Title : Second Chance
Author : Yukishima
Genre : drama, romance, angst
Rating : T

Chapter : 10

Fandom : Super Junior, GS
Pairing : Kyumin; Sibum(special for this chapt), slight Yewook, Haebum, Haemin, Haehyuk, Jungmin

Guest Stars : Victoria f(x), Sunny SNSD (mentioned), Jungmo d'trax

Disclaimer : Mereka bukan punya gw, tapi cerita milik gw

Warning : GS, mature content, buat yang dibawah umur tidak disarankan untuk membaca^^ tapi aman untuk chapt ini.
Note Author : Chapter 9 & 10 sengaja saya perbaiki lagi karena author tidak puas dengan sebelumnya yg alurnya meloncat-loncat & tidak urut. Jadi baca lagi aja dari chapt 9 :-)

No bash or flame please. Kritik, saran, protes boleh tapi dengan sopan karena saya tidak ingin terjadi peperangan *halah *

Ini hanya fic bukan kenyataan... Keep smile and peace ^_^

Gomawo yang udah pada kasih review. Maaf kalo author nggak bisa memenuhi satu2 permintaan readers. Author akan menulis secara proporsional dan realistis. Ambil hal-hal yang baik disini, jangan ditiru kalo yang buruk ^^ Sekali lagi, ini hanya fic, bukan kenyataan meskipun author menulisnya karena terinspirasi beberapa kejadian nyata dibumbui dengan imajinasi author yang gak jelas juga :D

=0=

Rasanya baru kemarin Sungmin merasakan kesakitan ketika melahirkan. Masih teringat dengan jelas ketika dirinya harus berjuang sendirian mempertaruhkan nyawanya tanpa ditemani siapapun kecuali Jungmo untuk melahirkan putrinya yang diberi nama Lee Sunkyu itu. Bahkan dirinya sempat tak sadarkan diri dan dan hampir kehilangan nyawa akibat perdarahan yang hebat. Untunglah Jungmo bersedia mendonorkan darahnya sehingga Sungmin bisa melewati masa kritis.

Kini pengorbanannya itu tidak sia-sia. Putrinya yang diberi nama Lee Sunkyu atau biasa dipanggil Sunny telah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan ceria serta memiliki wajah manis ibunya, namun juga mewarisi tingkat kecerdasan seperti ayah kandungnya. Sebelum genap satu tahun, putri kecilnya telah mampu berjalan. Dan kini ketika usianya belum genap dua tahun, ia sudah merepotkan Sungmin dengan celotehan dan berbagai pertanyaan yang membuat sang eomma kebingungan untuk mencari jawaban yang tepat untuk anak seusianya tanpa harus berbohong.

Melihat tingkah Sunny itu selalu membuat Sungmin teringat akan ayah biologis putrinya, Kyuhyun. Hal itu seringkali menimbulkan rasa sesak didadanya. Pemuda itu tak pernah mengetahui keberadaan putri kandungnya karena Sungmin memang tak pernah mengatakannya pada Kyuhyun maupun meminta pertanggungjawabannya. Sungmin juga merasa miris dengan nasib putrinya yang tanpa ayah. Mungkin saat ini gadis kecil itu tak mempedulikannya, lebih tepatnya memang belum mengerti. Tapi bagaimana jika ia telah besar nanti? Gadis kecilnya pasti akan bertanya siapa dan dimana ayah kandungnya? Mungkin Sungmin harus mempersiapkan jawabannya mulai dari sekarang karena ia tak mungkin membohonginya.

Untuk saat ini mungkin Sungmin belum terlalu mengkhawatirkan hal itu. Saat ini dirinya hanya perlu memperhatikan perkembangan gadis kecilnya. Sunny adalah gadis kecil yang lincah dan sulit untuk berdiam diri. Ada saja yang dilakukannya ketika terjaga yang membuat Sungmin harus ekstra memperhatikannya karena rasa keingintahuannya yang besar tapi belum diimbangi kemampuan untuk berpikir akan akibat yang ditimbulkan. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang gadis kecil yang belum genap dua tahun bukan? Walaupun terkadang Sungmin merasa lelah karena merawat putrinya sendirian tanpa pendamping disisinya. Namun melihat tingkah lucu dan menggemaskan putrinya itu membuatnya sedikit demi sedikit melupakan rasa lelahnya. Bahkan kadang ada saja sikap polos putrinya yang membuat Sungmin tersentuh dan mulai melupakan semua rasa sedih yang pernah dilaluinya.

"Minnie-ah, kenapa kau ada disini? Bagaimana dengan Sunny?," saat masuk ke minimarketnya Jungmo terkejut ketika melihat Sungmin telah berada disana sambil menata barang ke etalase dengan tekun.

"Jungmo oppa, kau sudah datang?," Sungmin tersenyum manis melihat Jungmo. "Aku sudah menidurkannya di belakang, karena itu aku merasa tenang bekerja," jawab Sungmin. Sekali lagi Sungmin memang berhutang budi pada Jungmo yang mengizinkannya membawa Sunny saat bekerja. Bahkan Jungmo maupun teman kerjanya kadang menggantikan Sungmin untuk menjaga putrinya selagi ia bekerja.

"Oh, syukurlah. Aku khawatir tidak ada yang menjaga Sunny," ucap Jungmo tulus. Ia telah menganggap putri Sungmin itu seperti putrinya sendiri karena Jungmo pun ikut merawatnya sedari bayi.

"Jungmo Oppa, terimakasih karena kau begitu menyayangi dan memanjakan Sunny," ujar Sungmin.

"Tentu saja, siapa yang tidak bisa menyayanginya? Sunny itu gadis yang manis, bahkan dia lebih manis darimu. Dia juga pintar, berbeda denganmu...," canda Jungmo yang membuat wajah imut Sungmin terlihat cemberut.

"Oppa, tega sekali kau mengatakan aku bodoh," protes Sungmin sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hahahaha..maaf, aku hanya bercanda," Jungmo tertawa lepas. "Oiya, apa kau tidak berpikir untuk memasukkan Sunny ke playgroup? Aku telah melihat-lihat brosur. Ada sebuah playgroup yang menurutku cukup bagus. Disana Sunny bisa belajar melukis, menari, dan menyanyi. Itu bagus untuk perkembangan motoriknya. Ia juga akan mempunyai teman bermain agar mulai belajar bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Bagaimana menurutmu?," tanya Jungmo dengan antusias.

"Hmm, kupikir itu bagus juga. Nanti aku akan membaca brosurnya," Sungmin nampak tertarik dengan usul Jungmo. "Oppa, apa kau ada acara akhir pekan ini?"

"Sepertinya tidak. Kenapa?"

"Aku ingin mengajak Sunny ke pantai. Apa kau mau menemani kami? Itu jika kau tidak keberatan," ajak Sungmin.

"Boleh juga. Sudah lama aku tidak ke pantai."

"Terimakasih oppa," Sungmin memasang wajah cerah.

=o=

Sementara itu di tempat lain di Seoul tampak laki-laki tampan yang sedang menatap pemandangan kota dari luar jendela kamar apartemennya. Tanpa terasa dua tahun lebih telah berlalu sejak Sungmin pergi dari kehidupannya, meninggalkan semua kenangan manis antara mereka sekaligus kenangan perpisahan yang menyakitkan karena pengkhianatan gadis yang dicintainya. Samar-samar masih teringat di benaknya saat-saat indah bersama Sungmin.

Walaupun Donghae terlihat biasa saja dengan masih melakukan kegiatan sehari-hari dan pekerjaannya, namun dihatinya masih terselip luka itu. Akan tetapi bagi Donghae itu semua hanyalah salah satu bagian dalam hidup yang harus dilaluinya. Selama beberapa lama dirinya jatuh dan terpuruk karena cintanya. Belum pernah dalam hidup Donghae merasakan keputusasaan seperti saat ini. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa sakitnya. Disaat Donghae tenggelam dalam lamunannya, ponselnya berbunyi. Iapun segera mengangkatnya.

"Halo, Kibum-ah," sapa Donghae.

"Donghae oppa, kau sedang apa?," suara lembut Kibum bertanya padanya.

"Aku baru saja pulang kerja," jawabnya.

"Kau sudah makan?," tanya Kibum lagi.

"Belum..," ucap Donghae lemah.

"Kenapa belum makan? Ini sudah waktunya makan malam. Jika tidak makan, kau akan sakit oppa," nasihat Kibum pada Donghae.

"Tidak apa-apa. Aku hanya belum lapar saja," Donghae berusaha tersenyum tipis walaupun tentu saja tak terlihat oleh sang penelefon.

"Kau selalu begitu. Apa kau mau kubawakan sesuatu?," tawar Kibum pada Donghae.

"Terimakasih Kibum-ah. Tidak perlu. Nanti kalau lapar, aku akan membuat ramyeon saja," tolak Donghae. "Kau ada dimana sekarang?"

"Ehm..aku sedang makan malam bersama Siwonnie. Kalau kau mau, sepulang dari sini akan kubawakan makanan.," perkataan Kibum membuat Donghae secara tidak sadar mendnegus kesal. Entah mengapa ada perasaan tidak suka ketika mendengar Kibum pergi berdua dengan laki-laki lain.

"Sudahlah. Tidak perlu. Bersenang-senanglah saja dengan Siwonnie-mu itu," Donghae langsung memutuskan percakapan mereka begitu saja.

=0=

Gadis cantik bernama Kibum itu menghela nafas setelah mengakhiri percakapannya dengan Donghae karena laki-laki itu mematikan begitu saja ponselnya sebelum dirinya mengakhiri pembicaraan mereka. Sudah dua tahun lebih ia selalu menghibur Donghae untuk menghilangkan kesedihan laki-laki itu setelah perpisahan dengan Sungmin yang tak lain juga sahabatnya sendiri. Kibum selalu menemani disaat Donghae membutuhkannya dan mendengarkan setiap curahan hatinya karena ia mencintai laki-laki itu. Jauh sebelum Donghae menjalin hubungan dengan Sungmin, Kibum telah menaruh hati pada laki-laki itu. Tapi Kibum yang pemalu tak mempunyai keberanian untuk mengutarakan isi hatinya. Sungmin dan Donghae adalah sahabat Kibum sejak masa SMA. Karena itu ketika ia tahu keduanya menjalin hubungan, Kibum pun memilih untuk mengorbankan perasaannya demi persahabatan mereka.

Saat Donghae berpisah dari Sungmin, Kibum berharap Donghae akan dapat melupakan kesedihannya dan mau membuka hati untuk dirinya. Tapi tampaknya harapan Kibum makin lama makin memudar karena dari sikap Donghae menunjukkan bahwa laki-laki itu tak menaruh rasa padanya sedikitpun. Sebagian dari hati Kibum akhirnya mulai merelakan asal Donghae tak lagi bersedih, itu sudah cukup baginya walaupun Donghae mendapatkan kebahagiaannya lagi bersama perempuan lain walau bukan dengan dirinya.

'Kenapa kau masih saja memikirkannya Kim Kibum? Bukankah dia sama sekali tak pernah memikirkanmu? Kau benar-benar gadis bodoh..,' desisnya dalam hati.

Kibum hanya terdiam beberapa lama di dalam toilet sebuah restoran, berusaha menata hatinya kembali. Setelah yakin bisa menenangkan diri, Kibum pun akhirnya keluar dari toilet dan melangkahkan kaki untuk kembali ke tempat duduknya semula dimana juga telah ada seorang laki-laki tampan yang menunggunya dengan sabar sedari tadi.

"Maaf, lama menunggu," ujar Kibum sambil tersenyum tipis setelah duduk di kursi di hadapan laki-laki tampan itu.

"Tidak apa-apa Kibummie. Makananmu telah datang," laki-laki tampan itu tersenyum lembut menampakkan sepasang lesung pipi yang semakin membuatnya terlihat tampan.

Kibum menatap makan malam yang telah tersaji dihadapannya. Sepiring Beef Steak dalam porsi sedang dengan tingkat kematangan well done pada daging tebalnya. Siapa saja tentu akan langsung tergiur dengan hidangan dari salah satu restoran Eropa terbaik di kota Seoul itu. Tapi tidak dengan gadis cantik ini. Ia hanya memainkan sayuran dan daging yang belum terpotong oleh pisau itu dengan enggan. Bukan karena makanan dihadapannya tidak enak, tapi karena seseorang yang merisaukan hatinya. Seseorang yang baru saja ditelfonnya dan diam-diam mendapat tempat khusus dihatinya sejak lama namun tak pernah membalas cintanya. Laki-laki itu tak pernah mengetahuinya karena Kibum tak pernah mengatakan isi hatinya hingga sekarang. Selain itu, dihatinya juga tak pernah ada sosok Kibum karena selalu ada perempuan lain bernama Sungmin yang hingga sekarang masih dicintai oleh laki-laki tersebut.

"Apa kau tak menyukainya?," tanya laki-laki tampan yang duduk di hadapan Kibum dengan lembut.

"Ah..tidak. Tentu saja aku menyukainya, Siwonnie," jawab Kibum dengan gugup karena baru saja melamunkan Donghae padahal saat ini dirinya sedang berkencan dengan laki-laki lain. Iapun segera menyantap makanannya dan mengunyahnya pelan.

"Kau yakin?," tanya laki-laki tampan bernama Siwon lagi.

"Hmm.. Aku hanya belum terlalu lapar saja," Kibum tersenyum manis berusaha meyakinkan Siwon.

Sepasang iris gelap indah gadis ini menatap intens laki-laki tampan dihadapannya yang kini tampak sedang asyik menyantap makanannya. Walaupun sering bertemu tapi baru kali ini Kibum benar-benar memperhatikan wajah Siwon dengan serius. Sepasang mata tajam dibingkai alis tebal, hidung yang mancung, bibir tipis dengan senyuman joker, serta rambut hitam pendek yang tertata rapi. Sungguh sangat tampan dengan proporsi wajah yang sempurna tanpa cela ditambah dengan kebaikan yang dimiliki Siwon menjadikan nilai lebihnya. Kibum tersenyum tipis memikirkan hal tersebut. Kenapa ia bisa mengabaikan Siwon yang menurutnya melebihi segalanya daripada Donghae? Tentunya Kibum sudah tahu jawaban dari semua itu. Perasaan orang tidak bisa dipaksakan. Kita juga tidak bisa menentukan siapa yang akan kita cintai karena itu tumbuh dengan sendirinya di dalam hati.

Tiga tahun yang lalu orangtua Kibum mengenalkannya pada seorang laki-laki bernama Choi Siwon. Ia seorang yang sangat tampan, ramah, lembut, dewasa, penyayang dan tentu saja sudah mapan karena Siwon adalah putra dari kolega ayahnya. Tak ada yang kurang dari laki-laki tampan dihadapannya, bahkan nyaris sempurna. Jika laki-laki lain tentu sudah akan meninggalkan Kibum karena meskipun seberapa baiknya memperlakukan Kibum, namun tetap saja gadis ini tak bergeming. Mana ada seseorang yang mau menunggu sesuatu yang tidak pasti dalam hal cinta apalagi dalam waktu yang lama selama bertahun-tahun. Tapi tidak dengan Siwon. Dari pertama kali dikenalkan, Siwon telah jatuh hati pada gadis yang selalu terlihat dingin ini. Siwon bukan juga tidak tahu apa yang tersimpan didalam hati sang pujaan hati. Tapi laki-laki tampan ini membiarkannya karena tahu bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Karena itu, Siwon bertekad akan menunggu hingga akhirnya Kibum mau membuka hati untuknya dan merasakan ketulusannya. Tapi entah mengapa hingga detik ini dalam hati Kibum masih menyimpan harapan pada Donghae, laki-laki yang diam-diam dicintainya sejak lama.

Kibum bukan tak menyadari perasaan Siwon. Ia malahan sangat mengerti karena perasaan Siwon padanya itu kurang lebih sama dengan perasaannya pada Donghae. Kibum pernah mengutarakan pada Siwon untuk mencari gadis lain yang lebih pantas mendampinginya karena dirinya tak ingin menyakiti dan memberi harapan kosong pada laki-laki tampan itu. Seorang laki-laki yang paling baik dan tulus pada Kibum. Namun Siwon mengatakan bahwa ia ingin berada didekat Kibum sekalipun itu hanya sebagai teman saja.

"Aku tahu wajahku ini memang sangat tampan. Tapi kalau kau tatap seperti itu terus dengan sepasang mata indahmu, aku bisa tidak konsentrasi makan karena jantungku berdebar dengan keras Kibummie," canda Siwon setelah menyadari dirinya sedari tadi ditatap oleh gadis cantik bernama Kibum yang ada dihadapannya yang sukses memunculkan semburat merah di kedua pipi bulat Kibum yang semula berwarna putih susu itu.

"Ti-tidak..siapa yang memperhatikan wajahmu?," Kibum masih tersipu malu. "Aku hanya takjub dengan cara makanmu yang seperti belum makan 3 hari saja," elak Kibum sambil terkekeh pelan.

"Hahahaha..Tidak perlu malu begitu. Jika kau ingin menikmati terus wajah tampanku ini, maka jadilah istriku. Setiap hari kau bisa terus menatapku hingga puas," goda Siwon lagi yang membuat raut muka Kibum langsung berubah serius. Siwon menghentikan tawanya seketika. "Aku hanya bercanda. Tapi soal mengajakmu menikah, itu memang sungguh-sungguh. Sejak pertamakali aku memang ingin menikahimu, tapi tentu saja jika kau juga menyetujuinya," ujar Siwon sambil tersenyum tipis.

"Siwonnie.. A-aku...," Kibum tak dapat melanjutkan kata-katanya. Bagaimanapun ia bingung harus menjawab apa. Kadang terbersit di benaknya untuk menyerah pada perasaan yang ia simpan terhadap Donghae dan menerima Siwon yang sudah pasti akan selalu mencintainya dengan tulus dan tak akan menyakitinya. Tapi, Kibum belum bisa memutuskan sekarang karena iapun tak ingin menjadikan Siwon sebagai pelarian saja.

"Hmm...kau tak perlu bingung seperti itu. Bagiku, asal kau bahagia aku pun bahagia. Apapun yang kau pilih, pasti itu yang terbaik untukmu. Kau telah mengijinkanku selalu berada didekatmu. Aku sangat berterimakasih untuk itu," ucap Siwon tulus sambil tersenyum menampakkan lesung pipinya.

"Siwonnie..."

"Hei...Jangan berwajah sedih begitu. Kau lebih cantik jika tersenyum," hibur Siwon ketika melihat wajah Kibum yang meredup, yang langsung mendapat balasan senyum manis dari Kibum.

=o=

Meskipun hari ini Kibum tidak bekerja karena tidak ada jadwal praktek di rumah sakit, namun sepertinya ia tidak memanfaatkan waktu liburnya untuk bersantai. Ia sibuk membuka buku dan mencari artikel dari internet untuk menambah pengetahuannya di dunia kedokteran lalu menulisnya kembali agar mempermudah membacanya. Bagaimanapun ia tak ingin ketinggalan dalam hal informasi terbaru mengenai dunia kedokteran yang semakin lama menunjukkan perkembangannya.

"Eonni, aku lapar..," rengek seorang gadis remaja berwajah manis berambut pirang kepada Kibum yang masih berkutat dengan komputernya.

"Di dapur ada ramyeon instant. Kau bisa buat sendiri bukan?," sahut Kibum tanpa menoleh.

"Tapi aku ingin makan Kimbab buatanmu," ujar gadis itu sambil memanyunkan bibir merahnya.

"Kau ini kan seorang gadis. Harusnya belajar memasak mulai dari sekarang. Bagaimana jika nanti kau mempunyai suami?," Kibum pun mulai beranjak dari tempat duduknya di depan komputer.

"Tentu saja aku akan belajar memasak kalau akan memiliki suami. Tapi karena sekarang ada eonni, tidak apa-apa kan jika aku meminta dimasakkan? Ayolah, apa eonni tidak sayang lagi pada keponakanmu yang paling cantik ini? Selama aku disini, kau kan menjadi pengganti eomma," gadis itu memberi tatapan memohon pada Kibum.

"Dasar gadis manja...," Kibum tersenyum sambil mengacak sayang rambut pirang keponakannya itu.

"Terimakasih eonni," gadis itu memamerkan gummy smile-nya lalu memeluk Kibum.

"Eunhyukkie, aku ini bibimu.. Kenapa kau panggil eonni eoh?," tanya Kibum setelah Eunhyuk melepaskan pelukannya.

"Umur kita hanya berbeda 8 tahun dan eonni masih terlalu muda dan terlalu cantik untuk dipanggil ahjumma."

"Hmm..terserah dirimu saja. Aku mau memasak. Apa kau mau membantuku Hyukkie?," tanya Kibum.

"Aku akan menunggu eonni dengan sabar kemudian membantu mencicipi masakannya kalau sudah jadi," Eunhyuk memasang wajah polos saat mengucapkannya.

"Sama saja kau tidak membantuku," Kibum mencubit pelan hidung Eunhyuk.

"Aw..sakit..," Eunhyuk pura-pura meringis kesakitan sambil memegang hidungnya.

"Maaf... Ya sudah, ayo kita ke dapur," Kibum lalu mengajak keponakannya ke dapur.

Sesampai di dapur, Kibum menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Kimbab kemudian mulai mengolahnya. Sementara itu Eunhyuk duduk dengan manis di dekatnya.

Ting tong..

"Hyukkie, tolong bukakan pintu," pinta Kibum karena saat ini dirinya sedang sibuk menggulung kimbabnya. Eunhyuk lalu menuju ke depan dan membukakan pintu.

"Apa Kibum ada?," tanya seorang laki-laki berwajah tampan berwajah polos setelah Eunhyuk membuka pintu.

'Wah, dia sangat tampan,' batin Eunhyuk. Sepasang mata Eunhyuk hanya terpana menatapnya tanpa berkedip.

"Hei, kau baik-baik saja?," laki-laki itu melambaikan tangan di depan wajah Eunhyuk. "hei..," tegurnya lagi sambil mendekatkan wajahnya.

"ah, iya... Maaf, kau siapa?," tanya Eunhyuk sambil tersipu malu karena berada sedekat ini dengan laki-laki itu.

"Aku Lee Donghae teman Kibum," jawab laki-laki tampan itu yang ternyata bernama Donghae.

"Eonni sedang memasak di dapur. Silakan masuk," Eunhyuk memberi jalan Donghae agar dapat masuk namun laki-laki itu dengan penuh percaya diri langsung menuju ke dapur. "Ya! Ajusshi... Kenapa langsung masuk ke rumah orang seenaknya?," Eunhyuk langsung mengekor Donghae yang menurutnya tidak sopan karena masuk dengan seenaknya ke dalam rumah Kibum, tapi tampaknya Donghae tak menghiraukannya.

"Hyukkie, siapa itu?," tanya Kibum yang mengira bahwa Eunhyuk lah yang menuju ke dapur. "Oh, ternyata kau," ujar Kibum setelah melihat Donghae.

"Kau sedang membuat apa?," tanya Donghae yang langsung mengambil duduk didekat Kibum.

"Kimbab," jawab Kibum singkat sambil memotong-motong Kimbab-nya menjadi bulatan-bulatan lalu membaginya menjadi 3 piring.

'Eonni, ajusshi ini masuk begitu saja," sahut Eunhyuk yang akhirnya berhasil menyusul Donghae ke dapur.

"Tidak apa-apa Hyukkie, dia temanku," Kibum tersenyum manis pada keponakannya yang terlihat kesal. "Hyukkie-ah, kimbabmu sudah jadi."

"Terimakasih eonni," Eunhyuk tersenyum cerah setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Gadis remaja 16 tahun itu langsung menempatkan diri di meja makan dan segera melahap makanannya. "eonni, ini enak sekali!," serunya.

"Terimakasih Hyukkie. Makanlah pelan-pelan supaya tidak tersedak," nasihat Kibum. "Ini untukmu," Kibum menyerahkan bagian Donghae.

"Terimakasih, Kibum-ah," ujar Donghae saat menerimanya.

"Ada apa kau kesini oppa?," tanya Kibum datar.

"kenapa dingin sekali pada sahabatmu ini?," protes Donghae.

'Sahabat ya?,' batin Kibum. Biasanya Kibum merasa nyeri dadanya ketika Donghae menekankan kata sahabat padanya, tapi entah mengapa akhir-akhir ini Kibum sedikit tidak terusik. "Maaf," jawab Kibum singkat.

"Kau libur bukan hari ini?"

"Benar. Lalu?," tanya Kibum. Tapi sebelum Donghae menjawab, ponsel Kibum berbunyi.

Sementara itu Eunhyuk yang duduk di ujung meja makan sedari tadi mencuri pandang pada Donghae yang tentu saja tidak disadari laki-laki itu

"Maaf, kau tadi mau bilang apa oppa?," tanya Kibum lagi setelah menutup teleponnya.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan diluar, tapi kau sudah membuat makanan. Bagaimana kalau ke cafe saja?," ajak Donghae.

"Ehm..maaf. Tapi baru saja Siwonnie menelefon mengajakku keluar," sesal Kibum.

"Apa? Kau kan bisa menolaknya," entah mengapa Donghae sedikit merasa kesal ketika tahu Kibum hendak pergi berdua dengan Siwon.

"Tapi dia sedang menuju kemari. Tidak mungkin kan kusuruh pulang? Lagipula tadi aku sudah menyanggupinya jadi tidak mungkin kubatalkan."

"Ck...apa kau lebih mementingkan dia daripada sahabatmu ini?," protes Donghae pada Kibum.

"Aku minta maaf karena kali ini tidak bisa pergi bersamamu. lagipula dia juga sahabatku, oppa. Jadi tak mungkin aku harus memilih siapa yang lebih penting," bela Kibum. "Bagaimana jika besok sambil makan siang kita pergi berdua?," tawar Kibum pada Donghae.

"Sudahlah. Tidak perlu. Pergi saja dengan Siwonnie-mu itu," sindir Donghae. "Aku pamit dulu. Nanti aku mengganggu kalian jika terlalu lama disini," Donghae bermuka masam dan langsung melangkah keluar rumah Kibum. Sebenarnya ia merasa malu sendiri karena bertingkah kekanakan di depan Kibum. Tapi tak tahu mengapa dirinya tak bisa mengendalikan diri dan merasa panas ketika tahu Kibum tak hanya mementingkan dirinya, apalagi ia dibandingkan dengan Siwon yang baru saja dikenal gadis itu.

"Hae oppa...," panggil Kibum ketika Donghae pergi. Walaupun Kibum sudah hafal sifat Donghae yang kadang kekanakan ini, tapi kali ini ia sedikit merasa tak suka jika Donghae bersikap seperti itu. Sungguh berbeda dengan Siwon yang selalu sabar dan pengertian. Ah, mengapa kini Kibum jadi membandingkannya dengan Siwon?

"Eonni. Dia pacarmu ya? Aku pikir pacarmu itu Siwon oppa ," tanya Eunhyuk setelah Donghae pergi.

"Ish, jangan bicara sembarangan. Dia itu temanku," Kibum menjewer pelan telinga Eunhyuk.

"Sakit... Eonni, aku kan hanya bertanya. Dari tadi kau menyiksaku," Eunhyuk pura-pura meringis kesakitan sambil mengusap sayang telinganya yang baru saja dijewer Kibum. "tapi kenapa dia marah kalau kau pergi dengan Siwon oppa? Seperti orang yang sedang cemburu saja."

"Makanya jangan nakal," Kibum terkekeh pelan. "Dia itu punya nama Hyukkie. Namanya Lee Donghae, dan dia itu sahabatku sejak SMA. Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Sudah, aku mau ganti pakaian dulu. Nanti kalau Siwon oppa kesini, kau bukakan pintu ya," Kibum lalu berlalu menuju kamar.

"Lee Donghae ya?," gumam Eunhyuk sambil senyum-senyum diri.

=o=

"Benar kau tidak makan?," tanya Siwon setelah pelayan mengantarkan menu yang mereka pesan.

"Tadi aku sudah makan. Kebetulan Hyukkie minta dibuatkan Kimbab. Kau makan saja Siwonnie, aku tidak apa-apa," tolak Kibum dengan halus. Ia kemudian menyecap capucino-nya.

"Ah, tahu begitu aku tadi juga minta dibuatkan Kimbab," Siwon memasang wajah menyesal.

"Kalau kau mau aku buatkan. Tinggal bilang saja padaku," ujar Kibum sambil mengulas senyum mautnya.

"Benarkah? Kalau begitu kau harus tepati janjimu. Saat aku memintanya kau harus membuatkan untukku," Siwon tersenyum puas lalu mulai memakan Lasagna-nya. " Oiya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Apa?," tanya Kibum penasaran.

"Bulan depan aku akan pergi ke Paris," kata Siwon sambil menghentikan kegiatan makannya.

"Ke Paris?"

"Hmm...appa akan membuka cabang baru disana. Jadi aku harus mengurus semua keperluannya," Siwon menjelaskan.

"Kau..akan pindah kesana?," Kibum menatap penuh tanda tanya pada Siwon mencoba mencari kebenaran atas apa yang baru saja diucapkan laki-laki tampan itu.

"Bisa dikatakan begitu. Karena itu cabang baru, jadi aku harus mengawasinya."

"Berapa lama?," tanya Kibum pelan.

"Aku tidak bisa memprediksikannya. Paling cepat 3 bulan, tapi bisa juga sampai beberapa tahun karena aku tak bisa meninggalkan perusahaan itu hingga berjalan dengan stabil," ujar Siwon.

"Jadi kau akan pergi ya?," Kibum meremas ujung dress yang dipakainya.

"Kibummie...maaf...aku.. Bukan maksudku meninggalkanmu, tapi ini memang harus kulakukan," ujar Siwon.

"Benar. Kita masih bisa berhubungan lewat internet atau lewat telefon walaupun tidak bisa setiap hari," Kibum tersenyum kecut. Selama ini Siwon yang selalu disisinya. Kibum tak bisa membayangkan setelah Sungmin pergi, kini Siwon pun akan meninggalkannya. Tanpa terasa, dirinya mempunyai ketergantungan pada laki-laki tampan dihadapannya.

"Bummie...," Siwon benar-benar tak ingin melihat wajah sedih Kibum kali ini walaupun gadis itu berusaha menyembunyikannya. "Apa kau mau ikut denganku, mendampingiku?," Siwon menanyakan lagi pertanyaan yang entah untuk keberapa kali ini ia ucapkan pada Kibum.

"Maksudmu?," tanya Kibum.

"Menikahlah denganku dan ikut aku ke Paris," lamar Siwon pada Kibum yang membuat gadis itu terdiam tak percaya karena melihat kesungguhan diwajah Siwon saat mengucapkannya.

"A-aku..," ucap Kibum terbata. Ini terlalu tiba-tiba baginya dan saat ini dirinya belum bisa memutuskan sesuatu. Walaupun tak tahu apa perasaannya pada Siwon. Tapi yang jelas ketika membayangkan Siwon akan pergi, ia berusaha mati-matian menjaga agar airmatanya tak keluar.

"Maaf, ini terlalu tiba-tiba bagimu. Caraku melamar juga tidak romantis sama sekali. Tidak perlu kau jawab sekarang. Pikirkanlah dulu." ucap Siwon dengan lembut.

=0=

Ada pepatah mengatakan bahwa cinta itu tak harus memiliki. Meskipun menyakitkan karena tak bisa bersama orang yang kita cintai karena tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki dan segala sesuatu berjalan seperti yang kita inginkan. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa meraih kebahagiaan sendiri. Semua itu hanya pilihan hidup yang kita jalani saja. Kibum berpikir bahwa dirinya tak dapat berjalan di tempat saja dan terjebak dengan perasaannya terhadap Donghae. Ada orang lain yang menawarkan kebahagiaan untuknya dengan tulus bukan? Setelah memikirkannya beberapa hari, akhirnya gadis ini memutuskan untuk menyambut tawaran itu.

Kadang ia tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana reaksi Siwon saat Kibum menerima lamarannya. Siwon yang selalu terlihat dewasa dan tenang bisa berubah kekanak-kanakan saat meluapkan kegembiraannya. Laki-laki tampan itu berteriak kencang saking senangnya kemudian menggendong Kibum yang sukses membuat gadis cantik ini merasa malu karena itu dilakukan Siwon di tempat umum sehingga diperhatikan oleh banyak orang. Kini, dirinya berada di hadapan laki-laki yang selama bertahun-tahun mengisi hatinya untuk memberitahukan keputusannya itu.

"Oppa, mungkin kita tak dapat bertemu sesering sekarang, tapi kita tetap bisa menjadi sahabat," Kibum berkata sambil meneguk secangkir teh di tangannya dengan pelan.

"Kenapa?," Donghae nampak terkejut.

"Aku akan menikah dengan Siwonnie. Kau tahu, kalau kita sering bertemu setelah aku menikah, tentu saja aku merasa tidak enak pada suamiku kelak. Lagipula setelah menikah kami akan pindah ke Paris," Kibum menjelaskan sambil tersenyum lembut.

"kau tidak sedang bercanda kan?," tanya Donghae sekali lagi. Ia tampak tidak percaya atas apa yang didengarnya.

"Hahaha...tentu saja aku sangat serius," tawanya renyah sambil menyerahkan sepucuk undangan pada Donghae.

"kau yakin dengan keputusanmu?," Donghae menyipitkan mata memandangi undangan pernikahan yang ada di tangannya. Entah mengapa dalam hati Donghae terbersit rasa tak rela jika Kibum menikah dengan laki-laki lain.

"tentu saja,"jawab Kibum mantap.

"kau mencintainya?"

"Aku menyukai dan menghargainya.."

"Cinta dan suka itu berbeda," Donghae tersenyum sinis.

"Eomma pernah berkata bahwa seorang perempuan itu lebih baik dicintai daripada mencintai. Dia benar. Saat mencintai seseorang, rasanya sangat menyakitkan setelah kau memberikan seluruh hatimu padanya apalagi jika cinta itu tak berbalas. Tapi saat kita dicintai, maka dia akan memberikan kehangatan dan kedamaian. Siwonnie, dia selalu ada untukku. Dia juga mencintaiku dengan tulus, memberikan segalanya untukku. Bahkan selama hampir 3 tahun lebih ini dia telah sabar menantiku tanpa menuntut apapun dariku," Kibum menatap lurus Donghae.

"bagaimana jika kau tak akan pernah mencintainya?"

"Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan oppa. Tapi yang jelas saat dia berkata akan pergi, aku merasa kehilangan. Aku tak ingin berpisah dengannya," Kibum tersenyum lembut saat mengatakannya. Ia telah mengambil keputusan dan Kibum merasa tak akan menyesalinya.

=0=

Setelah pertemuan terakhir mereka, Donghae mulai jarang bertemu Kibum. Saat Donghae menelefonnya, yang terdengar adalah bunyi pesan karena nomor tersebut tidak aktif. Jika bisa tersambung, maka Kibum akan segera mengakhiri pembicaraan karena gadis itu sedang bersama Siwon. Kibum tak pernah lagi bisa menemaninya seperti yang biasa gadis itu lakukan ketika dirinya membutuhkan. Donghae merasakan kehilangan sosok Kibum. Ia benar-benar merindukan gadis tersebut. Senyumnya, ketulusannya, dan kelembutannya. Baru sekarang Donghae menyadari bahwa ia membutuhkannya lebih dari sekedar teman. Tapi Donghae merasa terlambat karena Kibum telah memilih laki-laki lain untuk menemani hidupnya kelak.

"Aku telah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan sekali lagi," ucap Donghae pelan. "Dasar bodoh!," makinya pada diri sendiri.

Laki-laki itu berjalan menyusuri jalan tanpa arah tujuan. Tak peduli dengan salju yang mulai turun hingga tubuhnya menggigil kedinginan. Pikirannya benar-benar kacau. Minggu depan adalah hari pernikahan gadis yang kini dicintainya. Donghae tak dapat berbuat apa-apa karena disaat ia ingin mendekat, Kibum malahan menjauh darinya.

Tanpa terasa Donghae telah sampai di depan sebuah rumah mungil bercat biru dengan taman bunga yang mulai tertutupi hamparan salju yang telah menebal. Laki-laki itu hanya berdiri mematung sambil memandangi bangunan rumah tanpa bergerak masuk ke dalamnya. Hingga matahari telah kembali ke peraduannya dan langit telah menjadi gelap ia tetap berdiri disana dengan menahan dingin yang menusuk tulang hingga bibirnya mulai membiru karena ia tak memakai baju hangat sama sekali.

"Donghae oppa. Apa yang kau lakukan disini?," suara gadis yang dikenalnya menyapa.

Donghae tak mengeluarkan suara. Ia hanya menoleh dan tersenyum lemah karena tak ada lagi tenaga yang tersisa di tubuhnya. Kibum memandang heran sosok Donghae yang benar-benar terlihat kacau dari atas hingga bawah.

"Ayo masuk!," ajak Kibum sambil berjalan memasuki halaman rumah.

Tiba-tiba ia terhenti karena tangan Donghae memegangnya. Gadis itu menoleh dan menatap Donghae penuh tanda tanya. Kibum lebih terkejut lagi ketika Donghae menarik tubuhnya mendekat lalu memeluknya.

"Oppa, jangan seperti ini," Kibum berusaha melepaskan diri. "kau ini kenapa?," tanya Kibum sambil menetap lekat Donghae. Ia berusaha tetap tenang walaupun jantungnya berdetak dengan kencang karena pelukan Donghae tadi.

"Jangan menikah dengannya," ucap Donghae lirih.

"Apa? Jangan bercanda padaku!"

"Siapa yang bercanda? batalkan pernikahan itu dan menikahlah denganku!," Donghae menatap tajam gadis tersebut sambil mencengkeram kedua lengannya.

"Maaf, aku harus segera beristirahat. Besok jika pikiranmu sudah tenang kita bisa bicara," Kibum berusaha melepaskan diri dari Donghae lalu membalikkan badan dan berjalan memasuki halaman.

"Aku mencintaimu!," kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir Donghae.

Kibum menghentikan langkahnya mendengar pengakuan Donghae. Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya benar-benar bahagia karena Donghae ternyata juga mencintainya. Tetapi ia juga teringat Siwon. Entah mengapa sosok tampan itu mulai mendapat tempat istimewa di hatinya, menggantikan nama Donghae.

"Kalau kau katakan itu dari dulu, tentu aku akan sangat bahagia karena sejak dulu aku mencintaimu," akhirnya Kibum mengatakan perasaannya juga pada Donghae. "Tapi maaf, sekarang aku tak bisa menerimamu. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Choi Siwon. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Siwon oppa yang begitu baik hanya untuk keegoisanku. Aku pikir, perasaanku padamu juga tidak seperti dulu," ucap Kibum tanpa membalikkan badan. Ia tak ingin Donghae melihat airmata yang membasahi kedua pipinya.

"Apa kau tak bisa memberiku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku?," Donghae bertanya penuh harap. Kibum tak bergeming dari tempatnya.

"Maaf, aku tak tak bisa. Mungkin kau bisa mencari kebahagiaan dengan gadis lain tapi bukan denganku," ujar Kibum sambil melangkah lagi menuju rumah.

"Bukankah kau tadinya juga mencintaiku? Jika mencobanya lagi, perasaanmu pasti akan kembali padaku. Kenapa kau tetap memilih laki-laki lain? Kau adalah satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaanku sekali lagi. Tanpamu, maka aku tak akan lagi bahagia," Donghae berkata dengan suara serak.

Gadis itu sama sekali tak menghentikan langkahnya. Ia tak ingin mendengar perkataan apapun lagi dari Donghae agar hatinya tak berubah. Kibum tetap berjalan hingga masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Meninggalkan Donghae yang masih berdiri terpaku sambil menatap sedih padanya.

=0=

Dengan langkah gontai dan setengah menyeret kakinya, Donghae meninggakan tempat Kibum. Setelah rasa sakit ditinggalkan Sungmin kini hatinya lebih sakit lagi karena gadis yang dicintainya telah memilih laki-laki lain tanpa memberinya kesempatan untuk membuktikan perasaannya. Yang membuat Donghae semakin menyesal karena hanya melihat Sungmin, tak melihat ketulusan gadis yang selalu didekatnya, menemani serta menghiburnya. Ketika Donghae menyadari apa yang dirasakannya, semua itu sudah terlambat karena Kibum telah menutup hati untuknya.

Tanpa terasa, Donghae telah sampai di sebuah tepi jembatan yang dibawahnya terdapat sungai. Donghae berdiri di pembatas jembatan itu sambil menatap ke bawah sungai. Ia merasa putus asa dan tak dapat memikirkan apapun lagi karena tiada keinginan lagi untuk hidup. Apa artinya bertahan jika tiada seseorang yang akan menemaninya untuk berbagi kebahagiaan karena selama ini dirinya tak beruntung dalam hal percintaan.

"Ajusshi, kau benar-benar keren," suara seorang gadis membuatnya menoleh.

Donghae memandang keheranan pada sosok gadis belia berambut pirang yang berdiri tak jauh dari tempatnya tesebut. Ia merasa pernah bertemu tapi lupa dimana. Gadis itu masih mengenakan seragam SMA dengan jaket pink dan syal berwarna serupa. Warna yang mengingatkannya pada Sungmin, namun semua itu kini menjadi tak penting lagi baginya.

"Apa ajusshi sudah berubah menjadi Superman?," tanya gadis itu sekali lagi ketika Donghae tak menghiraukannya.

"Apa maksudmu?," Donghae menatap tak suka pada gadis itu karena merasa terganggu.

"Jembatan ini kira-kira tingginya lebih dari 3 meter dan kedalaman sungainya sekitar 2 meter. Hari ini salju turun dengan lebat. Airnya pasti akan sangat dingin dan membuat tubuh serasa ditusuk ribuan belati ketika kita jatuh kesana. Kau pasti sangat hebat kalau bisa bertahan hidup," gadis itu memasang wajah polos.

"Sebaiknya kau segera pulang daripada mengganggu orang lain. Orangtuamu pasti sudah cemas karena malam-malam begini anak gadisnya belum pulang," Donghae berkata dengan dingin pada gadis itu.

"Orangtuaku sedang ke luar negeri jadi mereka tidak mungkin mencemaskanku. Lagipula aku pulang malam bukan karena bermain-main tapi karena baru pulang les," gadis itu menjelaskan.

"Terserah...aku tak peduli. Sekarang pergilah dan jangan ganggu aku!," usir Donghae dengan ketus.

"Hmmm... baiklah. Maaf aku mengganggumu ajusshi," ia membungkuk hormat pada Donghae dan segera meninggalkannya.

Baru beberapa langkah gadis itu berbalik lagi dan mendekati Donghae.

"Apa lagi?," tanya Donghae gusar.

"Sepertinya kau kedinginan. Pakailah ini!," gadis tersebut melepas syalnya kemudian melingkarkan ke leher Donghae dan segera berlalu lagi dari laki-laki itu.

"Tunggu! Aku tidak perlu ini! Bagaimana aku mengembalikannya?," teriak Donghae.

"Kita pasti bertemu lagi. Jangan lupa, namaku Eunhyuk, tapi kau juga bisa memanggilku Hyukkie," seru gadis itu sambil berlari meninggalkan Donghae.

Donghae hanya tertegun memandang sosok gadis itu hingga tak tampak lagi. Ia merasa canggung karena harus memakai syal warna pink yang diberikannya. Tapi karena kedinginan, Donghae akhirnya memakainya juga.

'Gadis yang lucu,' pikir Donghae sambil tersenyum geli karena tingkah polos Eunhyuk. Entah mengapa ia jadi sedikit lupa akan rasa sedihnya.

TBC

thanx yg udah membaca dan selalu RCL

chapt 9&10 saya perbaiki lagi ^^

ditunggu aja chapt selanjutnya..:)

*deep bow for all*