"Rukia, ada yang ingin kami bicarakan padamu, duduklah."Rukia mematuhi perintah Byakuya dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Byakuya dan Hisana.
"Ada apa, Nii-sama?"Tanya Rukia yang penasaran karena sebelumnya, mereka tidak pernah mengadakan sidang meja persegi.
"Rukia, sebulan lagi, kau akan bertunangan dengan anak teman kakak sewaktu dulu,"kata Hisana dengan lembut ke Rukia. Rukia sudah jelas-jelas membelalakkan matanya.
"Na.. nani?"Kata Rukia tidak percaya.
"Seperti yang sudah Hisana bilang tadi, kau akan di tunangkan oleh anak keluarga Kurosaki,"jelas Byakuya.
"Kuro.. saki?"Di kepala Rukia yang muncul ketika mendengar nama' Kurosaki' adalah jeruk.
"Ya, Kurosaki Ichigo,"Kata Hisana sambil tersenyum lagi.
"Kurosaki Ichigo? Jeruk dan strawberry… Aneh.. EH, APA?! KUROSAKI ICHIGO?!"Teriak Rukia tanpa kontrol. Sebelumnya, Rukia belum pernah sekalipun berteriak di depan Byakuya.
"Rukia, jaga sikapmu,"kata Byakuya dengan cool-nya.
"Su-sumimasen, nii-sama.." Kata Rukia dengan wajah menunduk.
"Iya Rukia, namanya Kurosaki Ichigo. Ini fotonya,"kata Hisana sambil mengeluarkan selembaran yang sudah pasti adalah kertas foto. Tanpa pikir panjang lagi, Rukia segera mengambil kertas foto tersebut.
"Kore wa…" Rukia terdiam ketika memperhatikan sebuah foto di mana ada seorang pemuda yang cukup tinggi, memiliki rambut orange nyentrik dan alis yang berkerut, sedang memakai baju santai berwarna merah dan celana jeans hitam serta sepatu kets putih.
"Ichi.. go?"Kata Rukia terbata-bata.
"Kau sudah mengenalnya, Rukia?"Tanya Hisana antusias.
"Y-ya, dia teman sekelasku. Sekaligus orang yang hampir men.. ups!"Rukia segera menutup mulutnya ketika ia hampir saja keceplosan.
"'Men' apa, Rukia?"Tanya Byakuya sambil memberikan tatapan tajam ke adik iparnya tersebut.
"Ah, bukan apa-apa kok, nii-sama! Ah, aku mau ke kamarku dulu ya, aku sudah letih."Rukia bergegas berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Ia masih tidak mempercayai apa yang tadi di lihat dan di dengarnya sewaktu sidang meja persegi.
"Aku akan bertunangan dengan… Ichigo?"
TO BE CONTINUED
***
OMAKE!
Pura-Pura Koma
Ini seperti kisah suka dan duka(tapi kayaknya duka semua)yang di alami Toushirou selama dia berpura-pura bahwa dia sedang koma.
"Ah, tengah malam begini aku belum mengantuk, aku ingin nonton TV saja dulu."Toushirou mengambil remote TV dan hendak mmencetnya. Tetapi, kedatangan seorang suster menghentikan aktivitasnya. Toushirou kembali pura-pura dalam keadaan koma.
"Remote TV kenapa ada di sini? Sudah di cari juga dari tadi."Lalu sang suster pergi membawa remote TV dari ruangan Toushirou.
"Ah, sial. Sekarang ngapain? Aku ingin makan apel saja. Sayang, tidak ada semangka." Lalu Toushirou mencomot satu apel dari meja kecil di sebelah ranjangnya. Ketika ia baru hendak mengupas kulit apelnya…
"Ah, aku ingin mengambil apelnya ah! Kalau nonton acara gosip, nggak enak kalau tidak ada makanan!" Kata sang suster yang kembali lagi ke kamar Toushirou dan sekarang mengambil 'semua' buah-buahan milik Toushirou. Ketika sang suster pergi, Toushirou memukulkan tangannya ke kasur pertanda ia kesal, tetapi tidak lama kemudian, ia mengaduh kesakitan karena kepulihan tangannya belum 100 %
***
Mii:"Astaga, Mii sama sekali kagak punya ide buat omake'a *.*"
Ruki:"Kita langsung aja bales ripiu ya, pertama dari Rizu Auxe09. Ckckck, gx papa tuh, masi pagi2 dah bca fic kyk bginian? Ntar sakit mata looo~ "
Mii:*Ngelempar sandal k Ruki*" Hohohoho, klnjutan'a ya, ini nih XD, *Nunjuk2 chap 10*"
Hitsu:"Truz, dari Tsuichi Yukiko."
Mii:"Yg kmaren gomen yaaa, Mii soalny lagi bunting ide+ngetiknya malem2 *skarang jga si XD*.Hitsu'a? Kan bisa di kantongin XD *Di tampol*"
Ichi:"Lanjuutt! Dari Ninomiya Icha malez log alias Ninomiya Icha."
Hitsu:"Awh! Siapa nih yang ngelempar bakiak ke kepala gue? Makin ancur dah kepala gue!"
Mii:"Hohoho, ini dah apdet XP. Lalu dari Zheone Quin. Hitsu'a kgx mati kok, buktinya aja masi ngomong tuh di atas Mii"
Hitsu:"Apaan?"
Mii:"Tuh kan XD. Hitsu cembukor berat? Gampang! Mii usahakan d next chap!"
Ruki:"Prasaan next chapter next chapter mlo neh!"
Mii:"Biarin :p. Truz dari hiru-chan. Mkasih banget dah mau memaklumi keadaan Mii yang tragis seperti ini :') . Semoga Tuhan memberkatimu dan engkau di terima di sisinya (lho?) *d tabok hiru*."
Hitsu:"Lalu dari Kireina_Toushirou."
Mii:"Hehehe, gomen2 ^^. Wahaha, jangan d dobrak dong, d jebol aj (O_o), truz, omake ntu tuh kayak sesi crita tambahan gitu. Biasanya yang berbau humor gtu. Kayak Semacem Shinigami Golden Cup gtu. Tau kann?? Truz, Mii kmaren minta maap soal Mii yang sala ngetik pen name Kire-chan ^^. Hehe, gomen y ."
Ruki:"The last, 'Ruki-chan' pipy."
Mii:"Hueee, gomen2 .. Abs'a Mii kgx ad wktu ol lgi. Kmaren aj ngetik malem2, abs ngetik lngsng tidur gara2 kagak tahan. Dari tadi siang, sore, ama pagi kgx ol, coz k hum tmen ngerjain tgas. Skali lgi, gomeenn .. Kagak kok, kagak mate, huahahaha *ketawa gaje*"
Okok, Mii ucapkan terima kasiihhh kepada semua orang di Indonesia atau di luar Indonesia yang sudah membaca dan me ripiu fic Mii chap kmaren!
Maap ya, kalo omake'a makin hari makin gaje --". Maap juga kalo crita'a kgx sebagus yg kalian s'mua harapkan . (soal hemofilia"an, Mii kurang tau soal ntu penyakit. Tapi seinget Mii penyakit'a kyk gtu. Klo Mii salah mengartikannya, tolong kasi tau Mii y :).)
Tapi Mii sangaattt memohon kepada semua makhluk hidup, roh halus, ato siapalah yang membaca fic ini untuk me ripiu yaa
JUST KLIK TULISAN BLUE DI UNDER INI :D
