DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Baik, kali ini saya mau mengakhiri fic ini!

Seperti yang terjadi di Momoko's Life chapter 7 dan Doremi's Life chapter 11 kemarin, saya juga akan menghubungkan chapter yang satu ini dengan dua fic saya yang sebelumnya itu (kan sama-sama termasuk di Ojamajo Life Series, jadi harus nyambung ceritanya satu sama lain).

Then, happy reading!


Aiko's Life

.

Chapter 10 – My Future: Running and Takoyaki


Kriiing...

Seorang wanita muda berambut biru mengangkat sebuah telepon yang berdering dihadapannya. Ia berseru, "Pesan antar takoyaki ada yang bisa saya bantu?"

Diseberang sana terdengar suara seseorang yang tertawa kemudian berkata, "Lain kali kau harus dengar dulu siapa yang meneleponmu sebelum menyapa orang itu, Ai-chan."

"Doremi-chan?" sahut Aiko yang masih mengenali suara itu, "Ya... habisnya kau menelepon di jam-jam biasanya orang menelepon untuk memesan takoyaki buatanku, jadi kupikir... kau mau pesan takoyakiku."

"Gomen gomen." Doremi tertawa lagi, "Lagipula, ini kan nomor telepon rumahmu, jadi tidak salah kan, kalau aku menelepon ke nomor ini."

"Baiklah. Mungkin lain kali aku harus pasang nomor telepon yang berbeda khusus untuk pesan antar takoyakinya." Aiko menghela napas, "Jadi, bagaimana kabarnya si 'pianis profesional' kita tercinta ini?"

"Haha... kau terlalu berlebihan, Ai-chan. Aku belum sampai ke tingkat profesional, hanya baru ingin berusaha untuk sampai ke sana," jawab Doremi, "Kau sendiri bagaimana, Ai-chan? Yang kutahu, kau sering ikut pertandingan lari di kejuaraan olahraga tingkat nasional ya?"

"Iya, tapi saat tidak ada pertandingan apa-apa, aku memutuskan untuk membuka kedai takoyaki di rumahku."

"Ternyata tepat seperti dugaanku. Bahkan kau melayani pesan antar juga," ujar Doremi, "Tapi, bukannya itu berarti... kau akan memasak takoyaki pesanan itu langsung di tempat orang yang memesannya? Kau kan pernah bilang kalau takoyaki itu paling enak dimakan panas-panas."

"Ya, begitulah. Habisnya, banyak juga pelanggan kedai takoyakiku yang lebih suka memesan daripada datang langsung ke rumahku."

"Eh, sebentar. Kalau begitu, apa kau akan menutup kedai takoyakimu saat kau ada jadwal latihan lari dan juga... saat kau ada pertandingan?"

"Ya... tentu saja," jawab Aiko, "Kecuali, kalau otouchan sedang tidak lembur dan bersedia menggantikanku mengelola kedaiku."

"Aku bisa membayangkannya. Jadi, kedua orangtuamu masih bekerja sampai sekarang?"

"Begitulah," ujar Aiko, "Oh iya, Doremi-chan, apa kau terima surat dari Momo-chan yang dikirimkannya beberapa hari yang lalu."

"Aku menerimanya, tapi... aku baru bisa membacanya kemarin malam, sepulangnya aku dari Tokyo," jawab Doremi, "Bahkan, aku baru tadi pagi bisa mengeposkan surat balasanku."

"Ternyata kau benar-benar sibuk ya..."

"Iya. Karena itu, hari ini aku berniat meneleponmu, juga Onpu-chan, untuk mengetahui keadaan kalian sekarang."

"Jadi, kau juga akan menelepon Onpu-chan?"

"Tentu saja."

"Eh, tapi kenapa kau tidak menelepon Momo-chan dan Hazuki-chan?"

"Kau tahu sendiri kan, kalau biaya telepon ke luar negeri mahal sekali? Lagipula, Momo-chan sudah menuliskan keadaannya sekarang dalam suratnya, dan aku juga sudah membalas surat itu. Sedangkan, aku juga sudah tahu keadaan Hazuki-chan sekarang."

"Aku dengar-dengar, sekarang dia sudah berhasil menjadi violinist terkenal ya?"

"Bukan terkenal lagi, Hazuki-chan sekarang sudah jadi violinist profesional. Bahkan, dia juga berniat ingin menjadi composer juga."

"Hazuki-chan memang hebat," puji Aiko, "Ngomong-ngomong, besok kau dan Hazuki-chan ada waktu luang tidak? Besok kan hari Sabtu, jadi aku berniat ingin ke Misora. Kita pesta takoyaki sama-sama."

"Ngg... bagaimana ya? Yang kutahu sih, besok Hazuki-chan tidak ada jadwal resital, tapi..."

"Dia ada janji dengan Yada-kun ya?"

"Ah, tidak. Justru Yada-kun ada jadwal pertunjukan hari ini, tapi di Korea Selatan. Hazuki-chan bilang dia tidak bisa ikut kesana karena mamanya sakit."

"Jadi? Kalau itu masalahnya kan, kita bisa sama-sama ke rumah Hazuki-chan."

"Ai-chan, kau kan tahu kalau besok ada pertandingan sepak bola..."

"Sepak bola? Ah, aku mengerti sekarang. Kau tidak bisa ikut pesta takoyaki karena besok, kau ingin datang ke pertandingan sepak bola untuk memberikan dukungan kepada..."

"Ah, jangan disebutkan lebih lanjut lagi, Ai-chan..."

"Habisnya, aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya, kalian bisa berpacaran sampai bertahun-tahun, bahkan sampai bertunangan."

"Sudahlah, Ai-chan..."

"Iya iya. Kalau begitu, sudah dulu ya? Ada pelanggan yang datang ke kedai takoyakiku. Jangan lupa beritahu Hazuki-chan ya, kalau besok aku akan mampir ke rumahnya."

"Baiklah."

"Aku juga titip salam untuk Kotake ya?"

Doremi menghela napas, "Terserah kaulah. Bye bye, Ai-chan!"

"Bye bye!" sahut Aiko. Ia lalu mendatangi pelanggan yang tadi dimaksudnya, "Irasshaimase!"

.

The End

.


Catatan Author: Asyik! Satu lagi fic saya telah selesai!

Well, karena sisa ojamajo yang belum diceritakan tinggal dua (dan dari chapter ini juga kayaknya sudah terlihat jelas ya, siapa ojamajo yang selanjutnya diceritakan), jadi saya nggak perlu kasih tahu kan? – kenapa kata-katanya jadi nggak jelas gini ya? =_="

Then, it's time for RnR!