Akashi yang coba mencari bersama ke dua anaknya di pagi buta, si bungsu yang menghilang entah kemana.

Namun ini sudah 15 menit berlalu setelah menghilang, Akashipun semakin panik. Ia langsung meminta bantuan dari para Kisedai.

.
Sedang di tempat lain, hari sudah menunjukan pukul 5:30 pagi dan matahari sebentar lagi akan terbit, kaki mungil itu sudah mulai lelah berjalan, dengan air mata yang mulai mengering.

"Oji-chan~ hikss doko?" ucap Seichi berjalan perlahan di gang, yang entah dimana dia berada sekarang.

"Ku-roko no oji-chan~?" ucap Seichi, yang kakinya sudah membeku begitupun tubuhnya, napasnya pun mulai terasa panas.

"Seichicchi!?" ucap pria dengan suara nyaring, wajah tampan dengan rambut blonde tentu mudah untuk di kenali. Siapa lagi kalau bukan si super model sekaligus pilot, Kise Ryouta.

"Ryouta no oji-chan?" ucap Seichi pelan karena tak memiliki tenaga lagi, Kise langsung membuka jaket miliknya. Berlari mendekati Seichi dan melingkarkan jaket di tubuh Akashi kecil itu.

"Oji-chan kok bisa- ukh (terbatuk) ada di sini?" ucap Seichi, dengan mata sembab terbatuk.

"Seichicchi, oto-san Seichicchi sangat khawatir-ssu. Seichicchi pergi kemana, lihat tubuhnya jadi sedingin ini" ucap Kise akhirnya bisa bernapas lega, sambil menggendong Seichi ia mengambil Smartphone miliknya, dan mulai menghubungi yang lain, kalausanya Seichi sudah ketemu, dan mereka bedua akan kembali ke mansion Akashi.

.

Begitu sampai di Mansion, mereka berdua sudah di sambut dengan Akashi Seijuuro dengan death glarenya.

"O-to-san hiks, Seichi tidak bertemu Kuroko no oji-chan" ucap Seichi, dengan isak tangis yang tersisa.

"Sei-" belum selesai Akashi yang hendak membentak si bungsu, kedua kakinya di tahan oleh Seiya dan Seiji agar tidak memarahi adik bungsu kesayangannya.

"Akashicchi tolong, jangan memarahi Seichi dulu. Sepertinya dia demam, tubuhnya sedingin es ssu" ucap Kise memberikan Seichi, dari pelukannya ke pelukan Akashi Seijuuro.

"Shintaro!" ucap Akashi, meminta sang sahabat segera memeriksa anak termudanya itu.

"Sebaiknya bawa ke ruangan yang lebih hangat dulu sambil aku periksa nodayo, Seiji dan Seiya juga akan ku periksa nodayo" ucap Midorima, sama khawatirnya.

"Kau benar" ucap Akashi membawa Seichi yang sudah mulai tak sadarkan diri, beserta ke dua anaknya menuju ruangan tidur mereka.

"Aku akan memasak buat kalian nee~" ucap Murasakibara berjalan ke dapur.

"Ah~ tolong, Atsushi" ucap Akashi, rasa marahnya yang kini berubah menjadi rasa khawatir.

"Serahkan padaku, Aka-chin~" ucap Murasakibara setelah itu beranjak ke dapur.

"Oto-san, Kuroko no oji-chan doko?" ucap si bungsu, yang mulai terbangun.

"Seichi~"ucap Seiji dan Seiya, takut sang Oto-san kembali marah.

"Setelah Seichi di periksa Shintaro, ayo kita ke rumah Tetsuya" ucap Akashi, sambil menghela napas.

"Akashi! Seichi masih panas dan itu-" ucap Midorima jelas melarang.

"Aku tahu aku tahu, tapi aku tetap akan membawa mereka ketemu Tetsuya" ucap Akashi sambil mengelus kepala, ketiga anak kesayangannya itu.

"Oto-san, Seichi ingin bertemu Kuroko no oji chan, bukan Tetsuya~" ucap Seichi polos.

"Hahahaha" ucap Akashi, tertawa.

"Seichi, nama Kuroko itu Kuroko Tetsuya, jadi Tetsuya dan Kuroko itu orang yang sama" ucap Aomine menjelaskan.

"Eh? Ka-kalau begitu, Seichi mau ke rumah Tetsuya no oji chan" ucap Seichi memeluk Akashi, karena malu.

"Emp, setelah di periksa oleh Shintaro, dan makan bubur buatan Atsushi, ayo kita ke rumah Tetsuya."

"Ehhhh, aku juga ikut main-ssu~" ucap Kise mulai merengek.

"Bukannya kau ada jadwal penerbangan, kau kan pilot bodoh. Kalau bukan kau yang menerbangkannya siapa lagi! Aho" ucap Aomine, memukul kepala kise.

"Aominecchi hidoi-ssu!"

.

Setelah, itu Akashi dan ketiga anaknya pergi ke wisma tempat Kuroko tinggal, pagi menunjukan pukul 7 namun jalan raya masih sunyi sepi.

Mobil mewah merah Akashi, membelah dinginnya suhu pada pagi itu, tanpa menunggu waktu lama Akashi akhirnya, sampai di wisma tempat Kuroko tinggal selama 6 tahun belakangan ini.

Tok tok tok

"Kuroko no oji-chan~?" suara khas anak kecil lembut, memanggil nama si pemilik rambut baby blue.

Pintu di buka perlahan, menampakkan pria berambut baby blue, dengan mata Aquamarine nya.

"Seichi?" ucap Kuroko terkejut ternyata bukan hanya seichi saja, namun ada Seiya dan Seiji serta Akashi Seijuuro, yang menggunakan baju tebal.

"Tetsuya, tolong biarkan kami masuk. Seichi sedikit demam-?" belum selesai Akashi berucap ia sudah teralihkan, dengan jari Kuroko yang sudah setengah terbalut perban, yang penuh darah.

"Oji-chan terluka?" ucap Seiji kecil.

"Akhh ini tadi saat mau membuka kaleng sedikit teriiris" namun tampak sedikit dalam, dari goresan pada umumnya.

"Ukh!" tiba tiba suara serak Seichi, menyita perhatian Kuroko.

"Seichi, kenapa suaranya? Radang?" ucap Kuroko berjongkok, di depan ke tiga anak kembar itu.

"Ya, mereka sudah tak sabar bertemu denganmu, padahal harusnya mereka istirahat" Akashi menatap dalam diam.

"Kalau begitu, Seichi tidurlah di kamarku dulu. Seiji dan Seiya bisa temani Seichi" ucap Kuroko. Lalu ketiga anak nya menatap Akashi, seolah minta persetujuan.

"Ya, kebetulan aku juga ingin berbicara empat mata dengan Tetsuya" Ucap Akashi menatap serius Kuroko, dan itu cukup membuat keadaan menjadi sangat canggung.

Setelah mengantar ke tiga anak kembar ke kamar, Kuroko segera kembali dengan suara canggung yang masih tergambar jelas. Apa lagi tadi mereka baru saja bertengkar.

"Kau mau teh? Kopi?" ucap Kuroko berjalan beberapa langkah, dan sampailah ia di dapur mini nya.

"Kemari!" ucap Akashi dengan kasar, menarik tangan Kuroko yang terluka.

"!?" Kuroko sudah cukup terkejut karena beberapa waktu lalu di bentak, oleh Akashi kini tak selembut dahulu.

Akashi menarik tangan Kuroko kasar, sampai di ruang tengah yang sudah tersedia kotak P3K.

"Eh?" Akashi membalut luka di tangan Kuroko, dengan lembut cukup membuat Kuroko terkejut.

"Kau tahu, ada yang ingin ku ceritakan. Bolehkah aku menceritakannya?" ucap Akashi tanpa menatap wajah Kuroko, Akashi hanya terus membalut tangan Kuroko dengan lembut.

"Emph" Kuroko hanya mengangguk mantap.

"6 tahun lalu setelah kau menghilang, ada yang menghubungiku. Furihata Kouki, mantan pacarku yang sudah tak ku temui 2 tahun lamanya."

'Furihata Kouki? Kalau aku gak pergi, apa Akashi-kun tidak akan kasar seperti ini padaku?' ucap Kuroko dalam hati, sambil menyimak cerita Akashi.

"Tetsuya apa kau mendengarkan ku!?" ucap Akashi kesal, sambil mengikat perban kuat.

"Ita! Aku dengar Akashi-kun"

"Setelah itu aku bertemu dengannya dalam makan malam, namun setelah itu. Besok nya aku mendengar kalau kau menghilang, tanpa kabar entah keamana. Mungkin, memang salahku juga tidak segera mencarimu. Kau pergi dengan keinginanmu, dan bukan kah itu berarti kau sedang ingin sendirian, jadi aku tak mencarimu.

Setelah itu akupun lebih sering makan malam dengan Kouki, sampai aku tahu alasan ia menghubungi ku lagi adalah karena, dia sudah melahirkan 3 bayi kembar dari hasil hubungan kami 2 tahun lalu dan bayi itu-" ucap Akashi semakin serius.

"Seichi, Seiya dan Seiji" ucap Kuroko, cukup terkejut.

"Y-ya, setelah itu aku menikahinya, namun kami tak pernah bisa kembali seperti dulu, semakin aku melihat dia yang tertekan, entah apa sebabnya akhirnya kami memutuskan untuk berpisah, setelah 4 tahun masa pernikahan kami, namun tak seharipun. Aku melupakan mu, Tetsuya" ucap Akashi bernada sedikit lembut di ujung kalimatnya, membuat Kuroko terkejut bukan main. Kurokopun menepis tangan Akashi, menyentuh tangannya yang terluka.

"Jangan bercanda!" Suara dengan suara Kuroko, yang bergetar.

"Tetsuya?" Akashi cukup terkejut.

"Yang ku butuhkan bukan cinta karena kasihan, Akashi-kun! Tolong jangan membuatku berharap! Kalau kau tak punya niat untuk membalas perasaanku, Akashi-kun! The most painful memory I have is of when I walked away and you let me leave" Kuroko langsung berdiri dari tempatnya, dengan suara tinggi.

"Aku tidak memintamu, untuk pergi!" suara bariton Akashi, cukup membuat Kuroko terkejut.

"What do you do when Something that was your Everything becomes a Nothing?" ucap Kuroko lemas, dengan wajah sendu seakan air mata akan turun dari pelupuk Aquamarine indahnya itu. Sedang Akashi justru sebaliknya.

"Tetsuya!" ucap Akashi menarik tangan Akashi ke arahnya. Membuat tubuh kecil itu terbanting kasar pada tubuh Akashi.

"A-Akashi-kun lepas!?" ucap Kuroko panik.

"Kenapa kau tidak mengerti juga?! Apa aku harus gila dulu baru kau percaya padaku, kalau aku ingin kau tetap di sisiku!?" ucap Akashi semakin kesal karena Kuroko tak juga bisa melihat isi hatinya.

"Akashi-kun tidak menyukaiku! Akashi-kun ada Furihata-kun!" ucap Kuroko juga tak percaya, dengan apa yang di ucapkan.

"Kouki sudah memiliki kekasih, dan itu bukan aku!" ucap Akashi, cukup membuat Kuroko sedikit lebih tenang.

"... " Kuroko terdiam seketika.

"Tetsuya~" ucap Akashi kini dengan suara sedikit melembut.

"..." namun Kuroko masih terdiam.

"Karena itu jadilah milikku, mphh" ucap Akashi mencium Kuroko tiba tiba.

"Emphhh hmppppp ahhhhmpp" ciuman kasar yang perlahan melembut telah meluluhkan hati pria berambut aquamarine itu.

"Huft (Akashi melepaskan ciumannya, setelah-) ada apa Seichi, Seiya, Seiji?" ucap Akashi tersenyum lembut, sangat berbeda dengan saat ia datang tadi.

"Egh!" Kuroko tersedak, sangking terkejutnya.

TBC


A/n Gomennasai (_ _)