Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!

Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery

Rated : T+

Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!

-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-

.

.

Chapter 10

.

.

"Astaga.. Hinata-chan?!" Sakura menutup mulutnya. Mata emeraldnya terbelalak melihat sesosok gadis bersurai indigo yang sangat dikenalnya. Keadaan gadis itu cukup memprihatinkan. Gaunnya yang berwarna ungu muda tampak kotor dengan bekas tanah yang masih menempel dibeberapa bagian. Ujung gaunnya juga sedikit robek. Rambut indigonya tampak kusut. Dan yang lebih membuat Sakura tercengang adalah mata gadis itu yang terbuka dan memandang kosong kedepan.

"Hinata-chan! Sadarlah! Hei, Hinata!" Sakura memasukkan kedua tangannya kedalam sel itu. Sebelah tangannya yang tak memegang lilin bergerak-gerak mencoba menggapai rambut Hinata yang tergerai berantakan. Berharap jika ia menarik surai indigo itu, Hinata akan tersadar.

"Hin- Akhhh." Kepala Sakura tertarik kebelakang saat sebuah tangan menarik surai merah muda panjangnya. Kedua tangannya yang berada didalam sel itu seolah terjebak. Ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang.

"Dasar gadis nakal." Emeraldnya terbelalak saat mendengar suara berat nan dingin yang dikenalnya itu. Tangan yang menarik rambutnya terlepas dan kini tangan lain menarik kedua lengannya yang terjebak didalam sel penjara Hinata itu.

"Nii-san." Sakura mencicit takut saat pemilik tangan itu membalikkan tubuhnya. Ia bisa melihat kakaknya yang kini memandangnya dengan tatapan dingin yang sarat akan kemarahan. Beberapa pemuda berjubah awan merah berdiri dibelakang kakaknya. Menyeringai remeh menatap Sakura yang tertangkap basah.

Bugh

Kesadaran Sakura menghilang saat Yahiko memukul tengkuk gadis itu. Namun Sakura masih bisa mendengar gumaman lirih kakaknya.

"Maaf Imouto. Seandainya kau menurut padaku. Aku tak akan melakukan ini."

.

.

.

.

Gaara mengernyit saat dirinya memasuki wilayah hutan tempatnya tinggal. Pemandangan hutan yang tampak kacau jelas terlihat meski matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Beberapa pohon tampak tumbang dan terdapat bekas cakaran dimana-mana. Keadaan hutan yang hancur berantakan seperti ini mengingatkannya saat Naruto mengamuk-

"Gaara!" Temari berjalan cepat menghampiri Gaara yang terdiam memandangi hutan tempatnya tinggal yang tampak kacau ini. Gadis itu segera memeluk adiknya dan menarik lengan Gaara untuk mengikutinya.

"Apa yang terjadi Temari-nee?" Gaara terbelalak melihat 'pemukiman' tempat kawanan rubahnya tinggal yang kini tampak kacau seperti habis terjadi penyerangan. Pohon tumbang, tanah retak, dan beberapa bangunan hancur.

"Hinata hilang. Naruto bilang ia diculik beberapa orang." Temari berujar panik. Sekarang ia tahu siapa yang menyebabkan kehancuran ini.

"Naruto mengamuk. Dan Jiraiya-sama berhasil menghentikannya." Gaara melepas genggaman tangan Temari dan berjalan pelan menghampiri Naruto yang terduduk lemas disalah satu batang pohon yang ia tumbangkan.

"Naruto. Ceritakan padaku." Gaara menepuk pelan bahu Naruto. Iris sapphire pemuda itu kini berubah menjadi jingga. Kemarahannya masih belum reda rupanya.

"Hime-chan.. diculik oleh lima orang vampire. Ini salahku. Harusnya aku tak mengerjainya. Harusnya aku-" Naruto berhenti meracau saat Gaara meninju pipinya. Naruto memandang marah Gaara. Namun, kemarahannya surut saat sepasang jade Gaara memandangnya dingin.

"Penyesalanmu tak akan membuatnya kembali. Mengapa kau tak mencarinya?" Naruto menghela nafas putus asa. Kepalanya menggeleng pelan.

"Kau tahu aku tak bisa melawan lima orang vampire seorang diri, Tadinya aku berencana untuk menemui Sasuke dan meminta bantuannya." Naruto menunduk lemas. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.

"Apa kau tahu siapa yang menculiknya?" Gaara kembali mengorek informasi dari Naruto. Ia memandang prihatin Naruto.

"Entahlah, aku tak pernah melihat mereka disekitar sini. Salah seorang dari mereka memiliki rambut oranye dan bermata ungu-"

Ucapan Naruto terhenti saat Gaara mencengkram kuat pundaknya. Jade lelaki itu terbelalak.

"Rambut oranye dan mata ungu katamu? Ini gawat." Gaara menarik lengan Naruto yang kebingungan melihat sikap pemuda Sabaku itu. Ia mencoba menyamakan langkahnya dengan Gaara yang kini melangkah tergesa.

"Kita harus menemui Sasuke. Sakura dalam bahaya." Naruto menahan lengan Gaara. Matanya sapphirenya telah kembali. Ia memandang Gaara dengan pandangan menuntut.

"Tapi Hinata juga dalam bahaya!" Gaara balas menatap tajam Naruto.

"Sakura juga dalam bahaya! Dan kurasa ini ada hubungannya dengan Hinata. Jadi diam dan ikuti aku!" Naruto masih terdiam. Enggan mengikuti langkah Gaara.

"Apa hubungan Sakura dengan Hinata?" Gaara mengacak frustasi rambutnya menghadapi tingkah keras kepala Naruto.

"Sakura dibawa seseorang dan menurutku orang itu jugalah yang telah menculik Hinata!" Naruto membulatkan matanya. Dengan langkah cepat ia mengikuti Gaara yang berjalan didepannya.

"Jelaskan semua yang kau tahu Gaara." Naruto dan Gaara kini merubah wujud mereka menjadi rubah.

"Nanti kujelaskan. Sekarang kita temui Jiraiya-sama untuk meminta bantuan." Kedua pemuda rubah itupun dengan cepat mengumpulkan rekan mereka untuk menyelamatkan Hinata dan Sakura.

"Apa yang sebenarnya terjadi Gaara?" Jiraiya memandang serius kearah Gaara yang tiba-tiba datang meminta bantuan. Pemuda itu sudah mengumpulkan rekan-rekannya dan sekarang tinggal meminta ijin darinya saja.

"Sakura dibawa oleh seseorang yang kemungkinan juga telah menculik Hinata. Aku dan Sasuke sebelumnya telah menemui Itachi untuk mencari Sakura, namun Sakura dibawa oleh kakaknya." Jelas Gaara.

"Sasuke dan Itachi sekarang sedang mencari asal usul Sakura di kastil seseorang yang bernama Orochimaru. Dan aku kembali untuk meminta bantuan untuk mencari Sakura." Jiraya mengangguk. Mendengar nama Orochimaru membuatnya berpikir bahwa masalah yang terjadi sekarang pastilah cukup membingungkan. Sampai-sampai membutuhkan bantuan seorang ilmuan gila seperti Orochimaru itu.

"Aku mohon Jiraiya-sensei. Ijinkan kami. Ini juga menyangkut Hinata." Jiraiya memandang Naruto. Pemuda itu memanggilnya 'Jiraiya-sensei'. Dan Jiraiya tahu, jika Naruto sudah memanggilnya seperti itu, itu berarti Naruto serius.

"Baiklah. Berikan sinyal jika kalian dalam keadaan mendesak. Kami akan datang menyusul kalian." Naruto dan Gaara mengangguk serempak. Mereka membungkuk hormat kemudian pergi menemui rekan-rekannya.

.

.

.

.

Matahari masih belum mau memunculkan dirinya secara terang-terangan. Sinarnya mengintip malu-malu.

"Klan apa ini?" Orochimaru mendengus mendengar komentar Itachi dan Sasuke saat ia menyodorkan bukunya kehadapan pemuda Uchiha itu. Ia sudah menduga jika mereka tak akan mengetahui nama klan ini.

"Aku tak heran kalian bertanya seperti itu. Klan ini memang sudah lama tak terdengar kabarnya." Itachi mengangguk. Sementara Sasuke terdiam seolah membiarkan Orochimaru untuk melanjutkan ucapannya.

"Klan Ootsuki adalah klan yang semua keturunannya berjenis kelamin perempuan. Klan ini membutuhkan seorang lelaki dari klan lain yang mau memimpin klan Ootsuki. Namun, tak banyak yang menginginkannya. Klan Ootsuki memiliki banyak musuh." Orochimaru menatap Sasuke yang tampak tak berminat mendengar penjelasan umum mengenai klan ini.

"Mereka memiliki kemampuan mata yang disebut Rinnegan. Mata itu bisa menghipnotis lawan yang memandangnya. Mata klan Ootsuki tak akan mempan dengan Sharingan. Begitu pula sebaliknya" Orochimaru menyeringai melihat Sasuke yang tampak tertarik mendengar kekuatan khusus klan Ootsuki itu.

"Bagaimana ciri mata itu?" Itachi mengalihkan perhatian Orochimaru dari adiknya.

"Mata itu berwarna ungu. Semakin kuat pemilik matanya, maka akan nampak lingkaran hitam menghiasi mata itu." Orochimaru menaikkan sebelah alisnya memandang Itachi yang tersentak setelah mendengar penjelasannya.

"Yahiko memiliki mata itu." Ucapan Itachi membuat Orochimaru semakin yakin jika kakak beradik Haruno itu adalah keturunan klan Ootsuki.

"Apa hubungan tanda yang Sakura miliki dengan klan itu?" Orochimaru kembali menyodorkan buku dalam genggamannya saat Sasuke bertanya padanya.

"Kau bisa melihat perbedaannya di buku ini. Seorang keturunan murni klan Ootsuki memiliki tanda lingkaran hitam di belakang telinganya. Warna lingkaran itu menunjukkan seberapa murni darah mereka." Orochimaru menjelaskan maksud dari gambar dalam buku itu. Sasuke bisa melihat tanda lingkaran yang sama yang ada pada Sakura didalam buku tersebut.

"Jika lingkarannya berwarna abu-abu, itu berarti wanita dari klan Ootsuki itu memiliki setengah darah manusia. Dan jika warnanya putih, orang itu memiliki seperempat darah Klan Ootsuki dalam tubuhnya." Itachi mengangguk. Ia paham sekarang. Jadi kemungkinan Sakura dan Yahiko merupakan anak hasil pernikahan antara seorang wanita half-vampire dan seorang manusia.

"Jadi maksudmu nenek Sakura adalah keturunan murni vampire klan Ootsuki yang menikah dengan seorang manusia biasa?" Orochimaru menyeringai membenarkan dugaan Sasuke. Titik terang dari masalah ini mulai terlihat.

"Tapi bukankah kau mengatakan semua keturunan klan Ootsuki adalah perempuan? dan kenapa Sakura tak memiliki mata itu?" Sasuke masih belum sepenuhnya mempercayai dugaan yang disampaikan oleh Orochimaru. Ia tak ingin mempercayainya begitu saja.

"Itu hanya terjadi dikalangan darah murni klan Ootsuki. Jadi, jika memang benar ibu Sakura yang merupakan half-vampire menikahi manusia biasa, adanya keturunan lelaki bisa saja terjadi. Dan juga, Sakura bukan keturunan murni klan Ootsuki. Tak heran mengapa ia tak mewarisi mata itu." Sasuke terdiam. Dalam hati membenarkan penjelasan Orochimaru.

"Dan darah klan Ootsuki yang mengalir ditubuh Sakura dan Yahiko bisa menjadi alasan kenapa Sakura bisa mengubah Yahiko menjadi vampire. Darah Sakura yang bercampur dengan racunmu secara tidak langsung berpindah kedalam tubuh Yahiko saat gadis itu mengigitnya."

"Kemungkinan darah Ootsuki dalam tubuh Yahiko bereaksi dengan darah Sakura yang sebelumnya telah tercampur dengan racunmu."

Orochimaru kembali mengambil buku miliknya dari tangan Sasuke. Kedua pemuda Uchiha dihadapannya terdiam. Sepertinya mereka sudah menemukan jawaban dari keganjilan yang mereka hadapi.

Duagh

Brakk

Semua mata didalam ruangan itu teralihkan saat mendengar suara gaduh yang terdengar dari luar kastil ini. Mereka semua melesat cepat meninggalkan ruangan itu menuju asal suara gaduh diluar sana.

"Ah. Aku benci siluman rubah." Orochimaru bergumam jengkel saat melihat pintu gerbang kastilnya telah hancur diterjang beberapa ekor siluman rubah.

Dua ekor rubah perlahan mendekat dan mengubah wujudnya menjadi dua sosok pemuda bersurai merah bata dan pirang.

"Gaara, Naruto." Sasuke bergumam menyebutkan nama kedua pemuda rubah yang kini menghampirinya. Wajah panik Naruto mengundang perhatiannya.

"Sasuke. Hinata diculik oleh seseorang. Kudengar dari Naruto, orang itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan kakak Sakura." Sasuke membulatkan matanya mendengar kabar itu.

"Ya. Salah satu dari kelima orang itu memiliki surai oranye dan mata ungu yang sedikit aneh." Naruto membenarkan perkataan Gaara. Ia memandang serius kearah Sasuke.

Itachi tersentak. Pemuda dengan ciri-ciri seperti itu hanya Yahiko yang memilikinya. Sudah pasti itu Yahiko. Apa sebenarnya tujuan Yahiko menculik gadis bernama Hinata itu?

Tiba-tiba Itachi teringat akan aura Hyuuga yang sempat ia rasakan beberapa saat lalu disekitar Yahikp.

"Apa gadis itu seorang Hyuuga?" Naruto dan Gaara mengalihkan pandangan mereka pada Itachi. Naruto mengangguk cepat menjawab pertanyaan Itachi.

"Aku samar-samar merasakan aura Hyuuga saat Yahiko menjemput Sakura." Ucapan Itachi membuat mereka semua terdiam. Sasuke mengepalkan tangannya.

"Jadi maksudmu Yahiko yang menculik Hinata kemudian menjemput Sakura begitu?" Sasuke menggeram pelan. 'Masalah apalagi sekarang?' batinnya.

"Mata seorang Hyuuga memiliki kemampuan untuk mengikuti jejak aura seseorang yang mereka kenali. Dan aku yakin ia mengenal Sakura." Itachi memandang kedua pemuda rubah itu seakan meminta pembenaran atas pernyataannya. Ia mendesah berat saat melihat anggukan Naruto.

"Aku memang tak melihat keberadaan gadis itu. Saat itu Yahiko datang seorang diri. Kemungkinan Yahiko menculik Hinata untuk mengetahui keberadaan markasku dengan mengikuti jejak aura Sakura." Sasuke memejamkan matanya. Mencoba untuk mengatur emosinya untuk tidak mengamuk saat itu juga.

"Benar juga. Tempatmu tersembunyi dan tak mudah untuk menemukannya." Gaara bergumam. Naruto yang berada disampingnya melirikkan matanya kearah pemuda Sabaku itu.

"Apa ini ada hubungannya dengan Uchiha Obito?" Mendengar nama itu, semua mahkluk disana sontak memandang Sasuke. Aura Sasuke terasa menyeramkan. 'Sepertinya dia sedang mengendalikan emosinya.' Batin Orochimaru merasakan aura Sasuke yang tampak tak stabil.

"Aku.. aku tak tahu. Tapi jika benar, itu berarti Yahiko adalah anggota Akatsuki." Itachi memijat pelipisnya. Ia tak menyangka semua akan menjadi serumit ini.

"Aku membawa Sakura karena aku tahu dia sedang diincar oleh Akatsuki." Pengakuan Itachi membuat Sasuke memandang pemuda itu tajam.

"Apa hubungannya Sakura dengan Akatsuki?!" Naruto dan Gaara terkejut mendengar Sasuke bertanya dengan nada membentak pada Itachi. Mata Sharingannya berputar liar.

"Bisa jadi ini adalah jebakan. Uchiha Obito pasti tau kau masih hidup. Dia pasti akan menyerangmu cepat atau lambat. Aku bahkan heran mengapa ia belum menyerangmu sampai saat ini." Naruto mengacak surai pirangnya. Ia merasa menjadi orang yang tak tahu apa-apa disini.

"Argh! Bisakah kalian membicarakan sesuatu yang aku mengerti?!" Gaara memandang tajam Naruto yang kini tengah menjambak surai pirangnya.

"Diam saja Naruto." Naruto mendengus keras mendengar teguran Gaara yang sama sekali tak membantunya.

"Kuso!" Sasuke dengan cepat mengambil sebuah kotak dari dalam jubahnya. Ia membuka kotak itu dan terlihatlah dua buah lonceng bertali merah didalamnya.

Kringg Kringg

"Apa yang kau lakukan Teme?." Naruto menelan ludah melihat Mangkeyo Sharingan milik Sasuke.

"Memanggil Kakashi."

.

.

Kringg Kringg

Pria bersurai perak yang sedari tadi tengah membaca sesuatu itu tersentak kaget saat mendengar suara lonceng. Dengan cepat, ia memasukkan kertas yang sedari tadi dibacanya itu kedalam amplop merah yang ia temukan didepan Kastil Uchiha.

"Sunshin!"

Kakashi membuka matanya, ia berpindah tempat dengan begitu cepat. Sekarang ia sudah berada didepan Sasuke yang tengah memandangnya dengan Mangekyo Sharingan miliknya.

"Aku baru saja menemukan ini didepan kastilmu." Kakashi langsung menyerahkan amplop merah yang ia temukan tadi kepada Sasuke. Matanya bergulir menatap sekelilingnya. Ia cukup terkejut melihat Itachi berada disana.

"Itachi?" Itachi mengangguk kecil memandang Kakashi.

"Arghhh! Brengsek!" Sasuke meremas amplop merah tersebut beserta dengan isinya. Emosinya tak dapat ditahan lagi setelah membaca isi surat itu.

"Apa yang terjadi Teme?!" Naruto menatap panik Sasuke. Mengabaikan rasa takutnya saat mata Sasuke yang dipenuhi kemarahan itu memandangnya.

"Akatsuki menawan Sakura dan Hinata. Mereka ingin aku datang jika ingin Sakura selamat." Itachi memejamkan matanya. Sudah ia duga ini pasti terjadi.

"Naruto!" Naruto mengalihkan pandangannya pada Kakashi yang berada disampingnya. Kedua onyx lelaki itu memandangnya serius.

"Kau bisa mencium bau mate-mu kan? Ikuti baunya. Sakura dan Hinata pasti berada di tempat yang sama. Kita harus menyelamatkan mereka sekarang juga." Naruto mengangguk paham. Ia segera mengubah wujudnya menjadi seekor rubah.

"Uchiha!" Sasuke dan Itachi menengokkan kepalanya kebelakang. Menatap Orochimaru yang berdiri disamping Kabuto ."Klan Ootsuki juga memiliki kekuatan fisik yang kuat. Jangan sampai kau terkena tinjunya." Ucap Orochimaru tampak sedikit mengerti akan situasi yang sedang terjadi. Setelah mendengar perkataan Orochimaru, Sasuke mengangguk dan bersiap pergi mengikuti Naruto.

"Ikuti aku!"

.

.

.

.

-TBC-

Yosh! Sudah chapter 10 nih~ terimakasih sudah meninggalkan jejak kalian di fic ini ya :)

Author butuh saran dan kritikan kalian nih readers, jadi silahkan isi kotak review dibawah ini ya *plak

Balasan review :

guest (Guest): arigatou atas reviewnya :D wah maaf kalau alurnya kecepetan dan kurang greget *plak author kurang sabar nih *diinjek

Arigatouuuuuu :*

Rnr?