ilegal
[Assasination Classroom © Matsui Yuusei]
ungained-profit fic. mainly dorky friendship. setting: normal school life. complete; 10chapters.
.
.
Parkiran hanya tinggal separuh motor. Sebagian nekat menerobos hujan, sisanya memilih sabar nongkrong di sekolah sampai hujan redaan sedikit. Padahal ini hari pertama anak-anak menginjakkan kaki lagi di sekolah setelah naik bangku satu tingkat. Bunyi cetak-cetok sandal jepit jadi irama terkini di sepanjang koridor kelas.
Maehara contohnya, baru saja mengisi perut dari kantin sambil menunggu air kelar tumpah dari langit, beralas sandal jepit, mulai berjalan tidak menentu.
"Mae-chan belom pulang juga?" Rio membopong helm, ransel kempes dikalungkan ke pundak. "Nungguin ujan ya? Kelas aja yuk."
"Karma mana? Biasanya kalian pulang bareng kan."
"Tadi dia digeret Gaku-Gaku. Tauk tuh."
"Yaampun …"
Dua manusia ini beriringan di koridor kelas tiga dan memilih kelas A untuk tempat mendaratkan bokong. Hujan mengetuk-ngetuk jendela; basah dibuatnya. Tidak ada orang, mungkin anak-anak lebih suka main payung di lapangan atau ngutang dua-tiga gorengan di kantin.
"Astaga, kalian di sini ternyata." Baru saja Maehara dan Rio memilih tempat duduk, Karma datang menjeblak pintu kelas dan buru-buru menutup balik.
"Kenapa kamu?"
Karma mendesis, telunjuknya menempel di bibir. Dia menggeret kursi ke meja di mana dua temannya itu saling duduk berhadapan, ikut duduk. "Aku kabur dari Gaku. Sialan tuh anak. Curhatnya kagak kelar-kelar."
"Pfft. Seriusan curhat apa dia?"
"Masalah sertijab. Nggak yakin sama adek kelas lah, kena semprot abahnya lah, ini lah, itu lah." Karma kelihatan gerah sendiri menumpahkan unek-uneknya. "Tapi kasian juga sih sebenernya. Tapi … anjir banget lah dikira aku apaan. Dia tuh susah nyari aku, giliran seneng akunya ditinggal."
"Apaan sih, Karma. Aku kaya habis dengerin curahan cewek yang lagi bete sama pacarnya tau nggak." Maehara ilfeel.
"Bagus dong, Mae-chan. Tumben-tumbenan dia mesra sama Gaku-Gaku."
"Boro-boro mesra, milih warna gorden buat ruang OSIS tadi aja sampe pedang-pedangan pake paha ayam goreng."
"Heran, ada ya mahluk begini."
Karma merebahkan diri ke meja. "Mana tahun ini aku sekelas sama dia pula, kampret bener."
Rio baru ingat lagi, badannya ikut ditumpuk ke punggung Karma yang sedang tengkurap. "Karmaa, sebel deh kenapa aku nggak sekelas sama kamu sih tahun terakhir ini. Nanti kalo aku nelat siapa yang jadi base mendarat? Kalo aku ketiduran di kelas siapa yang bangunin? Kalo aku kelupaan ngerjain pe-er nanti nyalin punya siapa? Kalo lari keliling lapangan pas olahraga emang ada yang kuat terus larinya di barisan depan sama aku nanti?"
Maehara terkekeh-kekeh. "Kalian dari mos sih ya. Yaampun, Rio, adalah nanti partner kelas kamu yang baru."
"Nggak mauuuu. Nggak mau yang baruuu, maunya Karmaaa."
"Rio, suer kamu udah berat, tereaknya di kuping pula. Minggir ah. Yah, si Rio mah." Begitu posisi duduk masing-masing sudah sempurna lagi, Karma heran melihat temannya itu beneran seperti mau nangis. "Perasaan pas itu pernah bilang kalo nangisnya nunggu kuburanku umur seribu tahun."
Lengan Karma digebuk.
"Lagian kita masih bisa ketemu pas istirahat. Pulang juga bareng kamu. Aku nggak kemana."
"Bukan itu …" Rio menyeka pelupuk mata dengan telapak tangan. "Mae-chan tadi bilang nanti aku dapet partner baru. Aku takut aja; takut kalo nanti beneran dapet temen baru dan ngelupain yang lama."
Mereka bertiga diam. Ada sesuatu yang terbesit begitu Rio bisa-bisanya mengeluarkan kalimat tadi. Ada yang timbul; tiba-tiba memori otak berjalan cepat mundur ke belakang. Ada rasa itu juga, takut; ternyata waktu sudah berlari secepat ini.
"Nggak terasa ya." Itu yang pertama kali terlantun.
Maehara menghela napas. "Perasaan baru kemaren aku pacaran ama Yada, eh, udah kelas tiga aja kita sekarang."
"Yaelah, malah nyebutin mantan pertama."
"List aja terus, Mae. Urutin tuh dari jaman kamu mos sampe sekarang."
Rio menyeringai jahil. "Hala. Eh, inget nggak waktu mos ada anak yang disuruh joget dangdut keroncong gara-gara foto identitas di kartu pengenalannya pake foto selfie?"
"Guahahahaha, inget! Inget banget, mana ahogenya itu dikepang sama kakak PK lagi!"
Maehara dan Rio ngakak guling-guling. Karma manyun.
"Eh, eh. Bentar deh. Tau nggak sih pas kita kunjungan belajar ke TNI-AU, ada anak yang ngilang, ketinggalan, dan kita semua paniknya gara-gara bus kita tiba-tiba dikejar sama mobil aparat sana. Lah, taunya mobil itu nganterin si anak ilang. Malu-maluin banget kan?" Gantian Karma membongkar-bongkar aib lama Rio.
"Gyahahahahaha, bener, bener! Mukanya itu loh antara bloon ama bloon buanget!" Maehara ngakak lagi sambil menggebrak-gebrak meja.
"Lebih bloon lagi si anak yang waktu diputusin Okano terus pulang sekolah ngajak maen tembak-tembakan di temzon, udah gitu mainnya pake tereak-tereak kaya orang kesurupan dan pas ada adegan tiarap beneran diikutin sampe tengkurep di lantai gitu. Apa daya temennya ini yang cuma bisa tutup muka nungguin dia selesai sakau."
Sekarang Karma dan Rio yang terpingkal-pingkal. Maehara dead face.
"Eh, ingat nggak waktu kita jualan soal UAS dari hasil ngopi di laptop guru waktu itu? Mukanya Okuda pas kita ngasih soal itu loh kaya baru dikasi hasil testpack gitu, ngakak nggak kuaat!"
"Terus, terus, waktu kita minjem motornya Yoshida buat begalin begal dan pulang-pulang spionnya tinggal sebelah itu mukanya hampaaa sekali, anjiiiir."
"Yang paling ngakak itu waktu aku pertama kali kenal Nagisa, dan pas mau kugrepe gitu- atos FAKH."
Dan berlanjut membongkar aib satu angkatan. Sampai puas; entah harus berhenti dimana. Terlalu banyak yang terbayang-bayang.
Pelan-pelan mereka anteng lagi.
"Kalian pada mau lanjut studi kemana?"
Hening. Kalau pertanyaannya begini, bayang-bayang di otak, digali-gali sampai lama pun, jawabannya tidak juga ketemu.
"Kalian pengen jadi apa sih?" Karma mengganti pertanyaan. "Ada cita-cita besar buat dicapai?"
"Cita-cita besar aku …" Rio menggenggam kedua tangan. "Aku tuh dari dulu pengen banget jadi ibu rumah tangga yang gaul! Punya suami kaya oppa-oppa Korea, yang bisa masak makanan selain indomi, bisa beresin rumah, bisa nurutin apa kata istri, bisa ke pasar, bisa setirin kemana-mana, bisa bayarin tagihan listrik sama air, bisa-"
"Suami apa budak tuh?"
"-bisa kuat diajak gitu sampe subuh-"
"Anying."
"-bisa nganterin anak sekolah, bisa ngasi uang belanja buuuanyaak banget, pokonya bisa bahagiain aku, terus-"
Karma dan Maehara komat-kamit dalam hati diam-diam berdoa untuk siapa pun yang sudi jadi jodoh sohibnya itu nanti.
"-terus aku bakal punya komunitas ibu-ibu PKK yang up to date gitu, dan aku terus yang dapet arisannya dan-"
"Tante girang itu mah."
"-dan kita sering jalan-jalan ke luar negeri gitu tiap minggu, bukan, tiap hari kalo bisa sih."
"Lah, anak sama suami nggak diurus?"
"Suami ngurus anak; lagian ada mami kok di rumah."
"Itu hidup apa drama sih."
"Kalo kamu, Mae?"
"Aku …" Maehara tiba-tiba mesem. "Aku pengen punya rumah yang megaaaah banget terus tiap satu petak ada maid yang cantiiik banget-"
"Huanjir."
"-dan aku juga bakal buka bisnis rental maid-maid ini ke temen-temen kita yang mungkin nanti belom dapet jodoh-"
"Bangkek banget."
"-terus aku punya istri yang cantiiiiiiiiiiiikkkk banget dan bikin aku nggak bosen-bosen cinta sama dia seumur hidup dan nggak bakal pernah marah kalo aku lagi hehe sama maid-maid rumah."
"Sampe mati juga nggak bakal kesampean yang kaya begitu mah."
Karma dan Rio komat-kamit dalam hati diam-diam berdoa untuk siapa pun yang sudi jadi jodoh sohibnya itu nanti (dan para maid-nya).
"Kalo kamu, Karma?"
Karma berpikir sebentar. Hujan masih menderu-deru di luar sana, derasnya sama.
"Aku … aku pengen banget waktu udah jadi kakek-kakek tua bangka bau tanah nanti masih ada yang mau dorongin kursi roda aku kemana yang aku mau."
Ini tidak lucu. Kenapa cuma Karma yang serius di sini; serius bikin suasana serupa deras hujan di luar sana.
"Ahahah, becanda, becanda, gaeess. Yaampun aku masih nggak tahu kepengen apa nih. Bisa sama kalian sampe sekarang aja aku udah seneng banget." Karma menepuk-nepuk pundak dua temannya. "Aku nggak bakal bilang kita nggak boleh lost kontak atau kita harus tetep kumpul-kumpul pas gede nanti. Karna kalimat itu (kalo kata orang yang udah pengalaman) agak bullshit gitu, haha. Kalian bisa kesampean kangen aku itu udah cukup kok. Pokonya- lho, eh? Oi, kok pada nangis sih?"
Rio membekap mulut, bingung. Seumur-umur belum pernah dia menangis hanya karena ngobrol begini. Hanya ngobrol. Ditemani hujan. Ditemani sohib yang biasanya kepingin digetak mulu. Apa yang harus ditangisi dari situasi begini?
"Kar.. maa.." suara Maehara serak, napasnya kacau gara-gara harus menyedot ingus berkali-kali. Bangkunya berdecit saat dia bangkit. Cowok itu menghambur memeluk Karma.
"Mae …" Karma balas menepuk-nepuk pungung. Air matanya ikut tumpah, tapi dia berusaha tidak terdengar tersengal-sengal. Lalu Rio dilirik; ekspresinya masih sama seperti tadi.
Karma mengulurkan tangan lainnya. Maehara melepas pelukan dan ikut membentangkan tangan ke arah Rio. Anak itu, masih dengan mulut terbekap, buru-buru masuk dalam lingkaran dan menghantam tubuh teman-temannya.
"Huuuwaaaaa haaaa haaaaanggg. Aku sayang kaliaaan …" suara itu teredam di antara tiga badan yang saling berpeluk.
Mungkin mereka akan lupa hari ini, tapi tidak hangat ini. Dimana kalian menangis beralas pundak sohib, saling melontar angan-angan yang wujudnya masih fiksi. Dimana kalian tertawa tanpa kenal sopan santun, bahan obrolan tidak ada habis-habisnya. Dimana kalian bisa menjadi diri sendiri; hal yang paling mudah dilakukan di dunia ini.
Mau bagaimana, komplotan kejahatan kan bukan berarti perkumpulan orang-orang sangar.
fin
a.n. makasi buat kalian yang udah nemenin namatin fic ini. hope this is the best ending I could give /cium
omake
"Mana sih si Karma ini." Asano mencak-mencak di ujung koridor kelas tiga. Begitu jalan lagi, dia terperangah.
Bagaimana tidak. Guru-guru BK berbaris rapi meringkuk semua di depan kelas A sambil tersedu-sedu menahan haru, memeluk satu sama lain. Pemandangan macam apa ini.
"Mungkin dia nggak di sini. Nggak mungkin. Kantin kali ya?" urung lewat koridor, Asano putar balik dan mencak-mencak mencari anak orang lagi.
