selamat menikmati perjalanan Tuan Muda Kim Jaejoong~

X-Change

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro

Perjalanan menuju kematian tidak begitu membosankan, Jaejoong dan paman-paman Yakuza sepertinya dapat bergaul dengan baik. Paman-paman Yakuza banyak bercerita mengenai dirinya dan perkembangan Clan, mulai dari hal yang menegangkan sampai yang lucu. Jaejoong saja sampai lupa ia adalah tawanan.

Mobil yang dikendarai Jaejoong mulai memelankan kecepatannya, memberikan tanda bahwa mereka hampir sampai ditempat orang misterius itu. Beberapa menit kemudian, Jaejoong merasa tubuhnya di tuntun keluar dari mobil. Sebuah daratan, Jaejoong masih menebak-nebak dimana dirinya berada. Tidak mungkin di sebuah kafe, karena bau karat begitu menyengat ditempat ia berdiri saat ini.

Sebuah gerbang ditarik membuka, membuat suara derakan yang bisa didengar oleh siapa pun termasuk Jaejoong. Panas matahari perlahan menghilang, digantikan oleh dinginnya sebuah ruang kosong yang besar. Penutup mata yang sedari tadi bertengger dikepala Jaejoong dibuka, membuat Jaejoong agak sedikit mengerjap karena beradaptasi dengan cahaya yang ada disekitarnya. Sebuah ruangan yang besar, berdebu menghampar didepan Jaejoong. Jaejoong menebak bahwa ia sekarang sedang ada di sebuah gudang yang tidak terpakai, entah siapa pemiliknya.

"Ah.. kau sudah datang rupanya.."

Seorang lelaki dengan rambut pendek berwarna cokelat gelap berdiri didepan Jaejoong. "Selamat datang, di.. ehm.. bagaimana ya menyebutnya?- ah! Tempat minum teh.."

Jaejoong masih tidak bergeming, pandangannya terpaku pada sosok Yoochun yang duduk terikat disebuah kursi tua, tidak hanya tangan dan kakinya saja yang diikat mulutnya pun dibekap dengan sebuah selotip hitam besar. Sahabatnya itu tidak sadarkan diri, wajahnya dipenuhi luka memar bahkan sesekali darah menetes dari luka dipelipis kirinya. Pemandangan itu sungguh menyayat hatinya, kalau saja si bedebah yang tengah mengoceh didepannya ini tidak punya orang suruhan yang dapat membunuh Yoochun, ia akan langsung memukulinya tanpa ampun. Tetapi ia harus fokus, tujuannya kesini ialah untuk menyelamatkan Yoochun dan Yunho. Jaejoong teringat akan temannya itu, sejak penutup matanya dibuka, ia tidak melihat sosok pemuda itu disekitar gudang ini.

"Perkenalkan namaku, Jihoon.. bagaimana jika kau duduk bersamaku? Kau terlihat begitu tidak nyaman" Celoteh Jihoon yang kembali duduk disebuah kursi tepat didepan Yoochun yang masih tak sadarkan diri.

Jaejoong melepaskan diri dari cengkeraman kedua Yakuza yang ada dikanan dan kirinya. Dengan pasti ia melangkah menghadapi Jihoon. Si Bastard itu harus diberi pelajaran batin Jaejoong yang kini sudah duduk berhadapan dengan Jihoon.

"Katakan apa yang kau inginkan dariku namun sebelum itu kau harus lepaskan Yoochun.." Ancam Jaejoong

Jihoon tersenyum meledek, "Sabar Sweety, kau ini benar-benar to the point.. Bagaimana kabar kakekmu?"

"Cukup lincah untuk orang seusianya.." ucap Jaejoong malas, ia melayangkan pandangannya ke arah Yoochun yang sudah sadarkan diri. Mata Yoochun memberikan isyarat untuk tidak melayani Jihoon lebih jauh.

"Sudah sejak lama.. Ah, lama sekali.. Sejak keluargamu mengambil kekuasaan keluargaku di Jepang.. Oh ya, apakah paket ku kemarin sampai dirumahmu? Ibumu menyukainya?"

Mendengar nama ibunya disebut, Jaejoong langsung naik pitam. Ternyata orang ini merupakan sumber 'penyakit' dikeluarga Jaejoong. Dengan geram, Jaejoong menarik kerah baju yang dikenakan Jihoon.

"Dengar, aku tak mau berbasa-basi denganmu!"

Clik

Bunyi pelatuk membuat sekujur tubuh Jaejoong membeku. Jihoon tertawa sinis, sebuah pistol tertenggam ditangannya siap mengarah ke jantung Yoochun dan menghabisi nyawanya tanpa sempat melawan.

"Masih tidak mau berbasa basi denganku?"

Jaejoong mengalah, dengan kasar ia melepaskan kerah Jihoon.

"Kim Jaejoong.. Kim Jaejoong.. the sleeping dragon, heh? Jadi, Cuma seperti ini kemampuanmu? Haha! menggertak?!"

"Memangnya kau mengharapkan kemampuanku yang seperti apa? Melawak?" tanya Jaejoong sarkastik.

Jihoon tertawa dingin. "Sudah sejak lama aku menantikan hari ini, dimana membunuhmu menjadi sebuah hal yang begitu mudah!"

"Percayalah, dewa mengutukku.. Membunuhku tidak akan membuatnya senang" ucap Jaejoong masih dengan gayanya yang santai.

Jihoon tidak mempedulikan ocehan Jaejoong. Ia mengarahkan pistolnya kearah Jaejoong, pemuda cantik itu terbelalak. "Ada kata-kata terakhir sebelum kau mati?"

"Hyung!"

Sebuah suara menginterupsi percakapan sengit antara Jaejoong dan Jihoon, kedua orang yang tengah dilanda pembicaraan yang serius pun menoleh ke sumber suara. Saat itu Jaejoong benar-benar tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Senang? Atau justru malah cemas?

Sosok Yunho tiba-tiba hadir ke dalam gedung tua itu. Ia segera berlari menengahi kedua orang yang lebih dulu ada di gudang itu sebelumnya, sekaligus melindungi Jaejoong sebelum kakaknya menarik pemicu. "Hyung! Kau sudah berjanji untuk tidak melibatkan Jaejoong disini!"

"Wow.. wow.. tenang adikku, kekasihmu belum ku apa-apa-kan.." Jihoon menyingkirkan pistolnya.

"Yunho.." ucap Jaejoong pelan. Perasaan bingung menghinggapi hatinya, memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalanya mulai terjawab satu demi satu dengan cara yang sedikit mustahil. Kejadian demi kejadian memiliki hubungan. Semuanya sudah sangat terencana dengan matang, tanpa seseorang menyadarinya. Mulai dari mengapa Yunho yang selalu mendekati Jaejoong, menemaninya sepanjang waktu. Sampai akhirnya Jaejoong dengan sukarela menceritakan rahasia terdalamnya, Yakuza. Semuanya dapat dimengerti, bagaimana musuh kakeknya dapat dengan mudah menemukan tempat tinggalnya kemudian mengancamnya dan hampir membunuhnya disekolah tanpa harus khawatir gelagatnya diketahui. Benar-benar licin, batin Jaejoong. Selama ini musuh begitu dekat, hingga Jaejoong tidak menyadarinya.

"Jaejoongie.. kau tidak apa-apa?" tanya Yunho sedikit canggung.

Jaejoong mengangguk pelan, hatinya masih belum bisa menerima bahwa semua ini adalah ulah Yunho dan keluarganya.

Jihoon berdeham, "Ehm.. Yunho kurasa temanmu butuh sebuah penjelasan.."

Kalimat Jihoon benar-benar tidak membuat suasana menjadi lebih baik. Yunho menghela nafas, ia tahu Jaejoong tengah kecewa padanya. "Jaejoong-ah.. maafkan aku"

Sebuah pisau dengan tiba-tiba meluncur tepat 1cm sebelum tenggorokan Yunho, "Mundur!" Ancam Yoochun yang sudah ada dibelakang Jaejoong melindunginya. Kejadiannya begitu halus dan cepat, sampai tak ada orang yang menyadari bahwa Yoochun sudah terlepas dari ikatannya dan melumpuhkan seorang Yakuza yang sudah tergeletak kehabisan darah.

Jihoon menyiapkan pistolnya kearah Jaejoong kembali. Jihoon berteriak memanggil penjaga yang diluar untuk segera membantunya didalam. Dalam sekejap mereka berempat terkepung. Yunho menggeleng, keadaan menjadi semakin sulit.

"Kau tidak tahu kapan pisauku ini akan melayang merobek tenggorokanmu, Jihoon!" Ancam Yoochun.

"Tidak, sebelum peluru ini melenyapkan Jaejoong terlebih dahulu"

Yunho memutuskan untuk mengangkat tangannya dan mundur perlahan. Situasi sudah sangat keruh dan ia tak mau menambahkannya lagi. "Turunkan pistolmu hyung" ucap Yunho kepada kakaknya. Jihoon menyetujuinya, kemudian menurunkan pistolnya.

"Kenapa kau terjebak perangkap mereka sih?" gerutu Yoochun pelan tepat kearah kuping Jaejoong.

"Bukan waktunya untuk membahas hal itu Park"

"Junsu selamat?"

"Kakek menolongnya, tenanglah"

Jihoon memandangi kedua musuhnya yang tengah berbincang pendek, "Kurasa perbincangan hari ini harus berakhir.. Bagaimana kalau kita sedikit.." Jihoon mengarahkan pistolnya kembali kearah Jaejoong "..olahraga?"

BAM!

Sebuah pemicu telah ditarik, melepaskan sebuah peluru untuk ber"sarang". Darah mengalir dari luka dipundak seorang pemuda yang kini meringkuk dilantai, menahan perih dari tubuhnya yang terkoyak dalam.

"Yunho!" teriak Jaejoong menghampiri tubuh temannya yang telah sengaja mengorbankan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Jaejoong membalikkan tubuh Yunho, dan langsung kaget ketika banyak darah melumuri tangannya yang kala itu hanya dikotorkan oleh debu serta luka-luka kecil. Yunho tidak jahat, jika dia jahat dia tidak akan bertindak sejauh ini untuk menyelamatkannya.

Yunho perlahan membuka matanya untuk mendapatkan rasa sakit yang luar biasa pada lengan bagian kanannya, pandangannya kabur namun ia masih bisa melihat Jaejoong yang tengah terpaku melihat tangannya yang berlumuran darah "J-jae.." rintihnya sambil memegang tangan Jaejoong dengan lengannya yang masih sehat, berusaha bicara dengan gesture bahwa ia tidak apa-apa.

Jihoon shock melihat pengorbanan yang dilakukan Yunho kepada Jaejoong. Satu kata terakhir dari mulutnya sebelum ia meninggalkan TKP, "Habisi mereka.." dan kejadian pun berjalan dengan cepat. Anak buah Jihoon mulai menyerang.

"Jaejoong!" Teriak Yoochun berusaha mengingatkan Jaejoong sebelum kepalanya dihantam dengan besi tua oleh antek antek Jihoon.

Tepat sebelum besi tua itu mengenai kepala Jaejoong, ia menghentikannya dengan memelintir lengan Yakuza anak buah Jihoon itu. Beberapa detik kemudian, anak buah Jihoon itu berteriak kesakitan sehingga membuyarkan konsentrasi teman-temannya yang ingin membantunya. Setelah mendengar bunyi beberapa tulang patah, Jaejoong mendorong Yakuza itu hingga jatuh ke lantai. Wajahnya dihiasi senyum bengis, "Siapa selanjutnya?" Ucapnya.

Yoochun yang melihat keagresifan Jaejoong meningkat menjadi berkali-kali lipat merasa bahwa ada yang tidak beres dengan sikap anak itu. Jaejoong yang payah dalam melawan manusia kayu untuk latihan, kini menumbangkan 6 orang Yakuza yang badannya 2 kali lebih besar daripada badannya tanpa harus pindah dari tempatnya berdiri. Jaejoong yang ini bukanlah Jaejoong yang ia kenal, naga yang tidur telah dibangunkan batin Yoochun.

-TBC-